Chapter Text
Pemuda bernama lengkap Yoon Jeonghan tidak pernah menduga bahwa beralih dari akademi akting menjadi peserta pelatihan idola akan membuatnya bertemu dengan anak-anak yang sangat berbeda. Temannya di kelas akting dulu memang ada yang ambisius, tapi tidak seambisius ini. Makanya ketika dia sudah berada di Pledis, Jeonghan sedikit takut dengan persaingan yang ada. Mungkin juga karena Jeonghan termasuk anak baru, memasuki lingkungan yang sudah tertata itu cukup sulit.
Jeonghan kagum dengan teman berlatihnya. Suara Seungkwan dan Seokmin begitu merdu sehingga Jeonghan minder dengan kemampuannya sendiri. Ada Seungcheol yang punya karisma tumpah-tumpah (kabarnya dia sudah dua kali hampir debut, mungkin itu sebabnya aura Seungcheol terasa berbeda). Ada anak-anak super tampan seperti Mingyu, Wonwoo, Hansol, dan Junhui yang membuat Jeonghan mempertanyakan parasnya sendiri. Tidak lupa ada Chan, Samuel, dan Soonyoung yang menari semudah mereka bernapas. Tentu banyak peserta latihan lain yang tak kalah berbakat, namun semuanya tidak sebanding dengan Jihoon.
Pertama kali bertemu, Jeonghan merasa sungkan pada anak dari Busan itu. Mungkin bawaan kepribadian, Jeonghan merasa sulit sekali akrab dengannya. Bahkan Seungcheol yang cuma fokus diri sendiri dan Soonyoung yang seperti iblis saat latihan saja bisa Jeonghan dekati dengan mudah. Namun tidak dengan Jihoon. Tidak. Ditinggal berdua dengan Jihoon akan membuatnya merasa sangat canggung. Tentu tidak separah Seokmin atau Chan yang sebisa mungkin melarikan diri, namun cukup membuat Jeonghan berpikir puluhan kali mengenai eksistensinya di dunia.
Jihoon sendiri anak yang baik. Dia senang bercanda, tidak segan membantu siapapun yang kesulitan, tidak mudah iri, serta sangat rendah hati. Dia selalu malu jika dipuji dan bersikap seolah dia masih kurang banyak padahal bisa dibilang dia peserta latihan nomor satu di Pledis saat ini. Berbakat, suaranya indah, parasnya gabungan sempurna dari manis, cantik, dan tampan. Jeonghan sering menahan gemas karena Jihoon seperti adik laki-laki yang masih SD jika sedang senang.
Meski demikian, apakah Jeonghan berani senda gurau hingga bertengkar dengan Jihoon? Tidak. Dia cukup mendengar apa saja yang dilakukan Jihoon jika marah, tidak perlu sampai mengalaminya sendiri. Jeonghan pikir, cukuplah ia dan Jihoon seperti ini saja. Lagian Jihoon yang tidak begitu suka kontak fisik itu mungkin tidak mau terlalu akrab dengan Jeonghan. Ada sesuatu dari cara Jihoon bersikap yang membuatnya seperti menjaga diri. Dipikir-pikir meskipun mereka semua tinggal seatap dan selalu bersama 24/7, bahkan sampai berbagi sempak, Jeonghan tidak menemukan seseorang yang sungguh akrab dengan Jihoon kecuali Seungcheol dan Soonyoung.
Berdasarkan cerita yang selama ini dia dengar, Seungcheol dan Jihoon sudah hampir debut dulu. Setelah debut gagal, mereka sempat berlatih terpisah karena Jihoon mulai memimpin Tim Seventeen, sementara Seungcheol masih berlatih dengan fokus persiapan debut. Setelah Seungcheol bergabung dengan mereka, Jihoon seperti punya teman untuk berbagi beban karena kini Seungcheol-lah yang bertindak sebagai pemimpin mereka. Jihoon terlihat lebih santai saat latihan dan tawanya juga lebih ringan. Setelah melihat mereka bercanda, barulah Jeonghan tahu bahwa Jihoon benar-benar anak dengan hati yang baik dan hangat.
Jihoon dan Soonyoung... mereka unik. Menurut Jeonghan, ada persaingan di antara mereka yang kadang memercik jika mereka berada dalam kelompok yang berbeda untuk evaluasi bulanan. Namun jika digabungkan, rasanya hampir mustahil melihat pasangan sekompak mereka. Jeonghan salut dengan kemampuan berkomunikasi Soonyoung dan Jihoon yang tidak melibatkan urat leher (Soonyoung hampir selalu kesal saat latihan sedang Jihoon tidak pernah mempermanis komentarnya pada orang yang benar kurang). Jeonghan juga cukup heran karena Soonyoung senantiasa bercanda dan menempeli Jihoon tanpa lelah walaupun anak itu menolak. Bahkan meskipun mereka bertengkar hebat hingga saling piting leher dan mengumpat sambil jambak-jambakan, beberapa hari kemudian mereka sudah kembali berteman seperti biasa. Jeonghan tahu Soonyoung suka, tidak, memuja Jihoon. Soonyoung kagum pada Jihoon yang penuh talenta, sangat kagum hingga dia punya standar sendiri perihal kemampuan Jihoon.
