Actions

Work Header

Office Tango the Series — To Be or Not to Be: That Is the Question

Summary:

Just Jeonghan, experiencing a lot of things inside his head and some fortunate accidents.

Work Text:

Jun melihat sekeliling Kota Tua yang tengah terik, sambil mengipasi wajahnya dan juga meminum es tehnya, pria manis itu mengomel pelan kepada Jeonghan yang sedang memperhatikan layar laptop di hadapannya, “Kota Tua nih panasnya keknya bisa kita pake ceplok telur di aspal deh.”

“Hmm..iya…” Jeonghan hanya mengiyakan tapi fokusnya masih di layar laptop.

Jun mendengus pelan. Pria itu kemudian ikut memperhatikan frame yang terlihat di layar laptop mereka, yang tengah menampilkan preview hasil shooting hari ini. Sesungguhnya Jun sudah merasakan kalau Jeonghan sedang agak aneh. Tidak biasanya anak itu jadi lebih pendiam hari ini, hanya memberikan komentar seadanya dan sesekali tampak melamun. Sepertinya sahabatnya itu tengah bingung dengan sesuatu dan Jun hampir yakin kebingungan sahabatnya itu kemungkinan besar disebabkan oleh hubungannya dengan Seungcheol, si mas welldone-nya itu.

Jun sudah sangat paham bagaimana otak Jeonghan bekerja. Selama bersahabat belasan tahun, bisa dibilang Jun dan teman-temannya itu sudah melihat semua hal yang terjadi pada Jeonghan dalam kurun waktu tersebut. All of the up and down, they were there, witnessing the event unfold. Jun bahkan berani taruhan untuk tidak makan hotpot seminggu ke depan kalau semisal penyebab galau sahabatnya itu bukan karena mas welldone-nya itu. Sambil menggelengkan kepala, Jun lanjut kembali meminum es teh nya, dan memperhatikan shooting yang tengah berjalan saat ini.

Suara clapper menghentikan sejenak aktifitas shooting hari ini dikarenakan tim produksi ingin me-review beberapa hal. Dengan sigap Jun dan Jeonghan langsung menuliskan feedback dari sisi mereka ke dalam deck yang sudah disiapkan. Beberapa scene perlu diberlakukan retake dikarenakan pencahayaan yang terlalu frontal dan transisi yang kurang smooth. Setelah selesai memberi feedback, kedua pria itu kini berjalan menuju tukang gorengan dan minuman dingin yang berada tak jauh dari lokasi pengambilan gambar. Jeonghan mencomot mendoan hangat dan cabai rawit lalu mengunyah pelan.

Jun hanya menggelengkan kepala pelan melihat Jeonghan yang masih bengong. Dicomotnya juga sebuah bala-bala hangat dan cabai rawit hijau kesukannya itu, lalu pria jangkung itu kemudian membuka percakapan yang sejak tadi sudah ditahan-tahan olehnya.

“Jadi, ada masalah apa sekarang?” tanya Jun sambil mengunyah gorengannya.

Jeonghan menggeleng dan sebuah jitakan mendarat di kepalanya hingga membuat si manis itu cemberut.

“Ishh, kenapa gua dijitak sih, Junpiii!” rengut Jeonghan.

“Ngomong gak lu? Apa perlu gua panggil Joshy kesini buat introgasi?” ancam Jun sambil menggoyangkan ponselnya yang sudah menampilkan nama Joshua di layar ponselnya dan bibir Jeonghan langsung kembali merengut.

“Iya-iya, gua cerita.” balas Jeonghan sambil mendumel, “Gua lagi kepikiran soal hubungan gua sama mas Cheol. Kayak okelah ini baru semingguan gitu kan, cuma gua kayak ngerasa berat di sebelah gitu.”

“Berat di sebelah gimana?” tanya Jun heran.

“Lu tau kan dari awal tu mas Cheol yang bener-bener ngejer gua? Kayak he did a lot of things for me dan gak cuma sekedar hal-hal cheesy kayak sekedari kasi bunga gitu-gitu deh. Segala sampai waktu gua rawat inap pun dia yang ngurusin. Gua tu kayak ngerasa effort yang dia kasih itu jauhhhhh lebi banyak daripada yang bisa gua kasih ke dia.” desah Jeonghan pelan.

“Lu mikir kalo lu ngga cocok sama mas Cheol? That he is way out of your league?” balas Jun yang langsung diberikan anggukan kepala oleh Jeonghan.

“That one. Sama gua ngerasa kayak kurang pantes aja sama mas Cheol. Gua ya cuma gini-gini aja. Budak korporat masih banyak cicilan ina-itu. Gaji gua aja paling cuma bisa buat beli 1 kemejanya doi. Lah doi? Dari jauh gua udah bisa nyium bau dollar, udah gak rupiah lagi.”

“Gue sebenernya mau ketawa gegara perumpamaan lu tapi ngerti sih kenapa lu kayak gitu. Mas lu ini sejenis lah ya sama si Igu ama Joshy. Cuma kan lu tau, kadang gak semua orang cuma mikirin materi dan laen-laen Han. Contoh itu si Joshy sama Igu. Pernah gak dia ngeliat kita dari segi ekonomi? Nggak kan? Mungkin, mas lu itu bisa jadi tipe yang sama kayak Joshy sama Igu. Lu jangan deh dibiasain jumping into conclusionnya gini. Obrolin baik-baik dulu sama mas lu, jangan overthinking dulu.”

