Actions

Work Header

Bincangan Saat Sarapan

Summary:

Desta penasaran dengan suara grasak-grusuk yang terdengar dari ruang kantor sang ayah.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hidangan di atas meja makan sudah disiapkan oleh Indra, wangi menu makanan pada pagi hari ini tercium hingga lantai dua. Dari seberang kebun bunga, terdapat ruangan khusus untuk para servant Eden, pintu tersebut terbuka dari dalam oleh seorang perempuan berambut biru pudar dan mata kuning. Lalu ia berjalan masuk ke dalam lewat pintu dapur, dengan suara halusnya ia menyapa Indra dengan senyuman, “selamat pagi, pak Indra.” Pria yang sedang merapikan alat makan di meja makan itu mengerling kepada perempuan itu kemudian senyum kembali dan menjawabnya, “selamat pagi juga, Kinan.”

Di lantai dua, tepatnya di kamar dengan pintu yang gayanya berbeda sendiri dari pintu-pintu lain di kediaman van Clauster itu, Desta baru saja bangun. Ia beranjak dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi kemudian mencuci muka dan sikat gigi. Tidak jauh dari kamarnya, Eden masih berada di kantornya tertidur lelap karena kelelahan dengan ‘kejadian’ semalam. Desta keluar dari kamarnya dengan wajah yang berseri, kakinya berlari melewati tangga lalu ke ruang makan. Di sana sudah ada Indra dan Kinan yang menunggu tetapi tidak menemukan sang ayah, ia bertanya, “loh? Kirain bapak sudah turun?” Desta bingung, “yasudah, nanti saya bangunin.” Indra dengan inisiatif langsung ke kantor Eden. Satu dua ketukan tidak terjawab apapun dari dalam, tanpa basa-basi, Indra membuka pintu, menampakkan pemandangan yang biasa ia jumpai setiap pagi.

Sekip jelah, kelamaan kalo bangunin Eden

Ketika semua sudah berada di meja makan, mereka makan sarapan mereka dengan lahap. Di pertengahan itu, “pak, kok pas jam sepuluh malem, kok ada suara gaduh dari kantor bapak?” Tanya Desta, ia melahap satu sendok nasi sebelum melanjutkan perkataannya, “bapak ga berantem, kan?” Eden berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaan anak lelaki satu-satunya, sejenak, Eden dan Indra saling bertatapan, lalu menjawab Desta, “enggak, kok. Semalam cuma ngubek-ngubek barang lama karena pak Joseph penasaran.” Itu bukan lah yang sebenarnya, ia tak ingin anaknya mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahui. Desta sudah mendapatkan jawabannya, dahinya mengkerut dan manyun. “Iya, pak Eden keasyikan cerita ke bapak dan ibu Erlingga. Apa suaranya sampai ke kamarmu, Desta? Maaf, ya.” Tambah Indra agar meyakinkan remaja dua puluh tahun itu, Eden menghela nafasnya tanpa suara.

Kinan tertawa dengan bibir yang tertutup, “terus, pak Joseph pulang jam berapa?” Desta bertanya lagi, lalu suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya. “Sekitar jam setengah sebelas, kayaknya.” Eden mengarang lagi, padahal sebenarnya jam setengah satu baru pulang.

Mereka semua sudah selesai sarapan, Eden ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Sedangkan Desta ke halaman belakang bersama dengan kinan untuk mengurusi bunga-bunga yang berada di sana. Indra juga bersiap, ia sudah berada di garasi sedang memanaskan mobil bukan orang. Pagi yang cerah dan menyenangkan ini merupakan sebuah hal yang bisa membuat Eden refresh sebelum berangkat kerja. Senang rasanya ia bisa baikan dengan anak satu-satunya. Sebelum Eden menaiki mobil, pria sudah ubanan itu menemui anaknya di halaman belakang lalu pamit, “bapak berangkat dulu, ya. Yang baik sama kak Kinan.” Ucapnya sambil mengusap kepala Desta dengan senyuman.

Notes:

Cuma ngetes hehe, jadi aku up cerpen ini :D
hmu in twt bapaklodua if u're interested!!