Work Text:
Aku tidak bisa menghitung lagi sudah berapa lama aku menghuni tempat ini. Ketika kau sudah terlalu lama meninggal dunia, rasanya konsep waktu semakin lama semakin mengabur.
Sudah lama sekali aku menempati kamar kos kecil ini. Mungkin aku sudah khatam melihat kelakuan-kelakuan manusia yang bermacam-macam. Sampai penghuni baru ini masuk.
Biasanya kamar ini hanya diisi oleh satu orang. Ya mungkin untuk beberapa malam mereka mengajak temannya untuk mampir dan menginap. Tapi kali ini mereka memang menyewa kamar ini untuk tinggal berdua.
“Will, aku yang deket jendela, ya.”
“Ya suka-suka kamu lah.”
“Tumben kamu gak ribut.”
“Oh, kamu mau aku ribut?”
Apalah orang-orang ini. Belum ada lima belas menit mereka menginjakkan kaki di kamar ini tapi sejak tadi kerjaannya cekcok terus menerus. Bahkan barang-barang mereka masih dibiarkan di dalam kardus, sama sekali tidak berniat untuk dirapikan.
Sekarang mereka berdua malah tidur-tiduran di kasur sambil memainkan ponsel masing-masing. Pemuda yang lebih besar terlihat sedang bermain game dan yang lebih kecil seperti sedang berselancar di media sosialnya. Setidaknya tidak ada lagi suara cekcok yang membuat kepalaku pusing.
Oh, tentu saja kedamaian itu tak berlangsung lama.
“Mau makan apa?” yang lebih kecil bertanya.
“Terserah.” Jawaban itu dilontarkan asal-asalan, membuat yang bertanya memutar matanya malas.
“William, ih! Bodo amat ya. Beli sendiri aja.”
Oh, jadi pemuda yang lebih besar bernama William.
“Lego, jangan ngambek, dong.”
Dan yang lebih kecil bernama Lego.
Rasanya aku hanya ingin tahu sampai situ saja. Karena sekarang aku menyesal masih lanjut memperhatikan mereka.
William sudah berhenti memainkan game di ponselnya dan memeluk Lego dengan muka memelas, berusaha untuk membuat teman sekamarnya itu berhenti mengambek.
Eh, kok aku tidak yakin ya mereka hanya teman sekamar.
“Kenapa juga ya aku iya iya aja pas disuruh sekamar sama kamu. Mendingan aku sama Kak Nut tau.”
“Kok kamu gitu sih? Kukira kita paling bestie.”
Oke, jadi cuma bestie?
Lego berusaha melepaskan pelukan William. Tapi tentu saja tidak berhasil karena William malah semakin mengeratkan pelukannya. Ditambah lagi sekarang William mulai menciumi pipi Lego berkali-kali.
Loh, loh? Memangnya ada bestie main cium-cium begitu?
“Will, diem gak?”
“Berhenti ngambek dulu, baru aku diem.”
“Iya, udah. Cepet pesen makanan! Laper tau.”
Lego memberikan ponselnya ke William, membiarkan William memilih makanannya sendiri di aplikasi pesan antar. Tapi bukannya fokus memilih makanannya, William malah menowel pipi Lego beberapa kali hingga sang pemilik pipi mengamuk.
“William, diem gak?!”
“Iya, iya. Pipi kamu lucu tau, aku suka.”
“Udah tau, gak perlu dikasih tau.”
William cengengesan. Lego membuang mukanya sebal.
Setelah mereka selesai ribut soal makanan, akhirnya ruangan kembali sunyi karena mereka kembali ke ponselnya masing-masing.
Ya memang tidak berlangsung lama. Seakan-akan keduanya akan gatal-gatal kalau tidak cekcok dalam waktu lama.
“Udah dateng tuh.”
“Hm.”
“Ambilin lah, Will.”
“Mager lah ini lagi seru.”
“Will.”
“Kamu aja lah.”
Tentu saja Lego tidak mau kalah dan memilih untuk menendang William dari kasur. Anak ini kecil-kecil tapi tenaganya besar juga.
Oke, ini informasi yang perlu dicatat. Jangan macam-macam dengan Lego.
“Iya, Tuan Putri.”
William pun menerima kekalahannya. Ia bangun dari posisi jatuhnya sambil sedikit mengaduh dan berjalan pincang—yang terlihat dilebih-lebihkan—keluar kamar.
“Pesanan datang, Tuan Putri.”
William kembali masuk sambil membawa satu kresek berisi makanan milik mereka berdua. Keduanya duduk di lantai saling berhadapan dengan makanan di depan mereka.
