Chapter Text
Kedua telinganya berdengung.
Bukan karena suara hujan yang kian deras, memenuhi keheningan berat di dalam kamar luas itu. Atau bukan karena ia belum kelelahan, ataupun belum makan malam setelah baru saja melahap steak daging wagyu yang dimasak khusus oleh chef pribadinya.
Detak jantungnya terus cepat, tak memberinya ruang untuk menarik nafas leluasa. Ia ingin merangkak keluar. Ia ingin berteriak. Tapi… tapi…
“Reo? Ada apa, Reo?” Reo mengerjapkan kedua matanya. Kemudian, ia pandang kembali sahabatnya di depan.
“Tidak. Tidak apa-apa. Tadi kau habis ngomong apa?”
Wajah Nagi memerah lagi. Sungguh kontras dari warna kulitnya yang pucat akibat lebih sering bersembunyi di dalam rumah.
“Sepertinya aku sedang jatuh cinta, Reo.” Diam. Untuk kedua kalinya. Hanya ada suara detak jantung tak karuan bergema pada gendang telinga.
Reo berusaha untuk bersikap tenang, tapi sukar sekali baginya untuk bisa mengucap sepatah kata pun dengan detak jantungnya yang mememakkkan. Bibirnya saja begitu gemetar. Tapi ia tak bisa mengatakan semua itu kepada Nagi. Pemuda dengan tinggi badan menjulang dan paras eloknya yang selama ini Reo damba kini terlihat begitu bahagia, pertama kali ia lihat selama tahun-tahun persahabatan mereka. Lalu, seperti bagaimana ia selalu memasang kedoknya, Reo menarik kedua ujung bibirnya dengan lebar. Tangannya yang gemetar bertengger di atas pundak Nagi, mengamati wajahnya dari dekat.
“Wah, Nagi! Tidak seperti biasanya kau seperti ini! A-Aku jadi penasaran siapa orang paling beruntung ini?” Diam-diam, ia berdoa. Agar Nagi tidak menyadari nada suaranya yang rapuh. Agar Nagi tidak menyadari bagaimana nafasnya semakin sesak. Agar Nagi tidak menyadari kedua matanya yang sudah memanas. Dengan ekspresi datar tapi penuh dengan pengharapan itu, Nagi menoleh pada Reo. Sungguh unik bagaimana bibirnya tidak sedang tersenyum tapi pandangannya begitu berkilau. Seperti bagaimana seorang anak kecil menatap mainan kesayangannya. Tapi Reo tahu bahwa tatapan itu tidak tertuju kepadanya.
Lalu mulut sang bersurai mutiara itu terbuka, menghitung mundur akan kehancuran hati Reo sewaktu-waktu.
“Reo kenal dengan Isagi, kan?”
Pertama kali Reo bertemu dengan Nagi adalah ketika mereka masih kelas 2 di bangku SMP.
Pada saat itu mereka sedang dalam pelajaran olahraga. Adalah lumrah bagi dua kelas berbeda untuk bertemu di pelajaran yang sama untuk menghemat lapangan.
Kala itu sedang pelajaran olahraga sepakbola. Tidak banyak siswa yang antusias dengan olahraga tersebut. Mereka hanya berlari dan menggiring bola dengan malas-malasan, menantikan jam istirahat secepat mungkin agar tidak lagi diserang terik matahari.
Hanya Reo yang semangat.
Pada saat itu, remaja empat belas tahun itu baru menyukai sepakbola.
Semua bermula ketika ia tidak sengaja menonton pertandingan piala dunia di tengah sesi belajarnya.
Ketika ia hanya menginginkan suara latar belakang agar kamarnya tidak terlalu sunyi.
Ia ingat bagaimana untuk pertama kalinya seumur hidup, ia menginginkan sesuatu.
Aku ingin bermain sepakbola!
Reo sudah muak dengan hidupnya yang terlalu ‘mudah’. Sedari kecil, ia selalu mendapatkan apa saja dengan begitu gampang.
Kekayaan. Kecerdasan. Ketampanan. Semua bisa didapatkan.
Semua ingin mengenal anak tunggal Mikage, sang pewaris perusahaan terkenal yang menaungi hampir seluruh aspek kehidupan Jepang. Salah satu 10 orang terkaya di sepanjang kepulauan Jepang. Semua upaya akan dilakukan banyak orang untuk sekedar bisa berteman dengannya, bahkan bila harus menggunakan cara ternekat sekalipun.
Oh, ia akan selalu bagaimana ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sang wali kelas menyatakan cintanya pada anak kecil tersebut.
“Maukah kau menjadi pacar Ibu guru?”
Reo tidak polos dan bodoh. Ia jelas tahu apa maksud dari kata ‘pacar’ itu ketika semua temannya masih belum paham. Ia bahkan tidak bisa menghentikan perasaan ‘menjijikkannya’, mengetahui bahwa sejauh ini seseorang ingin mengejar harta Ayahnya sampai harus mengincar seorang anak kecil.
Oleh sebab itu, ia sukar percaya bahwa orang di sekelilingnya bersikap tulus.
Ia hanya percaya pada kedua orang tuanya, dan ba-ya; sang butler pribadi sejak bayi.
Ia tak pernah percaya dengan teman maupun cinta.
Sungguh hidup yang membosankan dan penuh kekang.
Sampai ia bertemu bola.
“Ba-ya, aku mau menjadi pemain sepakbola! Aku akan bermain di piala dunia dan memenangkan Jepang suatu saat nanti!”
Betapa polos seruannya begitu ia menyampaikan pada ba-ya.
“Ba-ya, aku akan memasuki klub sepakbola di sekolah. Lalu, aku akan menghantarkan nama sekolah menuju final turnamen.”
Sayang, sang Ayahanda tidak setuju.
“Jangan konyol. Hanya orang berbakat saja yang bisa menjadi pemain sepak bola. Lebih baik kau belajar bisnis saja.”
Reo menjadi marah. Pasalnya, seumur hidup ia telah berjalan seperti boneka, baru setelah ia menonton sebuah pertandingan sepakbola itulah, pertama kalinya ia merasakan sebuah keinginan kuat.
Sebuah mimpi bisa berdiri di atas podium sembari memegang trofi emas.
Namun Ayah tak mau mengerti. Selayaknya anak usia empat belas tahun yang dihantam oleh realita, ia memutuskan untuk memberontak. Tapi keras kepala sang kepala keluarga jauh lebih kokoh dari yang ia bayangkan.
Kemudian, ia bertemu Nagi tidak sengaja ketika kelas mereka bertemu dalam pelajaran olahraga sepakbola. Ketika semua orang bermain tanpa tenaga, Nagi yang kelihatan seperti tidak ingin berada disana, malah berhasil mencetak gol dengan sangat indah.
Lalu, Reo terpana. Usai giliran mereka berdua selesai, ia langsung mendatangi Nagi dengan wajah riang.
“Kau hebat sekali! Namamu siapa?!”
Awalnya, Nagi enggan untuk membalasnya. Dahulu ia memang seseorang yang dikenal pemalas dan pendiam. Bahkan tak banyak orang ingin mendekatinya, sering kali ia menjadi sasaran bully bagi orang-orang sok, namun gagal berkat responnya yang terlalu pasif serta tinggi tubuhnya yang mencapai 185 cm itu.
Reo tidak pernah menyerah meskipun Nagi terus menghiraukannya. Ia terus kejar pemuda itu; entah di kantin, di kelasnya, ataupun sepulang sekolah. Mudah sekali untuk mencari Nagi, tinggal pilih mana tempat paling sepi.
Satu sekolah sampai membicarakannya, mempertanyakan bagaimana mungkin orang paling populer di sana bisa tertarik dengan seorang paling pendiam di sana. Tapi Reo tidak pernah peduli. Bayangan permainan bola Nagi, yang mengingatkannya pada salah satu pemain bola favoritnya memotivasi dia untuk terus mengejar Nagi.
Lama kelamaan, Nagi mulai lelah sendiri. Ia akhirnya mempersilahkan Reo memasuki lingkup sosial pertamanya. Ia pasrah saja ketika Reo menariknya terus ke klub sepakbola SMP ataupun ketika pemuda kaya itu mengajaknya makan siang ataupun pulang bersama setiap hari.
Lambat laun, tak butuh lama bagi mereka untuk menjadi sepasang sahabat erat. Begitu erat hingga semua orang di sekolah kini melihat mereka seperti perangko dengan surat. Seperti sepasang sepatu. Benar-benar tak bisa dipisahkan.
(Tentu banyak yang iri, tapi Nagi tidak menggubris semua ancaman itu. Reo yang akan terus melindunginya dari perhatian yang tak diinginkan. Ia akan terus mengusir para tukang bully itu agar mereka tak akan pernah berani).
Reo tahu bahwa seumur hidupnya, akan sangat sulit untuk mencari seseorang yang benar-benar tulus mendekatinya. Seseorang yang memandang nama keluarganya, melainkan hanya melihatnya dirinya sebagai ‘Reo’. Seseorang yang tak memiliki motif tersembunyi dan memasang senyum palsu hanya untuk bisa mencicipi bagian dari kekayaan Mikage.
Maka dari itu, ketika ia menyadari bahwa Nagi tak pernah mencari ‘sesuatu itu’ pada dirinya, ia merasa bahagia. Amat bahagia hingga ia menganggap Nagi sebagai harta karun pertama yang berhasil ia dapatkan.
Harta karun yang ia elokkan, harta karun yang ia akan jaga hingga seumur hidup.
Harta karun yang memberinya sebuah cinta pertama pada usia ke lima belas tahun.
Nagi selalu memberinya perhatian yang ia sendiri tak pernah tahu. Ketika orang-orang mencercanya dengan nasehat sok dewasa, Nagi selalu hadir untuk membantunya membawa pergi.
“Maaf, tapi Reo sudah ada janji.”
Padahal mereka sedang tidak ada janji pada hari itu, tapi Nagi selalu tahu setiap kali Reo merasa tidak nyaman.
Nagi yang selalu mendukung mimpi bodohnya tanpa memberinya pandangan ragu.
“Tidak ada salahnya. Toh, pemain sepakbola juga karier yang hebat.”
Nagi yang bergegas menghampirinya dan menghiburnya setelah Reo ketahuan mengisi lembaran karier dengan jawaban 'pemain sepakbola' oleh ayahnya.
“Tidak apa. Kalau mau nangis, menangis saja.”
Lalu, Nagi akan menyambutnya dengan tangan terbuka, memeluknya begitu erat hingga Reo merasa tenang. Sampai-sampai pemuda yang berusaha keras tidak mengenal rasa sentimental itu mulai meneteskan air mata. Tangan Nagi terasa kikuk, tapi tidak apa. Reo bisa menggunakan bahu Nagi sebagai sandaran dan tampungan air matanya.
Ada banyak hal yang membuatnya menyukai Nagi. Dari suaranya yang pelan nan merdu. Atau tatapan matanya yang kelihatan mati tapi mampu memberinya rasa kehangatan. Atau bagaimana ia selalu memeluk Reo dan mengusap kepalanya dengan canggung di kala kesedihan dan kemarahan Reo pada dunia.
Baginya, Nagi Seishiro adalah cinta pertama. Seseorang yang membuatnya tak takut untuk jatuh cinta, bahwa di dunia yang kotor ini pun masih ada satu bunga bersih tumbuh.
Tapi, disaat yang sama, Reo takut.
Ia takut perasaannya itu akan menghancurkan persahabatan satu tahun mereka. Sepanjang durasi itu, ia simpan rahasianya dengan erat. Topeng yang selama ini ia pakai ternyata sangat membantu.
Nagi tak pernah dan tak perlu tahu. Biarlah ia memandang Nagi dalam diam. Biarlah ia tatap wajah Nagi seksama hanya ketika pemuda itu sedang tidur di dalam mobilnya atau di dalam kamarnya setiap ia menginap.
Nagi adalah seseorang yang ia puja dalam bayangan.
Kalau dipikir, betapa naif baginya untuk berpikir bahwa masa seperti ini akan berjalan dalam ketenangan sampai selamanya. Betapa polos ia berpikir bahwa cinta akan berjalan mulus hingga mereka memasuki bangku SMA; ketika mereka akan bertemu lebih banyak orang baru.
Namanya adalah Isagi Yoichi.
“Salam kenal!”
Ia adalah anggota baru klub sepakbola sama seperti Nagi dan Reo.
“Eh? Bukankah kalian berdua adalah pemain duo dari SMP ini yang pernah memenangkan kompetisi se-prefektur?”
Ia berasal dari kelas 1-2, dua kelas sebelah dari kelas Reo dan Nagi.
“Ehm, dibandingkan kalian, aku tidak memiliki banyak pengalaman, jadi mohon bantuannya.”
Penampilan dan sifatnya sangat sederhana. Bahkan tidak ada satupun darinya yang tampak menonjol, lain hal dari reputasi keluarga Reo serta tinggi badan Nagi.
Namun, ketika ia bermain, justru Isagi lah yang mampu mencuri perhatian semua orang.
“Bagaimana mungkin…?” Reo terus menatap Isagi dengan tidak percaya. Pasalnya, selama dua tahun bermain, baru kali ini ia dikalahkan dengan mudah oleh satu orang pemain.
Aneh sekali. Padahal ia selalu mahir dalam membaca gerakan dan trik pemain, tapi Isagi selalu mampu berjalan selangkah lebih maju darinya.
Seperti seluruh panca inderanya bisa membaca semua pemain dalam lapangan itu.
“Kau yakin kau belum pernah ikut turnamen?” Reo mendekatinya dengan nada terkejut, “Dengan permainanmu seperti itu, bukankah kau harusnya masuk ke dalam tim sekolah?”
“Aku sempat ikut, tapi kalah di ronde semi-final.” Isagi mengusap wajahnya yang penuh peluh dengan handuk. “Aku waktu itu merasa frustasi bahkan.”
“Tapi, kenapa?” Kening Reo berkerut dalam, “Apa mungkin kau menahan diri ketika bermain di tim-mu dulu?”
“...bisa dibilang begitu.” Kedua mata Isagi mulai mengarah pada Reo dalam serius, “Aku tidak berani mengerahkan seluruh kemampuanku karena harus mengalah pada tim. Oleh sebab itu, aku merasa senang ketika pelatih di klub ini mengatakan bahwa aku tidak perlu menahan diri demi ‘kerjasama’ tim.”
Pemikiran yang begitu hebat dan unik. Bahkan Reo sendiri pun tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Selama ia bermain, ia hanya berfokus pada kemenangan dan Nagi. Ia belum pernah berada dalam situasi dimana ia dihadapkan oleh kekalahan, setidaknya sampai bertemu dengan Isagi.
Di luar dari penampilannya yang sederhana, Isagi ternyata memiliki bakat terpendam juga seperti Nagi.
Rupanya, bukan hanya Reo yang terpesona dengan Isagi.
Reo tak akan pernah lupa dengan tatapan Nagi yang tak pernah lepas dari Isagi setelah ia melihat penampilan bola Isagi yang cemerlang. Gemilangnya begitu berbinar hingga ia tampak seperti orang lain, seperti bukan Nagi Seishiro yang menganggap semuanya monoton.
“Reo, orang itu hebat sekali, bukan?”
Karena Reo merasa hal yang sama, ia mengira ia memiliki satu pemikiran dengan Nagi.
Betapa terkejutnya ia ketika Nagi tiba-tiba meminta bantuannya untuk meminta nomor Isagi.
“Tidak biasanya bagi kau untuk meminta nomor dan ID LINE seseorang.” Reo merapikan seragam sekolahnya setelah berganti, “Kau bahkan tak pernah memintaku sampai aku sendiri yang kasih.”
Nagi tidak menjawab. Ia hanya bungkam sembari berganti baju.
Dengan kemampuan komunikasinya yang terlatih dari dulu, Reo berhasil meminta ID LINE Isagi tanpa dicurigai. Ketika Nagi juga mendapatkannya pula, samar-samar ia menangkap reaksi sahabatnya.
Nagi yang selama ini terus menunjukkan ekspresi monoton, kali ini ia tampak hidup dengan kedua pipinya yang bersemu merah serta rekah senyum kecil yang jarang terlihat.
Eh?
Sejak itu, Reo terus mengamatinya, tapi ia tak berani curiga. Ia terus menepisnya seperti orang denial. Nagi sendiri belum bercerita apa-apa. Interaksinya dengan Isagi terlihat biasa, meskipun kadang kala ia terus meminta Reo menemaninya.
Barulah setelah beberapa bulan, setelah mereka sudah berteman akrab dengan Isagi, Nagi mengucapkan sebuah pengakuan di dalam kamarnya yang besar itu.
"Ketika aku bertemu pandang dengannya, jantungku berdebar kencang. Ia membuatku merasa aneh, Reo."
Nagi mencengkram bajunya dengan erat, seolah ia sedang berusaha mencegah jantungnya berdetak tak karuan.
"Rasanya seolah aku ingin lebih mengenalnya. Aku ingin menggapainya. Aku ingin menggenggam tangannya, memeluk tubuhnya, lalu menjaga dirinya selayak milikku."
Wajahnya semakin merona merah. Bahkan ekspresi datarnya lenyap, digantikan oleh pandangan lembut yang tak pernah ia lihat.
"Setiap kali ia berbicara dengan gadis lain, aku merasa cemburu, Reo. Aku ingin memilikinya. Tapi di saat yang sama, aku takut dengan perasaan egois yang tak pernah ku alami ini.”
Egois? Seorang pasif seperti Nagi memiliki keegoisan?
“Aku boleh mencintainya kan, Reo?”
Dada Reo terasa begitu sesak.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa Nagi bisa mencintai Isagi?
Padahal mereka baru mengetahui satu sama lain selama beberapa bulan.
Padahal mereka baru berteman.
Apa yang dimiliki Isagi hingga Nagi memandangnya?
Reo baringkan tubuhnya di atas kasur, dengan kepalanya tenggelam ke dalam bantal. Ia berusaha untuk menarik nafas, namun yang ada dadanya terasa lebih sakit.
Kepalanya menjadi begitu pusing.
Bagaimana mungkin dua tahun ia memendam rasa pada Nagi, hanya untuk berakhir dikalahkan oleh seseorang yang baru mereka kenal?
Bagaimana mungkin ia, yang sudah bersahabat dengan Nagi selama tiga tahun dikalahkan oleh seseorang yang baru menjadi teman?
Ia merasa frustasi, ingin lemparkan bantal pada sembarang arah. Tapi Nagi sedang berbaring di sebelahnya, menginap di rumah Reo tanpa merasa bersalah setelah menghancurkan hati pemiliknya.
Kesal, tapi sama siapa?
Bukan salah Isagi Nagi memutuskan untuk menaruh rasa padanya. Bukan salah Nagi pula untuk mencintai orang lain.
Selama ini, Reo lah yang bersikap seperti pengecut hanya karena ia tak ingin kehilangan sahabat serta cinta pertamanya.
“Reo, kau akan menemaniku ke kelas Isagi, kan?”
Reo berharap wajahnya yang kusut itu tidak diperhatikan oleh Nagi. Ia berusaha untuk bersikap santai sembari merapikan seragam Nagi di depan cermin kamarnya esok pagi.
“Kau kan sudah kesana beberapa kali. Kenapa tidak sendiri saja?”
“Habis, aku gugup berbicara dengannya.”
Astaga. Padahal Nagi bukan seseorang yang kerap memikirkan kata-katanya karena malas.
“Kalau kau terus membawaku, yang ada perkembanganmu dengan Isagi tidak akan maju-maju. Lagipula kalian sudah berteman hampir setahun, bicara saja dengan santai. Kalau kau takut, aku akan berdiri jauh darimu mengawasi.”
Nagi hanya mengangguk. Setelah memakai seragam dan sarapan buatan chef pribadi, mereka menaiki mobil Reo dan melaju ke sekolah.
Nyatanya, Reo hanya berani mengawasi dari ambang pintu kelas, berpura-pura tertarik pada obrolannya dengan teman sekelas sembari kedua matanya sesekali melirik pada Nagi.
Di depan kelas 1-2, Nagi tampak begitu gugup berdiri di hadapan Isagi.
“Oh, Nagi, rambutmu masih belum disisir.” Isagi meninjit kedua kakinya sambil merapikan rambut Nagi dengan satu tangannya.
Ah. Bagaimana mungkin Reo bisa lupa menyisir rambut Nagi-
“Te-Terima kasih.” Wajah Nagi tampak begitu merah dan sekujur tubuhnya membeku. Pasalnya, ia menjadi begitu dekat dengan Isagi hingga bisa mencium aroma parfum dari bajunya.
Nagi, kau harusnya berterima kasih pada Reo yang lupa memperhatikan penampilannya karena tidak fokus memikirkan cintanya.
“Ehm, Isagi…” Nagi mengusap lehernya dengan canggung usai Isagi kembali menjauh darinya, “Kau ingin makan siang denganku?”
“Oh?”
“Ma-Maksudku dengan Reo juga.”
Isagi mengangguk. “Kebetulan aku ingin menceritakan tentang pertandingan semalam. Kau nonton juga, tidak? Semalam ada pertandingan tim-”
Pemandangan macam film romansa seperti apa ini? Reo tidak bisa fokus lagi dengan pembicaraannya pada teman sekelas. Tatapannya terus tertuju pada Nagi yang kini tengah menatap Isagi dengan pandangan penuh idaman sambil mendengarkan suara merdu dari lelaki di hadapannya itu.
Karena Nagi sudah mengatakannya, Reo terpaksa menemani mereka berdua makan siang bersama di atas atap sekolah. Tidak banyak orang berada di sini karena dinginnya angin musim gugur.
“Kau kedinginan tidak, Isagi?”
Isagi menggelengkan kepalanya. “Aku malah menyukai cuaca yang se-adem ini.”
“Kalau kau kedinginan, bilang saja. Nanti kita bisa makan di dalam atau kau bisa meminjam jaketku.”
Isagi melepas sebuah tawa yang manis. “Aku akan tampak kebesaran dengan jaketmu.”
Wah. Reo bisa membayangkan jantung Nagi pasti berdetak begitu kencang hingga ingin meledak.
“Oh, ngomong-ngomong, Reo, kau menonton pertandingan semalam tidak? Pemain nomor 11 keren banget!”
Ah. Melihatnya bersemangat seperti seorang anak kegirangan melihat idolanya, membuat Reo tidak bisa membencinya. Mereka berbagi hobi dan kegemaran yang sama. Bahkan hanya Isagi yang ia bisa tukar pikiran mengenai strategi bola dan semacamnya. Dan kalau dilihat lagi, Isagi-
"Ia terlihat manis sekali, bukan?"
Reo hanya mengangguk. Langkah kakinya menjadi lambat. Kotak makan yang sudah kosong itu terasa begitu berat pada genggaman tangannya. “Iya, manis.”
"Apalagi ketika dia makan, mulutnya berantakan oleh remah-remah. Rasanya ingin mengelap bibirnya, atau mengecupnya. Aku tak pernah tahu melihat orang makan bisa membuat hati berdebar-” Nagi seketika berhenti berjalan tatkala menyadari sesuatu. “Oi, Reo…”
“Hm?”
“Kalau kau berpikir untuk merebut Isagi dariku, jangan harap.”
Hah. Reo hanya bisa menghela nafas.
“Tenang. Aku tak akan.” Langkah kakinya semakin melambat hingga akhirnya terhenti dengan sendiri.
Nagi menoleh ke belakang ketika menyadari bahwa ia tak mendengar suara tapak kaki sahabatnya lagi. Lalu, ia berbalik badan mendekatinya.
"Reo, kau kenapa?"
Reo menggelengkan kepalanya, "Aku hanya merasa pusing saja."
"Kau ingin aku temani ke UKS?"
Reo kembali berkata tidak. Dadanya menjadi begitu sesak setelah mendapat perhatian sedemikian baik dari sahabatnya.
Seandainya ia melihat Reo sama seperti bagaimana ia melihat Isagi.
