Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-30
Words:
1,047
Chapters:
1/1
Kudos:
14
Hits:
200

you're the prince of my life

Summary:

Kamu tahu? Pangeran itu bisa jadi cuma khayalan, sedangkan apa-apa yang asli itu bisa nyata ketika kita jatuh cinta.

Work Text:

Ada banyak yang lebih besar dari dunia pada kedua bola mata Ohm.

“Bagusan ini atau yang tadi?”

“Lebih pas yang tadi sih, tapi nggak masalah kalau kamu lebih nyaman pakai yang ini,” sebelah alis yang ditanyai itu terangkat setengah senti, sambil tangannya ayun-ayunkan sepasang bahu di depannya ke atas-bawah. Mark menilik bagaimana serentetan gigi yang tersusun rapi milik adik tingkatnya itu masih enggan kembali ke tempat persembunyiannya. “At last, you look good in anything.”

Whatever you think,” gumam Ohm, “I trust your judgment.”

Bang Earth dapat lima puluh poin kebenaran hari ini. Akting coach muda dan tampan itu peringatkan kalau akan sulit bagi Mark, sebagai penata busana, untuk mengadili visual Ohm yang berperan sebagai pangeran saat itu. Alih-alih alasan yang sama, Mark berpendapat kalau Ohm terlalu menawan didandani apa saja buat sebut apa yang paling bagus untuknya.

Ada yang ganjil dari ketidakberdayaan Mark menyeleksi busana-busana di hadapannya kala itu. Ia ikuti apa saja yang diincar bola mata Ohm, dan temukan ada keajaiban di balik sana, pun di dalamnya. Bagaimana hitam legam itu berkilauan dan iris besarnya yang bercahaya; pujian kepada angkasa raya bisa keluar sekadar tatap matanya.

“Kak? Jadinya aku pakai yang mana?” tanya Ohm. Ribut kipas angin besar di sebelah mereka itu sudah disiapkan jadi alasan kalau-kalau Ohm lanjut bertanya soal kekosongan pikiran Mark. Walaupun, cuma Tuhan yang tahu, kalau Mark sebetulnya bingung harus lakukan apa biar Ohm tahu kalau dia sekarang semakin dibuat jatuh cinta. Profesionalitas dia diuji setega-teganya.

Mark angkat wajahnya, temui tatapan Ohm. “Aku pilihin yang pas tadi aja, iya?”

Anggukan afirmasi diberikan Ohm. Si aktor itu rentangkan tangannya ke depan sebagai perintah “lepasin bajunya” ke Mark yang menatap penuh tanda tanya.

Pada awalnya, Mark pikir dia gila. Menduga otaknya berhenti berotasi tiba-tiba setelah pikirannya melebar ke mana-mana. Tapi pengertiannya ternyata diyakini bukan asumsi, sebab pemuda yang beberapa tahun lebih muda darinya itu meminta sendiri dengan mulutnya.

“Tolong lepasin bajunya, Kak.”

Kedua tangan Mark bekerja tanpa disuruh lagi. Ia meraih kerah setelan itu dan dikelupas dari badan Ohm yang memerhatikan gerak-geriknya. Sebelah bibirnya membentuk kurva, dan mark ikut tersenyum.

“Hoi! Ini kenapa lampunya mati?” teriakan Kak Book di luar sana masih terdengar walaupun samar-samar di balik pintu ruang ganti yang tertutup rapat. Kalau-kalau siapapun yang mendengar boleh jawab, Mark bisa segombal-gombalnya sahuti seandainya mereka bisa ke sini buat lihat mata Ohm yang masih seterang matahari.

Mark coba buat nggak senyum-senyum sendiri pikirkan gombalan tadi. Ia tak mau dicap gila sebelum dia betulan patah hati. Entah ke mana perginya percaya diri. Baginya ini bukan soal mampu dan tidak mampu lagi. Ada ketulusan di dalam hatinya yang buat dia lebih rela dibanding bernegosiasi dengan takdir yang sudah digarisi.

“Kenapa Kak Mark nggak akting aja?” pertanyaan tadi mengudara tepat di detik Mark selesai dengan urusan tidak teragendakannya. Pun kostumnya sudah tertata rapi gantungan baju sebelahnya. 

“Kenapa ya?” Mark sedikit menimang jawabannya, “dari awal, aku merasa cuma pengen jadi penonton aja… dan pengagum mereka yang ada di dalamnya.” 

With that face?

Mark tepuk pipinya sendiri dengan sebelah tangannya. “What’s wrong with my face?” 