Jeonghan kembali mendesah pelan. Dia tahu bahwa semua yang ada di pikirannya saat ini adalah hasil dari overthinking yang ia lakukan. Banyak hal yang harus dibicarakan dengan Seungcheol, tapi Jeonghan belum siap. Jun menatap sahabatnya itu dan menepuk pundak Jeonghan pelan. Sesungguhnya ada satu hal lagi yang ingin dia katakan, tapi hal itu pasti akan membuat Jeonghan jadi lebih overthinking. Ada baiknya kalau Jun tidak menyampaikan salah satu hasil pengamatannya itu saat ini. Lebih baik menunggu sahabatnya sudah agak lebih mendingan baru dia akan mencoba menggali lebih lanjut. Setelah membayar gorengan, kedua pria itu kemudia berjalan balik menuju lokasi shooting.

Tiba-tiba saat mereka tengah berbincang, terdengar teriakan cukup kencang dari seorang ibu-ibu yang berusaha menarik tasnya dari copet yang berusaha merebut tas sang ibu tersebut.

“Tolonggg!! Copett!!” teriak ibu-ibu tersebut dan sang ibu terjatuh ketika pencopet menyentakkan tas yang masih berusaha ditahannya itu.

Refleks Jeonghan dan Jun langsung berlari mengejar copet yang berusaha kabur membawa tas tersebut. Jeonghan yang kebetulan memang cukup lincah dan bisa berlari cepat, langsung melakukan sprint mengejar pencopet tadi disusul Jun di belakangnya. Jeonghan terus berlari dan berhasil mengejar copet tersebut, lalu menggapai tas yang dibekap oleh si pencopet. Keduanya tampak saling berebut tas dan pencopet itu berusaha kabur dengan menaiki sepeda motornya.

Tentu saja Jeonghan tidak tinggal diam, dipeluknya tas tersebut hingga ia terjatuh dan terseret dikarenakan pencopet itu berusaha merebut tas yang ada di pelukan Jeonghan. Jeonghan meringis perih ketika merasakan kulitnya tergores aspal, tapi dia tidak peduli. Di otaknya sekarang adalah dia harus merebut tas itu tak peduli mau terseret seberapa jauh.

Sebuah tendangan melayang ke arah copet tadi. Tentu saja Jun yang melayangkan tendangan tersebut ke arah pencopet tadi yang menyebabkan si pencopet oleng, lalu terjatuh di sebelah Jeonghan. Dengan cepat Jun dan juga beberapa orang-orang di sekitar lokasi langsung meringkus pencopet tadi, dan membawanya ke pos polisi terdekat.

Setelah selesai mengurus pencopet tadi, Jun menghampiri Jeonghan dan membantu sahabatnya itu untuk berdiri, sambil membersihkan pakaian Jeonghan yang kotor akan debu. Ringisan menghiasi bibir Jeonghan ketika ia merasakan rasa sakit berdenyut di sikut dan lututnya yang tampak berdarah dikarenakan bergesekan dengan aspal. Pria manis itu berusaha menahan sakit, dan menepuk pundak Jun, memberikan tas yang ada di pelukannya kepada pria di hadapannya itu.

“Temenin ngasih tasnya ini ke tantenya tadi Jun.” kata Jeonghan.

Jun mengangguk dan membantu temannya itu berjalan. Karena lukanya di lutut, Jeonghan berjalan sedikit pincang, menghampiri ibu-ibu tadi untuk menyerahkan tasnya tadi. Sang ibu yang melihat kondisi Jeonghan yang berantakan kaget, lalu bergegas menghampiri Jeonghan.

“Maaf tante, ini tasnya udah berhasil saya rebut, cuma kayaknya banyak kegores soalnya tadi rebutan sama jambretnya.” Jeonghan tersenyum sambil menyerahkan tas berwarna merah itu kepada ibu-ibu di hadapannya itu.

Sang ibu tersenyum dan mengelus pipi Jeonghan, membersihkan debu dan melihat sedikit lecet juga di wajah Jeonghan. Ditepuknya pundak Jeonghan lalu berkata,

“Aduh nak, tante malah jadi bikin kamu luka-luka kayak gini karena tante ceroboh. Sebagai bentuk tanggung jawab tante, boleh kan tante bawa kamu ke rumah sakit? Biar lukanya dibersihin sama diobatin, sekalian dapet obat juga. Luka kayak gini biasanya malemnya nanti kamu demam nak.” ucap si ibu.

Jeonghan tersenyum dan menggeleng pelan, “Nggak usah tante. Saya memang bantuin tante ikhlas kok. Ini nanti temen saya yang anter saya ke klinik, Tante nggak usah repot-repot ya.” balas Jeonghan.

“No..no..no, nggak bisa begitu. Kamu udah luka-luka karena tante, jadi tante harus tanggung jawab. Tante ngga nerima penolakan ya, nak..”

“Jeonghan Tante, nama temen saya Jeonghan.” balas Jun.

Sang ibu mengangguk lalu menggenggam tangan Jeonghan dan berkata, “Boleh ya nak? Tante cuma mau make sure bisa balas budi ke orang yang udah tolongin Tante.”

Jeonghan hanya bisa tersenyum pasrah. Dia sangat yakin bahwa ibu di hadapannya itu pasti tidak akan menerima penolakan, jadi akhirnya Jeonghan pun mengiyakan permintaan sang ibu untuk membawanya ke rumah sakit.

Jun mengantar Jeonghan ke mobil si ibu dan refleks menyenggol pinggang Jeonghan. Keduanya kaget ketika melihat mobil yang menghampiri mereka. Rupanya ibu-ibu yang mereka tolong itu bisa dibilang sangat berada, berbeda sekali dengan penampilannya yang sangatlah santai seperti mau ke pasar. Sebuah Maybach keluaran terbaru menghampiri mereka di dekat Stasiun Kota. Sang ibu tersenyum dan menggandeng Jeonghan menghampiri mobilnya.

