Actions

Work Header

Friend-Foe

Summary:

Gentar dan Sopan selalu saja satu sekolah sejak bangku taman kanak-kanak sampai setingkat SMA. Teman sejak kecil? Bukan, kurang tepat. Musuh sejak kecil!

BoBoiBoy Fusion no power AU!
Focus on Gentar & Sopan dynamic.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Gentar dan Sopan selalu saja satu sekolah sejak bangku taman kanak-kanak sampai setingkat SMA. Teman sejak kecil? Bukan, kurang tepat. Musuh sejak kecil! Walau tentu saja, hal itu tak pernah terucap secara gamblang di antara mereka.

Bagi Sopan, seorang Gentar memang membawa suasana keceriaan, tetapi dia sering merasa sulit karenanya. Contohnya, ketika dia menjadi ketua panitia kegiatan bulan Ramadan di sekolah. "Jelaskan lebih lanjut. Gentar ikut-ikutan ambil donasi untuk anak yatim piatu? Tapi orang tuanya masih lengkap!"

Sang wakilnya mengangguk, menjelaskan lebih situasi yang terjadi di belakang sekolah itu. "Dia bilang, niatnya ingin menemani teman sekelasnya agar nggak malu mengambil donasinya, tapi dia malah asyik memilih kantung isi donasinya dan sudah mengambil—"

Sopan sudah lari ke luar ruangannya, berkata ia mau segera mengurus masalahnya. Dia mati-matian menahan emosi berhubung sedang berpuasa di bulan yang suci. Benar, ini bulan puasa! Tapi kelakuan Gentar itu masih saja meresahkan!

Dari ruangan panitia Ramadan yang berada paling barat di lantai bawah, Sopan hanya perlu berbelok ke sebelah kiri untuk menghampiri stan pembagian donasi tersebut. Sopan terengah-engah, memerhatikan pemuda bertopi hitam-merah itu dari belakang. Tentu saja ia sudah kenal betul sosoknya.

Tidak, setidaknya Gentar hanya terlihat bercanda dengan panitia lain. Akan tetapi.... Tangannya juga sambil mengambil kantung isi beras dan memasukkannya ke tasnya. Sopan mempercepat langkahnya, menepuknya pundaknya. "Hmmm, mari lihat siapa yang datang ke stan ini. Padahal letaknya ada di belakang sekolah, pasti sulit jalan jauh dari kelasmu di lantai tiga," Ucapnya setenang mungkin.

"Oh, hei Sopan!" Gentar meliriknya dan menyapa dengan riang. Sopan pun masih mempertahankan senyumnya. Setidaknya, mereka cukup terlihat saling positif. "Itu sama sekali bukan masalah! Justru aku senang sekali bisa bolos dari pelajaran sosiologi, hahaha— eh, maksudku jam kosong!"

Senyum Sopan menjadi agak gelap mendengarnya, ia perlu mencoba mengingat poin bolos ini untuk dilaporkan ke guru. "Baiklah, lalu kamu mau mencoba melakukan sesuatu, hmmm?"

"Kenapa memangnya? Kamu nggak suka kalau aku mengambil satu kantung? Mau menghajarku?!" Gentar sudah membuka kedoknya sendiri, kini menepuk pundaknya kasar. Sopan masih tersenyum, dalam hatinya bersorak penuh kemenangan. Dia bisa berhasil menyelesaikan masalah ini dengan cepat!

"Letakkan kantung itu, Gentar. Itu untuk anak yatim piatu. Jumlahnya sudah pas." Kata Sopan tanpa berbasa-basi lagi dengan tujuannya. Gentar hanya mengorek telinganya dengan kelingking jemari kiri dan bersiul, berkata dia tidak mau mendengarkan apapun.

Beberapa panitia lain sudah berkata kalau Sopan tidak perlu sampai susah payah memintanya karena ada anak yang tidak mau menerima donasinya. Sopan menggeleng dan berkata, "Di bulan suci ini ada sejumlah makanan menarik, dan dia bisa saja kesulitan makan dengan enak..."

Tentu saja ia agak berbohong soal itu. Sopan sudah kenal siapa anak yang dimaksud, seorang anak yang dari keluarga masih tergolong berkecukupan, makanya bisa saja menolak donasi beras. Akan tetapi, cerita karangannya menarik perhatian telinga Gentar. Dia terdiam, menatap Sopan dengan tajam. Meletakkan kantungnya sambil memberi ancaman awas-saja-kamu.

Sopan menghela napas diam-diam memerhatikan kepergian sosoknya itu sambil merangkul temannya dan berkata ingin berbuka puasa bersama anak yatim lain. Setelah ini, dia sudah bisa membayangkan kejadian Gentar yang syok setelah tahu informasi anak itu dan ingin menghajarnya karena sudah sampai agak mengarang cerita. Lagipula, ia harus begitu supaya bisa menang dari seseorang yang cukup memusuhinya!

Benar saja dugaannya, tak butuh waktu dua hari, Gentar sudah memanggilnya lantang dari depan ruangan panitia, mengajaknya berduel, "SOPAN BIN PAPAN! Informasi yang kudapatkan agak salah! Beraninya kamu sudah menipuku, mari duel silat setelah buka puasa! Kau juga sudah seenaknya melaporkanku ke guru!"

"Hmm, sulitnya jadi kamu yang sampai perlu mencari informasinya. Oh ya, nama hamba Sopan bin Amato," Sopan melangkah keluar ruangan dengan masih tersenyum, walau jadi jengkel juga karena namanya sering sengaja disebut salah. Dasar Gentar, malah membicarakannya dengan keras. Dan apa-apaan katanya 'menipu' tadi?

Tapi tadi katanya, duel dilakukan setelah buka puasa? Sepertinya Sopan menang satu poin lagi! Dia kenal betul siapa orang yang membuat Gentar terpaksa menunda amarahnya itu. FrostFire, seorang teman yang dikenalkannya ke Gentar.

 

-0o0-

 

Gentar merengut, suasana hatinya jadi memburuk setelah main di game center, lalu kalah begitu saja. Dan semakin kesal saat teringat Sopan. Dia dan Sopan itu jelas kurang berteman baik, cukup bermusuhan sejak kecil! Terlebih, Sopan sudah tahu banyak tentangnya.

Padahal ini hari ulang tahunnya. Sopan memang sudah menunjukkan hadiah baik-baik padanya, tetapi selanjutnya dia merebut perhatian orang tuanya, terlebih Ayahnya itu. Yang dia kira bisa jadi teman yang menyenangkan di hari ulang tahun, tetapi setelah itu malah jadi menyebalkan!

Ia duduk di trotoar depan mall, memainkan dua boneka kucing yang didapatkannya di game center tadi, ketika tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Tidak mengejutkan, akan tetapi malah membuatnya terkesima. Siapa, ya?

"Bonekamu lucu sekali, aku mau pinjam dong!" Kata anak itu, yang memiliki tinggi badan setara dengannya. Ia memakai jaket berbulu tanpa lengan dan topi mencolok corak api. Penampilannya keren sekali. "Harusnya perkenalan dulu, ya? Aku FrostFire, sejak tadi melihatmu main di game center."

"Enggak ikut main? Cupu sekali kalau kamu cuma melihat-lihat!" Gentar balas bertanya, masih enggan ikut perkenalan diri. Batal sudah pujian kerennya dalam hati, diperhatikan diam-diam membuatnya geli!

FrostFire terdiam di tempat, menggaruk pipinya. "Itu.... Aku lagi nggak punya uang buat main. Kasihan Ayahku juga yang sudah sulit mengurus keuangan,"

Seketika ia syok di tempat, sadar kalau sudah salah bicara. "H-hei, aku bercanda, hahaha! Ah, kamu orangnya baik juga, ya-"

Ditunjukkannya kartu pengguna game-nya sendiri sambil menahan tawa. Ah, rupanya FrostFire juga sedikit bercanda. Ini jenis lelucon yang menarik! Gentar ikut tertawa bersamanya. Mereka memutuskan lanjut main di game center. Setidaknya, kali ini dia punya teman main menyenangkan!

Mereka tak sengaja mendengar orang-orang menyebut ada rumor pembunuh berantai, tetapi Gentar sedikit bercanda kalau rumor itu dibuat orang pecinta thriller yang ditanggapi tawa terbahak-bahak oleh FrostFire. Gentar jadi senang sekali selera humornya dihargai.

"Ngomong-ngomong, aku dikenalkan oleh Sopan kepadamu." FrostFire mengaku setelah mereka puas bermain. Gentar terkejut sesaat, kemudian sudah mengepalkan tangan dengan emosi kuat. "Enggak perlu marah. Dia peduli padamu sebagai kawan."

