Work Text:
Riku selalu mikir kalau cinta pada pandangan pertama itu bullshit. Konsep love at first sight tuh gak bisa Riku terima karena gak masuk diakal—ini menurut Riku ya—karena ya coba deh bayangin, masa cuma tatapan tiga detik doang orang bisa langsung jatuh cinta?
Gak mungkin sih, kata Riku.
Menurut Riku, dibanding jatuh cinta kayanya kata kagum lebih tepat untuk mewakili kejadian seperti itu, misalnya kejadian kita pas-pasan sama orang ganteng atau cantik terus jantung kita tiba-tiba detaknya lebih cepat atau berdesir hebat.
Artinya kita dibuat terpukau, kagum, lagian normal aja jantung berdetak mah kecuali jantung kalian berhenti berdetak meskipun cuma sedetik tuh, saran Riku cepet-cepet deh kalian cek ke dokter bisa aja ada kelainan.
Tapi satu yang bikin Riku penasaran, apasih yang orang-orang pikirin sampai mereka melabeli diri sendiri sebagai seseorang yang pernah merasakan love at first sight? Kok bisa mereka semudah itu jatuh cinta cuma lewat tatapan mata??
Guysss, cinta itu butuh proses. Gak ada sesuatu yang instan, mie instan yang katanya instan aja butuh waktu paling cepat tiga menit saat direbus. Lah ini cuma tatapan mata 3 detik doang, kenapa semudah itu menarik kesimpulan??
Riku... Riku... kamu ada benarnya sih, gak ada yang instan di dunia ini.
Yang Riku gak tahu adalah karma juga datangnya suka instan.
Hari itu hari senin, seperti biasa hari yang sibuk. Jalanan macet sampai Riku butuh waktu empat puluh empat menit untuk sampai di kost Pak Rijal.
Rencananya Riku akan jadi anak kost setelah diusir Bunda dari rumah karena sudah menghilangkan motor sebanyak 4 kali di parkiran, sang Bunda berkata begini "Kamu kost aja deh, cari yang deket sama kampus biar bisa jalan aja daripada kamu pergi naik motor tapi motornya hilang terus."
Ya siapa yang gak kesel, semester satu perkuliahan belum habis tapi Riku sudah menghilangkan 4 sepeda motor.
Awalnya Riku gak setuju, soalnya Riku tahu hidup sebagai anak kost gak seenak itu. Jujur, Riku mengakui dirinya itu kadang pemalas, bersihin kamar aja kalau gak dibentak Bunda gak akan gerak dia. Tapi ya ujungnya Riku luluh juga setelah diiming-imingi uang saku besar oleh Ayah.
Hampir sepuluh menit berdiri di beranda rumah besar dengan plang agak besar bertuliskan 'Terima Kost!' akhirnya Riku bergerak masuk, matahari makin naik daripada kulitnya berubah hitam mending Riku masuk sekaligus mencari rumah pemilik kost yang katanya masih satu kawasan sama kostnya.
"Nyari siapa?" suara itu menghentikan langkah kaki Riku. Merasa pertanyaan itu ditujukan padanya Riku menoleh ke kanan-kiri, mencari sumber suara.
"Di atas!"
Riku segera mendongak ke atas, menemukan seorang cowok melongok di depan pagar pembatas sambil menatap Riku penasaran.
"Nyari siapa?" pertanyaan yang sama kali diajukan. "Rumahnya Pak Rijal di sebelah mana ya?" tapi bukannya menjawab Riku justru balas bertanya.
Cowok di atas pun sama aja, malah memberi tanya yang lain. "Orang baru mau kost ya?"
Riku mengangguk cepat. "Rumahnya yang mana?"
Cowok itu menunjuk ke arah selatan. "Tapi Pak Rijal lagi pergi, nganter anaknya ke rumah sakit."
"Oh oke, makasih infonya."
"Tunggu aja di beranda tengah, ada kursi di sana."