Tahun ajaran baru sudah dimulai dan perasaan Nagi pada Isagi semakin menguat. Reo sudah menggarap sebagai malaikat cupid sahabatnya sendiri. Ia yang membantunya berbicara atau mengajak pergi. Ia yang merekomendasikan kado apa yang bisa diberi ke Isagi setelah mengetahui bahwa ulang tahunnya sudah lewat hampir sebulan.
Lambat laun juga, hati Reo semakin hancur dihadapi realita di hadapannya.
“Nagi itu suka dengan Isagi, ya?”
Dan pertanyaan cuek dari adik kelas barunya ini membuat hatinya semakin diremuk dari dalam.
"...Kau harusnya memanggilnya dengan sebutan ‘kakak kelas’ tahu.”
Chigiri mengangkat kedua bahunya. “Tampangnya kelihatan jelas. Aku malah terkejut Isagi tidak menyadari dua mata penuh cinta itu.” Kemudian ia menegak botol minumnya.
Reo menghembuskan nafasnya dengan berat. Sekarang fakta bahwa Nagi menyukai Isagi sudah menjadi rahasia umum di ruang klub. Bahkan sang murid kelas 1 yang baru masuk, Chigiri saja bisa menyadari.
“Menurutmu, Isagi itu seperti apa orangnya?” Tatapan Reo kini jatuh pada sesi latihan pertandingan di hadapannya, tepatnya pada Isagi yang kini sedang menggiring bola ditemani Nagi di sampingnya.
Sontak, Chigiri menoleh. “Oi, oi, jangan bilang kau-”
“Ini tidak ada hubungannya dengan rasa suka. Aku hanya penasaran.”
“Hmm…” Chigiri menaruh botol minumnya di atas bangku penonton. “Dia kelihatan biasa saja tapi ternyata hebat dalam bermain.”
Reo mengangguk.
“Orangnya baik dan rendah hati, tapi kalau sedang bermain kadang kala mulutnya tidak bisa dikontrol.”
Seketika Reo tertawa kecil. Terkadang kalau pertandingannya sedang seru, Isagi bisa bersikap sangat kompetitif dan tidak segan mengeluarkan kata kasar pada pemain yang menurutnya ‘susah dikalahkan’. Isagi sendiri pernah reflek mengutuk Nagi karena susah sekali memecah formasi ofensifnya, tapi Nagi malah senang bisa dicerca seperti itu dari orang kesayangannya.
“Kau tidak dengar saat dia mengutukku, Reo? Dia terdengar imut sekali.”
Cinta memang bisa membuat orang setengah sadar.
“Kelihatannya dia memiliki sahabat di luar sekolah. Aku sering sekali mendengarnya menyebut nama itu.”
“Oh, kalau tidak salah namanya Bachira, bukan?” Reo memeluk kedua kakinya. “Dia pernah ingin mengajak kami bermain bola bersama Bachira. Kurasa sebulan lagi mungkin akan bertemu.”
“Aku penasaran seperti apa permainannya.” Chigiri menaruh kedua tangannya di belakang agar ia bisa menyandarkan punggungnya sedikit ke belakang untuk melihat langit. “Kalau Isagi saja sudah sehebat itu, mungkin Bachira juga.”
“Hm.” Pandangan Reo kini tertuju pada Nagi yang sekarang sedang menerima operan bola dari Isagi, lalu menendangnya ke arah gawang dengan teknik gemilang. Wajahnya menjadi mendung.
“Chigiri, menurutmu, apa permainanku cukup dengan Nagi?”
“Hah? Maksudmu?”
“Aku selalu merasa Nagi begitu cocok dengan Isagi hingga aku tak merasa punya tempat.” Reo menekan pelukan kedua lututnya itu. “Apa jangan-jangan selama ini aku tak pernah cukup untuk Nagi? Buktinya, Nagi jadi semakin hebat setelah bermain dengan Isagi, bahkan pelatih selalu memujinya.”
“Hei, jangan ngomong seperti itu.” Chigiri menepuk punggungnya. “Kau cukup hebat, kok.”
"Tidak."
"Untuk seorang pelajar hebat, kau berhentilah merasa rendah. Kalau membandingkan stamina kalian, punyamu lebih baik darinya. Lagipula, kau jago dalam meniru teknik. Permainan Nagi yang susah itu saja kau bisa mempelajarinya dengan mudah.”
Itu karena Reo sering memperhatikan Nagi. Ia pula yang memperkenalkan Nagi pada sejumlah teknik. Tentu saja Reo akan sangat mudah untuk mempelajari permainan Nagi.
Reo kembali meminum air putihnya. Ketika ia menurunkan botolnya, suara peluit dibunyikan, menandakan berakhirnya pertandingan. Nagi berlari menuju Isagi dan mengulurkan tangannya, mengajaknya tos, sesuatu yang ia jarang mulai bahkan dengan Reo sendiri. Ketika Isagi memberinya sebuah seringan lebar, Nagi tampak begitu senang meski wajahnya tak dihiasi senyum.
Tarikan nafas Reo menjadi sukar.
Padahal, Nagi selalu bersikap apatis setiap kali Reo memujinya. Ia hanya diam menerima usapan tangan Reo, jarang menunjukkan wajah secerah itu.
Itu karena kau bukan orang ter-spesial di hidupnya.
"...Kau tahu?" ucap Chigiri dengan pandangan kasihan, "Kau bisa menceritakannya padaku juga kalau ada apa-apa."
Reo hanya tertawa hampa, "Aku tak mengerti maksudmu."
"Aku serius, Reo."
Memandang tatapan Chigiri hanya akan membuat kedua matanya ingin menangis, oleh sebab itu ia alihkan dengan mengacak rambut Chigiri.
"Oi!"
"Maaf, tapi aku hanya merasa geli melihat wajahmu menjadi seserius itu."
“Reo.”
Sontak, Reo berhenti bergerak. Dialihkan pandangannya pada seseorang yang baru datang di depannya.
“Aku haus," ucap Nagi. “Minta minum.”
"Kenapa tidak minta saja sama Isagi?” Reo segera melempar botol minumnya pada Nagi.
"Punya dia baru habis.”
“Wah, padahal ada kesempatan ciuman tidak langsung.”
Mendengar gurauan Reo itu, wajah Nagi seketika menjadi merah. Ia acak rambut Reo sebagai balas dendam, tanpa tahu bahwa aksi dadakan nya itu membuat jantung Reo berdetak kencang.
“Hoi!”
“Balas dendam.” Di sampingnya, Chigiri malah tersenyum licik.
“Ngomong-ngomong, Isagi mengajak kita bermain bola bersamanya di lapangan taman hari sabtu. Kau bisa ikut?”
Reo menengadahkan kepalanya untuk menatap Nagi. Tangannya berusaha merapikan surainya yang kini berantakan.
“Bisa.”
“Aku tidak diajak?” ujar Chigiri.
“Tentu saja kau diajak.” Nagi menoleh pada adik kelas tersebut. “Kau sudah menjadi anggota komunitas pertemanan kami.”
Lebih tepatnya komunitas mendukung percintaan Nagi agar berhasil. Reo menghela nafas di dalam hati.
“Tapi kalau kau memanggil kami dengan imbuhan kak.”
“Hah?”
“Aku bercanda,” ucap Nagi dengan suara tidak bersalahnya. “Kami juga tidak terlalu peduli dengan konohan, kok.”
Ketika Nagi sudah pergi membawa botol minum Reo ke lapangan untuk mengejar Isagi, Chigiri mendekatkan dirinya pada Reo.
“Sekarang aku juga menjadi mak comblang mereka berdua sepertimu.”
Reo tidak membalas apa-apa. Di dalam hatinya, ia hanya bisa menghembuskan nafas berat untuk ke seratus kali sambil mengutuki hidup.
Sepulang sekolah di hari Jumat, Nagi tiba-tiba mengajak Reo untuk menginap di apartemennya.
“Apa?!”
Nagi mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau begitu terkejut? Bukankah kau sering menginap di rumahku dulu?”
“Iya tapi…” Siapa pula yang tak terkejut diberi kesempatan untuk tidur di rumah orang yang disukainya? “Ini baru pertama kalinya aku menginap di apartemenmu.”
“Oh, iya. Reo baru berkunjung saja. Padahal sudah setahun aku tinggal disana.”
Soalnya kau lebih sering menginap di rumahku. Reo memutuskan untuk menyimpan fakta itu saja di dalam hati sembari berusaha merendam warna merah pada wajahnya. “Kenapa tiba-tiba kau ingin mengajakku menginap?”
“Hm, aku ingin meminta bantuanmu memilih baju untuk besok.”
Ah, iya. Besok kan mereka mau bertemu dengan Isagi di jam luar sekolah.
“Dasar. Kalau tidak ada aku, akan jadi apa kau?” gerutu Reo sembari membuka pintu mobilnya.
Nagi hanya memasuki mobil dengan diam.
“Ba-ya, tolong minta pelayan siapkan baju untukku. Hari ini aku akan menginap di tempat Nagi,” pinta Reo pada supir sekaligus pelayan pribadinya, Ba-ya.
“Baik, tuan muda. Akan saya beritahu.”
“Benar-benar seperti tuan muda…” gumam Nagi. Bahkan setelah bertahun-tahun berteman dengan Reo ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya pada kasta sosial Reo yang begitu tinggi.
“Aku berharap apartemenmu bersih untuk mengesankan tuan muda ini, Nagi,” balas Reo dengan gurauan.
“Baik, bos.”
Rumah Nagi sebenarnya bukan berada di pusat kota Tokyo. Untuk bisa mencapai sekolah SMP-nya dulu, ia perlu menaiki kereta api sebelum menaiki bus. Kadang kala Reo menawarkan untuk mengantarnya, tapi begitu mengetahui anaknya malah merepotkan orang lain, orang tua Nagi bersikeras menolak.
“Tidak apa. Dia sudah terbiasa, kok.”
Kedua orangtua Nagi adalah keluarga yang sangat santai. Ayahnya adalah seseorang yang pendiam, sementara Ibunya lebih banyak berbincang, tapi ia jua tidak se-cerewet Reo. Mereka sering berangkat dinas ke kota lain sehingga Nagi selalu ditinggalkan di rumah. Oleh sebab itu, dulu Nagi kadang kala mengajak Reo menginap di rumahnya.
“Aku ingin menunjukkan game baru ke Reo sekalian.”
Setelah ia beranjak enam belas tahun, Nagi sudah diperbolehkan tinggal sendiri di sebuah apartemen dekat sekolah sehingga ia tidak perlu lagi menaiki kereta api ataupun merepotkan Ba-ya.
Bagaimana untuk mendeskripsikan apartemen Nagi? Dibilang berantakan juga tidak begitu mengingat barangnya tidak banyak. Kotor juga tidak karena menurut Nagi, Ibu-nya memperkerjakan seseorang untuk membersihkan rumahnya tiga kali seminggu.
Kosong. Ya, lebih tepatnya kosong. Ketika Reo pertama kali berkunjung ke rumah Nagi, ia terkejut melihat betapa sedikit barang-barang yang dimiliki Nagi, bahkan kulkasnya saja kosong.
“Nagi! Bagaimana kau bisa hidup seperti ini?!” ujar Reo dengan syok melihat isi kulkas Nagi yang hanya berisi roti berjamur dan minuman kaleng.
Lalu, keesokan harinya, Reo kembali datang untuk mengisi kulkas Nagi dengan makanan beku dan bahan pangan yang bisa disimpan lama seperti ayam ataupun daging. Tak lupa ia juga membelikan beberapa dekor rumah dan baju serta perlengkapan rumah untuk Nagi.
“Biar apartemenmu lebih kelihatan seperti rumah sungguhan.”
Tentu saja, berkunjung dan menginap adalah dua hal yang berbeda karena ini berarti bahwa Reo akan memasuki lingkup intim Nagi selama seharian penuh.
Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan kencang.
“Lihat, Reo. Apartemenku tidak begitu berantakan.”
“Mungkin karena antara kau malas memindahkan barang atau kau lebih sering menginap di rumahku,” balas Reo sambil menaruh ransel berisi baju-baju untuk menginap nanti.
“Soalnya Reo punya PS terbaru.”
Reo menatap sekelilingnya dengan pandangan yang sengaja ditekannya agar girangnya tidak diketahui. Aneh sekali. Padahal dia sering berkunjung ke rumah Nagi, tapi baru kali ini ia merasa begitu gugup.
“A-Aku akan tidur dimana, Nagi?”
“Di kamar tentu saja.” Nagi berjalan menuju kamarnya dengan santai, tak mengetahui bahwa kini wajah Reo berubah merah padam. Ia lalu membuka lemari pakaiannya untuk mencari futon-
“Ah…”
“Ada apa, Nagi?” Reo sudah memasuki kamar Nagi dan berdiri di belakangnya.
“Aku lupa kalau aku tidak ada futon.”
“...” Reo tak tahu seperti apa raut wajah yang ia tunjukkan sekarang.
“Hm…” Nagi melihat sekelilingnya, “Paling kau tidur saja denganku-”
“Hah?!” Ini sepertinya sudah kedua kali Reo hampir kena serangan jantung.
“Eh? Kenapa? Bukankah kita sering tidur di ranjang bersama?” Mana dengan rasa enggak bersalah Nagi tunjukkan tatapan polosnya.
“Iya, tapi tempat tidurku besar jadi cukup untuk kita berdua. Kalau tempat tidurmu kecil! Mana cukup untuk kita berdua!”
“Eh?” Nagi mengusap lehernya, “Kita bisa cukupin berdua. Atau berpelukan juga bisa.”
Reo sontak mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia tak tahu harus bergembira karena Nagi tidak terganggu dengan fakta bahwa mereka bisa tidur secara bercengkrama atau ia harus sedih karena Nagi berarti tak pernah melihatnya lebih dari seorang sahabat. Tapi detak jantungnya menjadi begitu cepat. Bahkan tangannya sampai berkeringat dingin.
Ya, mungkin ranjang Nagi tampak kecil kelihatannya tapi bisa jadi cukup untuk mereka berdua mengingat tinggi Nagi sudah hampir mencapai dua meter jadi tidak mungkin tempat tidurnya tidak besar.
Tidak, tidak! Ia tak akan memanfaatkan kesempatan ini seperti orang tak tahu diri!
“...kau mau mandi dulu, Reo?”
“Eh?” Reo mengerjapkan kedua matanya, sontak tersedar dari lamunannya. “Boleh. Aku akan siapkan sendiri air panasnya.”
Reo segera mengambil pajamas-nya dan berjalan menuju kamar mandi dalam gerakan robot. Diam-diam, ia perhatikan kondisi kamar mandi.
Pada dekat pintu, mesin cuci Nagi masih terbuka pintu bundarnya, sebuah celana dalam tergantung pada bagian situ. Sontak, mukanya jadi memerah.
Dasar, Nagi. Tak mampu mengidahkan berantakan itu, Reo akhirnya malah merapikan pakaian dalam Nagi itu dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.
Ketika ia sedang mengisi air hangat, pikirannya mulai berlari ke sana kemari, panik atas suatu fakta.
Ia sedang meningap di rumah Nagi.
Harusnya ini bukan pengalaman baru lagi yang bisa ia banggakan sepanjang hidupnya.
Tapi memasuki lingkungan baru pribadi Nagi membuatnya bersemangat.
Malam ini sebaiknya ia mengajak Nagi berkegiatan apa? Senyumnya mengembang. Mereka bisa bermain kartu, menonton pertandingan sepakbola, ataupun bermain game Nagi.
Namun, seprrti ada teguran dari sisi hatinya yang lain, ia jadi teringat dengan tujuannya dipanggil ke sini.
Sadar diri, Reo! Nagi sedang meminta bantuanmu untuk mendekati Isagi besok! Reo menepuk kedua pipinya, mengumpulkan segenap ketenangan dan rasionalitas yang hampir saja hilang akibat euforia sesaat.
Setelah berendam selama dua puluh menit dan membasuh diri, Reo memakai pakaian tidur dan membawa baju kotornya ke dalam mesin cuci Nagi.
“Nagi! Aku sudah mengisi ulang air panasnya untukmu!” Ia berteriak, “Sekalian aku akan cuci bajumu.”
“Oke.”
Reo mengintip kedalam kamar Nagi. Kedua tangannya kemudian bertengger pada masing-masing sisi pinggangnya.
“Nagi, seharusnya kau ganti baju dan cuci kaki dulu sebelum naik ke atas ranjang…”
“Sebentar lagi…” Nagi malah masih konsentrasi pada game HP-nya, berbaring di atas kasur dengan perut di bawah.
“Ayo, mandi! Nanti air panasnya keburu dingin!”
“Hmm.” Nagi akhirnya beranjak juga. Dengan langkah malas, ia ambil pakaian tidur dari lemari secara acak dan berjalan menuju kamar mandi.
Reo hampir kena serangan jantung ketika Nagi tiba-tiba membuka bajunya di depan dia.
“Cuci sekalian.” Ternyata dia hanya memberikan baju kotornya.
“Iya, iya.” Reo memalingkan mukanya, berusaha keras untuk menyembunyikan wajah setengah merahnya itu dari pandangan Nagi.
Sambil menunggu sahabatnya mandi serta pakaian mereka dicuci dalam mesib, Reo beralih pada kamar yang menurutnya kecil itu. Ia ambil sebuah bantal kedua dari ranjang dan memindahkannya ke sofa ruang tamu. Setelah itu, ia buka lemari Nagi untuk mencari selimut lain sekalian memeriksa bajunya.
“Masih ada…” gumamnya dengan lega seusai menemukan dua tiga pasang baju bagus yang pernah ia belikan untuk Nagi.
Dari dulu Nagi selalu memiliki baju sedikit. Ketika Reo pertama kali mengetahui fakta ini, dengan panik ia mengajak Nagi ke pusat perbelanjaan langganannya.
“Kau setidaknya harus ada kemeja! Bagaimana kau akan berpakaian kalau diundang ke pesta?”
Awalnya Nagi akan selalu mengeluhkan kata merepotkan. Namun sejak Reo terus memaksanya sampai membelikan baju, akhirnya Nagi hanya bisa pasrah.
Kemeja, kaos mahal, baju trendy . Sayang sekali, Nagi malah tetap memakai hoodie longgar kesayangannya itu. Malam ini, Reo akan memaksa Nagi untuk memakai baju yang dipilihkannya sebagai terbagus.
Begitu Nagi selesai mandi, Reo sudah menggantungkan baju yang dipilihkannya pada pintu lemari.
“Pakai ini besok, Nagi!”
Nagi menatap kemeja itu dengan kedua mata menyipit. Tetesan air dari helai rambutnya terus membasahi kaos tidurnya.
“Reo, kemeja memiliki terlalu banyak kancing. Tidak adakah baju yang lebih gampang untuk dipakai?”
“Hah? Tapi ini sudah bagus-”
“Lagipula, kita besok hanya bermain bola. Nanti juga bakal ganti baju lagi.”
Iya juga, sih. Reo membuka lagi pintu lemari Nagi, menyikap lembaran baju-baju itu hingga bertemu mata dengan selembar kaos bercorak keren.
“Bagaimana kalau ini? Menurutku bagus.”
Nagi mengangguk setuju.
“Ngomong-ngomong, kau tidak menyiapkan futon atau selimut tambahan, Nagi? Aku tidak menemukannya di dalam sini?” Reo menyimpan kembali kemeja tersebut ke dalam lemari pakaian.
“Aku memang hanya punya satu.” Nagi mengeringkan rambutnya asal dengan handuk.
“Aduh, aku tidur bagaimana nanti?” Seperti kebiasaan bagaimana ia selalu mengeringkan rambut Nagi, Reo reflek mengambil hairdryer dari tas menginapnya dan menghidupkannya di dekat meja tidur. “Nagi, sini.”
Nagi lalu duduk di atas lantai sambil menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang agar Reo bisa duduk di atasnya untuk mengeringkan rambut.
Hmm… Di antara kebisingan suara hairdryer , Reo terus memikirkan dimana ia akan tidur malam ini. Ia bisa saja lelap di atas sofa ruang tamu Nagi, tapi pasalnya bantalnya sangat keras dan panjangnya tidak mencukupi untuk tinggi badan Reo. Bisa-bisa, kedua kakinya akan menjutai sepanjang malam dan ia tak mau peredaran darahnya terganggu.
Atau ia bisa tidur di atas lantai, hanya beralaskan dengan selimut Nagi kalau boleh pinjam. Namun, kerasnya lantai kayu tak akan bagus untuk punggungnya. Tidur di atas futon saja sudah terasa tidak nyaman dan Reo sangat terbiasa dengan ranjang kamarnya yang berkualitas empuk nomor satu.
Gawat. Jadi bagaimana ia akan tidur malam ini? Ia tak menyangka Nagi tidak memiliki futon atau kasur tambahan.
“Mungkin aku harus di sofa…” gumam Reo setelah mematikan hair dryer sebelum menepuk rambut sahabatnya yang sudah kering itu.
“Apa yang kau bicarakan Reo?” Nagi menatapnya dengan dua mata penuh pancaran polos. “Bukankah kau akan tidur di kasur bersamaku?”
Hah?
“Kau tidak sedang bercanda, kan?”
Nagi menggelengkan kepalanya. “Memangnya Reo mau tidur dimana lagi? Tidak ada futon dan sofa itu terlalu pendek untukmu. Lagipula, kita sudah biasa tidur bersama kok di rumahmu.”
“Tapi itu karena ranjangnya besar-”
Belum selesai Reo membantah, tangan kanannya sudah ditarik dahulu ke arah ranjang. Sebelum kepalanya selesai mencerna situasi, tahu-tahu ia sudah berada dalam dekapan Nagi.
Eh?
“Muat, kan?” ucap Nagi sembari menguburkan sebagian wajahnya pada helaian rambut Reo, “Kau berpikir terlalu banyak.”
Kalau ingin dijelaskan, bisa dikatakan bahwa Reo seperti sedang mengalami kebangkitan kedua.
Tidak. Dia bahkan tidak bisa lagi membedakan mana realita, mana mimpi. Karena detak jantungnya sudah begitu memekakkan hingga membuat dadanya terasa sesak. Wajahnya merah, tapi mati-matian ia alihkan pikirannya agar sipu itu tak mewarnai kedua pipinya. Ia berusaha untuk menahan senyum agar ketahuan pula girang berlebihnya.
Nagi sedang membunuhnya sekarang.
“Hmm…” Nagi mempererat pelukannya. “Aku jadi ingin tidur sekarang.”
“Nagi!” Reo berharap aktingnya menjadi seperti biasa berhasil. “Gosok gigi dulu!”
“Malas…”
Dengan berat hati, Reo lepaskan dekapan mereka berdua untuk menarik Nagi dari baring malasnya.
Kalau ingin dikatakan, Reo bukanlah seorang ateis. Ia bukan pula seorang yang religius. Ayah Ibunya selalu menyumbang banyak sekali uang kepada gereja sampai menjadi donatur utama. Namun, mereka bertiga jarang sekali ke sana. Berdoa pun jarang.
Namun, untuk pertama kalinya pada malam itu, Reo berterima kasih banyak kepada Tuhan. Ia panjatkan syukur, karena di malam hari ini, dibawah bintang-bintang bertaburan di langit dan gelapnya kamar, ia berada dalam dekapan erat Nagi. Harum sabun mandi pemuda itu memberi nyaman pada hidungnya. Mungkin Nagi tidak merasakan apapun, karena ia tak mendengar debaran jantung kencang pada dadanya. Sungguh berlawanan sekali dari milik Reo.
“...Reo, tidurlah.”
Gumaman datang dari Nagi itu membuat hatinya berdebar. Karena dalam tiga tahun persahabatannya, baru kali ini mereka sedekat ini.
“Apa kau merasa panas, Nagi?” Berpelukan sepanjang malam seperti ini pasti akan menambah hawa panas dalam kamar itu.
“Tidak.” Tangan Nagi mengelus kepala Reo. “Kau mau menurunkan suhu AC-nya?”
“Tidak. Tidak usah.” Nagi tak mengerti. Ia tak akan pernah mengerti apa maksud Reo. Dua tubuh saling menempel itu membuat Reo merasa gerah. Namun, ia pula merasa nyaman sampai tak ingin lepas.
“Memangnya harus sampai berpelukan?” gumam Reo, terlalu telat untuk sadar bahwa suaranya pasti terdengar.
“Hmm…” Nagi bergerak sedikit, membenarkan posisi tubuhnya menjadi lebih nyaman. Tangannya semakin mendekat pada sisi pinggang Reo, membuat jantung sang pemilik semakin cepat dibuat debar. Bibirnya menyentuh permukaan kulit lehernya.
Sungguh aneh. Sentuhan seringan saja terasa sungguh berat hingga membekas pada kulitnya. Setiap kali ia menghembuskan nafas, Reo bisa merasakan hangatnya udara itu serta gerakan kecil bibir Nagi.
Jiwanya kini sedang dibawa setinggi mungkin.
Bolehkah ia menikmati momen seperti ini? Ketika ia tahu bahwa pemuda yang sedang ‘membunuhnya’ ini tengah menyukai seorang lain?
“Kira-kira kalau aku sedang memeluk tubuh Isagi seperti sekarang, mungkin ia tak akan memakan lebih banyak tempat di ranjang.”
Dan nama itu kembali disebut, menyeret Reo dalam alam mimpi dan menghantamnya ke realita. Tanpa sadar, Reo mencengkram ujung selimutnya. Kedua alisnya secara tidak sadar saling menekan, namun berkat gelap Nagi tak mampu melihatnya. Lalu, ia merasakan tangan Nagi mulai menjalari perutnya.
“...Apakah kau sedang membayangkan mendekap Isagi, Nagi?” Reo tahu bahwa mengajukan pertanyaan tersebut sama saja mengikat tali tambang pada lehernya sendiri. Nafasnya terasa lebih sesak.
Hanya ada diam. Lumayan lama. Apa Reo sudah salah bertanya? Haruskah ia tak mengukit nama pujaan hati sahabatnya itu ketika mereka sendiri sedang bercengkrama seperti sekarang?
Belum sempat ia mengalihkan pembicaraan, Nagi akhirnya membalas.
“...Iya.”
Jantung Reo berdetak begitu kencang hingga ingin lepas. Tapi bukan perasaan gembira yang ia dapatkan. Kedua matanya memanas, apalagi ketika ia bisa merasakan bagaimana Nagi semakin mempererat dekapannya sampai bibirnya menekan sisi leher Reo.
Seperti apa pikiran yang tengah bercengkrama dalam kepala Nagi saat ini? Apakah ia sedang membayangkan tengah melakukan sesuatu lebih jauh pada Isagi?
“Seandainya demikian, apa yang ingin kau lakukan padanya?”
Reo bisa merasakan Nagi bergerak sedikit. Tangannya kini berpindah pada sisi pinggang Reo, mempererat cengkramannya.
“...Reo menanyakan hal yang berbahaya.”
Nagi pasti membayangkan sedang mencium leher Isagi, menandai nya begitu banyak cupang. Tangannya akan terus bergerak dari pinggang sebelum menjalar turun menuju celananya. Lalu, ia peluk tubuh Isagi seperti tak ingin pernah melepasnya. Dibanding dirinya, tubuh Isagi lebih kecil. Ranjang ini pasti tak akan terasa begitu sempit bagi mereka berdua. Kemudian, waktu terasa tidak nyata. Sentuhan itu menjadi kian panas-
Tanpa disadari, satu tetes air mata keluar.
Tapi Reo bersyukur. Bahwa selama ini ia telah belajar untuk menahan tangis. Ia telah memahami bagaimana caranya menangis tanpa bersuara.
Gelapnya kamar itu membutakan Nagi, memberinya bantuan besar. Setelah beberapa puluh menit dalam diam, ia bisa mendengar dengkuran pelan Nagi dengan dekat.
Sial. Sekarang bagaimana caranya untuk tidur?
Senyum Isagi terlihat begitu cemerlang.
Bahkan di bawah terik matahari pun, ia masih terlihat cerah.
“Terima kasih sudah datang, Nagi, Reo!”
Reo hanya mengangguk sambil tersenyum. Jujur, tenaganya sudah hilang setengah karena kurang tidur (dekapan Nagi benar-benar menahannya dari lelap), tapi demi Nagi, ia ikut datang.
“Cuma kita yang datang?” Sementara di sampingnya, Nagi terlihat segar. Tentu saja, setelah berdebat mengenai pakaian apa yang mesti ia kenakan, Reo akhirnya hanya bisa pasrah membiarkan sahabatnya memakai kaos putih kebesaran serta celana cargo setengah tiang berwarna hitam.
Ironis sekali, karena dibandingkan dengan Nagi, penampilan Reo malah terlihat seperti sedang menyenangkan hati pujaannya sekarang. Memakai kemeja yang sengaja tidak dikancingkan agar bisa menampilkan kaosnya serta celana setengah tiang pula dengan bahan lebih bagus.
“Tidak. Aku mengajak sahabatku. Dia dari SMP lain.” Di belakang Isagi, muncul sebuah sosok berwajah lebih ceria dengan tinggi badan tidak melebihi Isagi. Suaranya juga sama riang dengan ekspresinya.
“Hai!” Pemuda itu menyahut, “Namaku Bachira! Isagi sudah memberitahu banyak mengenai kalian!”
Oh. Ternyata dia jauh lebih energetik juga. Begitu bertemu pandang dengan Reo, ia langsung menjabat tangannya sampai berayun-ayun.
“Wah! Isagi, dia tinggi sekali!” sahut Bachira begitu berdiri di hadapan Nagi.
“Ya, dia memang hampir dua meter.”
“Seorang raksasa!” Bachira mendongakkan kepalanya sembari mengukur tinggi dirinya dengan tinggi Nagi, “Dia bahkan lebih tinggi daripada Rin-Rin!”
“Ngomong-ngomong, dia belum datang?”
“Chigiri juga sepertinya belum.” Nagi menaruh tas olahraganya di atas bangkut penonton, tepatnya pada sebelah dua taa lainnya milik Isagi. “Reo, yuk ganti baju.”
Ha. Dengan lesu, Reo taruh tas olahraganya di sebelah Nagi. Apa sebaiknya ia bermain lebih sedikit saja untuk hari ini?
Chigiri baru datang tak lama setelah ia selesai berganti baju. Wajahnya dibasahi keringat sembari nafasnya tidak teratur.
“Maaf, aku telat!” ujar adik kelas itu sambil berusaha mengatur nafas akibat berlari. “Keretanya sempat ada yang bermasalah, jadi harus menunggu sepuluh menitan.”
“Tidak apa.” Isagi menenangkan, “Kita juga belum main, kok.”
“Ngomong-ngomong, aku bawa temanku juga.” Chigiri menggeser tubuhnya sambil memperkenalkan seseorang di belakangnya. “Namanya Kunigami. Kakak kelasku ketika SMP sekaligus tetangga juga.”
“Salam kenal.” Pemuda berambut oranye itu terlihat kekar. Wah, mungkin saja ia cocok bermain defensif! Kalau dilihat dari bentuk tubuhnya, dia adalah seseorang yang pintar dalam olahraga. Otot tangannya saja kelihatan besar. Bagaimana dengan ofensif? Kalau diamati dari otot kakinya, kemungkinan-
“Reo, kau sedang menganalisa tubuhnya?” Bisikan Nagi dari sebelahnya menyadarkan Reo dari lamunan tidak sengajanya. Dengan panik, ia berdeham.
“Tidak juga.”
Lalu, tak lama setelah kedatangan Chigiri, muncul lagi seorang lain. Namun berbanding terbalik dengan reaksi Chigiri, pemuda asing itu malah tetap bersikap tenang seolah ia tidak mempermasalahkan bahwa ia telat datang hampir lima belas menit dari waktu perjanjian.
“Rin-Rin, kau telat!”
“Di jalan tadi agak macet.” Suaranya juga terlihat dingin dan ketus. Pasti akan sangat sulit untuk berteman dengannya.
“Oh, perkenalkan, ini Itoshi,” ujar Isagi, dengan cepat berdiri di samping pemuda baru datang itu, “Dia adik kelas Bachira dan juga striker utama di klubnya-”
“Tunggu. Itoshi maksudmu bukan dari keluarga pemain nasional Jepang itu, kan?” Sontak, kantuk Reo menjadi hilang tergantikan oleh keterkejutan yang ditemani semangat.
Pemuda ketus itu mendecakkan lidahnya. “Kalau yang kau maksud itu adalah Itoshi Sae, memang benar aku adalah adiknya.”
“Hebat!” Reo sontak menghampiri Itoshi dengan riang, “Kakakmu itu adalah orang yang hebat. Di usia enam belas tahun ia sudah mampu menggaet perhatian klub luar. Dua tahun kemudian, ia sudah menjadi bagian dari tim nasional. Lalu-”
“Ehm, Reo, ya? Kurasa sebaiknya kau harus berhenti…” Bachira tiba-tiba sudah berdiri di belakang Reo sambil mencengkram kedua bahunya. “Rin-Rin agak kurang akrab dengan kakaknya.”
“Oi!”
“Oh, maaf, Itoshi…” Reo sontak menenangkan dirinya sendiri sambil kembali menghadap pada Itoshi. “Aku tidak bermaksud demikian.”
“Huh. Tidak apa. Aku sudah terbiasa mendengar semua omongan mengenai Kakak.” Itoshi kemudian mulai berjalan menuju bangku penonton, “Dan juga panggil aku Rin saja.”
Usai Itos- Rin sudah jauh, baru Nagi mendekati Reo.
“Ketus sekali. Seperti anak kurang perhatian di rumah saja.”
“Oi, Nagi!” balas Reo dengan sama bisiknya, “Kau tak boleh ngomong kasar seperti itu.”
“Memangnya sehebat apa dia sama kakaknya?”
Reo hampir lupa kalau meskipun Nagi bermain bola, pengetahuannya soal dunia bola sangat minim.
“Kakaknya adalah salah satu pemain reguler timnas termuda, dan sempat jadi bintang di pertandingan Asian Cup. Kapan-kapan aku akan menunjukkanmu rekaman permainannya,” bisik Reo dengan kegirangan.
Nagi hanya memutar kedua bola matanya, tetap bersikap acuh.
Setelah berkenalan secara resmi satu sama lain (sama halnya dengan Rin, Reo meminta teman-teman baru itu untuk tidak memanggilnya dengan nama keluarga. Apalagi setelah mereka sadar bahwa Reo adalah anak seorang miliarder), mereka akhirnya memulai permainan. Karena pemain kurang dari 11, mereka memutuskan untuk bermain 3 lawan 3 saja.
Reo menatap Nagi dari kejauhan. Ia tak bisa mengindahkan sengatan kecil yang kini melukai hatinya tatkala melihat Nagi berdiri di samping Isagi. Bahkan Dewa sendiri pun mendukung percintaan mereka lewat permainan gunting batu kertas, yang berakhir mempersatukan Nagi dengan idaman hatinya.
“Mohon kerjasamanya ya, Nagi!” ucap Bachira yang juga setim dengan mereka.
Reo menghela nafas. Kemudian, ia buka resleting tasnya untuk mengambil gelang rambut.
“Mukamu kusut kayak belum tidur.”
Tak menyangka akan ada suara di sampingnya, Reo sontak melompat sedikit.
“Chigiri!”
“Apa? Oh, apa jangan-jangan rautmu berantakan bukan karena belum tidur?” Chigiri berdiri mendekat pada Reo, tidak memberinya ruang untuk menghindar dari gurauannya.
“...memangnya aku tak boleh cemburu karena Nagi setim dengannya?”
“Wah, seseorang akhirnya mengakui perasaannya,” ujar Chigiri dengan nada dibuat datar seperti acuh, “Jadi kau tak senang bermain denganku?”
“Tidak. Bukan begitu…”
“Aku hanya bercanda.” Tangan yang bersurai panjang itu menepuk pundak Reo. “Berbahagia lah karena kita setim juga dengan adik pemain bola terjenius di Jepang.”
Reo menekan kedua bibirnya. Lalu, pandangannya kembali jatuh pada Nagi yang kini tampak seperti anak kecil pendiam yang baru saja mendapatkan mainan baru. Kedua matanya berbinar dan ia terus berdiri di dekat Isagi seperti itik mengikuti induknya.
Benar-benar perasaan yang penuh dengan konflik. Tidak bisakah ia merasa senang mendukung sahabatnya tanpa merasa iri hati pada orang tidak bersalah? Tidak bisakah ia menyingkirkan perasaan jahat ini sepenuhnya?
“Bersiaplah!”
Karena jumlah pemain juga ganjil, Kunigami merangkap menjadi wasit setelah kalah terakhir di permainan gunting-batu-kertas. Ia melempar bola ke atas, memulai pertandingan dengan segera.
Reo sudah menduga bahwa Rin bisa bermain bagus, tapi rupanya ia lebih hebat dari yang ia sangka. Jauh sangat hebat.
“Gila!” gumam nya dengan kagum. Dari cara ia menggiring bola, melewati lawan, seakan ia bisa membaca seisi lapangan bahkan meramal masa depannya.
Reo hanya bisa berlari di belakangnya. Rasanya seolah ia bisa menyerahkan semuanya pada tangannya-
“Hop!” Bachira tiba-tiba datang dari arah sebelah secara tak terduga, hendak mencuri bola dari Rin. Namun seperti sudah memprediksi gerakannya, kaki kanan Rin dengan cepat menggeser bolanya dan-
Bola itu malah berhasil direbut oleh Isagi dari arah sebelah.
“Sial!”
“Bagus, Isagi!”
Pujian datang dari Nagi itu membuat telinga Reo seperti memanas.
Bola itu lalu digilir mendekati gawang. Kedua tim tidak memiliki kiper sehingga siapapun bisa mudah mencetak gol.
Ketika Isagi sudah merasa di atas awan, tiba-tiba Chigiri sudah berlari menyusulnya. Kakinya ia julurkan untuk merebut bola dari bawah.
Reo segera mempercepat larinya. Begitu kaki Chigiri menyentuh bola, Isagi berusaha untuk mempertahankannya. Tapi bola itu berakhir melambung ke arah lain. Melihat kesempatan emas itu, Reo segera mengamati sekitar dalam sepersekian detik.
“Dapat!”
Reo sontak menggilir bola itu ke arah berlawanan. Kedua matanya melihat sekitar.
Bachira dan Isagi sudah berlari menyusul. Rin mengejar dari belakang mereka. Chigiri sudah berlari pada pinggir bek lapangan.
Tunggu-
Sebelum Reo sadar akan sesuatu, bola itu sudah dicuri oleh Nagi dari sebelahnya.
“Aku sudah membaca gerakanmu, Reo.”
Reo sontak memutar tubuhnya. Ia segera mengejar sahabatnya yang kini mendapat bolanya dan tengah menyerang ke arah gawangnya.
“Tidak akan kubiarkan,” ujar Rin sudah mendekat pada Nagi. Kakinya segera dijulurkan untuk mencuri bola itu.
Nagi segera menendang bola itu ke atas, lalu ia lompat untuk menjulurkan kakinya pada bola itu. Dalam ketinggian itu, ia manfaatkan kelenturan kakinya untuk menendang ke arah gawang.
Rin segera berlari ke sana, tapi bola itu ternyata tidak mengarah pada gawang lebih tepatnya.
Melainkan pada Isagi.
Reo mengamati semua kejadian itu dengan terpana. Isagi lalu menggunakan kesempatannya dari bek lapangan, dan dengan cepat menendang ke gawang.
Rin sudah berhasil menyentuh bola itu dengan ujung kakinya, tapi apesnya bola itu malah terlempar jauh menuju gol.
“Yes!”
“Yeee!” Bachira datang memeluk Isagi dan Nagi, “Skor 1!”
Reo mengusap wajahnya yang penuh peluh. Melihat kemampuan hebat dari beberapa pemain membuat ia merasa tidak berguna.
Terutama Nagi. Ia tahu sejak lampau bahwa pemuda itu hebat, tapi bermain melawannya membuatnya semakin tersadar akan fakta itu.
Tidak. Bahkan lebih hebat dari yang ia biasa main. Nagi berinisiatif untuk mencuri bola dengan sendiri. Nagi berinisiatif mengoper bola pada Isagi. Nagi berinisiatif bergerak sendiri tanpa harus menunggu perintah.
Jauh sekali dari cara bermainnya dengan Reo, dimana ia menjadi lebih pasif dan hanya menanti instruksi Reo.
Nagi lebih cocok dengan Isagi.
Reo mengepalkan tangannya. Matanya menjadi panas.
Ia benar-benar merasa tidak berguna.
“Setelah ini mau kemana dulu? Kita masih ada waktu sebentar sebelum makan malam!”
Bahkan setelah bermain beberapa babak, Bachira masih terdengar semangat. Hari sudah mulai larut. Suara burung gagak sudah bermunculan.
“Akan aku kalahkan kau nanti…”
Isagi hanya bisa menatap Rin dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Bukankah kau mengalahkanku di pertandingan akhir?”
Rin hanya memalingkan mukanya sambil mengutuk dengan suara kecil.
“Jadi mau makan malam dimana?”
Sementara itu, Reo mengambil langkah paling pelan sehingga ia bisa berjalan jauh di belakang rombongan. Suasana hatinya sedang terlalu buruk untuk berkomunikasi dengan orang. Tak henti-hentinya ia terpikir oleh beberapa pertandingan sebelumnya, terutama yang pertama.
Nagi sangat cocok dengan Isagi. Bahkan ketika mereka akhirnya kalah pada timnya di pertandingan kedua dan ketiga, Reo masih merasa permainan Nagi begitu kompak bila disandingkan dengan Isagi.
Menyedihkan sekali. Selama tiga tahun bermain sepakbola, ia selalu mengira kekuatannya ada pada kerjasamanya dengan Nagi. Ia selalu menduga bahwa mereka berdua adalah partner olahraga paling baik, sebuah teladan bagi para pesepakbola yang bermain secara duo.
Nyatanya, ia tak bisa membawa kemampuan Nagi sehebat dengan bagaimana ia bermain dengan Isagi.
Apakah selama ini ia hanya berkhayal?
“Reo, kau kenapa?”
Reo melirik ke sebelahnya, sedikit terkejut mendapati Nagi memperlambat jalannya agar bisa bersebelahan dengannya.
“Aku hanya lelah,” bohong Reo.
“Hmm…” Nagi mengangguk, “Permainanmu cukup bagus tadi.”
Tapi belum cukup untukmu, kan? tambah Reo dalam hati. Namun, ia tak bisa menunjukkan rasa pedih lewat raut wajahnya. Hari ini adalah hari bahagia buat Nagi. Ia tidak boleh merusaknya.
“Baiklah,” Berkat kedok Reo yang hampir sempurna, Nagi tidak mencurigai nya sedetik pun. Ia kembali lagi pada rombongan di depan, meninggalkan Reo dalam kesendiriannya lagi.
Sampai kapan ia harus menahan rasa sakit ini?
Buahnya terus tersangkut dalam tenggorokan. Akarnya mulai menggerogoti dari dalam hingga mencapai jantung. Sungguh, ia ingin sekali melampiaskannya pada apa pun, tapi ia adalah seorang martir. Ia rela mati daripada merusak kebahagiaan seseorang.
“Kau mau memesan apa?”
Mereka berakhir masuk ke dalam sebuah cafe yang lebih banyak menyajikan makanan barat. Nagi duduk di samping Isagi yang juga diapit oleh Bachira. Sementara Reo mengambil posisi paling mendekati dinding disamping Chigiri lalu Kunigami. Rin duduk di tengah meja seperti seorang pemimpin memulai rapat.
“Bachira, kau mau makan apa?” Agak lucu juga melihat bagaimana Isagi terus menoleh ke sahabatnya sementara Nagi memandangnya seperti tengah ingin meminta perhatian layaknya seorang anak kecil. Mungkin seperti itu juga pemandangan Reo di mata orang, mengemis atensi Nagi dikala pemuda tersebut teralihkan oleh orang lain.
“Reo, kalau kau menatapnya terus, akan ada laser keluar dari matamu.”
Jantung Reo serasa ingin melompat mendengar bisikan tak diundang itu.
“Aku tidak sedang menatapnya,” bantahnya.
“Mataku mengatakan sebaliknya.” Chigiri mendelik bahunya. “Kau bahkan terlihat seperti ingin membunuhnya saking tidak berkedip.”
“Aku tidak sampai segitunya.”
“Kalian sedang mengobrol apa?” sela Kunigami dari ujung kursi. Tubuhnya sedikit dimajukan agar bisa melihat dua orang di sebelahnya.
“Tidak ada apa-apa.”
Kunigami hanya mengangguk lesu. Kalau dilihat dari tautan kedua alisnya, ia tampak kurang puas dengan bagaimana ia dirahasiakan dari pembicaraan keduanya.
Reo menahan senyumnya. Sedari awal pertandingan tadi, ia seperti mendapat petunjuk bahwa sepertinya Kunigami ada rasa pada Chigiri. Pemuda kekar itu terus menerus mendamba perhatiannya dengan menatapnya atau mengajaknya ngobrol. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Chigiri, tapi ia mempunyai firasat pemuda itu juga memberinya lampu hijau.
Argh! Kenapa kisah cintanya tidak seindah seperti mereka?
“Oi, kalau mau pesan, cepatlah. Aku sudah lapar.”
“Iya, iya.” Bachira sama Isagi menahan tawa melihat sang ‘pemimpin’ meja tengah menggerutu sambil melipat kedua tangannya.
Acara makan malam yang berlangsung ‘sukses’. Tak tahan terus menerus harus melihat Nagi akrab dengan Isagi, Reo memutuskan untuk mengalihkan rasa sedihnya ini pada suaranya yang lantang. Alhasil, ia berakhir menjadi pembicara paling banyak selain Bachira.
“Aku pikir Reo bakal seperti anak orang kaya yang ada di drama. Ternyata kau rendah diri juga.” Reo menyadari bahwa selain pembawaannya yang ceria, Bachira ternyata orang yang blak-blakkan juga. Ia hanya tertawa menanggapi pendapatnya.
“Aku banyak dengar seperti itu dari orang-orang. Yang di drama atau film itu sedikit berlebihan, tahu.”
“Kalau kau anak pengusaha, kenapa kau malah bermain bola dibandingkan belajar bisnis?”
Reo hanya menatap Rin dengan tertegun. Seketika ia teringat dengan pertengkaran pertamanya dengan Ayah.
“Jangan konyol. Hanya orang berbakat saja yang bisa menjadi pemain sepak bola. Lebih baik kau belajar bisnis saja.”
Oh, ia tahu sekali bagaimana pendapat orang-orang mengenai hobinya. Semua orang berekspektasi bahwa ia akan berjalan persis di dalam langkah ayahnya; belajar bisnis, sekolah bisnis di luar negeri, kemudian bekerja di dalam perusahaan sebelum mengambil tempat duduk sebagai CEO di masa depan. Semua orang mengira ia harus berbicara setiap hari mengenai kurs dan saham; meskipun ia masih ada ketertarikan pada saham tapi tak bisakah seseorang memiliki kesukaan lain di luar topik bisnis?
Dia cuma bermain bola sebagai hobi.
Kalau kubilang, prestasinya di bola tidak akan berguna. Harusnya ia ikut olimpiade saja.
Nanti juga fase itu akan berakhir. Setiap remaja biasanya akan seperti itu, menyadari bahwa hobi bola mereka kekanak-kanakkan.
Ngapain dia ikut turnamen bola? Memangnya bakal berkontribusi pada CV-nya?
Aku pikir hobi dia bakal berhubungan sama main saham atau crypto , ternyata bola. Seperti anak-anak.
“Memangnya Reo tidak boleh bermain bola hanya karena ia anak pengusaha?”
