Chapter Text
Rin berlari sekuat tenaga.
Ia tidak pernah memaksa kedua kakinya untuk berlari secepat mungkin sebelum ini. Dengan gesit, Rin menghindari setiap puing yang berjatuhan, nyaris sekali menimpanya. Ia melompati setiap lubang tak berujung yang mulai terbentuk di setiap tempat kakinya berpijak. Lengah sedikit saja, bisa-bisa ia terperangkap di semesta lain.
Sesekali Rin melihat ke belakang. Bangunan-bangunan magis bagai ditempa dari kaca dan kristal mulai runtuh seiring ia berlari. Pemandangan itu berlatarkan galaksi yang penuh bintang, semesta tak berujung terbentang luas di atas mereka.
Sae ada di antaranya. Langkahnya penuh amarah dan terburu-buru. Ia mengejar Rin, ekspresinya tak terbaca.
Sae hampir membunuh adiknya sendiri beberapa saat lalu, dan Rin masih tak bisa menemukan rasa iba ataupun penyesalan di wajahnya.
Pikiran Rin kalut, banyak pertanyaan yang tak terhitung melintasi kepalanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Menurutnya, keputusan terbaik yang bisa ia ambil saat ini adalah melarikan diri lewat portal lain. Kemana portal itu membawanya pun tidak penting lagi saat ini. Rin harus menghilang dan menjauh dari jangkauan Sae.
Di sela napasnya yang terengah-engah, Rin kembali mengangkat kedua tangannya lurus ke depan. Ia tidak berhenti berlari. Pandangannya lurus dengan mantap. Tangan kirinya membentuk sebuah tanda dengan jari telunjuk dan tengah yang menempel, kedua jari yang sama di tangan kanannya bergerak searah jarum jam.
Percikan-percikan jingga bercampur merah pun muncul cukup jauh di hadapan Rin, bagaikan percikan api yang perlahan membentuk sebuah lingkaran berupa portal. Di seberangnya, terdapat bangunan-bangunan menjulang tinggi yang tampak seperti sebuah ibu kota.
“RIN!”
Sejak mereka belia, Sae tidak pernah mengeraskan suaranya, terutama terhadap Rin. Sae tidak pernah mengeluh ketika ia terluka atau sakit. Dia selalu mengalah dan memilih untuk tidak berdebat, sampai-sampai Rin menganggapnya sebagai seseorang yang hemat suara. Namun, Sae selalu diam. Kebiasaan buruknya adalah memendam semua yang ingin dan harusnya ia katakan.
Baru kali ini Rin mendengar teriakannya yang menggema; penuh keputusasaan dan menuntut.
Genggaman Rin mengerat pada buku terkutuk yang ia jaga di selipan pinggangnya. Buku sialan. Kalau bukan karena benda ini, Sae tidak akan kehilangan akal sehatnya seperti sekarang. Namun, Rin tahu betul bahwa segala aksi dan tingkah Sae saat ini bukanlah sepenuhnya disebabkan oleh bisikan terkutuk dari buku itu.
Kematian Shidou Ryusei dalam Infinity War jelas-jelas meninggalkan luka yang masih menganga di dalam hati Sae.
Rin tidak suka Shidou. Benci malahan. Kepribadian mereka sangat bertolak belakang, dan kerap kali mereka berkelahi karena mereka selalu berbeda pendapat dalam hampir semua hal. Mereka berdebat karena hal-hal sepele. Terkadang, Sae harus menjewer telinga mereka secara bersamaan agar mereka mau diam.
Hatinya terbakar oleh amarah dan kekesalan tiap kali melihat kelakuan aneh lelaki yang ia sebut kecoa itu. Rayuannya pada Sae terkesan cheesy dan memalukan, Rin berusaha keras untuk tidak muntah. Shidou pernah menggigit setangkai bunga mawar sambil mengangkat kedua alisnya pada Sae. Bahkan mengingatnya saja membuat Rin mual.
Hingga pada suatu hari, Sae meminta Rin untuk tidak tersulut maupun menyulut emosi di antara mereka berdua. Sae menyukai laki-laki sialan itu, Rin pasti buta kalau tidak menyadarinya.
Ia pun memutuskan untuk menghargai mereka. Rin memberi mereka waktu dan ruang untuk bersama, serta mencoba untuk mengerti, sedikit demi sedikit. Sementara itu, Rin berharap Sae masih bisa mengubah seleranya yang buruk.
