Work Text:
Waktu berjalan dengan lajunya yang tidak manusia pahami. Tahu-tahu saja sudah duduk berhadapan di sini, di sebuah bangku panjang yang menghias sisi-sisi pasar malam. Tsukasa memakai kaos merah maroon dan mantel hitam yang sudah Leo hafal dalam setahun terakhir ini, sedang Leo dalam balutan dress putih sepanjang betis yang beberapa waktu lalu pernah pernah Tsukasa singgung bahwa Leo cantik dalam balutan dress tersebut.
Tapi tentu Tsukasa sudah tidak peduli jika dia pernah berkata bahwa Leo dalam balutan dress seputih tulang itu cantik, maka Leo pun berpikir untuk apa ia mengingat-ingat itu. Buktinya saja saat Tsukasa melihat Leo, laki-laki itu tidak berkomentar apa pun. Tsukasa hanya menyapa Leo singkat.
"Selamat malam, Leo-san."
"Suo~..."
"Dingin." Tsukasa segera melepaskan mantelnya dan menyampirkan pada bahu Leo, "Pakai dulu saja."
Laki-laki itu membiarkan riuhnya cengkrama para pedagang dan pembeli dan anak-anak yang merengek meminta sesuatu kepada orang tua mengisi beberapa menit kekosongan di antara mereka. Rasa canggung menghias raut wajah Leo, merasa bersalah karena seharusnya ia tidak datang ke pasar malam dan bertemu Tsukasa. Keduanya melamun diterpa angin, memperhatikan sekitar, lalu hanyut dalam pikiran masing-masing. Tsukasa mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Tidak maukah ia berinisiatif memecah kecanggungan ini?
Karena Leo tidak mau malam itu berlalu dalam diam, maka perempuan itu bertanya, "Gimana... Um, Kohaku? Sudah sembuh?"
Tsukasa menundukkan kepala sedikit, mengganti lembaran bukunya, lalu menjawab, "Sudah."
Sudah? Syukurlah. Tapi apa tidak ada kata-kata lain yang lebih panjang daripada 'sudah'? Leo tidak puas kalau hanya lima buah huruf yang Tsukasa bagi dengannya malam itu, jadi Leo terus mengejar, "Nggak harus operasi, kan?"
Tsukasa tersenyum. "Tidak, Leo-san..."
Leo menghela napas lega diikuti senyum di wajahnya. Ia mengalihkan pandangan pada musisi yang sedang tampil di panggung kecil pasar malam itu dan mencoba menyibukkan pikiran dengan urusannya sendiri. Tidak terlalu berhasil, karena sedikit banyak urusannya menyangkut mantan adik kelasnya itu.
"Leo-san…"
"Ada apa, Suo~?" Leo menyahut dengan berusaha tidak terdengar terlalu bersemangat ketika Tsukasa memanggil namanya.
"Akan sejauh mana kamu berlari mengejar apa yang kamu impikan?"
Leo tertegun. Saat menoleh, ia melihat Tsukasa sedang menatap ke arah pedagang es krim turki yang menjadi pusat perhatian para pengunjung. Ekspresi wajahnya santai, bebas kerutan. Namun cara Tsukasa bertanya memberitahu Leo bahwa pertanyaan itu serius.
"Aku," Leo bergumam sambil mengubah posisi duduknya. "Aku…" Ia menggeliat lagi, hanya untuk kembali ke posisi duduknya semula.
Sejauh mana aku akan berlari mengejar mimpiku? Mimpi tidak melulu soal menjemput cita-cita dan pekerjaan yang mapan, kan? Saat ini, apa yang aku impikan berada begitu dekat… tapi aku tidak berani bergerak. Andai saja... Andai saja aku... Leo menelan ludah, mengulur-ulur waktu untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aku rasa, kita harus siap berlari sejauh apa pun untuk meraih hal-hal yang kita cita-citakan. Iya, kan, Suo~?" Leo balik bertanya. Ia memastikan apakah jawaban semacam ini yang Tsukasa harapkan.
"Iya, betul. Betul juga," ucap Tsukasaーmungkin pada dirinya sendiri. Bibirnya perlahan mengembangkan senyum. Nyala lampu terpantul pada kedua pupilnya.
Leo memainkan jari-jarinya resah, pandangannya bolak-balik pada Tsukasa dan para pedagang di sana. "Suo~... Boleh aku tahu, dalam konteks apa kita berbicara?"
Pertanyaan Leo itu seakan menarik Tsukasa kembali ke dunia nyata. Tsukasa mengerjap, dan kesadaran kembali menghidupi mata itu. Ia menoleh pada Leo, dan Leo merasa untuk pertama kalinya di sore itu, Tsukasa sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berbicara dengan dirinya.
"Aku memutuskan untuk mendaftar beasiswa ke kampus yang pernah kuceritakan tempo hari, Leo-san." Tsukasa mengumumkan dengan raut wajah bangga. "Kalau semua berjalan lancar, aku akan lulus tiga bulan lagi, lalu tiga bulan kemudian… Selamat tinggal, Jepang."
"Oh…," Leo tersentak, dan udara langsung menyerbu paru-parunya dalam satu tarikan nafas. Ini bukan kabar baru, memang. Tentu saja Leo tahu Tsukasa dan obsesi belajarnya untuk masuk ke dalam universitas impian, karena masa depan merupakan salah satu topik favorit dalam perbincangan mereka. Namun saat 'masa depan' itu beringsut ke sini, dan ketika Tsukasa bersiap untuk segera menghampiri… rasanya seperti mimpi. Kenyataan menampar Leo dan tameng yang ia persiapkan hancur berkeping-keping.
