Chapter Text
Anies dan Ganjar merupakan pasusu (pasangan suami-suami) yang baru saja merayakan satu tahun pernikahan mereka di sebuah restoran fine dining. Mereka telah tiba di kediaman mereka, sebuah rumah kecil yang dibeli dari hasil kerja keras mereka berdua. Walau tentu dengan cicilan (siapa yang bisa beli rumah secara kontan di zaman gila ini?) setidaknya mereka mendapatkan griya yang cukup nyaman dengan letak yang cukup strategis dengan DP 0%
“ Honey, I’m home. ” Teriak Anies saat membuka pintu rumahnya. Pria disebelahnya mengangkat sebelah alisnya keheranan.
“Lah, aku kan dari tadi sama kamu, dek. Hani siapa? Selingkuhanmu, ya?” Ia mengira suaminya itu sedang memanggil nama orang.
Sebuah makhluk mungil muncul dari dalam rumah dan mengenduskan kepalanya ke sepatu kanan Anies. Pria itu pun mengangkat tubuh mungil makhluk itu dan menggendongnya.
“Apa sih, Mas? Orang aku nyariin Aslan.” Tatapnya heran, tangan besarnya itu mengangkat tubuh kecil Aslan tinggi-tinggi sebelum menciumnya.
“Oh gitu, kukira sainganku cuma teman-teman di kantormu, tahunya sama kucing juga. Duh, resiko nikah sama kembang desa.” Ganjar meletakkan tangannya di dadanya dengan ekspresi menahan sakit.
Anies yang geli mendengarnya memukul ringan punggung Ganjar.
Hingga ia jatuh tersungkur.
Pukulan ringan untuk selevel pegulat.
Aslan yang menjadi biang konflik rumah tangga mereka kali ini tampak tak acuh, memang sudah menjadi rencana rahasianya untuk memonopoli perhatian babu— maksudnya, majikannya itu.
Mereka kini tengah berada di kamar mereka, baru saja menyelesaikan aktivitas mandinya.
Iya, mandinya bareng. Wong udah nikah.
Walau sebenarnya, sebelumnya pun juga sudah [sebagian teks diculik ke Rengasdengklok]
Sebenarnya Anies menginginkan mandi sendiri-sendiri. Namun Ganjar si anak manja minta dimandiin, maksudnya mandi bareng, dan ia telah memohon-mohon dengan bertekuk lutut. Melihat raut sendunya yang mirip anak anjing ( I mean puppy eyes, kenapa kalo di-bahasa Indonesia-kan jadi terdengar kasar ya?) Anies jadi tidak tega dan mengiyakan saja walau ia sudah hafal dengan akal bulus lelakinya itu.
Untuk melakukan aktivitas menggembirakan yang entah ngapain ya, main sabun kali. ( Keep it safe for now, gatau ya besok-besok. Ga janji)
Anies melepas handuknya membelakangi suaminya, Ganjar yang masih duduk santai di tepi ranjang pun gatal mengomentarinya.
“Ngapain hadap belakang gitu, kan Mas udah lihat tiap hari.”
“Bisa diem ga?” Anies membalasnya dengan mengacungkan gantungan baju, masih membelakangi suaminya.
“Dan cepat pakai baju sebelum tuh kasur basah karena handuk Mas!”
“Siap, Yang Mulia.” Ganjar segera bangkit dan membuka lemari pakaiannya.
Kini keduanya berada di ruang tengah, menonton berita yang tersaji di dalam layar kotak bernama televisi itu.
Oh iya, keduanya tengah memakai piyama berwarna salem hadiah pernikahan dari sahabat mereka, Sandi.
“Ih, pemerintah kita sekarang makin bobrok aja ya, dek!” Sahut Ganjar menanggapi berita di televisi tentang kepala negara mereka mengeluhkan nilai mata uang negaranya yang makin merosot. Lah elu selama ini ngapain, tong?
Anies hanya tersenyum saja mendengarkan celotehan suaminya itu. Ia sendiri sibuk berkutat dengan laptopnya, mengerjakan tugas kuliahnya. Saat ini Anies tengah menempuh pendidikan S2 di sebuah universitas tak jauh dari rumahnya.
Sesekali Ganjar menatap kekasihnya, memandang parasnya yang sedang serius itu. Terlihat seksi kalau sudah begitu, menurut pandangan bucinnya.
Ia menyadari sesekali Anies memegangi perutnya, membuatnya terpikirkan akan suatu hal.
“Mas, Anies ham—”
“HAMIL??? Dek, Mas turut senang tapi ini terlalu terburu-buru!” Jawabnya panik. Baru saja dipikirkan sudah menjadi kenyataan.
Punggung Ganjar kembali menjadi sasaran Anies, kali ini oleh slepetan sarungnya.
“APA SIH, MAS? Aku iki lanang!”
“Lah terus, Adek barusan mau bilang apa?”
“Anies udah hampir selesai nugasnya. Beli sate depan komplek yuk, laper. Hehe.” Ucapnya masih memegangi perutnya.
“Kita baru aja abis makan di luar, adek masih mau makan lagi? Udah malem ini dek, gendut nanti.”
“Terus kenapa kalau gendut, ga suka? Mas jadi ga cinta lagi, mau cari yang lain?”
Waduh, Ganjar. Ingat peraturan nomor satu: jangan bikin orang lapar marah.
“Ih, enggak gitu, Manies. Iya iya, nanti kita beli ya.”
“Bisa-bisanya ngira aku hamil, laki mana yang bisa hamil?” Anies masih terkejut dengan celetukan suaminya itu.
“Tapi Mas pernah baca bokepnya Sandi kalo cowok bisa hamil.” Ujarnya polos.
“Mas, stop baca bokepnya Sandi. Cowok ga bisa hamil kecuali dia trans yang masih punya rahim.” Anies menggelengkan kepalanya. Teman mereka itu memang memiliki hobi menulis cerita dewasa yang agak di luar nalar.
“Yah, padahal Mas pengen Adek bisa hamil.” Jawabnya yang kembali mendapatkan slepetan dari suaminya.
“10 menit lagi Anies udah selesai, Mas siap-siap aja dulu.”
“Siap, Tuan.” Ganjar segera bangkit untuk berganti pakaian dan mengambil uang.
Anies telah menyelesaikan tugasnya dan telah mengganti pakaiannya juga, kini mereka bersiap untuk keluar dan betapa terkejutnya mereka mendapatkan sebuah bingkisan keranjang rotan di depan rumahnya. Mungkin dari salah satu tetangganya.
Betapa baiknya tetangga mereka yang berbagi makanan di saat mereka tengah kelaparan, peka juga.
“Wah, ada bingkisan. Makan itu aja dek, Mas males keluar malam-malam.”
Anies yang sudah berjongkok dan mengintip isi keranjang itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Mau dimakan bagaimana, Mas? Isinya bayi.”
“Oh, bayi.” Jawabnya datar.
“BAYI??” Kali ini dengan sangat tidak datar dan terjal. Butuh beberapa saat hingga Ganjar menyadari ucapan Anies.
Ganjar ikut berjongkok ketika Anies menyingkapkan sehelai kain yang menutupi bayi tersebut. Ganjar berusaha berpikir mungkin yang dimaksud bayi kucing atau musang, rupanya bayi manusia. Diletakkan di depan rumah mereka.
Ganjar menemukan sebuah kertas tertindih badan bayi tersebut saat Anies berusaha mengangkatnya. Ia membaca isi dari surat terus.
Sebelumnya saya meminta maaf kepada Pak Anies dan Pak Ganjar, karena saya meletakkan anak saya begitu saja di depan rumah Bapak. Namun saya bingung Pak, selama ini saya menyembunyikan kehamilan saya karena rasanya saya berdosa apabila berusaha menggugurkannya. Namun saya juga tidak dapat membesarkannya yang bahkan ayahnya yang mana saja saya tidak tahu. Saya tahu Bapak-Bapak menginginkan anak, namun tidak bisa. Maka dari itu saya titip anak saya untuk dirawat dengan baik ya pak, walau tanpa sosok ibu saya rasa ia lebih baik bersama Bapak-Bapak.
Ganjar meralat ucapan batinnya, betapa kejamnya orang asing yang dengan seenaknya membuang anaknya di depan rumahnya itu.
Anies yang sedari dari ikut membaca isi kertas tersebut berkomentar, “Lalu bagaimana ini, Mas?”
“Kita titipin panti asuhan?”
“Anies engga tega, Mas. Tahu sendiri kan panti asuhan dekat sini bagaimana.” Mereka tahu betul kalau panti asuhan di sekitar tempat mereka jauh dari kata layak.
Anies menatap bayi itu lamat-lamat. Sedari tadi ia tertidur pulas hingga Ganjar sempat mengiranya sudah tak bernyawa. Namun ia telah memastikan bahwa jantung bayi tersebut masih berdetak.
“Mas, masih belum siap punya anak, ya?”
“Bukannya Mas engga siap, dek. Mas cuma belum kepikiran aja sebelumnya.”
“Ini jadinya gimana dek, mau kita angkat jadi anak kita saja kah?” Tanyanya.
Anies mempertimbangkan dengan masak-masak sebelum akhirnya memberikan jawabannya.
“Kalau Mas mau, ga masalah. Mungkin ini hadiah ulang tahun pernikahan kita.” Kali ini ia menatap kekasihnya dengan lembut.
Melihat Anies yang terlihat sangat keibuan— atau kebapakan?— yang menggendong bayi tersebut dengan penuh kasih sayang itu membuat Ganjar terenyuh. Sorot matanya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan tersebut.
“Baiklah, Mas siap jadi Ayah. Ayo kita adopsi saja bayi ini!” Ujarnya menggebu-gebu.
“ Welcome home, little buddy.”