Namun, begitu Rin melihat bagaimana Sae dengan sulitnya menghadapi kenyataan setelah kematian Shidou, situasi itu membawa kenyataan yang pahit untuk Rin; Sae benar-benar mencintai lelaki itu.
Shidou mati dengan terhormat. Dia adalah seseorang yang terkenal dengan kelincahan dan kekuatan tubuhnya. Orang-orang kerap kali menyebutnya sebagai seorang pahlawan. Dalam Infinity War, Shidou mendorong kemampuannya hingga mencapai batas. Dia menyelamatkan banyak orang, serta mengeliminasi musuh yang hendak menghalangi Rin dan Sae. Pada dasarnya, dia telah mengorbankan dirinya.
Rin memang tidak menyukai Shidou, tetapi dia sangat menghormati pengorbanannya.
Dalam diamnya, Rin memperhatikan sang kakak yang melalui hari-harinya dengan penuh duka. Lelaki berambut merah lembut itu enggan menyentuh makanan barang sedikitpun, dan lebih memilih untuk mengurung diri. Tatapannya kosong, dan jelas-jelas Sae jadi semakin kurus. Seperti mayat hidup yang tak punya arah. Kembali menjadi dirinya yang hampa dan kaku seperti sebelum bertemu dengan Shidou.
Rin telah mencoba segala cara untuk membantu Sae agar ia dapat menjalani kehidupannya lagi. Dia tidak harus melupakan Shidou. Rin tahu bahwa lelaki itu juga ingin Sae untuk merelakannya pergi. Sepertinya, semua usahanya sia-sia. Sae malah semakin memburuk.
Mungkin itulah mengapa Sae melihat secercah harapan pada Darkhold.
Darkhold adalah kitab sihir terkutuk yang membisikkan dusta yang hanya memberikan kenikmatan sesaat. Benda itu tiada hentinya menawarkan perjanjian yang menggiurkan kepada siapapun yang mulai terjerumus ke dalam kesesatan. Seperti kakaknya saat ini, yang sedang tenggelam dalam keputusasaan. Diiming-imingi kehidupan abadi bersama sang kekasih mungkin membuat Sae rela membunuh adiknya sendiri demi merebut Darkhold.
Dasar munafik! Rin mengejek di dalam batin, tahu betul bahwa Sae tidak mungkin mendengarnya. Fokusnya tidak teralihkan sekalipun guna menghindari sihir yang Sae lemparkan padanya.
Padahal, Sae selalu berpesan kepadanya untuk tidak pernah menyentuh Darkhold. Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh Darkhold hanya untuk sekadar kepentingan pribadi. Sae menyebut mereka yang menggunakannya dengan tujuan selain melindungi semesta, adalah orang-orang yang egois.
Sebagai seseorang yang lebih ahli dan tanggap dalam mengendalikan sihir, Sae diberikan tanggung jawab untuk menjaga Darkhold. Kalau saja Rin terlambat menangkap basah Sae yang sedang membuka rantai buku itu, yang tertinggal dari semestanya saat ini hanyalah bebatuan.
“Kakak…” Pandangan Rin terhadap Sae melembut, harap-harap dapat membuat pria itu kembali sadar, tapi tampaknya percuma. “Jangan lakukan ini. Semesta akan hancur kalau buku ini ada di tanganmu!”
Sae sudah tenggelam terlalu dalam untuk mengindahkan bujukan Rin. Langkah demi langkah yang Sae ambil untuk mendekatinya penuh dengan rasa amarah. Matanya menatap Rin nyalang. Kali ini, ia benar-benar menjadikan adiknya sebagai musuhnya sendiri.
Jemarinya memutar perlahan, seperti membentuk sesuatu dengan sihir merahnya yang khas.
“Jangan halangi aku, bodoh,” sergahnya dingin, dengan tatapan tajam yang masih terpaku pada sang adik.
“Kamu sudah gila, Kak! Tidakkah kamu mendengar dirimu sendiri?!”
“Sejak kapan kamu peduli dengan tetek bengek semesta, Rin?” Sae bertanya balik, dengan sarkas menyinggung Rin yang sebelumnya selalu tuli perihal alam semesta dan seisinya.
Sae tidak sepenuhnya salah. Rin tidak peduli soal semesta. Ia tidak pernah sampai pada tingkatan setinggi itu, ia bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajari ilmu-ilmu yang diturunkan di keluarganya dari generasi ke generasi. Rin lebih memilih untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang penyihir biasa.