"Oke." dengan itu Riku berbalik dan menggeret koper besarnya ke arah beranda tengah yang cowok tadi maksud, mendudukkan diri di salah satu bangku lalu sibuk dengan ponsel genggam.
Suasana tampak sepi, yang terdengar cuma bunyi kendaraan yang lewat. Di depan kost ada jalan yang cukup besar, sepertinya jalan utama. Kawasan ini jadi wajar kalau banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Sejauh mata memandang pun Riku gak bisa menemukan orang lain, kecuali si cowok di lantai atas yang tadi ngajak dia ngobrol.
Mungkin lagi pada ngampus, begitu pikir Riku.
Riku sibuk scroll grup kelas ketika seseorang lewat di depannya. Riku awalnya gak peduli, toh ia duduk di tempat yang gak menghalangi jalan, tapi orang itu terus mondar-mandir di depannya. Setelah Riku mendongak, Riku familiar sama mukanya.
Ini cowok yang tadi di lantai atas, batin Riku.
Riku sebenarnya gak mau tahu apa yang cowok itu lakukan, tapi karena gerak dan bunyi berisik yang cowok itu timbulkan Riku secara gak sadar mengikuti seluruh gerak si cowok. Kalau tadi Riku lihat cowok itu cuma pakai celana pendek plus kaus biasa, cowok itu sudah ganti ke pakaian yang lebih rapi; celana jeans hitam, kemeja kotak-kotak dan vest berwarna senada. Dari gerak-gerik si cowok, Riku menduga ini orang lagi nyari sesuatu.
"Sorry, lo liat kunci motor gak?" tuh kan bener, gak perlu repot Riku nanya duluan cowok itu udah duluan nanya.
Oh nyari kunci motor, batin Riku lagi. Ia gak langsung jawab melainkan melihat ke sekitar tempat ia duduk, lantas menggeleng. "Gak liat tuh,"
Cowok itu menggaruk kepalanya sambil mendumal. "Duh ilah, ilang kemana lagi itu kunci motor. Kebiasaan banget deh ini kunci motor, ada kakinya apa ya? Kerjaannya ilang-ilangan mulu, kesal."
Gara-gara dumalan agak keras itu Riku hampir menyemburkan tawa, ya kali kunci motor punya kaki????
"Yaudah makasih udah jawab," kata si cowok sebelum melenggang pergi dari hadapan Riku.
Riku tidak mengangguk atau memberi respon apapun. Ia tiba-tiba membeku sendiri. Hidungnya mendadak kembang-kempis bersama dengan jantungnya yang agak berdesir????
Apa-apaan barusan tadi??? Kenapa cowok itu baunya wangi banget???
Riku bukan maniak parfum, tapi hidungnya cukup peka dan sensitif. Cowok tadi... wanginya hampir gak pernah Riku cium. Wanginya tuh kaya wangi baru gitu, mungkin campuran dari berbagai parfum tapi Riku bersumpah wanginya tuh enak.... kayak.... Riku tiba-tiba berharap bisa cium wanginya lagi.
"Hei, Pak Rijal udah balik tuh. Langsung ke rumahnya aja, yang pojok cat warna biru itu rumahnya beliau."
Kaget, Riku hampir menjatuhkan ponsel dalam genggaman. Ia mendongak, melihat cowok tadi tengah menyugar rambut sambil membasahi bibir dengan lidah, sepasang mata sipitnya mengerjap pelan, dan Riku hampir lupa caranya bernapas.
Untuk Riku dunia seolah berhenti berputar secara mendadak, semua hal ia lupakan dan fokusnya hanya ada satu. Cowok yang berkali-kali mengacak-acak rambutnya sambil menggerutu tentang rambutnya yang lemas karena baru dikeramas sering susah diatur.
"Hei, bengong aja nih orang." tepukan tangan keras di depan wajahnya menyadarkan Riku kembali pada kenyataan.