“Yuk nak Jeonghan. Nak Jun ikut juga ya, buat temenin nak Jeonghan?”

“Nggak usah Tante, saya stay di sini saja, kebetulan kami sedang ada shooting untuk kerjaan kantor. Nanti selesai shooting saya samperin Haninya ke rumah sakit.” balas Jun.

Sang ibu mengangguk, lalu mempersilakan Jeonghan masuk ke dalam mobilnya. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil dan berpamitan kepada Jun, mobil tersebut meluncur menuju rumah sakit yang cukup terkenal di bilangan Gatot Subroto. Jeonghan dan juga sang ibu langsung berjalan menuju emergency room. Tampak dua suster menghampiri mereka dan Jeonghan refleks keheranan, sepertinya ibu-ibu di hadapannya ini cukup akrab dengan suster di rumah sakit ini.

“Halo tante Choi, ada perlu apa nih di ER?” tanya seorang suster.

Sang ibu, yang ternyata bernama bu Choi, tersenyum, lalu membalas sapaan para suster tersebut, “Halo Verisha. Tante ada perlu nih, tadi tante nyaris kecopetan waktu di Kota Tua, trus nak Jeonghan bantuin tante ngejar pencopetnya sampai luka-luka. Boleh dibantu buat di cek?” tanya bu Choi.

Suster tadi, yang bernama Verisha mengangguk dan mengajak Jeonghan masuk ke dalam emergency room. Jeonghan kemudian disuruh duduk di atas ranjang sambil menunggu para suster tersebut kembali membawa alkohol, kapas, dan juga betadine untuk luka-luka Jeonghan. Jeonghan agak merasa bersyukur hari ini dia memakai celana dan baju lengan pendek, sehingga setidaknya dia tidak perlu mengganti pakaiannya. Sambil sesekali meringis ketika kapas steril beralkohol itu mulai menyentuh lukanya tadi.

Sambil menunggu Jeonghan mendapatkan perawatan, bu Choi tampak terlihat mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Tak berapa lama setelah selesai menelepon, bu Choi pun menghampiri Jeonghan yang saat ini meringis ketika kasa obat ditempelkan ke lukanya di siku.

“Nak Jeonghan, nanti habis ini biarin di cek dokter juga ya. Tante tadi ada call sama menantu tante di sini, dia bilang nanti akan ada rekan kerjanya yang akan cek nak Jeonghan. Sementara kamu habis ini tiduran sebentar di ER dulu ngga apa-apa kan?” tanya bu Choi.

“Wah Tante, nggak usah repot-repot. Saya bisa kok nanti ke dokter langganan saya, jadi nggak enak malah ngerepotin Tante terus daritadi.” Balas Jeonghan.

“Nggak ada Tante ngerasa repot sedikitpun. Justru Tante sangat berterimakasih sama kamu, sampai bonyok gitu bantuin Tante tadi. So, nak Jeonghan biarin Tante ensure kamu dirawat semaksimal mungkin ya?” ucap bu Choi sambil mengelus pelan rambut Jeonghan.

Jeonghan hanya bisa tersenyum dan menuruti permintaan bu Choi. Di satu sisi sepertinya dia memang juga perlu memejamkan matanya sejenak. Rasanya badannya sangat lemas setelah adrenalinnya dipacu gila-gilaan siang ini. Setelah semua suster selesai memberikan tindakan, Jeonghan pun merebahkan dirinya di atas ranjang IGD. Dalam waktu singkat, pria manis itu pun terlelap dengan nyenyak. Tak berapa lama setelah Jeonghan terlelap, muncul seorang pria yang tergopoh-gopoh mengampiri bu Choi, dan ketika melihat sosok wanita tersebut, pria itu langsung memeluk wanita di hadapannya itu.

“Mam, Mami gapapa?” tanya pria itu sambil memeriksa tubuh bu Choi.

“Iya, Mami ngga papa Cheol. Kamu langsung kesini tadi dari kantor?” tanya sang Mami, yang ternyata adalah Mami dari Seungcheol.

“Yes. Kebetulan meeting udah beres jadinya Cheol langsung nyusul. Mami gimana cerita sih bisa ampe nyaris kecopetan tadi?”

“Ya Mami jalan-jalan aja tadi, cuma nggak ditemenin pak Prapto. Mami udah pake daster biasa aja ama tas biasa, cuma kayaknya apes aja tadi ketemu copet. Untung aja Mami ditolongin ama orang tadi. Satunya sampai gulung-gulung di lantai rebutan tas Mami ampe copetnya trus luka-luka.”

“Ya astaga mam, besok-besok kalau emang mau jalan-jalan pak Praptonya diajakin mam, jangan sendirian. Untung aja ada yang nolongin Mami.” Seungcheol menghela nafas sambil memeluk Maminya lagi.

Mami Choi pun terkekeh dan mencium lembut pipi putranya itu, “Udah, kamu gak usah khawatir. Mami aman sentosa. Kamu musti bilang terimakasih tuh ama yang tadi nolongin Mami. Anaknya masih muda, sopan sama baikkk banget. Trus games gitu, Mami suka deh ama anaknya.”

“He? Tumbenan Mami bisa langsung suka gitu? Sekarang di mana Mi yang tadi bantuin Mami? Aku mau bilang makasih juga ke dia karena udah nolongin Mami.”

“Lagi tidur tadi, kasihan kayak capek banget gitu. Tadi Mami tinggal bentar buat ngobrol sama dokter jaga, anaknya udah tewas di kasur. Sambil nunggu, makan siang dulu yuk sama mas Kyungho. Katanya dia lagi praktek di sini.” tambah Mami Choi.