Penyihir yang sungguh-sungguh melindungi semestanya hanyalah Sae… dan Yoichi.
“Tidak. Aku memang tidak peduli. Tapi kamu peduli, Kak. Bisakah kamu bayangkan menghancurkan dunia yang selalu ingin kamu lindungi?"
Rin mengambil langkah mundur seiring Sae mendekat padanya. Ia terus mencoba untuk berpikir rasional, kontras dengan Sae yang sekarang bagai dihipnotis oleh kata hatinya.
Ini tidak seperti Itoshi Sae yang Rin kenal sama sekali, yang melulu bertindak dan berucap berdasarkan akal sehatnya. Tidak seperti Sae yang selalu mengesampingkan dirinya sendiri. “Perasaan dan emosi itu tidak penting,” begitulah katanya dulu. Kalimat yang selalu terpaku di dalam pikiran Rin.
Hanya ini yang bisa dilakukan sekarang.
Sambil mengunci pandangannya pada Sae, Rin diam-diam membuka portal di belakangnya. Angin berhembus dari dalam portal itu. Rin sendiri bahkan tidak tahu kemana itu akan membawanya. Ia hanya memikirkan sebuah dimensi yang kemungkinan tak pernah Sae ketahui di dalam penglihatannya yang luar biasa. Sepertinya mustahil, namun setidaknya, Rin harus berani mengambil risiko.
Melihat Sae yang menyadari tindakannya, Rin menelan ludah, sekali lagi melembutkan tatapannya dan berkata,
“Sadarlah, Kakak. Ini bukan dirimu.”
Sihir merah di tangan Sae kini terbentuk jelas. Sebuah tombak transparan dengan kedua ujung yang runcing, hampir seperti Space Shard. Sebelum Rin sempat melihat, ia buru-buru membalikkan badan dan melompat ke dalam portal tersebut.
Sae melempar tombak di tangannya dengan asal, tepat sebelum portal Rin sempat menutup. Tak terlintas di benaknya entah tombak itu akan membunuh Rin atau sekadar melukainya. Sae tidak peduli. Suara-suara di dalam kepalanya mengeras, berteriak dan memohon untuk merenggut buku itu dari genggaman Rin yang melompat menuju semesta lain.
Namun, begitu Rin menghilang dari pandangan, bersamaan dengan percikan portal yang lenyap seketika, Sae pun berhenti melangkah. Percuma mengejar Rin sekarang. Ia harus mencari cara lain.
Sae pun menundukkan pandangan. Membiarkan dimensi galaksi yang fana ini menyelimuti jiwanya yang hampa dan kesepian. Lagi-lagi, Sae ditinggalkan.
— ✦ —
Rin mendengar percikan portal di belakangnya perlahan menghilang.
Tubuh Rin melayang di langit malam, semua itu berkat Jubah Melayang yang setia mendekap punggungnya. Ia mengamati perumahan modern yang sepi di bawah kakinya, mencari tempat aman untuk berlari. Rin lanjut memaksa dirinya untuk kembali berpikir rasional, seperti yang selalu diajarkan oleh leluhurnya. Ia tidak boleh lengah, bahkan sedetikpun.
Kemudian Rin mendengar suara kain yang robek, diikuti oleh sesuatu yang tajam menusuk kulit.
Mata Rin membulat dengan horor begitu merasakan sesuatu menikam bahunya tanpa ampun. Erangan nyaring terlepas dengan spontan. Rasa sakit yang diikuti oleh kebingungan itu sontak melandanya yang lelah dan cemas.
Rasa fokus yang sudah susah payah ia pertahankan hilang dalam sekejap. Ia pun kehilangan keseimbangannya. Sebelum dirinya menyadari, Rin melihat bagaimana pandangannya berubah dari langit malam, lalu atap perumahan, dan lagi-lagi langit malam. Ia seperti sedang terjatuh di udara tanpa kontrol atas tubuhnya sendiri.
Brugh!
Dengan keras, tubuh Rin menghantam aspal yang kasar dan dingin. Ia meringkuk dan merintih, mencengkram erat bahu kanannya yang menjadi sumber rasa sakit. Darah menggenangi telapak tangannya yang gemetar. Rin meringis begitu menempelkan tangannya kembali pada luka yang menganga perih untuk menghentikan pendarahan.