"Hah?"
"Itu dipanggil Pak Rijal suruh ke sana,"
"Oh, iya, makasih." dengan kikuk Riku berdiri dan meraih kopernya, melenggang dengan gerak kaku. Saat melewati cowok itu Riku sengaja menarik napas dalam-dalam, mencoba menghirup wangi yang menguar dari si cowok.
Sampai pada langkah ke sekian Riku berbalik dengan niat ingin bertanya nama di cowok wangi, tapi yang ingin ditanya sudah tidak lagi ada di sekitarnya.
Eksistensinya mendadak lenyap, menyisakan Riku dengan rasa kecewa.
Tapi Riku mendadak sadar. Ia tiba-tiba memukul kepalanya sendiri, "lo abis ngapain bego? Dasar bocah freak!"
"Nak Riku? Udah nunggu lama ya, maaf ya saya tadi antar anak saya ke rumah sakit dulu." tahu-tahu Pak Rijal si pemilik kost sudah berdiri di depannya.
"Oh, iya Pak..." respon Riku kikuk.
"Duduk sini aja deh ya Nak Riku,"
"Iya Pak,"
"Jadi gini Nak Riku, nanti kamar Nak Riku ada di lantai atas ya..." selama Pak Rijal menjelaskan hal-hal yang menyangkut kost Riku berusaha maksimal untuk mendengarkan dengan seksama, tapi apa boleh buat kalau otaknya mendadak blank.
"Ayo saya tunjukin kamarnya ya..."
Dan Riku dengan isi kepalanya yang kosong hanya mengekori Pak Rijal satu langkah di belakang. Saat hendak menaiki tangga, ia bertemu lagi dengan si cowok wangi.
"Loh Yushi gak berangkat kuliah? Udah lewat jam makan siang lo ini," tanya Pak Rijal.
"Ini saya mau berangkat Pak, tapi kunci motor saya ilang."
Oh namanya Yushi....
"Haduh, kamu ini kebiasaan banget ceroboh. Bawa motor Sion aja sana, nganggur, kuncinya di pos."
"Bener nih Pak?"
"Bener, daripada kamu telat. Sana berangkat, hati-hati bawa motornya."
"Siap laksanakan! Berangkat dulu Pak!"
Setelah menyalim Pak Rijal cowok itu melenggang pergi dengan langkah ringan. Sebuah keberuntungan untuk Riku bisa melihat senyum lebar si cowok, tapi..... setelah itu Riku merasakan gemuruh hebat di rongga dadanya.
"Nak Riku ayo—loh muka kamu merah banget, kamu sakit?"
Tangan Riku mencengkeram kaus pada bagian dada.
"Jantung saya ribut, Pak..."
Sedikitnya Riku sadar dan paham, ia baru saja menjilat ludahnya sendiri.
Jam sepuluh lewat tujuh. Tidak terasa hampir dua jam Yushi habiskan waktunya di dalam kamar kost hanya untuk menangisi mantan gebetan yang tiba-tiba announce jadian sama orang lain, padahal enam bulan terakhir Yushi banyak berkorban untuk doi. Oke, mari lupakan orang menyebalkan itu karena kalau dipaksa mengingat lagi Yushi takut air matanya kembali merembes keluar.
Bunyi derit pintu dibuka agaknya mengejutkan Yushi yang semula melamun sambil bersandar pada tangga kost. Saat pandangannya naik Yushi temukan sosok tetangga sebelah tengah memunggunginya untuk mengunci kamar kost, dan ketika punggung itu berbalik Yushi menengadah sambil terus memperhatikan rupa dari tetangga sebelah kamar kostnya.
‘Oh, kok gue gak sadar punya tetangga kost kaya dia?’ adalah batin Yushi yang secara tak sadar terus mengagumi rupa memikat dari si tetangga sebelah kost.
