Chapter Text
Beberapa orang dalam hidup Lee Jihoon sering kali tak menyangka bahwa pria Scorpio itu sebenarnya penyuka rasa manis. Tidak terlihat seperti seorang Alpha, kata Soonyoung. Bahkan, pria Beta itu sampai membandingkan Jihoon dengan para Alpha lain.
Seperti Seungcheol, yang menurut Soonyoung, tak pernah terlihat menyukai makanan manis. Lucu, karena Jihoon yakin sekali jika Jeonghan meminta Seungcheol untuk menghabiskan sisa makanan manis miliknya, sudah pasti sang Alpha tak akan berpikir dua kali dan langsung melakukannya.
Lagipula, apa salahnya seorang Alpha menyukai makanan manis, kan?
Sebagai seorang yang gemar makanan manis, Jihoon terbiasa mampir ke kawasan pertokoan terdekat untuk mencoba camilan manis baru yang belum pernah ia coba. Di sana, ia mengandalkan indera penciumannya untuk menemukan camilan manis terbaik. Karena bukankah godaan camilan manis dimulai dari aromanya?
Sama seperti sore itu. Setelah mengajar taekwondo di dojang, Jihoon berjalan santai menyusuri area pertokoan, memperhatikan setiap nama kafe yang baru dikenalnya, juga melihat-lihat barang dagangan yang ditampilkan di etalase berbagai toko; termasuk yang tidak menjual camilan.
Hingga ketika Jihoon mencium aroma vanila manis berlapis karamel yang sangat kuat, seolah bisa dirasakan di ujung lidahnya, langkah kakinya langsung terhenti. Sayangnya, ia tak bisa memastikan dari mana asal aroma manis tersebut. Ada beberapa toko makanan di sekitarnya. Salah satunya memang bakery, tapi ada juga toko camilan tradisional, serta kafe yang sepertinya hanya menjual minuman.
Secara teori, sebenarnya mudah. Dengan aroma perpaduan vanila dan karamel, tentu ia hanya perlu mendatangi bakery yang ada sekitar sepuluh meter di depannya. Namun, yang membuatnya ragu adalah aroma menggoda itu justru datang dari arah kafe yang menjual minuman.
Jihoon tahu betul bahwa ada beberapa kafe yang tidak hanya menjual minuman, tetapi juga menyediakan camilan manis. Hanya saja, Jihoon tidak tahu ada apa dengan kafe bernama The8 Cafe itu yang membuatnya ragu untuk dikunjungi.
Butuh waktu lebih lama bagi Jihoon hingga akhirnya ia mantap melangkah menuju The8 Cafe, tempat yang ia yakini sebagai asal aroma manis itu.
“Selamat datang di kafe The8!”
Tepat ketika pintu kafe tertutup di belakangnya, Jihoon langsung menyesali keputusannya. Aroma manis karamel dan vanila yang sempat memanggilnya kini tak lagi tercium. Samar, tapi tidak cukup kuat untuk membuatnya yakin bahwa kafe ini menjual camilan manis.
Namun, dengan penjaga kafe yang berdiri di balik meja kasir dan menatapnya, rasanya tak sopan jika Jihoon langsung keluar tanpa bertanya apa-apa.
"Hai," sapa Jihoon sambil melirik tag nama di dada penjaga kafe. "Moon Junhui?"
"Panggil saja Jun. Ada yang bisa saya bantu?"
"Oke, Jun. Di sini ada camilan manis nggak?" tanyanya tanpa basa-basi. Ia hanya ingin memastikan apakah kafe ini menjual camilan manis sesuai dengan aroma yang membawanya kemari.
"Ada! Kebetulan, camilan hari ini adalah favoritku!" jawab Jun lebih bersemangat dari yang Jihoon kira. Sang penjaga kafe itu langsung mendekati sebuah kotak tertutup di meja pemesanan, dan Jihoon reflek mengikuti.
Mengingat aroma manis yang sempat ia cium sebelumnya, Jihoon membayangkan kue basah seperti keik atau pai dengan rasa vanila dan topping karamel. Namun, yang ada di dalam kotak itu justru kukis berwarna cokelat, merah, dan hijau.
