Work Text:
Kalau menurut Changmin, Juyeon itu lebih seperti anomali.
Itu bukan semata-mata karena sikapnya yang hampir 180 derajat berbeda dengan dia —bukan tentang bagaimana Juyeon lebih suka makanan manis ketimbang asin-pedas sebagaimana dia; bukan pula tentang Juyeon yang mampu mempertimbangkan perasaan tanpa perlu mencederai masuk akalnya pendapat dia acapkali mereka adu argumen. Tetapi, lebih dari itu.
Juyeon datang dengan cara yang paling jauh dari bayangan Changmin mengenai caranya bertemu dengan apa yang mereka sebut sebagai tambatan hati. Kalau sedang suntuk-suntuknya atau saat ia mendapat undangan pernikahan dari kenalan-kenalannya, ada kalanya otaknya itu berlanglang buana, membayangkan apakah orang seperti dia yang, menurut ibunya, terlalu sibuk dengan pekerjaan itu akan memiliki waktunya sendiri. Pernikahan memang bukan prioritasnya dan Changmin rasa, dia bisa hidup dengan baik tanpa itu.
Namun, dia tidak mempertimbangkan kalau yang membuat orang bertahan hingga melawan dunia itu bukan statusnya, bukan title yang akan dia bawa di atas semua tanda pengenalnya, melainkan orang yang bersanding dengan dia.
Waktu itu, kemeja flanel hitam-putihnya persis sama dengan orang di seberangnya. Changmin bukan tipe orang yang akan mempermasalahkan hal-hal semacam itu sebenarnya. Toh saat memutuskan membeli produk fast fashion, seharusnya tiap orang sudah harus siap dengan kemungkinan berpapasan dengan orang yang menggunakan pakaian yang sama dengan mereka seperti dia saat ini. Tetapi yang membuatnya berkali-kali mendongakkan kepala untuk menatap laki-laki di seberang sana adalah karena Changmin yang merasa bahwa orang itu lah yang punya masalah soal kembarnya pakaian mereka saat ini.
Tidak butuh sepuluh menit sampai Changmin menurunkan iPad dan menatap balik laki-laki itu lekat-lekat.
Tidak butuh sepuluh detik sampai laki-laki itu celingak-celinguk lalu beranjak berdiri dengan barang bawaannya dan menghampiri meja Changmin.
“Kursinya kosong?”
Pertanyaan normal itu membuat dia mengernyit.
“Kosong, tapi kita jadi kayak anak kembar.”
Laki-laki itu spontan tertawa, matanya berubah jadi sabit —tidak, segaris. Dan kala dia sudah menempatkan dirinya di depan Changmin, ia langsung jadi korban inspeksi besar-besaran.
Berbeda dengan Changmin yang mengenakan flanel ini sebagai outer, laki-laki yang entah siapa namanya itu hanya menyisakan satu kancing di bagian kerahnya. Rambutnya lurus, matanya tajam, rahangnya tegas, dan sebagaimana hal-hal sebelumnya yang sama sekali tidak penting, tangannya itu terlihat seperti raksasa saat memegang buku bacaan di tangannya.
“Enggak apa kan?”
“Apanya?”
“Kayak anak kembar.”
Maybe he is sick in the head, pikir Changmin.
“Saya gapapa sih. Tapi, emang Mas-nya enggak malu?”
Dia menggeleng kecil, “enggak kok, lucu.”
Mungkin dia harus berhenti menghakimi seseorang sebatas dari gerak-geriknya, dari asumsinya apa lagi.
Changmin lupa kapan terakhir kali ia merasa ramai di tengah sepi. Pengalaman terakhirnya mungkin adalah saat tahun-tahun awalnya bekerja, ketika pilihan yang dia miliki hanya sebatas transportasi umum mana yang paling efisien untuk mengantar dia ke mana pun tujuannya. Kadang ibu-ibu, seringnya bapak-bapak, tetapi mereka-mereka ini adalah yang kerap mengajak dia bercengkrama mengenai apa pun yang bisa mereka bahas. Tentang anak dan cucu mereka yang berkuliah di salah satu institusi terbaik negeri ini, tentang kemacetan kota yang enggak ada sudahnya, tentang dunia yang tidak lagi baik-baik saja.
Mereka mengaburkan keterbatasan soal identitas satu sama lain, menunjukkan bahwa orang asing tidak selalu harus bersikap asing. Kalau dia cukup beruntung, justru orang-orang ini lah yang akan mengingatkan bahwa di penghujung hari, kita akan tetap menjadi seorang manusia biasa.
Hari itu, Changmin merasakannya lagi.
Katanya, ini kali pertamanya punya waktu kosong setelah beberapa minggu ini disibukkan dengan urusan ujian akhir semester beserta segala administrasinya. Masih ada beberapa buku lagi di rumah yang perlu dia baca sebelum liburan berakhir dan dia akan kembali jadi yang paling sibuk sejagad raya.