“Jadi pergi gak?” ah, suaranya cukup rendah dan ramah di indera pendengaran untuk ukuran seorang cowok yang tampil kelewat cool.
Bukan tanpa alasan Yushi mengatakan tetangga sebelah kostnya ini cool, lewat dresscode si cowok; celana joger hitam, hoodie polos warna abu-abu dengan topi hitam yang menutupi kepala adalah landasan dasar Yushi tarik kesimpulan.
Sangat berbeda dengan Yushi yang keluar kamar kost dengan celana pendek selutut dan kaus extra size dengan gambar acak yang sudah ia gunakan sejak masa putih abu-abu, tolong jangan menghina kaus yang sudah agak melar ini kesayangan Yushi soalnya.
“Hoi, jangan ngelamun di sini.” jentikan jari di depan wajah seketika buat Yushi tersadar. Cowok dengan celana pendek itu agak kelabakan. “Jadi pergi gak?” tanya si tetangga sebelah lagi.
“Ayo deh,” Yushi langsung menjawab dengan tungkai kaki yang lebih dulu berayun menuruni anak tangga.
“Lo gak kedinginan?” tanya si tetangga sebelah dari belakang. Tangga di kost mereka terlalu sempit untuk dua orang sekaligus makanya Yushi berada dua langkah lebih dulu dari si tetangga yang mengekor di belakang.
“Apa?” respon Yushi sedikit menoleh ke belakang. Yang ditujukan pertanyaan itu menunjuk Yushi dengan dagunya, “pakai celana pendek kaosan doang gitu gak dingin?”
Yushi kembali putar kepala ke depan sambil mengangkat pundak acuh. “Biasa aja.”
Si tetangga sebelah hanya mengangguk dan mereka menuruni tangga dalam diam. Sampai di lounge kost lantai bawah Yushi sengaja menahan langkah untuk menunggu si tetangga sebelah. “Tunggu, kita belum kenalan gue Yus—”
“Udah tahu, Tokuno Yushi kan?” potong si tetangga sebelah. Yushi mengernyit aneh, “lo kenal gue??”
“Gak ada yang gak kenal Tokuno Yushi di sini.” kali ini gantian si tetangga sebelah yang merespon dengan mengangkat bahu acuh, bedanya ditambah dengan bibir yang sedikit maju ke depan.
“Tokuno Yushi, yang paling semangat kalau tiap weekend baris di barisan paling depan kalau senam bareng orang-orang kost di halaman depan. Atau Tokuno Yushi, orang aneh yang sering berantem sama Rejal—kucing liar yang dipelihara Pak Rijal. Atau bisa jadi Tokuno Yushi, si yang paling sering ninggalin barang-barangnya di kamar mandi, lupa angkat jemuran terus—”
Ucapan itu terputus kala Yushi dengan cepat julurkan tangan untuk mencubit bibir si tetangga sebelah. “Gue gak expect kalau lo bakal secerewet ini—anjing, lo kenapa tahu yang buruk-buruk aja sih?!”
Tangan Yushi ditepis sang empunya bibir. “Fakta kan—”
“Bla bla bla! Itu gak bener! Buruan jalan!” Yushi dengan mulut yang mendumal sendiri itu berputar arah untuk kembali berjalan lebih dulu, kalau saja si tetangga sebelah gak menahan tangannya.
“Apa?”
Gak menjawab apapun, orang itu malah melepaskan topi yang dipakai dan yang agak mengejutkan topi itu kini berpindah tempat ke atas kepala Yushi. “Tutupin muka lo, jelek banget soalnya.” katanya sebelum melengos pergi lebih dulu.
Yushi melongo. Otaknya bekerja lambat saat memproses kalimat dari si tetangga sebelah. “Barusan tuh dia terang-terangan ngejek gue jelek gak sih??!” barulah ketika selesai memproses Yushi maksud terselubung ia langsung ambil langkah lebih cepat menyusul si tetangga sebelah yang sudah lebih dulu sampai di gerbang kost.
