Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-03
Words:
3,209
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
104
Bookmarks:
7
Hits:
1,438

Heaven to Touch

Summary:

Eunseok pikir dia masih bermimpi begitu netranya mengerjap; mendapati kekasihnya yang jelita terpejam di hadapannya. Eunseok tak akan mengira kuasanya melingkar apik pada pinggang sang kasih, merengkuhnya hangat dan erat, seolah-olah Wonbin akan hilang dari pandangannya kalau Eunseok melonggarkan dekapannya.

Notes:

Hi ... this is the first time I write about marriage life (KINDA) ... I hope this fic finds you well ... also, big THANKS for Anon! The prompt was commissioned by Anon <3

Work Text:

Eunseok pikir dia masih bermimpi begitu netranya mengerjap; mendapati kekasihnya yang jelita terpejam di hadapannya. Eunseok tak akan mengira kuasanya melingkar apik pada pinggang sang kasih, merengkuhnya hangat dan erat, seolah-olah Wonbin akan hilang dari pandangannya kalau Eunseok melonggarkan dekapannya.

 

Ia yang lebih tua masih ingat meriah malam sebelumnya, ketika kembang api memeriahkan langit yang penuh bintang. Ia masih ingat bagaimana senyumnya terulas tanpa cacat, mengundang kecupan Wonbin ‘tuk menghujani wajahnya, tak diizinkan melewatkan satu inci pun dari manis dan merekahnya bibir sang kasih. Eunseok masih ingat bagaimana jiwanya yang terbelah seolah kembali menjadi satu, bagaimana napasnya dihela lega tiap sumpah ia ikrarkan. Eunseok masih ingat bagaimana jemarinya bertaut dengan milik Wonbin, mengundang si pemilik surai pirang ‘tuk jatuh dalam dekapan dan sebuah ciuman yang begitu tulus, begitu murni— ciuman yang isyaratkan ikatannya dengan Wonbin untuk selama-lamanya.

 

Mana pernah Eunseok menyangka, kalau pertemuannya dengan si kecil bertahun-tahun silam akan membawanya kepada hari yang paling meriah seumurhidupnya? Mana pernah sih, Eunseok mengira, bahwa surat cinta yang ia tuturkan kepada Wonbin akan buat si pirang terikat kepadanya? Mana pernah Eunseok berpikir ‘tuk sematkan cincin yang berkilauan pada jari manis sang kasih? Eunseok, mana pernah mengira ia akan percaya cinta?

 

Nyatanya, Wonbin buat Eunseok percaya cinta. Si pirang buat si pemilik surai legam kembali menaruh harap pada cinta yang bersemi, buat hari-hari Eunseok kembali merekah dengan sentuh jemarinya; menyambut yang lebih tua dengan hangat dekapan, dengan masakan rumahan yang menurut Eunseok selalu kurang garam, makanan rumahan yang menurut Wonbin akan lebih baik untuk pencernaan kekasihnya.

 

Wonbin selalu terlihat cantik dan rupawan. Bahkan dalam lelapnya, ketika keningnya berkerut, surainya tak ditata rapi, dan sesekali ia loloskan erangan yang tak dapat Eunseok tangkap maksudnya, Wonbin selalu terlihat cantik. Kulitnya merona alami, seiras dengan surainya yang terang; kontras dengan milik Eunseok yang hitam legam. Wonbin selalu menawan, napasnya akan berderu dengan konstan, ia akan mendengkur kecil selayaknya seekor kucing yang lelap dalam tidurnya, dan Eunseok akan mencintai setiap hal-hal kecil yang menyelimuti kekasihnya.

 

“Hngg—”

 

“Sayang,”

 

Eunseok terkekeh; ia mengulurkan kuasanya ‘tuk usap surai sang kasih yang kini mengerang, turut mengerjapkan netranya yang semula terpejam. Pelipisnya tak lolos dari usap jemari Eunseok, turut dihujani kasih yang penuh, disayang sebagaimana Eunseok selalu mencintai hati Wonbin seluruhnya. “Sayang,” si surai legam mengulang. “Bina, sayangnya Mas.”

 

Ia yang dipanggil terkekeh dalam usahanya-mengumpulkan-nyawa. Lantas, tubuhnya yang mungil ia geser, mencoba menyelip dalam rengkuh Eunseok; disambut dengan baik oleh yang lebih tua.

