Work Text:
Duk!
Kaminaga menoleh ke jendela ( yang menjulang di sebelahnya). Ternyata ada sebuah bola yang terjatuh dari langit di luar sana menubruk kaca jendela kelasnya. Merasa tidak tertarik maupun berminat mencari tau asal-muasal, Kaminaga kembali menghadapkan wajah ke depan, memperhatikan penjelasan Nogami sensei tentang perang saudara Amerika.
"Psstt- psst-!!"
Baru berapa detik berlalu dan interupsi kembali datang. Kali ini asalnya masih sama, dari luar jendela. Dan Kaminaga memutuskan untuk tidak lagi menolehkan kepala.
"Pssttt!- hoii kakak yang di sana!"
Mendengar suara lantang nan nyaring khas anak bocah mau tidak mau membuat Kaminaga terusik juga. Apalagi gangguan tersebut ditujukan pada dirinya. Yang bersangkutan pun memilih untuk sekadar melirik saja ke arah jendela.
"Hei kakak! Kamu ga budeg kan?"
Kaminaga yang semula melirik akhirnya menoleh sempurna. Terdengar agak kekanakkan sih, karena dia terpancing juga dengan hinaan yang dilontarkan si bocah.
Dari balik jendela kaca, Kaminaga bisa melihat dengan jelas, bahwa di penghujung tembok yang menjulang, hadir sepucuk kepala cokelat dengan poni terbelah tepat di tengah jidat, membentuk segitiga sama kaki yang membuat Kaminaga mengernyit emosi.
"A-pa?" Tidak ingin membuat kegaduhan lebih lanjut, Kaminaga pun berujar pelan namun sarat akan kekentalan artikulasi.
Sayang usaha redam suara Kaminaga nampaknya tak membuahkan hasil dikala detik berikutnya, Nogami sensei melantunkan tanya, "Apakah ada sesuatu yang penting di luar sana, Kaminaga?"
Sarkas yang menghentak sampai gendang telinga, membuat Kaminaga memutar kembali lehernya menghadap ke depan, kemudian satu lengan terangkat melebihi batas kepala. "Izin, sensei. Di luar ada bola yang jatuh dan anak itu memintaku untuk mengembalikan padanya."
Semula Nogami menolak untuk percaya alasan yang dibuat anak didiknya, tetapi ketika ibu jari siswanya merujuk ke arah luar jendela (tepatnya ke bagian atas tembok yang telah menyembul sebuah kepala), akhirnya Nogami tidak tega juga. Ia mengangguk, tanda memberi ijin pada Kaminaga untuk menyelesaikan urusannya.
Nah, istilah nyeleneh, benar sudah melekat dalam diri Kaminaga rupanya. dan seolah itu tertulis jelas di dahinya. Sebab, masih diiringi tatapan Nogami Yuriko, Kaminaga berdiri di sisi kaca jendela, membuka kaitnya, kemudian melompati bingkai kusennya semudah permainan lompat karet dengan tangan sebagai tumpuan. Nogami sampai habis kata untuk menasehati anak didiknya satu ini, yang acap kali rusuh dalam bertindak, maka ia hanya menggelengkan kepala sambil mendesah napas berat.
"Oke, sampai mana kita tadi?" dan setelah seorang siswi yang duduk di barisan terdepan memberikan jawaban, materi pelajaran kembali berjalan tanpa menghiraukan Kaminaga yang sibuk dengan urusannya di luar area.
Di sisi luar jendela, Kaminaga memungut bola sepak yang tergeletak di aspalan gedung sekolah. Lokasi jatuhnya bola tepat berada di ruang terbuka antara tembok batas halaman samping kelasnya dengan area halaman samping gedung sebelah. Tidak heran bila banyak sekali bola sepak bahkan sampai kasti menyasar ke dalam celah terbuka di situ, karena gedung tempatnya menaung ilmu berbatasan dengan halaman gedung anak-anak sekolah dasar. Jadi pemandangan dan suasana seperti ini bukan hal baru bagi Kaminaga beserta teman-teman sekolahnya.
Tapi jujur saja sih, baru kali ini Kaminaga berhadapan dengan bocah lelaki sekolah dasar yang tatapannya malas namun omongannya begitu serampangan membuat kuping gatal panas.
"Apa maumu anak kecil?"
"Kembalikan bola kami."
