Actions

Work Header

Ah, Indahnya Cinta

Summary:

Dunia amanahkan setumpuk cinta, maka keduanya jalankan cinta sebaik-baik dunia beri mereka cinta.

or: Mark and Haechan love each other very much it's beautiful.

Notes:

hello! this is my first work here aisbsksbjs hope y'all like it tho! visit me on twt @backribcage!

Work Text:

Sebetulnya Tuhan rencanakan seisi dunia untuk runtuhkan air mata pagi ini. Sebetulnya semesta berkabung tumpahkan segala asa di bumi hari ini. Sungguh, bagi mereka yang hidup tanpa cinta, pagi ini dikutuk habis-habisan. Tolol, bodoh, masih pagi sudah hujan. Atau mungkin perkataan jahat seperti, anjing, baru mau kerja sudah hujan.

 

Tapi Mark dan Haechan hidup dikelilingi cinta. Rintik hujan pagi hari ini bawakan mereka setumpuk sayang untuk dibagi satu sama lain. Hembusan angin yang menerpa gorden kamar titipkan mereka kecupan manis untuk mereka nikmati sepagi ini. Rasanya tak habis-habis dunia memuaskan mereka dengan rasa cinta. Sangat indah, sangat suka. 

 

Mark lacak setiap inci wajah kasihnya dari samping. Ah, rasanya seperti ilusi untuk bangun di pagi hari disuguhi makhluk terindah satu dunia— menurut Mark. Hari ini cahaya matahari memutuskan untuk singgah sebentar di bagian dunia yang lain, tapi Haechan tetap terlihat cantik bahkan dengan suara rintik hujan dari luar jendela.

 

Mhm…” Haechan melenguh halus merasakan jari Mark yang menyentuh halus wajahnya.

 

“Pagi, cinta. Hari ini ke kampusnya aku anterin, ya? Hujan deres. Habis itu aku tungguin di kampus.” Perkataan Mark keluar merentet. Haechan diam untuk sesaat karena kesadarannya masih belum sepenuhnya terkumpul. 

 

Mark lanjutkan perkataannya, “eh, aduh, maafin sayang. Kumpulin dulu ya nyawanya, nanti baru jawab. Maaf ya, cantik.” Mark kecup sayang pipi sang kekasih lalu ia rengkuh tubuhnya. 

 

Mel…” 

 

“Iya, sayang? Gimana?” 

 

Sungguh jika Mark tega mengganggu ketenangan kekasihnya, ia akan menciumi seluruh bagian muka Haechan karena Tuhan, kekasihnya itu terlihat sangat menggemaskan dan cantik pagi ini. Dan pagi-pagi lalu. Dan pagi-pagi selanjutnya. Setiap hari. Namun, ia tentu tidak tega untuk membuat Haechan merasa tidak nyaman karena kecupannya nanti. Maka ia putuskan untuk menikmati cantik paras sang kasih dari samping.

 

Mel, tadi ngomong apa? Maaf belum fokus, huhuhu.” Haechan merengek sambil memiringkan badannya ke samping, memeluk tubuh Mark, dan menelusupkan kepalanya di bawah dagu sang kekasih.

 

“Iya, sayang. Nggak perlu minta maaf yaa. Anu, kamu ke kampusnya aku anter naik mobil ya? Hujan deres loh di luar. Nanti aku tungguin deh sampai bimbingannya selesai, gimana?”

 

Haechan tersenyum dalam rengkuh hangat mereka. Aduh, sudah sebaik apa Haechan sampai Tuhan izinkan ia bahagia berada di dalam pelukan penuh cinta milik Mark? Lelakinya tampan. Rasanya masih sama seperti pertama kali ia terkesima oleh rupawannya wajah Mark pada saat ia melakukan sesi wawancara dalam seleksi organisasi himpunan di kampusnya dua tahun lalu.

 

“Kamu nggak kerja?” Tanya Haechan dengan suara terpendam di dada bidang Mark.