 

Kini Wonbin nyaman menyembunyikan wajahnya kepada dada bidang Eunseok, menghirup aroma khas kekasihnya yang selalu ia rindukan pada lain waktu. Ia terkekeh sendiri, lantas kuasanya melingkar pada pinggang Eunseok, mendekapnya erat dan manja.

“Sayangnya Mas,” si pirang mengulangi perkataan kasihnya. “Hehehe. Sayangnya Mas.”

 

Tawa lolos dari yang lebih tua. Gemas ia mempererat dekapannya, mengunci tubuh mungil Wonbin supaya tak lepas jauh dari tubuhnya. Eunseok dapat merasakan degup jantung sang kasih beradu dengan miliknya, nyaris kembali mengundang kembang api untuk meledak dan berpesta di ruang kamar.

 

“Sayangnya Mas, kan?” Eunseok melempar tanya retoris.

 

Ia yang ditanya mengangguk-angguk heboh. “Mas ngapain ngeliatin aku tidur gitu, sih?”

 

“Kamu cantik kalau lagi ngiler.”

 

Reflek, Wonbin melayangkan tinjunya pada dada Eunseok. Bibirnya merengut seraya ia mendongakkan wajahnya, menemui tatap gelap milik sang kasih yang kini perlahan berhias bintang. “Aku nggak ngiler, ya!”

 

“Masa sih?” Eunseok memutar bola matanya, pura-pura berpikir. “Kok bau iler?”

 

Seharusnya Wonbin paham bahwa menikahi Eunseok berarti turut menikahi candaan-candaannya yang tak jarang menjengkelkan. Ia mendorong tubuh sang kasih, menciptakan jarak di antara mereka masih dengan bibir yang ditekuk ke bawah. Alisnya bertaut, menemui milik Eunseok yang juga dibuat empunya bertaut; seolah-olah mereka yang memadu kasih tengah berkompetisi pagi ini.

 

“Nyebelin.” Kata Wonbin. “Mas kali tuh, bau iler!”

 

“Mas bau iler soalnya cium Bina, kali.”

 

“Ihhh, rese deh! Mas Eunseok!”

 

Tawa lepas memenuhi ruang yang penuh. Mati-matian Wonbin menahan kekehannya, tapi seluruhnya pecah juga begitu kuasa Eunseok kembali melingkar pada pinggangnya; menarik tubuhnya ‘tuk kembali mendekat sambil sesekali dihujani gelitikan-gelitikan kecil.

 

“Geli ih, Maaaas.” Wonbin memegang jemari yang lebih tua, mencoba menghentikan keisengan Eunseok pada pagi pertama sejak status mereka berubah.

 

Eunseok mengangguk-angguk saja, lantas dengan berbaik hati ia menghentikan gelitiknya pada pinggang Wonbin. Perlahan-lahan ia menyelipkan kuasanya masuk ke dalam kaus kebesaran yang dikenakan Wonbin dalam tidurnya. Ibu jarinya mengusap pinggang Wonbin penuh kasih, seolah-olah isyaratkan bahwa Eunseok akan mati-matian menjaga kasihnya ‘tuk jauh dari nyeri, untuk selalu dapatkan cinta yang pantas ia dapatkan, untuk beri isyarat pada Wonbin bahwa hatinya akan aman di sini, dijaga dengan penuh cinta oleh si pemilik surai legam yang lebih tua.

 

“Bina seneng nggak nikah sama Mas?”

 

Ada sebuah jeda panjang yang menyelinap di sela rengkuhan Eunseok dan Wonbin, sebuah jeda panjang yang diisi dengan dua pasang mata yang bertaut, saling menyalurkan kasih dalam hening, berbinar-binar tak miliki kasih lain yang merambat di dalamnya; dua pasang mata yang sejak semalam telah mengikatkan dirinya ‘tuk bertaut penuh cinta selama-lamanya.

 

Kuasa Eunseok yang menganggur kini turut terulur, menyusuri garis wajah si cantik yang kembali terpejam. Napas yang mulanya ringan kini semakin berat, beradu satu dengan lainnya. Pinggang Wonbin yang direngkuh oleh si surai legam perlahan-lahan menyalurkan hangatnya; lebur bersama telapak tangan Eunseok yang turut memanas.