Seungcheol menangguk lalu menggandeng tangan Maminya berjalan menuju ruang praktek kakak iparnya. Sesampainya di sana, mereka bertiga mengobrol hingga tak terasa hampir satu jam lamanya dan Kyungho harus mulai menerima pasien lagi. Seungcheol dan sang Mami kemudian berjalan menuju ruang ER, dan Seungcheol langsung terkejut ketika melihat sosok Jeonghan yang baru saja terbangun dan mengucek matanya.

“Hani??” ucap Seungcheol kaget dan Mami Choi pun menoleh menatap putranya, tak kalah kaget.

“Eh.. mas Cheol??” tanya Jeonghan refleks menegakkan tubuhnya.

Dengan segera Seungcheol mengampiri Jeonghan, diperiksanya tubuh pacarnya itu pelan-pelan dan pria itu cukup puas melihat treatment yang diberikan oleh suster kepada pacarnya itu tampak sempurna. Mami Choi yang terheran-heran berjalan menghampiri kedua pria di hadapannya, lalu menepuk pundak Seungcheol perlahan.

“Cheol, kamu kenal nak Jeonghan?” tanya Mami Choi.

“Eh, iya Mi. Hani ini yang sempet aku ceritain ke Mami, yang lagi gencar aku deketin dan sekarang ini kita baru aja jadian sekitar semingguan.” kekeh Seungcheol sambil memeluk pinggang Jeonghan yang hanya bisa melongo di sebelah Seungcheol.

Mami Choi refleks terkekeh pelan. Rupanya penolongnya ini adalah pacar dari putranya yang belum pernah dikenalkan. Pantas saja Jeonghan heran melihat Seungcheol bersama dengan Maminya berjalan menghampiri Jeonghan. Mami Choi kemudian mencubit pelan pinggang Seungcheol dan menepuk kepala putranya itu pelan.

“Astaga, dunia sempit banget ya. Mami gak nyangka ternyata yang nolongin Mami malah pacarnya Seungcheol. Eh ini Mami panggil Hani aja gapapa kan?” tanya Mami Choi yang hanya dibalas dengan anggukan pelan oleh Jeonghan, yang tampak masih memproses informasi di otaknya itu.

“Oke, since Hani itu pacar kamu, kamu make sure jagain Hani sampai sembuh ya. Kemungkinan nanti malem Hani pasti demam, jadi kalau bisa kamu temenin Hani. Nak Hani, nanti malem kamu stay di rumah Tante dulu ya? Tante mau rawat kamu sampai sembuh, dan ngga nerima penolakan ya?”

Jeonghan refleks menutup mulutnya. Baru saja ia ingin melontarkan penokalan tapi dia cukup sadar sepertinya Mami Choi ini sulit untuk didebat. Pria manis itu akhirnya menuruti perintah Mami Choi dan menyandarkan tubuhnya di dada Seungcheol. Seungcheol refleks mengelus pelan kepala Jeonghan dan sesekali mengecup rambut kekasihnya itu. Tak berapa lama ketika Mami Choi mengurus administrasi dan pembayaran, tampak Jun berjalan mendekati Jeonghan yang saat itu sedang dipapah oleh Seungcheol untuk berjalan menuju ruang tunggu di depan.

“Loh mas Seungcheol?” tanya Jun keheranan, dan langsung dibalas dengan kekehan dari Seungcheol.

“Hello hello, kaget ya liat gue di sini?”

“Mas Seungcheol ditelepon Hani? Kok bisa tahu Hani di rumah sakit?”

“Kebetulan yang kalian tolongin itu nyokap gue. Tadi nyokap nelepon gue buat minta dateng ke rumah sakit, pas nyampe kaget, liat Hani yang bonyok habis nolongin nyokap.”

“Ya astagaa, sempit bener ya dunia.” kata Jun sambil menggelengkan kepala.

Jeonghan melirik kedua pria di hadapannya itu. Rasa pusing kembali muncul di kepalanya dan pria manis itu pun menowel pinggang Seungcheol lalu berkata,

“Mas, aku balik ama Junpi aja ya. Ngga enak ngerepotin mas Cheol sama maminya mas.”

“Udah kamu ngikut aku aja. Nanti kamu di rumah sendirian, let me take care of you ya sayang. Sebagai tanda terimakasih juga udah nolongin mamiku juga, dan aku juga pengen make sure kamu baik-baik aja.”

Jeonghan cemberut dan Seungcheol hanya terkekeh lalu mengecup bibir mungil di hadapannya itu. Jeonghan refleks merasakan wajahnya memanas. Pria manis itu kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Seungcheol dan membuat pria yang lebih tua itu tersenyum. Jun hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya. Ada baiknya memang sahabatnya itu malam ini diurus oleh Seungcheol. Siapa tahu Jeonghan bisa menyampaikan apapun yang saat ini tengah mengganggu pikirannya.

Tanpa Jeonghan ketahui, Jun menatap Seungcheol memberikan kode lewat tatapan mata dan bisikan supaya Seungcheol mengecek ponselnya nanti. Seungcheol mengangguk, paham akan maksud Jun. Pria itu kemudian memeluk Jeonghan dan mengecup puncak kepala kekasihnya itu. Tak berapa lama, Mami Choi selesai dengan semua administrasi dan mengajak putranya untuk berjalan menuju mobil. Seungcheol menyerahkan kunci mobilnya kepada pak Prapto, sementara dia mengambil alih mobil yang dipakai ibunya tadi.