“Kenapa enggak nunggu selesai dulu baru beli baru?”
“Kadang ada judul yang memang dicari-cari dari lama, jadi mumpung ada di depan mata, sekalian beli aja. Cuma, seringnya sih karena laper mata.”
Sampai detik ketika Changmin memutuskan kalau sudah waktunya dia untung beranjak pulang, suara yang sama membuat dia kembali menengok.
“Saya Juyeon,” ujar dia. “Saya boleh tukeran nomor sama Mas-nya?”
Entah sejak kapan, tapi Changmin menyadari satu dua hal soal kekuatan dari sebuah nama. Maksudnya, semua kalimat yang pernah terlontar di dunia ini, dari yang berbobot sampai yang cuma omong kosong, bisa punya kekuatan sendiri jika diiringi dengan nama-nama orang tertentu. Sebut saja nama orang-orang yang punya kuasa, yang terkasih, yang adalah musuh bebuyutan, yang telah dinanti sejak lama. Jari tangannya itu akan lebih mudah bergulir untuk membuka pesan masuk dari keluarganya ketimbang dari orang-orang lain, terlebih mereka-mereka yang tidak dia kenal baik.
Jadi, waktu dia tanpa sadar menjengit tiap nama Juyeon muncul di kolom notifikasinya sampai di saat ketika ia mulai menantikannya lagi, Changmin mendapati dirinya tertegun atas dirinya sendiri, merutuki aksi dan rasa yang jauh dari kata biasa ini.
Dia sendiri juga tidak ingat kalau jatuh cinta itu rasanya seperti ini. Dari kekhawatiran yang merambat dan menyesakkan dada sampai kebahagiaan yang membuncah dan meledak-ledak seperti kembang api di udara.
Tidak pernah terbayangkan juga di hidupnya kalau membelah jalan macet jam pulang kantor bisa membuatnya segila itu karena bercampur dengan debaran jantungnya. Entah itu demi mengejar makan malam di restoran all you can eat atau di kios mi nyemek di ruko pinggir jalan, semuanya sama membuat Changmin serasa menemukan dirinya yang baru.
“Kapan-kapan coba naik Transjakarta aja, terus lanjut MRT. Mau saya jemput?”
“Jemput gimana? Bukannya sama aja, macet-macet juga?”
“Jemput pakai Transjakarta, Changmin.”
“Emangnya kamu sopirnya?”
“Bukan,” Changmin masih ingat ekspresi tawa Juyeon saat itu. “Saya samperin, nah itu bahasanya, samperin. Biar nanti kita bareng-bareng aja ke tempat makannya.”
Kalau itu bukan Juyeon, mungkin Changmin sudah menolak, mengatakan bahwa dia enggan merepotkan meski alasannya jauh lebih dari itu. Gesture-gesture seperti itu bukan lah favoritnya.
Tapi ini Juyeon dan tangan apiknya. Juyeon yang suaranya bisa meyakinkan siapa pun —anak-anak ajarnya dan dia, kalau apa yang ia katakan bisa dipercaya. Juyeon dan segala tentang dia yang bisa membuat tembok pertahanannya hancur berkeping-keping hingga Changmin mengizinkan dia untuk melihat sisi lain darinya.
Senyumnya merekah, setengah tertawa. Dadanya masih terasa penuh dengan cinta yang dia biarkan untuk hidup di dalam sana, mengizinkannya untuk tumbuh di dalam hatinya.
Waktu dulu ketika Changmin masih suka dirungsingi oleh ibunya soal ini dan itu perkara jodoh-jodohan, dia suka asal menjawab dengan menunjukkan keengganannya untuk menikah. Bersungut-sungut sambil menyatakan kalau dia sudah merasa cukup dengan hidupnya saat itu.
Kalau sudah begitu, biasanya ibunya akan langsung mengomel, mengatakan kalau hidup seorang diri di masa tua belum tentu akan semenyenangkan hari ini. Akan kesepian, tidak ada yang bisa menjaga, kehilangan kemampuan untuk memahami orang lain, atau apa saja yang bisa muncul di pikiran ibunya. Biasanya juga, beliau juga akan menyisipkan doa-doa yang menurut Changmin sama asalnya, misalnya harapan agar anaknya itu justru akan dipertemukan dengan jodohnya di usia muda.
Changmin menganggap itu sekadar sebagai guyon, lupa kalau doa ibu, atau setidaknya ibunya yang selalu ramah kepada semua orang itu, ada kalanya punya kekuatan maha dahsyat yang dikehendaki seluruh malaikat di dunia.
Ibunya adalah orang yang paling bahagia waktu Juyeon menyatakan keseriusannya dengan Changmin, menyanggupi dengan serius omongannya yang meminta untuk segera menikahkan anak lanangnya.
“Kamu serius bilang gitu atau cuma buat bikin seneng ibu?”