"Menurutmu, dia itu teman yang baik?" Gentar mencoba meminta pendapat teman barunya itu. FrostFire sudah mengangguk, memeluk erat boneka paus yang dibelinya.

Begitu ya? Tetapi, Gentar bukan seorang yang pemaaf, maka dia berniat ingin sedikit membalas dendam pada temannya itu. Hitung-hitung untuk memberi teguran. Bahwa Gentar tidak suka dengan sikap sok ikut campurnya yang melampaui batas.

Esoknya, Gentar bersiul penuh kemenangan saat didengarnya Sopan yang syok setengah mati sampai terpeleset jatuh dan kakinya keseleo. Pasalnya, dia sempat menukar lampu di meja kamar temannya dengan lampu rusak. Dia tahu betul kalau Sopan tidak suka dengan kegelapan.

Tak cukup sampai situ, keberuntungan kembali berpihak padanya saat Sopan sedang ingin menyeduh kopi panas kesukaannya di ruang OSIS, tapi Gentar telah merusak dispensernya, membuatnya tidak bisa minum kopi. Gentar hanya menyeringai penuh kemenangan saat dilihatnya Sopan yang memegang kepalanya dengan pusing. Satu poin lebih lagi untuk dirinya!

 

-0o0-

 

Sebagai orang asing di pertemanan orang lain, FrostFire merasa khawatir dengan pertemanan Sopan dan Gentar. Dia berteman baik dengan keduanya, otomatis sulit memilih salah satu pihak saja. Sopan ialah teman sesama klub silat yang sering cocok menjadi partner-nya sedangkan Gentar menjadi teman dekat yang menyenangkan.

Dia bisa menunjukkan keberpihakan pada Sopan, misalnya saat dia membuat duel Gentar dan Sopan harus ditunda berhubung sedang berpuasa. Tapi hanya sebentar, mau tak mau FrostFire berpihak pada Gentar yang kalah dari duel tersebut, terlebih kepalanya terbentur tanah. "Hei Gen, kepalamu aman?" Tanyanya.

Gentar tak menjawab, hanya mengeluh sakit kepala. Dengan helaan napas panjang, FrostFire sudah merangkul Gentar dan setengah menyeret kaki untuk pulang ke rumahnya dari halaman masjid di komplek mereka. Teman dekatnya satu ini tidak bisa salat tarawih dalam keadaan sakit kepala begini.

"Frosty... Cabut lampu tidur Sopan..." Ucap Gentar saat tiba di rumahnya sendiri yang bersebelahan dengan rumah Sopan. FrostFire tersenyum getir. Berkata kalau mereka perlu berhenti bertengkar. Setidaknya di bulan puasa yang suci ini.

"Berdamai sebentar dulu! Kalian itu juga teman baik, kan!" Kata FrostFire, yang hanya ditanggapi gerutu kesal dari Gentar. Cukup sampai situ, FrostFire sudah diusir oleh kawan dekatnya.

Tidak dipungkiri, ia cukup kepikiran akan hal itu. Sampai di hari esoknya sekalipun, ketika FrostFire latihan panahan untuk menghabiskan waktu menunggu buka puasa. Sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu di masjid, tetapi FrostFire enggan terseret masalah Gentar dan Sopan lagi saat bertemu dengan keduanya di sana. Dia kurang fokus, dari lima panah, hanya dua panah yang berhasil.

Tiba-tiba ada pesan aneh yang muncul di ponselnya. FrostFire mengernyitkan kening saat membacanya. Bahwa ada orang tak dikenal yang menawarkannya pembelian diskon panah di bulan Ramadan. "Ini pasti penipuan." Gumamnya, lantas sudah memblokir nomor asing itu.

Namun belum cukup sampai situ, muncul telepon masuk berkali-kali. Dengan kesal, FrostFire terpaksa harus mengangkatnya. Siapa yang berani mengganggu latihan panahannya yang berharga?

"Apa? Aku menang lomba panahan tempo hari?!" Seketika kewaspadaannya lenyap, berganti air muka cerah. Yang tanpa disadari FrostFire bahwa dia sungguh diseret oleh orang jahat.