Jeonghan ingat sekali, setelah mereka evaluasi bulanan yang membuatnya ingin menangis darah, Soonyoung dan Jihoon mendekam di ruang latihan yang kosong sambil saling mengevaluasi. Hampir saja mereka bermalam di sana jika Seungcheol tidak menyeret paksa mereka pulang. Kalau kata Seungkwan, mereka itu monster.
Jeonghan heran apalagi yang perlu mereka evaluasi. Dimatanya mereka terlihat sempurna, bahkan CEO yang pelit pujian saja menyanjung mereka kali ini. Beberapa hari kemudian, barulah Jeonghan tahu dari informasi yang dibawa Seungkwan dan Chan: Soonyoung bilang Jihoon tidak segesit dan sekokoh biasa. Jadilah mereka latihan ulang agar penampilan mereka berikutnya melebihi kata sempurna. Edan.
“Katanya sudut mendarat Jihoon Hyung miring 10 senti dari rencana!” Seru Seungkwan sambil menggeleng tak percaya. Hansol di sebelahnya mengangguk setuju.
“Bayangkan, Hyung. Jihoon Hyung yang sudah sebagus itu saja ternyata masih ada kurangnya. Aku tidak berani membayangkan apa jadinya kita untuk evaluasi bulan depan,” Chan menghela napas membayangkan dirinya yang sekelompok dengan dua jenius itu kali ini.
Berdasarkan pengamatan Jeonghan, Soonyoung seperti membayangi Jihoon dengan pujiannya yang tidak pernah berhenti. Jihoon selalu menghindar dan mengabaikan (oh, betapa baik anak ini) rentetan pujian yang mampir bersama pelukan itu. Sudah terpatri dalam otaknya bahwa Soonyoung melihat Jihoon dengan cara yang berbeda, jadi Jeonghan sama sekali tidak pernah menduga bahwa Jihoon juga memandang Soonyoung berbeda.
Munculnya pemikiran ini tidak tanpa alasan. Semua berawal ketika Jeonghan menyelesaikan latihan individunya sedikit lebih lambat dari biasa. Ia dan Jisoo (nama Joshua sedikit sulit ia ucapkan saat itu) mati-matian membuat gubahan lirik mereka sendiri untuk evaluasi pekan depan. Jujur, Jeonghan juga ingin masuk kelompok A walau ia sadar kemampuannya biasa-biasa saja. Sementara Jeonghan mengemas barang-barang, Jisoo sudah keluar lebih dulu. Teman senasibnya itu pasti buru-buru mencari toko kelontong agar mereka bisa makan sedikit di jalan pulang.
Setelah menutup pintu ruang kedap suara dan mematikan lampu ruang latihan, Jeonghan harusnya langsung keluar lorong dan menaiki tangga keluar. Sayang sekali, kakinya malah mengarah ke ruang latihan kecil yang lampunya tampak masih menyala. Seharusnya tidak ada lagi peserta latihan di gedung mengingat sekarang sudah hampir pukul 1 pagi, namun Jeonghan juga tidak terkejut melihat Soonyoung dan Jihoon masih di sana. Mungkin mereka tidak ingin mengganggu latihan yang lain di ruang latihan besar, jadilah mereka berlatih mandiri di sini. Jejak kerja keras mereka tampak jelas dari dinding kaca yang berembun dan lantai yang basah. Di dalam pasti panas sekali suhunya.
Sungguh, Jeonghan bermaksud baik ketika dia akan membuka pintu ruangan. Meski hanya beda setahun, Jeonghan menganggap mereka berdua seperti adik sendiri, apalagi keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di ruang bawah tanah ini alih-alih main dengan teman sekolah seperti Jeonghan dulu. Ia tidak ingin mereka terlalu memaksakan diri hingga cedera akibat ceroboh dan merusak seluruh kerja keras selama ini. Apalagi Soonyoung sepertinya sudah tidur melihat caranya menyilang dada sambil bersandar di sudut ruangan.
“Ka—“ Suara Jeonghan otomatis berhenti ketika melihat pergerakan Jihoon.
Jihoon yang saat itu berambut pirang panjang (seperti Soonyoung) melepas ikatan rambutnya. Surai sebahu itu bergerak mengikuti langkahnya menuju pengeras suara, mematikan musik dan mulai membersihkan ruangan tanpa suara. Bayangkan betapa herannya Jeonghan, seorang Lee Jihoon yang malas bersih-bersih sendiri itu mengelap semua kaca dan lantai sendirian tanpa membangunkan Soonyoung! Padahal Jihoon biasanya akan menyeret Soonyoung untuk membantu meskipun temannya itu tidak dapat tugas piket.