“Aku lebih pengen bikin kamu seneng.” Jawab dia sebelum menambahkan, “maaf ya, enggak nanya kamu dulu, boleh atau enggak jawab begitu ke ibu.”
“Enggak apa kok, aku cuma kaget aja.”
Mungkin temannya tidak keliru ketika dia mengartikan kalimat “gue bisa ngebayangin orang yang nikah sama dia bakal kayak gimana” yang pernah Changmin lontarkan sebagai sebuah keinginan untuk menikah dengan Juyeon. Segalanya itu mendadak mudah dia terima, justru membuat dia sedikit merasa senang sendiri untuk membayangkan ini dan itu yang tidak seharusnya dia bayangkan sedini ini.
Mereka punya beberapa bulan, hampir setahun, sampai tanggal pernikahan yang sebenar-benarnya. Segala persiapan menjadikan Changmin sebagai yang paling sibuk, paling lelah, tetapi paling bahagia di saat yang sama. Juyeon mengizinkan dia untuk mewujudkan keinginannya sendiri, dari dekor sampai paket makanan. Ia mempercayakan Changmin dan seleranya, percaya dengan laki-laki itu sepenuhnya.
Changmin mau punya pesta yang menggabungkan indoor dan outdoor, yang bisa menggabungkan megah dan bebas di saat yang sama. Dia juga ingin punya aksen merah di dalam dekornya, namun tidak terlalu banyak sampai-sampai membuat suasana jadi terasa gelap. Tiap-tiap makanan dari katering pilihan dikurasi sampai dia menemukan yang paling sempurna, berikut dengan tamu-tamu undangan yang kebanyakan adalah teman Changmin, teman Juyeon, kolega dekat Changmin, guru dan orang tua murid Juyeon, dan beberapa nama saudara yang orang tua mereka inginkan.
Menurut dia, uang itu bisa dicari, katanya. Berbeda dengan pengalaman yang dia harap hanya akan terjadi sekali seumur hidup dengan Juyeon seorang.
“Tapi kamu gapapa?”
“Gapapa apanya?”
“Nikah sama aku?”
Mereka baru pulang dari fitting baju pengantin waktu itu dan Changmin mengerutkan dahinya.
“Kok nanya gitu?” Bibirnya sedikit mencebik. “Kalau aku enggak suka, aku enggak bakal repot-repotin diri ngurusin ini semua.”
“Maksudku…, aku suka ngerasa enggak pantes sama kamu.”
Di luar sana, langit sedang diterangi oleh bulan penuhnya, memancarkan beberapa titik samar dari bintang yang berpendar.
“Aku yakin di sekeliling kamu banyak orang yang keren, yang bisa ngasih lebih buat kamu dibanding aku.”
“Tapi kan aku maunya kamu.”
“Kamu beneran enggak apa kalau tinggal di apartemen yang lebih kecil dari rumah kamu sekarang? Gaji aku juga enggak jauh beda dari—“
“Mas, aku enggak suka kamu mikir gitu.”
Siapa pun di ruangan itu pun tentunya bisa tau kalau Changmin sedang marah, mungkin perasaannya terluka sedikit.
“Aku enggak pernah minta apa-apa. Aku tau kamu dan aku terima kamu yang aku tau ini. Kamu bisa mikir begitu kerena apa? Karena kamu guru? Karena gaji kamu enggak setinggi VP? CEO? Aku enggak butuh kok, aku juga bukan CEO dan aku enggak mau nikah sama CEO, sama orang kaya mana pun. Yang bikin aku mau nikah tuh kamu. Kamu aja cukup.”
Tidak ada suara yang keluar di antara mereka setelahnya. Mungkin Juyeon kehabisan keberanian untuk kembali mengeruk tanah dan menenggelamkan diri di dalam sana setelah Changmin menariknya untuk bangkit.
“Aku cuma mikir kalau kamu juga berhak dapet yang terbaik.”
“Kalau kamu kerjaannya insecure gini terus, mau nanti kamu jadi… billionaire juga enggak bakal pede, Mas. Terus, aku enggak suka.”
Juyeon menurut waktu Changmin mengelus pipinya, menumpukan kepalanya yang mungkin isinya lebih ramai dibanding jumlah orang yang akan mereka undang nanti.
“Kita bareng-bareng kan?”
Juyeon mengangguk sebagai jawaban.
“Aku percaya kalau kamu bisa jagain aku, gitu juga aku yang bisa jagain kamu. Kalau kamu masih banyak kurangnya, aku enggak akan bakal setuju buat nikah sama kamu sekarang. I always know what I am doing, aku cuma butuh kita yakin bareng-bareng.”
Dua bulan kemudian, mereka punya masing-masing.
Mau tau nasihat apa yang ibunya berikan satu hari sebelum pernikahannya? Enjoy the honeymoon phase, lalu diikuti dengan rentetan cerita mengenai pengalamannya yang sudah Changmin dengar untuk keseribu kalinya. Ayahnya hanya bisa menghela napas tiap kali kisah mengenai hilangnya sifat romantis dia setelah berpuluh-puluh tahun menikah, mengingatkan kalau apa pun yang terjadi, baiknya diterima saja. Dan sebagai anak paling berbakti di dunia, diucapkan dengan nada paling sarkastik di dunia, Changmin menuruti perkataannya.
