Work Text:
“Kaki lo gak kenapa-kenapa?”di siang hari yang terik, Riku muncul di balik pintu kost Yushi; menyengir lebar sambil bertanya hal di luar dugaan.
Sambil melirik kakinya sendiri Yushi menjawab, “emangnya kaki gue kenapa? Gak kenapa-kenapa tuh.”
“Oh, bisa jalan tapi?” tanya Riku lagi.
“Bisa lah.” Yushi menjawab langsung tanpa tahu dirinya telah dijebak.
“Oke. Kalo gitu sekarang aja kita jalan-jalannya,”
Sedetik kemudian Yushi mendengus keras. Baru sadar kalau dia jatuh pada trik murahan gak berkelas Riku, pun dia baru sadar kalau Riku yang biasanya nyentrik dengan kaus longgar dan celana training kali ini datang dengan pakaian rapi.
Celana jeans, kaus putih ditimpa kemeja yang dibiarkan tidak terkancing dan rambut yang sudah rapi setelah diberi sedikit gel rambut. Bahkan samar-samar Yushi bisa mencium parfumnya. Agak aneh buat Yushi, karena seorang Maeda Riku yang ia kenal hampir gak pernah pakai parfum, alias mengandalkan pelembut pakaian.
Ho, beneran niat ngajak jalan ternyata.
“Lo gak takut gue tolak lagi?” tanya Yushi aneh.
Riku menunduk menatap jari-jarinya seakan tengah berhitung. “Gue gak akan nyerah sebelum lo genap nolak gue untuk yang ke seratus kalinya.” imbuhnya seraya mengulas cengiran lebar.
Menghela napas, Yushi membuka pintu kostnya agak lebar. “Masuk, tunggu bentar gue ganti baju.”
Meski matahari bersinar terik di luar sana sepertinya mood Yushi sedang bagus sampai ajakan jalan Riku—yang biasanya ditolak mentah-mentah—kini direspon positif.
'Itung-itung menghargai niat besar dia buat datang di tengah terik dan panasnya siang, lagian kasian juga anaknya udah dandan rapi gitu.' batin Yushi.
“Jujur, gue gak expect lo setuju gue ajak jalan...” ada jeda sebentar saat cowok itu menarik napas. “Gue kira gue bakal ditolak lagi—alias jujur banget ini mah gue datang dengan modal nekat tanpa rencana!”
Yushi melotot, bisa-bisanya Riku bilang gitu setelah sepuluh menit mereka berada di tengah jalan—di dalam mobil Riku yang melaju pelan dan ternyata bergerak tanpa tujuan.
“Lo tuh—” Yushi mengusap wajah, menahan umpatan yang sudah ada di ujung lidah. “Minggir dulu sebentar deh kalo gitu, biar gue yang nyetir. Gue kasih lo kesempatan buat mikir tempat tujuannya.”
Riku menuruti titah yang lebih muda. Memberhentikan mobilnya di bahu jalan dan bertukar posisi dengan Yushi.
Mobil kembali melaju, bedanya Yushi menyetir dan Riku duduk di samping dengan fokus dan perhatian jatuh pada ponsel pintarnya. Mencari-cari destinasi tujuan yang kira-kira cocok dijadikan tempat 'kencan dadakan'.
“Lo ada kepikiran mau kemana gak?” tanya Riku. Tolong jangan bilang-bilang Yushi kalau sejujurnya kepalanya saat ini kosong, ALIAS GAK KEPIKIRAN SATU PUN TEMPAT YANG MAU DIKUNJUNGI! Buat Riku, berkendara tanpa tujuan seperti ini, asalkan bersama Yushi, dia udah senang pake banget.
Tapi Yushi sepertinya yang tidak senang kalau mereka pergi tanpa rencana atau tujuan yang jelas.
“Gak ada.” jawab Yushi. “Khusus hari ini gue mau nurutin kemana pun lo mau,”
Gara-gara jawaban itu Riku makin panik. Ibu jari dan telunjuknya bergerak-gerak tremor dengan batin yang meraung-raung, mampus mampus mampus mampus mampus!