 

Jemari Eunseok perlahan-lahan turun, memuja mata, hidung, dan merekahnya bibir Wonbin yang selalu lembab; mengusapnya penuh kasih. “Bina,” ia memanggil. “Seneng nggak nikah sama Mas, sayang?”

 

“Hmm,”

 

“Apa tuh, hmm gitu?” Kata Eunseok. “Mas nggak ngerti, sayang.”

 

Perlahan-lahan Wonbin dapat merasakan suara kekasihnya semakin dalam, seolah menusuk ke dalam rungunya dan memenuhi Wonbin; seolah Eunseok tengah isyaratkan bahwa ia telah seutuhnya menguasai Wonbin, menguasai ruang yang mereka tiduri, dan menguasai seluruh hal yang berada di dalam kungkungannya.

Seluruh hal yang berada dalam kungkungannya— termasuk juga Wonbin dan tubuhnya; kini meringkuk seraya mengerjap, sepenuhnya takluk kepada Eunseok dan netra gelapnya. Bibir Wonbin yang merekah kini terbuka sedikit, mengais oksigen sebab degup yang tak lagi konstan telah menguasai dadanya.

 

“Bina sayang sama Mas,” katanya lirih. “Bina seneng nikah sama Mas.”

 

Ia yang lebih dominan kini mengulas senyum timpang, lantas kembali ia tenggelamkan wajah kekasihnya yang memerah pada rengkuhannya; meluruhkan panas yang berkumpul dan menguasai dirinya, menyingkirkannya dan kembali salurkan hangat yang penuh dengan cinta yang tak terbakar; cinta yang sama sekali murni.

 

“Mas, kita mau—”

 

Eunseok meremat surai pirang kasihnya. “Pergi sarapan yuk, sayang?”

 

Ada sebuah helaan yang terdengar lega lolos dari sela bibir Wonbin. Empunya bibir yang merekah itu menggeleng, masih dalam dekapan kasihnya, nyatakan bahwa ia enggan angkat kaki dari kasurnya sekarang. “Aku masih capek, Mas,” katanya. “Energi aku habis ngeladenin pertanyaan tante-tante semalaman.”

 

Kemudian yang lebih tua melepas tawanya; mengangguk-angguk memahami energi sang kasih yang selalu terbatas. Eunseok paham kekasihnya, paham bahwa Wonbin diserang lelah akibat pesta mereka semalaman, paham bahwa tubuh si mungil mungkin nyaris remuk sekarang. Eunseok selalu pahami Wonbin, bahkan dalam sendu dan bahagianya.

 

“Terus, Bina sarapannya mau gimana?” Si surai legam melempar tanya, mencoba curi kembali tatap kasihnya yang disembunyikan. “Udah lewat jam breakfast, sayang. Bina mau order room service aja?”

 

Si kecil mengangguk-angguk heboh, sepenuh hati sepakat dengan tawaran yang diberikan Eunseok. Satu dari sekian hal yang buat Wonbin labuhkan hatinya kepada si surai legam, adalah bagaimana Eunseok tak pernah buatnya berpikir banyak. Eunseok akan selalu sediakan satu dan banyak opsi semata-mata demi buat Wonbin bahagia. Eunseok akan menghindari satu dan lain hal yang sekiranya akan menyakiti si mungil. Eunseok akan menaruh nama Wonbin jauh di atas namanya sendiri, menjadikan Wonbin poros dunianya— menjadikan Wonbin dunianya.

 

Menjadikan Wonbin dunianya, termasuk di dalamnya bagaimana Eunseok mati-matian menahan diri untuk tak menyentuh Wonbin selama mereka memadu kasih. Bertahun-tahun terlewati, Eunseok tak pernah menyentuh kasihnya lebih dari sebuah rengkuhan dan kecupan yang begitu manis, begitu buat si kecil mabuk setiap malamnya; mengais-ngais dan memohon dalam diam untuk lebih. Tapi, si kecil juga paham kekasihnya, ia juga paham bagimana Eunseok menggertak giginya setiap kali rengkuhan mereka berlangsung lebih lama dari biasanya, Wonbin paham bagaimana Eunseok akan pamit pulang lebih awal setiap kali apartemennya redup dan penuh aroma lavender, Wonbin akan selalu berusaha pahami Eunseok, sebagaimana si surai legam selalu upayakan seluruhnya yang terbaik untuknya.