Sontak semua perhatian satu meja tertuju pada Nagi. Baru kali itu pemuda bertubuh paling tinggi tersebut menyatakan pendapatnya secara lantang setelah menghabiskan sebagian besar waktu berdiam atau mengobrol dengan suara kecil pada Isagi.
“Reo berhak memilih kesukaan atau jalannya sendiri. Kalau dia memang suka bola, ya biarkan dia suka dengan bola. Kalau memang dia bermimpi untuk menjadi pesepakbola, maka biarkanlah dia bermimpi. Lagipula, hidupnya bergantung pada pilihannya sendiri, bukan pilihan orang lain.”
Baru kali itu pula Nagi berbicara panjang lebar. Tatapannya terus menusuk pada Rin, yang kini bereaksi dengan menggerutu.
“Aku tidak mengatakan bahwa ia tidak boleh bermain bola, dungu. Aku juga tahu maksudmu apa.”
Reo tak bisa mengalihkan pandangannya dari Nagi. Hatinya seperti ingin menumpahkan air mata, terharu dengan sikap Nagi yang membela dirinya.
Sial. Kenapa dia begitu baik? Kalau seperti ini terus, bagaimana dia akan berhenti menyukainya?
Jangan membuat orang semakin jatuh cinta denganmu, bodoh!
Untungnya sesi makan malam itu tidak menjadi canggung karena perkataan frontal dari Rin. Bachira sangat lihat mengubah suasana dan melanjutkan alur ramah itu sampai selesai.
Tatapan Reo sukar sekali lepas dari Nagi, biarpun pemuda itu masih menyangkut pada sisi Isagi seperti lebah pada sebuah bunga. Kedua matanya memancar dan sekilas, ia tampak ingin bergerak menyentuh Isagi. Malangnya, yang dipuja tidak terlihat menyadarinya dan malah beralih pada sahabatnya itu.
“Aku harus pulang. Takutnya tertinggal kereta.” Chigiri melambaikan tangannya, begitupun dengan Kunigami di belakangnya. Lalu, Rin juga berpamitan tak jauh dari mereka berdua.
Kini hanya tertinggal empat orang berdiri di depan restoran.
“Nagi, kau mau pula-” Reo segera menahan lidahnya ketika ia bertemu mata dengan Nagi yang terus mengirimnya isyarat. Di dalam hati, ia menggerutu.
“Isagi, Bachira, kau setelah ini ada mau kemana tidak? Kita bisa berjalan sebentar di arcade kalau sedang tidak buru-buru,” ajak Reo dengan senyum menawan khas-nya itu.
“Oh, boleh! Kebetulan aku kepikir mau main sebentar atau beli es krim!” seru Bachira.
“Bukankah kau sudah makan banyak tadi?”
“Perutku masih ada ruang lebih untuk dessert.” Bachira mengukir seringai lebar pada Isagi. “Ayo! Kalau tidak salah di dekat arcade, ada kedai es krim yang enak!”
Reo bisa menangkap bibir Nagi agak menekuk ke bawah ketika melihat tangan Bachira melingkari lengan Isagi sambil menyeretnya pergi. Ia menghela nafas.
“Ayo, Nagi,” ujar Reo setelah menepuk pundak temannya yang malang itu. Sengaja ia berjalan lebih dahulu agar tak melihat ke belakang untuk menatap wajah patah hati.
Entah apakah bisa disebut sebagai ironi atau tidak, namun sebuah kebetulan yang begitu kejam untuk menyadari bahwa arcade yang dimaksud Bachira adalah tempat ia dan Nagi sering datangi setiap setelah latihan klub bola, meskipun kunjungan itu sudah berkurang semenjak mereka memasuki SMA.
Kedua mata Nagi semakin berbinar, karena selain mereka sedang berada di tempat favoritnya, ia juga bersama dengan pujaan hatinya.
“Aku sering kesini loh, Isagi.”
Dengan wajah cemberut, Reo perlahan menyingkirkan diri dari rombongan, menyendiri di antara jajaran mesin capit. Netra nya yang murung mengamati muka polos puluhan boneka beruang di dalam mesin kaca tersebut.
Tidak ada yang bisa ditertawakan dari cerita sedih ini, beruang sialan. Kekanak-kanakkan sekali bukan, memarahi benda mati yang tidak pernah berbuat dosa? Apalagi nasib mereka juga tidak berbeda jauh dari Reo, terkurung di dalam kotak kaca dan menunggu sampai seseorang mampu memungut mereka dengan mesin yang sudah disabotase. Kalau dipikir lagi, mungkin mereka bisa menjadi teman senasib atau teman curhat. Oh, beruang malang, tidakkah jenuh kau terperangkap disana-
“Kau ingin boneka ini?”
“Ah!” Suara dari belakangnya itu membuat Reo terlompat kaget seperti orang bodoh. Wajahnya seketika memerah menyadari bahwa ia jua melontarkan teriakan aneh yang menodai sisi maskulinnya.
“Habis kau menatapnya terus…”
“Lain kali jangan tiba-tiba muncul seperti hantu, Nagi!” Reo reflek memukul pundak sahabatnya.
“Oi, kalian jadi tidak mau es krim?”
Kepala Nagi langsung menoleh ke sisi lain, dimana Isagi sudah berjalan menghampiri mereka.
“Nagi! Aku butuh bantuanmu! Aku dari tadi kalah di babak terakhir!”
Belum sempat sang jangkung menjawab, tangannya sudah ditarik oleh Bachira ke tempat lain.
“Aku dan Reo beli es krim dulu, ya!”
Hah? Hah?
Dalam serangkaian kejadian sekejap, kini Reo sedang berdiri bersama Isagi, mengantri di depan kedai es krim yang ramai pada luar arcade. Kedai itu memiliki pamor yang besar dilihat dari banyak orang rela menunggu demi semangkuk kecil makanan dingin tersebut.
Bersandingan dengan gebetan dari sang pujaan hati ternyata agak mencanggungkan juga. Diam-diam, Reo melirik pada orang di sampingnya.
Kalau berbicara dari penampilan, Isagi memang tidak semenarik Reo yang tidak bisa diurai secara kata-kata biasa. Namun, ada sisi menarik dari sorot matanya, yang kerap menunjukkan kebaikan tapi keteguhan yang kuat. Sorot mata itu juga selalu tajam ketika sedang mengamati sesuatu, seperti seekor kucing hutan yang tampak tidak berbahaya tapi begitu menerkam mangsa, mereka tak akan segan. Cara berbicaranya terdengar malu-malu, tapi ketika sudah menyentuh topik bola, nada suaranya akan berubah drastis menjadi lugas.
Isagi memiliki sisi tak terduga yang mampu membuat orang tertarik padanya.
Pantas… Pantas saja Nagi menyukainya…
“Aku dan Bachira sering beli disini,” ujar Isagi, meretakkan lamunan Reo, “Rasa coklatnya enak sekali. Bachira sangat menyukainya.”
“Kalau dilihat dari antriannya, pasti seenak itu.”
“Kau harus mencobanya.” Isagi menggaruk pipinya. “Bachira saja sampai bisa memesan dua atau tiga mangkuk.”
Reo hanya tertawa pelan. Gawat, perasaan canggung itu terus mencekamnya. Setiap kali ia ingin bersikap, pikirannya selalu mengulangi fakta bahwa ‘Ini loh, orang yang sedang dicintai Nagi! Rival yang sedang mengalahkanmu ini!’ dan menguras kepercayaan dirinya sampai hatinya lelah.
Mikage Reo bak sempurna bisa bersikap seperti serangga kecil di samping seseorang yang tampak biasa saja. Sebuah lelucon di satu sekolah.
“Reo mau rasa apa?”
Pikiran yang terus terombang-ambing itu membuatnya tidak menyadari bahwa ia sudah berada di barisan terdepan, menghadap pada penjaga kedai.
“Aku ingin cokelat juga. Kalau Nagi, rasa lemon saja.”
Isagi tertawa. “Reo tahu banyak mengenai Nagi, ya.”
Mendengar kalimat itu, kepala Reo menoleh ke arahnya.
“Kalian sudah bersahabat dari lama?”
“Sejak SMP…”
“Sama seperti aku dengan Bachira.” Isagi perlahan bergeser ke sebelah untuk menunggu pesanan mereka, disusul oleh Reo. “Kami bertemu di klub sepakbola di tahun pertama.”
Mirip dengan kisah Reo dan Nagi.
“Waktu itu, tidak banyak orang berani mendekati Bachira karena permainannya yang terlalu ‘egois’. Bahkan banyak yang mengejeknya karena ia kerap menyebut ‘ada monster yang berbisik padaku’. Tapi anehnya, aku justru ingin sekali bermain dengannya. Ketika kami pertama kali berlatih bersama, kami langsung akrab.
Permainan Bachira sangat hebat, tahu. Namun, pelatih tidak terlalu menyukainya. Ia mengatakan bahwa keberadaannya di dalam sebuah tim hanya akan merusak kekompakkan. Pada akhirnya kami juga tetap kalah dan gagal masuk turnamen selanjutnya. Bachira lah yang terus menghiburku ketika aku frustasi.”
Seketika, Reo jadi teringat dengan ingatannya di masa SMP. Ketika ia menangis karena merasa marah pada penolakan Ayahnya. Ia terus bersembunyi di dalam dekapan Nagi setelah mengumpat keluarganya yang tak pernah mempercayainya dan terus memaksanya untuk mengikuti pilihan mereka. Nagi yang tak pernah pandai berkomunikasi dengan orang ternyata adalah bisa menjadi seorang penghibur yang lihai.
Tidak apa. Menangis saja kalau mau.
“...sama seperti aku dan Nagi.”
Isagi tersenyum lebar. “Kita berdua memiliki sahabat yang sangat baik, bukan?”
Terlalu baik. Hingga menyakiti hati.
Pesanan es krim itu tidak memakan waktu lama meskipun mereka memesan sampai lima mangkuk. Ketika sudah sampai di arcade, Bachira sudah berdiri menunggu di dekat pintu luar bersama Nagi.
“Es krim!” serunya ketika melihat tas kertas yang dibawa Isagi. “Coklat semua, kan?”
“Tentu saja.” Isagi tertawa renyah sembari memberi tas itu.
“Aku juga membelikan satu untukmu, Nagi,” ujar Reo, berusaha untuk mempertahankan ketenangannya.
Nagi mengangguk. Kemudian, ia mendekat pada Reo.
“Ngomong-ngomong, aku ada hadiah untukmu.”
Belum sempat Reo mempertanyakan, tiba-tiba ia disodorkan sesuatu. Berukuran sedang dan berbulu. Sontak, pandangannya bertemu mata dengan wajah lucu dan senyum polos milik teman senasibnya.
Sebuah boneka beruang.
“Reo soalnya kelihatan mau banget, jadi aku menangin satu.” Nagi mengusap lehernya.
Pemuda berambut ungu itu terus menatap boneka tersebut dalam keadaan mematung. Lalu, kedua matanya memanas, tapi ia kedipkan berkali-kali agar air matanya tak mengalir.
Padahal…
Padahal ia tak mau boneka ini.
“Terima kasih, Nagi…” Reo berharap suara gemetarnya tidak ketahuan. Karena hatinya sedang di luapi kegembiraan. Karena jantungnya terus berdebar tak karuan.
Oh, betapa kejamnya Dewa. Bagaimana mungkin ia bisa semudah itu menyerahkan hatinya? Bagaimana ia akan kuat melihat Nagi menjadi milik orang lain?
“Reo?” Kening Nagi berkerut ketika menyadari ekspresi Reo tidak sesuai dugaannya. Malah, ia tampak seperti ingin menangis.
“Tidak, Tidak ada apa-apa, Nagi.” Reo memeluk boneka itu begitu erat. Mungkin orang-orang di sekitar akan menganggapnya aneh melihat seorang pemuda begitu menyayangi sebuah boneka. Tapi ia tak peduli.
Malamnya, ia taruh boneka itu di atas ranjang. Boneka murahan yang bisa didapat lewat mesin capit seharga 100 koin yen. Namun, boneka murahan itu mewakilkan kenangan bagus mengenai Nagi. Mengingatkannya pada seribu alasan ia mencintai sahabatnya.
Sampai bertahun-tahun nantinya pun, Reo akan menyimpan terus boneka berharga itu, enggan melepas kenangan indah ini. Ia memeluknya lagi sambil berbaring, membawanya ke ingatan dimana ia sedang dipeluk Nagi.
Selagi ia masih ada kesempatan, biarkanlah ia tenggelam dalam perasaan ini.
Sayangnya, waktu yang tak ingin Reo nantikan itu datang.
“Aku mau menyatakan perasaanku pada Isagi.”
Jantung Reo serasa ingin jatuh. Ia letakkan kotak makannya ke atas lantai, lalu menatap Nagi dengan sedatar mungkin.
“Kapan?”
Nagi mengusap lehernya. “Segera mungkin, tapi… entahlah.” Kedua matanya mengarah ke sisi lain. “Aku tak tahu bagaimana cara mengatakannya.”
“Kau bisa mengatakannya langsung. Panggil saja Isagi ke pekarangan sekolah lalu-”
“Aku tak berani.” Mata Nagi lalu mengarah ke lantai. Wajahnya menjadi mendung. “Bagaimana kalau dia langsung menolakku? Siapapun pasti tahu, kalau dipanggil ke pekarangan sekolah untuk berbicara berdua pasti berhubungan sama pernyataan cinta. Apalagi aku tak tahu bila ia melihatku sebagai teman saja atau lebih…”
Tidak biasanya bagi Nagi untuk memiliki banyak pikiran seperti ini. Ia adalah seseorang yang malas sehingga ia rentan menyatakan pikiran pertamanya saja daripada harus memilah terlebih dahulu.
“Coba saja katakan. Kau tak pernah tahu bila tidak bertanya.”
Nagi menggelengkan kepalanya.
"Aku tak ingin merusak pertemanan kita."
Ugh! Reo merasa seperti melihat bayangan dirinya sendiri.
"Kalau ragu seperti ini terus, nanti keburu terlambat." Reo melipat kedua tangannya dengan frustasi - lebih kepada dirinya sendiri, "Kalau kau takut akan meracau, kau bisa latihan terlebih dahulu."
“Latihan?”
Argh, Reo habis ngomong apa sih?! Rasanya ingin mengacak-acak rambut sendiri.
“Ka-Kalau di drama, mereka selalu menyiapkan diri dengan berlatih ngomong.” lanjutnya dengan bohong.
“Hmm…” Nagi melipat kedua kakinya. Kemudian, ia miringkan kepalanya agar bisa menghadap Reo yang kini sudah beralih pada makan siangnya yang belum selesai.
"Kalau begitu, berlatihlah denganku."
Saking terkejutnya, ludah Reo salah memasuki kerongkongan, membuatnya tersedak sampai terbatuk-batuk tanpa henti. Untung saja ia belum memakan sesuap pun!
"Maksudmu?!”
"Kau bisa berpura-pura menjadi Isagi," Ekspresi Nagi tetap terlihat tidak bersalah, walaupun ia baru saja menjatuhkan bom yang mengganggu kinerja jantung Reo, "Ayo kita mulai di tempatku."
Hah?
Reo mengira perkataan Nagi tidak benar-benar serius. Namun, ia tak bisa berhenti membayangkan skenario bagaimana Nagi akan 'menyatakan' padanya.
“Aku suka padamu, Reo…”
Oh, astaga! Ini adalah situasi yang paling mendekati dengan mimpi indahnya!
“Baiklah!” jawab Reo sambil berusaha menekan girangnya. “Kapan?”
“Sore ini?”
Tidak sedadakan itu juga, sih! Mentalnya belum siap!
“Ba-Baiklah…” untuk kesekian kali, mulut dan keinginannya berhasil mengalahkan akal sehatnya.
Berterima kasihlah kepada Nagi, sepanjang hari itu pikiran Reo tidak bisa berfokus pada apapun di hadapannya. Ia berusaha keras konsentrasi dengan pelajaran di kelas, tapi…
Membayangkan Nagi menyatakan perasaan ‘padanya’.
Gawat! Ia bisa mati kegirangan!
“Kau sedang memikirkan apa, Reo?”
Reo cepat-cepat mengubah ekspresinya kembali menjadi normal begitu melihat wajah Nagi di depannya. Tidak! Nagi tak boleh sampai tahu isi pikirannya.
“Pelajaran.”
“Hm…” Nagi membenarkan posisi tali ransel pada bahunya. “Sebentar, ada Isagi.”
Ah. Suasana hati Reo kembali menurun ketika bertemu dengan realita di depannya.
“Isagi!” Lihatlah bagaimana pemuda jangkung itu berjalan menghampiri orang itu seperti anjing menyambut pemiliknya. Reo menyembunyikan cemburunya dengan berpura-pura memeriksa isi tas sampingnya. Kemudian, ia dengan lesu menyusuli sahabatnya yang kini tengah berbincang pada sang pencuri hati.
“Kalian sudah mau jalan pulang?”
Nagi mengangguk dengan antusias. “Mau bareng?”
Bahkan waktu berjalan Reo pun juga disita.
“Boleh. Tapi aku cuma sampai di stasiun saja.” Isagi tertawa. “Ngomong-ngomong Nagi, kau sudah menonton video pertandingan yang kukirim semalam belum?”
Apa? Reo menoleh pada Nagi, tapi sayang yang ditatap tak menyadari tatapannya. Keningnya berkerut.
“Sudah, kok. Kau mengirim banyak sekali.”
Kenapa ia tak tahu bahwa selama ini Nagi sudah berbincang dengan Isagi lewat pesan?
Bukankah sudah sepatutnya ia sebagai sahabat tahu segalanya?
Tunggu, memangnya dia ada hak apa sampai harus tahu segala urusan mengenai Nagi?
Tentu saja hak dia sebagai sahabat paling dekat selama bertahun-tahun!
“Cobalah mempelajari tekniknya! Aku yakin kau bisa bermain persis sepertinya. Terlebih lagi dia juga jago trap sepertimu.”
“Apapun yang dikatakan Isagi, aku akan lakukan.”
Reo berharap ia sedang membawa penyumbat telinga agar hatinya tidak semakin ditujah.
“Aku sampai disini saja.” (Akhirnya) Isagi berhenti di depan pintu stasiun bawah tanah. “Sampai jumpa besok.”
Reo bisa melihat perubahan gerakan badan Nagi yang menjadi lesu. Lambaian tangannya seolah tidak rela, meskipun kalau dilihat dari orang awam tampak seperti gestur dia biasanya yang malas.
“Aku akan menyatakan perasaanku padanya,” ucap Nagi sekali lagi, memantapkan tekadnya.
“Iya, iya.”
“Ayo kita ke rumahku, Reo.”
Akhirnya tiba juga saatnya. Reo sudah menelepon ba-ya untuk izin menginap. Baju bisa dipinjam dari Nagi.
Belum sembuh dari situasi senggama kemarin, kini Reo sudah dihadapkan dengan situasi yang memacu jantungnya kembali seperti balap kuda. Langkah kakinya perlahan memasuki apartemen Nagi, masih belum berubah dari beberapa bulan sebelumnya. Biarpun terik panas sudah digantikan angin derai dingin, tempat tinggal Nagi masih memberikannya sensasi yang sama. Nostalgia dan kehangatan.
"Jadi, aku harus mengatakan apa dulu?" mulai Nagi begitu mereka duduk di atas sofa.
"Ehm..." Reo berusaha membujuk detak jantungnya untuk lebih tenang, namun otaknya kini tak mau pula diajak kerja sama, "Kalau aku, ajak dia ke suatu tempat dan mulailah berbincang panjang. Kalau dia sudah merasa nyaman, baru kau selipkan pernyataan cinta."
"Eh..?" keluh Nagi, "Terlalu repot. Tidak bisakah aku langsung katakan saja?"
"Kalau dadakan seperti itu, yang ada dia bakal belum siap."
"Benarkah?" Nagi memutar tubuhnya sedikit agar bisa menghadap ke arah Reo sepenuhnya, "Aku harus membuka topik pembicaraan apa dahulu?"
"Ya, bawa saja hal yang dia suka, seperti bola. Lalu, ketika momennya tepat, kau baru beritahu."
"Baiklah," Nagi berdeham. Lalu, ia genggam tangan Reo sembari menatapnya dengan lekat. "Isagi, aku menyukaimu."
Astaga. Astaga! Wajah Reo rasanya seperti terbakar api. Dengan tangkas, ia kumpulkan ketenangan raganya.
"Ehm, terlalu frontal. K-Kau seharusnya berkata apakah kau boleh menanyakan sesuatu yang serius."
"Hmm..." Nagi memiringkan kepalanya, "Apa aku boleh bertanya sesuatu yang serius?"
Reo menghela nafas dengan berat. Ia seolah sedang mendikte seorang anak SD mengenai perkalian dasar. Namun, ia tak bisa menyalahkan siapapun, karena sama halnya dengan anak SD yang baru belajar perkalian, Nagi belum pernah berpengalaman dalam hal cinta. Bahkan, mungkin saja ia pertama kalinya ia terlibat dalam romansa, bukan seperti Reo yang setidaknya pernah pacaran dengan seseorang sebelumnya, meskipun hubungan mereka berjalan terlalu cepat dikarenakan sang perempuan lebih mencintai harta ayah dibanding dirinya. Yang skandal wali kelas SD-nya tidak usah diingat.
"Biar aku tunjukkan," Reo menepuk kedua pundak Nagi. Lalu, gantian dia yang menggenggam tangan pasangannya, "Anggap saja kita baru berbicara mengenai sesuatu yang kau suka, seperti game atau bola."
Nagi mengangguk.
"Lalu, kita baru saja selesai. Kau curi momen dimana suasana hatinya sedang bagus dan damai. Baru kau bertanya," Reo mengangkat tangan kanan Nagi sebelum ia taruh di depan dada, "Nagi, bolehkah aku ingin bertanya sesuatu?"
Memasuki sandiwara berperan sebagai Isagi, Nagi kembali mengangguk.
"Aku tahu kita baru berteman selama beberapa bulan, tapi kurasa aku tak bisa memendam lebih lama," Entah mengapa, jantungnya ikut berdebar mengikuti alur dialog sandiwaranya. Tenggorokannya mengering.
"Tak apa untuk tidak langsung menjawab, aku hanya ingin katakan saja. Aku menyukaimu, Nagi. Setiap kali aku berada di dekatmu, jantungku seolah ingin meledak. Tawa dan senyummu adalah hal terindah yang pernah aku lihat sepanjang hidupku. Aku telah jatuh cinta padamu sejak lama...
Maaf, bila perasaanku malah merepotkanmu. Tapi, aku tak akan memaksamu. Kau boleh anggap perkataan ini sebagai angin lalu."
Sejenak, hanya ada diam yang mengitari. Reo baru sadar bahwa telapak tangannya berkeringat dingin. Sekujur tubuhnya menggigil.
"...Wajahmu merah sekali."
"Ah! I-Ini karena aku terlalu serius dalam berperan!" Reo dengan panik melepaskan tangan Nagi, "T-Tapi kau tidak harus meniru setiap katanya. Aku hanya memberimu contoh."
Nagi mengangguk, "Kau sangat pandai dalam bercakap. Aku mungkin tak akan berkata sepanjang itu."
"I-Iya..."
"Dan aku tak pernah tahu kau pintar dalam berakting. Aku sempat mengira pernyataan tadi memang tulus apa adanya, apalagi kau memanggilku dengan nama, bukan dengan Isagi."
Itu karena dia memang berkata tulus!
"Yang terpenting adalah keberanian!" Reo menepuk punggung Nagi dengan sedikit keras untuk mengalihkan debaran jantungnya yang memekakkan, "Kalau butuh sesuatu, minta saja!"
"Terimakasih banyak, Reo..."
Nagi selalu memasang ekspresi datar, oleh sebab itu, ketika ia tersenyum sekecil saja sudah mampu membuat Reo serasa melayang hingga awan kedelapan. Ia berdeham, menutupi semburat merah muda yang terukir pada kedua sisi wajahnya.
