Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-04
Updated:
2024-04-04
Words:
1,471
Chapters:
1/3
Kudos:
18
Hits:
247

Menangkap Malaikat Jatuh, Kurasa?

Summary:

Kalian pasti merasa kalau eksistensi sebuah makhluk bernama cupid itu tidak ada— hanya sekedar mitos, sosok imajinatif, tokoh fiktif yang ditulis para manusia di masa lalu yang terlampau memiliki waktu luang. Tapi realitanya— Cupid itu ada! Dan Yoshi salah satunya, omong-omong.

Notes:

Hello guys I recommend you to watch NCT Wish - Cupid Scouting Society buat lebih tau gambaran latarnya karena au ini terinspirasi dari trailer tersebut ^^ semoga kalian senang bacanya!!

Chapter 1: Eksistensi

Chapter Text

I.

 

Kalian pasti merasa kalau eksistensi sebuah makhluk bernama cupid itu tidak ada— hanya sekedar mitos, sosok imajinatif, tokoh fiktif yang ditulis para manusia di masa lalu yang terlampau memiliki waktu luang.

 

Narasi yang ditulis di internet perihal cupid itu kebanyakan memang bualan belaka, tapi ada benarnya juga! Jika dihitung persentasenya, mungkin 70% salah dan 30% benar. Ah tapi tidak perlu membawa-bawa soal persentase sih, karena singkatnya— cupid itu ada!

 

Dan Yoshi salah satunya, omong-omong.

 

Yah— sebenarnya Yoshi belum bisa disebut sebagai cupid secara resmi sih? Dirinya sekarang masihlah berstatus sebagai cupid magang— tepatnya seorang siswa di Cupid Scouting Society.

 

Di beberapa literatur kuno, dikisahkan bahwa tugas seorang cupid hanyalah menjodohkan para manusia dengan panahnya. Salah! Cupid juga perlu belajar dan mengambil ujian tertulis, tau cara terbang dengan benar, tau cara merawat sayap agar tetap berfungsi dengan baik. Memanah hanya satu dari sekian banyak tugas cupid. Lagipula, siapa sih yang bilang kalau memanah itu pekara mudah? Memikirkan sudut lengan, besaran energi yang harus dilepaskan, bahkan pergerakan objek pun harus diperkirakan agar tepat sasaran.

 

Pusing kan? Tapi yang paling bikin Yoshi pusing adalah alat baru yang secara tiba-tiba dikeluarkan oleh asosiasi. Sebuah pistol dan peluru cinta sebagai ganti panah dan busur cinta. Lebih efektif dan tidak ketinggalan jaman, begitu kata ketua asosiasi. Tapi Yoshi benci! Dia bukan tipe murid yang beradaptasi dengan cepat. Meski secara teknis terlihat sama, memanah dan menembak itu jelas dua hal yang berbeda.

 

“Mana sih tadi orangnya?” Ucap Yoshi, hampir frustasi. Tenang, dia tidak akan mengumpat. Bagaimanapun, sebagai makhluk suci dia harus menjaga ucapannya.

 

Omong-omong dirinya sekarang sedang terduduk di dahan pohon yang sangat besar dan tinggi. Sesekali mata kirinya mengintip melalui teropong kecil yang terlingkar di sisi atas pistol miliknya.

 

“Sialan, mana sih si Haruto Haruto itu, cepet banget ngilangnya!” O-oke— meski makhluk suci, mungkin tidak masalah jika mengumpat sesekali?

 

Oh iya, sebagai informasi— Haruto adalah nama manusia yang menjadi target pertamanya, dia harus menembakkan peluru cinta ke arah Haruto ketika dirinya berada di sekitar pasangan yang ditakdirkan untuknya.

 

Tapi sepertinya kali ini takdir tidak berpihak pada Yoshi— dia mendapati target yang dimaksud sudah keluar dari jangkauan matanya. Jadi, Yoshi memutuskan untuk menegakkan badannya, menepuk celana putihnya yang terkena sedikit debu. Oh, tidak lupa dengan helaan nafas kasar yang keluar dari mulutnya. Tentu dia tidak senang karena— hey siapa juga sih yang senang jika harus bekerja lebih lama?

 

Karena targetnya sudah menghilang entah kemana, Yoshi harus mencari kembali targetnya itu, mengikutinya, lalu menunggu (lagi). Entahlah, dia juga bingung kapan pula tugas pertamanya ini akan selesai? Yoshi termenung, memikirkan sebuah strategi baru agar tugasnya itu bisa selesai lebih cepat. Sembari berpikir, tangan Yoshi secara otomatis bergerak mengeluarkan peluru yang tidak digunakan dari dalam pistol.

