Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-08
Words:
770
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
27
Bookmarks:
1
Hits:
1,944

Semangkuk Berdua

Summary:

Cinta tak selalu dibangun dengan fondasi yang megah, tapi bisa juga dikemas lewat cara-cara paling sederhana, salah satunya adalah menikmati semangkuk mi kuah berdua di tengah malam ketika hujan melanda.

Work Text:

Aku memahami bahwa konsep cinta itu sangat luas dan tak bisa disimpulkan hanya dengan satu frasa. Cinta itu banyak bentuknya, tapi untuk yang satu ini, aku seratus persen yakin mampu merangkumnya dalam wujud manusia yang telah menjadi kekasihku hampir dua tahun lamanya.

“Sini, Yang. Aku lagi makan mi, atau mau aku buatin?”

Mungkin buat sebagian orang kalimat itu hanya berupa tawaran semata, tapi bagiku kalimat itu mengandung begitu banyak cinta. Jeno yang penuh pengertian, meski saat ini kami tengah sibuk berkutat dengan tugas dan laporan masing-masing karena dari pagi sampai siang harus pergi kuliah. Sepulangnya, Jeno akan langsung bekerja di sebuah toko reparasi elektronik milik pamannya, sedangkan aku mengambil kerja paruh waktu di minimarket yang jaraknya tak jauh dari kampus. Setelah itu, ia akan mampir ke rumah sebentar untuk mandi dan makan, kemudian lanjut bekerja lagi di salah satu kafetaria dekat kontrakan hingga larut malam.

Kadang aku bingung bagaimana Jeno dapat mengumpulkan kekuatan setiap hari untuk melakukan rutinitas yang bukan main padatnya, tapi tak pernah sekali pun aku mendengarnya mengeluh, dan bahkan sekarang ini masih sempat-sempatnya menawarkan diri memasak mi untukku. Seringkali aku berpikir kalau dunia terlalu kejam karena tak pernah memberinya waktu untuk istirahat, tapi begini lah cara kita agar tetap dapat bertahan, melakukan apa pun yang bisa dilakukan, walau ada banyak yang mesti dikorbankan.

Aku menggeleng pelan dan mengambil tempat di sampingnya, ikut menyusupkan kakiku di antara celah-celah tungkainya untuk mencari kehangatan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dan hujan di luar masih setia turun dengan deras. Melihat asap yang mengepul dari mangkuk plastik diskonan yang kita dapatkan di pasar swalayan, serta Jeno yang mulai memakan minya dengan lahap cukup berhasil membangkitkan selera, padahal beberapa jam lalu aku sudah makan dengan lauk yang kubeli dalam perjalanan pulang.

“Mau minta punya kamu aja, boleh?”

“Tapi kalau kurang bilang, ya? Biar aku masakin lagi.”

“Hm.”

Aku hanya bergumam menanggapi, tetapi segera menggeleng lagi ketika ia menyodorkan sendoknya.

“Maunya disuapin.”

“Kebiasaan.”

Aku hanya ber-hehe ria sembari menyambut suapan darinya. Dapat kurasakan ibu jarinya terangkat untuk membersihkan kuah yang menempel pada sudut bibirku. Lagi dan lagi, aku dibuat jatuh cinta semakin dalam dengan Jeno dan hal-hal kecilnya.

“Kalau ngeliat kita kayak gini aku suka malu sama diri sendiri. Pacaran sama aku bukannya bikin kamu bahagia, tapi malah ngajak kamu hidup susah.”

Aku tak berniat untuk menyela. Kubiarkan pria itu mengeluarkan isi hati dan pikirannya walau hatiku ikut terasa sakit karena perkataannya tersebut sama sekali tidak benar.

“Maaf kalau aku belum bisa bawa kamu ke restoran enak, atau pergi ke coffee shop lucu kayak orang-orang pacaran lainnya, atau hadiahin kamu dengan baju dan sepatu mahal yang udah sepantasnya kamu dapatkan. Maaf kalau setiap hari kita bukannya nikmatin masa muda, tapi malah harus mikirin gimana caranya tetap bisa ngelanjutin hidup dengan keadaan yang serba pas-pasan. You deserve so much, so much more, and I can’t even give you half of it.

Suaranya bergetar, dan netraku dapat menangkap dengan jelas bahwa dirinya tengah berusaha menahan air mata agar tidak keluar. Bahkan pada saat-saat seperti ini, Jeno masih menunjukkan sisi kuatnya.

“Jen, hidup yang kita jalani sekarang ini adalah hidup yang kita pilih atas kemauan kita berdua, dan sampai saat ini belum pernah sedetik pun aku nyesal udah ngambil keputusan ini sama kamu. Kita udah sama-sama tahu konsekuensinya, dan aku siap ngehadapin itu semua bareng kamu. Sampai kapan pun, I’d always still choose you,” tukasku seraya mengarahkan jari telunjukku tepat di depan dadanya untuk menyiratkan ketegasan pada kalimat yang kulontarkan. Keheningan seketika menyergap, tetapi rasanya masih tetap nyaman. Aku selalu menyukai waktu-waktu seperti ini, di mana orang-orang sudah terlelap, dan dunia terasa lengang seakan-akan hanya dihuni oleh kami berdua. Perlahan kurebahkan kepalaku di pundak kokoh lelaki kesayanganku sembari memainkan motif di kaosnya yang mulai memudar.

“Lagian aku nggak butuh barang-barang mewah atau nge-date di tempat-tempat fancy, kalau dengan makan semangkuk berdua gini aja udah bikin aku bahagia,” bisikku pelan, pelan sekali seolah tak ada yang boleh mengetahui selain aku dan dia. Kuselipkan jemariku pada telapak tangannya yang kasar, sebab yang kupahami, cinta tak hanya hadir lewat kata-kata, tapi bisa juga muncul di sela-sela jari tangan yang bertautan.

“Dari kamu aku belajar arti cukup, tapi bisa milikkin kamu— itu sudah berarti lebih dari cukup.”

Tak apa jika setiap hari kita harus memusingkan uang untuk bayar sewa, listrik, makan, kuliah, dan lain-lainnya, asal kita masih punya satu sama lain untuk jadi tumpuan dan tempat pulang. Karena sejatinya, cinta tak selalu dibangun dengan fondasi yang megah, tapi bisa juga dikemas lewat cara-cara paling sederhana, seperti menikmati semangkuk mi kuah berdua di tengah malam, dengan sepasang cangkir kopi panas dan suara hujan yang tak kunjung reda untuk menemani perbincangan.