Mereka punya satu minggu di Jepang sebelum kembali ke Indonesia dan melanjutkan pekerjaan masing-masing. Juyeon was being Juyeon, yang paling bahagia ketika bertemu dengan anak-anak ajarnya setelah cuti. Changmin masih ingat ekspresi bersemangatnya ketika menceritakan reaksi anak-anak kelasnya, bagaimana matanya menyipit ketika ia mengambil jeda untuk tertawa, tetapi melebar ketika menceritakan kalau mereka ingin melihat foto “suami Mister Juyeon” yang keren itu.
Katanya, ada beberapa anak yang juga ingin punya suami seperti Mister Changmin yang keren, walaupun Juyeon yakin kalau mereka belum benar-benar mengerti dengan apa yang mereka katakan. Lalu ada juga yang langsung meruntuhkan harapan teman-temannya dengan menjelaskan dengan berani: kalau mau punya suami kayak Mister Changmin, berarti harus kayak Mister Juyeon dulu, dan langsung diikuti oleh rentetan pertanyaan lainnya, seperti “memangnya Mister Juyeon kayak gimana?” dengan “suka kasih makan kucing sekolah!” sebagai jawaban salah satu dari mereka.
Jam menunjukkan pukul sembilan ketika Juyeon mencuri kecupan di pipi Changmin di depan wajan berisi minyak panas dan potongan kentang goreng di dalamnya. Dipandangi dengan serius seakan kentang-kentang itu adalah grafik yang perlu dia analisis dengan cermat. Dan tidak peduli sebesar apa Changmin masih belum begitu terbiasa dengan afeksi fisik yang Juyeon berikan kepada dia, itu juga jadi cara yang paling efektif untuk membuat mulutnya kembali bercicit.
“Sumpah ya, Mas. Aku enggak ngerti sama cara pikirnya.” Changmin meletakkan sutilnya dan kemudian berdecak menatap dinding di depannya. “Enggak masuk akal.”
Begitu pula dengan Juyeon yang masih di situ, memandangi Changmin dengan senyum paling lebar yang ia bisa. Berbulan-bulan hidup bersama tidak sekonyong-konyong menjadikan dia terbiasa, justru ada kalanya dadanya terasa penuh hingga sesak, isinya hanya cinta, cinta, dan semua cinta di dunia.
“Kamu dengerin aku enggak sih?”
Yang ditanya langsung mengerjap, lalu mengangguk sedikit.
“Dengerin kok.”
“Pasti kamu bengong.”
“Kamu lucu kalau lagi marah.”
“Enggak ada orang marah terus lucu, gitu tuh enggak ada, Mas Juyeon. Itu tuh– Mas, ini tutupnya susah.”
Changmin menyodorkan sebotol saus tomat yang belum dia –mereka buka, baru dipreteli segelnya beberapa menit lalu ketika Changmin masih menunggu minyak sampai panas.
Juyeon langsung menerimanya, membuka botolnya dengan usaha yang tidak sebesar Changmin tadi dan mengembalikannya kepada laki-kaki itu.
“Thank you. Sampe mana tadi?”
“Orang marah enggak ada yang lucu.”
“Nah, jadi tuh….”
Rasanya agak sulit kalau mereka diminta untuk mendeskripsikan dinamika di dalam apartemen lantai 15 yang mereka tempati ini. Changmin itu dikenalnya sebagai dia yang disegani orang-orang, manager kesayangan kantor yang menyumbang segudang strategi andalnya berkat otaknya yang tidak pernah berhenti berpikir. Changmin yang terbiasa untuk berdiri di atas kakinya sendiri dan tidak pernah berhenti untuk mendorong limitnya demi menjadi yang terbaik menurut idealismenya sendiri. Tetapi, detik ketika pintu apartemennya ditutup dengan Juyeon di sana serta senyumannya menyambut dia dengan hangat, yang ada itu cuma Changmin yang apa adanya, yang sebatas manusia biasa dengan keterbatasan mereka.
Juyeon selalu di situ, menerima segalanya yang Changmin berikan. Entah itu sisi seriusnya yang sekuat baja dan tidak kenal menyerah atau hati rapuhnya yang butuh rengkuhan untuk menghangatkan diri. Selalu membawa dia dalam apa yang Changmin anggap sebagai nyaman, meski yang dia berikan juga sebatas senyum dengan mata yang menyipit.
Tangan Juyeon kemudian bergerak untuk mengelus kepala Changmin seraya laki-laki itu kembali melanjutkan rutukannya, sesekali membuka mulutnya karena disuapi kentang goreng yang baru selesai mereka bumbui.