"Ini rasa apa saja?"
"Cokelat, Red Velvet, dan Matcha," jawab Jun sambil menjelaskan rasa favoritnya dan mengapa kukis Matcha di kafe mereka terasa lebih enak dibandingkan kukis di toko lain.
Jihoon mengernyit. "Nggak ada yang rasa vanila atau karamel?"
Pertanyaan Jihoon membuat Jun bingung.
"Sayangnya nggak ada. Tapi kami punya teh rasa vanila, kalau mau coba."
Ketika Jun menunjukkan kotak bertuliskan teh vanila di belakangnya, Jihoon baru menyadari bahwa seluruh tembok di belakang meja kasir adalah rak besar berisi toples-toples teh dengan berbagai merek, jenis, dan rasa.
"Aku boleh cium aromanya? Sebelum diseduh juga nggak apa-apa," pinta Jihoon. Ia tahu bahwa teh sebelum dan sesudah diseduh memiliki aroma yang sedikit berbeda, tapi tetap saja...
"Bukan ini," ujarnya setelah mencium aroma teh dengan bantuan sendok. Seperti dugaannya, aroma vanila yang dicium sebelumnya berbeda dengan aroma teh ini. Karena berbahan dasar teh, ia tetap mencium wangi teh secara dominan bersama manis vanila yang terhirup samar.
Meskipun ada kemungkinan kalau aroma vanila itu akan menjadi lebih pekat setelah diseduh, tapi pasti tetap ada bau teh yang mengikuti.
Sementara bau yang sebelumnya Jihoon cium itu jauh lebih pekat dari ini, jauh lebih manis dengan bau karamel di baliknya.
Aroma yang dicari Jihoon justru tercium ketika ia mengembalikan toples teh ke meja. Pintu kafe terbuka, dan ketika Jihoon berbalik, ia melihat seorang pria berambut panjang sebahu, mengenakan kaos abu-abu dengan blazer. Jihoon tak tahu apa yang pria itu katakan pada Jun, entah karena ia terlalu sibuk memperhatikan pria itu, atau karena mereka berbicara dalam bahasa yang tak ia pahami.
Namun, ada satu hal yang Jihoon yakini. Bahwa aroma manis vanila dan karamel yang ia cari bukan berasal dari teh atau camilan, melainkan dari pria cantik yang diyakini sebagai seorang Omega.
"Maaf, siapa tadi?" tanya Jihoon pada Jun yang masih mengomel soal bau kopi yang sempat dikeluhkan pemilik kafe.
"Yang tadi? Xu Minghao, pemilik kafe ini."
“Xu siapa?” tanya Jihoon lagi berusaha memastikan. Cara Jun mengucapkan nama itu terlalu asing bagi telinganya, dan ia tidak ingin salah menyebutkan nama itu.
"Xu. Ming. Hao," Jun mengeja nama itu perlahan. “Sepertinya dia sedang kesal sampai menuduhku minum kopi.”
Ucapan itu membuat Jihoon menaikkan alisnya. “Memangnya kenapa kalau minum kopi?”
“Dia nggak suka karena ini kafe teh. Katanya bau kopi bisa merusak aroma teh,” jawab Jun, yang hanya direspon Jihoon dengan anggukan.
“Maaf kalau menyinggung, tapi dia Omega, ya?”
Jihoon tahu betul kalau sebenarnya menanyakan seputar gender kedua pada orang lain itu bukanlah sesuatu yang sopan. Tak sedikit orang yang menganggap itu adalah hal tabu. Hanya saja, ia merasa perlu menanyakan hal itu untuk memastikan sesuatu. Dan seandainya pria bernama Junhui itu menolak memberikan jawaban pun sebenarnya ia tak masalah.
"Minghao? Setahuku nggak, deh. Dia Beta."
Jihoon mengernyit. "Beta? Kamu yakin?"
==***==
Minghao tidak pernah menyukai musim panas di Korea. Meskipun cuacanya mungkin tidak sepanas kampung halamannya di Anshan, udara Seoul terlalu kering untuknya. Anehnya, sore ini terasa lebih panas daripada biasanya, padahal masih bulan April.
