Work Text:
12 Juli 2012 selalu terulang karena aku tidak bekerja dengan becus.
Bangun dari tidur dengan rasa sesak di dada akibat jantungku berdegup kencang. Tubuhku terjatuh saat hendak turun dari tempat tidur. Wajahku menemui lantai. Dengan segenap kekuatanku yang mulai bangun, aku berusaha bangkit. Lenganku gemetar, mataku berkunang-kunang ketika mengubah posisi.
Aku duduk di atas lantai. Tak hanya lenganku, tapi tubuhku ikut gemetar. Aku mengatur napas, melihat ke arah tanganku. Terdiam. Aku mendengus kasar. Selama beberapa menit, aku berusaha menenangkan diriku.
Mataku melirik ke jam beker di atas nakas. Pukul setengah lima. Aku melihat ke kalender yang terpajang di dekat lemari. Tanggal 12 Juli 2012. Aku menelan ludah.
Aku memaksakan tubuh untuk berdiri, berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Hari ini aku tidak boleh lengah kembali. Aku kembali menyusun rencana.
Pagi jam 8, seperti biasa dia menyapaku ketika dirinya masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang di belakang. Dia tersenyum, senyuman yang selalu aku pertahankan belakangan ini. Dia bertanya perihal apakah aku sudah sarapan, karena aku terdengar lesu. Aku menjawab sekenanya di kursi penumpang depan. Sopir mobil membawa kami menuju sebuah gedung perusahaan swasta milik klien.
Aku melirik lewat kaca spion tengah.
Dia tampak sehat. Bibirnya sedikit ranum seperti biasa. Matanya tampak cemerlang, begitu tajam, bersemangat menemui beberapa kliennya hari ini. Wangi cologne-nya seperti biasa menusuk hidungku.
Aku menatap jam tanganku. Jantungku mulai berdebar cemas melihat berapa banyak sisa waktu yang aku punya.
Pertemuan dengan klien berjalan sempurna seperti biasa. Dia masih tersenyum, menjabat tangan kliennya. Genggaman tangan keduanya tampak kokoh, khas para pebisnis. Keluar dari ruangan, kami berjalan menuju lift. Aku menatap jam tanganku lagi.
"Kenapa, Mag? Hari ini kau kerap mengecek jam tanganmu." Dia bertanya. Pintu lift terbuka, kami berdua masuk ke dalam. "Pertemuan dengan klien selanjutnya setelah makan siang. Kita bisa bersantai sedikit sembari mempersiapkan informasi-informasi yang sudah kau temukan."
Aku tidak menghiraukan omonganganya. Jarum detik jam yang kian bergerak melewati angka-angka di jam tanganku membuat jantungku semakin khawatir. Aku menelan ludah sedikit susah, kemudian melirik pria di sampingku.
"Apakah kau mau nongkrong di kantin di bawah?"
"Kau serius? Nongkrong di kantor klien kita?"
"Sebentar saja. Sekitar dua puluh menit. Kita bisa beli kopi atau latte saja."
Dia menatapku sedikit kebingungan tapi menyetujui tawaranku. Kami berdua memesan minuman, duduk di dekat jendela yang langsung berhadapan dengan jalan raya. Sembari minum, dia kembi sibuk membaca kertas print-an yang berisi informasi yang aku temukan.
Aku memperhatikan wajahnya. Masih tampak segar, seakan bertemu dengan kliennya dua jam penuh hampir tidak ada jeda tidak membuatnya kelelahan. Aku mengalihkan pandangan, menatap keluar, memperhatikan kesibukan kendaraan yang cukup padat.
Aku kembali melihat jam tanganku. Sepuluh menit telah berlalu dan minuman pria di depanku sudah separuh kosong. Aku kian intens menatapnya tanpa sadar. Jarum jam di tanganku terus bergerak. Tanganku mulai berkeringat. Kakiku bergerak kecil, mencoba meredakan rasa cemas.
"Apa mereka menjual air mineral? Tenggorokanku terasa kering." Dia bertanya. Aku menggeleng, sudah tahu duluan.
