Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of call it as you want
Stats:
Published:
2024-03-23
Words:
1,248
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
78
Bookmarks:
1
Hits:
1,297

All My Wish

Summary:

A brand new story begins, as Renjun completely falls for a certain boy. and he can't avoid that. He doesn't want to.

Notes:

dedicated to the lovely birthday boy on spring, Huang Renjun. the love of jeno's life.

cerita ini bagian dari cerita Maybe, I just wanna be yours. dipublikasi terpisah karena timeline tidak mengikuti plot. dapat dibaca terpisah, namun dapat dibaca terlebih dahulu untuk lebih memahami cerita ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Renjun hanya ingin hari ini berakhir dengan biasa-biasa saja.

Hari ini adalah hari jumat. Hari yang paling ditunggu setelah satu minggu bagai neraka. Renjun hanya ingin keluar dari ruangan tepat waktu. Renjun hanya ingin melihat langit cerah perlahan berubah menjadi oranye ketika dalam perjalanan kembali ke rumah. Renjun hanya ingin mengikuti satu sesi yoga dari membership bulanan yang baru ia gunakan 3 kali. Renjun hanya ingin berendam di bath up dengan bath bomb lucu oleh-oleh dari Jeno enam bulan yang lalu. Renjun hanya ingin makan malam dengan kudapan berkuah pedas malam ini dan tidur dengan perut kenyang.

Inginnya sederhana.

Tapi, semua itu hanya ingin. Renjun sendiri juga tahu bahwa minggu bagai neraka ini tidak akan berakhir dengan baik begitu saja.

Jam 3 sore lebih, salah satu klien yang buat minggunya bagai neraka menelpon kembali. Keluhan dan permintaan yang dibalut dengan sumpah serapah harus Renjun simak hingga selesai. 

Sore itu pula, setelah sesi telepon yang panjang, Renjun harus ikut menahan timnya untuk tidak pulang dan mengadakan meeting dadakan. Perkara ini harus mereka koordinasikan sebelum weekend menerjang dan siap mengeksekusinya pada senin pagi.

Renjun bisa lihat raut-raut kebencian yang timnya tunjukkan ketika renjun menjelaskan kesimpulan dari permintaan klien. Renjun berusaha tidak tunjukkan emosi apapun, berpura-pura bahwa ini tidak mengganggunya sama sekali. Karena jika dirinya ikut terbawa emosi, timnya bisa hancur tanpa penyangga apapun.

Renjun harus jadi pilarnya.

Tim bubar ketika langit sudah tidak lagi berwarna oranye. Keinginan renjun satu-persatu luruh tidak bersisa. Buat dirinya menghembuskan napas lelah. Lantas, apakah ketika timnya bubar Renjun bisa ikut pulang dan merebahkan diri di kasur?

Tentu saja tidak.

Renjun punya weekly report yang harus ia kerjakan. Renjun juga harus mencicil pekerjaan lain hingga pekerjaan tambahan yang baru datang sore ini. Harus ada yang ia selesaikan agar weekend nya yang berharga dapat digunakan semaksimal mungkin.

Renjun sudah kehilangan pengetahuan tentang waktu ketika weekly report nya selesai. Ia hanya berharap hari belum berganti dan masih ada makanan yang bisa dimakan ketika sampai di rumah. Ia lapar dan tidak punya energi untuk membeli makanan apalagi memasak.

From: Anak Tetangga

di mana?

makan di rumah ya malem ini. Nggak usah masak.

I’ll buy something good.

17.15

 

lembur lagi?

ini jumat malem, jun

kasian itu badan, dipake kerja terus.

19.13

 

nanti kalo udah pulang kabarin, ya.

20.53

 

jun, masih belom balik juga?

21.14

 

You okay? drive safe, kabarin kalo uda balik.

23.11

 

Pesan-pesan dari satu-satunya pengirim hanya ia baca dari notifikasi. Ia kantongi ponselnya dan berjalan keluar kantor. Langitnya gelap, jalanannya sepi dan angin malam pelan-pelan menggelitik lengannya. Suasana yang tepat untuk segera berbaring di kasur. Namun, dirinya masih harus berkendara 20 menit menuju rumah.

Sesuai dugaan, rumahnya sepi. Ibunya di luar kota dan adiknya mungkin sudah tidur atau bahkan tidak pulang.

Renjun merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. terlalu malas untuk beranjak menuju kamarnya sendiri. ia pejamkan matanya sejenak. Menikmati waktu-waktu berharga di akhir minggu yang terbatas. Jujur, rasanya ia tidak rela menghabiskan waktu untuk membersihkan tubuh sebelum tidur.

Kali ini, ia hanya ingin segera tidur di kasurnya.

 


 

Renjun ketiduran.

Matanya mengerjap bingung ketika sadar dia masih berbaring di ruang tamu. Menyesali perbuatannya yang menunda-nunda untuk mandi.

Ketika ia duduk dan mengusap matanya, jujur, Renjun pikir ia bermimpi. Ia merasa dejavu. Ia pikir, ia kembali mengalami lucid dream. Renjun mengerjapkan matanya berkali-kali. Masih tidak bisa membedakan realita dan mimpi.

Sepertinya, realita dan mimpinya sudah banyak tertukar ketika ia putuskan untuk bermain dengan Jeno.

Ada Jeno disana. Dengan rambut berantakan sambil memegang kue kecil dan sebelah tangannya menjaga agar lilinnya tidak padam. Hoodie nya kusut, seperti ia gunakan sambil rebahan dalam waktu yang lama.

“Buruan, Jun. Make a wish. Lilinnya keburu cair, ntar kena kuenya!” perintah Jeno.