 

-0o0-

 

Gentar maupun Sopan saling menatap sengit. Seolah lupa bahwa keduanya sedang menjalankan puasa. Pasalnya, mereka berdua mendapat giliran tugas menjadi penjaga masjid bersama di hari ini. Walau sedang tidak akur, keduanya terpaksa harus bekerja sama di masjid, dari mulai mengurus takjil sampai membersihkannya.

"Gentar, hamba harap kamu nggak mengambil banyak takjil hari ini..." Ucap Sopan tenang, namun jelas sekali itu kalimat teguran untuknya. Sopan jengkel dengan temannya yang sering kali rakus dalam mengambil takjil yang mana juga tidak langsung dimakan olehnya, padahal jumlah takjil sudah dibagi rata.

"Aku harap kamu nggak keasyikan tebar pesona dan lupa bersih-bersih masjid," balas Gentar dengan raut muka tak ramah. Dia merasa dongkol dengan kelakuan Sopan yang suka abai soal membersihkan masjid karena asyik menyapa orang-orang yang menyukainya. Padahal sampahnya berserakan!

Cukup dengan itu, keduanya tidak saling mengobrol lagi sampai akhir. Kecuali ketika setelah selesai salat tarawih. Saling menanyakan tentang FrostFire ke satu sama lain. Aneh rasanya tidak melihat sosoknya, padahal dia cukup sering datang ke masjid.

Sopan terdiam dengan gelisah. "Firasat hamba nggak enak." Katanya, buru-buru menghubungi orang tua FrostFire yang berada di rumahnya. Mendengar firasat buruk khas Sopan yang bisa terjadi itu, Gentar jadi berpikir keras tentang tempat FrostFire berada. Apa dia keasyikan main game?

Benar saja, jawaban dari orang tuanya malah mengejutkan mereka, "Bukankah harusnya dia bersama kalian di masjid? Dia belum pulang sama sekali sejak sore tadi,"

"Sial, nomornya nggak aktif!" Keluh Gentar kesal saat mencoba menghubungi FrostFire. Sopan menahannya. Dia merasa tindakan itu tidak membantu sama sekali. Justru ada hal lain yang lebih berguna. Yakni melacak keberadaannya melalui media sosialnya.

Tapi belum sempat Sopan menawarkannya, kali ini ada telepon dari nomor tak dikenal di ponselnya. Dengan tegang, ia segera mengangkatnya. Gentar juga sudah berharap-harap cemas, tidak ingin teman berharganya terkena masalah.

"Sopan, ini aku FrostFire, pertama-tama tenang dulu, aku sedang memakai ponsel psikopat gila yang hendak membunuhku. Aku butuh bantuanmu— arg, sakit! Beraninya!" Jawaban dari telepon malah semakin membuat Gentar dan Sopan khawatir dengan keadaannya di seberang.

Keduanya sudah saling berpandangan dan mengangguk kuat-kuat. Perseteruan mereka berdua sudah tidak penting lagi. Gentar maupun Sopan harus sungguh-sungguh bekerja sama demi teman mereka yang berharga, FrostFire!

 

-0o0-

 

Untungnya, mereka berdua tiba di waktu yang tepat bersama para polisi. Di saat hampir saja terjadi hal fatal, yakni FrostFire yang betul-betul hendak ditusuk tepat di dadanya, polisi langsung meringkus penjahat itu di tempat.

Karena terlampau syok, otomatis FrostFire pingsan saat ikatan tubuhnya dilepas Gentar dan Sopan yang sambil berseru heboh menanyakan keadaannya. Syukurlah saat mereka cek, dia tidak punya luka serius walau wajahnya agak memar-memar.

Rupanya psikopat itu adalah pembunuh berantai buronan yang kesulitan ditangkap polisi. Sudah banyak korban yang telah dibunuhnya. FrostFire sangat beruntung bisa lolos darinya dan pintar dalam mengulur waktu hingga polisi datang. Dalam hati, Gentar syok karena rumor yang pernah didengarnya di game center rupanya bukan candaan belaka.

"Huft.... hamba harus meminta maaf pada Frost." Ucap Sopan seusai hari yang panjang itu berakhir di pukul 2 pagi, hendak pulang dari kantor polisi. "Sepertinya dia jadi terlibat hal buruk karena efek dari pertengkaran kita, Gentar..."

