Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-03-31
Words:
1,769
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
167

Udang Di Balik Batu

Summary:

Seringnya kau menunjukkan sisi lemahmu kepada Eden membuatmu terbesit sebuah pertanyaan; apa kau bisa menjahili Eden yang kuat?

Work Text:

Hidup bersama Eden adalah berkat yang tidak pernah berhenti kausyukuri. Terbebas dari tagihan tidak masuk akal Bailey, kebutuhan hidup yang selalu tercukupi, serta kehidupan seks yang menyenangkan. Kau mencintai Eden, dan Eden merasakan hal serupa. Bagaimana mungkin kau dapat protes dengan kehidupan baru nan damai yang kaujalani di hutan saat ini?

Hingga tanpa kausadari, enam bulan lamanya telah berlalu sejak kautinggal seatap dengan Eden. Banyak suka dan duka telah kalian lewati bersama, membuatmu merasa ikatan cinta dalam kalian begitu erat. Cukup erat hingga terbesit keinginan usil dalam pikiranmu; bagaimana respons Eden jika kau menjahilinya? Apakah kau bisa mendapatkan wajah lucunya?

Selama enam bulan terakhir, kau mengenal Eden sebagai sosok yang kaku dalam menunjukkan emosinya, tetapi semburat merah di pipi—yang terkadang menjalar hingga ke telinganya—tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Ia senang jika kau menggodanya dengan sensual, tetapi tidak nyaman—bahkan marah dan lepas kendali—jika kau bercanda tentang dirimu yang akan pergi meninggalkannya. Kau telah beberapa kali membohonginya dengan menaikkan harga belanjaan mingguannya, dan sekali pun Eden tidak pernah menyadarinya. Maka, melakukan kejahilan lainnya tidak akan menjadi masalah, bukan?

“Oh, sekarang April Mop.”

Seperti biasa, kau terbangun lebih awal dari Eden, memberikanmu sedikit waktu untuk dirimu sendiri. Seperti saat ini, salah satu kebiasaanmu ialah melihat kalender yang kaubeli di kota, mengecek jadwal yang biasa kautulis di sana. Dan jadwal yang kautandai di kalender hari ini ialah April Mop.

Kauingat, tahun lalu kau berhasil melakukan tipuan kecil kepada Robin dengan mengganti memory card game console-nya, menyebabkan save-an lamanya menghilang, membuat teman sepantimu itu panik tidak karuan, bahkan hampir menangis. Kau juga pernah melakukannya pada Kylar, berkata bahwa dirimu tengah mengandung anak Whitney, membuat anak malang itu berteriak histeris tidak percaya, lalu mengambil pisau—yang entah sejak kapan ia simpan—dari tasnya, hendak menyerang Whitney. Dan yang terakhir, kau pernah berhasil mendapatkan dalaman Bailey dan menggantungnya di papan pengumuman panti asuhan, membuatmu berakhir tergantung di papan pengumuman kantor wali kota. Semuanya menyenangkan, dan kali ini kau ingin melakukannya kepada Eden. Namun, tipuan apa yang bisa kaugunakan kepada pria bak beruang tersebut?

“Tipuan seperti apa yang bisa kulakukan untuk Eden, ya...”

Kau bergumam, lalu melempar pandanganmu ke arah Eden yang masih tertidur pulas. Dengkuran keras nan kasar dapat kaudengar darinya, membuatmu refleks tertawa pelan. Sudah enam bulan berlalu, dan perasaan kasihmu kepada sosok yang terlihat mengerikan dari luar itu kian bertumbuh subur, membuatmu melihat apa pun yang dilakukannya merasa senang.

Tanpa kausadari, sepuluh menit berlalu sejak kau menatap Eden sembari memikirkan ide jahilmu. Dan dalam sepuluh menit itu pula kau telah mendapatkan beberapa rencana. Senyum semringah terukir di wajahmu, tidak sabar mencobanya kepada sang terkasih ketika ia telah bangun.

