Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-30
Words:
454
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
8
Bookmarks:
1
Hits:
80

perjalanan adalah penghukuman (sekaligus jua pengampunan)

Summary:

pelancongan penggadai nyawa, dosa yang tak tertebus, api yang meredup. namun juga sebuah pembebasan.

Notes:

genshin impact | 原神 © hoyoverse. saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam pembuatan fanfiksi ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

diluc berjalan beriringan dengan kematian.

perjalanannya membelah teyvat mencapai pegunungan snezhnaya merupakan bentuk penggadaian nyawa. meski mulanya hanya diniatkan sebagai penebusan dosa.

pada hamparan salju itu darah bersimbah, menetes dari pedang di punggungnya. matanya menyalang. tangannya menggenggam nyawa siapapun yang melintang di atas jalannya.

di tengah padang es itu bara apinya berkobar, menjilat-jilat angkasa, melelehkan air dan udara beku menjadi tetesan air mata. tumpah darah yang menodai putih suci snezhnaya disulap begitu instan jadi jelaga. lidahnya sendiri memahit. ditelannya abu-abu hitam itu yang sama membakar dan sama mengikisnya. duka itu ia telan, sama mengoyaknya dan sama menghancurkannya.

pelancongan ini menjadi pemerahan jiwa: tidak mengenal baik itu fatui maupun dirinya. keadilan adalah asa hampa tak bersukma. ia telah mencari. pun menelusuri. namun tak ada wajah ayahnya di bentangan langit sore yang melingkup seluruh penjuru kota. tak ada pelipur dari mimpi besar yang terkoyak, yang lolos dalam sekedip mata, yang jatuh dari genggaman tangannya. tak ada jawaban, tak ada penjelasan.

sesekali hanya ada diluc yang bergeming, duduk termenung,  menatap refleksi raganya di kubang-kubang es di kaki tebing.

ia menanam pantulan itu di balik kelopak matanya. rambutnya bak darah. matanya bak api unggun di penghujung fajar. dan bayangan yang tak pernah hilang dari wajahnya meski matahari masih lama terbenam.

ia mengerti: bintang-bintang pun akan mati, polaris pun lambat-laun akan kehilangan fungsi.

.

.

.

.

di gua-gua tak berpintu dan gubuk-gubuk yang ditinggalkan itu ia selalu bersemayam. embusan badai akan mengetuk dan mengamuk di sepanjang malam. ia adalah api. namun tak ada perapian ketika ia memeluk diri.

pada malam-malam itu pandangannya akan mengabur, gigi-giginya bergemeletuk, sedangkan jari-jarinya memerah menutupi buku-buku. ia tak pernah tanpa luka. hari demi hari, hingga jadi detik demi detik, dirasakan api dalam tubuhnya menguap. menjadi asap yang mengambil tiap napasnya. seiring dengan tetes-tetes darah yang merembes dari kulitnya.

sayup-sayup didengarnya lolongan-lolongan pilu, derik-derik ranting patah, salju-salju jatuh.

dan bisikan-bisikan itu. sebuah tanya. tubuhnya atau jiwa yang terperangkap di dalamnya. mana yang akan lebih dulu sirna?

.

.

.

.

(diluc kemudian bermimpi. mengenai padang anggur yang hijau dan langit yang kekuning-kuningan. sejuk dan hangat. alih-alih menggigit dan melahap. alih-alih berderai salju tak bernyawa. alih-alih dilahap api yang melenyapkan apa pun yang disentuhnya.

di sekelilingnya, bunga-bunga bermekaran, menguarkan semerbak harum musim semi yang sudah lama tak dihirupnya. burung-burung berkicau, membawa janji-janji akan hari esok dan harapan setinggi angkasa.

di tengah jantung mondstadt, barbatos bernyanyi. petikan-petikan harpanya berbisik, menghantarkan suara lembutnya bersama desauan angin. melingkupinya; menyejukkannya.

diluc lalu merasakan tangan-tangan teduh itu menangkup pipinya, dengan kedua ibu jarinya mengusapkan cinta, dengan telapak tangannya yang penuh sayang. yang memaksanya menengadah, mengisi dirinya dengan sambutan senyum sehangat surya.

dan di telinganya barbatos akan berlantun; menggiringnya kembali ke pangkuannya; meninabobokannya. begitu merdu, begitu syahdu.

anakku,
anakku sayang,
anakku tersayang.
ketahuilah, ketahuilah.
bahwa kaubebas. 
kau telah diampuni.

Notes:

sudah satu mei, tapi lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali, 'kan? selamat ulang tahun, diluc. semoga angin selalu memberkahimu.