“Heh! Siapa nama lo?! Enak aja lo ngatain gue jelek??!” sembur Yushi sambil menarik tudung hoodie si tetangga sebelah dengan gak santainya. “Emangnya elo seganteng apa sih?! Kalo gak bisa seganteng Zayn Malik jangan berani lo ngatain gue jelek—”
“Maeda Riku.” pegangan tangan Yushi pada tudung hoodie abu-abu itu dilepas, si pemilik tiba-tiba menatap Yushi kelewat lekat. “Nama gue Maeda Riku,” dan tanpa diminta wajah dari tetangga sebelah yang mengaku bernama Maeda Riku itu terus mendekat hingga sampai tepat di depan wajah Yushi.
“Menurut lo gimana? Gue seganteng Zayn Malik apa enggak?”
Kalau kalian mengira Yushi akan tersipu dan gugup dibuatnya, kalian salah besar. Karena yang terjadi setelah itu adalah Yushi yang menyemburkan tawa tepat di depan wajah Riku.
Wah, Riku bahkan merasakan dengan jelas bagaimana cipratan ludah Yushi mengenai wajahnya sebelum tangan besar itu seenaknya mendorong wajahnya menjauh. Di antara suara tawa keras Yushi—yang menurut Riku agak menyebalkan itu—dia bisa mendengar komentar Yushi berupa, “gak usah kegantengan deh lo! Boro-boro ganteng, jelek!’
Riku mendecih sambil mengusap wajahnya, dia menolak uluran topi yang Yushi beri. “Gak usah, pake aja. Nutupin kantong mata lo yang bengkak sehabis nangis.” cetus Riku yang sukses bikin Yushi terdiam skakmat.
.
Yushi itu tipe orang yang kadang gak mau ngalahan. Apalagi kalau udah menyangkut harga diri, gengsi abis. Setelah diskak dengan satu cetusan gak niat di lounge kostan, Yushi gak bisa berhenti memperhatikan si tetangga sebelah.
Dan Riku gak bego-bego amat untuk menyadari tatap lekat dari Yushi.
“Ngapain sih ngeliatin gue mulu?” Riku sendiri agak kaget kenapa kalimat tanya yang terkesan menyudutkan itu keluar gitu aja dari mulutnya. Mungkin karena terlanjur risih, ya siapa juga yang gak risih kalau lo lagi makan enak tapi diliatin mulu sama orang?? Kan Riku jadi mikir-mikir dulu mau buka mulut dia sebesar apa.
“Makan tuh nasgor dingin lo.” decakan pelan itu akhirnya memutus tatap lekat Yushi.
Cowok yang dari tadi hanya diam sambil megangin sendok akhirnya mengaduk nasi goreng miliknya, padahal seperti kata Riku itu nasi goreng udah dingin gak perlu diaduk lagi juga udah sejuta kali keaduk di atas wajan abang nasgor.
“Gue bukan cowok cengeng.”
Riku hampir keselek, ah enggak, dia bahkan udah terbatuk kecil karena kunyahan nasi goreng yang gak sengaja tertelan sebelum kerongkongannya siap.
Sambil teguk teh tawar dari gelasnya Riku mengernyit bingung, “apaan?”
“Gue bukan cowok cengeng.” kata Yushi lagi, yang lagi lagi bikin Riku tambah mengernyit.
“Penting banget gue tahu?” sahut Yushi. “Korelasinya sama gue apa? Kenapa lo tiba-tiba ngomong kaya gitu?”
“Biar lo gak mikir yang jelek-jelek soal gue,” cemberut, Yushi angkat sendok di tangan cuma buat nunjuk Riku tepat di depan hidungnya; katakan saja si Tokuno sedang sedikit mengancam.
“Ngomong sana sama kaca,” sendok itu di dorong sedemikian rupa oleh Riku, tangan Yushi dibelokkan sampai sendok tadi sekarang berbalik menunjuk hidungnya sendiri. “Lihat setebel apa kantong mata lo sekarang.”