***

Pukul tujuh pagi, Eden terbangun dari bunga tidurnya. Ia bangkit, melakukan peregangan kecil. Belum sempat ia meminta sarapan kepadamu, sang pria telah terlebih dulu mencium aroma wangi dari dapur—yang ia tebak berasal dari masakanmu.

“Pagi, Eden. Aku sudah membuatkan sarapanmu.”

Seakan berhasil menebak pikiran Eden, kau menyambut bangunnya kekasihmu dengan semangat. Kau yang telah selesai memasak telur kesukaan Eden menaruhnya di meja makan, menghampiri pria beruangmu.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”

“Seperti biasa,” balas Eden singkat sembari keluar dari tempat tidur, berjalan melewatimu dan mengusap kepalamu, menuju meja makan. Kau tersenyum puas, lalu mengikutinya dari belakang.

Ketika Eden menduduki kursinya, kau mengambil posisi di pangkuannya. Kau tidak ingat kapan ini dimulai, tetapi kau dan Eden menyukai itu. Terbukti dengan segaris senyum simpul yang selalu terukir di wajah Eden ketika ia memulai sarapannya.

Saat inilah kau melancarkan rencanamu.

“Kautahu, Eden, kemarin ... aku bertemu dengan Black Wolf.”

Tangan Eden berhenti bergerak seketika. Meski tidak dapat melihat ekspresinya langsung, kau dapat membayangkan betapa terkejutnya pria yang kaududuki itu. Sebisa mungkin kau menahan tawamu, menjaga suaramu tidak terdengar mencurigakan.

“Dan aku ... sepertinya mengandung anaknya sekarang,” lanjutmu sembari mempertahankan suara sendumu, dan tangan kananmu mengusap perutmu.

Kini, sendok di tangan Eden yang terjatuh di meja.
Sungguh, rasanya kau ingin melepas tawamu sekeras mungkin. Namun, tidak, kau masih harus menahan diri. Tidak sampai kau mendongak, menatap ekspresi seperti apa yang dipasang Eden sekarang.

Dan ekspresi itu adalah amarah.

“Aku tidak dapat mencium bau serigala sedikit pun darimu.”
Suara berat penuh penekanan itu membuat bulu kudukmu meremang seketika. Kau terbelalak, alam bawah sadarmu membunyikan alarm tanda bahaya. Kau meyakini bahwa kejahilan kecilmu ini tidak akan berakhir baik pada pinggangmu.

“Atau mungkin, aku belum mengecek semuanya.”
Kemudian tangan Eden meremas pahamu, sebelum akhirnya membanting tubuhmu ke lantai.

***

Tiga kali.

Sebanyak tiga kali Eden menandaimu sewaktu sarapan tadi. Kaupikir amarahnya akan berlangsung lama hingga membuatmu tidak dapat melakukan rencanamu yang lain. Namun, untungnya suasana hati Eden langsung membaik ketika ia melihat cairan putih nan kental miliknya merembes keluar dari lubangmu, membasahi selangkang hingga pahamu. Ia puas melihat karyanya padamu, itulah yang kaupikirkan ketika melihat senyum di wajahnya.

Kini, tiba saatnya bagi Eden untuk mengerjakan ladangnya. Kau beruntung hari ini Sabtu, sehingga kau tidak perlu masuk sekolah. Di bawah pohon rindang, di sanalah kau beristirahat sembari memerhatikan sang terkasih bekerja. Kedua lutut kautekuk, lalu memeluknya. Pandanganmu mengekori ke mana pun Eden berjalan, mengaguminya dalam diam. Sekaligus menanti kesempatan untuk melancarkan serangan kedua.

Satu jam berlalu, penantianmu membuahkan hasil. Kini, Eden yang telah menyelesaikan ladangnya berjalan ke arahmu, berniat beristirahat di sisimu. Ketika sosok itu telah duduk di sebelahmu, barulah kau sengaja menyamankan pantatmu di pangkuan Eden. Sekilas, kau dapat merasakan tubuh pria besar itu menegang karena tingkahmu, tetapi kau tidak mengindahkannya. Bahkan kau menyenderkan punggungmu pada dada bidangnya, mendongak guna menatapnya.

