Actions

Work Header

All Your Wounds Have Become Mine

Summary:

Dimana di dalam bunga tidur mereka, mereka saling menghancurkan satu sama lain. Benang merah mimpi buruk yang seolah mengisyaratkan malapetaka bagi masing-masing.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

22 Desember, 2022.

 

“Ya Tuhan!”
“Astaga!”
“Apa yang terjadi?!”

 

Hari itu, seisi sekolah dibuat gempar. Pasalnya— dalam sisa-sisa hujan yang masih menggenang, bergerombol sebuah kerumunan yang memadati salah satu sudut lapangan. “Min Yoongi terjatuh dari lantai tiga!” Seruan salah satu dari mereka membuat seorang laki-laki terkejut hingga terpaku pada tempatnya, dengan panik ia berusaha menembus kerumunan tersebut.

 

“Hey, Kim Seokjin! Jangan mendorong!” Seokjin— nama lelaki itu, tidak menghiraukan seruan murid-murid lain yang mengaduh akan sikapnya. Ketika sudah lenggang, kedua netra milik Seokjin samar-samar mampu melihatnya, pusat dari keramaian ini. Min Yoongi ada disana, terpejam dan bersimbah darah.

 

“H- hah.. Haah..”
“Yang barusan itu apa?”

 

Mimpi. Seokjin terbangun dan menyadari bahwa semua yang dilihatnya tadi merupakan sebuah mimpi buruk. Apa maksud dari semua itu? Terlebih lagi, mengapa harus Yoongi? Mengapa harus cintanya? Batinnya menjerit ribut. Seketika, pikiran Seokjin melayang kembali pada 11 hari yang lalu, ketika ia akhirnya menyatakan perasaannya kepada Yoongi setelah satu tahun memendam.

 

Pernyataan itu tidak berbuah manis, Seokjin sendiri sebenarnya tidak berharap apapun. Dia hanya ingin hatinya berlega. Namun— tatkala ia mengingat mimpi buruk yang dialaminya barusan, bisikan negatif menjalari otaknya. Untuk sesaat dapat dirasakan jika telinganya berdenging, sedangkan peluh membanjiri pelipisnya. Di tengah-tengah detak jantung yang berdebar kencang, Seokjin menarik kuat-kuat surai hitamnya. Isak tangis perlahan menggema. 

 


 

26 Januari, 2023.

 

“KIM SEOKJIN!”

 

Brukk.

 

Min Yoongi tidak percaya oleh pemandangannya saat ini.

 

Seokjin— lelaki yang pernah menyatakan perasaannya sekitar satu bulan yang lalu, kini tergeletak tak berdaya dengan darah yang berceceran. Sungguh, Yoongi seperti dibuat mati rasa. Seokjin berlari dengan tergesa-gesa dari seberang sekolah dan menyeberangi jalanan begitu saja tanpa menyadari bahwa ada sebuah truk yang melaju kencang ke arahnya. Tubuhnya terlempar sekitar beberapa meter.

 

Yoongi tidak mampu menghentikannya— bahkan ketika Seokjin berlari, ia tidak bisa mencegahnya. Kedua kakinya seakan terpaku pada tempatnya berdiri. Orang-orang mulai mengerumuni tempat kejadian perkara, dirinya pun dapat mendengar sirene ambulans yang perlahan mendekat. Sedangkan disana, Kim Seokjin terlihat semakin pucat.

 

“Seokjin! H- Haah.. Hah..”

 

Mimpi. Yoongi terbangun dan menyadari bahwa apa yang dialaminya barusan merupakan mimpi buruk. Dengan tangan yang bergetar, lelaki mungil itu memukul-mukul dadanya sendiri yang berdebar-debar kencang. Nafasnya memburu hebat. Beberapa pertanyaan mulai singgah di kepalanya, apa maksudnya? Mengapa harus Seokjin.. Setelah satu bulan tidak bertegur sapa?

 

Jeritan hingga tangisan terdengar ke seisi kamarnya. Yoongi sangat terguncang. Ia menggenggam erat helai-helai rambut hitamnya.