Embusan angin malam mengembalikan akal sehat perempuan itu ke dalam rongga kepalanya. "Itu keren, Suo~!" Leo tersenyum selebar mungkin. Leo meremas tangannya di depan dada, mencoba menunjukkan betapa menggugahnya berita itu untuknya. "Aku yakin kamu punya kesempatan besar untuk diterima, Suo~!"
Tatapan Tsukasa melembut, sementara mata Leo menyempit menjadi lengkungan ramah. Dan Tsukasa memantulkan cahaya lampu taman dengan begitu sempurna, seakan-akan cahaya itu miliknya sendiri.
"Menurutmu begitu, Leo-san?" Tsukasa bertanya, seperti masih perlu diyakinkan.
Leo mengangguk. Ia memang tidak selalu ada untuk melihat sepak terjang Tsukasa, tapi dari obrolan-obrolan mereka yang sporadis, Leo tahu bahwa Tsukasa merupakan siswa brilian di sekolah. Cerdas, hangat, aktif. Begitu mudah untuk menyimpulkan bahwa kelak Suou Tsukasa tidak akan menjadi orang biasa-biasa saja di masa mendatang. Begitu mudah untuk dicintai juga.
"Hei, Suo~," Leo menegur. Tsukasa menjawab dengan gumaman. "Kamu sudah daftar beasiswa, dan itu berita bagus, tapi kenapa kamu masih galau?"
"Aku? Galau?" Tsukasa tertawa renyah, seakan-akan kedua kata itu sangat absurd untuk dipadukan. "Aku mantap untuk pergi ke sana, Leo-san. Hanya saja, keputusan hidup yang besar seperti ini rasanya agak mengguncang. Benar bahwa itu memacu semangat, tapi mengguncang juga."
Leo meremas-remas tangan, namun bibir Tsukasa yang tersenyum membuatnya tak terlihat seperti orang gugup. "Aku harus memperjelas rencana masa depanku. Apa yang mau aku lakukan dengan hidupku? Kapan? Di mana? Begitu banyak kemungkinan, begitu banyak keinginan! Dunia seperti dibuka lebar, Leo-san. Lebar sekali."
Tsukasa menjelaskan dengan tangan-tangannya yang bergerak tegas di hadapan Leo. Di mana ia ingin berada lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dan dua puluh tahun lagi. Laki-laki itu bercerita tentang negara-negara yang ingin ia sambangi, perusahaan yang ingin ia bangun, isu-isu sosial yang ingin ia selami. Leo menatapnya nanar, sementara yang menari-nari di otaknya adalah pikiran-pikiran paling cupet dan egois.
Di mana aku dalam rencana-rencanamu yang mencakar langit itu? Di mana aku, Suo~? Adakah tempat untukku di dalamnya? Apakah Kohaku yang akan mengisi kekosongan hari-hari tuamu nanti?
Sementara Tsukasa bercerita, terbersit dalam benak Leo bahwa ia ingin pergi bersamanya. Leo ingin duduk di bangku ini pada suatu malam, tersenyum pada Tsukasa yang tengah berjalan mendekat, lalu berkata, "Kejutan! Aku akan pergi ke negara impianmu juga, Suo~!"
Ya, tapi itu hanya angan-angan kosong Leo semata.
Tsukinaga Leo tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak akan pernah. Leo tidak akan pergi ke manapun. Terlalu banyak sulur-sulur yang mengikat dan menghalanginya untuk pergi. Leo tidak bebas dan mampu seperti Tsukasa. Sementara Tsukasa ditakdirkan untuk terbang, maka Leo akan tetap di sini, mengakar dan melapuk.
Leo mulai kuyup oleh dingin, sementara laki-laki di sampingnya terlalu terserap dalam impiannya yang hampir menjelma nyata. Tsukasa tidak sadar bahwa Leo telah mengerut dan terkikis oleh kenyataan yang bertubi-tubi.
"Ini semua tentu saja kalau semuanya berjalan lancar, Leo-san." Tsukasa meringis di akhir ceritanya.
Leo menghenyakkan punggungnya ke sandaran bangku. Tsukasa menengadah dan Leo mengikutinya, mengamat-amati, siapa tahu ia bisa melihat mimpi yang sama dengan Tsukasa di balik kabut cahaya lampu kota yang menyelubungi langit berbintang.
"Aku akan berdoa buatmu, Suo~," Leo berbisik. "Semuanya akan lancar," tambahnya, walau ia sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan 'lancar'. Biar Tuhan yang mendefinisikannya untuk perempuan itu…
"Terima kasih, Leo-san. Tapi sudah cukup tentang aku. Kalau Leo-san bagaimana?"
"Bagaimana…," kata tanya itu melayang-layang seperti bulu yang dibuai angin. Leo menatap Tsukasa, mencermati binar matanya dan cara Tsukasa mengangkat alis. Menyimpan baik-baik bagaimana bibir Tsukasa sedikit terbuka, bagaimana tubuhnya ia condongkan pada Leo, seakan laki-laki itu benar-benar ingin tahu, seakan-akan masa depan perempuan itu sebegitu menariknya untuk Tsukasa.
"Iya, bagaimana..." Tsukasa mengulangi, "Rencana masa depanmu. Apa yang ingin kamu lakukan dengan hidup, Leo-san?"
Mengejarmu. Kurasa aku hanya ingin mengejarmu.
Leo melipat tangan di depan dada dan menelan ludah, membiarkan Tsukasa melebarkan mata dan mengangkat alis lebih tinggi, agar mendorongnya untuk bicara. Leo pun tersenyum, dan akhirnya bicara.
"Tsukasa... aku akan..."