 

Maka ia mengangguk saja, mengaminkan tawaran sang kasih dengan gumaman panjang sebelum menjauhkan dirinya dari rengkuh Eunseok yang melonggar. “Mas pilihin aja aku sarapan apa,” katanya. “I trust you. Aku mau mandi.”

 

 

Surai pirang Wonbin masih basah ketika empunya melangkah keluar dari kamar mandi. Sudah bukan rahasia lagi kalau si cantik habiskan waktu yang lebih panjang dari rata-rata orang pada umumnya di kamar mandi, dan Eunseok sudah pahami kebiasaan kasihnya; maka ia menunggu dengan manis di kursi makan, telah merapikan menu sarapan yang datang sejak lima belas menit lalu, lantas mempersilakan si pirang untuk duduk di hadapannya.

 

“Pasta,” seru si surai legam, memperkenalkan menu pilihannya kepada sang kasih. “Kamu suka pasta.”

 

Wonbin terkekeh, lantas ia merapatkan bathrobe putihnya seraya kuasanya terulur, mengusap pipi tirus Eunseok sebelum ia berikan sebuah kecup sebagai hadiah. “Thank you, my love.”

 

Meja makan yang mulanya kosong kini terlihat penuh. Eunseok dan Wonbin duduk mengitarinya, memuja piring-piring cantik yang menyajikan menu sarapan yang tak kalah cantik; beberapa kali mengambil gambar dengan dalih sebagai kenang-kenangan. Hari ini hari pertama setelah mereka menikah dan Eunseok sudah siap mengabadikan setiap detik kehidupannya dengan Wonbin yang mulai menyantap makanannya.

 

“Enak, sayang?”

 

Si surai pirang mengangguk-angguk. Ia mengacungkan jempolnya sebagai afirmasi lebih. “Enyak—” katanya susah payah, mulutnya penuh dengan mie dan saus pesto yang memanjakan lidah.

 

“Pelan-pelan aja makannya,” seru Eunseok. Ia meraih tisu di pinggiran meja sebelum diberikannya kepada ujung bibir si cantik, mengusap sisa saus yang tertinggal di sana. “Cantiknya Mas, nanti kamu keselek, sayang.”

 

Wonbin benar-benar bisa tersedak kalau Eunseok terus memanjanya seperti ini. Kalau Eunseok terus bertutur manis dan bersikap manis, Wonbin siap jika harus tersedak dan pingsan di tempat. Kalau Eunseok bersedia menggendongnya dan menghujani tubuhnya dengan kecupan, Wonbin siap jika ia harus tergeletak di lantai sekarang. Wonbin akan siap lakukan apa saja, seluruhnya, semata-mata demi buat Eunseok rela buatnya hancur dalam cinta yang panas .

 

“Sofa yang kamu order kemarin—” Eunseok memecahkan lamunan Wonbin; buat si surai pirang reflek menggeleng ringan. “Ada apa, sayang?”

 

“Nggak.” Seru Wonbin berdalih. “Kenapa sofanya, Mas?”

 

“Tadi ada email masuk, konfirmasi katanya sofanya yang hitam habis, sayang.”

 

Terdengar sebuah keluhan panjang dari si pirang yang duduk di seberang Eunseok. Ia merengut lagi, menyayangkan informasi yang baru saja diterimanya.

 

Sebelum menikah, Eunseok sudah dengan rendah hati meminta Wonbin untuk meninggalkan apartemennya; untuk tinggal bersamanya di bawah atap teduh yang sama, untuk dapat menghias rumah mereka dengan perabotan-perabotan lucu kesukaan Wonbin, untuk dapat memenuhi rumah Eunseok yang mulanya monokrom menjadi lebih berwarna. Eunseok telah dengan rendah hati meminta Wonbin ‘tuk kuasai rumah dan hatinya; si surai pirang dengan senang hati mengiyakan seluruh tawaran kasihnya.