Gentar sedikit terkejut, tertunduk murung. "Maaf Sopan, harusnya aku nggak berniat ambil donasi anak yatim piatu di hari itu." Katanya, memutuskan hendak meluruskan akar permasalahannya.

"Hamba juga turut meminta maaf, Gentar. Tiada gunanya memancing api keributan di bulan suci Ramadan, namun hamba malah ikut terlampau emosi." Sopan tersenyum kecut, mengulurkan tangan padanya untuk meminta maaf. Dan Gentar sudah balas menjabat tangannya dengan suka cita.

Sebagai perayaan akan akurnya mereka, keduanya memutuskan lanjut mengobrol tanpa tidur dan sahur bersama di rumah Sopan. Seusai salat subuh, Gentar sudah tertidur sebelum sempat Sopan mengajaknya berzikir. Sopan sendiri juga melanjutkan zikir paginya sambil terkantuk-kantuk, namun kantuknya agak hilang saat dilihatnya samar-samar kedatangan seseorang. FrostFire.

"Nah, kalian bisa berdamai juga," ucap FrostFire seraya memungut selimutnya di tempat tidur, sudah hendak menyelimutinya. Sopan sedikit tersentak, lantas menanyakan keadaannya.

Dia tidak bisa melihat jelas ekspresi FrostFire akibat rasa kantuk yang amat menyerangnya, namun Sopan dapat merasakan nada bicara FrostFire yang tenang itu baik-baik saja, "Masih agak sakit, tapi ini lebih baik daripada melihat kalian bertengkar,"

 

-0o0-

 

Hari-hari selanjutnya terdapat pemandangan asing sekaligus pemandangan aneh di mata FrostFire. Pasalnya, Gentar dan Sopan berangkat bersama ke sekolah. Tanpa terlihat ada keributan. Dengan ternganga, ia diam-diam memerhatikan keduanya dari depan pintu kelasnya.

Tapi sampai bel masuk berbunyi, mereka tidak terlihat saling bertengkar. FrostFire mengukir senyum, bersenandung riang ke kelasnya sendiri. Ikut senang melihat dua temannya dapat bersenang-senang bersama. Namun, ketenangannya terusik ketika dapat telepon dari Gentar saat jam istirahat bercakap-cakap dengan teman sebangkunya.

"Yo, bro! Kamu harus buka puasa bersamaku dan Sopan di rumahku! Hari ini. Wajib." Kata Gentar tanpa berbasa-basi lagi. FrostFire tertegun, sedikit tidak menyangka keduanya sudah akrab sejauh ini. Dia lantas menyuarakan isi pikirannya.

Gentar tertawa menanggapinya, "Walaupun Sopan menyebalkan, tapi sejak kecil sebenarnya kami sudah berteman sangat akrab. Bisa dibilang, aku senang sekaligus benci berteman dengannya!"

Tiba-tiba Gentar sedikit menceritakan hubungan pertemanannya dengan Sopan sewaktu kecil. Rupanya Gentar yang lebih dulu mendekati Sopan dan mengajaknya berteman. Namun Gentar juga yang lebih dulu memberi aura permusuhan pada Sopan. FrostFire agak tidak habis pikir. Diam-diam, dia berniat ingin menanyakannya pada Sopan akan cerita tersebut. Dia butuh pendapat yang dirasanya lebih benar.

"Cerita Gentar benar," jawab Sopan ketika dia mampir buka puasa bersama sesuai ajakan sebelumnya. Gentar sendiri sedang asyik mengobrol dengan ayahnya di telepon, di depan rumahnya. "Gentar yang mau berteman sama hamba. Waktu itu, hamba belum punya banyak teman kecuali buku."

FrostFire semakin melongo tak percaya. Sopan terkekeh ringan dan menceritakan lebih jauh. Saat di taman kanak-kanak, semua teman sekelas mengadakan ingin membuat prakarya dari kertas bekas untuk hadiah ulang tahun guru. Sopan yang agak ingin memenangkan hati teman agar ia bisa mendapatkan banyak teman, mencoba mencari cara. Saat kertas bekas Sopan masih tersisa 2 sementara waktunya hampir habis, 2 kertas itu diam-diam dibuangnya ke tempat sampah.

"Wah.... Jadi kau..." FrostFire kehilangan kata-kata. Dengan senyum kecut, Sopan mengangguk.