Tanpa diminta untuk ketiga kalinya, Kaminaga memungut si bola, kemudian membawanya ke dalam genggaman tangan sambil berjalan mendekat ke tembok perbatasan. Anak kecil berkepala cokelat pudar di atas sana masih memperhatikan, selagi Kaminaga kemudian mengulurkan tangan ke atas padanya. Namun sayang, tindakan itu tidak memberikan pengaruh yang signifikan lantaran jarak yang terhapus (antara puncak tembok pembatas dan ujung jemari Kaminaga yang diulur panjang) masih cukup lebar. Seolah menangkap sinyal janggal dari tindakan si pemuda yang menapak tanah, membuat bocah lelaki yang menyembul kepalanya menjadi gelap durja.
"Heh~ kenapa ga diambil?" Kaminaga merubah senyum menjadi miring. Puas membalas rasa sebal di hati mengingat saat-saat si anak meminta tolong dengan ujaran yang membuat kesabaran hati teriris tipis-tipis.
"Kalau kamu ini benar anak sekolah menengah atas, harusnya akalmu lebih maju ketimbang monyet di kebun binatang."
Kaminaga mendengus tawa, paham betul maksud arah tujuan pembicaraan si bocah. Kurang lebih terjemahannya seperti ini, 'lemparkan bolanya ke seberang sini, kakak sma bego!' Tapi mungkin Kaminaga memiliki tujuan lain.
"Loh, Kan kamu sendiri yang jatuhin ke sini. Kalau begitu turun dan ambilah sendiri. Nih." Kaminaga sedikit mengayunkan bola ke udara, yang sayang tetap saja tidak bisa diraih tangan kecil si bocah lelaki yang masih bertengger sebal di penghujung bagian atas dinding.
Sopan santun justru makin kandas sejalan lamanya waktu mereka bercakap, karena si bocah lelaki makin sengit memandang Kaminaga. Jika tidak memiliki ide untuk bermain-main sebentar, mungkin tawa Kaminaga akan meledak saat itu juga. Apalagi saat kalimat cemoohnya terlontar kemudian, "atau jangan-jangan lenganmu terlalu pendek sampai-sampai ga bisa meraih bola ini dari tanganku, ya?"
"Sekedar informasi, bukan aku yang menendang bola sepak itu sampai ke sana."
"Sayangnya aku tidak peduli. Toh kamu yang bersusah payah datang ke sini."
Tidak ada tanggapan dari yang bersangkutan di atas sana, membuat Kaminaga agak kecewa. Tapi tenang saja, akalnya memiliki seribu ide yang cemerlang, tidak seperti yang dituduhkan si bocah pada awalan. "Kalau lenganmu pendek dan tidak sampai untuk mengambil, bagaimana kalau turun saja dari sana? Tenang, nanti aku bantu untuk memanjat temboknya lagi."
Dengan mengumbar senyum ala pebisnis, harusnya cukup meyakinkan siapapun untuk mengiayakan negosiasi yang Kaminaga tawarkan. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku untuk bocah berambut cokelat yang masih bergeming di atas dinding sana. "Tinggal lemparin aja apa susahnya sih?!"
Gusar. Kaminaga mengerti bahwa kesabaran si bocah cilik sudah tiba di ujung sumbu. Dan inilah bagian terserunya.
"Kalau ga mau turun ambil sendiri ya udah. Daah~"
Kaminaga melenggang pergi, dengan sebuah bola sepak dalam dekapan di pinggang. Si bocah yang masih kukuh untuk menjulang di atas sana mendecak kesal tanpa sungkan.
"Hoi!! Kembalikan bolanya, jelek!"
Kali ini Kaminaga benar-benar menulikan telinga, terus melenggang pergi sampai melompati jendela kelas lalu menutup kacanya.
Makian si bocah lelaki makin menjadi ketika dilihatnya (dari balik jendela kaca) siluet si anak remaja melambaikan tangan padanya tanpa rasa dosa, bahkan sampai sedikit mengabaikan reaksi Nogami sensei yang melihatnya dengen gelengan kepala heran tidak heran. Rasa gembira tersepuh dalam perasaan ketika balik melihat dengan jelas wajah si bocah lelaki yang menggelap emosi.
"Cih, awas aja. Akan ku buat perhitungan nanti."
Karena bagi si bocah lelaki, hal ini tidak lagi sekedar penyelinapan bola sepak, tapi mengenai harga diri.
Duh, anak cilik jaman sekarang, pikirannya tua sekali.