"Kamu bisa memanggilnya di hari tertentu, kalau kau mau. Bukankah sebentar lagi sudah mau memasuki natal? Ajaklah dia keluar kalau dia tidak sibuk dan nyatakanlah di bawah pohon natal.”
“Oh! Itu ide bagus juga. Reo memang pintar.”
Reo mengangguk. “Semoga beruntung, Nagi. Kabari saja kalau ada apa-apa.”
Nyatanya, Reo menjadi lebih kecewa mendapati bahwa rencana natalnya juga kandas karena ulahnya sendiri. Padahal ia sudah menantikan pesta pribadinya dengan Nagi seperti bagaimana ia selalu merayakan natal dengan Nagi berdua. Orangtuanya paling hanya pulang mendekati tahun baru sehingga waktu yang pas baginya untuk berduaan dengan Nagi.
Semakin mendekati natal, semakin gelisah ia dibuat.
Ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada ujian akhir semester. Reo tidak menemui kesulitan dalam mengerjakan puluhan soal itu, tapi bayangan akan pernyataan cinta menghantuinya.
Kakinya tak mau berhenti bergerak.
Bagaimana bila pernyataan cinta itu berhasil?
Bagaimana bila Nagi akan menelponnya di malam natal itu dan mengabari bahwa ia sudah berpacaran dengan Isagi?
Membayangkan sahabatnya bergandengan tangan dengan orang lain, lalu bermesraan di depannya…
Seharusnya ia turut berbahagia.
Bukan takut seperti sekarang.
"Kau baik-baik saja?"
Reo mengangkat kepalanya, mendapati seseorang dengan rambut merah digerai dan dilengkapi syal menatapnya dengan alis sebelah menaik. Ia tertawa pelan.
“Tidak apa. Hanya banyak pikiran.”
“Kukira seorang Mikage Reo pasti sudah siap menghadapi ujian, rupanya kau juga bisa gelisah karenanya.” Chigiri mengambil tempat duduk di sebelah Reo. “Memangnya sesusah itu soalnya?”
“Tidak, aku tidak sedang memikirkan itu.”
“Jadi apa-” sejenak sang adik kelas akhirnya sadar. Bahwa tentu saja Mikage Reo tidak akan pernah mengkhawatirkan soal ujian. Diluar dugaan orang-orang, masalah besar yang dihadapinya adalah masalah anak remaja pada umumnya.
“Ada sesuatu terjadi di antara mereka berdua?”
“Nagi akan menyatakan cintanya pada Isagi.” Reo mengatupkan mulutnya dengan kedua tangan berbalut sarung.
“Wah, akhirnya…”
“Iya…”
“Yang sabar ya, Reo. Nanti kau bisa menemukan penggantinya.”
“Iya, terima kas- tunggu.” Sontak Reo beranjak. Kedua matanya melebar. “Aku tak pernah memberitahumu apa-apa.”
“Sudah pernah kubilang.” Chigiri nyengir, “Kau itu kelihatan sekali, tahu.”
“Kelihatan apa coba?”
“Kalau kau menyukai Nagi?”
Reo ingin mengubur dirinya di bawah salju kalau bisa sekarang.
“Tenang. Hanya aku yang tahu. Atau beberapa orang yang juga memperhatikanmu kurasa.”
“Aku berharap hanya kau…” dengan geram, ia mengusap wajahnya. “Aku tak percaya aku terlihat sejelas itu.”
“Hei, setidaknya aku tidak membocorkan pada siapa-siapa.”
“Memangnya kau tak merasa aneh?” Pandangan Reo kini tercampur sedikit ketakutan ketika ia menatap Chigiri, “Fakta bahwa aku menyukai sahabatku sendiri…?”
“Tidak juga?” Chigiri mendelik kedua bahunya, “Toh, kalian juga sedekat itu. Wajar saja kalau salah satu dari kalian bakal suka.”
“Benarkah?” Reo kembali menghempaskan dirinya di atas bangku sekolah. Hawa dingin mulai menusuk permukaan kulitnya meskipun sudah dibaluti oleh syal.
Lantas, mengapa Nagi tidak menyukainya?
“Ya, tapi aku tak akan mempertanyakan alasan Nagi bisa menyukai Isagi. Toh, tiap orang memiliki preferensi mereka sendiri. Mungkin kau bukan salah satunya.”
“...terima kasih banyak atas hiburannya, Chigiri,” balas Reo dengan nada sarkastik.
“Jadi, kau ingin melakukan apa?”
“Eh?”
“Menonton film? Karaoke? Atau hanya sekedar minum kopi di cafe.”
Reo tak mampu menahan tawa gelinya. “Chigiri, apa kau beneran sedang menghiburku?”
“Kau pikir sedingin apa aku ini?”
Tawa geli itu berubah menjadi gelak besar. Sungguh betapa imutnya adik kelasnya satu ini. Terlihat cuek tapi ternyata peduli.
“Kalau begitu, kau ada acara di hari natal nanti? Kebetulan sahabatku sedang tidak bisa menemani.”
Chigiri mendengus. “Biasanya aku merayakannya bersama kakak, tapi untukmu aku bisa membuat pengecualian.”
Reo hanya menepuk pundak adik kelasnya ditemani oleh sebuah tawa yang sengaja dibuatnya untuk menutupi luka di hati. Luka yang tak pernah pergi bahkan setelah beberapa hari telah lewat.
Menjelang libur musim dingin, Nagi lebih sering menginap di rumah Reo tapi tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk bermain game dengan serius sementara Reo akan membaca buku di sampingnya.
Tanpa diberitahu pun ia bisa membaca kegelisahan yang terukir pada wajah sahabatnya.
Sebentar lagi natal.
Waktu yang telah dinantikan Nagi dan dihindari Reo akan tiba.
Lucunya, bukan hanya Nagi yang tak bisa tenang. Pemuda berambut ungu itu kerap memutar lagu dengan volume keras guna mengusir kegelisahan yang sudah bertamu belakangan ini.
Ia telah membaca beribu majalah bisnis atau berfokus pada investasi sahamnya, tapi tetap saja kegelisahan itu belum pergi.
Nagi di saat yang sama juga bertingkah seperti sedang menghadapi ujian universitas. Untuk kedua kalinya ia meminta bantuan untuk dipilihkan baju bagus baginya.
“Tolong pilihkan baju untuk aku, Reo.”
Kali ini, ia tidak menolak ketika Reo meminjamkannya baju bermerek mahal. Ia menanggapi semua usulan Reo tanpa ada keluhan. Seperti berbeda orang saja.
Ia melihat-lihat katalog bunga di website toko bunga terdekat. Nagi yang terlalu malas untuk memilih sesuatu, kini sedang memilah bunga sambil melihat arti mereka satu persatu.
“Kalau bunga ini artinya cinta pertama. Bagusnya yang mana, Reo?”
Seperti mengamati pertumbuhan anakmu sendiri! Kalau bukan karena cinta bertepuk sebelah tangan ini, Reo pasti akan menepuk kepala Nagi sambil memujinya dengan derai air mata. Kau sudah tumbuh besar, Nagi!
Dan tanggal 25 Desember itu sudah datang.
Beribu orang Jepang pergi keluar untuk merayakan hari spesial ini. Para kekasih merayakannya dengan mesra, berduaan dibawah pohon natal sambil minum kopi hangat.
Dan secara ajaib, malam itu turun salju pula.
Reo mengamati pergerakan salju yang seperti hujan itu lewat jendela cafe. Kemudian, ia menghembuskan nafasnya dengan berat setelah sekian kalinya.
“Kau sudah seperti orang tua yang punya banyak masalah saja.”
Kedua mata Reo lalu beralih pada orang di depannya.
“Aku sedang gelisah.”
“Iya, aku tahu. Makanya aku disini menemanimu.” Chigiri menyesap kopi latte hangatnya. “Jadi, bagaimana kabarnya?”
“Entahlah.” Reo menyandarkan kepalanya di atas meja. “Tadi sore dia sudah pergi ditemani pelayanku. Harusnya sekarang dia sedang bersama Isagi.”
Reo kembali teringat bagaimana ekspresi wajah Nagi yang terus menerus menampakkan kegugupan layaknya anak SD pertama kali masuk sekolah. Jari jemarinya kerap memainkan kemeja mahal yang dipinjamkan Reo untuknya, serta cologne keluaran merek ternama.
Tak tega melihatnya dalam kondisi segelisah itu, Reo berseru sebelum Nagi memasuki mobil limousine nya.
“Semoga beruntung, Nagi! Lakukanlah yang terbaik!”
Nagi acungkan dua jarinya, membentuk tanda ‘peace’. Setidaknya suasana hatinya menjadi lebih baik. Kemudian, ia melompat masuk ke dalam mobil. Buket mawar yang dibelikan pelayan Reo tadi pagi sudah terlampir pada jok mobil.
Andai saja mood Reo juga membaik kala itu, karena semakin waktu bergulir, dadanya malah semakin sesak.
“Chigiri, aku ingin melompat ke sungai rasanya sekarang…”
“...aku jadi sangat khawatir padamu,” ucap Chigiri dengan khawatir. Tak biasanya bagi sang anak konglomerat yang selalu memancarkan kepercayaan diri bisa seputus asa seperti ini.
Tiba-tiba, suara dering telepon mengagetkan mereka berdua. Reo segera membalikkan HP-nya untuk melihat siapa pemanggil itu. Kedua matanya melebar begitu menangkap nama yang keluar si layar tersebut.
“Nagi?” Suaranya menjadi lembut tatkala tersambung. “Ada apa?”
"Ah, Reo..." ucap Nagi diseberang, "Aku hanya ingin mendengar suaramu."
Wajah Reo merona. Dengan segenap kekuatan, ia atur suaranya agar tak gemetar, "Kenapa, Nagi?"
"Tidak. Hanya saja…" Helaan nafas gemetar itu terdengar dari seberang. Begitu kentaranya ketakutan yang dialami sang sahabat hingga Reo merasa asing dengan bagaimana emosi Nagi terdengar sangat jelas, "Aku gugup sekali. Jadi aku mau menenangkan diri dengan meneleponmu."
Perlahan, Reo tersenyum lembut.
"Tidak apa, Nagi. Kau akan berhasil. Bukankah kita sudah latihan?"
"Iya."
"Apapun hasilnya, kau sudah bekerja keras.” Reo menyandarkan punggungnya, berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari detak jantung yang berdebar ini. “Besok aku akan mentraktirmu steak di hotel bintang lima langgananku untuk merayakan keberanianmu. Bagaimana?”
"Steak terlalu payah untuk dikunyah..."
"Jangan begitu, lah! Itu adalah makan mewah!" Reo tergelak, "Atau aku bisa membelikan game atau manga."
Selang berapa lama, Nagi terkekeh pelan. Suaranya tak lagi bergetar.
"Terima kasih banyak, Reo."
Reo mengangguk pelan. Ia tarik dua sudut bibirnya dengan paksa, "Semangat, Nagi," ucapnya dalam penuh ironi. Pada hatinya yang kini perih. Pada tangisnya yang ingin tumpah ruah.
Chigiri menonton perubahan air wajah teman barunya dengan saksama. Tak lagi ia sentuh minuman di depannya. Kedua alisnya saling menekan.
"...Setelah ini kau mau kemana? Aku akan menemanimu."
Reo tutup panggilan tersebut dengan gerakan lambat. Ia alihkan rasa sakit didalam dadanya dengan sebuah tawa.
"Aku ingin karaoke."
"Dua jam?"
Ia mengangguk, "Sampai suaraku serak."
"Disana kita akan berteriak." Chigiri melepas seutas senyum pahit.
Reo gerakkan pandangannya pada jendela luar. Para pejalan kaki yang sudah tumpah ruah memenuhi jalan. Para kekasih yang saling bergandengan tangan, menatap satu sama lain sambil tertawa.
Betapa indahnya mimpi bila ia bisa melakukan semua itu dengan Nagi.
Tapi mimpi itu sebentar lagi akan musnah.
Yang berjalan di samping Nagi nantinya adalah Isagi.
Yang menggandeng tangan Nagi nanti adalah Isagi.
Reo tidak akan memiliki tempat spesial lagi di hidup Nagi.
Dikelilingi oleh para pemain yang andal membuat Reo pandai bersandiwara. Pada teman-teman bisnis ayahnya, ia mampu menjiwai perannya sebagai anak pewaris berbakat. Pada orang-orang yang menipu demi harta, ia mampu membangun sebuah tembok besar diantara mereka. Memilih topeng adalah hal termudah. Memilah perasaan adalah keahliannya.
Namun, kepada Nagi ia menjadi pemula.
Sungguh sukar baginya untuk mengenakan samara. Sebab, Nagi sesungguhnya adalah seorang yang jujur dibalik wajah datarnya. Lewat pandangan mata saja sudah cukup bagi Reo untuk bisa membaca pikirannya.
Reo luluh. Ia berubah rapuh. Untuk pertama kalinya berbohong membuatnya perih.
Meskipun ia sudah mempersembahkan separuh suaranya kepada mesin karaoke, hatinya masih tak puas berteriak. Ia tak bisa menyita waktu Chigiri lebih lama lagi, sehingga ia menenangkannya dengan kebohongan putih, lalu pulang ke rumah dengan hati gundah.
Aku sudah baik-baik saja, betapa kejamnya sang batin. Mencabik-cabik rongga dadanya hingga sesak. Memutar isi perutnya hingga mual. Berbaring di atas kasur empuk pun tak membuatnya nyaman.
Bagaimana kabar Nagi sekarang? Ah, dia pasti sudah melontarkan kasih sayangnya pada Isagi. Buket bunga yang mereka beli bersama itu pasti sudah berada di tangan Isagi. Kini ia pasti sedang berpegangan tangan sambil memandangnya penuh afeksi. Isagi pastilah seorang pahlawan di masa lalu, karena saat ini ia adalah orang paling beruntung.
Setengah hati Reo menginginkan yang terburuk, tapi setengahnya mendoakan yang terbaik. Reo menutup kedua matanya dengan tangan. Tak sepantasnya sebagai seorang sahabat ia mengharapkan yang malang.
Tapi, Reo iri. Sungguh, ia sangat iri. Bagaimana bisa Isagi yang baru ditemui beberapa bulan lalu mampu mencuri hati Nagi semudah itu? Kenapa ia tak bisa sepertinya?
Reo juga menginginkan Nagi. Oh, betapa ia ingin memeluknya dengan penuh kasih tanpa harus bersalah.
Kenapa ia tidak bisa menjadi pemeran utama?
Ketukan pintu kamar membangunkannya dari lamunan. Reo beranjak dari tempat tidur. Dengan hati-hati, ia memanggil.
"Ada apa?"
"Tuan muda, ada seseorang ingin menemui tuan.”
Semalam ini? Reo mengerutkan kening, tapi ia tetap pergi. Dikenakannya sebuah cardigan untuk menutupi pakaian tidur, lalu, ia turun ke lantai terbawah.
Ketika ia sampai di lobi gedung, betapa terkejutnya ia menangkap sosok paling familiar sedang berdiri menunggu nya. Kedua mata Reo terbuka lebar selebar mungkin.
"Nagi?"
"Maaf mengganggu, Reo," Nagi mengusap lehernya dengan canggung, "Tak apa kan kalau aku menginap semalam disini?
Hah? Ada gerangan apa hingga Nagi untuk pertama kalinya berinisiatif bermalam di rumah Reo tanpa pemberitahuan? Ditambah lagi, ia sedang tak membawa apa-apa. Reo ingin bertanya, namun ia memilih untuk bungkam.
"Tidak apa-apa. Aku akan siapkan baju baru."
Nagi tidak mengatakan apa pun. Bahkan ketika hanya mereka berdua didalam kamar, Nagi masih mengunci mulut. Kebetulan kedua orang tua Reo sedang berangkat ke luar negeri sehingga mereka tak perlu membombardir Nagi dengan pertanyaan dan ceramah bahwa bertamu apalagi meminta menginap mendadak menuju tengah malam menentang norma kesopanan.
Sementara Nagi masih mandi, Reo merenung. Aneh. Memang dia lupa untuk menanyakan kembali bagaimana hasilnya, tapi Nagi juga tidak memberitahu. Kedua netranya terlihat mendung, sukar untuk dibaca namun mudah untuk ditelaah.
Ada sesuatu terjadi. Apa jangan-jangan...
Tidak. Reo tak boleh berharap yang tidak-tidak. Bagaimana pun juga, Nagi adalah sahabatnya. Sudah sepantasnya ia berbagi perasaan. Bila Nagi bahagia, ia ikut berbahagia. Bila Nagi sedih, ia ikut bersedih.
Tatkala Nagi sudah selesai membasuh diri, Reo menghampirinya.
"Ada apa, Nagi?"
Entah mengapa, Nagi hanya memandangnya. Namun, ekspresi di wajahnya mengejutkan Reo.
Kedua mata abu-abu itu terus mengedip, sebelum mereka tak mampu menghentikan jatuhnya air mata pertama. Dengan bibir gemetar, Nagi berbisik,
"Reo..."
Oh, tidak. Sungguh menyakitkan sekali melihat Nagi yang selama ini tak mudah dijamah perasaan, kini sedang terlarut dalam kesedihan. Melihat Nagi yang biasa bersantai, kini sedang merengkuh lelah di atas ranjang.
Untuk pertama kalinya, Reo mendengar suara tangis Nagi. Kecil, tapi pedih. Lalu, tangis itu berupa menjadi raungan. Satu tangan Nagi mencengkram seprai hingga buku jarinya memutih.
"Isagi... Dia tidak bisa menerima perasaanku..." isak Nagi, "Dia mengatakan bahwa dia sedang menyukai seorang lain.
Aku mencoba untuk bersikap tenang di depannya, tapi susah sekali, Reo. Rasanya sakit sekali…”
Reo menggigit bibir bawahnya dengan dalam hingga berdarah, tapi tangis itu masih keluar. Dengan dada sesak, ia hampiri Nagi lalu mengusap punggungnya.
"Tidak apa, Nagi... Tidak apa." Nyatanya ia tak baik-baik saja. Melihat seseorang yang kau kasihi sedang menangis membuat hatimu juga ikut teriris. Reo terisak pelan.
"Tidak apa-apa..." Reo duduk di samping Nagi, terus mengusap punggungnya seperti seorang Ibu menghibur anak malangnya.
Nagi terus meraung hingga larut malam. Ranjang putih Reo basah oleh air matanya, tapi siapa yang peduli? Kedua manusia di ruangan itu sama-sama patah hati.
Dimana lagi mereka bisa taruh perasaan sebesar itu bila di tepis?
"Aku tidak mengharapkan banyak, tapi… aku masih kecewa. Padahal kukira ada kesempatan."
"Tidak apa, Nagi. Semua nanti akan pulih." Reo memeluk Nagi, "Waktu akan menyembuhkan luka itu."
"Tapi aku sudah mencintainya terlalu dalam, bagaimana aku akan sembuh?"
"Karena aku tahu." Reo menelan ludahnya , "Aku tahu, kok."
"...Aku tak mau."
Reo menepuk punggung Nagi.
"Aku ingin terus berjuang..." Nagi menguburkan sebagian wajahnya pada bahu Reo, "Aku merasa masih ada jalan."
Nagi yang ia tahu terus keluhkan rasa lelah, ternyata masih menyimpan sifat pantang menyerah juga. Reo menarik kedua sudut bibirnya dalam kepahitan luar biasa.
Sungguh, menjadi pameran sampingan ternyata melelahkan.
"Begitukah...?"
Sang pemuda dengan surai kilau berwarna merah muda itu menghembuskan nafas dengan berat. Jari jemarinya bermain dengan botol minuman yang kini telah kosong.
"Tapi, kenapa kau tidak tampak senang?" Ia melanjutkan, "Bukankah harusnya kau menjadi lega?"
"Aku tak suka melihat Nagi sedih," jawab Reo dengan berat, "Sudah beberapa hari lewat tapi ekspresinya masih mendung."
Chigiri memanggut. Kedua matanya menerawang ke arah lapangan yang kini penuh dengan sorak sorai setiap bola digiring.
"Aku tak menyangka dia sesuka itu sama Isagi."
"Kurasa karena Isagi adalah cinta pertamanya," Reo memeluk kedua kakinya agar ia bisa memangku dagu, "Dia belum pernah menyukai seseorang sejauh yang aku tahu."
Sebuah tepukan lembut mendarat pada punggungnya.
"Kau masih memiliki kesempatan," ujar Chigiri.
Reo hanya tertawa pahit.
“Tidak akan mungkin, Chigiri. Lihatlah. Aku sudah dua tahun menyukai Nagi, tapi tetap nihil.”
"Memiliki kesempatan pada siapa?"
Kedua kepala itu sontak menoleh ke belakang.
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” bantah Chigiri dengan cepat.
“Tadi aku sepertinya mendengar sesuatu soal suka-sukaan.” Reo tidak terlalu ingat nama teman se-klub yang hobi ikut campur ini. Kalau tidak salah Takeshi, kah? Entahlah. Reo tidak terlalu menyukainya sejak pertama kali masuk klub. Ia orang yang terlalu santai. Sering membolos latihan dan tak pernah menanggapi saran dari pelatih maupun dari Reo yang notanabe adalah ketua tim. Orangnya juga sering menghasut, menarik teman-teman lainnya untuk makan di luar saja daripada menghabiskan waktu berlatih kemampuan.
"Bukankah kau sedang bermain sekarang?" tanya Chigiri dengan tidak senang mendapat sang pendatang baru memasang wajah tak bersalah seusai ia menguping pembicaraan mereka.
"Aku sudah selesai," Takeshi nyengir lebar sembari menyelinap duduk diantara mereka, "Ayolah. Jadi beneran Mikage suka dengan Nagi?”
Apa maksudnya dengan ‘beneran’ itu, seolah-olah sudah ada praduga?
“Enyahlah. Kau sok ikut campur saja!” seru Chigiri.
“Eh? Benar, kan?” Tamu tak diundang itu malah menempelkan tubuhnya pada Reo, kekeuh meminta jawabannya. “Tunggu. Tapi bukannya Nagi sedang suka sama Isagi?”
“...apa, sih?”
“Hei! Wajahmu memerah!” Takeshi melepas tawa besarnya. Kedua matanya menunjukkan kegirangan karena berhasil menggoda ketua tim klub. “Sudahlah, Mikage. Aku tadi sempat mendengar kok bahwa kau menyukai Nagi.”
Reo mendecak lidahnya. Sungguh, orang ini benar-benar membuatnya kesal. “Kalau iya, memangnya kenapa?”
Chigiri sontak menatap Reo dengan kening berkerut.
“Wah! Memang benar!” Takeshi menepuk pundak Reo. “Tenang, Mikage. Wajar saja menyukai sahabat sendiri. Aku tak akan memberitahu siapa-siapa, kok.”
Reo hanya memutar kedua bola matanya. Cepatlah, pergi!
“Oi, kalian sudah selesai istirahat? Pelatih mau briefing sebentar!”
Terselamatkan oleh bel. Reo segera beranjak dari tempat duduk dan berlari menuju lapangan, enggan lagi untuk menanggapi pengganggu satu itu. Ia reflek berdiri di samping Nagi. Diam-diam, kedua matanya melirik pada ekspresinya.
Wajah Nagi sudah tidak se kusut pasca libur musim dingin kemarin. Ia sudah berhari-hari menangis, menyambut tahun baru dengan duka cita. Sungguh ironis sekali. Reo akhirnya mendapatkan keinginannya kembali untuk merayakan natal serta tahun baru dengan sahabatnya, tapi nuansanya malah berlangsung mendung.
Ia teringat bagaimana Nagi tampak tak antusias mendengar hitungan mundur dari TV. Ia bahkan menolak ajakan keluarga Reo untuk menaiki kapal pesiar pribadi, menikmati pesta pribadi serta pemandangan kembang api di atas kota.