Yang membuatnya bingung, rasa panas itu tidak begitu ia rasakan saat berada di luar kafe, ketika ia merapikan dan memotong beberapa ujung tanaman yang mati. Sensasi panas itu justru baru muncul saat ia masuk kembali ke dalam kafe.
“Kamu ngopi lagi, ya?” tanyanya pada Jun dalam bahasa kampung halaman mereka berdua, setelah menyadari kehadiran seorang pelanggan di dalam kafenya.
“Nggak.” Jun menjawab singkat.
“Kamu kan tahu kalau–,”
“--Kalau kamu nggak suka ada bau kopi karena akan mempengaruhi aroma teh, iya aku tahu makanya aku nggak minum kopi.”
Jun langsung memotong kalimatnya sebelum ia selesai berbicara. Minghao hanya bisa berdiri diam, menatap tak percaya pada teman kuliahnya itu. Tangannya terangkat, mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa semakin panas dan berkeringat.
Kalau bukan karena rasa panas dan sakit yang mulai muncul di kepalanya, juga keberadaan seorang pelanggan tak jauh darinya, Minghao mungkin sudah mulai melancarkan omelan panjang. Namun, dengan alasan-alasan tersebut, ia memilih untuk langsung berjalan menuju pintu yang di baliknya terdapat tangga menuju tempat tinggalnya di lantai dua.
“AC-nya kamu nyalakan nggak, sih?”
Tentunya Minghao menutup percakapan dengan omelan kecil yang tak ia pedulikan jawabannya, karena pria Xu itu langsung menutup pintu di belakangnya dan melangkah naik tangga.
Sesampainya di puncak tangga, Minghao menghentikan langkahnya, berpegangan pada tembok di sisi kanan.
Aneh .
Rasa panas yang ia rasakan ini terlalu aneh. Tidak seperti biasanya saat musim panas di Korea. Sensasi panas ini terasa datang dari dalam tubuhnya, bukan dari luar.
Tidak mungkin .
Sambil berjalan perlahan menuju kamarnya, Minghao kembali mengusap tengkuknya yang masih terasa panas, lalu turun hingga ke area di antara leher dan bahunya—area yang sering ia tutupi dengan turtleneck, syal, atau kerah baju.
Tidak mungkin .
Kalau bukan karena kepalanya yang mulai berdenyut-denyut, Minghao mungkin sudah tertawa histeris saat ini. Menertawakan kebodohan dan ketidakmungkinan yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Rasa panas ini seharusnya tidak mungkin terjadi.
Sekali lagi, seharusnya .
Minghao ingat betul, tadi pagi ia sudah minum supresan seperti biasanya. Tanpa perlu mengecek kalender khusus di ponselnya, ia hafal betul kalau sekarang masih jauh dari jadwal heat-nya. Setidaknya, tiga minggu lebih awal.
Minghao bukan tipe Omega dengan jadwal heat yang bisa berubah-ubah atau tidak teratur. Sejak pertama kali present sebagai Omega, bahkan meskipun sejak saat itu ia langsung mengonsumsi supresan, jadwal heat-nya tak pernah mengalami pergeseran besar. Paling hanya selisih satu atau dua hari.
Oleh karena itu, pemikiran tidak mungkin terus saja muncul di dalam pikirannya.
Untuk saat ini, di tengah kepanikan yang semakin membesar di dalam dirinya, Minghao memutuskan untuk kembali meminum supresannya lalu tidur.
==***==
Di beberapa bagian dunia, menjadi seorang Omega merupakan kebanggaan dan keindahan tersendiri dalam hidup. Tak peduli apa pun gender pertama seseorang, seorang Omega sudah dipastikan memiliki tingkat kesuburan yang jauh lebih tinggi dibandingkan seorang Beta.
Karena fakta ini, beberapa negara memutuskan untuk lebih mengatur warganya yang memiliki gender kedua Omega. Salah satunya adalah kampung halaman Minghao, Cina.
Pemerintah Cina membuat aturan yang mewajibkan setiap anak yang present sebagai Omega didaftarkan ke pemerintah. Alasannya adalah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk agar tidak terjadi overpopulasi.
