Actions

Work Header

The House That We No Longer Share

Summary:

Kata siapa happy ending itu berhenti saat kita berhasil menikah dengan orang yang kita cintai?

Nyatanya setelah 5 tahun berumah tangga dengan lelaki yang ia pikir akan menjadi satu-satunya pun usai juga.

Namun Heeseung tidak menyesal, mengenal dan menjadi suami- sempat menjadi suami Park Jongseong bukan hal yang dapat ia sesali.

Notes:

https://open.spotify.com/track/7uvtPp6So6MtrGSC3LpKfs?si=oevdb16DTGOQz3FvokOAxg&context=spotify%3Asearch

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Biasanya heeseung duduknya bukan disini, bukan sebagai guest star, biasanya ia duduknya di belakang layar bersama Sunghoon suaminya Jake sambil menyaksikan Jake dan Suaminya bercanda gurau ala tongkrongan bersama guest starnya di podcast mereka.

Entah apa yang membuat langitnya mendung dan bagaimana tuhan membolak balik kenyataan secepat kedipan mata, tiba-tiba saja Heeseung sudah duduk di sofa di hadapan kamera bersama duo podcaster yang cukup ternama di indonesia saat ini.

Acara berjalan lancar penuh canda gurau yang saling dilontarkan kedua sahabat lama tersebut, pertanyaan pertanyaan seperti bagaimana Heeseung masuk ke dunia hiburan pertama kali, dan pertanyaan-pertanyaan kecil seperti apa makanan dan film favoritnya pun ditanyakan dan Heeseung menjawab dengan santai karena suasana yang diciptakan oleh sang duo memang selalu membuat nyaman guest star mereka.

“film terakhir yang lo tonton apaan, Seung?”

“hmm terakhir kayanya nonton Jatuh Cinta Seperti di Film-Film deh, itu nonton sendirian satu minggu abis sidang”

Sidang. Sidang yang dimaksud adalah sidang di meja hijau pengadilan agama bersama dengan suaminya Park Jongseong, Heeseung tidak ingat bagaimana kejadiannya berlangsung hingga mereka harus sampai pada scene duduk di hadapan meja hijau ruangan tersebut, pun entah ini sequence keberapa dalam kehidupannya karena hari itu meski terdapat gemuruh di kepala dan hatinya namun isi kepalanya kosong memproses apa yang terjadi. Jika memang mimpi ia minta untuk segera di bangunkan saja tidak apa jika harus diguyur air bahkan di siram sampai banjir agar ia dapat bangun dari mimpi kelam ini.

Pertanyaan yang dilontarkan Jake berikutnya sedikit membuat suasana ruangan yang tadi penuh tawa itu berubah.

 

“So, how’s life after breakup for you, Seung?”

“Kan kita tau ya lu sama temen gue yang brengsek ini udah kaga sama-sama lagi, mungkin bisa diceritain lah dikit kalo berkenan apa yang kerasa beda setelah ga sama-sama lagi gitu”

“emang lu paling anjing jake” Protes Jongseong.

“lahhh bukan rahasia umum lagi kalo lu brengsek anying”

 

“life after breakup ya…”

“apa ya hahahah”

“ya jelas beda sih, semuanya beda, semuanya ga sama lagi, rasanya kayak apa yang gue jalani sekarang tuh ga utuh. Gue yang dulu apa-apa selalu minta bantuan Jong, mau kemana-mana ngabarin dia dulu, listrik mati gue langsung telfon

“puy listrik mati”

kalo ada yang ngajakin ngonten juga gue langsung ngabarin dia, sebenernya kebiasaan-kebiasaan itu sih yang bikin berat buat gue karena kan udah kebiasaan ya, jadi pas udah ga sama-sama lagi tuh gue harus belajar lagi dari awal caranya membiasakan diri bertumpu sama diri gw sendiri, tapi-“

tanpa sadar air mata telah mengalir di pipinya bahkan sedikit terisak keluar tanpa sadar dari bibirnya karena rasanya luka itu masih perih.

Ingatan-ingatan masa indah itu kembali terputar di kepala Heeseung, bagaimana ia yang selalu bergantung pada ‘papuy’ panggilan sayangnya untuk suaminya- ah mantan suaminya.

puy besok temenin ya ke imigrasi mau perpanjang passport ”

“iya sayang boleh”

“puy ac rusak”

“puy kasur kita bunyi-bunyi”

“puy si miaw sakit”

5 tahun. 5 tahun hidupnya ia gantungkan  pada lelaki tersebut sampai ia tak memliki satu pun tumpuan untuk berdiri di kakinya sendiri lagi.

hiks- tapi ya akhirnya mau ga mau terbiasa atau ga kan harus dibiasain ya- hiks” hisakan tangis yang keluar membuat heeseung terbata saat bicara sehingga harus menarik nafas sebentar dan mengelap air mata yang mengalir dengan tisu yang diberikan oleh Jake.

Jongseong menatapnya dengan patah. Ia menatapnya dengan rapuh dan penuh nanar juga di hatinya, bagaimana lelaki yang ia janjikan untuk selalu ia bahagiakan kini menangis terseduh dengan sakitnya dan ia hanya mampu melihatnya tanpa bisa beri peluk lagi, tanpa bisa hangatkan tubuhnya lagi. Kutuk saja dia Tuhan, dia hamba yang tak bersyukur.

“udah dong Heeseung nangisnyaa kan lo kuat udah ya jangan nangis lagi cup cupp maaf dah pertanyaannya tai banget”

“iya nih siape sih bikin pertanyaan liatin dahh luu yak”

“Pi sini deh pelukin Heeseungnya” jake memanggil suaminya untuk membantu menenangkan heeseung yang masih sedikit terisak.

“ahh gapapaaa ga perluu Hoon udah kok udah udah kelar ini nangisnya hahaha maaf ya gaiss”

“satu yang akhirnya aku pelajarin dari perpisahan kita tuh aku jadi belajar lagi jadi orang yang bertumpu di kakiku sendiri karena ga selamanya orang yang ada di samping kita bakal selalu ada di samping kita, ga usah suami deh, orang tua bahkan kakak atau adek pun kan gitu ya konsepnya, mereka ada tapi mereka ga selamanya, yang selamanya ya diri kita sendiri” Heeseung melanjutkan kembali kalimatnya yang terpotong tadi.

Benar saja setelah perpisahannya heeseung banyak belajar hal baru, mulai dari berdiri kembali di kakinya sendiri, sampai mengurus apa-apa ia biasakan sendiri walau kadang masih harus mau ga mau minta bantuan si papuy tapi pelan-pelan intensitasnya dikurangi, tidak seperti saat mereka masih berumah tangga.

 


 

Mereka akhirnya tiba pada segmen akhir acara tersebut, sebelum closing Jake mengungkit kebiasaan baru Heeseung yaitu menulis di akun instagram khusus menulisnya.

“lo tuh sekarang lagi hobi nulis ya, Seung”

“hahah iyaa nihh iseng aja sih kalo lagi ada ide ya ditulis gitu biar ga lupa dan ilang gitu aja”

“itu lo tulisnya di ig gitu ya”

“iyaaa gue tulis di akun baru khusus buat share tulisan gitu”

“apaan tuh namanya”

 

“sisajejak” itu jongseong yang menjawab.

“iya @sisajejak boleh kalo mau difolloww yaa hehee”

harusnya segmen terakhir ini cukup sampai disini saja tapi Jake malah meminta Heeseung untuk membacakan salah satu tulisannya sebagai penutup acara.

“eh boleh dong Seung satu aja bacain tulisan favorit lo atau bebas deh buat viewers viewers kita atau bahkan followers lo yang nonton ini”

“aduhh hahaha bacain yaa hmm boleh bolehh”

“sebentar yaa”

Heeseung mencari tulisan apa yang harus dia bacakan dan menemukan salah satu tulisannya yang ia buat kala peluk dirinya sendiri malam itu.

 

“Malam Setelah Hari Itu aja ya”

“Malam setelah hari itu rasanya masih sesak, aku duduk sendirian disini, disamping kasur yang biasa kita tempati bersama. Bau mu bahkan masih tersisa, bau yang kadang setiap kau tidur aku resapi dan jatuhkan doa setiap malamnya agar kau selalu bahagia bersamaku” Heeseung membacakan tulisannya. 

“Malam setelah hari itu masih terasa berat, jikalau aku mati hari itu rasanya tak apa, aku ingin mati pada hari sebelum hari itu agar ketika aku mati aku masih menjadi milikmu, aku masih dapat rasakan dekapanmu.