"Baiklah—"
"Biar aku saja yang beli." Aku berdiri duluan sebelum dia beranjak dari duduknya. Dia harus tetap disini.
Dia menatapku sedikit terkejut dan keheranan. Aku segera pergi keluar ke minimarket terdekat setelah memintanya untuk jangan pergi ke mana-mana, membeli satu botol air mineral. Buru-buru aku kembali ke gedung, mencari keberadaannya yang sudah tidak ada di kursi. Aku mengutuk dalam hati, menggenggam botol air mineral semakin erat. Aku mengecek jam tangan. Mataku melebar. Tidak...
Jam setengah 11.
Aku mencari-carinya, menyisir para pengunjung kantin, berharap menemukan wajahnya. Memanggil-manggil namanya di depan toilet pria, menelfon hapenyaa tapi ia tidak menjawab. Menanyakan ke repsesionis gedung tapi tak kunjung menemuinya.
Sepuluh menit sudah berlalu, tapi aku tak kunjung menemuinya. Ini membuatku takut dan bingung. Tidak biasanya seperti ini. Apa ini? Apakah aku berhasil? Apakah akhirnya dia selamat? Aku belum bisa senang sebelum menemukannya baik-baik saja.
Lalu, suara mengerikan terdengar. Jantungku terasa jatuh ke lantai saat mendengarnya. Suara besi saling bergesek. Berdecit begitu nyaring, membuat semua orang di lantai satu menoleh ke sumber suara, ke sebuah lift yang turun dengan kecepatan yang tak biasa.
Hatiku langsung memahami apa yang terjadi. Segera aku berlari ke arah lift, berteriak. Tapi sia-sia. Teriakanku tidak akan mengubah apa-apa. Lift itu jatuh di lantai basement dengan hantaman yang sangat keras. Tidak akan ada satu pun orang yang selamat di sana.
Aku tidak kembali mencarinya. Jawabannya sudah kudapatkan ketika aku terbangun kembali di atas tempat tidur dengan dada yang sesak, jantungku berdegup sangat kencang. Ketika aku berusaha bangkit dengan tubuh yang bergetar dari atas lantai, melihat kalender yang terpajang di dekat lemari.
12 Juli 2012.
Aku tersedu-sedu. Air mataku menetes ke atas lantai kamar. Aku tidak kuat lagi. Aku kembali bertanya-tanya. Takdir macam apa ini? Kenapa bisa seperti ini?
Sudah berkali-kali aku menyaksikannya mati. Berkali-kali juga tanganku menyentuh darahnya, mendekapnya sebelum ia mati. Berkali-kali aku mendengarnya merintih kesakitan akibat hantaman keras yang diterimanya atau besi yang menancap di perutnya.
Aku berjalan tertatih-tatih menuju meja rias, meninju cermin di meja rias sekeras mungkin. Serpihan kacanya berjatuhan di lantai. Aku mengambil salah satu serpihan tersebut, hendak melukai diriku tapi urung setelah aku menyadari satu hal.
Aku tahu membunuh diriku tidak akan mengubah alur waktu yang berputar mengulang-ulang ini. Aku akan tetap terbangun di atas tempat tidur dengan dada yang sesak, harus menyelamatkan bosku seperti seorang pahlawan tepat waktu karena kalau tidak, aku akan kembali terbangun di atas tempat tidur dan harus kembali berusaha menyelamatkan pria itu.
Pertama kali menyadari aku terjebak di alur waktu berulang ketika aku terbangun pasti tanggal di hapeku tidak berubah dan di hari yang sama dia akan mati di waktu yang sudah ditentukan. Tanggal 12 Juli 2012, pukul setengah 11.
Aku mulai berhipotesis setelah dia sudah mati tiga kali. Jika aku menyelamatkannya kemungkinan aku bisa keluar dari alur waktu terkutuk ini. Namun setiap kali aku hampir berhasil, pria itu selalu lepas dari genggamanku dan pergi mati seperti daun kering yang layu dan mudah dipijak dan aku akan kembali terbangun di atas tempat tidur.