“Buruan deh, mau kemana ini?” tanya Yushi akhirnya, mulai gerah karena Riku masih belum menunjukkan arah dan tujuan.
“Lurus terus, nanti ada pertigaan belok kanan.”
“Oke.”
“Abis ini kemana?”
“Dua ratus meter belok kanan lagi, nanti lurus terus sampai ketemu lampu merah.”
“Ambil kanan apa kiri?”
“Kiri, terus belok kiri lagi nanti.”
Biasanya Yushi adalah pribadi yang cukup peka karena instingnya kuat. Tapi gak tahu kenapa, detik ini kepekaan Yushi lagi mode tumpul. Tanpa protes dan mikir yang enggak-enggak, dia menuruti semua perkataan Riku. Beneran nurut tanpa banyak bicara sama arahan yang Riku kasih.
Gak tahu aja oknum yang lagi otak-otik maps dari tadi cuma kasih instruksi asal.
Makin ke sini jalanan ramai tergantikan dengan jalanan sepi. Angkot dan mobil pribadi lainnya yang biasa mereka temui sebelumnya berkurang intensitasnya, sejauh ini hanya ada beberapa motor dan mobil yang lewat. Pertokoan juga rumah warga terganti dengan pohon-pohon besar.
“Sebenernya lo mau bawa kita kemana sih?” tanya Yushi, akhirnya berada di tahap bingung dan agak curiga juga sadar sama keganjilan yang sudah sejak tadi berlangsung.
“Bosen gak sih kalo jalan ke tempat yang gitu-gitu aja?” Riku menatap Yushi meski yang ditatap hanya sempat melirik sekilas. “Sekali-kali gue mau ajak ke tempat rindang yang teduh gitu, kalo diingat-ingat lo juga udah lama gak hunting foto kan?”
“Tapi gue gak bawa kamera???”
“Di belakang ada kamera gue kok, pake aja.”
Riku perlu bersyukur kalau arahan asalnya membawa mereka ke sebuah bukit dengan pemandangan yang asri, indah dan teduh.
Mesin mobil sudah mati sejak setengah jam yang lalu, bahkan Yushi sudah bergerak kesana kemari dengan kamera Riku mengalung di lehernya. Sibuk ngambil gambar pemandangan. Beda hal dengan Riku yang cukup sibuk mengecek mesin mobilnya yang panas.
“Dapet referensi tempat dari mana lo?” tanya Yushi, duduk di atas rumput tepat di samping Riku yang masih berdiri di depan kap mobil yang terbuka. “Gue gak nyangka lo bisa tahu tempat bagus kaya gini.”
“Gak sengaja nemu di maps,” adalah jawaban keren yang keluar dari mulut Riku.
Pandangan Riku kemudian teralihkan pada sosok Yushi yang menunduk seraya melihat-lihat hasil jepretannya. “Puas foto-fotonya?”
Kepala Yushi terangkat. Alih-alih menjawab dia justru kembali mengangkat kamera, membidik wajah Riku dan mengambil satu gambar.
“Lawak banget sih muka kaget lo,” lantas tertawa saat menunjukkan muka meme Riku yang barusan diabadikan.
Riku merunduk untuk mengintip layar kamera. “Ganteng kok,” katanya kelewat percaya diri. Lalu ikut bergabung dengan Yushi yang duduk bersandar pada bagian depan mobil.
“Emang ganteng. Yang bilang jelek sih buta.” respon Yushi frontal. Gak tahu aja gara-gara omongan itu ada yang langsung jedag-jedug jantungnya. “Lo tuh tipe-tipe ikemen.”
“Sunset tuh, gak mau difoto?” tanya Riku membelokkan topik. Aslinya salbrut, alias salting brutal dipuji ikemen; pria yang tampan atau seksi.
Yushi mengangkat kamera lagi kali ini membidik langit oren yang indah. “Kalo memori lo penuh, gak apa-apa kan?”