Perintahnya buat Renjun kembali sadar bahwa ini bukan mimpi. Ia menurut. Renjun tautkan tangan dan pejamkan mata, mendoakan segala kebaikan dalam hidup agar terjadi padanya. Ketika ia membuka mata, masih ada Jeno disana, menunggunya menyelesaikan doa.

Renjun tiup lilinnya dan ia baru tersadar ketika gelap kembali mendera, “Kenapa tiup lilin?”

“Gimana sih? Lo ulang tahun, Jun!”

Oh. Oh…

Ketika Renjun pikir dia lost track of times, hal ini termasuk hari ulang tahunnya ternyata. Dalam  benaknya hanya ada deadline dan jadwal meeting yang harus ia akali sedemikian rupa. 

Jeno meletakkan kuenya di atas meja. Ia bergerak duduk di sebelah Renjun dan memeluknya dari samping. “ Happy birthday. you should take care of yourself. Please stop ruining your own life. stop lembur.” katanya berbisik langsung di telinga.

Renjun berdebar. Pada banyak aksi Jeno padanya selama ini, Renjun sering kali berdebar. Tidak jarang pula ia kesulitan bernapas karena menghadapi tingkah Jeno. Tapi, kali ini ia berdebar hingga ingin menangis.

“Kok inget?” tanya Renjun pelan. Ia tidak punya balasan setimpal atas ucapan Jeno. hanya dua kata tanya yang sanggup ia ucapkan.

Jeno menatapnya aneh, “We’ve been friends for years, dummy. Gue lahir sebulan setelah lo, buat nemenin lo di dunia ini. Masa gue lupa?”

Masih dalam pelukan Jeno, Tangis Renjun pecah. Tidak bisa tertahankan lagi. Jawaban Jeno bagai menekan tombol emosinya. 

“Eh, kok nangis sih?” Renjun bisa dengar suara jeno kebingungan.

Jujur, renjun sendiri juga bingung kenapa dia menangis. Ntah karena dia terharu akan kehadiran Jeno malam ini atau karena dia memanfaatkan Jeno yang menariknya dalam pelukan. Sehingga Renjun dapat menangis dengan bebas tanpa perlu gengsi meminta untuk didekap.

Jeno lanjut memeluknya dengan suka rela. Mengusap rambut dan punggungnya bergantian. Renjun masih cukup sadar untuk mengetahui bahwa Jeno juga bubuhkan beberapa kecup di kepalanya yang belum keramas tiga hari.

Matanya panas. Wajahnya hangat. Badannya berbalut dekap hangat. Kombinasi abstrak yang tidak bisa Renjun deskripsikan.

Ketika tangisnya mereda, Jeno menangkup wajahnya, menghapus sisa jejak air mata dari pipinya yang basah. Renjun bisa rasakan jemari Jeno yang juga hangat menjejak di pipinya. Jeno juga mengambilkan tisu agar Renjun dapat menyingkirkan ingus yang ikut hadir di sesi haru ini.

“Lo nggak liat live stream gue hari ini, ya?” Tanya Jeno ketika Renjun menghapus sisa-sisa tangisnya.

“Harus?” renjun kembali bertanya, untuk mengusir debaran jantungnya sendiri dan bersikap sok cool  di depan Jeno.

“Ya, nggak sih. besok-besok juga nggak perlu liat juga. Tapi, hmmm, gue agak nggak nyangka atas respon lo barusan. Gue pikir…ini bakal basi? Gue pikir lo nggak bakal terkejut dan ini akan berakhir awkward.”

Renjun belum berani menatap Jeno. ia hanya menunduk, memainkan tisu dalam pegangan sambil mendengarkan Jeno. Dirinya masih mencoba membangun pertahanan dirinya lagi untuk menghadapi Jeno, “Terus hubungannya sama livestream?”

I actually made this in front of a thousand people. Make myself fool in front of camera and

“Wait, you made this?” 

“Hm.”

Jawaban Jeno buat mereka saling bertatapan. Renjun dengan tidak percaya diri menatap Jeno yang masih memandangnya sedari tadi.

You…”

Ah. Renjun tahu, sejak awal ia sudah salah melangkah ketika membiarkan mereka membuat kesepakatan. Renjun sudah tahu bahwa dirinya tidak akan sanggup menahan dirinya untuk tidak jatuh.

Renjun tahu, pada akhirnya, dirinya akan dikalahkan oleh berbagai serangan perhatian dari Jeno. Dirinya pasti akan menyerahkan dirinya untuk Jeno bawa pergi kemanapun dia mau.

Renjun tahu, seberapa jauh pun dia menghindar, pasti akan jatuh pula ke pelukannya.

Kali ini, pinta renjun tidak lagi sederhana.

Renjun ingin pria ini. 

Renjun tidak ingin hari ini berakhir biasa-biasa saja. Renjun ingin pria ini menemaninya tidur. Renjun ingin pria ini memeluknya di atas ranjangnya yang sempit. Renjun ingin bangun tidur dengan pemandangan wajahnya tiap pagi. Renjun ingin mengeluh padanya tiap pekerjaan bagai nerakanya menyerang. Renjun ingin berjanji untuk menonton setiap  live stream yang ia lakukan. Renjun ingin ini semua bukan hanya pura-pura. Renjun ingin ini bukan hanya karena kesepakatan mereka.

 

Renjun ingin pria ini.



Notes:

terima kasih sudah membaca sampai sini!

been a while for me to write any fic. let alone this abandoned fic.
wish you well, wish Renjun any kind and good things in this world.
love from the other side,

kapan-kapan lagi!

Series this work belongs to: