Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-17
Updated:
2024-07-16
Words:
5,671
Chapters:
3/?
Comments:
8
Kudos:
16
Hits:
259

Memento Melody

Summary:

Semua berawal dari rumor "Hantu Ruang Musik" yang terkenal se-SMA Teyvat. Scara mencoba membuktikan bahwa rumor itu hanya isapan jempol belaka, tapi siapa sangka kenyataan yang ia jumpai di baliknya sungguh tak terkira?

Sebuah perjumpaan yang diawali sebuah melodi. Sebuah memento, sebuah kenang-kenangan dari mereka yang dulu pernah dan akan selalu berarti

Chapter 1: Hantu Ruang Musik

Chapter Text

Mereka bilang ruang musik di gedung lama itu berhantu.

Rumor yang beredar di kalangan siswa dan siswi SMA Teyvat mengatakan bahwa, pada sore hari, ketika tidak ada lagi anak-anak yang bermain musik, berkumpul di lapangan, atau bersenda gurau di dalam kelas-kelas yang terbengkalai, akan terdengar suara petikan gitar yang mengalun merdu dari ruang kelas yang seharusnya tak berpenghuni itu.

Suara petikan gitar itu mengalun merdu, sampai orang-orang yang mendengarnya mengira kalau ada seorang murid yang tinggal di dalam kelas itu di sore hari untuk berlatih sendiri

“Tapi ketika dihampiri, ternyata tidak ada siapa pun di ruang kelas yang kosong itu. Hanya ada peralatan musik yang rusak, lemari dan kursi yang hancur terbengkalai, dan suara gitar yang misterius itu pun menghilang….”

Scara bahkan tidak berkedip ketika kisah tak masuk akal berbasis rumor itu selesai.

“Gimana? Seram, kan?” Di hadapannya, Ajax bertanya dan Scara hanya menguap, mencoba menunjukkan pada Ajax bahwa dia sangat tidak tertarik, meski pada akhirnya, seperti yang ia prediksi—Ajax tidak mengerti—pemuda berambut jingga itu malah melanjutkan ceritanya dengan semangat yang sama. “Dan coba denger, deh, mereka bilang suara gitar itu cuma terdengar di malam-malam tertentu, lho! Jadi kalau kita cukup beruntung—atau cukup apes—kita bisa berjumpa dengan suara gitar misterius yang dirumorkan itu!”

Scaramouche membalik lembar buku Soshum-nya yang jauh lebih menarik ketimbang cerita tak berdasar tadi. “Oh, ya? Kamu tahu gitarnya merk apa?”

“H-huh?”

“Suara gitarnya.” Barulah Scara melirik dari balik lembar bukunya, bermaksud mengejek Ajax yang tidak tahu apa-apa. “Suara setiap gitar berbeda, kan? Apa suaranya seperti bass, gitar electric, gitar akustik, atau malah hanya sebenarnya itu suara ukulele tapi kamu mengira suara itu adalah suara gitar, Bocah Tengik?”

“Aaargh, gue tau, lo nggak anggap gue serius lagi, kan, Scara?!” Ajax menuding tepat di hidungnya.

Scara menyingkirkan jari kurang ajar itu dengan mudah dari wajahnya. “Untuk ukuran orang yang bicara omong kosong, kamu cukup berani juga.”

“Gue nggak lagi bicara omong kosong! Banyak yang denger! Saksinya banyak dan rumor itu sudah menyebar cukup lama—

“Mana buktinya?”

Kesal dengan pertanyaannya yang seperti membentur tembok yang bisa bicara, Scara pun menutup buku Pengantar Sosiologi dan Humaniora Menengah miliknya dan menatap Ajax yang melongo tolol.

“Bukti.” Scara menegaskan. “Rumor tanpa bukti hanyalah rumor. Dan rumor adalah omong kosong. Jadi kalau kamu datang dengan menuding wajahku sambil bilang kalau bualanmu tadi bukan omong kosong, artinya kamu punya bukti, kan?”

“G-gue … i-itu…” Ajax mendadak mengedarkan pandang ke sekeliling “Te-tentu aja ada! Tapi kalau gue kasih pun, lo pasti bakalan bantah, pasti! Gue nggak bisa dikibulin, ya!”

Cih.

“Kalau lo segitunya nggak percaya, coba datang dan buktiin sendiri ke ruang musik yang terbengkalai di gedung lama, lo pasti bakal lihat! Lo bakal lihat rumor itu bukan sekadar rumor!”

Scara menaikkan sebelah alis. “Kamu tahu aku akan hantam kepalamu pakai ensiklopedi paling tebal di perpustakaan kalau sampai kamu bikin aku jalan ke gedung lama yang udah mau bobrok itu cuma untuk buktiin rumor gaje yang belum jelas juntrungannya itu, kan?”

“H-hah?! Kenapa mendadak kepala gue jadi taruhannya, deh?!” Ajax mendadak menyesali kata-katanya. “Tapi, oke, gue rela nyerahin kepala gue untuk dipukul sampai benjol kalau memang lo bener ke sana dan nggak ada bukti kalau rumor itu nyata!”

Untuk itu, Scara tersenyum. “Tantanganmu aku terima.”

“Tapi pakai video!” Ajax menambahkan tiba-tiba dan Scara langsung melotot, tapi pemuda berambut orange itu tidak menyerah begitu saja. “Lo  harus bawa bukti video atau pengakuan apa pun yang lo temukan di gedung sekolah lama itu nggak akan gue akui valid! Satu Butterbeer Good Hunter kalau nggak bisa membawa bukti!”

Bukan pertaruhan yang besar, jadi Scara hanya mendengkus. “Segelas Butterbeer. Satu kali, deal.”

“Deal.”

***

Scara dengan cepat menyesali taruhan itu. Tidak peduli jika lawannya Ajax sekalipun, menuruti keinginan bocah sebayanya untuk pergi ke gedung tua SMA Teyvat yang sudah lama tidak dihuni dan lebih mirip reruntuhan dari masa antah berantah, memang adalah gagasan buruk.

Buruk dan kampungan.

Scara menutupi wajahnya dengan tudung jaket kelabunya sepanjang jalann, berharap tidak ada adik kelas yang mengenal wajahnya di balik tudung dan langkah cepatnya atau dia akan malu seumur hidup.

“Kakak kelas tiga, Scaramouche, apa yang dia lakukan di gedung sekolah lama?”

“Apa dia mau membuktikan rumor itu?”

“Mana mungkin! Kamu tau sendiri, dia bukan orang yang gampang percaya rumor-rumor begituan!”

Matilah dia kalau sampai rumor-rumor tidak penting semacma itu tersebar! Dia sudah punya Ujian Nasional yang menjulang menghalangi di depan mata. Ditambah dengan rumor tak jelas semacam ini hanya akan membuatnya frustrasi berkepanjangan.

Jadi dia pun menyusup ke gedung sekolah lama dan memastikan tidak ada yang menangkap basah dirinya.

Ada beberapa area yang ditandai untuk dilarang dimasuki karena struktur bangunan yang memang sudah kelewat rapuh, tapi ruang musik berada di ruangan yang aman dan karena itulah, tidak banyak rumor horor beredar soal ruang musik tua itu.

“Ah, paling juga anak iseng yang nongkrong sehabis jam belajar!”

Begitulah awalnya orang-orang berpikir saat suara gitar itu mulai mengalun secara misterius di sore hari, di tempat yang seharusnya tidak lagi berpenghuni. Tapi kian hari kian kencang saja rumor itu berbunyi karena semakin banyak siswa dan siswi tolol yang mencoba membuktikan kebenarannya.

Dan kebanyakan dari mereka pulang dengan membawa rumor yang berbeda, memperbesar rumor yang sudah ada dan membuat rumor kisah horor itu kian santer di kalangan siswa-siswi.

Sepertinya Scara terkena karma dan sekarang dia harus menanggung akibatnya. Dia harus menanggung giliran yang bahkan bukan terjadi karena ulahnya.

“Ah, sudahlah.” Scara mendebas. “Ayo, kita selesaikan saja ini cepat-cepat.”

Dia mengeluarkan ponsel dan mengecek baterainya. Masih ada. Kamera videonya sudah stanby dan siap merekam. Dia mendongak, melihat papan nama “R. Musik” di atas kepalanya. Tulisan itu masih tergantung rapih dan sejajar di atas tiang penopangnya, tidak seperti kebanyakan nama ruang kelas lain yang sudah hilang. Tapi gaya yang digunakan masih memakai papan kayu dan tinta tulisan emas. Jadul sekali.

Scara mengendap-endap. Tanpa suara. Lalu ia mulai mendengarkan dari luar. Pintu ruangan itu sudah tidak ada, jadi suara apa pun di ruangan itu pasti akan terdengar jelas sampai ke luar tempatnya berdiam sekarang.

Jadi, Scara pun menunggu.

Semenit, dua menit, suara yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Semuanya masih sunyi. Scara sudah menghela napas entah keberapa kali.

Kemudian Scara menggerutu pelan. “Ini konyol sekali…” desisnya. “Seharusnya aku tidak menuruti kemauan bocah tolol itu dan…”

Suara Scara terhenti.

Ketika telinganya menangkap suara petikan gitar dari ruangan musik yang seharusnya kosong itu, seketika tubuhnya membeku.

Oh, sial.

Scara memaki dalam hati dan suara gitar itu pun terus mengalun. Suaranya gitar akustik dan dari jumlahnya, kemungkinan hanya satu gitar yang dipetik. Tapi siapa yang memetik gitar itu dan dari mana? Ruangan itu hanya penuh oleh alat musik yang rusak dan setahu dirinya, sekolah ini tidak pernah memiliki catatan kepemiilkan gitar dalam aset dan perlengkapan ekskul sebelumnya.

Sial. Sial. Sial.

Jadi rumor itu sungguhan adanya?

Gitar itu mengalun setia. Masih dengan nada yang sama. Tanpa sedikit pun nada sumbang. Semuanya sempurna. Tapi karena didengar di kala sunyi, di tempat yang tidak seharusnya, melodi gitar itu jadi terdengar sendu dan menyeramkan. Membuat jantung berdebar-debar dan Scara bukan pengecualian. Ia menelan ludah, mencoba menguatkan hati ketika mengangkat kamera ponselnya dan mulai merekam, mengarahkannya langsung ke dalam ruang kelas yang kosong itu.

***

Scara tidak tahu apa yang ia kira akan ia tangkap.

Ruang kelas kosong dan suara gitar yang mengalun terus tanpa wujud? Atau justru lebih buruk, ia akan melihat penampakan seram dari sosok tak kasatmata di dalam kameranya ketika merekam dan akhirnya memecahkan rumor seram itu?

Yang mana pun, tidak menggambarkan dengan akurat tentang apa yang kameranya dapatkan saat mengintip ke dalam kelas itu.

Bukan suara tanpa wujud, bukan pula sosok menyeramkan.

Tapi adalah sosok seorang pemuda yang duduk di kepala kursi—satu dari sedikit kursi yang masih utuh di ruangan itu—sambil memetik gitar akustiknya dan memainkan nada-nada khidmat tanpa bantuan buku chord atau apa pun.

Scara terpana.

Angin memasuki ruangan kelas itu dan menerbangkan sebagian helai rambut putih pemuda itu, menampilkan wajahnya kepada Scara dengan lebih jelas di pandangan mata.

Pemuda itu mungkin lebih muda. Mugkin setahun-dua tahun lebih muda darinya. Lengkap dengan seragam dan jaket yang disampir ke pundak tanpa dikenakan dengan benar, menutupi badge dan kelengkapan sekolah apa pun yang bisa Scara lihat menempel di bajunya.

Scara hanya bisa melihat rambut putih pemuda itu, sejumput rambut merah di poni kanan rambutnya dan kucir kecil di belakang kepalanya. Pemuda itu memainkan gitar sambil tersenyum. Matanya tidak lepas dari dawai-dawai gitar yang dipetik di tangannya, tampak sangat fokus.

Scara mencoba mengenali lagu yang sedang ia mainkan, tapi gagal. Ia tidak mengenali lagu itu.

Meong

Scara menoleh dan ternyata mereka kedatangan tamu. Seekor kucing abu-abu totol putih datang dan hinggap di ambang jendela yang tidak  lagi punya kaca. Kucing itu duduk dan menguap, lalu tidur dengan santainya di ambang jendela.

“Kamu baru datang hari ini, Tama?” Scara merasa jantungnya hampir melompat. Ponsel hampir jatuh dari tangannya. “Kamu ke mana saja, hm? Aku di sini kesepian menunggumu, Cantik.”

Kucing itu tentu saja tidak menanggapi dan hanya mendengkur malas, tapi Scaramouche justru membeku di tempatnya dan berhenti merekam seketika. Napasnya berkejaran dan jantungnya berdebar. Dia mendekap ponselnya erat di dada.

Oh … OH, astaga.

Apa pemuda itu baru saja bicara?

***

Scaramouche menengok sekali lagi ke dalam sana. Ruangan itu kini dikuasai mereka berdua, pemuda berambut putih dan kucing abu-abu itu. Permainan gitar sang pemuda masih mengalun, tapi ia sudah pindah. Sekarang ia berdiri di samping sang kucing yang masih tidur dengan nyaman di jendela.

Dari balik jaketnya yang tersibak, Scara bisa melihat lambang SMA Teyvat dibordir di sana. Berikut dengan tanda satu pita di dada.

Tunggu, pemuda itu anak sekolah ini juga?

Dan dia anak kelas satu?

Jadi dia … dia bukan hantu?

Kemudian pemuda itu pun bersenandung. Sambil memetik dawai gitar, ia tampak syahdu. “Kamu tau, Tama? Hari ini aku bahagia. Aku bertemu dengan—

DDRRRT!

Scaramouche mengumpat. Dia buru-buru melihat ke ponselnya dan menyadari satu hal gawat—dia belum mematikan mode getar! Astaga!

Di tengah suasana ramai, mungkin mode getar tidak akan terdengar, tapi sekarang suasana sedang sepi, tanpa suara sama sekali, jadi getar ponsel pun terdengar sangat jelas!

Oh, celaka!

Celaka, celaka, celaka! Dia sungguh celaka! Dia harus segera pergi dari sini juga sebelum ketahuan—sebelum pemuda itu memergokinya dan—

“Lho? Ada orang?”

—dan menangkap basah dirinya!

***