Dan ini cukup. Ini lebih dari cukup. Lebih dari apa yang Juyeon selalu panjatkan dalam doanya dan Changmin bayangkan dalam imajinasi kecilnya.
Tetapi sejatinya, manusia itu tidak pernah puas, kan?
“Aku takut.” Ujar Changmin sebagai respons pertamanya setelah penjelasan panjang yang baru Juyeon lontarkan kepada dia.
Itu tentu membuatnya mengerutkan dahi dan mengerjap beberapa kali, mempertanyakan.
“Kemarin-kemarin kamu yang semangat, kok sekarang jadi takut?”
“Aku mau, Mas. Cuma ya, enggak bisa bohong juga, aku lebih banyak takutnya.”
Mereka bilang, manusia itu bisa punya rasa takut karena tau dengan perasaan apa yang akan mereka terima setelah melakukan hal-hal tertentu. Seorang siswa yang gugup setengah mati sebelum ujian akhirnya karena takut akan mendapatkan nilai jelek dan terancam tidak naik kelas. Kita berhati-hati saat memasukkan frozen food yang masih dingin ke dalam minyak panas karena tau bahwa letupannya bisa mencelat ke kulit dan membakarnya saking panasnya dia. Semua itu tersimpan di dalam otak, mengendalikan sekaligus menjaga kita dari apa yang kita takuti.
Selama Changmin hidup, tidak begitu banyak ketakutan yang ia rasakan. Mungkin karena ambisinya untuk mengalahkan diri sendiri jauh lebih besar dibanding apa pun di dunia, jadi rasa takut tidak sempat eksis di lubuk hatinya. Namun, sejak kedatangan Haneul di dalam hidupnya dengan jari mungilnya yang kerap menggenggam telunjuk miliknya, Changmin sadar bahwa dirinya sedang ketakutan setengah mati.
Bukan, bukan karena dia merasa manusia kecil itu dapat menghancurkan hidupnya, karena justru adalah sebaliknya.
Pikiran-pikirannya itu terus menghantui, mengatakan bahwa Changmin pada nyatanya bukan orang yang lihai dalam menjaga anak kecil. Kehidupan sebagai orang tua masih begitu jauh dari dirinya yang sekarang. Tetapi hati kecilnya serasa berusaha memberontak, berusaha membuktikan bahwa keinginannya akan mendorong dia hingga bisa jadi ayah terbaik di dunia.
Naif, tetapi di saat-saat begini, Changmin hanya butuh itu sebagai validasi.
Dot susunya bahkan tidak mau masuk ke dalam mulutnya seberusaha apa pun Changmin mencoba untuk menyelipkannya, mencoba peruntungan kalau alasan menangisnya Haneul adalah karena haus. Pampersnya masih bersih, dan kalau cara mengeceknya benar, perutnya juga tidak kembung. Segala yang bisa jadi kemungkinan dari alasan tantrumnya Haneul dicoret satu-satu.
Dan untuk pertama kalinya di dalam hidupnya, Changmin merasa bahwa ia tidak mampu.
Tentunya ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Sebagaimana bayi-bayi lainnya, Haneul akan bangun di tengah malam dengan tangisannya yang menggema sampai Changmin atau Juyeon mengalah dengan mengorbankan waktu tidur mereka, menjaga Haneul sampai ia kembali tertidur pulas.
Sekadar tidur jam dua sampai tiga pagi demi menenangkan bayi perempuan mereka dari tangisan tanpa sebab juga bukan hal baru. Ada kalanya Changmin menghabiskan malam hingga pagi dengan berkutat di depan laptopnya, berusaha untuk mengurusi satu dua hal sampai konsentrasinya terdistrak berkat tangisan Haneul dan segudang alasannya untuk terbangun. Tetapi tentu, ketika Changmin kehabisan pilihan untuk membuat Haneul kembali tertidur, maka detik itu lah ia merasa buntu.
Tiap-tiap tangisnya Haneul hanya akan membuat dia meringis dan hampir menangis juga. Sekadar membawa anak perempuannya ke dalam pelukannya yang masih kaku itu belum cukup, tidak juga dengan susu formula yang Changmin pikir dapat membantu. Cuma ada rengekan, lalu tangisan, dan bagi Changmin yang hidupnya bergantung pada komunikasi, keberadaan anak ini justru membuatnya stres sendiri.
“Papa tuh enggak tau kamu maunya apa….”
Laptopnya langsung terlupakan, urgensinya kalah jauh dibanding cara bagi otaknya memikirkan ide terbaik untuk menghentikan tangisan Haneul.
Kalau mendengar dari cerita orang tuanya, mertuanya, atau dari curi-curi dengar orang lain, hal yang paling menyakitkan bagi kebanyakan orang tua adalah melihat anaknya hancur. Itu membuat doa-doa yang mereka panjatkan kepada Yang Kuasa seakan tidak ada hasilnya dengan diri sendiri sebagai orang tua paling tidak becus di dunia karena tidak sanggup menjaga buah hatinya sendiri.