“Aku terlalu lelah, Reo. Aku tidur di tempatmu saja.”
Ya… rumah Reo yang berada di penthouse lantai teratas itu juga bisa menampakkan kembang api dengan jelas juga, sih.
Namun, Nagi tidak terlihat menikmati.
Ia malah berbaring di atas ranjang, entah mengamati apa sampai pandangannya tak pernah berpindah dari dinding kamar Reo.
Astaga. Melihat Nagi segalau ini seperti melihat bayangannya sendiri ketika pertama kali mengetahui rahasia asmara Nagi.
Dua minggu belum cukup untuk menyembuhkan luka hati Nagi.
Tapi ketabahannya juga sama besar dengan milik Reo.
Bahkan dengan birat sebesar itu pun, Nagi masih mencoba untuk bersikap seperti biasa pada Isagi, menanggapinya tanpa meninggalkan jejak kesedihan.
Isagi sedang suka sama siapa, ya? Kedua mata Reo kini melirik pada Isagi yang berdiri di sisi lain sebelah Nagi. Dibandingkan dengan Nagi, Isagi terlihat… sama apa adanya. Atau mungkin Reo belum sempat memperhatikan gerakan tubuhnya sehingga ia belum bisa memastikan.
Dia tidak terlihat seperti sedang mabuk dalam cinta. Apakah salah satu murid di sekolah ini? Dari angkatan mereka, kah? Atau lebih tua? Lebih muda? Tapi Reo belum pernah melihatnya dengan orang lain. Ia lebih banyak bermain dengan tim sepakbola, bahkan di luar kegiatan klub sekalipun. Bisa dibilang teman terdekatnya disini adalah Nagi, Reo, Chigiri…
Kalau begitu, dari sekolah lain kah? Bachira mungkin tahu sesuatu.
“Itu saja yang bisa disampaikan!”
Astaga! Reo terlalu banyak melamun sampai tidak mendengarkan briefing lagi!
“Malam ini mau makan di luar, tidak? Aku dengar ada restoran baru buka!” teriak Takeshi, menoleh pada setiap teman tim yang berdiri di dekatnya.
“Hmm, terdengar menarik…” Isagi menoleh ke Nagi, “Nagi, kau mau ikut-”
Ah. Gerak-gerik yang meneriakkan kecanggungan itu akhirnya tertangkap oleh pengamatan Reo. Isagi sontak mengganti pandangannya pada Chigiri, terlalu kikuk untuk melihat mata Nagi.
Ya ampun. Akankah situasi mereka akan seperti itu juga kalau Reo memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Nagi? Bulu kuduknya jadi menegak.
“Maaf, aku ada janji dengan Reo. Lain kali saja kita makan, Isagi,” jawab Nagi.
Janji? Mereka ada jadwal malam ini?
“Eh? Janji seperti apa, Nagi? Kencan dengan Mikage?”
Reo sudah lama sekali tidak melemparkan tatapan sinis pada seseorang seperti sekarang ini. Sejak mengetahui rahasianya, Takeshi jadi bertingkah seperti hama saja! Bahkan Chigiri juga melihatnya dengan penuh kekesalan.
Nagi, ya Nagi, alih-alih mempertanyakan maksud omong kosong itu, ia hanya menaikkan sebelah alisnya sambil bungkam. Terlalu malas untuk menanggapinya. Iya, hama seperti dia mah didiamkan saja. Toh akan mati sendiri!
“Kenapa kau berbohong?” ujar Reo tak mampu menghentikan rasa penasarannya usai mereka berganti baju. Ruang loker sudah kosong melompong berkat ajakan Takeshi ke restoran baru itu. Isagi dan Chigiri sudah pulang duluan.
Nagi menutup lokernya. Ia termenung. “Aku masih belum siap.”
“Kalau kau terus menghindarinya, yang ada malah tambah canggung.”
“Aku tidak sedang menghindarinya…” Nagi menghembuskan nafas berat. “Aku hanya butuh waktu.”
“Sampai kapan?”
“...sampai aku sudah siap, kurasa?”
Reo mengusap wajahnya dengan frustasi.
“Habis, tiap kali melihat wajahnya, aku masih ingin menangis.”
“Tapi bukankah kau sendiri masih belum mau menyerah? Kalau seperti ini terus, kesempatanmu meraih Isagi tambah tipis!”
Nagi mendecakkan lidahnya. “Reo belum pernah menyukai seseorang, bagaimana kau bisa tahu perasaanku?”
Sesaat, hanya ada diam. Mulut Reo ternganga lebar, tak percaya dengan kalimat yang baru saja tumpah ruah dari bibir Nagi.
Belum pernah menyukai?! Berani-beraninya dia bisa berkata seenteng itu ketika Reo harus memendam perasaannya selama dua tahun? Tidak, ini sudah tahun ketiga!
“...memangnya kau tahu apa soal aku?” gumam Reo dengan suara terkecil.
“Hah?”
Reo menghela nafas, berusaha untuk meredam emosinya yang tengah memuncak. Lalu, ia pasang tatapannya dengan sabar.
“Aku hanya ingin menghiburmu. Begini-begini, aku cukup mengerti perasaan sakit hati akibat ditolak.”
Nagi mengusap lehernya. “Habis, kupikir Reo tidak terlalu terpikir aspek itu berhubung Reo lebih sering menolak orang.”
Nagi, kalau bukan karena perasaanku padamu, aku pasti sudah memukul kepalamu karena berkata seblak-blakkan itu. Reo menutup pintu lokernya dengan sedikit dibanting. Namun sesaat amarahnya mulai menurun di tengah pemikirannya akan perasaan sang sahabat.
Tidak bijak baginya untuk turut kesal di tengah duka sahabat sendiri. Reo menoleh kembali pada Nagi, mendapati ekspresi sedih itu kembali muncul sekilas.
“...kau mau makan apa malam ini?”
“Eh?”
“Aku akan mentraktir makan. Sebutkan saja yang kau mau.”
“Tapi Reo sudah mentraktirku banyak sekali libur kemarin.”
“Tidak apa! Sebutkan saja!”
Nagi termenung sejenak. Lalu, kedua matanya mengerjap.
Di antara semua tempat yang Reo bisa pikirkan, ia tak menyangka Nagi akan memilih rumahnya kembali.
Ya, kalau dihitung dengan libur musim dingin yang lalu, Nagi berarti sudah menginap di tempat Reo selama hampir seminggu.
Bisa dibilang rumah Reo sudah menjadi rumah kedua Nagi!
“...kau mau dimasakin apa?” tawar Reo pasca mereka memasuki kamar. “Chef bisa memasak makanan apa saja-”
“Kepiting.”
Kedua mata Reo melebar terkejut. “Hah?”
“Aku ingin makan kepiting.” Nagi menghempaskan dirinya di atas kasur. “Sama udang.”
“...dijadikan sup?”
Kepala Nagi menggeleng, menambah keterkejutan itu mencapai puncak.
Nagi Seishiro yang selama ini membenci makan kepiting dan udang karena malas mengupas kulit itu akhirnya berinisiatif memakan demikian?! Sungguh penyakit patah hati ini sudah melewati batas wajar!
Tetap saja, Reo diam-diam meminta chef untuk mengupas capit kepiting serta ekor udang agar mempermudah urusan makan-memakan.
“Nagi, lihat!” seru Reo sambil memperlihatkan layar iPad-nya pada Nagi yang kini sedang duduk bersandar pada headboard kasur dalam kondisi lesu. “Game baru yang kau bicarakan beberapa bulan lalu sudah keluar! Kau mau aku pesankan sekarang? Aku belikan saja.”
Bahkan disodorkan dengan hobinya pun tetap tidak bisa menyembuhkan kegalauan.
“Hm…” Nagi hanya mengangguk sambil memeluk kedua lututnya.
Oh, betapa beruntungnya kamu Isagi Yoichi sampai membuat pemuda malang ini dimabuk cinta!
“Reo…” ucap Nagi dengan lirih, “Menurutmu apa yang kurang dariku?”
“Hah?” Kening Reo berkerut sedalam-dalam mungkin. Ia tatap Nagi dengan sejenak, mencoba untuk mencari tahu maksud dari pertanyaan acak itu. Lalu, pikirannya berputar.
“Kau ingin jawaban jujur atau tidak?”
Nagi hanya mengangguk.
“Sejujurnya, kau orang yang malas.”
Mungkin jika Nagi yang dulu mendengar fakta ini, ia hanya akan mengacuhkannya saja. Namun dengan kondisinya yang rapuh, fakta itu mampu mencabiknya dengan brutal.
“Apakah karena itu Isagi tidak mau menerimaku?”
“Bukankah kau sendiri yang ngomong kalau dia sudah suka dengan orang lain?” Kemudian, Reo menghembuskan nafas seperti seseorang yang tengah melepaskan stress-nya. “Dengar. Kau memang malas, tapi bukan berarti itu adalah hal yang paling buruk juga. Kau itu seorang yang pintar. Kalau tertarik pada sesuatu juga kau akan mengerahkan seluruh kemampuanmu, kok.
Kalau berbicara penampilan, parasmu tidaklah buruk. Hei, bahkan kau itu imut! Menurutku, justru Isagi lah yang harusnya merasa kehilangan karena menolak seseorang sebaik dirimu. Kalau saja kau berdandan sebaik aku, semua orang akan pangling melihatmu-”
Bibir Reo terhenti mengucapkan beribu pujian lagi. Tekanan yang tiba-tiba datang menimpa pundaknya itu membuatnya mematung. Samar-samar, ia bisa merasakan hembusan nafas datang dari sahabatnya, menggelitik sisi lehernya.
“Terima kasih, Reo.” Suara Nagi masih se-lirih tadi, tapi berkat jarak kepala mereka yang kini tidak bersisa lagi, Reo merasa suara itu terdengar menggelegar. “Kau tak perlu memaksakan diri memujiku secara berlebihan. Aku justru seharusnya merasa berterima kasih karena merepotkanmu.”
“...apa yang kau bicarakan?” Reo berusaha menahan gemetar dalam suaranya. Detak jantungnya kini memburu dengan kencang. “Aku kan sahabatmu. Sudah sepantasnya aku berada di sisimu.”
Reo sekilas melihat bagaimana bibir Nagi seperti terbuka setengah, seakan hendak mengutarakan sesuatu. Tapi ia katup kembali.
Kalau bukan karena ketukan pada pintu kamarnya dari luar, Reo tak akan tahu berapa lama Nagi akan menyandarkan kepalanya di atas pundak Reo. Mungkin mimpinya tengah terbang menjadi buih. Tapi dengan bisa memberikan kekuatan untuk menopang sahabatnya saja sudah membuatnya gembira. Kalau bisa, ia ingin berada di sisi Nagi sampai selamanya.
Bahkan bila cintanya tak pernah terbalas.
Suasana hati Nagi sudah membaik. Ketika ia kembali ke sekolah dua hari kemudian, ia sudah bisa menatap Isagi seperti dulu lagi. Kali ini, ia lebih bisa mengontrol dambaan pada sorot matanya.
Isagi sepertinya mengetahui hal ini sehingga ia sudah bisa berbincang lebih leluasa dengannya.
“Jadi, kau akan makan kepiting lagi?” goda Reo di tengah perjalanan mereka menuju ruang klub.
“Tidak lagi,” keluh Nagi. “Menarik dagingnya ternyata… benar-benar merepotkan.”
Tawa Reo membahana di sepanjang koridor itu. Ia sadingkan tangannya melingkari pundak Nagi.
Lapangan masih sepi, hanya ada mereka berdua. Tak lama dari itu, Isagi tiba dengan Chigiri.
“Kau sudah tahu mau kemana setelah lulus ini, Reo?” tanya Isagi sambil menaruh botol minum dengan handuknya di atas bangku, sudah memakai baju olahraganya. Ini adalah pertama kalinya ia membuka percakapan mengenai masa depan.
Tangan Reo bergeser pada dagunya. “Aku berencana untuk pergi ke Amerika…”
“Jauh banget!” Baik kedua mata Isagi maupun Chigiri sama-sama melebar.
“Ayahku menyuruh kesana.” Reo menghela nafas.
“Bagaimana dengan kau, Nagi?” Chigiri melirik ke sebelah Reo dengan sebelah alis menaik. “Apa kau tak akan kesepian bila ditinggal Reo?”
Oh, Reo hampir ingin meneriaki Chigiri saking terkejutnya.
Namun, Nagi hanya mengusap lehernya. “Ya…”
“Sudah! Aku kan juga pasti akan bolak-balik ke sini, jadi kita masih bisa ketemu!” Reo buru-buru menggeser topik pembicaraan sebelum menjadi sesi interogasi paksaan.
“Memangnya kau akan kemana, Nagi?”
“Ehm… di Universitas Tokyo kurasa.”
Eh? Kenapa Reo belum pernah mendengar soal ini?
“Loh? Sama denganku dong!” ujar Isagi. “Kau ambil jurusan apa?”
Eh?
“Nagi, apa maksudnya ini?” bisik Reo dengan penuh kebingungan pada sahabatnya.
“Ah, aku belum memberitahumu.” Nagi mengusap lehernya, “Tadinya aku ingin mengosongkan lembaran rencana kelulusan itu ketika dibagikan tahun lalu. Namun ketika aku mendengar rencana Isagi…”
Oh. Oh! Oh!!!
Nagi sengaja memilih Universitas Tokyo karena dia ingin menyusul Isagi. Ia pasti sudah mengisi jawaban tersebut di lembaran rencana setelah sekolah pada tahun kedua mereka lalu. Ia sudah terlanjur merencanakan hal ini sebelum ditolak oleh Isagi.
Kenapa dia tidak memberitahu Reo soal ini? Ya, tapi Reo sendiri juga belum beritahu Nagi mengenai keberangkatannya ke Amerika nanti. Tapi itu kan karena Reo masih keberatan!
“Wah! Sudah ada orang!”
Lalu, lapangan itu seketika menjadi lebih ramai. Namun, para rombongan yang baru datang masih memakai baju sekolah mereka, seperti tak ada niat untuk berlatih.
“Pelatih sedang ada urusan jadi hari ini kita bebas!” Pengumuman itu langsung disambut dengan meriah seperti kabar menikah. Hanya orang-orang berdedikasi seperti Reo, Isagi dan Chigiri yang tidak menyambut kabar itu dengan gembira.
“Hoi! Kita masih ada jadwal latihan!” ujar Reo.
“Mikage, kau kaku sekali…”
Beberapa keluhan mulai terdengar.
“Semuanya!” Tiba-tiba, suara teriakan terdengar membahana dari pusat rombongan. Sang pelaku, Takechi nyengir dengan lebar. “Aku ada pengumuman penting!”
“Apa?”
Reo mengerutkan keningnya.
“Aku…” tanpa aba-aba, sang pencuri atensi itu memeluk lengan Nagi dengan erat, “Aku sama Nagi pacaran, loh.”
Hah?
Hah??
HAH???!!
Seketika, seisi lapangan dipenuhi oleh hening, hanya berisikan suara murid di luar yang sudah melihat ke arah mereka berkat suara keras milik Takeshi tersebut. Gagak-gagak menggaok. Hembusan angin sepoi seketika terhenti. Hanya Reo dan Chigiri yang memelototinya sambil berteriak tanpa suara.
“Oi…” gumam Nagi dengan sebel, tapi Takeshi melanjutkan omong kosongnya lagi.
“Apaan sih, Takeshi?” gurau salah satu member klub, disusul oleh beberapa tawa.
“Eh, serius, loh!” balas Takeshi, “Tidakkah kau tahu, semalaman kita telepon sampai tidak ada yang berani matiin duluan! Nagi tuh imut banget ternyata!”
Melihat pelukannya yang semakin erat, hati Reo dipenuhi amarah. Berani-beraninya ini anak dengan tidak tahu malu menyentuh Nagi sampai sedekat itu! Kalau Isagi mungkin dia masih bisa memaklumi. Tapi dengan Takeshi? Reo tidak rela!
“Wah, selamat, Takeshi!” Ucapan selamat itu datang secara satu persatu. Takeshi masih belum melepaskan pelukannya, malah kembali mendekatkan tubuhnya. Jarak tinggi mereka yang tak berbeda jauh membuat kepalanya sampai menyentuh pipi Nagi. Nagi sendiri tidak mampu mengatakan apapun karena kewalahan dengan kerumunan orang yang penasaran dengan cerita mereka.
Mungkin karena Nagi yang belum membantah, beberapa orang sepertinya agak percaya. Reo semakin tidak tahan. Wajahnya memerah dengan kecemburuan, terkejut bercampur amarah.
“Apaan sih?” Chigiri hanya bergumam dengan tidak percaya, masih bingung dengan maksud Takeshi. Sementara Isagi yang tambah tak tahu apa yang terjadi, hanya diam kebingungan.
Belum selesai Reo meredakan emosinya, tiba-tiba pandangan takeshi jatuh kepadanya.
“Eh? Mukamu kenapa merah banget, Mikage? Ah! Jangan-jangan, cemburu?” Takeshi tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, “Kau cemburu karena Nagi? Kukira kalian hanya sahabatan!”
Di saat itulah, Reo akhirnya sadar maksud dari semua aksi Takeshi. Omong kosong dan keributan yang ia ciptakan itu.
Semua demi mempermalukan nama Reo.
“Oh! Jangan-jangan, kau suka dengan Nagi? Mikage Reo suka dengan Nagi secara romantis?” Suara Takeshi semakin membesar hingga menyerupai teriakan. Sampai-sampai, murid yang kebetulan berada di luar lapangan juga mampu mendengarnya. Ia lalu berjalan menuju Reo sambil menarik Nagi. “Lihat! Merah sekali bagaikan kepiting rebus!”
“K-Kau….!” Reo sampai kehilangan kata. Ia bisa saja membantah. Ia bisa saja melawan balik. Tapi semua orang sudah menatapnya dengan asumsi yang sama. Rasanya seolah semua kedoknya terbongkar sampai tak bersisa. Wajahnya semakin merah karena malu.
“Oi, berhentilah!” Chigiri mencoba untuk membubarkan suasana, tapi sudah terlambat.
“Mikage suka Nagi! Mikage suka Nagi!” Teriakan bagaikan nyanyian sumbang itu terus bertambah. Kini beberapa orang sudah memandangnya dengan penasaran, baik dari dalam lapangan maupun luar lapangan. Para siswi yang memang sengaja ingin melihat Reo dari balik pagar kawat, kini saling berbisik dengan kening berkerut.
Reo menjadi berkeringat dingin. Jantungnya berdebar hingga ingin meledak. Tenggorokannya tercekat. Rasa ingin melawan, tapi sudah menjadi lemah.
Bagaimana ini? Karena Takeshi terus meledekinya demikian, dan reaksi Reo yang tidak membantu, semua orang menjadi lebih tertarik dengan gosip yang sepertinya benar itu. Eh? Reo sendiri tidak melawan balik, berarti gurauan Takeshi benar? Mikage Reo, sang bintang sekolah yang selama ini belum pernah kelihatan dekat dengan perempuan mana pun, ternyata menyukai sahabatnya sendiri?
Rahasia yang ia genggam bertahun-tahun itu kini bocor akibat gurauan seseorang serta kedok dia yang berantakan.
“Eh, tapi aku memang dengar sendiri dari Mikage kalau dia memang suka dengan Nagi. Jadi-” Tiba-tiba, Takeshi merasakan pelukannya di lepas secara paksa. Ia menoleh ke samping, hanya untuk mendapat tatapan yang tak beremosi itu kini memandangnya dengan penuh amarah.
“Cukup,” ujar Nagi dengan suara terendah sampai dibuat merinding.
“Hei, aku hanya membantu situasimu agar cepat selesai,” Takeshi mengangkat kedua tangannya sembari menjauhkan diri. “Kau harus berterima kasih padaku, Mikage!”
Oh, Reo sekilas melihat bagaimana tangan Chigiri sudah mengepal erat. Isagi juga turut kesal ketika menyadari ekspresi Reo yang pucat. Namun, Takeshi telah melarikan diri dengan dalih ‘malas latihan’. Dia beruntung bahwa waktunya di klub itu tinggal beberapa bulan lagi sebelum persiapan ujian Universitas. Semua orang juga ikut bubar.
Gurauan itu berlangsung pendek dan tidak penting pada beberapa orang. Tidak ada yang mempertanyakan candaan itu kembali. Mereka hanya melirik ke arah Reo sejenak dengan tatapan kebingungan sebelum kabur juga dari lapangan.
Suasana yang berubah canggung itulah menjadi alasan utama latihan di hari itu dibatalkan. Dengan gusar sambil menahan tangis, Reo berjalan cepat menuju ruang loker. Ia abaikan teriakan cemas dari Chigiri.
“Reo! Kau mau kemana?!”
Kenapa? Kenapa ia tak mampu mempertahankan kedoknya? Kenapa ia tak melawan balik saja? Apa karena rahasianya sudah terkuak begitu saja? Atau karena ia sudah tak mampu berbohong lagi setelah sekian lama menutup diri?
Sepanjang perjalanan, barulah Reo sadari betapa bodoh perilakunya. Ia seharusnya cukup memasang tawa palsu sembari berpura tak tahu. Ia bisa saja membalikkan situasi, membuat gurauan Takeshi menjadi aksi mempermalukan diri secara belaka. Tapi Reo sudah terlanjur terbuai emosi.
Dengan tergesa, Reo buka lemari ruang ganti miliknya dan mengganti baju. Ia hanya ingin kabur, pulang, berpura bahwa semua tadi tidak terjadi.
"Reo?"
Reo menutup pintu loker dengan sedikit keras. Ia memungut sepasang sepatu bola serta tas sekolahnya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan perkataan Takeshi lagi." Chigiri menghampiri Reo dengan hati-hati, "Semua orang tahu dia sedang bercanda-”
"Tapi tidak dengan Nagi," Reo berdesih, "Ekspresi mukaku tak bisa membohonginya."
"Tentu saja tidak. Nagi juga pasti tahu, kok…”
Chigiri memelankan suaranya begitu ia menyadari tetes air mata mulai keluar dari kedua mata Reo.
"Aneh sekali. Kenapa aku merasa begitu emosional?" Kedua tangan Reo menjadi lemas. Sepasang sepatu beserta tasnya jatuh ke atas lantai begitu saja, "Apa karena aku sudah terlalu lelah menyembunyikan perasaan ini setelah begitu lama? Apa karena aku menjadi terlalu lengah setelah Nagi ditolak?"
Dengan sepatak pelan, Chigiri membuka kedua tangannya sebelum ia sambut kakak kelasnya itu kedalam rangkulannya. Ia usap punggung sang malang.
"Tidak apa, Reo. Semua akan baik-baik saja."
Reo menyandarkan kepalanya pada bahu Chigiri meski tinggi badannya melebihi 10 cm dari sang pemeluk. Ia biarkan isaknya lepas.
Ketika ia angkat pandangannya sedikit, barulah ia sadar bahwa bukan hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
Sosok berambut putih itu tengah memandangnya begitu lama hingga sukar membaca pikirannya.
"Nagi..."
Chigiri sontak melepaskan pelukannya dan segera berbalik ke belakang. Kedua matanya melebar.
Menyadari kecanggungan yang mulai menyebar, ia akhirnya memutuskan untuk mundur.
"Kalau kau ingin curhat, telepon saja aku tak apa. Aku akan selalu ada." Chigiri membuka loker miliknya lalu mengambil barang-barangnya. Sebelum ia pergi, ia tepuk bahu Reo dengan pelan.
Kemudian, pemuda bersurai panjang itu pergi, hanya menyisakan sepasang sahabat di atas tebing terjal. Reo baru hendak kabur ketika tiba-tiba Nagi sudah menghalangi jalannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Reo mengalihkan pandangannya ke lantai, "...Tentu saja tidak."
"Tidak usah hiraukan Takeshi. Dia memang suka tidak jelas."
Reo hanya menjawabnya dengan diam. Kini, ia terperangkap, karena satu-satunya jalan keluar sudah dihalangi sahabatnya, kecuali jika ia ingin melompati tempat duduk disebelahnya.