Malam setelah hari itu masih kurasakan air mata tak berhenti mengalir sampai rasanya menghabiskan seluruh cairan di tubuhku dengan bengis dan tak bersisa.

Malam setelah hari itu masih terasa mimpi yang ingin segera aku bangunkan, jika memang ini semua mimpi maka bangunkan aku, bangunkan aku lagi di dekapanmu.

Malam setelah hari itu masih sangat menyesakkan bagiku, tak tau jika bagimu bagaimana”

brengsek sekali si Jake ini, sudah kedua kali saja Heeseung menangis di acara podcastnya kali ini pun ia kembali mengelap air matanya yang mengalir lagi saat membaca tulisannya sendiri tentang ia yang saat ini ada di sebelahnya.

Heeseung melihatnya, tentu saja Heeseung tak buta, ia melihat pria- mantan prianya itu juga ngelap jejak air mata di matanya, entahlah apa yang dirasakannya Heeseung tak tau dan malas mencari tau lagi.

ia permisi sebentar kepada teman-temannya yang masih di ruangan set itu untuk ke kamar mandi membasuh muka dan matanya yang memerah karena air mata. Malu sih ada karena harus menangis disaksikan banyak orang nantinya tapi ya sedikit lega juga dapat menyampaikan uneg-unegnya bahkan melemparkan sedikit kalimat sindiran untuk mantan suaminya itu.

tok tok

“muy masih di dalem?”

“iyaaa bentarr”

Setelah selesai membasuh mukanya dan membalas pesan dari mantan suaminya itu Heeseung membuka pintu kamar mandi dan melihat pria itu berdiri disana sambil menunduk

“hey, mau ke dalem? aku udah nih”

“ah nggakk, mau ngobrol sebentar aja sama kamu” Jongseong mendongakan kepalanya. 

“ohh”

“muy”

“yaa”

“rasanya sama”

“apanya?”

“rasa sesaknya sama muy, ga cuma kamu yang sakit di malam setelah hari itu”

“ohh…”

heeseung bingung harus menanggapi kalimat jongseong bagaimana tapi kali ini terlihat jelas ia berbicara dengan nada sedikit parau dan mata yang memerah karena air mata yang ingin turun tapi kerap ditahannya.

“iya it must be hard for you too ya”

“maaf…”

“maaf muy maaf ak-hiks maaf maaf”

heeseung rengkuh tubuh lelaki itu, ia peluk dan beri usap hangat lelaki yang memeluknya erat itu, ia biarkan prianya itu menangis dengan beribu kata maaf yang diucapkannya, ia hanya bisa beri sebatas peluk yang entah masih terasa hangat atau tidak untuk pria yang direngkuhnya.

“hushhh udah dong kenapaa kamu yang nangis puy, ga semuanya salah kamu ah udah stop minta maaf ya”

Heeseung gigit bibirnya rapat rapat tak peduli jika harus berdarah juga tapi rasanya ia tak mau lagi mengeluarkan air mata untuk ketiga kalinya hari ini, energinya sudah terkuras habis tapi tetap saja air mata sialan itu mengalir lagi sambil tetap beri peluk erat pada mantan suaminya.

Heeseung rindu. Heeseung rindu Jongseong. Heeseung rindu diberi kecup setiap malam, Heeseng rindu diberi peluk seperti ini setiap hari, Heeseung rindu sekali demi tuhan ia rindu.

Namun takdir yang terjadi tak terjadi dengan sendirinya, semua sudah diatur, tuhan beri sakit nanti juga akan diberi sembuh, ia tak tahu kapan akan sembuh tapi nanti pasti akan, bagi keduanya pasti akan temukan sembuh itu.

Saat ini ia cukup nikmati sisa waktu yang ada, cukup nikmati saat masih bisa rasakan peluk lagi dari ia yang pernah dicintainya setengah mati. 

 

Jongseong, aku nggak akan pernah benci kamu. Selamanya nggak akan, walaupun kita selesai disini aku harap kamu selalu temukan banyak bahagia kamu ya, Puy.

Notes:

ib from this : https://youtu.be/lD9NjutOxqw?si=Xw_AQsX2OkgmaLFW