Mereka-mereka juga sering bilang kalau eksistensi seorang anak juga mampu menjadi alasan hidup mereka dan sudah sewajarnya kalau tidak ada satu pun orang yang mau melihat alasannya untuk bertahan hidup justru bersedih. Terlepas dari bagaimana Haneul tidak memiliki hubungan darah dengan Changmin dan Juyeon, tetapi itu tidak bisa juga menjadi alasan bagi Changmin untuk tetap memiliki ikatan dengan dia. Tidak ketika mereka memutuskan untuk mengadopsi Haneul di usia yang sepertinya belum genap berusia satu bulan.
Tanpa sadar, matanya ikut berair, menatap nanar anak perempuan kecil di dalam timangannya.
Kalau dia membangunkan Juyeon, mungkin hatinya itu bisa lebih tenang. Suaminya itu selalu punya caranya untuk menenangkan Haneul, bahkan hanya dengan senyumnya. Namun Changmin tau kalau itu hanya akan menghancurkan dirinya lebih dan lebih lagi. Membuat dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “masa sih yang begini aja enggak bisa?”
Tetapi, Tuhan, kenapa sesulit ini?
“Please, kasih tau papa, kamu maunya apa….”
Changmin memohon, sedikit ikut merengek, meminta sejadi-jadinya pada Haneul, pada Tuhan, pada siapa pun yang bisa membuat Haneul berhenti menangis. Dadanya itu mendadak sesak berkat desperasi dari suaranya sendiri, seperti dicengkram erat-erat.
Mungkin tiga menit, mungkin juga lima menit, sampai tangisan Haneul mereda. Netranya itu terbuka lebar, menunjukkan kilau di dalamnya. Lalu, tangannya bergerak naik, seakan berusaha untuk menggapai wajah Changmin yang masih merengut.
Orang-orang selalu bilang kalau anak kecil itu adalah yang paling jujur hatinya. Mereka bicara apa adanya, bertindak tanpa ada urgensi apa pun selain instingnya yang masih belajar. Jiwa-jiwa kecil yang masih membiasakan diri dengan hal-hal bumi.
Di mata Haneul, mungkin Changmin cuma manusia biasa yang kebetulan sering ia lihat tiap malam. Laki-laki entah siapa yang kerap menyebut diri sendiri sebagai papa. Orang paling payah yang berbicara pada bayi yang jelas-jelas tidak akan mengerti apa yang dia bicarakan. Tetapi kalau dia diizinkan untuk lebih optimis dan berimajinasi, maka di mata Haneul, Changmin adalah orang pertama yang ingin ia kenal, dimulai dengan elusan di pipinya.
Dia spontan mengubah posisi Haneul, menyampirkan dia di bahunya, merengkuh tubuhnya dengan pelukan paling kecil namun menguras emosi yang pernah Changmin lakukan.
“Kamu tuh enggak suka ya, sama papa? Sukanya sama ayah aja?” Tanya Changmin, kepalanya ia tempelkan sedikit di badan anaknya. “Jangan rewel-rewel lagi, papa enggak tau harus gimana….”
Kalau Juyeon atau siapa pun dengar pertanyaannya tadi, Changmin lumayan yakin kalau mereka akan langsung menyemprot dia, menegaskan kalau tidak mungkin Haneul berpikir seperti itu tentang Changmin.
Tetapi siapa juga yang masih bisa berpikir positif jika sedang kalut-kalutnya?
Hampir pukul tiga pagi ketika Changmin meletakkan Haneul di tempat tidurnya. Dia tidak segera beranjak, justru menghabiskan beberapa menit duduk di sebelahnya untuk mengamati tiap titik dari wajahnya. Kata orang-orang, wajah bayi itu masih mudah berubah, jadi Changmin membayangkan akan seperti apa Haneul dua sampai lima bulan ke depan ketika ia mulai mengerti tentang dunia yang ia tinggali. Apakah bumi ini akan ia lihat sebagai taman bunga tempatnya bermain dan mengeksplor diri atau justru hutan belantara yang kalau ia tidak membawa kompas dan peta, maka ia akan tersesat.
Segala yang terbaik, segala yang membahagiakan. Tetapi baik Juyeon maupun Changmin tidak punya cukup kekuatan untuk memastikan langit kecil mereka bisa tetap memayungi dunia dengan biru cantiknya.
“Changmin, enggak tidur?”
Dia spontan berbalik, menatap Juyeon yang bangkit dari tidurnya dengan muka bantalnya.
“Tadi Haneul nangis, aku jagain dia dulu.”
“Kenapa enggak bangunin aku aja?”
Changmin enggan menjawab. Enggan menunjukkan sisi rapuhnya, bahkan di depan Juyeon sekalipun.
“Jangan enggak tidur gini, sayang.”
“Tapi aku berhasil bikin dia tidur.”