“Iya gue emang abis nangis kok,” Yushi menghela keras ketika menaruh sendok di atas piring nasi gorengnya menyusul sebelah kaki naik ke atas pinggiran kursi, badannya sedikit maju sampai perutnya menempel dengan pinggiran meja pun matanya melotot sempurna.
Riku jadi merasa akan dimakan hidup-hidup.
“Emangnya orang kalo lagi sakit hati, gak boleh nangis?!” tembak Yushi gak santai. Kalau dunia adalah animasi mungkin saat ini keluar uap panas dari telinga juga lubang hidung Yushi.
“Yang bilang gak boleh nangis siapa?” tanya Riku balik.
“Cowok juga manusia, gak ada peraturan yang melarang cowok nangis kan?”
Riku mendesah lelah. “Lo mau cari validasi gimana sih?”
“Gue—”
“Lo sakit hati karena putus cinta? Gak tahan sama sakitnya makanya nangis? Ya gak apa-apa… gak ada yang menghakimi elo seolah lo baru aja melakukan tindak kejahatan paling kejam—”
“Tapi katanya cowok gak boleh nangis, apalagi karena putus cinta.” cicitan dari Yushi mengundang sunyi di antara keduanya.
Bunyi berisik alat masak abang tukang nasi goreng yang kadang disertai dengan bunyi mesin kendaraan yang lewat jadi latar belakang hening keduanya. Riku yang kehabisan kata dan Yushi yang enggan kembali bersuara karena sedikit merasa malu adalah sebab keheningan itu terus berlarut.
“Gue juga sering nangis kalau lagi sendirian.” jujur sejujur-jujurnya, Riku bukanlah orang yang mudah mengutarakan tapi terkadang situasi dan kondisi sering mendorongnya untuk bersikap impulsif; salah satunya adalah melemparkan kalimat yang sering menghantui kepalanya.
“Kadang… kita gak butuh alasan buat nangis kan?” Riku buru-buru menambahkan saat menyadari arti dari tatapan yang Yushi layangkan, Riku agak merasa dihakimi lewat sepasang mata kucing Yushi. “Udahlah, mau apapun sebabnya gak bisa divalidasi kalau cowok itu gak boleh nangis. Kaya yang lo bilang, cowok juga manusia kan?”
Membiarkan gengsinya kalah dengan mudah itu bukan tipikal Yushi tapi sial sekali bocah menyebalkan di depannya ini banyak mengatakan hal benar. Ini menyebalkan tapi Yushi setuju dengan apa yang diutarakan Riku.
“Tapi laki-laki pantang nangis, apalagi cuma karena putus cinta!” tapi yang namanya gengsi itu memang lebih tinggi dari tembok cina. Yushi lepas topi hitam yang menutupi kepalanya untuk ia kembalikan pada si pemilik. “Gue balikin soalnya kalo gue pikir-pikir, topinya lebih pantes nutupin muka kusut lo ketimbang mata bengkak gue!”
“Sembarangan—”
“Udahlah, lo harus mengakui kalo muka lo sekarang ini susah dibedain sama keset welcome!”
Gantian cetusan Yushi barusan membuat Riku skakmat.
.
“Kenalin, gue Tokuno Yushi Ilkom 17.” sodoran tangan Yushi direspon tatapan menghakimi dari Riku; sebelah alis yang menukik tajam disertai dengan tatap heran yang terkesan aneh. Yushi jadi mendengus, “kita belum kenalan yang baik dan benar.”
“Maeda Riku, Arsi 17.” yah, meskipun gak ada gunanya kenalan lagi dengan cara basi kaya gini Riku mau gak mau menyambar sodoran tangan Yushi—dari pada cowok itu makin ngeliat dia dengan tatapan galak mending Riku turuti saja apa maunya.