 


 

30 Januari, 2023.

 

“Hey, Seokjin, bukankah itu aneh?” Seorang siswa ber-nametag Jung Hoseok memecah fokusnya terhadap lamunannya. “Apanya?” Seokjin bertanya balik, mengikuti arah pandang temannya. “Lihatlah, Min Yoongi tiba-tiba menjadi lesu seperti itu. Padahal sekitar beberapa menit yang lalu, ia masih tertawa bersama teman-temannya.”

 

Perkataan Hoseok ada benarnya. Yoongi terlihat lesu. Melihatnya membuat Seokjin teringat akan hari dimana ia menyatakan perasaannya, juga suatu malam dimana ia mendapatkan sebuah mimpi yang teramat buruk. Tanpa disadari, lamunan kembali mengambil alih dirinya.

 

“Min Yoongi terjatuh dari lantai tiga!”

 

“Hey, hey! Mengapa kau jadi ikutan lesu begini, Seokjin? Lebih baik kita ke kantin sekarang! Ayo!” Salah satu temannya yang lain— Kim Namjoon, menyambar pembicaraan mereka. Dan Seokjin, tidak kuasa untuk menolak ajakannya. Jadi, dia biarkan dirinya ikut terseret.

 

Tatkala ketiga anak Adam tersebut mencapai ujung pintu kelas mereka, sepasang mata Seokjin tak sengaja bersitatap dengan Yoongi. Matanya sayu, berkaca-kaca seolah ingin menangis.

 

“Seokjin! Kok malah diam? Cepatlah!”

“Ah.. Iya!”

 

Haah.. Aneh, rasanya. Setiap aku melihatnya— atau sesederhana merasakan kehadirannya, aku jadi ingat mimpi buruk itu..” Begitu Seokjin dan kawanannya meninggalkan kelas, Yoongi merebahkan dirinya pada meja kayunya. 

 

“KIM SEOKJIN!”

 

Yoongi terperanjat. Diambilnya benda hitam berbentuk persegi panjang, ia mulai mengobrak-abrik isi gawainya menuju sebuah aplikasi sosial media. Beberapa hari yang lalu, Yoongi tidak sengaja menemukan sebuah akun Twitter anonim. Akun itu menulis sajak-sajak yang ditunjukkan padanya.

 

Moon
@moonlightmelody
Kupersembahkan seutas kisah dimana aku mati dan engkau melanjutkan hidup panjangmu tanpa kehadiranku. Maka dari itu, mohon dengarkan kisah ini.
15:33 • 12 Dec 22

 

Moon
@moonlightmelody
Gurat luka ini kutulis dikala aku menyadari bahwa hadirku bukanlah yang engkau dambakan, Tuanku. Bisakah engkau mendengar laraku yang menjerit saat ini? Apakah mereka tercapai pada rungumu?
22:11 • 14 Dec 22

 

“Moonlight Melody.. Sebenarnya siapa dirimu?”

 


 

02 Februari, 2023.

 

Moon

@moonlightmelody

Apakah diriku benar-benar sudah mati? Bagian apa yang mati dariku? Jiwaku? Ragaku? Perasaanku? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, aku memang mati. Kehadiranku mati bagi dirimu.

09:12 • 12 Jan 23

 

Moon

@moonlightmelody

Engkau seharusnya melihat sorot mataku kala memandangimu saat itu, wahai cintaku. Segenap jiwa dan ragaku sama sekali tak takut dengan kematian. Maka, dengan lapang dada, aku menyambut mautku hari itu juga.

21:13 • 30 Jan 23

 

“Hey, Min Yoongi!” Sepatah suara lantang membuat Yoongi terkejut hingga tersentak dari tempat duduknya. “Makananmu nanti dingin, tuh. Cepat dimakan.” Park Jimin— pemilik dari sorakan yang nyaring barusan, mendengus sebal seraya memakan pangsit rebus yang disediakan oleh kantin hari ini.

 

“Sedang memperhatikan apa, sih?” Kim Taehyung memicing, mencoba mencari celah untuk mengetahui hal apa yang membuat temannya sampai hilang fokus untuk sesaat. “Jangan mengintip!” Bentak Yoongi lalu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana seragamnya.