“Eden, aku punya pengakuan,” ucapmu serius, menarik perhatian lawan bicaramu untuk membalas tatapanmu.

“Aku ... sebenarnya adalah adik kandungmu. Kita memiliki ayah yang sama dengan ibu yang berbeda.”

Serangan kedua april mop telah kaulancarkan. Kini, tinggal menunggu jawaban.

Satu detik, dua detik, hingga lima detik berlalu, Eden hanya menatapmu tanpa mengucapkan sepatah kata. Dalam hati kau mulai bersorak merayakan kemenangan, sebelum akhirnya embusan napas panjang tercelus dari mulut Eden.

“Aku mengenal baik kedua orang tuaku. Aku tidak memiliki adik. Itu tidak mungkin.”

Eden menanggapimu datar, terlihat tidak tertarik. Ia bahkan menyingkirkanmu dari pangkuannya, lalu berjalan menuju kabin. Tidak, kautahu jika Eden tidak marah atau semacamnya. Ia hanya sedang mengambil senapannya, bersiap untuk berburu. Ia hanya tidak menggubris ucapanmu, menanggapimu cuek. Untuk kedua kalinya kau mendapatkan kekalahan.

***

Jujur, kau tidak mengerti apa yang salah. Apakah tipuanmu yang kurang meyakinkan, atau memang Eden yang tidak mudah ditipu. Kau meyakini jika selama di kota dulu, kau selalu berhasil mengelabui setiap orang yang kautemui—bahkan Bailey sekali pun. Lantas, mengapa kali ini tidak berhasil?

Tidak apa-apa, pikirmu dalam hati. Kau masih memiliki rencana tersisa, dan kau hanya bisa berharap kali ini akan benar-benar berhasil.

Seperti malam-malam biasanya, seusai mandi dan makan malam, kau dan Eden bermanja di love seat yang telah kalian buat. Eden yang duduk di kursi, dengan kau yang bergelayut manja di dada bidangnya. Ditemani kehangatan perapian di depan mata, dinginnya hutan tidak dapat kaurasakan.

“Kautahu, Eden, aku ... sebenarnya aku memiliki rahasia kecil yang kusembunyikan darimu.”

Kau berucap sembari memainkan telunjukmu pada dada Eden. Seperti sebelumnya, kau tidak berani menatapnya langsung—lebih tepatnya, kau tidak ingin ekspresi menahan tawamu ketahuan dengan mudah.

“Jauh sebelum kita bertemu di hutan dulu, aku ... sudah lama mengenalmu. Saat aku masih kecil dan tinggal bersama Bailey, aku sudah mengenal, mengagumimu dari kejauhan. Aku selalu berharap dapat bertemu denganmu ketika aku sudah dewasa, seperti sekarang,” jelasmu yang kini menghentikan gerakan telunjukmu, berganti dengan meletakkan kepalamu di dadanya seraya memejamkan mata. Dengan posisimu sekarang, kau dapat mendengar jelas detak jantung Eden.

Dan detak jantungnya normal.

“Itu tidak mungkin. Karena akulah yang sudah mencari tahu tentangmu sejak kau masih kecil, bukan sebaliknya.”

Jawaban di luar dugaan Eden membuatmu terbelalak. Kau hendak mengangkat kepalamu, berniat mencari penjelasan. Naas, kau merasakan tangan besar sang pria menahan kepalamu untuk tetap berada di dadanya. Sesekali ia juga mengusap lembut rambutmu, membuatmu merasa rumit.

Apa yang dikatakan Eden itu benar? Ataukah hanya gertak kebohongan semata? Tidak, tidak, kautahu Eden tidak pernah sekali pun berbohong. Lantas, bukankah itu berarti ucapannya benar? Dia telah mengenalmu sejak kau kecil, tanpa kauketahui?