 

Tapi, entah dirinya itu sedang tidak fokus, atau sedang sial— peluru yang ia keluarkan dari pistolnya itu secara abai menggelinding dari telapak tangannya, lalu meluncur dengan bebas ke pusat gravitasi. Yoshi yang menyadari itu berusaha menangkapnya, secara refleks dia melompat untuk mengambil kembali peluru itu. Toh dia tidak akan jatuh tersungkur karena bisa terbang—

 

eh tunggu sebentar… Kok rasanya tidak ada apa-apa ya di punggungnya?

 

Ah sial. Yoshi baru ingat kalau dia tadi melepas sayapnya agar tidak terlalu menarik perhatian!

 

Yoshi sekarang hanya bisa berpasrah diri. Matanya terpejam rapat, tidak lagi memikirkan peluru yang belum kembali ke tangannya. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah seberapa sakit badannya nanti ketika menghantam tanah.

 

BRUK

 

Sebuah suara hantaman masuk ke indra pendengaran Yoshi, dan sumbernya tentulah dirinya sendiri. Tapi anehnya, Yoshi tidak merasakan rasa sakit barang sejumput? Yoshi bisa merasakan tekstur rumput yang menyapu telapak tangannya, tapi— kenapa permukaan tanah di badannya terasa berbeda ya?

 

Yoshi membuka matanya perlahan, spektrum warna mulai masuk menyela ke pandangan matanya yang awalnya mengabur.

 

“Argh…”

Yoshi membelalakkan matanya lebar-lebar. Pantas tubuhnya terasa aneh, ternyata yang menghantam badannya bukan tanah berumput melainkan— manusia!

 

“Ah maaf!! Maaf banget—!”

 

Yoshi refleks menyingkirkan tubuhnya, dan terduduk dengan panik di sebelah manusia yang dia timpa tadi. Mungkin sedikit aneh, tapi dia tidak merasakan rasa sakit sama sekali. Apa ini privilese seorang cupid magang sepertinya? Bisa jadi. Dan sejujurnya, sekarang yang lebih ia khawatirkan adalah manusia di sebelahnya itu. Jika diukur dari ketinggian Yoshi melompat, seharusnya orang yang ia timpa itu minimal— patah tulang. Yoshi jadi takut, bagaimana kalau dia ketahuan mencelakai manusia dan dikeluarkan dari asosiasi, bagaimana kalau dia dihukum dan diasingkan, bagaimana kalau orang di bawahnya ini tidak dapat— bergerak?

 

“Kamu… nggak apa-apa?” Jika dilihat dengan mata telanjang, tidak ada luka serius sih pada korban timpanya tadi. Tapi siapa yang tau kan ya— seorang cupid tidak bisa mengidentifikasi patah tulang. Apalagi jika korbannya hanya terlentang dan menatap Yoshi tanpa bergerak satu inci pun.

 

“Bisa gerak— kan?”

 

Yoshi mengulurkan tangannya, sebagai bentuk empati dan ingin mengecek jikalau manusia di sebelahnya itu masih bisa bergerak atau tidak. Tapi alih-alih membalas uluran tangan Yoshi, manusia di sebelahnya malah mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Yoshi berhenti satu detik.

 

“Malaikat ya?”

 

Hah? Gimana-gimana? Yoshi nggak salah dengar kan? Apa korban timpanya itu mengalami gangguan pada otaknya? Dan lagi, dia memanggil Yoshi apa? Malaikat?

 

“Bukan. Bukan malaikat—“ Cupid sih, begitu balas Yoshi dalam hati. “Kamu ada luka nggak? Bisa berdiri?”

 

“Nggak apa-apa”, manusia tersebut mendudukkan badannya, sebelah tangannya membersihkan kotoran tanah yang menempel di rambutnya. Yoshi hanya memperhatikan gerak-geriknya untuk memastikan kondisi tubuhnya, tidak lupa memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Manusia yang ditimpanya itu terlihat muda, sekitar 20 tahun ke atas, dan sepertinya seorang mahasiswa. Tidak cukup stylish tapi cukup— tampan. Tidak, lupakan itu! Bagaimana bisa manusia di bawahnya itu bergerak santai dan terlihat tidak apa-apa setelah dijatuhi Yoshi dari ketinggian 10 meter?? Apa tanpa sadar Yoshi telah menyalurkan berkah cupid kepadanya? (Salah)

 

“Beneran nggak apa-apa?”

 

Manuska tersebut hanya menggeleng. “Kamu ringan banget ngomong-ngomong, aneh— rasanya kayak ditimpa bulu. Tampilanmu juga kayak malaikat. Sekilas kukira aku tadi pingsan karena kebanyakan tugas dan udah mati dan di surga. Eh masa sih bukan malaikat?”

