Work Text:
Hatano datang ke ruang makan ketika Jitsui tengah memangku buku di kedua tangan. Wajahnya yang berambut coklat nampak lebih tak bersahabat dari hari biasa. Atensi Jitsui pun turut makin direbut saat kursi di sampingnya dimonopoli tanpa ada kata, hanya suara deritan kayu yang digeser paksa oleh Hatano untuk kemudian dihuni.
Jitsui masih menyimak melalui ekor mata, ketika jemari Hatano merayapi sebungkus rokok (peninggalan Miyoshi) dan menyembulkannya sebatang. Pemantik api dikeluarkan dari saku celana, kemudian tabung rokok dicapitkan pada celah bibir dan api pun membakar ujungnya.
Perhatian Jitsui benar-benar dirayapi penasaran, buku dalam pangkuan tapak tangan pun sampai ditutup, hanya untuk menolehkan pandangan pada Hatano yang masih malas untuk membuka perbincangan.
"Hatano-san sedang ada masalah, ya?"
Yang berkepala cokelat sedikit melirik sambil agak memicingkan mata, "tau dari mana kalau aku ada masalah?"
Jitsui memulas senyum, memangku dagu dengan siku yang berpondasi di atas meja.
"Hatano-san merokok."
"Korelasinya?"
"Orang yang tidak biasa merokok lalu tiba-tiba menyesap nikotin, biasanya sedang mengalami stres berat."
"Fuuh..." sebongkah asap dihempaskan dari mulut Hatano yang agak membuka, wajahnya masih menyiratkan rasa malas yang sama. "Cuma lagi ingin merokok aja, kok."
"Supaya kelihatan lebih keren?" setelah mengatakannya, Jitsui malah menggelak tawa sendiri. Sadar betul kalau pendapatnya terdengar sangat konyol.
"Tanpa merokok pun aku sudah keren."
"Hatano-san percaya diri sekali."
"Memangnya apa lagi yang bisa aku percayai selain diriku sendiri? Kepala ikan kakap?"
Tawa Jitsui mereda sampai hanya menghasilkan senyum biasa. Tidak ada ide lagi untuk menyanggah pernyataan dari lelaki yang berambut cokelat pudar.
Asap sudah sangat membumbung tinggi ketika Jitsui bangkit berdiri. Melalui ekor mata, Hatano menyimak geseran kursi yang didorong ke belakang kemudiam langkah Jitsui yang agak menyerong sambil membawa gelas kosong.
"Mau sekalian ku buatkan minuman?" tawar Jitsui ketika langkahnya sudah mencapai bak cuci piring.
Hatano menepukan badan rokok pada pinggiran asbak, membuat abu yang semula teredam bara, berjatuhan ke cekungan asbak.
"Kopi, tolong."
"Dan sekarang Hatano-san terdengar mirip Amari-san. Seperti bapak-bapak, ha ha ha."
Mendengar derai tawa Jitsui membuat Hatano mengendikkan bahu.
"Yah, terserah sajalah."