“Santai. Pake aja sepuas lo—gak akan penuh juga karna itu memori baru, masih kosong.”
Puas memotret senja, pun sang mentari mulai terus merangkak turun. Yushi bangkit seraya menepuk-nepuk pantatnya yang sedikit kotor dengan pasir. “Pulang yuk, mampir tempat makan deh gue laper. Gantian lo yang nyetir tapi,”
“Siap Kapten!”
Cobaan kembali datang saat Riku mencoba menyalakan mesin mobil. Berkali-kali di starter mesin tidak mau menyala.
“Duh kenapa ya?” tanya Riku entah pada siapa. “Tadi gue cek aman aman aja.”
“Mogok?” tanya Yushi.
Riku melirik sekilas. “Gak tahu, gue cek dulu deh.” lalu turun dari mobil hanya untuk mengecek kembali kap mobilnya.
Yushi yang masih ada di dalam mobil melirik. Sadar akan sesuatu, lantas menghela napas kasar.
“Gak ada yang aneh—”
“Tangki bensin lo kosong, bego.” potong Yushi, kesal.
Riku yang baru kembali refleks melihat ke pedometer bensin, benar, habis bensin ternyata.
“Salah gue juga sih gak isi bensin tadi,” sesal Riku.
“Gue juga salah gak sadar kalau bensin lo sekarat.” keluh Yushi.
Gak mau berakhir di tengah hutan apalagi hari mulai semakin gelap, akhirnya Yushi dan Riku mencari bantuan.
Sekian ratus langkah berjalan kaki mereka bertemu sebuah motel sederhana.
“Bentar, gue tanya ada yang jual bensin atau engga.” kata Riku, dengan inisiatif dia masuk ke dalam motel untuk bertanya.
Yushi masih di posisi—berdiri di depan motel—seraya memperhatikan suasana sekitar. Hanya ada beberapa rumah warga dan sejauh ini dia gak melihat ada satu pun kendaraan bermotor lewat.
“Duh,”
Lantas menoleh untuk mendapati wajah panik Riku. “Kenapa?”
“Gak ada yang jual bensin di sini,” jawab Riku. “Paling deket 10 km dari sini.”
“Hah?!”
“Biasanya ada yang jualan tapi ngider gitu, tapi cuma siang. Gue udah tanya-tanya sekiranya ada yang punya motor atau sepeda, tapi katanya gak ada warga yang punya kendaraan di sini.”
Apa-apaan?!!!!
Sejelek itu transportasi di daerah sini????!!
“Jadi...”
Yushi mau marah tapi terjeda karena sepertinya Riku belum selesai dengan ucapannya. “Apalagi?!”
“Barusan gue check-in satu kamar,” Riku menggaruk rambutnya canggung. “Telepon di dalem udah lama gak berfungsi terus hape gue juga gak ada sinyal sama sekali, gimana kalo malam ini kita stay di sini? Besok pagi baru cari bantuan lagi?”
Yushi yang biasanya pasti udah ngomel. Tapi gak tahu kenapa, apa yang beda dengan dirinya sendiri hari ini, Yushi menelan semua kemarahannya—memilih mengekori Riku masuk ke motel dengan wajah ditekuk.
“Ngaku sama gue. Kemarin lo nunjukin jalan asal-asalan kan?” hari masih pagi tapi Riku sudah seperti ditodong pistol oleh Yushi.
Riku jelas gak bisa tutupi raut wajah kagetnya.
“Hah—enggalah! Bener kok-”
“Gak usah bohong. Semalem waktu tidur lo ngigo minta maaf udah bikin nyasar ke tempat antah-berantah.” sahut Yushi.
Skakmat.
Gak punya bakat ngeles Riku milih menghindari Yushi, mendekati penjual bensin keliling yang masih mengisi tangki mobilnya.
“Full tank ya Pak.”
“Iya Mas,”
“Beneran deh, next time gue gak mau jalan sama lo kalau lo masih bego baca maps.” cetus Yushi dongkol.