 

Yoshi memandang ke tubuhnya sendiri. Benar— kemeja putih celana putih dan tidak lupa aksesoris bebuluan yang tersemat di kepala, tak heran jika dirinya disangka malaikat.

 

“Tapi emang bukan malaikat…”

 

“Terus apaan dong?”

 

Yoshi tidak menyangka kalau manusia yang dijatuhinya akan sepenasaran ini. Padahal penampakan fisik mereka sama persis, kenapa dia sepenasaran ini? Apa dia merasa aneh karena dijatuhi oleh orang seringan bulu? “Sama-sama manusia kok.”

 

“Lagi cosplay ya?” Ahh ampun deh!

 

“Nggak tuh?”

 

Manusia di sampingnya tiba-tiba terkekeh, matanya sampai menyipit, dan sebelah tangannya mengusap hidung. Aneh sekali manusia satu ini.

 

“Tapi semisal kamu bilang kalo kamu malaikat jatuh dari langit pun aku bakal percaya kok.” Yoshi mengernyitkan sebelah alisnya, ada sensasi menggelitik di permukaan kulitnya. Jangan salah, dia bukannya merasa terenyuh lalu salah tingkah begitu. Dirinya merasa sedikit geli.

 

Sepertinya manusia memang suka sekali melontarkan kalimat menggelikan seperti ini. Tapi anehnya, Yoshi malah terpancing—

 

“Kenapa emangnya?”

 

Manusia di sebelahnya itu tiba-tiba mengusap hidungnya, Yoshi bisa melihat perubahan warna di area telinga dan pipinya. Pupil matanya juga sekilas terlihat lebih besar—

“Soalnya… kamu emang seindah malaikat.”

 

Yoshi hanya menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal sebagai respon. Seulas senyum tipis ia torehkan di bibirnya karena dirinya merasa… aneh?

 

Ah… sepertinya manusia memang suka melontarkan rangkaian majas simile seperti itu. Padahal, yakin deh mereka pasti belum pernah bertemu malaikat yang sesungguhnya.

 

“Emangnya udah pernah ketemu malaikat?“

 

“Belum sih— tapi aku yakin bentukannya pasti kayak kamu.” Bisaan banget manusia satu ini!

 

Sekonyong-konyong manusia di sebelahnya itu bangun dari duduknya. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat layarnya sekilas. Yoshi tebak sih dia melihat jam.

 

“Ah— kayaknya aku harus pergi deh.” Ya silakan pergi, nggak ada yang ngelarang, begitu sih balas Yoshi dalam hati. Tapi nyatanya Yoshi hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.

 

Yoshi kira manusia tadi akan segera pergi setelah berpamitan dan mengemasi barangnya, tapi tidak! Manusia tadi malah mengulurkan tangannya kepada Yoshi yang masih terduduk di permukaan rumput. Yoshi membalas uluran tangannya tanpa pikir panjang—

 

“Aku Junkyu, dari departemen Informatika. Salam kenal ya.”

 

Yoshi hanya terdiam sembari melihat lekat tangan mereka yang tengah berjabat. Siapa yang akan mengira kalau dia akan mendapatkan satu kenalan manusia ketika sedang menjalankan tugas pertama. Dan lagi— sejujurnya Yoshi tidak tau apakah hal ini diperbolehkan, atau tidak?

 

Sebagai bentuk jaga-jaga Yoshi hanya membalas secukupnya, “salam kenal, Junkyu.”

 

Pemilik nama Junkyu tersebut hanya tersenyum, sepertinya menunggu Yoshi mengucapkan namanya— tapi apa daya, waktu sedang memburunya. Yoshi memang sengaja, dia sengaja membiarkan Junkyu yang diburu waktu untuk segera pergi tanpa mengetahui soal identitasnya.

 

“Ah aku pergi dulu ya, sampai jumpa lagi.”

 

Dan begitulah final percakapan mereka sebelum Junkyu berlari meninggalkan Yoshi yang masih berdiri di tempat semula. Dan Yoshi? Dia hanya melambaikan tangan sebagai tanda selamat tinggal.

 

Yah— berkomunikasi secara langsung dengan manusia, mungkin pengalaman yang tidak terlalu buruk.


Yoshi mengetuk-ngetukkan kakinya. Sepertinya dia melupakan sesuatu…. Dia sekarang seharusnya kembali mencari Haruto yang menjadi targetnya. Tapi rasanya kok ada sesuatu yang mengganjal ya? Sesuatu seperti detail penting yang ia lewatkan—

 

“Oh iya… peluru yang jatuh tadi kemana ya?”

 

 

 

 

- tbc