Perjalanan menuju kediaman keluarga Choi di daerah Dharmawangsa situ berjalan cukup lancar dikarenakan belum memasuki rush hour. Sesampainya di rumah, Seungcheol keluar dan membukakan pintu untuk maminya, lalu pria itu langsung berpindah ke arah Jeonghan yang tampak agak tertatih untuk turun dari mobil. Seungcheol dapat merasakan badan Jeonghan mulai menghangat, dengan cepat pria itu langsung menggendong Jeonghan dan Jeonghan nyaris menjerit karena kaget dengan gendongan tiba-tiba Seungcheol.

“M..mas! Malu ihhh, aku masih bisa jalan…” bisik Jeonghan.

Seungcheol terkekeh dan mengecup pipi kekasihnya itu yang menjadi semakin malu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Seungcheol. Mami Choi tersenyum melihat interaksi sang putra dan kekasihnya itu. Sudah lama dia tidak melihat Seungcheol sebahagia ini, sepertinya Jeonghan memberikan warna baru di kehidupan putranya saat ini. Mami Choi kemudian menginstruksikan beberapa hal kepada asisten rumah tangga untuk menyiapkan semua keperluan Jeonghan di kamar Seungcheol.

Saat keduanya memasuki rumah Seungcheol, Jeonghan sempat mengintip dan langsung melongo. Rasanya seperti memasuki rumah Mingyu dan Joshua, cuma kediaman keluarga Choi tampak lebih tradisional dan klasik. Bangunan berbentuk joglo kontemporer itu tampak hangat. Semua pencahayaan dan aliran udara masuk dengan baik di dalam rumah itu. Jeonghan dapat mendengar suara gemericik air dari kolam ikan yang terletak tak jauh dari ruang keluarga.

Seungcheol terus berjalan hingga menaiki tangga ke lantai 2, di mana kamarnya terletak. Pria itu kemudian membuka pintu, berjalan memasuki kamarnya dan mendudukkan Jeonghan di ranjangnya. Jeonghan meringis sedikit ketika mulai merasakan ngilu di tubuhnya. Seungcheol langsung berjalan menuju lemarinya, mencari piyama yang mungkin muat di tubuh Jeonghan. Setelah menemukan setelan piyama yang ukurannya agak kecil, Seungcheol kemudian membantu Jeonghan untuk mengganti pakaiannya setelah sebelumnya Seungcheol mengusap tubuh Jeonghan dengan handuk hangat sampai bersih.

Pria itu kemudian membaringkan Jeonghan, dan menempelkan plester penurun panas di dahi kekasihnya itu, dan mengecup pipi Jeonghan lagi. Jeonghan tersenyum dan meremas tangan Seungcheol. Pria manis itu memutuskan untuk menyerah, dan akan menerima seluruh afeksi yang diberikan Seungcheol kepadanya. Ditatapnya pria yang lebih tua di hadapannya itu lalu berkata,

“Temenin aku mas…” bisik Jeonghan.

Seungcheol mengangguk, dan pria itu kemudian mengganti pakaiannya dan menyusul Jeonghan berbaring. Dipeluknya tubuh mungil kekasihnya itu dan tak lupa dielus lembut kepala Jeonghan. Tak butuh waktu lama sampai Jeonghan tertidur lagi. Hari ini benar-benar menguras energi Jeonghan habis-habisan dan pria manis itu butuh tidur extra. Setelah Jeonghan benar-benar terlelap, Seungcheol pun mengambil ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari Jun.

Pria itu membaca pesan dari Jun, ekspresi kaget menghiasi wajah tampan itu. Kurang lebih Jun memberitahukan hal apa yang tengah mengganggu Jeonghan dan juga kemungkinan-kemungkinan lain. Sebuah foto juga tampak dikirimkan oleh Jun, yang diberi caption ‘mantannya Hani’. Sepertinya selain kombinasi overthinking, Jeonghan juga memiliki luka tersendiri yang belum bisa dia sampaikan kepada Seungcheol. Setelah pria itu selesai membaca semua pesan Jun, direngkuhnya tubuh Jeonghan dan pria itu mengecup lembut bibir kekasihnya.

Jeonghan sama sekali tidak terganggu dengan ciuman Seungcheol dikarenakan saking nyenyaknya ia tertidur. Perlahan, Seungcheol bangun dan menatap wajah Jeonghan. Dielusnya pipi si manis di hadapannya itu. Seungcheol bisa melihat lecet-lecet menghiasi dagu Jeonghan dan pria itu menghela nafas pelan. Dinaikkannya bedcover untuk menyelimuti Jeonghan dan perlahan Seungcheol berjalan keluar kamarnya. Pria itu kemudian berjalan menuju dapur, dan dilihatnya sang ibu tengah memasak makan malam bersama mbak Dina, ART kepercayaan ibunya yang juga mantan pengasuh Seungcheol juga kakak-kakaknya. Mami yang melihat putranya turun, langsung memanggil Seungcheol sambil menyodorkan sendok makan kepada sang putra.

“Cheol sini deh, cobain dulu ini sayur bayemnya. Mami udah lama nggak masak jadi nggak yakin kalau enak apa nggak.” kata sang Mami.

Seungcheol tersenyum dan menyeruput kuah sayur bayam masakan ibunya. Dicecapnya cairan gurih tersebut dan pria itu langsung menyodorkan jempol tangannya.

“Enak banget mi, tumben mami masak, ada angin apa nih?” tanya Seungcheol.

Mami tersenyum dan meletakkan sendok makan tadi di dishwasher lalu berkata, “Mami happy aja hari ini, ternyata orang yang nolongin mami itu pacar kamu. Dan Mami lihat kayaknya kamu bener-bener smitten to Hani ya.” kekeh Mami.