 

“Aku izin aja, deh. Hari ini aku mau bohong sakit aja kayaknya, biar bisa seharian antar-jemput pacarku.”

 

Ya Tuhan. Saat Mark berkata seperti itu, dalam pikirannya tertanam khayalan yang gambarkan rasa berkorban Mark untuk dirinya. 

 

Sejak dulu, Mark memang seperti itu. Ia teringat sesi wawancara waktu dulu—iya, yang tadi ia bicarakan—kakak tingkat yang mewawancarai Haechan sebenarnya ada dua, ada satu kakak tingkat perempuan selain Mark yang mewawancarainya. Kakak tingkat perempuannya itu memarahi Haechan habis-habisan, memutarbalikkan semua perkataan dan jawaban Haechan. Saat si kakak tingkat itu memarahi Haechan karena jawaban Haechan, Mark yang pada saat itu duduk di sebelah perempuan itu, dan berhadapan dengan Haechan, bela-bela memundurkan kursinya untuk sekedar memberi isyarat menyemangati Haechan.

 

Atau pada saat Mark rela untuk menerima bentakan senior himpunan sebagai koor divisi saat diadakan rangkaian evaluasi karena kesalahan yang divisi mereka—ralat, Haechan perbuat secara tidak sengaja. Malam setelah rangkaian evaluasi selesai, Haechan menahan Mark di parkiran fakultasnya dan memberikan susu, roti, dan coklat sebagai hadiah dan ungkapan terima kasih atas dilindunginya Haechan dari senior. 

 

“Thank you, ya, Haechan. Lain kali gue ajak juga makan bareng boleh?” Kata Mark waktu itu.

 

Atau pada saat tiga bulan awal mereka menjalin hubungan dimana Haechan membawa motornya sendiri, dan rapat acara memaksanya untuk pulang dari kampus ke kosannya pada pukul sepuluh malam. Mark rela mengikuti motor Haechan dari belakang sampai Haechan sampai dengan selamat di kos miliknya, padahal apartemen Mark itu berlawanan arah dengan kos Haechan.

 

Mark dengan segala aksi berharganya untuk Haechan. Haechan apresiasi lelakinya, Haechan apresiasi kasihnya yang berkorban sedalam itu. Mungkin balasannya belum tentu cukup untuk membalas apa yang lelakinya lakukan, tapi setidaknya, ia berusaha penuh hati untuk balas sang kekasih. 

 

 

Persetan hujan badai di luar, persetan langit mendung di luar, persetan suara petir yang menggelegar di luar. Mark hanya ingin terus berharap agar bumi izinkan ia hidup kekal dengan Haechan. Matanya menangkap sosok sang kekasih yang sedang membuatkannya nasi goreng di dapur, tangan dan badannya begitu lincah bergerak seakan dibuat untuk membuat Mark tambah jatuh cinta— sejauh-jauhnya.

 

“Udah mandinya, Kak?” Haechan menghadap belakang dan bertanya kepada Mark yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.

 

Sembari beranjak mendekati sang kekasih, Mark sampirkan handuknya di leher. Lalu Mark peluk pinggang Haechan dari belakang, ia bubuhkan kecupan hangat di leher Haechan yang dipenuhi konstelasi bintang indah. Sungguh, Mark rasa seluruh Haechan dibuat dengan sangat cantik.

 

“Sudah, cantik. Nasi gorengnya harum banget. Kecium sampai kamar mandi,” puji Mark sambil mencium pipi gembil Haechan.

 

“Iya! Soalnya kali ini aku nggak pakai bumbu instan aja, Kak, aku juga pake mentega biar lebih gurih,” jelas Haechan antusias sambil menata piring mereka di meja makan.

 

“Padahal sesederhana nasi goreng, loh, cinta, tapi kamu bisa bikin nasi goreng ini jadi super special buat aku.” Mark duduk di kursi makan dan menarik kursi di sebelahnya untuk diduduki Haechan.