"Gentar menyaksikan hamba dan cukup marah besar. Dia sedikit mendorong hamba dengan kasar, tetapi guru yang tidak melihat membela hamba, dipuji sebagai anak baik. Waktu kecil, hamba merasa senang dengan dipuji baik tapi sepertinya, Gentar jadi agak memusuhi hamba." Sopan melanjutkan ceritanya.

Itu adalah titik balik hidup bagi Sopan. Dia menjadi dipandang baik dan terkenal oleh teman-teman lain walau dia jadi agak dimusuhi teman pertamanya, Gentar. "Tapi semenjak itu, kami malah terus-terusan satu sekolah. Sejauh manapun hamba memilih sekolah, Gentar tetap satu sekolah. Sepertinya Allah mau kami dapat memperbaiki tali persaudaraan,"

Keheningan menyergap. FrostFire tercenung dengan cerita Sopan. Kalau dia jadi Gentar, dia tidak akan semerta-merta mudah memusuhi teman sendiri, tetapi tindakan Sopan memang agak buruk. Namun dia menangkapnya. FrostFire cukup menangkap raut Sopan yang masih ingin ada perubahan baik dalam pertemanannya dan Gentar.

Itu sudah cukup. FrostFire tersenyum penuh kemenangan dan bersenandung, "Dan aku berhasil memperbaiki tali persaudaraan itu.". Ia kembali melanjutkan makan gorengan. Sampai keningnya mendadak dijitak dua jari. Sopan dan Gentar.

"Tapi yang terakhir kali itu buruk. Kamu hampir mati," kata Sopan. Diikuti anggukan Gentar yang menatapnya kesal.

FrostFire menatap keduanya lekat. Dan mendadak air matanya tumpah. Rasa takut akan kejadian itu kembali menguasai dirinya. Dengan lembut, Sopan lantas memeluknya sementara Gentar mencoba melawak untuk menghiburnya.

"Gentar, candaanmu kurang pantas," komentar Sopan dengan senyum gelap. Pasalnya, Gentar membuat candaan seolah wajah FrostFire konyol saat ditangkap psikopat di hari itu.

Gentar bersungut jengkel, tidak suka ide leluconnya yang menurutnya jenius itu diejek, "Daripada kau, sok bersikap seperti ibu-ibu yang menghibur anaknya,"

"Hmmm, apa katamu, seorang Hampa?" Dengan emosi, Sopan sudah mengambil kipas tajamnya dari saku, hendak dijadikan senjata. Air mata FrostFire kering seketika, berganti merasa khawatir dengan suasana ini. Betul saja, Gentar sudah tak mau kalah, ambil palu sebagai senjata.

Mungkin saja, Gentar dan Sopan itu sebenarnya memang musuh berkedok teman sejak kecil. Mereka memang sudah mulai berteman baik, tetapi hawa permusuhan masih terasa kuat. Friend or Foe? Ah, sungguh kenyataan aneh!

 

-0o0-

(End)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake:

"Sopan, bagaimana kamu bisa berteman dengan Frosty?"

Karena suasana mereka yang jadi lebih akrab, entah mengapa Gentar ingin bertanya hal yang sudah lama ada di pikirannya. FrostFire seperti orang asing yang tiba-tiba muncul di antara mereka, namun hal itu tidak menyebalkan, justru orangnya sangat menyenangkan dan baik.

Walaupun FrostFire bilang dia dan Sopan saling kenal lewat klub silat, Gentar masih ingin tahu jawaban dari Sopan. Dilihatnya sang kawan masa kecilnya itu tersenyum, memandang lurus ke depan. "Gentar, bulan puasa nggak boleh bergunjing."

"Arg! Ini bukan bergunjing, orangnya ada di sini!" Dengan jengkel, Gentar menunjuk FrostFire yang tertidur pulas di matras sampingnya dekat tembok. Benar, mereka bertiga menginap bersama di atas loteng rumahnya. Ide dadakan dari Sopan yang disetujui Gentar dan FrostFire. "Lagipula bergunjing itu, kan, membicarakan keburukan orang lain!"

"Sesungguhnya Hamba dan Frost juga sempat agak berseteru seperti hamba dan kamu." Jawab Sopan seraya meringis, walau dia yakin ekspresinya tidak akan terlihat Gentar karena lampu sudah dimatikan. "Dan itu terjadi di bulan puasa tahun lalu."