Seolah itu semua belum cukup, ketika selesai bersih-bersih, Jihoon menghampiri Soonyoung yang duduk bersila dan jongkok tepat di depannya. Jihoon memeluk lutut, kemudian menumpu dagu di tempurung lututnya. Ia diam memperhatikan Soonyoung yang semakin lama semakin miring (mungkin karena cermin yang disandarinya licin) posisinya. Ketika kepala Soonyoung terantuk pelan ke dinding sebelah, Jihoon tersenyum dan terkekeh! Asal kalian tahu saja, senyum ini adalah senyum paling manis dan menggemaskan yang Jeonghan lihat sejak ia kenal Jihoon.
Soonyoung tersentak dan bangun sambil gelagapan. Tawa Jihoon semakin besar dan Jeonghan berani sumpah dia mendengar kata ‘lucu’ terlontar di sela tawa itu. Usai tertawa, Jihoon menunggu Soonyoung mengumpulkan nyawa. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, Soonyoung cemberut sambil mengusap kepala Jihoon, menyelipkan rambut panjang itu ke belakang telinga. Yang paling mengejutkan? Jihoon membiarkan tindakan Soonyoung, bahkan ia mengusapkan pipi ke tangan Soonyoung sambil (masih) tersenyum menggemaskan! Padahal biasanya Jihoon akan menggampar Soonyoung sambil mengomel kesal. Hah!
Kemudian, dengan gerakan kepala sedikit saja dari Jihoon, Soonyoung mengangguk dan langsung berdiri. Mereka kemudian mematikan lampu ruangan dan keluar tanpa suara. Hingga mereka hilang dari bidang pandang Jeonghan yang entah mengapa bersembunyi di balik rak sepatu, mereka berjalan sambil dempet-dempetan hingga bahu saling menyenggol. Soonyoung dan Jihoon memang sering berkomunikasi tanpa kata (Seokmin yang polos percaya mereka berdua bisa telepati) tapi Jeonghan tidak pernah menyangka komunikasi mereka terasa... seintim ini. Jeonghan merasa dia baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Sambil terseok-seok meninggalkan gedung (menggulung diri agar tidak terlihat orang di balik rak sepatu yang kecil bukanlah tindakan bijak), Jeonghan mulai mengingat-ingat lagi dinamika hubungan Jihoon dan Soonyoung. Ia terus mengulang-ulang semuanya hingga menyusul Jisoo yang menunggu di bawah tempat kumpul mereka dengan kimbap dan mie instan yang sudah dingin. Sahabatnya menatap Jeonghan aneh namun tidak banyak bertanya (dia sudah terlalu lapar) dan membiarkan Jeonghan begitu saja.
Jeonghan bukan orang yang polos. Dia sering melihat kejadian tadi di lingkungannya, bahkan mungkin pernah ia alami sendiri. Rasanya nyaris tabu untuk diucapkan, namun Jeonghan tidak bisa menemukan penjelasan selain... mereka seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Jangan salah, Jeonghan sering mendengar percintaan sesama laki-laki apalagi dalam lingkup idol (adiknya merecoki Jeonghan dengan kemungkinan ini sebelum Jeonghan setuju masuk ke Pledis) jadi dia tidak benar-benar terkejut. Sebagian besar tentu hanyalah untuk menghibur penggemar, namun yang tadi dia lihat jelas-jelas bukan hiburan. Jeonghan adalah sosok yang objektif dan dia yakin sekali ada sesuatu di antara Soonyoung dan Jihoon. Sekarang mungkin belum berkembang, namun suatu hari nanti, dalam masa depan yang dekat atau jauh (mungkin jauh sekali), sesuatu ini akan menjadi hal yang bisa membuat dua adiknya ini menjadi sengsara atau bahagia. Mengingat karakter mereka yang tidak mau kalah dan mementingkan mimpi semua orang dibandingkan diri sendiri, mungkin saja perasaan ini akan mereka kubur rapat-rapat (apalagi ini bukan sesimpel naksir ke lawan jenis) hingga lenyap atau meledak.
Jeonghan berjanji pada dirinya sendiri, jika suatu hari hal ini benar terjadi, dia akan mengerahkan segala upaya untuk membantu mereka. Keduanya berhak bahagia mengingat hal-hal yang harusnya mereka rasakan di masa remaja dikorbankan untuk masa depan. Ya, bahkan jika kebahagiaan mereka berarti melawan dunia dan merusak sedikit jalur masa depan Jeonghan, dia akan pastikan dua anak beranjak dewasa itu bebas.
“Kau tahu, aku akan dengan senang hati menghabiskan mi itu jika kau tidak mau.”
Jeonghan cemberut pada Jisoo dan mulai makan mi-nya yang sudah setengah kembang.
“HEI, KALIAN BERDUA!”
Jeonghan (dengan mulut penuh oleh makanan) dan Jisoo menoleh lalu terperanjat saat melihat seseorang mendatangi mereka dengan raut kesal.
“Mampus, Choi Seungcheol!”
Keduanya berlari sambil memeluk makanan di tangan dan mengunyah apa yang ada di mulut selagi Seungcheol mengejar mereka dengan omelan tentang diet.
**^^*Selesai*^^**