 

Wonbin paham, menikah dengan Eunseok berarti mereka akan berbagi pagi yang sama. Menikahi Eunseok berarti ia akan membagikan harinya secara utuh, tanpa hal-hal yang perlu ditutupi, dan Wonbin selalu berharap ‘tuk dapat berbagi harinya dengan Eunseok tanpa cekcok sepele perkara tata ruang dan selebihnya. Karena itu, setengah mati Wonbin mengusahakan sentuhan-sentuhan dekorasi yang sekiranya akan disukai sang kasih dapat turut mengisi rumah mereka, dapat buat Eunseok mengulas senyum di pagi dan sore hari, dapat buat keduanya nyaman dengan suasanya tempat peristirahatan yang teduh.

 

“Mau diganti ke yang warna hijau nggak, sayang?” Eunseok melempar tanya. “Kemarin Bina bilang suka yang warna hijau.”

 

Wonbin meletakkan alat makannya. Kuasanya terulur ‘tuk genggam jemari Eunseok yang beristirahat di atas meja. “Tapi Mas suka yang hitam …” katanya lirih. “Masa semua sesuai maunya aku, sih?”

 

Si pemilik surai legam melepaskan tawanya, sedikit banyak paham dengan yang diisyaratkan sang kasih dalam tautan jemari mereka. Lantas ia mengangguk-angguk, turut menggenggam jemari yang lebih kecil semata-mata ‘tuk salurkan hangat tubuhnya.

 

“Nggak apa-apa, Bina.” Kata Eunseok. “Kalau Bina suka, Mas juga suka kok.”

 

“Nggak gitu lah, Mas.”

 

“Lho, serius, Bina sayang.”

 

Wonbin menggigit bibirnya. Bola matanya diputar, mencoba mencari celah ‘tuk salurkan pikirnya kepada sang kasih. “Aku mau Mas ngerasa nyaman juga di rumah,” katanya kemudian. “Kalau semuanya sesuai kesukaan aku, nanti Mas gimana?”

 

“Mas kan punya Bina.” Si surai legam menjawab. “Bina selalu bikin Mas nyaman di rumah.”

 

“Tapi kan aku aja nggak cukup, Mas,” ucap Wonbin sebelum ia menghela napas panjang. “Ini kan perabotan juga buat jangka panjang, aku pengennya Mas juga bisa liat barang yang Mas suka di rumah. Gimana kalau aku lagi nggak di rumah, terus seisi rumahnya cuma barang-barang aku aja?” Si surai pirang melempar tanya. “Gimana kalau Mas bosen liat Bina sama barang-barang Bina yang—” ia menarik napas lagi, “— nggak sesuai sama seleranya Mas?”

 

Ada hening yang merambat tanpa aba-aba. Hening yang menusuk hati Eunseok tanpa permisi; hening yang buat si surai legam kembali mengeratkan genggamannya dengan si mungil. “Bina, sayang,”

 

“Gimana kalau—” Wonbin dapat rasakan napasnya tercekat.

 

“Sayang.”

 

Seruan yang lolos dari Eunseok buat Wonbin bergeming. Ia tak melanjutkan kalimatnya, kini mati-matian menahan tangis yang nyaris lolos dari pelupuknya. Wonbin diam saja bahkan ketika Eunseok melepaskan tautan jemari mereka dan beranjak dari duduknya; menggeser kursi makan miliknya ‘tuk duduk bersandingan milik Wonbin.

 

Si surai pirang diam saja bahkan ketika Eunseok merengkuhnya erat, mengusap punggungnya yang nyaris bergetar oleh tangis.

 

“Sayangnya Mas,” kata Eunseok, diulangi seolah mantra yang sakral. “Bina kok nggak pernah bilang sama Mas, kalau Bina punya kekhawatiran gitu, sayang?”

 

Wonbin mengerjap dalam tangisnya yang perlahan turun. “Takut, Mas,”

 

“It’s not gonna happen, Baby.” Eunseok berbisik, sepenuhnya hendak berikan rasa aman dan nyaman kepada sang kasih yang ringsek dalam pelukan. “Bina udah cukup buat Mas. Kalau Bina seneng, Mas juga seneng. Kalau Wonbin sedih, Mas juga ngerasain sedihnya. Kalau seisi rumah diisi pakai barang-barang yang Bina suka, Mas bakalan terus ngerasa Bina ada di samping Mas— bahkan kalau Bina lagi nggak di rumah, Mas pasti seneng karena dikelilingi hal yang Bina suka.”