Tidak ada suara lain selain suara mesin AC di kamar mereka dan helaan napas yang Juyeon keluarkan. Ia geser duduknya, mendekat ke arah Changmin, lalu memeluk suaminya itu sembari menyembunyikan wajahnya di perpotongan lehernya.
“Good job, Papa.”
“Oh, shut up….”
“As the reward, kamu boleh tidur. Nanti pagi aku yang siapin semuanya, aku bangunin kamu agak mepet.”
Changmin yakin kalau Juyeon yang sekarang tengah mengangkat kepalanya untuk menatap dia itu bisa melihat kantung matanya yang makin gelap. Tetapi dia tidak bicara apa pun, malah mengelus kepala Changmin dan membubuhkan cium di pucuknya.
Bare minimum, tentu. Tetapi kalau bukan dengan Juyeon, Changmin juga tidak yakin kalau ini semua bisa ia hadapi.
Setiap orang punya momen yang paling membahagiakan dan membanggakan versi dirinya sendiri. Entah itu menjadi sarjana pertama di keluarganya, berhasil lolos interview di perusahaan yang selalu ia semogakan, atau sekadar punya kertas binder Chika yang membuat iri satu kelas.
Bagi Juyeon dan Changmin, momen itu adanya di saat-saat ini, ketika Haneul mulai belajar mengatur keseimbangannya dalam berdiri sambil memegang apa pun yang dapat ia genggam. Bagaimana tangan kecilnya mampu menggenggam mainan yang diberikan kepada dia dengan senyum cerahnya.
Waktu itu langit sedang mendung-mendungnya dan mereka memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana di hari Sabtu itu. Cuma ada televisi yang menayangkan film kartun, lantai yang penuh dengan mainan berserakan, juga remahan biskuit yang luput dari pandangan Juyeon untuk dibersihkan. Di atas pangkuannya, ada Haneul yang tangannya sibuk berusaha memasukkan potongan balok ke dalam wadah. Changmin di seberangnya sibuk membina, katanya mau lebih banyak latihan untuk mengajari banyak hal pada anak perempuannya itu.
“Bentuknya sama atau enggak sama? Yang ini ada tajem-tajemnya, yang Haneul pegang enggak ada. Sama atau enggak?”
Muka seriusnya kembali, seakan berusaha memecahkan misi penting yang papanya sedang berikan.
Mungkin karena terbiasa untuk hidup di tengah keluarga ini, ada banyak ekspresi Haneul yang menurut Changmin mengingatkan dia pada mereka. Seperti ekspresi seriusnya saat ini yang menurut Juyeon sangat mirip dengan Changmin atau senyum bahagianya yang secerah milik Juyeon ketika dia berhasil menyocokkan bentuk dan memasukkannya ke dalam bentuk yang sama.
Itu cuma akan membuat dadanya sesak sedikit, merasa kewalahan dengan banjiran emosi yang dia terima.
Kalau Changmin sedang istirahat sejenak, ada kalanya pikirannya itu melanglang-buana dan membayangkan bagaimana bertahun-tahun lalu, bukan hidup seperti ini yang dia harapkan. Tidak pernah terpikirkan kalau suatu hari, dia akan pulang ke rumah dengan seorang guru SD dan anak bayi di dalam gendongannya yang menyambut dia dengan bahagianya setiap hari.
Changmin pikir, omongan orang-orang yang mengatakan kalau rasa lelah itu bisa langsung hilang ketika melihat senyuman anak sendiri cuma omong kosong belaka, tetapi detik ini, Changmin merasa bahwa ia dapat menaklukkan dunia hanya dengan Haneul dan Juyeon di sisinya.
“Good job, Haneul! Anak pinternya papa dan ayah.”
Tangannya terulur untuk menarik pelan pipi Haneul sembari Juyeon membubuhkan cium di kepalanya, membuatnya jadi pemeran utama di sini, yang paling dicintai oleh semuanya. Dan sepertinya, Haneul menyadari itu. Tawanya jadi bersemangat, matanya menyipit, dan tangannya menepuk-nepuk.
“Pa… pa.”
Segalanya langsung serasa melambat. Mata Changmin spontan melebar, berusaha menangkap ulang kata-kata apa yang barusan keluar dari mulut anak perempuannya.
“Iya, ini Papa. Papanya Haneul.”
“Papa….”
Kali ini, jari Haneul terulur, menunjuk Changmin. Masih ada banyak kelap-kelip di matanya, seakan ia mengucapkannya dengan cara paling tulus yang ia bisa.
“Haneul udah bisa manggil Papa?” Tanya Juyeon, sedikit merunduk untuk menatap wajah Haneul dan Changmin bergantian.
Dan Changmin serasa mau meledak. Matanya langsung berair dan rasa-rasanya mustahil untuk menahan tangis dan sesenggukan yang langsung keluar dari mulutnya. Otaknya langsung semerawut, jalur tiap selnya kacau. Ia langsung menghapus air matanya, berusaha tersenyum di depan Haneul sambil menggenggam tangannya.