 

Memang mereka atur dua kursi tersebut agar bersebelahan. Mark rasa ia tidak bisa barang sedetikpun untuk berjauhan dengan Haechan. Makan berhadapan terasa sangat menyiksa, ia tidak bisa rengkuh pinggang ramping sang kekasih dalam posisi itu. Ia hanya bisa mengelus tangan Haechan. Itu tidak cukup. Ia selalu, selalu ingin rengkuh pinggang Haechan, usap surai cokelat muda Haechan, genggam tangan Haechan. Haechan, Haechan, Haechan.

 

“Kak, emang nggak apa-apa kalau bohong? Nanti kalau ketahuan gimana?” Di tengah sesi makannya, Haechan bertanya kepada Mark.

 

“Nggak apa, sayang. Kalaupun ketahuan, ya.. ketahuan. Tapi delapan puluh persen aku yakin kita aman,” jawab Mark. 

 

“Tapi nanti di kampus kamu di mobil aja, deh. Nanti kalau kamu turun terus ketahuan atau ketemu temen kantormu gimana, Kak? Jadi di mobil aja kamunya, ya,” kata Haechan sambil menerima suapan nasi goreng dari Mark. 

 

“Iya, cinta. Udah kamu jangan mikirin aku. Lanjut makannya tuh, masih banyak. Aku tinggal sesuap lagi.”

 

“Ih! Kamu aja makannya kecepetan kayak dikejar setan.” Haechan lanjut makan sambil mencebikkan bibirnya. 

 

Seandainya Mark diberi kesempatan untuk meminta permintaan yang sudah pasti dikabulkan oleh semesta, Mark sudah pasti berdo’a agar setiap momen yang ia habiskan dengan sang kekasih bertahan selamanya. Ia tidak ingin bekerja, ia tidak ingin bangkit dari tempatnya berdiam memandangi setiap sudut tubuh Haechan, ia tidak ingin makan makanan lain selain masakan penuh kasih yang Haechan buat setiap waktu makan tiba, ia tidak ingin apa-apa, dan siapa-siapa. Hanya Haechan.

 

 

Hujan masih deras, jatuhkan segala lara yang sekiranya perlu untuk dilepas bebas. Semesta tumpahkan hujan untuk Mark dan Haechan bagi hangat, bukan untuk ditangisi. Dua anak Adam itu cari celah di segala waktu untuk bercumbu, kecup-kecup mereka layangkan penuh cinta, rasa sayang mereka lemparkan tanpa tahan seakan dunia memang sebebas itu.

 

“Sayang, aku pinjem tangannya boleh?” Mark bertanya sembari menggunakan tangan kanannya untuk menyetir membelah jalanan yang terbilang sepi. Mungkin orang-orang sedang bermalas-malasan karena hujan deras yang mengguyur kota sejak pagi.

 

Haechan dengan senang hati menautkan tangan kanannya dengan tangan kiri Mark yang bebas. Tautannya terasa kekal. Tangan Mark usap penuh sayang punggung tangan Haechan, salur banyak afeksi yang membuncah dalam peredaran tubuh Mark.

 

Mel, menurut kamu bisa nggak ya bulan Juli aku wisuda?” 

 

“Bisa kalau kamu yakin, cinta. Tapi kapanpun itu, aku selalu bangga sama kamu, kok.” Mark bubuhkan kecup di punggung tangan Haechan.

 

“Tapi mama selalu bilang untuk usahain wisuda tengah tahun, tau. Aku jadi ngerasa.. kurang.”

 

“Mungkin itu karena insting orang tua yang memang kadang, terlalu haus akan keberhasilan anak-anaknya. Dan aku akui hal itu kurang bagus, sih. Menurutku, selama kamu berproses kamu patut untuk diapresiasi, sayangku… Tenang aja, ya?” 

 

Mark berkata seakan Haechan adalah kaca mudah pecah. Bisa lebur kapan saja. Haechan bersumpah untuk beri lelakinya kebahagiaan seumur hidup jika ia bisa. Sumpah, demi alam semesta.