“Arsi? Oh, pantes…”
“Apa?”
“Suara alarm lo yang disetel lima menit sekali itu berisik banget.”
“Heh, playlist galau lo juga bising banget ya.” sambar Riku gak terima.
“Sewindunya Tulus sounds better daripada suara teriakan bayi yang lo setel jadi alarm!”
“Itu bukan teriakan bayi, itu suara alpaca! Dasar norak!”
“Hell.. apa gak ada ringtone lain???”
“Ck, terserah gue dong mau pake ringtone kaya apa juga—”
“Hape lo mana?”
“Mau ngapain?”
“Mana sini, gue kasih tahu ringtone yang aman buat kuping tapi sukses bikin lo melek!”
Riku jelas menolak permintaan itu, memangnya Yushi siapa seenaknya mengubah ringtone alarmnya?
Riku tuh pria yang punya selera ya!
“Mana anjir—”
“Gak! Gak ada!”
Berakhir dua orang itu terus berdebat sampai tak sadar kaki mereka telah menginjak halaman kost.
.
Setelah hari itu lama-lama ada yang berubah di kost Pak Rijal.
Bukan karena Pak Rijal yang memang sengaja memajang plang peringatan di depan longue supaya penghuni kost gak membuang sampah sembarangan, bukan pula karena cat tembok kost yang mendadak berubah warna jadi oren mentereng atas keinginan Jung Sungchan—anak Pak Rijal si pemilik kost—tidak bukan perubahan yang seperti itu yang penghuni kost Pak Rijal rasakan.
Sesuatu yang berubah itu tidak lain adalah interaksi antara si penghuni paling banyak tingkah dengan si penghuni yang paling ansos.
Awalnya ada Sion yang kaget ketika Yushi dengan santainya menarik Riku duduk agar sarapan bersama di dapur ketika si Maeda jelas-jelas agak terburu mengejar waktu. Di mata Sion saat Yushi yang menyeret Riku di kemeja bagian belakang leher sudah seperti induk kucing yang memindahkan anaknya.
“Gue tuh udah telat—”
“Baru juga jam tujuh, dari sini ke kampus cuma sepuluh menit. Santai, nih mending lo cobain sandwich enak buatan gue.” selanjutnya Sion melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Yushi yang tak pernah menyerah untuk jejalkan potongan sandwich buatannya ke depan mulut Riku.
“Kalian kapan kenalan? Kok gue gak tahu kalau kalian udah seakrab ini?” tanya Sion tiba-tiba.
“Itu sih dianya aja nih, yang sok kenal sok dekat sama gue, Yon.” tuduh Riku sepihak dengan mulut penuh mengunyah sandwich yang tadi Yushi jejalkan.
“Dih, bocah narsis juga!” adalah Yushi yang merespon tuduhan itu dengan toyoran keras pada kepala Riku. Riku yang kaget atau Riku yang terlalu lemah, kepala itu nyaris membentur permukaan meja. Yushi yang panik buru-buru mengucap banyak kata maaf sambil mengelus-elus dahi Riku yang sama sekali tidak terluka.
“Argh! Tangan lo berminyak!” teriak Riku.
“Hah, enggak kok tadi gue udah cuci tangan!”
“Apaan, nih liat muka gue minyak semua anjir!”
“Masa sih? Sorry sorry sini gue lap—”
“Itu tisu bekas Yuushii!”
“Tapi masih bersih nih sebelah sini—”
“Ck, gue cabut deh. Makasih sarapannya, Siyon duluan!”
Sion bahkan gak sempat merespon apapun saking asiknya jadi penonton. Dia justru menarik piring sisa sandwich untuk jadi teman menonton ketika Yushi dengan gak santainya menyusul Riku ke depan gerbang. “Riku hape lo ketinggalan hei!”
“Aduduh… pagi-pagi udah nonton ftv live romansa remaja aja gue…” gumam Sion dengan mulut yang terus mengunyah.