 

Akhir-akhir ini, membaca setiap sajak yang dituliskan oleh Moonlight Melody sudah menjadi rutinitas harian Min Yoongi. Tiap-tiap rangkaian kata-kata itu menyakitkan, layaknya digores oleh mata pisau yang diasah tajam. Namun anehnya, Yoongi menemukan ‘kenyamanan' dalam membacanya.

 


 

16 Februari, 2023.

 

“Astaga.. Tamatlah riwayatku!” Seokjin berlari kelabakan, menaiki tangga dengan cepat untuk mencapai ruang kelasnya di lantai tiga. Sepertinya keberuntungan tidak berada di pihaknya hari ini, dia bangun kesiangan. Seokjin terlalu fokus dengan langkahnya sampai-sampai tidak sadar bahwa ia menabrak bahu seseorang— itu Min Yoongi.

 

Ponsel yang digenggam oleh Yoongi terjatuh membentur lantai. Seokjin membeku sejenak, dengan kikuk ia berusaha menggapai benda itu— akan tetapi, sang pemiliknya spontan menepis tangannya. “B- biar aku saja..” Ujar Yoongi pelan. Seokjin sontak tertunduk, “Maaf.” Bisiknya hampir tak terdengar.

 

Min Yoongi tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk menangkal situasi canggung ini, jadi, ia hanya membalas dengan anggukan yang patah-patah kemudian berlalu begitu saja melewati lorong. Sementara Kim Seokjin, termenung kala memandangi punggung itu perlahan menjauh.

 

“Akun yang dilihatnya itu..”

 

Moon

@moonlightmelody

Aku dan kamu bagaikan orang mati dan orang hidup. Kamu hidup, bersinar, sedangkan aku mati, keruh. Aku mati, kamu hidup.

21:36 • 09 Feb 23

 


 

22 Februari, 2023.

 

“Tuan dan Nyonya Kim, kami turut berduka cita.”
“Bagaimana mungkin.. Padahal, Seokjin adalah seorang anak yang ceria..”

 

Yoongi Membisu. Dengan pakaian serba hitamnya, ia menatap nanar peti mati yang hampir ditimbun oleh bumi. Di bawah sana, tubuh Seokjin yang tak lagi bernyawa dibaringkan. Yoongi rasanya ingin menangis tatkala gundukan tanah tersebut sudah membentuk sempurna. 

 

“Ini semua salahmu."

 

Sebuah bayangan hitam berdiri di sampingnya. “Semuanya salahmu, Min Yoongi.” Ulangnya lagi. Lelaki bermata sipit itu merasa seperti jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, nafasnya terengah-engah. Yoongi menjerit, memberontak tidak terima. 

 

“Ah.. H- haah.. S- Seok.. Seokjin..”
“Haah— Hahaha, hanya mimpi ternyata..”

 

Yoongi terbangun dengan jejak air mata yang telah menghiasi wajahnya. Sejenak, ia merasa bahwa suhu kamarnya sangat pengap. Oksigen seakan tidak ingin mendekati hidung bulatnya. Otaknya memutar kembali adegan-adegan mimpi itu bak rol film hitam-putih. Tanpa sadar ia menangis lagi, mengusap kasar wajahnya dengan perasaan frustrasi. Isi kepala Yoongi sangat berisik sekarang. 

 

“Tidak— Aku t- tidak bisa begini terus.. Seokjin, Seokjin!” Tangannya sibuk kesana kemari mencari ponsel miliknya, lalu tanpa berpikir panjang Yoongi langsung menelepon nomor Seokjin saat itu juga. Kiranya ia tidak peduli dengan waktu yang kini menunjukkan tengah malam, satu-satunya yang ia butuhkan hanyalah suara Seokjin. Suara yang menandakan jikalau lelaki itu hidup dan baik-baik saja. “Kumohon angkat teleponnya.. Kim Seokjin!”

 

“H- Halo?..”
“—Yoongi?”

 

Dan manakala teleponnya akhirnya tersambung dan sepatah suara itu terdengar, tangisnya semakin pecah dengan deras. “Seokjin— S- Seokjin, Hiks.. Hiks..” Yoongi mulai menumpahkan sengsaranya kepada pemuda yang mendengarkannya bingung di seberang sana. Bingung mengapa orang yang dicintainya itu tiba-tiba menangis. “Yoongi— hey, ada apa? Kau baik-baik saja? T- tolong jangan menangis, Yoongi..” Seokjin berusaha menenangkannya. 

 

Hiks— A-.. Aku bermimpi, mimpi yang sangat-sangat buruk..”
“Kamu.. K- kamu pergi. Aku menyaksikanmu kecelakaan dan— d- dan..”
“Aku menghadiri pemakamanmu, Seokjin.. Hiks.”

 

Kim Seokjin terdiam total ketika mendengar racauan Min Yoongi yang begitu kalut. Isak tangis yang tersengal serta serak parau. Ia membiarkan teman sekelasnya tersebut mencucurkan emosinya. “Sejak kapan?” Seokjin berbicara setelah hening selama beberapa menit, membuat Yoongi kebingungan dengan pertanyaan itu. “Ma- maksudmu?”

 

“Sejak kapan lara menyentuhmu?” Tegas Seokjin sekali lagi. 

 

Pemuda yang berada di seberang telepon sejenak tertegun. “26 Januari. Aku masih mengingatnya dengan jelas dengan mata dan kepalaku sendiri.” Jawaban Yoongi membuat Seokjin murung. “Ternyata aku belum berhasil.” Lirihnya— menciptakan kernyit di wajah sang lawan bicara. “Apa yang kau bicarakan, Seokjin? Jangan mengucapkan sesuatu yang membuatku tak mengerti.”

 

“Yoongi, apakah kamu tahu bagaimana sosokmu di mataku?” Seokjin menyambarnya dengan pertanyaan lain.

 

Lelaki yang disebut tidak menyahut. Seokjin pun melanjutkan kata-katanya. “Sinar. Satu kata yang dapat aku deskripsikan saat aku pertama kali berjumpa denganmu pada hari pertama masuk sekolah.”

 

“Bagaimana nada suaramu mengalun, bagaimana gelak tawamu melantun, serta bagaimana tangan-tangan penuh bakatmu membawa kemenangan bagi sekolah kita— kau sangat bersinar layaknya suar kilau mentari, Yoongi.”

 

“Sepertinya itulah hal yang membuatku jatuh cinta kepadamu.” Seokjin tersenyum getir. “Hari dimana aku menyatakan perasaanku padamu, ketika aku tidak mendapatkan jawaban yang selama ini selalu aku angan-angankan, saat itu pula aku mulai mencoba merelakanmu.” Jantung Yoongi seolah-olah ditusuk oleh sebilah belati tatkala mendengar kalimat pedih itu. Tanpa sadar, ia kembali terisak.

 

“Namun, aku tak semata-mata merelakanmu. Pada momen itu juga— aku menetapkan, bahwa aku takkan membiarkanmu tertimpa oleh kesedihan. Aku selalu memandangmu dari kejauhan, memohon kepada Tuhan agar kamu selalu dilingkupi oleh kebahagiaan.”

“Dan apabila Tuhan merencanakan sebuah penderitaan untukmu, maka aku akan memohon, ‘Jangan Yoongi, biar aku saja..’ Karena prinsipku, semua lukamu telah menjadi milikku. Selama kau bahagia, aku tidak masalah menderita.”

 

Yoongi kehabisan kata-katanya. Hembusan nafasnya merebak kasar. “Me-.. Mengapa k- kau melakukan itu, Kim Seokjin?..” Ujarnya— hampir meninggikan intonasinya. “Karena aku mencintaimu, Min Yoongi.” Ucap Seokjin mantap. “Tak jarang, aku juga mendoakanmu agar memiliki hidup lama. Sebab agaknya, semakin lama aku mengambil lukamu, aku merasa diriku akan layu cepat atau lambat.”

 

“Maka, berhenti melakukan itu!” Meledak sudah amarah Yoongi. “Apa yang harus aku lakukan supaya kau berhenti, Seokjin? Tindakanmu jelas menyakiti batinmu sendiri!” Ia terengah-engah setelah membentak lawan bicaranya. “Kamu ingin aku hidup lama, huh? Bagaimana aku bisa tetap hidup sementara kau perlahan-lahan mati, Kim Seokjin!”

 

“Dibanding perasaanku tertolak, aku lebih tak ingin kehilanganmu, Yoongi.”

 

“Lalu.. L- lalu aku harus apa, Seokjin? Apakah dengan aku mencintaimu kembali, kau akan membagi lukamu padaku? Jika benar begitu, maka aku akan belajar membalas cintamu—..”
“Tidak bisa, Yoongi. Ini sudah menjadi komitmenku.”

 

“Apabila kamu melakukannya, maka upayaku akan sia-sia.” Hati Yoongi terasa sangat sakit sekarang. Oh, apakah begini rasanya jika perasaanmu ditolak? Apakah seperti ini yang dirasakan oleh Seokjin saat ia menolak cintanya?

 

“Langkah yang aku pilih, semuanya sudah menjadi takdirku yang paling utuh.”

 

Min Yoongi tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia menangis sejadi-jadinya untuk kedua kalinya. Meraung-raung perih mencurahkan rasa sakit hatinya. Seokjin termangu mendengar betapa penuh laranya suara itu.

 

“Ah, iya. Tentang Moonlight Melody..”
“Nantikanlah sebuah surat darinya tatkala sinar fajar tiba.”

 


 

Moon
@moonlightmelody

Gerbang kebahagiaan telah berada di depan mata, namun tiada tanda-tanda dariku untuk angkat kaki dari sini— kubangan kematian yang menjeratku. Si hitam maut berkata padaku, “Kau akan bahagia jika menyeberang kesana.”

 

Inilah akhirnya, secarik hormat perpisahanku. Kutulis guratan pena ini dengan hati yang ikhlas. Aku akan melepaskanmu, aku akan menjemput kebahagiaanku sendiri, aku akan pergi ke tempat yang seharusnya kusinggahi.

 

Jayalah kekasihku, abadilah engkau dalam bilik memoriku.
Kamu harus hidup. Tolong, hidup lebih lama untukku.

 

Melodi Hidupku, aku mencintaimu selalu.

 

Tertanda, Kim Seokjin.
23 Februari, 2023.

 


 

“Hey, apakah kau pernah dengar rumor tentang sekolah ini?”

“Tidak. Rumor apa?”

“Ada yang bilang, pada tanggal 23 Februari kemarin— salah satu murid mereka kecelakaan di pagi hari saat hendak berangkat sekolah. Ia tewas di tempat.”

“Lalu— selang beberapa jam kemudian, teman sekelasnya jatuh dari lantai tiga. Katanya, sih, bunuh diri karena tidak bisa menerima kematian temannya.”

 

FIN.

Notes:

Trivia:

Jika kamu bertanya-tanya, "Mengapa Seokjin memiliki cara mencintai seseorang seperti itu?" Maka jawaban yang aku berikan adalah, karena fic ini diadaptasi dari kisah nyata. Tentunya, dengan sedikit bumbu fiksi.

Pada dasarnya, mimpi buruk yang dialami oleh Seokjin beserta akun puisi anonim itu diangkat dari kisahku sendiri bersama kasih tak sampaiku.

Aku sangat mencintainya, aku terus memikirkannya hingga pada tanggal 22 Desember 2022, aku bermimpi buruk tentangnya. Untuk menumpahkan isi hatiku, aku membuat akun Twitter anonim dan mulai menulis puisi terkait dirinya. (Ya, seluruh kata-kata dari Moonlight Melody kuambil dari akunku sendiri).

Jadi kesimpulannya, peran Seokjin di fic ini merepresentasikan diriku, dan peran Yoongi merepresentasikan kasih tak sampaiku.

Kiranya hanya ini yang bisa aku sampaikan sebagai penjelasan singkat. See you in my next fic!