Seungcheol tersenyum dan mengangguk, “Yeah Mi, Cheol bener-bener sayang banget sama Hani. This might sounds cheesy, tapi beneran kayak finally I found someone that I’m willing to spend the rest of my life with.”

I see. Finally ya, pencarian kamu udah selesai?” tanya Mami lagi.

“Yep, pretty sure that it’s done.”

“Tapi kayaknya kamu lagi kepikiran sesuatu ya Cheol? Mau ngobrol sama Mami?”

Seungcheol menatap maminya dan menghela nafas pelan. Pria itu beranjak sejenak menuangkan air dingin ke gelasnya lalu bersandar di countertop.

“Hani agak special case sih Mi. Sebenernya walaupun sekarang Cheol sama Hani udah jadian, sebenernya kita masih masa penjajakan. Cheol mau yakinin Hani kalau emang Cheol serius sama Hani.” ucap Seungcheol perlahan.

Mami yang seolah paham dengan arah pembicaraan putranya, tersenyum dan meremas pelan telapak tangan Seungcheol.

“Then prove it to Hani, kalau kamu emang serius sama dia. Pastiin kalian selalu komunikasi. Kunci dari sebuah hubungan yang langgeng itu komunikasi. Tapi ya jangan dipaksa. Semisal Hani belum mau cerita, kamu jangan paksa anaknya juga buat cerita. Give him some time buat settling up his heart. Kamu juga in the meantime siapin juga mental kamu. Bisa jadi hal yang dialamin Hani kamu belum pernah ngalamin sehingga mungkin nanti kamu kurang paham. Mami yakin kamu bisa kan, jadi sosok dewasa yang akan dampingin pasangan kamu tanpa maksain kehendak?”

Seungcheol mengangguk dan memeluk maminya. Pria berlesung pipi itu kemudian merangkul pundak Mami dan tersenyum lega.

“Emang paling bener tu cerita sama Mami kalau soal begini ya.” kekeh Seungcheol dan disambut dengan cubitan sayang dari Mami di pinggangnya.

“Yaudah, kamu balik lagi ke atas gih. Bawain minum sama cemilan, ini tadi mbak Dina ngambil kastengels kesukaan kamu, bawa ke atas juga ya.”

“By the way adek lagi di mana Mi? Nggak ada keliatan daritadi batang hidungnya.”

“Katanya sih lagi main sama temen-temen kampusnya, mungkin mau nginep juga. Kalau kangen ama adeknya tu ngobrol, bukannya kalo ketemu malah godain ampe ngambek adeknya.” ucap Mami sambil mencubit lagi pinggang Seungcheol yang langsung dibalas dengan kekehan.

“Yaudah deh mi, aku naik dulu ya, takutnya Hani udah bangun.”

“Iya, nanti kalau Hani udah bangun ajakin makan ya. Mami sama mbak Dina udah masak sayur bayem, bakwan jagung sama ayam goreng juga.”

Seungcheol mengangguk dan berjalan menuju kamarnya sambil membawa botol minum dan juga satu toples kastengels kesukaannya. Sesampainya di kamar, pria itu berjalan menuju nakas dan meletakkan bawaannya tadi, lalu beringsut mendekati Jeonghan yang masih terlelap. Direngkuhnya tubuh yang lebih muda ke pelukannya, dan tak lupa mengelus kepala Jeonghan pelan. Keduanya berada di posisi itu selama beberapa saat, dan sekitar sepuluh menit kemudian, Jeonghan mulai menggeliat terbangun, lalu mendusal lagi ke pelukan Seungcheol.

“Udah bangun Han? Kalau masih ngantuk tidur lagi aja.” kata Seungcheol sambil mengelus punggung Jeonghan.

“Nggak, udah segeran Mas. Pengen ke toilet deh, tapi dengkulku agak ngilu kalau ditekuk.”

“Sini sama Mas aja. Mas bantuin ya ke toiletnya.”

Seungcheol pun bergerak membantu Jeonghan berdiri, lalu berjalan menuju toilet di kamarnya. Dibantunya Jeonghan dengan cermat hingga selesai. Jeonghan tersenyum dan mengecup pipi Seungcheol, berterimakasih atas bantuan pacarnya itu.

“Makasih ya mas, udah mau repot-repot bantuin aku lagi.”

“Aku gak ngerasa repot sama sekali Han, kamu jangan mikir aneh-aneh kalau kamu udah ngerepotin aku ya. By the way udah jam segini, makan dulu yuk? Habis itu biar kamu bisa minum obat nyeri sama demamnya.”

Jeonghan mengangguk dan membiarkan Seungcheol membantunya berjalan. Sesampainya di lantai bawah, kedua pria itu berjalan menuju ruang makan, menyusul Mami yang baru saja selesai meletakkan bakwan jagung hangat di meja. Tersenyum, Mami menghampiri kedua pria tersebut dan mengelus pelan pipi Hani perlahan.

“Nak Hani makan dulu yuk, habis makan minum obatnya trus istirahat lagi. Cheol kamu bantuin Hani duduk gih, sama jangan lupa hidangin makannya buat Hani.”

“Aduh ngga usah repot-repot Tante, Hani jadi ngga enak ngerepotin terus.”

“Nggak ada kamu ngerepotin, justru Tante makasih banget karena Hani tadi bantuin tante sampai kamu luka-luka kayak gitu. Jadi, sekarang kamu biarin Tante sama Seungcheol buat manjain kamu ya? Okay?”

Jeonghan hanya tersenyum pasrah dan menuruti permintaan Mami Seungcheol. Mereka bertiga kemudian makan siang bersama, sambil sesekali diselingi obrolan ringan baik mengenai Seungcheol maupun mengenai Jeonghan. Seusai makan, Seungcheol membantu Jeonghan berjalan menuju taman belakang. Keduanya duduk di gazebo yang menghadap ke arah kolam renang sambil mencemil buah potong yang sudah disediakan oleh mbak Dina.