Namun, ketika Minghao mendekati usia baligh, mulai beredar rumor bahwa banyak Omega yang ditangkap oleh pemerintah kemudian ‘dibuat’ tidak subur. Entah melalui suntikan cairan misterius atau dengan pemberian belasan jenis obat yang memiliki efek serupa. Rumor itu semakin diperparah dengan kabar tentang kekerasan terhadap Omega di jalanan. Berita tentang penculikan dan penemuan jasad seseorang yang diduga Omega datang silih berganti.
Seolah-olah, memiliki gender kedua sebagai Omega di Negeri Tirai Bambu ini tak lebih dari sekadar menjadi properti. Pilihan hidup bagi mereka tampak terbatas: menjadi budak pemerintah atau disia-siakan di pinggir jalan.
Beberapa tetangga mereka di Anshan memilih untuk menyembunyikan anak-anak yang present sebagai Omega, atau bahkan langsung membawa mereka keluar dari Cina.
Ketika Minghao akhirnya juga present sebagai Omega, Bapak dan Ibu Xu, yang keduanya merupakan Beta, segera melakukan berbagai cara untuk menyembunyikan putra tunggal mereka. Awalnya, mereka menggunakan supresan yang harus dikonsumsi seminggu sekali. Namun, karena supresan berbentuk pil merah muda itu tidak bisa sepenuhnya menahan aroma manis yang menguar dari tubuhnya, Minghao beralih ke supresan lain berwarna biru langit yang harus diminum setiap hari.
Selama dua minggu pertama, supresan itu bekerja dengan baik, meskipun ia tetap sesekali menggunakan neutralizer dan spray scent blocker. Setidaknya sebagai perlindungan tambahan. Minghao bahkan hampir tidak perlu khawatir lagi soal heat-nya.
Namun, meskipun heat-nya teratasi, tubuh Minghao tetap merasakan gejala seperti demam. Akibatnya, ia harus membolos sekolah. Suatu kali, pertanyaan dari seorang teman tentang ketidakhadirannya entah bagaimana membangkitkan kepanikan dalam diri sang Omega, meskipun tidak ada satupun dari mereka yang menghubungkan absennya dengan heat atau status gender keduanya.
Kepanikan inilah yang akhirnya membuat kedua orang tua Minghao mengirimnya ke luar negeri, tepatnya ke Korea Selatan. Apakah masalahnya selesai begitu saja?
Sayangnya, terpaksa harus menjauh dari kedua orang tuanya karena terlahir sebagai Omega justru membuat Minghao semakin membenci gender keduanya itu.
Seandainya saja aku terlahir sebagai Beta seperti kedua orang tuaku.
Pemikiran itu tak henti-henti muncul di pikirannya, bahkan ketika sekarang usianya sudah memasuki seperempat abad sekalipun.
==***==
“Tadi ada pelanggan yang menitipkan sesuatu untukmu,” ujar Jun saat Minghao turun dari lantai dua, tempat kediamannya.
“Sesuatu? Apa?” Minghao mendekati Jun, sedikit penasaran.
Jun mengulurkan secarik kertas kecil, dan Minghao langsung mengambilnya. Di kertas itu tertera sebuah kontak KTalk dan sebaris kalimat singkat:
‘Bau kopinya gara2 aku. Jgn marah ke stafmu.’
Di ujung kertas, ada tulisan lain yang menandakan siapa pengirimnya:
"Lee Jihoon."
Minghao menatap kertas itu sejenak sebelum menyimpannya di dalam saku blazernya. Lalu ia menatap Jun dengan alis terangkat, “Pelanggan mana yang menitipkan kertas ini?”
Jun bersandar santai di meja kasir sambil berusaha mengingat, “Yang datang waktu kamu ribut soal bau kopi. Sepertinya dia suka banget sama vanila. Dia nanyain roti vanila terus. Akhirnya dia beli teh vanila—eh, heh! Minghao! Lagi diceritain kok malah pergi?!”
Minghao sudah berjalan cepat meninggalkan Jun tanpa berkata apa-apa, seolah pikirannya kini terfokus pada sesuatu yang lain.