 

Eunseok dan tuturnya yang selalu manis. Eunseok dan seluruh sentuh dan rengkuhnya yang hangat. Eunseok dan seluruh mitigasi penyelesaian masalah yang memenuhi benaknya. Eunseok dan seluruhnya yang selalu berhasil buat Wonbin kembali jatuh cinta, lagi dan lagi.

 

“Bina don’t have to worry about that, ya?” kata Eunseok melanjutkan. “I’d be happy to have a piece of you everywhere and pretty much in everything, my Baby.”

 

Ia yang namanya terus dirapal dengan sakral mengangguk-angguk, mengeratkan pelukannya dengan sang kasih, sama sekali tak ingin lepas.

 

“Masih mau dimakan nggak pastanya, sayang?”

 

Wonbin menggeleng. Eunseok terkekeh.

 

“Ya sudah,” kata si surai legam. “Bina istirahat ya, tidur lagi, bangunnya kalau udah pengen aja. Kamu masih capek, kan?”

 

Kali ini si surai pirang mengangguk lemah. “Mau tidur dipeluk Mas …” Katanya.

 

“Iya, sayang.” Eunseok mengusap punggung kasihnya. “Tidurnya Mas peluk. Kalau kamu bangun juga Mas masih di sini, masih selalu sama Bina.”

 

Tubuh yang lebih mungil perlahan-lahan diangkat oleh yang lebih tua, dibiarkan terisak dalam rengkuhannya. Wonbin meringis, lantas mengalungkan lengannya kepada leher Eunseok, menjaga tubuhnya sendiri agar tak jatuh dari gendongan sang kasih.

 

Begitu berhati-hati Eunseok ‘tuk pada akhirnya letakkan si mungil di atas kasur yang nyaman. Kuasanya sibuk berlarian kesana kemari, menyelimuti kekasihnya dengan selimut tebal dan kuasanya sendiri; berusaha buat Wonbin yang wajahnya merona ‘tuk merasa nyaman dalam lelapnya. Sebuah kecupan dihadiahi Eunseok kepada kening yang terkasih, kecupan panjang yang buat si pirang pejamkan matanya erat; kecupan panjang yang buat Wonbin meringkuk ke dalam rengkuhan Eunseok, sama sekali tak ingin lepas.

 

Si surai legam berbisik kemudian. “Sleep well, Baby Bina.”

 

 

Tiada cahaya mentari yang masuk dan mengusik Wonbin begitu ia mengerjapkan matanya. Langit sudah gelap, ia sudah habiskan berjam-jam waktunya untuk terlelap dalam pelukan kasihnya— yang kini tak lagi berbaring di sampingnya, tak lagi memuja lelapnya dalam diam. Lantas Wonbin berdehem, mencoba kembali mengumpulkan nyawanya sementara netranya mengedar, mencoba mencari sosok yang membawanya ‘tuk larut dalam lelap.

 

Ia terduduk di atas kasurnya. Surainya sama sekali berantakan, pertanda bahwa si manis pulas dan sudah puas tidurnya. Samar-samar Wonbin dapati bayangan yang tak asing terduduk pada kursi di balkon, bayangan Eunseok yang tengah duduk memandangi langit, seorang diri. Tak ada alasan lain untuknya tak menghampiri sang kasih, maka Wonbin segera meninggalkan kasurnya; beranjak menuju sang kasih yang entah sudah berapa lama habiskan waktunya sendirian.

 

Pintu kaca menuju balkon dibuka oleh si pirang, buat Eunseok yang larut dalam lamunannya menoleh ke arah Wonbin. “Hi, Princess.” Katanya menyapa. “Sudah puas tidurnya?”

 

Sapaan Eunseok selalu sukses buat Wonbin merona. Karenanya, si cantik kini melangkah mendekati yang lebih tua; mengusap-usap pipi Eunseok sementara si surai legam menghujani telapak tangannya dengan kecupan.

 

“Pangku dong, Mas” Kata Wonbin. “Boleh nggak?”

 

Ia bertanya, tapi tak menunggu si kakak menjawab ‘tuk pada akhirnya mendaratkan pantatnya di atas paha Eunseok yang mengeras. Si surai legam lantas meringis, kuasanya reflek memeluk pinggang ramping Wonbin; menjaganya supaya tak jatuh dari pangkuan.