"...aku juga akan berpura-pura tidak tahu."
"Eh?" Barulah Reo berani mengadahkan kepalanya.
"Aku akan berpura tidak mendengar perkataan Takeshi barusan," Nagi mengusap lehernya, "Jadi kau... tak perlu merasa canggung."
Ah.
"Nagi, kau tak ingin bertanya?"
"Hm?" Nagi memiringkan kepalanya, "Sebenarnya ada banyak pertanyaan, tapi lebih baik aku tunggu langsung saja darimu-"
"Bagaimana kalau dia benar?"
Kedua mata Nagi melebar.
"Bagaimana kalau aku memang menyukaimu?" Hati Reo menjadi berdebar. Bibirnya terbuka seolah pikirannya sedang kerasukan sesuatu, "Bagaimana kalau ia tidak sedang bergurau?"
"Reo-"
"Ya, aku sudah menyukaimu dari dulu. Tapi aku tak pernah berani mengungkapkannya karena kita sahabat. Terlebih lagi karena kau sedang menyukai Isagi." Genggaman Reo pada tas sekolahnya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, "Aku menyukaimu, Nagi..."
Tak ada suara terdengar dari lawan bicaranya. Hening menggeluti keduanya. Reo tak mampu melihat kedepan. Pandangannya terus melekat ke lantai , entah apa yang tengah ia antisipasi. Jawaban Nagi kah? Atau-
"Maaf, Reo."
Jantung Reo seolah berhenti berdetak.
"Aku... tak bisa menerima perasaanmu."
Ah.
"...maaf."
Reo tertawa pahit. Tentu saja. Apa yang tengah ia harapkan? Nagi sedang mencintai seseorang, harapan apa yang sedang ia junjung? Betapa bodohnya ia menjadi.
"Aku mengerti. Aku... tak mengharapkan jawabanmu." Reo berusaha untuk menjaga emosinya, tapi getarnya suara tak mampu membohongi.
"Terima kasih... Nagi." Dengan gemetar, ia mendorong tubuh Nagi sedikit agar ia bisa keluar dari sesak ruangan itu. Reo berjalan keluar ruangan tanpa sekalipun berani menghadap ke belakang. Ia mempercepat langkahnya, menghiraukan suara Chigiri dan Isagi yang sekilas terdengar penuh kekhawatiran.
Malamnya, Reo menangis.
Entah mana yang sedang ia tangisi kini. Bahwa ia ditolak, atau bahwa rahasianya terbongkar dengan sangat memalukan. Sejenak ada rasa kemarahan yang menyelip di antara isakan itu, membuatnya melontarkan banyak makian dan sumpah serapah.
“Takeshi sialan! Mati aja sana! Aku berharap dia ditabrak mobil di tengah jalan lalu mati terkapar! Atau dia dibunuh oleh perampok di tengah jalan! Argh!” teriak nya sambil memukul bantal, “Memangnya dia masih anak-anak, bergurau seperti itu?! Tidak lucu sama sekali! Harusnya aku pukul saja dia di depan banyak orang! Atau ku permalukan dia habis-habisan!”
Kemudian, Reo terdiam. Ia menggulingkan badannya agar bisa menghadap langit-langit kamar. Air matanya kembali mengalir.
“Lihat, kan? Nagi menolak perasaanku. Sekarang aku benar-benar keiharan bodoh di hadapannya.”
Padahal dari dulu, ia selalu mengerti bahwa ia tak pernah memiliki kesempatan. Sejak Nagi mendeklarasikan perasaan cintanya pada Isagi. Sejak ia bersumpah tak akan menyerah meskipun sudah ditolak sekali.
Namun, mendengarnya langsung dari bibir Nagi sungguh jauh lebih menyakitkan. Seakan bahwa semua asumsi buruknya memang benar sedemikian fakta. Bahwa dewa pun juga mengatakannya untuk menyerah.
Masalahnya, bagaimana cara untuk menyerah?
Sama halnya bagaimana Nagi tidak ingin menyerah, Reo pun juga. Ia sudah memberikan seluruh hati pada sahabatnya selama bertahun-tahun, bagaimana cara untuk mengambilnya kembali? Oh, karena kau sudah menolakku, aku jadi tidak menyukaimu lagi.
Bahkan orang yang sudah merelakan saja butuh beberapa waktu agar ia bisa berpindah hati.
Oh, tidak. Reo tidak akan memilih jalan mudah seperti mencari pelampiasan. Cara itu sangatlah tidak lakian, tahu. Tapi ia juga tak akan memaksa, karena paksaan lebih lagi bukan sifat seorang pria sejati.
Kedua mata Reo tak sengaja menangkap foto dirinya dengan Nagi, berpose ketika mereka memenangkan turnamen pertama mereka ketika masih SMP. Senyumnya mengerucut.
Kalau memang dia tidak pernah akan diberi kesempatan, maka biarlah ia meminta pada dewa untuk memberinya sedikit waktu untuk merelakan…
Keesokan paginya, Reo malah berhasil mengundang banyak kekhawatiran dari para pelayannya.
“Tuan muda, anda tidak apa-apa?” sambut salah satu pelayan muda setelah melihat Reo keluar dari kamarnya, “Perlukah saya mengambilkan kompres mata?”
“Ah, tidak apa. Nanti bengkaknya juga hilang sendiri.” Reo mengusap kedua matanya. Sial, padahal dia sudah sengaja melatih senyum agar tidak terlihat seperti orang patah hati (memang benar).
Ba-ya saja sampai menyarankan untuk bolos sekolah.
“Saya bisa bantu beritahu wali kelas bahwa Tuan muda sedang tidak enak badan.”
“Tidak usah! Lagipula, sebentar lagi ujian akhir. Aku tidak boleh sampai ketinggalan materi.”
Kalau sang tuan muda sudah bersikap se-keras kepala ini, Ba-ya hanya bisa menurut saja sambil menyimpan kekhawatirannya sendiri.
Reo sengaja tidak mengirim pesan dahulu ke Nagi agar mata sembabnya tidak ketahuan. Biasanya ia akan menelepon Nagi untuk membangunkannya, lalu menjemputnya di apartemen dengan mobil limousinenya. Atau ia akan menggunakkan sepedanya jika suasana hatinya mendukung.
Untuk kali ini saja, ia biarkan Nagi berangkat sendiri. Bukan berarti ia akan menghindari Nagi. Bagaimana pun juga, mereka berdua adalah sepasang sahabat akrab. Akan timbul kegemparan bila mereka saling berjauh setelah lima tahun tak pernah terlihat berpisah.
Reo mengira semuanya akan berjalan seperti sediakala meskipun perasaannya sudah ditolak dengan tegas. Masa bodoh dengan Takeshi. Orang itu sungguh licik, membuat lelucon sekonyol itu pada tahun terakhirnya di klub. Lihat saja. Kalau Reo bertemu dengannya secara tak sengaja di sekolah, ia akan menagihnya permintaan maaf.
Namun, begitu tiba di sekolah, ia mulai menyadari sesuatu janggal.
Entah mengapa semua orang seperti sedang membicarakannya. Tidak, dari dulu ia selalu dibicarakan, tapi situasi kali ini agak berbeda.
Rasanya seolah mereka tengah saling membahas sebuah gosip.
“Tidakkah kau dengar? Katanya Mikage sudah suka dengan orang.”
“Hah? Siapa? Tak pernah aku lihat dia mengejar seseorang selama tiga tahun ini.”
“Orang itu ternyata sahabatnya sendiri…”
Oh. Kedua telinga Reo seketika memanas ketika ia tak sengaja mendengar bisikan yang melewatinya itu.
Ketika ia sampai di kelas, semua orang di dalam ruangan seakan memandangnya dengan mata penuh penasaran.
“Mikage, benarkah kau sudah punya pacar sekarang?” tanya salah satu gadis di dalam kelasnya, didukung oleh beberapa gadis lain di belakangnya.
“Eh? Maksudmu?”
“Katanya kau selama ini berpacaran dengan Nagi.”
Hah? Apa-apaan ini?
“...aku permisi dulu.” Reo tak tahan dengan bisikan berisi rumor yang terus mengikuti tiap jejaknya sekarang. Ia tahu reputasinya sebagai pangeran sekolah membuat orang-orang sangat penasaran dengan kisah asmaranya. Tapi ia bukan seorang selebriti pula. Kenapa mereka begitu obsesi dengan urusan pribadinya?
Ketika ia keluar dari kelas, ia tak sengaja menabrak seseorang dari arah lain.
“Maaf-” Lidahnya menjadi kelu takkala pandangannya menangkap sosok sangat familiar itu.
Suara bisikan itu semakin terasa membesar. Sang objek rumor kini telah hadir di tengah panggung. Terbuai oleh perasaannya yang masih sakit hati setelah ditolak, Reo hanya bisa menatap Nagi dalam diam sebelum ia memutuskan untuk bergerak duluan.
“Pa-Pagi, Nagi.” Gawat. Kenapa di saat seperti ini suaranya menjadi gemetar? “K-Kau baru datang?”
Nagi hanya mengangguk. Bibirnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dengan segera ia tutup.
Lalu, sang pemuda jangkung itu berjalan melewatinya untuk menuju ke kelasnya. Berjalan. Melewati Reo. Seolah-olah ia baru saja tidak berpapasan dengan sahabatnya sendiri.
…Apa perasaan dia saja atau baru kali ini Nagi seperti tidak menanggapi keberadaannya?
Nagi memang seorang pendiam, tapi ia sisihkan beberapa kata untuk berbincang sejenak dengan Reo.
Tapi untuk pertama kalinya, Nagi tidak menyisakannya sebuah kata, bahkan sekedar pandangan sekali pun.
Suara bisikan-bisikan itu semakin membesar.
Isagi yang datang tak lama kemudian saja masih menyempatkan diri untuk menyapa Reo.
“Kau baik-baik saja, Reo?” tanya nya dengan khawatir, “Matamu terlihat bengkak.”
“Oh, ini…” Reo mengusap kedua matanya sekali lewat, “Tadi kemasukkan shampoo pas mandi.”
Nagi saja tidak menanyakannya perihal ini disaat orang lain menyadari. Apa mungkin ia memiliki tebakan sendiri dan memilih untuk tidak bertanya?
“Reo, soal kemarin…” Kedua mata Isagi melirik ke sekeliling, memandangi para siswa siswi yang lewat seperti terus membicarakan topik yang sama, “Kau tak usah terlalu memikirkannya lagi. Gosip ini nanti reda sendiri kok.”
“...Jadi kau mengetahuinya?”
Isagi hanya mengangguk dengan canggung.
Sungguh orang-orang kelewat obsesi. Memangnya kenapa kalau dia menyukai sahabatnya sendiri? Memangnya ada yang salah?
“Semua orang mengatakan bahwa kau dan Nagi tidak cocok meskipun sudah bersahabat lama.” Chigiri menaruh sumpitnya di atas mangkuk berisi sup miso dengan sedikit gusar, “Katanya kalian itu bagaikan langit dan bumi. Kau berlatar belakang dari keluarga konglomerat, sementara Nagi hanya dari orangtua pengajar. Ditambah lagi ia bisa bersekolah disini karena beasiswa jadi secara ekonomi, dia kalah dari mu. Belum lagi reputasinya sebagai orang pendiam aneh yang selalu tidur di kelas. Kalau bukan karena hubungannya denganmu, dia pasti sudah di-bully.”
“Apa-apaan itu?! Jadi mereka sudah menjelekkan Nagi dari awal?!” balas Reo dengan tak kalah kesalnya.
“Mereka itu pengecut, hanya iri pada Nagi karena bisa dekat denganmu tanpa harus menaruh banyak usaha.” Chigiri mendengus, “Mereka tidak berani mengatakan apa-apa karena kalian sudah berteman dari SMP. Tapi karena kini perasaanmu sudah ketahuan, semua orang langsung menjelekkan Nagi dengan dalih tidak rela bisa disukai oleh pangeran idaman sekolah.”
Reo tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada sumpit. Rasanya ia ingin melemparnya ke sembarang arah untuk melampiaskan amarah, tapi ia sedang berada di kantin sekolah yang penuh dengan orang. Beruntung Chigiri bisa menemukan tempat agak sedikit jauh dari keramaian sehingga setidaknya ia bisa menyingkir dari pandangan-pandangan orang padanya.
Berkat lelucon bodoh dan konyol tidak berguna Takeshi itu, kini seisi sekolah tengah membicarakannya. Sang pangeran sekolah yang tak pernah terdengar dan tak terlihat mengejar seseorang, kini sudah ketahuan siapa pencuri hatinya. Dan pencuri itu tak lain adalah sahabatnya sendiri, Nagi Seishiro.
Sebagian salah paham, mengira bahwa Reo sudah berpacaran dengan Nagi sehingga banyak dari mereka tak rela pangeran tampan itu menyukai seorang rakyat jelata. Banyak pula yang hanya sekedar ingin menjelekkan keduanya semata, menganggap pilihan hati Reo agak buruk.
Takeshi sendiri belum menemuinya lagi. Mungkin saja ia sudah tak akan datang lagi ke klub mengingat tahun kedua mereka sudah mau berakhir.
Reo menghembuskan nafasnya dengan berat. Sial. Sial sekali. Rahasianya sudah terbongkar seisi sekolah. Rasanya ingin mengubur diri sendiri saja.
“Ngomong-ngomong, kau sedang menghindari Nagi?” tanya Chigiri, “Tidak biasanya kau mengajakku makan siang bersama.”
“Dia bilang masih kenyang, mau tidur saja sepanjang istirahat ini.”
“Kurasa dia juga tak mau dulu terlihat bersamamu karena gosip.” Menyadari pandangan gusar Reo mengarah padanya, Chigiri dengan cepat membela diri, “Maksudku, dia kan selalu tak mau jadi pusat perhatian.”
“Tapi kan kami memang selalu makan di atap sekolah. Tak ada orang biasanya di sana.”
“Ya, benar juga sih.”
“Oh, Chigiri. Reo.”
Keduanya berhenti ngomong sambil menatap pada pendatang baru. Tepatnya pada dua pendatang baru.
“Disini masih ada kursi kosong, kan?” tanya Isagi, membawa nampan berisi makanan.
“Oh, duduk saja.” Chigiri menarik kursi di sebelahnya.
Belum sempat Isagi bergerak, Nagi sudah mengambil tempat duduk di sebelah Chigiri. Sontak, hati Reo terasa teriris menjadi beberapa bagian.
Bukankah Nagi berkata dia mau tidur saja? Kenapa dia malah memilih untuk makan dengan Isagi? Dan juga kenapa dia malah berjauhan darinya?
“Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor itu tapi menyebalkan sekali,” keluh Isagi, “Pas aku bertemu Nagi, mereka terlihat ingin mengerumuninya dengan pertanyaan ‘apakah kamu beneran pacaran dengan Reo?’. Kenapa mereka begitu penasaran dengan urusan orang lain?”
“Karena mereka menganggap cerita orang lain itu seru,” lanjut Chigiri, “Seperti tidak ada kerjaan saja.”
“Mereka bahkan ikut bertanya padaku juga.”
“Sama.” Chigiri menghela nafas, “Memangnya hanya karena teman se-klub jadi mereka seenaknya bisa bertanya?”
“...maaf jadi melibatkan kalian.”
“Oi, kau tak perlu meminta maaf, Reo,” ujar Chigiri dengan gusar, “Cuekin saja mereka.”
“Mendingan fokus latihan bola saja daripada mengurusi omongan orang lain,” ucap Isagi.
Reo diam-diam melirik ke arah Nagi yang sedari awal hanya makan dalam diam. Ketika mata mereka tak sengaja bertemu, sang bersurai putih langsung menghindar, melihat ke arah lain dimana para siswa berlalu lalang.
Rasa sedih itu kembali bertamu, memenuhi wadah hatinya hingga rasanya ingin tumpah ruah.
Reo tahu rasanya dibicarakan dengan buruk.
Ketika ia masih SD, beberapa orang se-angkatannya yang iri mulai menyebarkan rumor tidak sedap mengenainya.
“Kabarnya dia adalah anak haram Mikage.”
“Sombong sekali. Bukankah dia pernah bergaul dengan preman?”
“Apakah kalian tahu? Dia pernah memukul anak kelas lain diam-diam di pekarangan sekolah.”
Tentu saja semua ini tidak benar. Para perempuan yang sering mengikuti Reo kemanapun ia pergi lantas mengelak. Jadwal Reo terlalu sibuk sampai tak ada waktu untuk melakukan sesuatu tak berguna seperti itu. Barulah setelah Ibu Reo yang tak sengaja mendengar gosip tersebut dari para mulut ibu lain itu mengadu pada guru, rumor itu langsung terhenti.
Lambat laun, Reo mulai terbiasa menjadi pusat perhatian baik dalam mata penuh kekaguman maupun pandangan penuh dengki.
Tapi Nagi lain darinya.
Pemuda itu adalah penyendiri sebelum bertemu dengannya. Kalau ia tidak sedang dengan Reo, ia masih memilih untuk tidur di kelas atau bermain game di sudut tangga sepi pada ujung koridor sekolah.
Nagi tak pernah suka pada perhatian.
Oleh sebab itu, Reo mengerti bila Nagi ingin menghindarinya dahulu sampai rumor itu menjadi surut.
Namun sudah tiga bulan berlalu.
Tahun ajaran baru telah dimulai. Kini mereka sudah berada di tahun ketiga, hanya setengah tahun tersisa untuk mereka bisa aktif di klub sepakbola. Setelah itu, mereka akan sibuk dengan persiapan ujian Universitas dan ujian akhir sekolah.
Nagi masih belum mau berbicara dengannya.
Sekarang Reo sudah mulai belajar bagaimana untuk merelakan perasaannya. Kenangan tertolak itu masih mengiang, tapi Reo sudah tahu bagaimana untuk menahannya. Ia akan mengesampingkan itu semua agar bisa berteman kembali dengan Nagi.
Beneran kau tak mau dijemput, Nagi?
Iya.
Reo menghela nafas. Padahal setidaknya sebelum ia berangkat ke Amerika, ia ingin meninggalkan kenangan baik bersama Nagi di tahun terakhir SMA-nya.
Kelas baru mereka sebelahan lagi. Namun di tahun ketiga ini, Isagi pindah ke kelas Reo.
“Aku lega bisa sekelas denganmu, Reo,” ucapnya dengan senyum lebar sambil menaruh ransel di meja depan Reo.
Reo membalas senyum itu sama lebarnya.
Sepertinya Isagi juga sudah mulai terbiasa dengan Nagi.
Mereka sudah berteman seperti biasa lagi. Seolah-olah pernyataan cinta itu tak pernah terjadi. Reo tak tahu apakah Nagi masih mengejarnya seperti dulu, memandangnya penuh damba seraya menaruh seluruh afeksi padanya. Karena Nagi tak pernah lagi bercerita pada Reo ataupun sekedar curhat padanya.
Reo jadi rindu waktu-waktunya dulu ketika masih menjadi asisten dewa asmara Nagi.
“Oh, pagi Nagi.”
Sontak kepala Reo menoleh ke arah pintu dimana Nagi sudah berjalan menghampiri bangkunya.
“Kelasmu disini sekarang?”
Isagi nyengir lebar. “Aku jadi teman sekelas Reo tahun ini.”
Nagi melirik ke sekilas ke arah Reo, menatapnya dalam diam sebelum beralih kembali ke Isagi.
“Ngomong-ngomong, nanti siang kau-”
Hah?
Hah?
Reo mengerti bila Nagi membutuhkan waktu untuk rehat dari kekacauan.
Tapi ini sudah keterlaluan!
Mereka sudah bersahabat lebih dari empat tahun.
Mereka sudah bersama dari SMP.
Semua orang tahu kalau ada Reo, pasti ada Nagi.
Reo sendiri tidak meminta Nagi untuk membalas perasaannya.
Tapi untuk diacuhkan seperti ini dalam waktu lama… setidaknya berikan sapa saja!
“Oi, kau tidak mengajakku makan bersama juga, Nagi?” goda Reo. Dalam hatinya, ia berharap Nagi menyadari isyaratnya untuk tidak mengacuhkannya seperti hembusan angin belaka.
Nagi sontak menjadi bungkam. Ia mengusap lehernya tapi masih menolak untuk memberikan jawaban.
Ah.
“A-Aku hanya bercanda. Aku sudah ada janji sama Chigiri juga, kok,” Reo berbohong. Daripada ia memaksa Nagi berada dalam situasi canggung, lebih baik ia kabur saja.
Di bangku depannya, Isagi hanya mampu memandangi Reo dengan perasaan tidak enak.
“Bagaimana kalau kita makan siang berempat saja sama Chigiri?” tawarnya guna mereda ketegangan. “Semakin ramai, semakin enak bukan?”
Sebenarnya Nagi tidak begitu menyukai nuansa keramaian, tapi Isagi sudah mencoba untuk mencari solusi agar bisa mengajak Reo.
“...baiklah.” Ya, setidaknya Nagi setuju. Reo membentuk seutas senyum pahit.
Dalam benaknya, optimis itu semakin redup.
“Kau dan Nagi belum berbaikan?”
Bisikan mendadak dari Chigiri itu seketika menghentikan gerakannya. Suapan nasi itu ditaruhnya kembali di atas kotak makan. Kepalanya menggeleng.
“Oi, sebentar lagi kalian mau lulus, masa mau musuhan sekarang?”
“Bukan aku yang sedang menghindarinya…” jawab Reo penuh frustasi. Suaranya ia kecilkan agar kedua orang lain di depannya tidak mendengar. “Aku sudah berusaha untuk bersikap seperti dulu, tahu.”
“Apa mau kubantu?”
“Percuma. Isagi juga sedang membantu tapi masih seperti itu saja.”
“Kalian sedang membicarakan apa?”
Chigiri cepat-cepat mengalihkan pandangannya menuju Isagi. “Tidak ada. Aku hanya memberitahunya kalau sepertinya gosip itu sudah agak mereda.”
“Oh. Aku juga tidak mendengarnya lagi sejelas dulu.” Isagi mengangguk, “Tapi kadang-kadang masih ada fans Reo yang mengeluh.”
“Padahal aku sudah menjelaskan kesalahpahaman…” Selama beberapa bulan sejak rumor itu bertebangan, Reo sudah bekerja seperti juru bicara seorang presiden, meluruskan kesalahpahaman serta memberitahu bagaimana Takeshi hanya bercanda. Namun, tetap saja masih ada segelintir orang belum percaya. Malah gosip itu berubah sejak Nagi menghindarinya.
“Sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka.”
“Mungkin saja karena ketahuan pacaran, mereka memutuskan untuk putus. Apalagi reputasi Nagi tidak sebagus Mikage.”
“Atau Mikage memang suka dengan Nagi tapi ditolak olehnya.”
“Mana mungkin orang sehebat Mikage bisa ditolak oleh orang seperti itu?!”
Rasanya ingin menyumpal mulut orang-orang ini.
“Ngomong-ngomong, jadi beneran kau akan ke Amerika, Reo?” tanya Isagi, mengubah topik percakapan agar nuansa sekitar atap sekolah itu menjadi lebih santai.
Reo menganggukkan kepalanya. “Ayahku benar-benar ingin aku kesana.”
“Jauh sekali. Bagaimana kita nanti akan ketemu?” ujar Chigiri.
Reo melepas sebuah tawa, “Tenang. Aku masih akan pulang ke Jepang kalau libur.”
“Takutnya kau akan menjelma menjadi orang barat.”
“Oi.”
Isagi turut ikut tertawa.
Pandangan Reo tak sengaja terjatuh pada Nagi, masih sibuk makan tanpa berbicara sepatah kata pun. Diam-diam, ia mengamati ekspresinya. Namun, raut itu tak berubah sekali saja, menumbuhkan kekecewaan dalam benak Reo.
Setidaknya katakanlah sesuatu. Kita akan berpisah jauh sebentar lagi.