Sebenarnya, sedalam apa Eden telah jatuh padamu?

“Seharian ini kau bertindak aneh.”

Berbagai pertanyaan yang terlintas dalam kepalamu lenyap seketika berkat suara Eden menyadarkanmu. Sejenak, kau mengerjap beberapa kali, lalu mengembuskan napas panjang. Untuk kedua kalinya, kau berusaha menarik kepalamu menjauh dari Eden, dan sang pria mengerti kode yang kauberikan, memudahkanmu untuk meluruskan pandangan kalian. Kini, tatapan kalian beradu.

“Aku ... hanya ingin mengerjaimu,” ucapmu pelan seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Kau meyakini Eden dapat mendengar suaramu, karenanya, kau kembali berucap.

“Hari ini adalah April’s Fools Day, yang mana setiap orang akan berbohong atau melakukan kejahilan sesuka hati tanpa perlu merasa takut bersalah.”

Kemudian hening.

Eden tidak menanggapi, dan kau memilih bergeming. Hanya ada suara api membakar kayu perapian yang mengisi kesunyian di antara kalian.

“Jadi, itu alasan atas tindakanmu?”

Selang dua menit kalian bergeming, Edenlah yang pertama kali bersuara. Masih belum sanggup menatapnya langsung, kau mengangguk pelan.

“Maaf.”

Jauh di dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau menyesali kedua kebohongan pertamamu. Kau meyakini semua itu telah menyakiti hati Eden, entah sang pria menyadarinya atau tidak. Karena itu, kau meminta maaf. Kau bahkan telah bersiap melakukan apa pun jika Eden tidak memaafkanmu.

“Dasar.”

Balasan singkat Eden diiringi dengan tangannya mengangkat tubuhmu, lalu bangkit dari love seat. Tanda tanya menguasai benakmu, membuatmu mengajukan pertanyaan.

“Eden?”

“Sebagai hukuman, aku akan mengikatmu di luar. Siapa yang tahu kau dapat umpan yang lezat bagi para serigala.”

Seketika jantungmu serasa berhenti berdetak. Kau terbelalak, dilanjutkan dengan keringat dingin menetes dari pelipismu. Sontak kau meronta, berusaha melepaskan diri. Naas, tangan Eden jauh lebih kuat menahan tubuhmu untuk tidak terjatuh. Kautahu kau memang bersalah, dan pantas mendapat hukuman. Namun, sekali pun kau tidak pernah menduga jika Eden setega ini.

“Tu-tunggu, Eden, kupikir kita bisa bicarakan ini baik-baik dulu!”

Tidak ingin merasakan dinginnya hutan saat malam hari, kau langsung melingkarkan kedua tanganmu pada leher Eden erat. Setidaknya ketika pria itu hendak melepaskanmu, kau masih dapat bertahan.

Tepat di depan pintu, Eden berhenti. Kau memejamkan mata, merasakan detak jantungmu berdebar kencang, pula ketakutan yang memuncak. Besar harapanmu agar Eden luluh dan mau memaafkanmu.

Di luar dugaan, tidak ada yang terjadi. Selama apa pun kau menunggu, Eden tidak melakukan apa pun. Dia diam, seperti menunggu sesuatu. Butuh usaha keras bagimu untuk mengumpulkan keberanian guna membuka mata, menatap lawan bicaranya. Kau penasaran apa yang menghentikan langkah sang pria besar.

Untuk ke sekian kalinya, kau dikejutkan dengan hal tidak terduga. Karena saat kau membuka mata, senyum Edenlah yang menyambutmu. Tidak, kau bahkan berani bersumpah jika ia seperti menahan tawanya,

“Kenapa? Bukannya hari ini kaubilang bebas melakukan kejahilan, kan?” tanya Eden dengan nada jenaka, bahkan sengaja menekankan kata kejahilannya. Saat itulah kau menyadari kekalahanmu benar-benar telak.

“Eden!”

Kau berteriak dengan wajah memerah padam.