 

“Bina mau apa, sayang?”

 

Sebuah gumaman panjang lolos dari belah bibir si cantik. Kuasanya sibuk menari-nari di bidang dada Eunseok. Sorot matanya meredup. Wonbin bergumam dan setengah mati kumpulkan sejuta kata yang tak pernah mampu lolos dari belah bibirnya. “Mas,” katanya memanggil.

 

“Iya, sayangnya Mas.”

 

“Kita kan udah nikah—” jemari Wonbin turun, kini mengusap perut Eunseok seduktif. “Mas emangnya nggak mau ngapa-ngapain aku?”

 

Mendadak Eunseok seolah diserang pening. Wonbin yang duduk di atas pangkuannya kini bergerak-gerak gelisah, bibirnya merekah dan merengut, netranya yang cantik mengerjap, jemarinya tak berhenti menari di atas tubuh Eunseok, mengabsen inci demi inci tubuhnya yang terlapis kain tidur. 

 

“Maaas,” kembali si pirang merajuk manja. “Kenapa sih nggak mau?” Katanya merengut. “Aku kurang cantik, emang?”

 

“Bukan gitu, sayang.”

 

Wonbin merengkuh leher kasihnya, lantas menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Eunseok sambil ia bubuhi kecup ringan. “Terus kenapaaa?” Ia bertanya kembali. “Aku kurang apa, Mas?”

 

Ada helaan napas panjang yang lolos dari Eunseok; helaan napas yang beriringan dengan rengkuhnya yang semakin erat. Ada satu dan sejuta kata yang disimpan sendiri oleh si surai legam; satu dan sejuta kata yang ingin Wonbin dengar.

 

“Mas takut nyakitin kamu, Bina.”

 

There. He said it. 

 

Eunseok mendekap kekasihnya lebih dekat, menghirup dalam-dalam aroma sabun yang mereka bagi berdua; sedikit banyak salurkan tenang dan sebuah perasaan aman, isyaratkan bahwa kini mereka telah menjadi satu jiwa yang utuh: satu jiwa yang telah diikatkan oleh ikrar yang lantang, satu jiwa yang meerkat bersama tali pernikahan.

 

“Mas takut Bina sakit, takut liat Bina nangis,” kata Eunseok berbisik. “Mas takut nyakitin Bina, taku kamu nggak nyaman, takut Bina ngerasa Mas kasar sama Bina. Bina nggak pernah kurang buat Mas, sayang. Bina cantik, selalu cantik, Mas selalu pengen puja-puja Bina.” Ia melanjutkan seraya turut benamkan wajahnya kepada ceruk leher si cantik. “Mas takut kamu sakit gara-gara Mas, sayang.”

 

Sementara Eunseok selesaikan kalimatnya, si surai pirang justru berusaha ‘tuk ciptakan jarak di sela mereka. Ia menarik diri, mencoba curi tatap atas kasihnya yang garis-garis wajahnya begitu tegas. Kuasa Wonbin tak lelah terus mengusap wajah Eunseok, menyusuri rahang sang kasih sementara ia perlahan-lahan bangkit dari pangkuannya.

 

Kuasa Wonbin menyusuri lengan Eunseok, memujanya dalam diam seraya ia menarik perlahan tubuh kasihnya, isyaratkan Eunseok ‘tuk berdiri meninggalkan kursi yang menemani mereka di balkon. Si surai legam menurut saja, tak bertanya macam-macam, mengizinkan hening menjadi teman mereka sementara kekasihnya menuntun ia ‘tuk kembali masuk ke dalam kamar.

 

“You would never hurt me,” kata Wonbin begitu pintu kaca ditutup dan keduanya tak lagi berkawan angin malam. Si pirang mengalungkan lengannya pada leher Eunseok beriringan dengan netranya yang mengerjap. “Mas, sayang …”

 

“Hmm?” Si surai legam bergumam. Eunseok dapat rasakan jari jemarinya yang merengkuh pinggang Wonbin mengeras; sedikit banyak akan ciptakan ruam merah di sana, tapi empunya sama sekali tak layangkan protes. 


Wonbin berjinjit, menghujani kuping sang kasih seraya ia berbisik seduktif: “You can praise me and wreck me up at the same time, husband.”