Handsome,” sahut Ohm tegas. Kedengarannya bukan seperti kalimat yang butuh tanggapan, lebih-lebih lagi sanggahan. “It makes my heart flutter.”

Apa dia tidak tahu? Keduanya sama-sama membatin begitu. Wajah mark itu terlalu tampan untuk jadi seorang penata busana yang dalam kerjanya, dekat-dekat dengan aktor di sekitar dia. Mustahil untuk biasa-biasa saja. Sedangkan Ohm terlalu menawan dan jujur dalam apapun yang dilakukannya. Lalu mata itu. Mata itu punya segala-galanya yang ada di dunia. 

“Kak Mark nggak percaya.” Ohm menyimpulkan diam mark sebagai jawaban. Namun Mark buru-buru menggelengkan kepalanya.

“Bukan gitu,” bela Mark. Gemuruh di dadanya mulai terasa dan ia takut kalau-kalau Ohm bisa mendengarnya. “Kamu tahu? Mata kamu udah cukup buat aku percaya.”

Seperti ada tuhan di dalamnya, yang beri tahu segala hal yang nyata, kecuali bohong. Mark sudah fasih bilang terima kasih untuk segala pujian yang diberikan kepadanya. Ia pula tahu-menahu tentang anggapan orang di luar sana tentang eksistensinya. Namun tidak jika itu keluar dari mulut Ohm yang digadang-gadang sebagai pencuri hatinya.

Oh, dan barangkali ada jubah ajaib di sini, Mark tak akan banyak pikir untuk ambil dan sembunyikan dirinya sendiri dari tatapan Ohm yang membelenggu. Maniknya mengincar bagaikan ombak, dan sekarang mark tenggelam.

“Aku nggak ngerti,” Ohm menanggapi, sambil kemudian mengangkat kedua bahunya. “Cuma, dari penglihatanku, aku paham untuk seseorang seperti Kak Mark, semua yang dilakuin pasti baik hasilnya.”

Ada senyum yang terukir di sana. Pipi Ohm melambung sampai tepat di bawah kantung matanya, dan orang-orang bersorak rayakan lampu yang menyala di belakang ia berdiri; seperti ikut merayakan kebenaran yang barusan diungkapkannya.

I think I'm in love with you,” celetuk Mark tanpa basa-basi. Sekarang mereka berdua berdiri satu langkah lebih dekat.

Hah?

Jelas sekali Ohm pasti bingung dengan pernyataannya.

I’m in love with you,” tapi yang barusan terdengar lebih pasti dan tanpa memberi tempat kosong untuk banyak asumsi.

“Iya, aku denger,” Ohm menyahut pelan, sambil berulang kali mengedipkan mata. “Cuma, aku nggak nyangka kalau Kak Mark ngerasain yang sama.” 

Bagian paling mengejutkan dari hari itu adalah bagaimana kedua tangan mereka bertaut seolah itu hal yang biasa. Seolah tidak ada cekcok di balik kepala yang ributkan konsekuensinya. Juga degup jantung mereka yang saling bersahut-sahutan; berbalapan dengan denting jam dinding.

Waktu berlari seperti ia tak lagi punya harga diri. Namun di sini, setiap momen hadir bagaikan selamanya yang dicari-cari. Kalau bukan karena Ohm, Mark mungkin lupa apa itu abadi, dan tidak minta apa-apa darinya. Tapi Ohm di sini. Ohm di sini. Jadi bolehkah Mark memohon agar mereka berdua abadi?

“Ohm,” bola mata Mark bersinggung tatap dengan milik Ohm yang benderang. Ia menghapus kerelaannya pada takdir dan memutuskan kalau setidaknya, apapun yang terjadi saat ini nyata. “Aku boleh cinta kamu?”

Benar bahwa ada banyak yang lebih besar dari dunia pada kedua bola mata Ohm. Seperti kepastian yang retas di dunia, dan bohong yang menyala-nyala bagaikan api yang menghunuskan segala entitas di sekitarnya. Bahwa dari sana, Mark tidak perlu takut lagi oleh dusta yang dibuat-buat dunia lewat mulut manusia.

Sebab Ohm pula tidak akan berbohong. 

“Boleh,” balas Ohm. “Boleh sekali. Karena aku juga mau dicintai sama Kak Mark.” 

Senyum Ohm masih tersisa sampai detik itu juga; tidak yakin akan hilang, apalagi setelah semua yang terjadi. Mark mengartikannya sebagai bahagia. Ia pun sama, bahagia. Sebab pangeran itu cuma khayalan buat pentas drama, sedangkan Ohm mutlak dan nyata miliknya. 

 

 

Fin.