Work Text:
Jagat raya membentangkan ratusan—atau bisa jadi, ribuan galaksi dengan sebaran bebintangan berkelip, yang kecantikannya hanya dapat disaksikan dari jauh sana. Bunga tidur Ramuda membawanya ke salah satu di keterasingan antah-berantah. Ramuda melihat tumpukan intan; menjejak tanah kering berpasir; menyaksikan kartika merinai jatuh seperti hujan cahaya; dan membaui aroma pekat mesiu yang tersebar di udara.
Dia berdiri di sebuah tempat penuh keajaiban yang tidak pernah disaksikannya di mana-mana. Namun Ramuda hanya merasakan kehampaan belaka. Pemandangan elok yang tersaji di hadapan—tidaklah berarti apa-apa baginya. Yang dia terima sekadar kosong tanpa henti; yang kemudian melubangi hati dan pikiran hingga akal sehatnya menerus digerus sampai habis tak bersisa. Dia sungguh tak kerasan. Ingin sekali rasanya Ramuda kembali pulang ke tempatnya semula bermuara.
Tetapi mesti pergi ke mana?
Berusaha mengingat-ingat kampung halamannya—dan tidak ada satu pun petunjuk yang Ramuda dapatkan.
Ramuda ingin pulang.
Namun dia bahkan tidak tahu ke mana kakinya harus melangkah. Dia berteriak—menangis sampai jantungnya diperas habis sebab hasratnya untuk kembali makin menjeratnya sedemikian sesak.
Dia gila; tersesat tanpa arah sampai menjadi mati rasa. Ramuda terjebak entah sudah berapa lama di labirin pelahap jiwa yang menyamar sebagai planet indah ini. Malam-malam panjang telah dilaluinya melebihi kemampuannya untuk menghitung asa. Ratapannya jauh dibawa embus angin.
Hingga pada satu waktu, ketika bintang berpendar lebih terang dari yang biasa—Ramuda bertemu dengan seorang raja dari siarah yang telah lebur, membawa serta noda darah di kakinya; juga seorang penyamun bertubuh penuh lebam—yang baru saja melarikan diri dari hari penghakimannya. Bersama mereka menikmati komet yang lesat melenting—berbagi sepi yang sama dan sisa pahit dari sebuah kehilangan.
Ketika bintang itu lenyap meluruh ditelan kekosongan malam, Ramuda melihat dua pasang balur sewarna ametis dan batu zamrud berkilau menatapnya. Dia menyaksikan terang—begitu terang dan membutakan, dengan sebuah janji yang menambal celah retak di dalam hatinya. “Kami akan membawamu pulang,” kelakar mereka.
“Ayo kita kembali bersama-sama, Ramuda.”
.
Ketika Ramuda bangun dan membuka mata, hal pertama yang dia kenali adalah mantel kumal hijau tua yang familier di selingkungan. Terdengar pula samar goretan pena dan lecak kertas. Bulu-bulu mantel menggelitik wajah Ramuda menimbulkan sensasi gatal dan tak betah. Namun dia tidak menyingkirkannya. Malahan dengan sengaja ditariknya potongan pakaian itu untuk menutup seluruh permukaan muka.
“Oh, Ramuda. Kamu sudah bangun?” Tanya Gentaro tanpa mengalihkan seinci pun tatap dari tumpukan lembaran genkoyoshi. “Daisu sedang keluar, katanya ada janji dengan Godai-san.”
Ramuda menggeliat dalam balutan jaket, belum sempat memberi tanggapan apa-apa ketika Gentaro kembali berkata. Seperti biasa, nada suaranya lembut sekali. “Beristirahatlah barang sebentar lagi. Nanti akan kubangunkan apabila Daisu sudah kembali.”
Maka Ramuda menurut; bergelung dengan pelupuk terpejam, menikmati pelan bunyi torehan pena sebagai melodi pengantar tidur berselimutkan mantel milik Dice. Rasanya hangat—dan sangat nyaman. Menguar aroma apak matahari dan tembakau yang telah berkali Ramuda baui setiap hari. Aromanya tercium seperti rumah.
Ramuda pikir, kali ini dia telah benar-benar kembali pulang. []