“Makannya pelan-pelan, Leg.”
“Laper.”
Keduanya memiliki kecepatan makan yang jelas berbeda. Lego makan dengan penuh semangat, membuat yang melihat percaya kalau makanan itu benar-benar enak. Sedangkan William makan dengan perlahan, lebih tepatnya kebanyakan bengong sehingga kunyahannya pun lambat.
Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan orang yang makannya lambat. Tapi William ini menyebalkan. Masalahnya bengongnya William ini berarti menatap Lego makan dengan khidmat dan seksama.
Sekali lagi, aku tidak percaya mereka cuma teman sekamar. Minimal William ini diam-diam suka Lego dan terkena friend zone.
Ah, sudahlah. Buat apa juga aku memikirkan status mereka. Orangnya saja tidak peduli, kan? Lebih baik aku tidur dan berhenti ikut campur.
Tapi memangnya bisa?
Alih-alih tidur, aku malah memperhatikan mereka berdua yang sudah tertidur lelap di atas kasur yang sama. Kasur di kamar ini ukuran queen size, cukup untuk menampung dua orang dewasa tanpa harus berdesakan. Tapi mereka berdua memilih untuk merapat dan tidur berpelukan.
Lebih tepatnya William tidur memeluk Lego.
Beberapa kali Lego bergerak untuk melepaskan pelukan William karena kepanasan. Lucu juga kalau dilihat. Sepertinya cukup jelas kalau cinta William hanya bertepuk sebelah tangan.
Lego akhirnya berhasil melepaskan dirinya dari jeratan William dan menggulingkan tubuhnya menjauh ke ujung kasur. William sepertinya merasa kehilangan ketika Lego menjauh karena sekarang ia mulai mengigau tak jelas.
Ketika William kembali mencoba untuk menggapai Lego, ide gila mulai muncul di otakku. Ya mungkin ini akan memakan banyak energi, tapi aku ingin lihat apa yang akan terjadi kalau aku mengerjai dua anak ini.
Aku menahan tangan William yang baru saja mau menggapai Lego, membuat si pemilik tangan itu membuka matanya. Ia mulai panik ketika tak bisa menggerakkan tangannya.
“Leg, Leg!”
“Ungh….”
Panggilan William sama sekali tidak digubris karena Lego masih tertidur pulas. Ia mencoba untuk menggerakkan tangannya lagi dengan lebih kuat.
“Leg, tolongin, Leg!”
Lego masih belum membuka matanya tapi ia menjawab, “Apa sih, Will? Masih malem.”
Lalu Lego lanjut tertidur.
William sudah hampir menangis karena panik dan ketakutan. “Leg!”
Baru saja aku mau sedikit berbelas kasihan padanya, Lego bergerak mendekat ke arah William. Matanya masih terpejam tapi ia dengan tepat dan yakin menarik kepala William ke pelukannya lalu mengelus-elus helaian rambut hitam teman sekamarnya itu agar lebih tenang. “Tidur lagi aja, Will. Gapapa gapapa.”
Oke, aku menyerah. Saatnya melepaskan William dan membiarkan mereka berdua tidur dengan tenang.
Tentu saja di saat aku melepaskan William, tangan pemuda itu langsung bergerak untuk balas memeluk Lego.
Ya, ya, ya, dasar anak muda.
Coba katakan sekali lagi di depan wajahku kalau mereka berdua hanya teman sekamar.
Begitu pagi datang, lagi lagi aku diganggu dengan suara-suara ribut dari mereka berdua.
“Leg, kamu harus denger. Tadi malem aku ketindihan tau! Pasti kamar ini ada setannya.”
Ya, tidak salah. Aku setannya.
“Kamu percaya aja begituan. Kamu kecapekan kali kemaren abis pindahan.”
“Ih, enggak, Leg. Beneran rasanya tanganku kayak ada yang narik gitu. Terus ada bayangan item juga lewat.”
Haha, padahal aku tidak menampakkan diri. Entah bayangan apa yang ia lihat saat itu.
“Makanya jangan kebanyakan planga-plongo, Will. Setan suka yang begitu.”
“Jangan gitu, ah. Nanti aku gak bisa tidur.” William merengek lalu memeluk Lego.
Lagi.
Dan Lego membalas pelukan itu.
Lagi.
Sekarang siapa yang percaya kalau mereka hanya teman sekamar?
Ini sudah saatnya aku menerima takdirku sebagai setan yang akan menggoda mereka agar menjadi lebih dekat.
Mungkin sebutan cupid terdengar lebih baik.