 

Belum sempat Haechan tanggapi, Mark sudah mendahuluinya berbicara terlebih dahulu, “cantik, inget ya. Kalaupun nanti dunia hancur, yang pertama aku lakuin itu buat bilang terima kasih ke kamu. Jadi tolong paham bahwa aku akan jadi orang pertama yang apresiasi kamu di setiap capaian kamu, sekecil apapun.”

 

Haechan kepalang pusing disugguhkan cinta sebanyak ini.

 

 

Mungkin langit sudah lelah menghamburkan air matanya dari pagi hingga siang tadi. Malam ini, langit biarkan rembulan mengambil alih suasana. Tenang rembulan menambah kesan romansa pada setiap momentum penuh cinta yang terjalin antara Mark dan Haechan.

 

Setelah melaksanakan bimbingan di kampus, Haechan mengajak Mark untuk membeli beberapa kebutuhan apartemen di supermarket terdekat. Sampai matahari terbenam, mereka berkeliling di supermarket untuk memenuhi bahan pokok di apartemen bersama mereka. Setelah itu, restoran steak menjadi tujuan kedua lelaki tersebut untuk mengisi perut. 

 

Sesampainya di apartemen, mereka memutuskan untuk langsung berbenah diri dan memutuskan untuk membereskan segala belanjaan mereka esok hari. 

 

Di penghujung hari, Haechan tutup tirai kamar tidur mereka dan ia nyalakan lampu tidur yang berada di nakas sebelah kasur. Selanjutnya badannya ia biarkan luruh dalam dekapan hangat lelakinya, ia rasakan bagaimana tangan Mark bergerak naik-turun di punggungnya. 

 

Haechan tinggalkan kecupan manis di dagu, leher, dan turun ke dada bidang kekasihnya yang sedikit terbuka. Lalu Mark menemukan dirinya menghampiri bibir merona Haechan untuk dicium sedalam-dalamnya. 

 

Ngh… Mel… Jangan digigit…” Haechan melenguh. 

 

“Maaf, maaf, maaf. Bibir kamu manis banget, I can't get enough of it, sayangku…” 

 

Haechan pukul kecil dada sang kekasih, “ih! Padahal bisa gak usah digigit, kan lip balm aku juga masih kerasa kalau nggak digigit.”

 

“Aku liat lip balm kamu watermelon flavored, ya? Pantes semanis itu, orang aku suka semangka.”

 

Haechan menarik diri dari pelukan Mark. Mengintimidasi Mark dengan tatapannya, “oh, jadi bibir aku aslinya nggak manis, gitu?!”

 

Mark tertawa kecil. Lucunya, Mark pikir. 

 

“Nggak begitu, sayang… Sini aku cium deh biar lip balm kamu habis. Aku buktiin kalau lip balm kamu habis pun, aku tetep suka bibir kamu.”

 

Mark tarik tengkuk Haechan mendekat, satukan kedua bibir yang mendamba saliva untuk diterima. Mark saksikan wajah merah padam sang cinta di bawah temaram lampu kamar dan tersenyum di tengah ciuman. Bahkan saat bercumbu, Mark masih merasa kagum akan segala kesempurnaan yang tertata rapi pada kasihnya. Bintang-bintang ikut menutupi diri, Mark pikir, mereka saja terkesima dan merona akibat keindahan kasihnya, apalagi Mark yang harus menyaksikan keindahan ini setiap sekon?

 

Rambut hitam legam milik lelakinya Haechan kepal di tangannya, berharap tautan bibir mereka mendalam— hingga tenggelam pun Haechan tak masalah. Bibirnya ia buka, beri Mark akses ke dalam rongga mulutnya lebih dalam. Saliva keduanya bertukar, saling terima, saling kasih. 

 

Keduanya mabuk kepayang dalam cumbuan candu bagai mariyuana. Beri, terima, beri, terima. Hari ini, keduanya habis dicintai sesama. Esok hari, keduanya akan habis dicintai sesama. Selamanya, keduanya punya cinta yang meruah untuk rayakan satu sama lain secara megah. Ah, indahnya cinta Mark dan Haechan rasakan.