Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-04
Words:
460
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
17

Acompany & Embrace

Summary:

Hanya malam ini, Cura menemani Fuga dalam sakit hatinya, dengan tentunya menyembunyikan sakitnya juga.

Work Text:

Cura kembali, ia membuka pintu markas Rebellion, melangkah masuk sambil melepas jubahnya dan menyampirkannya ke bahu. Ia berjalan lurus menuju ruangan yang sering dipakainya tidur. Tapi satu suara, satu suara yang sangat ia kenali menginterupsinya.

"Cura..." Pemilik suara itu memanggil namanya dengan lembut. Itu Fuga, tersenyum dengan rambut basah, ia pasti baru saja mandi. Rambutnya yang basah itu menutupi sebagian wajah indahnya, membuatnya terlihat berantakan.

Cura mengangguk sebagai respon. "Welcome home," sambut Fuga, menyelesaikan kalimatnya. Tapi matanya seperti masih ingin menyampaikan yang lain.

Cura mengangguk lagi, paham kalau Fuga membutuhkan teman untuk menemaninya. Cura berjalan ke sofa di sana, duduk dan menaruh jubahnya pada sandaran sofa, kemudian memberi Fuga isyarat untuk mengikutinya.

Fuga lalu duduk di samping Cura. "Cura," panggilnya dengan nada frustasi. Wajahnya sangat menyedihkan.

"Gimana misimu tadi? Hutan Utara pasti--" Cura memotong ucapan Fuga, "Jangan paksakan diri buat basa-basi gitu."

"Libel, kan?" tebak Cura sangat tepat.

Diam, tak satu pun kata keluar dari lisan Fuga. Dia tak berbicara apapun tapi wajahnya menjelaskan segalanya. Ekspresinya terlihat sangat kompleks. Tatapan cemburu, sakit, juga kecewa menjadi satu.

"Peluk aku, Cura. Peluk aku dan berikan aku semua kehangatanmu." Tatapannya membutuhkan dan putus asa secara bersamaan.

Saat itu Cura tahu dia seharusnya menolak permintaan Fuga. Ia paham apa maksud Fuga sebenarnya. Dan ia juga paham ia tak akan bisa menggantikan Libel. Karena sampai kapanpun, orang yang dicintai Fuga hanya Libel dan akan selalu Libel.

Tapi nafsu mendorongnya, wajah indah milik Fuga juga wanginya sehabis mandi, menariknya untuk berkata "ya".

Cura membawa Fuga pada dekapannya, membiarkan Fuga merasakan kehangatannya. Cura memeluknya, merasakan rambut basah Fuga mengenai dagunya. Dia mengelus rambutnya lembut, beberapa kali menelusurinya dengan jari-jari. Kemudian saat ia melepas pelukannya, ia menyampirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Fuga ke belakang telinganya.

Cura mencium Fuga, Cura menciumnya untuk pertama kalinya, dengan tujuan untuk menenangkannya. Dan ia dapat merasakan keraguan Fuga di sana. Keraguan Fuga untuk membuka mulut pada awalnya, ragu untuk membiarkan Cura menelusuri seisinya. Tapi kemudian ia membukanya, membiarkan Cura masuk. Satu hal yang membuat perasaan mereka berdua berantakan.

Cura melepas ciumannya, diikuti Fuga yang terngah-engah. Melihat Fuga yang berantakan hanya karena satu ciuman itu membuat Cura kehilangan sedikit kewarasannya.

Cura menangkup wajah Fuga dengan kedua tangannya, menatap lekat pada iris coklat milik Fuga. "Aku tahu aku tak akan mungkin menggantikan Libel. Tapi tolong hanya lihat aku, pikirkan aku, dan sebut namaku. Setidaknya untuk malam ini." Ia memohon, sedikit memerintah.

Cura lalu menciumnya lagi, kali ini dengan dorongan untuk membuat tubuh mereka jatuh. Terbaring sepenuhnya di sofa.

Di markas Rebellion, dengan jejak Libel di tiap sisi yang membuat rasa sesak semakin menyeruak, mereka berbagi kehangatan, merasakan satu sama lain dengan hati yang sama-sama hancur.

Dan sofa itu adalah saksi mereka menjadi satu. Saksi dari dua hati yang hancur berusaha untuk saling menghibur.