Sejak hari itu eksistensi Riku di antara para penghuni kost lain bukan lagi hal yang aneh. Maeda Riku si penghuni kamar kost nomor 7 yang dikenal anti sosial ternyata tidak benar-benar anti sosial.
Penghuni kost lain mengira Riku orang yang sombong karena hampir tidak pernah berinteraksi dengan penghuni lain, nyatanya Riku tidak lebih dari pribadi receh yang setia tertawa keras bahkan hanya dengan jokes bapak-bapak whatsup.
Yushi pun yang sejak pertama kali berinteraksi dengan Riku sempat mengira orang ini cool, first impression itu lenyap ketika ia tahu kalau Riku tidak kalah ceroboh darinya. Kalau Yushi kerap kali menumpahkan air, maka Riku kerap kali membentur dinding ketika berjalan. Kalau Yushi kerap kali menjatuhkan barang maka Riku lebih parah dari itu, barang apapun yang Riku punya tidak pernah bertahan awet, pasti akan rusak dalam waktu dekat.
Intinya kalau Yushi bego, Riku kadang lebih bego.
Seperti malam itu, hari sabtu malam pukul sembilan kurang sepuluh dua orang penghuni kost yang akhir-akhir ini sering menempel satu sama lain keluar beriringan dari gerbang kost.
Yushi tampak pede keluar dengan pakaian yang warnanya bertubrukan; celana boxer yang ramai dengan gambar patrick dipadu dengan kaus warna ungu janda yang gak kalah mentereng dari cat tembok kost, ditambah rambutnya yang sengaja diikat tunas karena dinilai sempat menghalangi pandangan.
Di sebelahnya ada Riku yang kalau secara penampilan tampak normal, tapi kalau dilihat lebih teliti kalian bisa sadari kalau alas kaki yang Riku kenakan adalah dua jenis yang berbeda. Slipper khas hotel yang berwarna putih pucat tapi sudah tampak dekil di kaki sebelah kanan dan sandal swallow warna hijau yang ukurannya terlalu kecil untuk kakinya yang kelewat besar di kaki sebelah kiri. Rambutnya yang lemes itu sama sekali gak disisir.
Persamaan mencolok dua orang itu adalah wajah bengkak khas bangun tidur.
“Yah tutup…” adalah reaksi kecewa dari Yushi juga Riku sudah rela berjalan jauh ke ujung jalan demi sepiring nasi goreng sedap, tapi ternyata tempat makan favorit mereka itu tutup.
“Mana laper banget anjir,” keluh Riku sambil ngusap-ngusap perutnya yang baru aja bunyi.
“Gue masih ada mie di kost,” kata Yushi langsung direspon cemberut sama Riku.
“Usus gue lama-lama keriting makan mie mulu.”
“Terus gimana? Masih sanggup jalan gak lo?” tanya Riku. “Kalo jalan ke depan lagi ada tukang ketoprak enak,”
“Ayok deh.”
Akhirnya mereka terpaksa berjalan lebih jauh dengan tujuan sepiring ketoprak. Di tengah jalan Riku tiba-tiba melempar cardigan yang sejak tadi ia jinjing ke arah Yushi.
“Apaan nih?” tanya Yushi bingung.
“Pake, badan lo mengigil kan.” kata Riku sambil lalu. Ah, ternyata ada alasan kenapa Yushi selalu keluar pakai hoodie atau jaket, ya karena anak itu tidak tahan dengan dingin. Dan Riku sudah lama menyadari hal ini.
“Punya lo? Tapi kok wanginya kaya parfum Sion??” tanya Yushi sambil membaui cardigan yang baru saja dia pakai.
Riku cuma bergidik sambil lanjut jalan. Yushi gak perlu tahu kalau itu memang cardigan milik Sion yang terpaksa ia pinjam ketika ia sadar Yushi keluar kamar hanya dengan kaus lengan pendek.