Kalau yang dia sebut itu adalah ayah, yayah, atau apa pun itu yang bisa mendeskripsikan Juyeon, mungkin Changmin akan paham-paham saja. Dia yang lebih berperan di sini, yang paling telaten dalam mengurus Haneul dari memandikan, mengganti pampers, sampai mengurusnya dalam bermain. Juyeon bilang, itu mungkin karena dia punya ingatan soal adiknya sementara Changmin sebagai anak bungsu tidak, meski Changmin merasa itu tidak masuk akal. Juyeon juga selalu ada di sisi Haneul, lebih sering menghabiskan waktu bersama tiap habis menjemput Haneul dari babysitter di rumah omanya dan menunggu Changmin pulang kerja. Sudah sewajarnya tuan putri mereka itu kalau ia lebih mengenal Juyeon ketimbang Changmin.
“Dia kenal sama kamu, aku yakin dia juga sayang sama kamu. Iya enggak, Haneul? Haneul sayang kan, sama Papa?”
Tetapi nyatanya, segala obrolan malam yang Changmin buat dengan si kecil boleh jadi justru lebih membekas dalam ingatan Haneul. Membuatnya dengan mudah mengenal Changmin sebagai papanya yang selalu ada untuk dia. Mungkin juga dikenal sebagai papanya yang cengeng, papanya yang suka bingung sendiri, papanya yang suka bercerita soal hal-hal yang dia tidak mengerti.
Ia elus tangan mungilnya. Sesekali, tawa ikut melesat keluar dari mulut Changmin meski matanya terasa panas ingin menangis lagi.
“Papa juga sayang sama Haneul, princessnya Papa dan Ayah.”
Malamnya ketika Juyeon dan Changmin sama-sama di atas kasur memandangi langit-langit kamar dengan Haneul di kasur kecilnya. Di luar sana, langit masih mengguyur tanah dengan hujannya, membuat Juyeon yang lebih tidak kuat dingin itu bersembunyi di dalam bed covernya.
“Masa Haneul udah gede banget, Mas.”
“Dulu tangannya kecil banget dibanding tanganku.”
“Dulu dia langsung ilang tiap dipeluk sama kamu.”
Changmin memiringkan badannya dan mendapati Juyeon yang sudah melakukan hal sama. Dia pandangi matanya, yang kalau Haneul punya mata paling bersinar di dunia, Juyeon adalah Palung Mariana yang begitu dalam dan gelap. Dan mungkin, Haneul memang hadir sebagai penunjuk arah dan memberikannya tujuan baru.
“Makasih udah percaya sama aku kalau aku bisa jagain Haneul.” Cicit Changmin, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.
“Aku tau kamu bisa. Sekarang anaknya malah lebih sayang ke kamu kan?”
“Ih, enggak! Dia juga sayang tau, sama kamu. Dia tiap liat kamu tuh kayak liat superhero.”
“Tapi dia liat kamu sebagai papanya,” sergah Juyeon dan rasanya, Changmin mau menangis lagi. “Kamu enggak tau aku seseneng apa denger dia manggil kamu ‘Papa’.”
“Aku kira dia bakal ngenalin kamu duluan.”
Juyeon lantas bergerak untuk mengelus pipinya, lalu mengecup bibirnya sekejap.
“Dia sayang kamu, sayang. Enggak usah dibawa pikiran.”
“Ya… aku enggak ngerti aja, kok malah aku? Maksudnya, aku seneng banget, cuma tuh—“
Lalu kecupan lainnya. Kali ini sampai tiga kali agar Changmin mau menghentikan kalimatnya.
“Just accept it.”
“Mas….”
“Aku dan Haneul mau kamu seneng, Changmin. Enggak usah nyari logical reasonnya, being happy cuma perlu dinikmatin aja.”
Bertahun-tahun lalu, bukan hidup seperti ini yang dia harapkan. Bukan tidur di salah satu kamar apartemen dengan kasur bayi yang dipasang menempel dengan kasurnya. Bukan juga yang memikirkan alokasi dana susu dan pampers ketimbang menabung untuk liburan ke entah mana. Dan meski Changmin masih punya bagian kehidupan lamanya dengan segudang pekerjaan 9 to 5 yang ia jalankan setiap hari kerjanya, segalanya jelas tidak lagi sama. Sekitar dua ratus persen lebih lelah dari biasanya, lebih membuatnya putar otak dibanding kehidupan lamanya.
Tetapi, kalau Changmin diizinkan untuk menukar hidupnya atau mengulang segalanya, dia memilih untuk enggan.
Dia temukan nyamannya di dalam rengkuhan Juyeon dan kecupan yang sesekali dia bubuhkan di dahinya, membiarkan dia mengantarnya untuk tidur, ikut dengan Haneul dan dunia bawah sadarnya.
Dan yang kali ini, Changmin benar-benar merasa cukup.