Aku selalu lengah, membuatku menjadi merasa aku seperti tidak serius menyelamatkannya. Bahkan di kejadian sebelumnya, ketika ajal telat menjemputnya, yang kukira aku telah terbebas, ternyata pria itu tetap mati. Mau berapa kali pun aku aku berusaha menunda kematiannya, sayangnya dia akan tetap mati hari itu juga.
Namun, pagi ini kepalaku mulai berpikir gila. Aku punya rencana. Ini rencana yang gila dan harus sukses. Kewarasanku mulai digerogoti kegilaan sejak aku terjebak di alur waktu yang berulang ini.
Aku menatap wajahku yang muram di serpihan kaca yang kupegang. Seringai miris terukir di bibirku.
"Jika aku tidak bisa menyelamatkanmu, lebih baik aku ikut bersamamu. Seharusnya itu cukup untuk memutuskan...apa ini? Kutukan? Takdir sialan kita?" Aku terkekeh, menggeleng-geleng. Aku baru menyadari satu hal lagi.
Atau aku saja yang mendapatkan kejadian yang berulang-ulang ini?
Aku bergeming. Tapi kenapa?
Pagi itu aku melancarkan rencanaku. Seperti kejadian belasan kematian sebelumnya, aku menemani menemui kliennya di sebuah kantor swasta. Mencatat hasil pertemuan selama dua jam. Menahannya untuk tetap di gedung selama dua puluh menit—karena dia pernah mati akibat kecelakaan mobil ketika aku tidak bersamanya—dan lima menit sebelum jam kematiannya tiba, kami keluar dari gedung.
Sebelum waktu kematiannya tiba, jika kami sudah di luar gedung, kami akan pergi ke minimarket dulu. Dia akan menyebrang duluan karena aku sibuk menata file yang kubawa yang hampir jatuh kemudian sebuah truk akan menabraknya dan aku aakn kembali terbangun di tempat tidur jika aku membiarkannya terjadi lagi. Hari ini tidak aku janji tidak akan seperti itu.
Di saat dia hendak menyebrang duluan saat melihat aku kepayahan membawa file di pelukanku, ketika kakinya hendak melangkah lebih jauh, aku menjatuhkan file yang kubawa. Aku menarik lengannya, menarik tubuhnya paksa kembali ke trotoar dan menggantikan posisinya.
Aku melihat jam tanganku, 7 detik lagi. Aku mendengar suara kendaraan melaju cepat ke arahku. Aku tersenyum ke arahnya yang terduduk di atas trotoar. Jantungku berdebar kencang, senang. Akhirnya dia selamat.
"Jaga dirimu, Thom."
Ia menjerit memanggilku. Begitu kaget dan takut. Wajahnya adalah hal terakhir yang aku lihat. Matanya membelalak kaget.
Lalu, hitam. Tubuhku terasa sakit sekali. Ternyata ini apa yang selalu dirasakan Thomas.
Aku harap dengan kematianku, lingkar waktu setan ini berakhir.
12 Juli 2012 selalu terulang karena aku tidak bekerja dengan becus.
Bangun dari tidur dengan rasa sesak di dada akibat jantungku berdegup kencang. Tubuhku terjatuh saat hendak turun dari tempat tidur. Wajahku menemui lantai. Dengan segenap kekuatanku yang mulai bangun, aku berusaha bangkit. Lenganku gemetar, mataku berkunang-kunang ketika mengubah posisi.
Aku duduk di atas lantai. Tak hanya lenganku, tapi tubuhku ikut gemetar. Aku mengatur napas, mengatur amarahku. Aku mendengus kasar. Mataku melirik ke jam beker di atas nakas. Pukul setengah lima. Aku melihat ke kalender yang terpajang di dekat lemari. Tanggal 12 Juli 2012. Aku mengumpat.
"Beraninya kau mati lagi!"
Aku memaksakan tubuh untuk berdiri, berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Hari ini aku tidak boleh lengah kembali. Aku kembali menyusun rencana.
Pagi jam 8, seperti biasa aku masuk ke dalam mobil, menyapanya. Aku tersenyum kepadanya, mencoba membuatnya setidaknya juga tersenyum padaku di hari terakhirnya. Aku tidak bisa melihatnya tersenyum lagi karena 12 Juli 2012 selalu berulang terus.