“Obatnya minum dulu Han.” kata Seungcheol sambil menyodorkan beberapa pil kepada Jeonghan dan langsung ditenggak semuanya oleh si manis itu.

Pria itu kemudian memeluk pundak Jeonghan, dan menyandarkan kepala si manis di dadanya sambil sesekali mengelusnya. Jeonghan kembali menghela nafas, pria itu kepikiran dengan saran Jun tadi untuk berdiskusi dengan Seungcheol. Ditegakkannya tubuhnya, lalu ia pun menggeser tubuhnya hingga berhadapan dengan Seungcheol.

“Mas, aku boleh diskusi sesuatu nggak?” tanya Jeonghan.

Seungcheol seolah paham pacarnya itu ingin berdiskusi apa. Pria itu mengangguk dan menggenggam tangan Jeonghan yang rasanya menjadi lebih dingin. Pria manis di hadapannya itu kemudian menghela nafas perlahan, dan mulai menyampaikan hal-hal yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini.

“Mas, aku pengen jujur sama Mas Cheol. Kita udah jalan sekitar semingguan, dan selama seminggu ini jujur aku happy banget Mas Cheol sayang banget sama aku. Cuma aku ngerasa bahwa rasa sayang ini sangat nggak imbang. Mas Cheol jor-joran sayangnya ke aku, sementara aku kayak gitu-gitu aja. Aku kayak bener-bener di pihak pasifnya sementara kamu, you’re showering me with all those affection and love. It feels like i’m giving half assed effort while kamu totalitas kayak gitu ke aku. Aku ngerasa ga enak ke kamu mas… kesannya kayak aku manfaatin perasaan kamu ke aku selama ini.”

Seungcheol mendengarkan dengan serius setiap kata yang diucapkan Jeonghan. Matanya memperhatikan ekspresi dan nada suara pasangannya dengan penuh perhatian. Setelah Jeonghan selesai berbicara, Seungcheol memegang kedua tangan Jeonghan dengan lembut, lalu berkata,

“Han, makasih banget udah berani jujur sama perasaan kamu. Mas bener-bener menghargai hal itu. Cuma satu hal yang perlu kamu tahu, Mas sayang sama kamu dan nggak harapin kamu ngebalikin 100% yang udah mas kasih ke kamu. Mas sayang ke kamu ya karena this is you, Jeonghan. Jeonghan yang suka haha hehe, Jeonghan yang tengil, dan juga Jeonghan yang mungkin punya luka hati juga.”

Seungcheol berhenti sejenak, mencoba merangkai kata-kata dengan hati-hati. “Mas nggak pernah ngerasa kalau kamu nggak ngasih usaha lebih dalam hubungan ini. Mungkin kamu ngelihatnya ini tuh hal sepele, tapi buat Mas, setiap momen yang kita lewatin itu memorable semua Han. Kamu nggak usahlah maksain diri untuk nyamainlevel sayang yang mas kasih, karena yang namanya sayang itu bukan tentang seberapa banyak kita ngasih, tapi lenih ke gimana kita bisa setia dan jujur di dalamnya.”

Seungcheol menghapus air mata yang menetes dari mata Jeonghan dengan lembut. “Mas ngerti, kamu punya ketakutan kamu sendiri, dan Mas janji, Mas bakalan selalu di sini buat kamu. Kalau ada yang ganggu pikiran kamu, ayo kita ngobrol bareng, coba kita cari solusi bareng-bareng ya. Nggak usah ngerasa bersalah karena yang namanya hubungan itu kita ya harus saling support.”

Jeonghan merasa hangat di dalam pelukan Seungcheol. Dia merasa lega mendengar kata-kata yang mengalir dari mulutnya. Dan di saat itu juga, dia menyadari betapa beruntungnya dia memiliki seseorang seperti Seungcheol di sisinya. Mereka mungkin memiliki perbedaan dalam cara mereka menyatakan rasa sayang mereka, tapi setidaknya sekarang Jeonghan jadi jauh lebih yakin bahwa setidaknya Seungcheol serius dengan perasaannya kepada Jeonghan dan Jeonghan pun sudah lelah terlalu sering berlari. Dikecupnya bibir kesukaannya itu dan Jeonghan pun memeluk Seungcheol dengan erat.

“Mas, satu hal lagi. Aku kemungkinan minggu ini bakalan appointment lagi ke psikolog. Namanya mbak Joyce. Mas gapapa kan punya pasangan yang masih butuh dampingan psikolog kaya aku?”

“Lha ya gapapa lah. Tandanya kamu care ama mental health kamu and it is good. Mas juga seenggaknya enam bulan sekali juga ketemu psikolog juga. Kadang kita nggak sadar kalau ada sesuatu yang terjadi sama kita sampai akhirnya kita ketemu ama yang professional di bidangnya. Jadi ya menurut Mas, nggak masalah kamu ketemu psikolog. Kasitau aja schedule kamu kontrol kapan, nanti Mas anterin.”

Jeonghan merasa lega mendengar dukungan dan pengertian Seungcheol terhadap keputusannya untuk bertemu dengan psikolog. Rasanya seperti beban di pundaknya menjadi sedikit lebih ringan, karena dia tahu bahwa Seungcheol ada di sampingnya, mendukungnya dalam setiap langkahnya.

“Makasih banyak ya Mas.” ucap Jeonghan dengan senyum di wajahnya.

Seungcheol mengangguk mantap. “No problem Han. As long as this is good for you, you have my full support..”