Dengan waktu SMA mereka sudah mau berakhir dalam waktu setahun, Reo hanya memiliki waktu sampai libur musim panas untuk berada dalam klub sepakbola. Setelah itu, ia akan disibukkan dengan persiapan ke Amerika nanti.
Takeshi meminta maaf pada Reo pada hari terakhirnya di klub (pintar sekali sampah itu. Ia langsung mengundurkan diri begitu naik kelas).
“Maaf ya, waktu itu aku hanya bercanda,” ucapnya diselingi cengiran.
Reo tidak merasa permintaan maaf itu tulus, namun karena ia perlu menjaga reputasinya sebagai sang pangeran sekolah berhati malaikat, ia ‘maafkan’ dengan senyum setengah tulusnya.
“Tidak apa.”
Lalu, setelah latihan klub sudah selesai, Reo menjatuhkan kepalanya dengan muram seperti sedang diterpa oleh hujan deras di atas kepalanya.
“Sudah. Anggap saja dia sudah pergi. Kau tak akan bertemu dengannya lagi.” Chigiri terus mengusap punggungnya selayak seorang Ibu terhadap anaknya.
“...Bercanda apanya? Hubunganku dengan Nagi jadi runyam karena dia.”
“Orang seperti itu tak layak untuk diingat.”
“Urgh! Lihat saja kalau dia berani macam-macam lagi! Dia akan menghadapi kemarahan seorang Mikage!”
“...kurasa dia juga tak akan berani bertemu denganmu lagi.”
Kedua mata Reo mengarah ke lantai. Teringat kembali bagaimana seusai latihan selesai, Nagi meninggalkannya begitu saja bersama Isagi. Tak ada kata perpisahan ataupun ucapan basa-basi untuk bertemu besok lagi.
Seakan mereka berdua kini adalah sepasang orang asing.
Jantung Reo berdenyut kesakitan. Tidakkah dia sudah keterlaluan? Masa semudah itu memutuskan tali persahabatan mereka?
Reo masih ingin berteman dengannya. Tidak apa jika cintanya tak pernah berbalas. Reo masih ingin mengobrol dengannya. Reo masih ingin bertemu dengannya.
Ya Tuhan, bagaimana pun juga dia adalah sahabatnya!
Sudah tiga bulan berlalu….
Dan Nagi masih menjauhinya seperti seekor serangga.
Biarpun Isagi dan Chigiri sudah membantunya dengan mengajak Nagi makan siang dengannya, namun pemuda berambut mutiara itu belum mau mengajaknya bicara.
Ini tidak seperti biasanya. Ketika mereka bertengkar pun, Nagi akan mendatangi Reo seperti semua sedang baik-baik saja. Tidak biasanya bagi pemuda itu untuk lari dan tak pernah kembali.
Sebentar lagi mau libur musim panas sekaligus libur terakhir yang mereka bisa nikmati. Di libur musim dingin nanti, mereka sudah menjadi sibuk dengan persiapan masuk kuliah.
Dahulu, setiap libur musim panas, Reo selalu mengajaknya berlibur di Villa di Okinawa ataupun sekedar mengajaknya menginap sama-sama. Sesekali Reo sebenarnya sudah berpikir untuk mengajak Nagi jalan sekaligus merayakan pesta natal di rumahnya.
Tapi dengan hubungan mereka sekarang terasa agak sulit untuk sekedar mengirim undangan.
Reo rasanya ingin menangis. Ia rindu dengan Nagi. Ia rindu dengannya dalam konteks persahabatan maupun romansa. Biarlah Nagi tak pernah menerima perasaannya, tapi biarkan mereka tetap bersahabat.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, mengakhiri hari ujian terakhir sebelum libur musim panas. Reo merangkul tasnya dan berjalan ke kelas Nagi.
Pokoknya ia akan berbicara dengan Nagi, tekadnya sembari melangkahkan kakinya dengan tegap.
Hampir semua murid telah berjalan pulang untuk menikmati libur secepatnya. Namun Nagi masih membereskan barang-barang di loker mejanya, menjadikannya murid tersisa yang tertinggal di kelasnya.
"Nagi."
Suara Reo membuat Nagi menoleh seketika. Kedua matanya melebar.
"K-Kau belum pulang?" Oh, astaga. Tiga bulan tidak berbicara membuat Reo menjadi sedikit gugup. Padahal selama ini dikenal sebagai pembicara ulung.
Nagi menggeleng kepalanya. Ia teruskan kegiatannya menaruh buku dari loker meja ke dalam tasnya. Lalu setelah selesai, ia kancingkan ransel hitamnya.
"Kau ada rencana untuk libur nanti?"
Nagi beranjak berdiri. Pandangannya lalu jatuh pada Reo sebelum ia menggeleng lagi.
"Tidak."
Seketika wajah Reo menjadi berseri. "Kau mau merayakannya denganku? Kebetulan kedua orangtuaku akan berlibur ke Yunani selama dua minggu, jadi kita bisa-"
"Maaf, Reo. Aku tak bisa."
Kening Reo mengerut. Senyumnya hilang tanpa sirna. "Kenapa? Bukankah kau bilang kau sedang tidak sibuk?"
"Aku baru teringat. Aku mungkin akan pulang ke rumah orangtua di Kanagawa."
"Oh..." Tangan Reo tanpa sadar mencengkram tali tasnya dengan erat hingga ia rasakan peluh membasahi ujung jari jemarinya. “Bagaimana kalau sebelum kau pulang? Apa kau ada waktu? Kita bisa-"
"Tidak, Reo. Aku sedang tak ingin kemana-mana."
"Kalau tidak, bagaimana kalau kita berburu sepatu bola yang baru? Kudengar ada banyak model terbaru yang keluar di musim ini. Kita-"
"Berhentilah menggangguku, Reo!”
Seketika bibir Reo menjadi bungkam. Lidahnya membeku hingga tak mampu mengutar satu patah kata pun. Udara panas menyelimuti seisi ruangan ini sampai tak terasa lagi, seolah digantikan oleh hembusan dingin mengitari permukaan kulitnya.
Untuk pertama kalinya dalam tahun-tahun persahabatan mereka, Nagi membentaknya.
Ia bukan termasuk orang yang pandai dalam mengutarakan emosinya lewat suara. Ia adalah seorang pembicara yang lembut. Tiap kata yang keluar selalu bernada halus. Bahkan semarah apa pun ia rasakan, Nagi tak akan semudah itu berteriak.
Kini, pemuda bersuara lembut itu membentaknya dengan suara keras.
Dan Reo sempat memperhatikan ekspresi wajahnya. Bagaimana wajah yang selama ini terlihat tenang, kini sudah dikuasai oleh amarah. Bagaimana sorot matanya yang selalu senyap kini terlihat mengerikan.
Reo tak pernah melihat ekspresinya yang seperti ini, dan ia takut. Bibirnya gemetar.
Nagi marah padanya.
Nagi sedang marah padanya.
"...maaf." Nagi lalu memalingkan wajahnya, tak berani menunjukkannya pada Reo, "Aku sedang tak ingin bertemu denganmu dulu.”
"Nagi-"
"Bisakah kau tidak menggangguku lagi, Reo?"
Jantung Reo tak mampu berhenti berdetak dengan cepat. Tangannya menjadi gemetar, sukar sekali mengendalikannya agar kembali tenang. Kedua telinganya berdengung sampai tak mampu mendengar lagi suara apa pun. Kedua matanya memanas tapi ia tahan mati-matian agar tangisnya tidak tumpah ruah.
Habislah sudah. Segala harapan untuk berbaikan. Segala permintaan untuk kembali berteman.
"K-Kalau itu memang permintaanmu..." ucapnya dengan suara mengecil pada akhirnya, berharap agar Nagi tidak menyadari isak di dalamnya, "Aku tak akan mengganggumu lagi."
Reo tak ingat apa yang terjadi kemudian, tapi ia langsung membawa dirinya kabur dari sana. Tak berani ia menoleh ke belakang guna pamit dengan 'sahabatnya' kalau ia masih boleh panggil. Ia menelepon Ba-ya untuk diminta jemput. Ia hiraukan setiap orang yang menyapanya di tengah perjalanan menuju gerbang sekolah, tak mampu berfokus pada apa pun di sekelilingnya.
Tubuhnya bergerak seperti robot, terprogram untuk melakukan rutinitas seperti biasa tanpa bisa berpikir. Ia pulang, menyambut Ibu Bapak, mandi, berganti baju, makan malam. Semua ia lakukan tanpa merasa berpijak pada bumi, seolah hatimu juga sedang ditujah dari dalam hingga kau merasa sesak dan kedua matamu memanas.
Ketika hari itu sudah mau berakhir, barulah ia sadar apa yang sedang terjadi. Barulah ia bisa menuangkan air matanya dengan deras, membasahi bantalnya. Raungannya menguasai seisi kamar gelap itu.
Sekarang ia tahu. Nagi sudah membencinya. Nagi tak mau bertemu dengannya lagi. Semua karena perasaan bodohnya. Seharusnya ia tidak menyukai Nagi seharusnya ia pendam saja sampai selamanya, tak usah biarkan yang lain tahu. Semua karena Takeshi, kalau ia boleh menyalahkan siapa pun, kalau bukan karena gurauan kejamnya itu.
Reo tak tahu emosi mana yang sedang menguasai. Semenit kemudian, ia akan melempar bantalnya ke seberang ruangan, membayangkan dirinya mematahkan leher orang menyebalkan itu atau menjahit bibirnya dengan benang jahit.
Lalu beberapa menit kemudian pula, ia akan menangis sambil memukul dadanya. Memarahi dirinya sendiri yang begitu bodoh karena telah mengacaukan persahabatan mereka selama bertahun-tahun. Menyalahkan dirinya yang tak mampu melihat suasana. Padahal ia tahu Nagi baru saja ditolak oleh Isagi, tapi ia malah menambah masalah hati yang membuat Nagi menjadi bingung.
Reo lalu pungut buku tulis yang ia gunakan untuk menulis strategi atau catatan mengenai sepakbola, terutama mengenai Nagi. Buku tulis bersampul ungu yang ia buka tutup setiap hari, berisikan segala kenangan tentang mereka berdua.
“Kau tak harus menulis setiap strategi, Reo. Tidakkah merepotkan sekali?”
“Tentu saja tidak!” Ia teringat bagaimana lebar senyumnya ketika Nagi mengomentari kebiasaan barunya di tahun pertama persahabatan mereka. “Siapa tahu catatan ini akan berguna di masa depan kelak, ketika kita akan menjadi pemain profesional!”
Kemudian ia ingat jua betapa lembut senyum kecilnya Nagi, memandangnya dengan geli tapi di saat yang sama tidak menertawakan hobinya dengan rendah.
“Baiklah, boss. Kau paling tahu mana yang terbaik.”
Ketika kamarnya sudah menjadi berantakan dirasanya, ia tertawa sekeras mungkin ditemani air mata, menertawakan segala kemalangan cinta yang ia rasakan. Ia biarkan rasa sakit itu menguasainya lebih lagi hingga menyeluruh, mencekik lehernya hingga nafasnya menjadi tersendat.
Selamanya ia mungkin akan merasakan beban berat dalam dada yang perlahan merusaknya dari dalam.
Selama sisa waktunya di sekolah, Reo tak berbicara lagi dengan Nagi. Hari-harinya sudah dikuasai oleh belajar, bimbel, dan persiapan kuliah. Barang-barangnya sudah dikemas sebagian untuk dibawa ke Amerika.
Baju, buku, paspor… Reo berdiri di tengah kamarnya yang sudah dipenuhi beberapa kardus. Apa lagi yang lupa, ya?
“Reo! Kau sudah siap?”
“Sudah, Ibu!” Pemuda berambut ungu itu segera mengambil ransel kosongnya. Sebelum ia pergi meninggalkan ruangan, ia berkaca sebentar di depan cermin setinggi tubuhnya. Seragam sudah rapi. Rambut sudah disisir. Perlahan ia tersenyum.
Tidak terasa bukan bahwa hari kelulusannya sudah datang? Ketika kau sudah disibukkan oleh banyak kegiatan dan pikiran perihal masa depan, waktu tidak akan menunggumu dan memutuskan untuk berjalan dalam tempo yang cepat.
Dalam beberapa bulan ke depan, ia akan menjadi mahasiswa baru jurusan Bisnis di Universitas Stanford. Tiket pesawat sudah dipesan. Tempat tinggal sudah ditetapkan. Semua telah diatur oleh kedua orangtuanya.
“Nanti Ayah dan Ibu akan datang menjemputmu. Kita bisa berfoto-foto dahulu,” ucap Ibu-nya sambil merapikan lagi blazer seragam Reo, meskipun ia sendiri sudah merasa apik. “Ibu bangga sekali denganmu.”
Reo tersenyum ketika ia rasakan tangan sang bunda membelai rambutnya dengan lembut. Kemudian setelah menyelesaikan sarapannya, ia berjalan ke lobi gedungnya dimana Ba-ya telah bersiap bersama limousine kebanggannya.
“Tidak terasa Tuan Muda sudah dewasa…” Ba-ya pun juga ikut terharu sambil menyetir di kursi depan, “Sebentar lagi kita akan jarang bertemu dengan tuan muda berada di benua lain.”
“Ba-ya, jangan ngomong seperti itu,” ucap Reo. “Aku bisa mengajakmu juga kesana.”
“Ah, Ba-ya rasa tuan muda juga sudah bisa menjaga diri sendiri dengan baik jadi tidak memerlukan saya lagi.”
Lalu, mereka habiskan perjalanan menuju sekolah dengan pembicaraan nostalgia. Mengenai masa kanak-kanak sampai jalan persahabatannya dengan Nagi.
Nagi…
Ba-ya belum tahu mengenai permasalahannya dengan Nagi. Ia masih mengira bahwa mereka berdua hanya berpisah sebentar karena sibuk. Ia tak berani bercerita karena takut akan mengkhawatirkan wanita separuh baya itu.
Sesampai di sekolah, ia langsung dikerumuni oleh teman-teman angkatannya. Namun, beruntung sang guru segera membubarkan mereka dan menyuruh semuanya untuk berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pidato terakhir sang kepala sekolah.
“Setelah ini, mari kita dengarkan pidato terakhir dari salah satu murid angkatan kita.”
Reo pun beranjak dari kursinya dan segera berjalan menuju podium di tengah panggung. Sebagai murid tahun ketiga dengan peringkat nilai terbaik, ia diminta oleh kepala sekolah untuk menulis sebuah pidato perpisahan serta bagaimana ia bangga bisa bersekolah di sana bla bla bla. Entahlah, Reo sendiri hanya menuliskan pidatonya dengan formal seperti bagaimana ia berbicara dengan rekan kerja Ayahnya. Hanya berisikan kalimat yang sudah terprogram, tak ada perasaan tulus didalamnya.
Ketika ia tengah membacakan pidatonya, kedua matanya tak sengaja menangkap seseorang di antara kerumunan siswa siswi tingkat akhir tersebut. Seseorang yang masih menjulang tinggi meskipun dalam posisi duduk. Kedua matanya terlihat lesu seperti ingin tertidur pada hari terakhirnya di sekolah. Rambut berwarna putihnya lebih sedikit rapi dibandingkan biasanya.
Dada itu kembali terasa sakit, tapi Reo tak bisa meninggalkan pidatonya. Ia abaikan sembari berfokus lagi terhadap barisan kalimat pada kertas itu. Usai membacakan kalimat terakhir penuh kata perpisahan, suara tepukan-tepukan tangan meramaikan seisi aula. Kemudian, Satu persatu murid dipanggil ke depan untuk menerima piagam kelulusan.
Selesai sudah upacara kelulusan itu.
"Oi, Reo!"
Hembusan angin menyapa pipinya ketika ia menoleh. Suara-suara murid dan beberapa keluarga memecahkan keheningan di sekitar. Belum sempat ia melihat siapa yang memanggilnya, tiba-tiba sudah ada yang merangkulnya.
"Oi, Tuan puteri, aku belum siap,” ujarnya dengan gusar setelah menyadari bahwa ia sedang di foto melalui kamera HP.
"Aku memang sengaja," Chigiri menjulurkan lidahnya. Lalu ia melihat hasil foto dari telepon pintarnya, "Ekspresi terkejut mu lucu sekali."
Reo meringis ketika ia melihat raut wajahnya yang kurang bagus disana.
"Ulang.”
"Tidak. Aku akan menyimpan ini sebagai kenang-kenangan." Chigiri nyengir lebar, “Anggap saja sebagai hadiah perpisahanku. Setelah ini kita akan bertemu lebih jarang, bukan?”
“Jangan katakan seperti itu.” Reo menyapu beberapa kelopak bunga Sakura yang sudah berjatuhan di antara helaian rambut Chigiri, “Aku akan sering pulang kesini untuk mengunjungi kalian tahu.”
“Aku tahu kau kaya, tapi tetap saja Amerika jauh dari sini. Oh! Ada Isagi!” Kemudian Chigiri berlari menuju arah lain.
Reo tertawa kecil melihat tingkah laku teman dekatnya itu. Ia kembali melihat sekeliling dengan pandangan menerawang. Begitu banyak yang saling meminta foto. Banyak pula yang menangis tak ingin lepas dari temannya. Beberapa keluarga sibuk berpelukan dengan anak mereka seraya melemparkan pujian akan betapa bangganya mereka. Beberapa pasangan saling meminta kancing teratas kemeja mereka sebagai kenang-kenangan cinta. Reo sendiri sudah beberapa kali dimintai kancing kemejanya, namun ia selalu menolak karena ia sudah menyimpannya untuk seseorang.
Meskipun ia tahu orang tersebut pasti akan membuangnya.
"Reo!"
Reo menoleh ke belakang. Ia mengembangkan senyumnya.
"Oh, Isagi, kenapa? Mau minta foto juga?" gurau nya.
Isagi tertawa. "Aku hanya ingin menyapamu untuk terakhir kalinya."
"Hei, kita bakal ketemu lagi, kok!" Reo menepuk punggung Isagi.
"Dan juga, Reo..."
"Hm?"
"Aku ingin meminta maaf." Pandangan Isagi menjadi redup, "Aku tidak bermaksud untuk membuat kau dengan Nagi..."
Reo berusaha mempertahankan senyumnya. Ia menepuk kembali pundak Nagi, kali ini lebih lembut.
"Kenapa kau meminta maaf? Kau kan tidak berbuat apa-apa."
"Tapi-"
"Sudah, sudah. Hari ini kelulusan." Reo merangkul pundak Isagi, "Kau ingin berfoto dengan siapa? Kita bisa berpose di bawah pohon kalau mau."
Angin sepoi musim semi bertiup menarikan kelopak-kelopak bunga Sakura. Di bawah pohon Sakura yang besar pada pekarangan sekolah, Reo berdiri di samping Isagi dengan salah satu teman sekelas mengambil foto mereka.
"Kau sepertinya bertambah tinggi."
"Iya, kah?" Reo turut mengintip hasil foto di kamera HP-nya, "Terlihat bagus."
"Kau ingin berfoto dengan yang lain?"
"Tadi aku sudah dengan Chigiri," Reo menghela nafas kecil, teringat pada hasil fotonya dengan Chigiri yang pasti tidak terlihat bagus. "Kalau yang lain belum?"
"Kau tak ingin berfoto dengan Nagi?"
Mendengar nama itu, spontan Reo terdiam. Kedua matanya mengarah ke arah lain, dimana kelopak-kelopak berjatuhan memenuhi tanah.
"Aku rasa dia tak ingin-"
"Tidak apa. Dia pasti mau, kok." Kemudian tanpa bisa dicegat lagi, Isagi memanggil Nagi yang ternyata berdiri tak jauh dari mereka, sedang mengobrol dengan Chigiri.
"Nagi!"
Oh, tidak. Jantung Reo berdebar lebih kencang seiring dengan suara langkah itu mendekat. Kepalan tangannya mengencang.
"Ada apa?"
"Kau mau berfoto dengan Reo? Sekalian untuk kenang-kenangan."
Tidak. Nagi pasti tak mau. Setahun mereka sudah tak berbicara maupun saling mendekat, Nagi pasti tak mau mengukir kenangan apapun dengannya. Lagipula, semua persahabatan mereka sudah menjadi tinggal kenangan. Ia-
"Oke."
Eh?
"Ayo!" Belum selesai Reo mencerna apa yang sedang terjadi, Isagi sudah mengarahkannya ke bawah pohon Sakura sebagai tempat spot foto. Disampingnya, Nagi sudah berdiri dengan siap.
"Berdiri lebih dekat lagi." perintah Isagi seolah sengaja.
Pundak mereka kini saling bersentuhan. Degup jantungnya semakin cepat. Kedua mata Reo tak berani melihat ke sebelah, takut kalau wajah merahnya ketahuan.
"Satu... Dua..."
Semoga senyumnya tak terlihat aneh sekarang, karena kedua ujung bibirnya menjadi amat kaku.
"Tiga...!"
Tak lama setelah suara kamera HP itu terdengar, sapuan angin kencang membuat ribuan kelopak itu tertiup menuju tanpa arah. Reo melindungi kedua matanya dengan lengan dari serbuan kelopak bunga itu.
"Wah!"
"Anginnya kencang sekali!"
Seruan dan komentar orang-orang terdengar di sekeliling. Setelah merasakan angin itu tak lagi datang, ia turunkan tangannya dari wajah.
"Fotonya tadi dapat, kok!" seru Isagi, seolah tahu bahwa kedua objek foto itu cemas jika foto mereka tertutup oleh hujan kelopak.
"Terima kasih, Isagi!" balas Reo. Ia baru hendak beranjak ketika tiba-tiba sebuah tangan menyapu helai rambut atasnya.
"Eh-" Lidahnya menjadi kelu seketika. Tubuhnya tak bisa bergerak selain hanya bisa memandang Nagi yang kini sedang meraih sesuatu dari rambutnya.
"Ada kelopak bunga di atas kepalamu," ucap Nagi dengan tenang, tak tegusir oleh betapa dekatnya mereka berdiri sekarang.
"Te-Terima kasih..." Reo bisa dikira demam dengan temperatur panas wajahnya sekarang. Dengan kikuk, ia berlari menuju Isagi sembari berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang kian tadi tak mau melambat.
Hasil foto itu memang diambil sebelum diterpa angin kencang, tapi disaat yang sama Reo merasa hasilnya tidak begitu baik. Senyumnya kelihatan memaksa. Wajahnya terlihat merah padam. Cara berdirinya amat kaku. Dengan meringis, ia sapukan pandangannya pada satu orang lagi dalam foto tersebut.
Nagi... tampak seperti Nagi. Tubuhnya agak membungkuk seperti yang selalu ia ingat. Kedua matanya terlihat mengantuk, seperti bagaimana ia selalu bertemu pandang dengannya. Cara berdirinya juga sama kaku, namun memang begitulah cara ia berpose. Ia tak pernah peduli dengan bagaimana ia berpose pada foto.
Tapi ada sesuatu yang membuat hati Reo berdebar.
Sebuah senyum. Nagi memasang sebuah senyum kecil.
Selama sekian tahun ia pernah bersahabat dengan Nagi, baru kali itu ia melihat Nagi berinisiatif mengukir seutas senyum untuk foto.
"Bisakah kau kirim fotonya lewat email sekarang?" pinta nya pada Isagi.
Mungkin untuk beberapa orang ataupun dirinya, foto itu tampak kurang dengan kedua orang seperti belum siap. Namun, bagi Reo foto itu menjadi kenangan terakhir ia bisa berdiri sejajar dengan Nagi. Ia tak tahu apakah ia akan bertemu dengan pemuda itu nantinya.
Namun pada segala kenangan mereka telah berbagi bersama, pada segala perasaan yang ia tumpahkan padanya, pada semua ucapan terima kasih karena telah memberinya warna hidup...
Reo ucapkan selamat tinggal pada Nagi.
"Semoga kau berbahagia kelak kita berpisah, harta karun."
