Chapter Text
Ironic how "sayang" means both love and waste.
***
“Ayo pulang,” tangannya menyambut tanganku. Membawa ragaku yang dingin bersamanya. Ia menyampirkan jaket hitamnya pada pundakku, memastikan bahwa itu cukup membuatku hangat. Lalu ia berjalan di sampingku, jemarinya menaut punyaku, “Hati-hati jalannya licin. Gandeng terus ya.”
Senyumnya tampan, tampan sekali. Senyumnya indah, cahaya terang di tengah mendungnya langit kota. Tatapan matanya yang teduh juga membuatku lupa dengan dinginnya udara hari itu. Dua manik hitam itu, memberi kehangatan lebih dari jaketnya yang tersampir. Lebih dari genggaman tangannya. Dua manik hitam itu, yang akan selalu menyambutku pulang.
“Lo kenapa gak langsung pulang tadi bareng yang lain? Kan jadi kehujanan, Gyu.”
“Gue gak bisa ninggalin lo.”
“Kan tadi gue udah bilang, duluan aja. Biar gue yang ngurus.”
“Tapi kan tanggung jawab gue juga, Tae. Gue gak apa kok. Kena hujan sedikit aja.”
“Mana ada sedikit?” Tangannya yang kosong meraih dan mengusak rambut basahku, “Kuyup begini. Ini kalo lo sakit gimana?”
“Kenapa? Kan ada lo.”
“Bodo.”
Aku tertawa. Terlampau gemas melihatnya. Memang sudah sifatnya seperti ini, pura-pura tidak peduli. Nyatanya? Tangan yang tadinya menaut jemariku, pindah untuk merangkul pundakku. Selalu begitu.
Kang Taehyun, yang selalu tahu harus melakukan apa tanpa kata terucap. Kang Taehyun, yang selalu memahami tanpa menunjukkan. Kang Taehyun, yang terlalu lembut di balik perangainya yang dingin. Kang Taehyun, yang selalu hadir dalam hari-hariku.
“Tadi kata dia apa, Tae? Lo diapain aja?”
“Yah, diomelin. Biasa lah. Tau kan lu guru-guru gimana.”
“Iya sih,” aku meraih tangannya yang ada di pundakku, menggenggamnya. Kebiasaan.
“Toh gue yang ngilangin propertinya, Gyu. Gapapa lah diomelin, wajar.”
“Tapi kan ketua pelaksananya gue. Harusnya gue ikut sama lo.”
“Gapapa udah,” ia berhenti sejenak, mengarahkan pandangannya kepadaku. Menatapku dengan hangat, “Gausah terlalu khawatir. Gue gapapa.”
Ia tersenyum lagi. Aku suka.
Sisa perjalanan ke halte diselimuti keheningan. Tidak, bukan keheningan yang canggung. Kami memang begini. Cara kami untuk berinteraksi tidak perlu diisi dengan kata dan dialog yang panjang. Cukup dengan kehadiran masing-masing.
Tahu dia ada di sampingku, itu sudah cukup.
***
Bus yang kami tumpangi tidak ramai, kami bisa duduk bersebelahan. Mungkin karena sudah terlalu sore, langit sudah mulai mengubah terangnya menjadi redup. Biasanya salah satu dari kami harus berdiri, atau malah tidak ada yang duduk sama sekali. Tetapi kali ini aku bisa menyenderkan kepalaku di pundaknya. Menghalau dinginnya bus.
“Jangan tidur,” ia menggoyangkan pundaknya sedikit, “Nanti kebablasan.”
“Iya enggak kok.”
Itu saja percakapan yang aku ingat saat itu. Sisanya diambil alih sang hening. Yang terdengar hanya gerung pendingin, suara operator bus, dan deru napasnya yang teratur.
Jarang kami bisa begini. Bersikap seakan dunia hanya milik kami berdua.
Aku bersyukur. Bersyukur dengan hal-hal kecil yang terjadi di antara kami. Seperti saat aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku, atau obrolan kecil yang memang perlu diutarakan agar hening tidak terlalu betah berada di antara kami.
Karena hanya inilah yang bisa kupegang, agar bertahan tidak menjadi sesuatu yang terlalu sulit untuk dilakukan. Hanya dengan mengingat butiran-butiran itu, agar aku tetap disini.
Semesta merestui kami, hari ini. Tidak tahu besok.
***
“Beomgyu, gue turun abis ini.”
“Iya tau,” aku mengangkat kepalaku. Tidak lagi bersandar, takut sulit untuk melepasnya saat sudah mendekati halte tujuannya.
“Nanti pas udah sampe rumah langsung mandi pake air hangat, biar gak masuk angin ya?” Ia melihatku.
“Iya, Taehyun.”
Ia mengangguk, netranya tidak berhenti menatap netraku. Seakan ingin berucap sesuatu. Sesuatu yang belum pernah ia sampaikan sebelumnya.
Namun suara operator membuyarkan semuanya. Menandakan halte yang sudah di hadapan. Sekarang bus sedang mengantre untuk berhenti. Sudah saatnya ya? Tampaknya ia juga mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Ia beranjak dari tempat duduknya, bersiap untuk turun, “Gue duluan ya?”
“Hati-hati, Tae.”
“Lo yang hati-hati,” ia melepas tangannya yang masih bertaut denganku, “Sampai besok, Beomgyu.”
Aku mengangguk. Lalu ia mulai berjalan keluar, tidak melihat ke belakang.
Pintu bus tertutup, dan mulai jalan kembali. Aku menengok keluar jendela, masih ingin melihatnya. Taehyun berdiri di luar halte, menunggu sampai bus yang kami tumpangi sudah jauh.
Ia masih begitu rupanya. Belum berubah, belum.
Hariku pun berakhir seperti ini. Digerayangi rasa yang campur aduk, dan dihantui sejuta rasa ingin tahu. Apa yang ingin ia katakan tadi?
Aku tidak pernah mendapatkan jawabannya.
