Work Text:
Sebagai mahasiswa teknik sipil, Sungchan mungkin memiliki mental yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lain. Mungkin, karena ia sendiri pun tak begitu yakin jika hasil ospeknya yang bahkan membuatnya bercucuran keringat di bawah terik matahari dan telinga yang terbiasa mendengar teriakan melalui pengeras suara itu bisa membuatnya menghadapi segala rintangan di dunia.
Hari ini Sungchan membuktikan bahwa kemungkinan itu tidak selalu benar. Mungkin memang hasilnya terlihat dari bagaimana Sungchan berani mengutarakan pendapatnya di forum organisasi, mengikuti perlombaan debat antar fakultas, menjadi salah satu pimpinan aktivis kampus, dan sederet kegiatan kemahasiswaan lainnya.
Tapi jika bersinggungan dengan dosen pembimbing tugas akhir? Ia rasanya kembali seperti Sungchan sewaktu SMP yang dihukum karena lupa mengerjakan pekerjaan rumah hingga menangis.
Siang itu cuaca sedang terik-teriknya. Sejak menghubungi dosen pembimbing untuk menentukan jadwal bimbingan, Sungchan merasa berkali-kali mengalami kesialan. Mulai dari dosennya yang mendadak menyuruh membuat draft bab baru untuk direview sementara Sungchan tadinya hanya berniat untuk mengonsultasikan revisi bab sebelumnya (Sungchan malam itu hanya tidur 30 menit karenanya), kemudian saat berangkat ban motornya kempes hingga ia harus mendorong ke bengkel terdekat untuk isi angin, lalu dihadapkan dengan jalanan dekat kampus yang macet karena ada perbaikan. Astaga. Sungchan mau teriak karena ia diburu waktu. Sebisa mungkin Sungchan menarik nafasnya dengan tenang. Ia selalu melakukan manifestasi yang baik agar suasana hatinya hari itu tak semakin memperburuk keadaan.
Sampailah ia di ruangan dosennya. Disuruh menunggu 30 menit karena ternyata masih ada jadwal mengajar. Sungchan sabar, ia ingat tujuan utamanya adalah ingin segera lulus. Maksimal tahun ini agar ia tidak perlu kelimpungan mencari tambahan untuk uang kuliahnya yang fantastis itu.
Awal bertemu dengan dosen pembimbingnya, wajah Sungchan masih sumringah. Dibuat tak terlihat lesu, lebih tepatnya. Walau kantung mata sulit untuk berbohong. Dalam hati, setidaknya ia sudah berprogress untuk tugas akhirnya.
Satu jam kemudian Sungchan keluar dari ruangan yang sama dengan mata memerah, beberapa kali ia dongakkan kepala menahan sesuatu yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
Tidak, Sungchan tidak boleh menangis di sini. Mau dikemanakan citra aktivis kampusnya jika ada yang melihat dirinya menangis hanya karena disuruh membuat ulang draft yang dikerjakannya semalaman penuh itu? Maka Sungchan bergegas meninggalkan kampus begitu selesai mengirimkan sebuah pesan.
𝗦𝘂𝗻𝗴𝗰𝗵𝗮𝗻
| Seok, gua ke kosan lu boleh?
| Mau peluk bentar aja
𝗘𝘂𝗻𝘀𝗲𝗼𝗸
| Boleh, selalu boleh buat lo, Chan.
| Nanti gue peluk yang erat ya.
| Hati-hati di jalannya.
****
Sungchan itu tingginya 186 sentimeter. Lebih tinggi 6 sentimeter dari Eunseok yang sudah jelas membuat Eunseok terlihat lebih pendek darinya. Tapi di beberapa waktu, Sungchan justru merasa dirinya kecil. Terlalu kecil bahkan ketika Eunseok merengkuhnya, Sungchan merasa raganya dipeluk seutuhnya, tanpa terkecuali. Sungchan senang karena Eunseok membuatnya merasa aman.
“Nangis aja, Chan.” Eunseok dengan lembut mengelus rambutnya, memastikan Sungchan nyaman didekapnya.
“Gua lagi nggak mau nangis.”
Bohong. Eunseok terkekeh.
“Yaelah malu-malu amat. Nggak bakal ada yang liat, Chan. Kalo sama gue, lo udah bukan Sungchan kating teknik lagi. Lo cuma Jung Sungchan, Jung Sungchannya Song Eunseok.”
Sungchan masih menolak awalnya, tapi lama kelamaan Eunseok merasa bagian bahunya basah. Sungchan menangis tanpa suara dan Eunseok membiarkan ia melakukan apapun selama itu bisa membuat dirinya lega.
Usapan lembut tak pernah absen Eunseok berikan. Dari rambut hingga bahu dan punggung Sungchan yang bergetar karena tangisnya yang belum reda. Eunseok memaklumi karena Sungchan memang jarang menangis, mungkin ini bentuk dari seluruh emosinya yang ia tahan sendiri selama ini.
Finalnya, Eunseok merenggangkan pelukan mereka. Sungchan protes karena Eunseok langsung melihat wajah sembabnya, tapi Eunseok justru tersenyum karenanya. Ia usap jejak air mata di kedua pipi Sungchan. Lalu, kedua matanya Eunseok kecup hingga ke dahi yang diberi durasi lebih lama. Eunseok mau Sungchan tahu dirinya punya rasa sayang yang begitu banyak untuk lelaki kelahiran September tersebut.
“Chan.” Eunseok memanggilnya. Sungchan yang semula melamun kemudian mengalihkan fokusnya sepenuhnya pada Eunseok.
“Hm?”
“Lo punya gue.” Eunseok merapikan poni Sungchan yang lepek karena keringat, dibuatnya tidak menghalangi pandangan Sungchan. “Lo punya gue yang siap dengerin cerita lo, keluhan lo, segalanya yang lo mau bagi ke gue. Lo punya gue yang bakal selalu peluk lo, mau lo minta atau enggak. Jadi, meskipun dunia nggak sekecil bayangan lo, jangan takut ya? Lo punya gue.”
Eunseok tersenyum sebelum mendaratkan ciuman lembut di kedua bilah bibir Sungchan. “Lo punya gue yang selalu di sisi lo. Lo punya gue yang akan selalu pegang tangan lo dan nggak akan gue lepas, Chan.”
Sungchan menunduk melihat bagaimana Eunseok menyalurkan ketulusan lewat genggaman tangannya yang erat.
Benar, Sungchan tidak perlu takut apapun.
Sungchan tidak perlu merasa sendiri karena di sisinya, ada Eunseok yang cintanya sebesar dunia dan isinya.
“Kenapa lo malah ketawa?”
Sungchan masih terkekeh ketika Eunseok bertanya. Ia hanya menyadari dirinya yang mendadak melankolis saat membayangkan seberapa besar pengaruh keberadaan Eunseok dalam hidupnya.
Kali ini bibir Eunseok yang dicium. Sungchan menghujani seluruh wajahnya dengan kecupan kupu-kupu dan senyum yang terpatri membuat Eunseok bingung, namun tak ia tolak dan balas tersenyum di tengah pagutan hangat mereka.
“Aku sayang banget sama kamu, Seok.”
“Geli banget kayak abege baru pacaran.”
“AH EUNSEOK JELEEEEK!”
“HAHAHAHAH. Aku sayang kamu juga, Sungchaaaaan!”
𝗦𝗘𝗟𝗘𝗦𝗔𝗜.