Namun dia tidak boleh berhenti. Susah payah Rin memaksa dirinya untuk berdiri. Kedua kakinya lemas dan gemetar seperti daun yang ditiup angin. Dadanya kembang-kempis mengatur napas.
Jalanan ini tampak sangat familier. Rin tahu persis dimana ia berada. Ia hanya perlu memastikannya.
— ✦ —
Dengan menggunakan seluruh tenaga yang masih tersisa, Rin berjalan sempoyongan menyusuri jalanan yang sunyi. Kalau saja Yoichi melihat kondisinya sekarang, pemuda itu pasti akan tertawa terpingkal-pingkal dan mengeluarkan lelucon garing, beralasan bahwa Rin sering mengejeknya ketika ia terluka, maka dia akan melakukan hal yang sama.
Rin bertumpu pada tiang lampu jalanan untuk menopang bobot tubuhnya, meninggalkan darah pada benda itu. Rin tak bisa membayangkan reaksi para warga setempat di pagi hari nanti jika ada yang melihatnya. Mungkin mereka akan berpikir bahwa telah terjadi pembunuhan.
Ia pun menggelengkan kepala. Kenapa Rin harus memikirkan hal konyol semacam itu?
Yoichi sialan. Dia sudah berhasil merasuki pikiran Rin dan mendoktrinnya dengan selera humor yang sangat buruk.
Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah yang sederhana tapi indah. Rin selalu menyukai estetika yang ditampilkan pada rumah itu. Walaupun beberapa elemen dan warnanya berbeda di semesta ini, rumah Yoichi selalu menjadi pelarian kesukaannya. Rumahnya enak dipandang mata, namun ia tak akan mengungkapkannya pada Yoichi karena ia terlalu malu.
Rin mendorong pagar besi di depan rumah sambil meringis. Tidak terkunci, sangat tipikal dari seorang Isagi Yoichi. Suara yang ditimbulkan cukup kencang ketika besi itu bertabrakan dengan dinding di belakangnya.
Napasnya semakin terengah-engah. Kakinya mulai mati rasa. Ia membisikkan dirinya sendiri; bertahanlah. Yoichi tahu kita disini. Dia pasti tahu.
Rin hampir jatuh karena tersandung kakinya sendiri di teras rumah. Salahkanlah penglihatannya yang mulai buram dan kepalanya yang pening. Ia mengedipkan mata perlahan. Lampu teras menyala terang di atas Rin, menyorot pemuda yang sudah berlumuran darah itu.
Semua rasa lelah yang sedari tadi ia abaikan sekarang menelannya hidup-hidup. Ditambah rasa sakit yang intens di bahu, juga sakit karena perbuatan Sae kepadanya. Rin terus meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah Sae, melainkan seseorang yang sudah terpengaruh oleh Darkhold.
Hubungannya dengan Sae memang tidak sebaik yang orang-orang kira, tetapi Sae tidak akan membunuhnya. Rin tahu itu. Jauh di dalam lubuk hati Sae, ia sangat menyayangi adik kecilnya. Yoichi sendiri yang memberitahunya. Dia bisa mengetahui isi hati orang lain hanya dengan menebak-nebak.
Yoichi. Rin mengembuskan napas panjang yang gemetar. Bahkan ketika ia bernapas, rasa sakitnya seakan-akan menyetrum seluruh tubuh. Yoichi. Jika saja aku bisa bertemu denganmu.
Pintu rumahnya berderit terbuka. Di sisi lain pintu, muncullah sosok laki-laki yang selalu Rin dambakan.
Di hadapannya, berdirilah Isagi Yoichi dari Bumi-616. Matanya sembap, hidungnya merah, dan kedua telinganya disumbat oleh earphone. Ia terlihat menawan, seperti biasanya. Rin bahkan abai pada jejak air mata di pipi gembulnya itu. Wajah Yoichi terkejut setengah mati, seperti sedang melihat hantu.
Rasa lega membasuh keputusasaan Rin yang tadinya menyiksa. Ia mengukir senyum tipis sebelum pandangannya menggelap.
Rin akhirnya membiarkan gravitasi menang dan membiarkan dirinya jatuh tersungkur. Ia akan beristirahat untuk sebentar. Tidak masalah. Rin sudah menemukan dia.
“Yoichi…”
Kamu selalu punya cara untuk menyelamatkanku.