==***==
Waktu Jihoon meminta secarik kertas kepada pelayan kafe siang itu, dia sebenarnya tidak berharap banyak pesannya akan sampai ke pemilik kafe. Memangnya siapa aku? pikirnya. Selain itu, ia menuliskannya di kertas nota yang tipis—jenis kertas yang bisa dengan mudah hilang atau terselip.
Jadi, ketika seharian berlalu tanpa satu pun pesan masuk di KTalk, Jihoon tidak merasa heran. Saat sebuah notifikasi akhirnya muncul di layar ponselnya, dia hampir saja mengabaikannya karena sedang asyik bermain game. Barulah kemudian ia teringat pesan yang ia tinggalkan, dan merasa pesan itu mungkin terkait notifikasi yang baru masuk.
Xu Minghao
Berapa gelas kopi yang sudah kamu minum sampai tercium begitu?
Haha.
Bukan.
Tapi feromon gw kopi.
Xu Minghao
???
Kok bisa tercium?
Jihoon mengernyitkan dahi saat membaca pesan itu. Ia bertanya-tanya apakah lawan bicaranya sedang bercanda atau memang tidak tahu bagaimana feromonnya bisa tercium. Jihoon memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut dan, alih-alih, menanyakan hal lain untuk memastikan sesuatu.
Vanila tadi itu sebenarnya bau lo, kan?
Sesaat, terlihat tanda lawan bicaranya tengah mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi, dan menghapus lagi, sebelum akhirnya menulis kembali.
Xu Minghao
Nggak
Gue beta
?
Ini ceritanya mau ngibulin gue sebagai mate lo?
Pesan itu hanya terbaca tanpa mendapatkan respons selama beberapa menit. Jihoon sempat berpikir kalau pertanyaannya terlalu berlebihan dan mungkin telah menyinggung perasaan Omega tersebut. Bagaimanapun, Jihoon terdengar terlalu percaya diri ketika mengatakan bahwa ia adalah mate pria Cina bernama Xu Minghao itu. Padahal siang tadi adalah pertama kalinya mereka bertemu.
Hanya saja, Jihoon sudah cukup yakin dengan pernyataannya bahwa pemilik kafe The8 itu adalah mate-nya. Ada banyak tanda yang memperkuat keyakinannya tersebut. Salah satunya adalah kemampuannya mencium aroma vanila dari Omega tersebut, dan sebaliknya, aroma kopinya pun tercium dengan jelas oleh Minghao, bahkan sampai mengganggunya.
Ini adalah fakta lucu karena meskipun Jihoon tidak mengenakan scent blocker, hampir semua temannya sering mengatakan bahwa feromonnya tidak terlalu tercium. Bahkan Jeonghan, seorang Omega, sekalipun jarang menyadari aroma itu. Tidak jarang Jihoon disebut sebagai Alpha bohongan. Jadi, jika feromonnya sampai bisa tercium oleh seorang Omega, itu sudah menjadi tanda yang cukup jelas.
Namun, jika pernyataannya malah membuat Minghao merasa tidak nyaman, mungkin Jihoon seharusnya lebih memfilter ucapannya. Jihoon sempat berpikir untuk mengirimkan pesan permintaan maaf. Namun, sebelum sempat ia mengetik apa pun, sebuah pesan baru masuk ke ponselnya.
Xu Minghao
Gue beta.
Jihoon pun tak bisa menahan tawa histerisnya. Menyenangkan. Benar-benar menyenangkan. Setelah sekian lama menunggu dan berharap bisa bertemu dengan mate-nya, kini ia harus berhadapan dengan seseorang yang tidak mau mengakui status gender mereka berdua, entah untuk alasan apa pun.
Hmm.
Gitu cara mainnya?
Oke.
Xu Minghao
??
Lo udah ada pacar?
Kalo ada ya gue mundur dulu sih
Xu Minghao
Nggak
…
Ada
Gmn???
Xu Minghao
Ada
Jd mundur aja
Oh.
Oke.
Lucu. Omega bernama Xu Minghao ini terlalu lucu untuk Jihoon lewatkan begitu saja. Ia tak menyangka momen mengenali mate-nya akan menjadi begitu menyenangkan.
Terlalu menyenangkan.