"Pasti dia melihat sifat licikmu seperti waktu kanak-kanak aku yang melihatmu!" Ucap Gentar. Yang buru-buru dilanjutnya, "Bercanda, aku sudah melupakannya. Itu cuma masa lalu. Jadi bagaimana ceritanya?"

Diceritakannya kisah itu dengan tenang. Bahwa Sopan yang baru masuk ke klub itu tahun lalu, sempat cukup mengagumi FrostFire yang berjuang keras dalam silatnya, membawa prestasi bagus untuk klub itu. Semua orang juga menyukai wajah tampannya. Sopan jadi melirik ke dirinya sendiri, menganggap dirinya cukup tampan dan kalau berjuang keras, dia pasti bisa sehebat dan seterkenal FrostFire.

"EWW!" Gentar mencebik di bagian cerita Sopan yang agak narsis, menganggap dirinya tampan memesona. Alhasil ceritanya sedikit terpotong, dengan Sopan dan Gentar yang saling memukul dan menghindar serangan satu sama lain sampai keduanya lelah sendiri. Barulah Sopan melanjutkan ceritanya.

Suatu hari, FrostFire yang sedang dalam emosi buruk di saat latihan silat, menghajar beberapa anak terlalu kuat bahkan ada anak baru yang sampai pingsan. Tentu saja FrostFire tidak berniat seperti itu, ia panik dan buru-buru mengobatinya. Tetapi Sopan tidak menyukai tindakannya, dan untuk pertama kalinya, dia marah pada FrostFire dan mengajaknya berduel. Melupakan fakta bahwa mereka sedang berpuasa.

"Wah, seru sekali kalian ribut dengan cara duel!" Gentar menatapnya dengan raut bersinar-sinar dan sebagai balasan, Sopan sudah menjitaknya pelan. Tidak sudi dirinya diserang berkali-kali, Gentar balas memukul kepalanya, namun dihindar dengan cepat.

Sopan membuang napas kasar, sedikit jengkel dibuatnya karena ceritanya terpotong terus. "Di saat kami berduel, kemampuan hamba sudah mulai mengimbangi Frost. Itu karena hamba suka memerhatikan Frost selama latihan. Hal itu malah semakin menyulut emosi Frost. Kami berduel dari siang tanpa mau mengalah, jeda sebentar untuk salat, dan baru berhenti ketika buka puasa tiba."

"Sebentar, jadi kenapa suasana hati Frost sedang buruk?" Gentar sudah tidak sabar, kembali memotong ceritanya. Sopan tersenyum, kali ini ia mencoba bersabar.

"Dia nggak sempat sahur." Jawab Sopan enteng, yang semakin mengejutkan Gentar, melotot heran. Diliriknya FrostFire yang sedang tertidur pulas. Gentar jadi enggan menyulut emosi FrostFire di bulan Ramadan, kalau-kalau saja anaknya sedang tidak sahur. "Pelajaran hidupnya, umat muslim harus bangun untuk sahur agar bisa berpuasa dengan baik dan lancar."

Mendengar cerita Sopan yang langsung tuntas begitu saja, Gentar tidak terima. Dia meminta Sopan melanjutkan ceritanya, tetapi sang kawan sudah tidak peduli, berkata mereka harus segera tidur agar bisa bangun sahur.

Yang tidak diketahui Gentar, Sopan dan FrostFire saling bercakap-cakap dengan damai setelah duel. Tentang pengakuan bahwa Sopan agak mengagumi FrostFire. Tentang FrostFire yang agak geli dengan sikap Sopan padanya, menurutnya lebih baik mereka berteman saja. Dan setelah itu, keduanya jadi lebih berteman akrab, terlebih mereka satu sekolah.

Sepertinya dalam hidup Sopan, teman dekatnya memang harus bermula dari perseteruan, tetapi pada akhirnya berujung saling menjaga tali persaudaraan. Dia hampir lupa bahwa antar sesama saudara muslim tidak boleh benar-benar bermusuhan. Biarpun mereka bertengkar, mereka adalah teman baik!

 

-0o0-

Notes:

Tulisan ini jadinya berujung "feat. FrostFire", tapi aku harap dinamika mereka berdua (Gentar-Sopan) masih terasa menonjol.

Oh ya, di sini mostly headcanon pribadiku, ya! Jadi belum tentu mereka canon seperti ini. Terima kasih buat yang baca sampai akhir!