Jeonghan tersenyum, merasa beruntung memiliki seseorang seperti Seungcheol di sisinya. Mereka saling memeluk erat, dan tidak melepaskan satu sama lain. Sementara itu, Mami yang dapat melihat keduanya dari dalam rumah tersenyum. Sepertinya Seungcheol sudah menemukan tambatan hatinya dan kedewasaan anaknya itu sudah meningkat sangat pesat setelah putus dari Wonwoo. Mami cukup kecewa dikarenakan Seungcheol mengakhiri hubungannya dengan Wonwoo, tapi mau bagaimana lagi, keduanya sudah meyakinkan Mami bahwa mereka tidak bisa berlanjut ke hubungan yang lebih serius.

Sejak dari situ, Mami rajin sekali berusaha mengenalkan putra dan putri kenalannya kepada Seungcheol tapi tidak digubris sama sekali oleh sang anak hingga Mami agak putus asa dan kerap kali mengomel ke Papi. Namun, setelah melihat bagaimana Seungcheol bersama Jeonghan, Mami mulai yakin bahwa setidaknya putranya itu sudah siap untuk mengakhiri petualangannya dan mulai serius. Tersenyum mami pun memotret Seungcheol dan Jeonghan, lalu mengirimnya ke grup keluarga sambil memberikan caption,

Calon mantu unlocked!”.

Malam itu Seungcheol dan Jeonghan berpamitan kepada Mami setelah bersikeras menolak untuk menginap karena Jeonghan masih terlalu malu untuk bertemu dengan Papi. Sesampainya di apartemen Seungcheol, Jeonghan langsung menempel ke sofa dan rebahan. Seungcheol terkekeh melihat pacarnya yang langsung tepar itu. Diambilnya sebotol beer dingin dan satu teh kotak untuk Jeonghan.

“Minum dulu, tapi teh kotak aja. Kamu lagi minum obat jadi jangan minum alkohol dulu.”

“Iyaa, makasi Maskuuu.”

Seungcheol tertawa dan mengacak kepala Jeonghan. Pacar manisnya itu benar-benar membuatnya sangat gemas. Ditariknya Jeonghan hingga kini si manis itu duduk di pangkuannya, lalu dikecupnya bibir mungil favoritenya itu.

“Kamu kalo lucu-lucu gini kumakan nih lama-lama.” kata Seungcheol sambil menggigit pelan pipi Jeonghan dan dibalas dengan kekehan Jeonghan.

“Hehehe, jangan dong. Ntar kamu dicubit ama Mamiku kalo anak cowoknya dihap sama orang.”

“Lah gimana dong, ini anaknya udah sering kumakan? Musti nyamperin Mami kamu buat minta maaf dong?”

“Hehehehe, kapan-kapan ya Mas, nunggu Mami ke Jakarta gapapa kan?”

“Mas nggak mau maksa kamu kenalin mas ke Mami kamu, Han. Sesiapnya kamu aja.”

Jeonghan tiba-tiba merasa ingin menangis lagi. Kalau mau lebay, Jeonghan merasa kalau sekarang he’s getting overflown by affection sampai rasanya nggak bisa menampung lagi. Jeonghan memeluk erat Seungcheol dan langsung melumat bibir pacarnya itu hingga keduanya terengah. Seungcheol melepaskan ciuman mereka, dan menatap wajah Jeonghan yang memerah. Diusapnya bibir Jeonghan yang membengkak dikarenakan ciuman mereka tadi. Pria itu tersenyum dan memeluk pinggang si manis, dan mengecup bibir merah itu lagi.

“Pelan-pelan aja ya Han. Kita sesuaiin semua sama pace kamu. Kamu kalau emang ada yang mau diceritain, Mas bakalan siap buat dengerin dan juga nunggu kamu untuk bisa cerita. Jangan pernah maksain diri okay? Take your time. Mas gak bakalan kemana-mana juga.” ucap Seungcheol sambil tersenyum, dan kembali mengecup bibir Jeonghan.

Jeonghan dan Seungcheol berakhir dengan tertawa di atas sofa, menikmati kebersamaan mereka setelah hari yang panjang.

“Kamu tahu nggak, kamu tuh lucu banget waktu malu-malu kayaki tadi,” kata Seungcheol sambil menggoda Jeonghan.

Jeonghan hanya membalas dengan senyum malu-malu. “Please deh mas, itu aku nervous ketemu mami kamu, udah mau geter aku tadi aslinya pas tau Tante Choi itu mami kamu.”

Seungcheol terkekeh mengerti. “Ya wajar juga sih kamu kaget, gak nyangka ya kalau ternyata yang kamu tolongin itu ternyata mamiku. At least kalian berdua aman-aman aja, nggak kurang apapun ya walau kamunya juga bonyok sih tapi yaudahlah ya, untung nggak parah. Now, let’s enjoy the night, shall we?”

Tersenyum, Jeonghan pun memeluk erat Seungcheol lalu berkata, “Makasih banyak ya mas, udah selalu ada buat aku.”

Seungcheol hanya tersenyum dan membalas, “No problem Han, I’ll always be here kalau kamu perlu kamu, anytime, anywhere, whenever you need me, kamu bebas hubungin aku kapan aja.”

Kedua pasangan itu saling menatap dan tersenyum. Setidaknya setelah rollercoaster mood hari ini, Jeonghan kini bisa menjadi lebih terbuka lagi kepada Seungcheol. Dan Seungcheol pun merasa sangat berterimakasih atas pesan dari Jun yang memberinya heads up mengenai Jeonghan. After all the rollercoaster ride, a good companion and a warm hug to close the day is all what Jeonghan and Seungcheol need, and they will get that well deserved rest after this.

Series this work belongs to: