Chapter Text
Tidak diperbolehkan untuk berisik di perpustakaan. Itu adalah hal yang sudah diajarkan bahkan ke siswa SD seperti mereka ini.
Ganjar menutup bukunya dan menghela napas. "Apaan sih," gerutunya, ia menengok ke arah salah satu anak yang sedang merengek ke seorang guru. Sumber keberisikan yang membuatnya dari tadi tak bisa fokus membaca.
Anak dengan rambut ikal itu—sepertinya adik kelasnya—mengatakan sesuatu. Ganjar masih bisa mendengarnya karna posisi mereka tak jauh dari dirinya:
"Tapi saya yang udah ngambil bukunya duluan! Dia ngrebut begitu aja, pak," anak itu menunjuk ke arah lain. Ganjar mengikuti arah tangannya dan hanya memutar mata saat menemukan siapa yang ditunjuk anak itu.
Anak yang katanya 'merebut' itu salah satu teman sekelasnya. Ia anak dari orang kaya dan salah satu yang berkuasa di kelas.
Ia bisa percaya bahwa buku anak itu memang direbut.
"Maaf ya, Anies...," si guru mencoba menenangkan dengan mengulas surai ikal anak—Anies—itu. "Kamu cari buku lain saja gimana?"
Seperti dugaan Ganjar, guru itu tak akan mau menegur anak orang kaya. Namun, tampaknya anak yang bernama Anies itu masih tidak ingin menyerah.
"Tapi saya sudah ingin baca biografi bung karno itu sejak lama, pak! Dan buku yang tadi itu satu-satunya yang belum terpinjam..."
Mendengar buku yang disebutkan Anies, Ganjar sontak melirik judul buku yang tadi ia tutup. Biografi Bung Karno? Itu buku yang sejak tadi ia baca. Buku yang sudah bolak-balik ia baca tiap ke perpustakaan.
"Anies mengalah dulu ya?"
Ganjar mengusap dagunya.
Yah, daripada anak itu berisik lagi kan?
Ganjar bangun dari atas karpet tempat ia duduk membaca. Ia melangkah menuju mereka berdua dengan menenteng buku biografi itu.
"Tapi pak-"
"Nih," sela Ganjar, menjulurkan buku tersebut tepat di depan wajah Anies. Semakin dekat mereka, ia jadi sadar kalau anak itu jauh lebih pendek darinya. Rambutnya yang sedikit ikal bukan satu-satunya ciri khasnya, ia juga memiliki sebuah tahi lalat di bawah bibirnya.
"Eh..?" anak itu hanya menatap bingung buku itu, selang beberapa detik, tatapan bingung itu teralihkan ke arah si pemegang buku.
"Kamu mau buku ini kan? Inih," kata Ganjar, kini ia sedikit tersenyum—agar Anies tak takut padanya dan menerima bukunya. Ia mendorong buku itu agar diterima olehnya.
Kedua tangan Anies memegang buku itu. "Tapi kan..ini lagi dibaca sama kak-," ia melirik ke nama di dadanya, "-kak Ganjar?"
"Aku dah sering baca bolak-balik," jawab Ganjar. Kini tak memegang apapun, tangannya ia masukkan ke saku. Ia melempar senyum ke arah sang guru—yang tatapannya terlihat berterimakasih kepada Ganjar—lalu menatap Anies lagi. "Lain kali jangan berisik di perpustakaan ya?"
Ganjar lalu berbalik untuk pergi, tetapi baju bagian belakangnya ditarik oleh tangan mungil anak yang merupakan adik kelasnya itu.
"Maaf kak," ujarnya. Ekspresinya terlihat sedih—ah, apa dia tadi terlalu menyeramkan? Tangan kiri Anies memeluk buku yang tadi ia berikan, dan tangan kanannya memegang erat bajunya. Jangan kenceng-kenceng oi ntar sobek-
"Aku ngga bermaksud buat berisik, maaf udah ngganggu kakak"
Anies tersenyum, "Terimakasih bukunya kak, kak Ganjar keren"
Ekspresinya yang terlihat tulus membuat Ganjar luluh. Tadinya, ia tidak terlalu menyukai anak ini karna ia sempat mengganggunya membaca. Ternyata anak ini tidak terlalu buruk. Ia sudah mau melawan ketika ada yang merebut bukunya dan tidak hanya menangis. Apalagi seleranya sudah terbukti bagus karena ia mau membaca buku biografi Bung Karno.
"Sama-sama," Ganjar membalas senyumnya. "Aku mau pergi, bisa lepas bajuku?"
"Oh!"Anies sontak melepas pegangannya di baju Ganjar. Ia mengusap bagian belakang kepalanya dan tersenyum malu, "Maaf kak.."
"Iya, iya," Ganjar melambaikan tangannya sambil mulai berjalan menjauh dari Anies. "Mungkin kita bisa ngobrol lagi, aku sering ke perpustakaan"
Anies menjawab dengan antusias; "Oke kak"
Sambil sedikit tertawa, Ganjar keluar dari perpustakaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ternyata Anies adalah siswa yang belum lama pindahan ke sekolahnya. Pantas saja ia baru melihatnya di perpustakaan padahal anak itu sangat semangat mengenai membaca buku.
Sejak hari itu, mereka berdua sering bertemu di perpustakaan. Ganjar jadi senang karna ia jadi ada teman membaca. Teman-temannya hampir semua selalu menolak ikut dengannya ke perpustakaan.
Terlebih lagi, ia dan Anies mempunyai rasa suka yang sama terhadap sejarah.
"Liat, Nies!," Ganjar mengangkat sebuah buku. Mata anies langsung berbinar saat pandangannya jatuh ke buku yang diangkat Ganjar.
"Buku tentang pak hatta? Dapet dari mana, kak?" Buku itu memang tidak ada di perpustakaan sekolah. Percayalah, Anies sudah mencari sampai ke sudut-sudutnya.
"Dah dibilangin panggil Mas aja, 'Kak' formal banget," koreksi Ganjar. "Ini bawa dari rumah"
"Boleh pinjam?," pinta Anies, ekspresinya berharap.
"Boleh," begitu kata itu keluar dari mulut Ganjar, tangan Anies langsung bergegas mengambil bukunya. Namun, Ganjar sudah menduga hal tersebut dan buku itu ia angkat tinggi-tinggi sampai di luar jangkauan tangan Anies. Ia menertawakan muka sebal Anies. Setelah puas tertawa, baru ia berikan buku itu. "Makanya cepet tinggi"
"Iya, iya Mas Ganjar"
Anies membawa buku itu dan duduk di karpet, diikuti oleh Ganjar. Namun, sesaat sebeluk duduk, Ganjar menangkap sesuatu dari sudut matanya.
Anak yang waktu itu merebut buku Anies berdiri di dekat salah satu rak buku. Tatapan sinisnya tertuju kepada Anies. Ganjar merengut, dan mengamati anak itu. Saat mata mereka bertemu, anak itu langsung mengalihkan pandangan dan—dengan agak terburu-buru— bersembunyi di balik rak buku.
"Kenapa, Mas Ganjar?" Anies bertanya, baru menyadari bahwa Ganjar tak kunjung duduk. Ia mengikuti arah tatapan Ganjar.
"Itu," Ia menjelaskan,"anak yang waktu itu ngrebut bukumu"
"Ohh"
"Tadi natep kamu," Ganjar bergerak untuk duduk, "aneh"
Anies mengangkat bahunya, "Marah mungkin, soalnya kulaporin guru"
Ganjar sontak menoleh menatap Anies dengan sangat cepat, "Hah?"
Anies lalu menceritakan bahwa ia melaporkan tingkah laku anak itu ke salah satu guru di sekolah mereka yang terkenal galak dan tak peduli akan koneksi. Bukan hanya perbuatannya ke Anies tempo hari, tetapi juga segala tindakan yang anak itu lakukan ke anak-anak lain.
"Kamu ndak takut?" Tanya Ganjar, sedikit khawatir. "Dia keluarganya ngeri"
Anies hanya menjawab Ganjar dengan kembali mengangkat bahunya, lalu melanjutkan membaca buku.
Ganjar menghela napas akan sikap Anies yang terlihat tak peduli. Yah, jika terjadi apa-apa, ia akan coba melindungi Anies.
Ganjar membuka buku di pangkuannya. Saat ia melirik ke Anies, anak itu terlihat terkagum-kagum membaca kisah Mohammad Hatta di bukunya. Perhatian Ganjar jadi teralihkan dan malah memperhatikan ekspresi kagum adik kelasnya itu.
"Kamu suka bung hatta, Nies?"
Anies mengalihkan pandangannya dari buku, "Jelas, mas"
"Mirip bung hatta sih kamu," tangannya mendarat di kepala Anies, ia mengacak-acak rambutnya sambil tertawa, mengabaikan 'Hey!' yang disuarakan Anies. "Otaknya pinter gini"
Anies menepis tangan Ganjar dan berusaha merapikan rambutnya. "Mas Ganjar juga pinter"
"Woiya dong," Ganjar menunjuk foto Soekarno-Hatta yang ada di bukunya. "Bisa jadi partner kita"
Dari foto Soekarno-Hatta, tangannya lalu menunjuk adik kelasnya, "Anies jadi Bung Hatta," setelah itu bergerak ke dadanya sendiri, "Aku jadi Bung Karno"
Anies tersenyum lebar mendengar ucapan Ganjar. "Mas Ganjar emang mirip Pak Karno sih"
"Oiya? Dari sisi mananya?"
"Banyak cewe yang suka"
Ganjar tak menyesal sama sekali menoyor kepala adik kelasnya yang tertawa menyebalkan setelah mengatakan hal itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Gimana wawancaraku tadi?" Tanya Anies sambil mengimbangi langkah cepat Ganjar dan berusaha agar tidak bertabrakan dengan siswa lain yang berlalu-lalang.
"Pake nanya," jawab Ganjar, senyumnya lebar—bangga. "Bagus pisan, dah pasti keterima kamu mah"
"Iya?," Ia sudah merasa senang dengan performanya tadi, namun mendengarnya dari Ganjar terasa berbeda. "Alhamdulillah"
"Iya," ujar Ganjar dengan sangat yakin. "Kalo yang lain nolak aku bakal bela-belain, rugi OSIS kita kalo anak kek kamu ditolak"
Anies tertawa mendengarnya, "Loh aku masuk OSIS via orang dalam dong ini?"
Anies memang sudah ingin mendaftar OSIS di SMP sejak lama. Keinginannya semakin kuat saat Ganjar—yang masuk SMP duluan—bercerita bahwa ia diterima menjadi OSIS. Kini kelas 7, Anies langsung mendaftar begitu pengumuman penerimaan anggota OSIS disebar. Ganjar yang merupakan pengurus OSIS jadi salah satu penilai di tes wawancaranya.
"Psh," Ganjar mengibaskan tangannya, "Sekali-sekali, Nies, biar ngerasain jalur orang dalam"
"Ndak boleh dong, Mas Ganjar," ujar Anies, menirukan aksen medok yang biasanya disuarakan Ganjar. Kawannya itu memutar mata mendengarnya.
"Ndak ada aku juga kamu tetep masuk kok, seratus persen," ujar Ganjar sambil menepuk-nepuk pundak Anies.
Anies mengangguk, lalu ia melanjutkan dengan lebih serius ;"Iya, tapi jangan dibiasain ya, Mas, ngga adil orang dalam-orang dalaman"
"Iyaaa, Nies, lempeng banget kamu dari dulu," Momen mereka pertama kali bertemu—saat Anies melaporkan anak nakal yang merebut bukunya, tak peduli koneksi—terbesit ke pikiran Ganjar.
Anies membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Ganjar namun dipotong oleh beberapa siswa menyapa kawannya itu. Ganjar menyapa balik mereka, sementara Anies hanya tersenyum dan tetap berada di sisi Ganjar meski ia berhenti untuk beberapa kali mengobrol. Tak hanya kakak kelas, ia tak menyangka teman-teman seangkatannya juga banyak yang menyapa Ganjar.
"Mas Ganjar populer ya," komentar Anies, setelah mereka berjalan lagi.
"Jelas," kata Ganjar, diiringi dengan cengiran percaya dirinya yang menyilaukan mata. "Pilketos nanti menang aku, aamiin"
"Oh, Mas Ganjar mau nyalon ketos?"
"Iya, Nies," Ganjar kemudian merangkul pundak Anies, "Kebetulan bahas ini, kalau kamu waketosnya gimana?"
Anies mengerutkan alisnya, sedikit kaget, "Lah aku?"
"OP banget kalo kita partner, Nies, Soekarno-Hatta baru, kan?" Jawabnya, masih dengan cengiran percaya dirinya itu. Namun, saat Anies tak kunjung menjawab, menyebabkan rasa ragu mulai terlihat di wajahnya. Ia mengangkat tangannya yang tadi di pundak Anies dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Yaa tapi kalo kamu mau si"
Anies berpikir sejenak, lalu ia menjawab; "Ga keberatan sih aku"
"Bener???"
Ganjar lalu bersorak, membuat ia hampir tak mendengar kata-kata Anies selanjutnya;"Tapi tek tanya Ibu dulu ya"
Ganjar tersenyum lebar, ia tak peduli harus menunggu sedikit lebih lama kalau artinya Anies bersedia jadi partnernya.
"Iyaaa, langsung kabarin kalau udah!"
.
.
.
.
.
.
.
Dwitunggal. Selayaknya Soekarno yang tidak mau memiliki partner lain yang bukan Hatta, Ganjar juga menolak dipasangkan dengan orang lain. Ia sempat dinasehati oleh kakak kelas untuk memilih seseorang dari kelas 8 yang sudah lebih berpengalaman daripada Anies yang masih kelas 7. Ganjar langsung menolak mentah-mentah nasehat itu.
Sayangnya, pasangan yang juga membuat penasaran para anggota OSIS—karna antusiasme Ganjar—itu gagal terwujud.
Hal tersebut dikarenakan sehari sebelum seleksi ketua dan wakil ketua OSIS dimulai, Ganjar jatuh sakit.
Tak lama sebelum Ganjar jatuh sakit, ia sempat hujan-hujanan. Anies sudah memperingatkan kawannya itu namun diabaikan olehnya.
"Mas Ganjar! Nanti sakit!"
Bukannya meneduh, Ganjar hanya melambai, dan tetap bermain dengan bola basketnya, "Ndak bakal, Nies! Aku strong!"
Kini ia terbaring di kasur kamarnya, sebungkus tisu di jangkauan untuk diambil setiap kali ia ingin bersin.
"'Ndak bakal', ya?" ucap Anies, alisnya terangkat dan setiap kata-katanya ditekankan dengan sarkas. Ia berdiri di sisi kasur membawa sebuah mangkuk berisi sup yang dititipkan oleh ibunya Ganjar.
Senyum malu terpasang di muka Ganjar, ia mengangkat tubuhnya ke posisi duduk, agar bisa lebih nyaman mengobrol dengan Anies "Lagi badluck aja Nies"
Memang benar. Biasanya jika ia hujan-hujanan, ia tak pernah sakit. Ia tak paham apa yang membuat kali ini berbeda.
Anies menghela napas panjang. Ia duduk di kasur Ganjar dan menyerahkan semangkuk sup itu kepada kawannya. Ganjar terlihat senang melihat Anies membawa makanan dan langsung mulai memakannya setelah mengucapkan "nuwun, Nies!" dan "makan dulu ya, Nies!".
"Mas Ganjar jadi gabisa ikut seleksi karna sakit"
Hal itu sudah sejak kemarin menjadi beban pikiran Ganjar. Mendengar Anies mengatakannya, ia jadi tambah merasa tidak enak. "Gara-gara aku, kita gajadi jadi partner ya, Maaf, Nies"
Ia menatap Anies, penasaran akan suatu hal; "Kenapa kamu ga tetep daftar aja? Cari partner lain"
Anies melempar tatapan yang heran, seolah apa yang ditanyakan memiliki jawaban yang jelas, "Kan Mas Ganjar yang minta jadi partner, masa aku ninggalin Mas Ganjar gitu aja"
"Tapi-"
"Gapapa, Mas Ganjar," potong Anies. Ia tersenyum halus, "Aku tahun depan juga masih bisa"
"Hmm..," Ganjar masih tetap merasa tidak enak. Ia membulatkan tekadnya,"Karna di SMP gagal, aku sama Anies harus jadi partner di SMA ya?"
Anies tertawa pelan mendengarnya, "Iya, Mas"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Anies menatap refleksinya di kaca. Ia perbaiki posisi kacamata bulat yang kini bertengger di batang hidungnya itu. Dikarenakan kebiasaan buruknya yang terlalu sering membaca di tempat gelap, Anies jadi direkomendasikan untuk mulai memakai kacamata. Ia balikkan badannya ke arah temannya yang sedang duduk dan makan cemilan di sofa, lalu bertanya; "Cocok ga?"
Ganjar memeriksa penampilan Anies sekilas, tawaan kecil terdengar dari mulutnya. "Makin mirip Bung Hatta, Nies." Tentu saja itu hal pertama yang diutarakan Ganjar saat melihatnya..
"Otw cosplay," canda Anies. Ia duduk di sebelah Ganjar, temannya itu lalu menawarkan kantong keripik yang sedari tadi ia nikmati sambil menonton sebuah acara di televisi.
Anies ikut mencomot keripik Ganjar, "Kau tak ingin pakai peci setiap hari? Biar mirip Bung Karno"
Mulut Ganjar yang penuh tak menghentikannya untuk tertawa, "Bukannya mirip Kusno, malah dikira santri nyasar"
Anies jadi membayangkan Ganjar yang berkeliling sekolah memakai peci dan membuat teman-teman seangkatannya makin naksir dengan kakak kelas mereka itu. "Gausah deng, Mas Ganjar, ntar adikel makin klepek-klepek "
Ia sudah lelah diwawancarai oleh teman-temannya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai Ganjar.
"Tambah ngguanteng yo aku nek peci-an? " Ganjar nyengir, alisnya bergerak naik-turun. Ia menepuk lengan Anies, " Kapan-kapan ya"
Anies mengusap bagian yang ditepuk oleh Ganjar seolah-olah terasa sakit (tidak sakit sama sekali). Ia melirik ke arah televisi. Tidak memperhatikan apa yang sedang ditonton Ganjar sejak tadi, Anies mengangkat sebelah alisnya. "Kartun?"
"Yep," Ujar Ganjar, matanya masih melekat pada layar kaca.
Memperbaiki posturnya agar ia lebih nyaman duduk, Anies ikut menyimak kartun itu.
Kartun tentang superhero dimana dua karakter utamanya merupakan partner, itu yang Anies tangkap. Tampaknya episode yang mereka sedang tonton merupakan season finale.
" 'Aku dan kamu melawan dunia' ," kata Ganjar, mengutip perkataan si superhero dari kartun itu. Ia menoleh ke Anies, "Keren ga si, Nies?"
Anies memikirkannya, "Menurutmu ngga norak, mas?"
"Menurutmu norak?" tanya Ganjar balik.
"Ngga sih"
"Menurutku keren," Musik melantun dari televisi, diiringi munculnya nama-nama yang bekerja dibalik layar. "Partner yang selalu punya satu sama lain, meski dunia melawan mereka"
Anies menggumam mendengarnya. Mendengar Ganjar mengutarakannya seperti itu membuat ia ikut merasa bahwa kata-kata itu memang keren.
"Kayak Soekarno-Hatta, mungkin?" Ganjar meringis, lalu menambahkan, "atau kayak kamu sama aku? Partner"
Anies terkekeh, "Emang kita partner? Partner apa?"
Mendengar perkataan Anies, Ganjar menaruh tangannya di dada dan menghembuskan nafas dengan dramatis, "Oh gitu, Nies, kukira hubungan kita spesial. Kita udah partner, ntar officialnya di SMA!"
"Iyaa, Mas," Jawab Anies santai.
Ganjar mendecak, "Ekspresimu ga ada srius-sriuse, janji lho!" Ganjar lalu mengangkat jari kelingkingnya.
Anies menahan tawa melihat hal tersebut, ditambah dengan muka Ganjar yang dibuat seolah ia mengancam, namun gagal total, "Iya ini srius, Mas, jadi partner Ketua-Wakil Ketua OSIS kan?"
"Iya," Jari kelingking Ganjar masih mengambang. "Iniiii jariku udah nungguin"
"Harus banget pake janji kelingking?"
"Ya harus lah"
Anies menggelengkan kepalanya, namun ia tetap mengangkat kelingkingnya, menyegel janji mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
10.07
Nies, liat
*foto
Waduh, udah rame aja temen cewenya, mas
Itu lho cowonya juga banyak, Nies
Haha
Aku dibilang mirip Gojo katanya, Nies
Cepet nyusul ya, Nies
Iya-iya, mas, tungguin ya
Kalo Mas Ganjar Gojo, aku siapa?
Geto?
Wduh
Jangan jadi musuhku Nies
😂
Gaakan mas
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
15.37
*foto
Lagi daftar OSIS, Nies
Daftar Ketua, Mas?
Ngga, nungguin kamu kesini dulu
Loh
Gausah nungguin gapapa, Mas
Pengen nunggu gaboleh?
Boleh sih
Yaudah
...
Serah kamu deh Mas
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
08.57
Wali kelasku kangen kamu katanya, Mas
Wkwkwk
Titip salam, Nies
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
12.02
UAS susah, Nies
Namanya juga SMA favorit, Mas
Iyo jan
Mana pengawasnya killer lagi
Aku dipelototin terus
Padahal ya aku ndak ngapa-ngapain
Hahah pasti keringet dingin ya mas
Semangat mas
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
13.32
Aku mlebu BK, Nies
Loh
Kok bisa!?
Kenapa, Mas!??
Ada kakel nyebelin
Tak tonjok mukanya
Jangan pake kekerasan dong, Mas
Ga bisa diomongin dia, Nies
Udah nyoba
Mas Ganjar ga luka, kan?
Lecet dikit doang
Mas
Srius
Diobatin dulu sana!
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
10.38
Nyebelin sumpah, Nies
Pengin tak tonjok lagi
Tapi ntar aku kena poin lagi
Duh mas
Yang sabar
Sabar banget, Nies
Sabarrrr banget
Seandainya aku bisa gulat kek kamu
Ntar liburan kuajarin deh
Tapi jangan buat nyeruduk orang lain lho, Mas
Nyeruduk bel gapapa
😑
Diungkit mulu, Nies
Hehe
Nanti juga dia bosen, Mas
Semoga
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
19.26
Nies!??
Ini dari kamu??
*foto
Ya nama pengirimnya siapa Mas
Selamat ulang tahun yaa
Nies 😢
NIESSS AKU LHO DAH NGOMONG GA USAH NGADO
Tapi kan kita dari dulu rutin ngado satu sama lain, Mas
Masa tiba-tiba berenti
..yaudah
Siap-siap kamu ntar kukasih kado juga
Itu ancaman? 😂
Iya
Ancaman
Ngeri
Vidcall dong, Mas
Gas unboxing kado
Video Call mendatang..
Video Call dimatikan (3j 26m)
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
10.38
Akhirnya purna dari OSIS, Mas
Kasian
Lho kok kasian?
Kasian adikel kehilangan kakel kek kamu
yailah Mas Ganjar kirain
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
03.12
MU kalah, Nies...😣
05.34
Mungkin sudah saatnya ngefans klub baru
😃
~~~
PESAN BARU DARI : Mas Ganjar
01.45
Nies
Yes?
Astaghfirullah jam 1 pagi kok masih bangun
...Mas Ganjar juga masih bangun
Beda kalo aku
Ya deh, Mas
Kok Mas Ganjar masih bangun?
Hmm
Ga iso tidur, Nies
Kenapa, Mas?
dilihat
02.01
...
Mas Ganjar ketiduran kah?
Mas ada masalah?
dilihat
02.05
Panggilan mendatang...
Panggilan diterima
Panggilan dimatikan
Mas?
gapapa, Nies, kepencet
Kalo ada apa-apa cerita aja, Mas
Aku ga keberatan
Gada apa-apa kok 😁
..oke
Tapi beneran kalo ada apa-apa cerita ya?
Iyaa
.
.
.
.
.
Aneh rasanya, mengingat seseorang yang dulunya hampir setiap hari mengobrol denganmu tiba-tiba menghilang.
Sejak saat itu, Ganjar tak pernah mengirim pesan padanya lagi.
.
.
.
.
.
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
16. 01
*foto
Mas, mending kemeja yg ini apa yg ini
16.17
Mas?
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
16. 53
*foto
Mas, nemu buku bagus
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
05.02
Mas Ganjar, MU menang tuh
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
12.13
Mas Ganjar ganti nomor kah?
12.57
Aku tanya temennya Mas katanya ngga ganti
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
23.33
Mas, aku ada salah?
Mas Ganjar ngga kenapa-napa kan?
Mas sakit kah?
Jawab dong, Mas
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
17.21
Aku tanya ke orang tua Mas Ganjar katanya Mas baik-baik saja
Dan nomor Mas aktif
...
Mas ngehindarin aku?
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
15.38
Mas, aku udah daftar SMA
~~~
MENGIRIM PESAN : Mas Ganjar
21.03
Besok libur, Mas
Mas Ganjar pulang?
Aku mau ketemu apa boleh?
.
.
.
.
.
.
Nyatanya, liburan ia lalui tanpa adanya pertemuan antara dirinya dan Ganjar. Tiap ia pergi ke rumah Ganjar, keluarganya selalu mengatakan bahwa yang dicari tak ada di rumah.
Sesuatu yang ia tahu adalah kebohongan karna ia sering melihat Ganjar masuk rumah.
Namun, Anies tetap membalikkan badannya dan tak memaksa masuk. Meskipun ia merasa sedih—sangat sedih, ia mencoba untuk tetap menghargai keputusan Ganjar yang menolak untuk menemuinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terasa berlangsung sangat lama, liburan kenaikan kelas telah selesai.
Anies melangkah melewati gerbang yang tinggi itu. Ia melihat sekitar, mengamati wajah-wajah yang tidak familiar berlalu lalang. Ekspresi mereka bahagia karna akhirnya berhasil menjadi siswa baru di salah satu SMA favorit di daerah mereka. Seharusnya ia juga demikian, tapi Anies hanya celingak-celinguk mencari sesuatu.
(Mencari sekelebat surai putih yang tak kunjung terlihat)
Suara keras terdengar dari speaker, memanggil perhatian para siswa. Seluruh siswa baru diminta untuk masuk ke Aula karena Masa Orientasi Siswa akan segera dimulai.
"Baris yang rapi, de!" teriak salah seorang siswa yang mengenakan jas—sepertinya anak OSIS. "Cowo baris di depan!"
Anies memindai wajah para siswa berjas itu dengan harapan menemukan wajah yang familiar. Bukankah dia anggota OSIS dan seharusnya ikut menjadi pemandu mereka?
Ia menghela napas panjang. Dimanakah Ganjar?
Matanya terarah ke lantai, sama sekali tak memperhatikan seorang pengurus OSIS yang sedang memberikan sambutan. Apakah jangan-jangan Ganjar pindah sekolah?
Sebegitunya ia ingin menghindari dirinya?
.
.
.
.
.
.
Hari pertama masa orientasi sekolah sejauh ini berlalu dengan tidak begitu buruk. Susunan acara yang diadakan lumayan menarik dan ia berhasil berkenalan dengan beberapa anak di kelasnya.
Namun, yang ada di pikirannya hanya mencari keberadaan Ganjar.
Dan disinilah ia, menanyakan tentang Ganjar ke salah satu pengurus OSIS yang bertugas menjaga kelasnya.
"Ganjar yang rambutnya putih?" Anies mengangguk," Oh tentu saja, siapa lagi? ..Hanya satu anak yang bernama Ganjar dan berambut putih di sekolah ini"
"Kakak kenal dengannya?"
"Yah, ia dulu juga pengurus OSIS, kita sempat bekerja bersama"
Dulu? Ganjar keluar dari OSIS?
"Bolehkah saya minta tolong kakak mengantar saya bertemu dengannya?" Pinta Anies. Mungkin nada suaranya terdengar terlalu berharap, sehingga membuat kakak kelas pengurus OSIS itu menaikkan salah satu alisnya.
Ia menghela napas, lalu berbalik, "Ayo ikuti aku"
Anies dengan sigap mengikutinya.
Mereka berjalan ke area kelas 11 berkumpul. Anak-anak disana menghiraukan keberadaan Anies dan tidak menatapnya sama sekali.
Anies terlalu sibuk memperhatikan sekitar sampai tak sadar pengantarnya berhenti. Ia baru saja akan bertanya kenapa ketika-
"Ah, Ganjar! Baru aku mau masuk kelasmu?"
Anies tak pernah menoleh secepat itu selama 15 tahun ia hidup di dunia. Figur di depan mereka itu memakai jaket varsity hijau, dengan rambut putih yang membuatnya gampang ditemukan di keramaian.
Anies menatap wajahnya. Menyocokkan wajah itu dengan yang ada di memorinya. Dan memang tak salah lagi, itu Ganjar.
Namun, ada beberapa hal yang menarik perhatiannya. Contohnya, pipi Ganjar yang tertutup sebuah kapas dan hansaplast—yang terlihat masih baru, kantong mata yang mengindikasikan bahwa ia tidak beristirahat dengan baik, dan ekspresinya yang terlihat lelah.
"Ada apa?"
Kakak pengurus OSIS menunjuk padanya,"Ada anak baru yang mencarimu"
Barulah saat itu Ganjar menyadari keberadaan Anies. Ia menyadari saat Ganjar menatapnya, mengedipkan mata, lalu menatapnya lagi, bahwa ia mungkin tak menyangka akan bertemu Anies hari ini.
Ia juga menyadari emosi yang melintas di mata Ganjar. Senang, sedih, takut? Kenapa Ganjar takut padanya? Apa ia salah lihat? Sampai akhirnya emosi di mata Ganjar berubah menjadi dingin. Ia menatap tajam dirinya. Ekspresi yang tak pernah ia berikan kepada Anies dan membuat bulu kuduknya sedikit berdiri.
"Mas Ga-"
"Siapa ini?" Potong Ganjar dengan ketus.
Anies tak melanjutkan perkataannya, terlalu terkejut dengan nada bicara Ganjar yang ketus.
"Entah," jawab kakak pengurus OSIS. "Memintaku mengantarnya padamu, kukira kau kenal?"
"Tidak," jawab Ganjar. Ia menatap Anies lagi. Masih dingin. "Aku tidak kenal"
Kakak pengurus OSIS lalu mengangkat bahunya. Melihat bahwa mereka berdua tidak melanjutkan pembicaraan, Ganjar memutar badannya dan melangkah pergi.
Meninggalkan Anies yang masih membeku di tempat.
"Ayo, de, balik ke kelas," ujar kakak kelas yang mengantarnya itu. Anies hanya diam, mengikuti kakak kelasnya sambil menatap kakinya yang melangkah secara otomatis.
Apa yang terjadi padamu, Ganjar?
.
.
.
.
.
.
"Aku juga tak tahu detailnya bagaimana," kata kakak pengurus OSIS saat perjalanan mereka kembali ke kelas. "Intinya dia ada masalah, lalu dikeluarkan dari OSIS"
Anies merengut. Dikeluarkan, bukan keluar.
.
.
.
.
.
.
Ia menolak untuk mempercayai bahwa Ganjar menjadi seseorang yang seperti diceritakan kakak-kakak kelas yang ia tanyai. Seorang anak yang suka berkelahi, melanggar aturan sekolah, penyendiri, dan sudah menumpuk poin pelanggaran melebihi 50.
Sejak hari pertama masa orientasi sekolah itu, Anies berusaha menyelidiki apa yang terjadi pada Ganjar. Ia mengakrabkan diri dengan banyak kakak kelas, terutama pengurus OSIS. Cerita-cerita yang didengarnya hanya membuatnya tambah bertanya-tanya.
Kakak-kakak kelas malah jadi menyukai dirinya. Ia dianggap sopan, pandai berkomunikasi, dan seorang yang cemerlang. Ia juga disegani oleh guru-guru karna keaktifannya di kelas.
Itulah bagaimana formulir pendaftaran Ketua OSIS berakhir di tangannya padahal ia masih kelas 10.
Anies memikirkannya. Sesungguhnya, ia belum ingin menjadi ketua OSIS. Terutama karena seseorang yang berjanji menjadi partnernya kini mengabaikannya seolah mereka tak pernah mengenali satu sama lain.
Pada akhirnya, Anies memutuskan untuk mendaftar. Keputusan itu ia ambil setelah sadar bahwa mungkin dengan menjadi Ketua OSIS penyelidikannya terhadap masalah yang menimpa Ganjar bisa dilakukan lebih jauh lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Anak itu masih sama. Surai ikalnya, tahi lalat di bawah bibirnya, tatapannya yang sangat percaya diri setiap ia diminta untuk berbicara di depan publik.
Visi misinya bagus. Program kerjanya menakjubkan. Jauh jika dibandingkan dengan yang lain padahal ia hanya kelas 10. Ganjar tak terkejut. Memang anak itu sangatlah pintar.
Ganjar melangkah keluar dari barisan kelasnya, menggumamkan alasan kalau ia "ingin ke kamar kecil" ke arah ketua kelas. Ia tak sepenuhnya bohong.
Namun, sebenarnya ia hanya tak ingin melihat Anies berorasi. Hal itu hanya mengingatkannya kepada janji mereka dulu.
Ia tak bisa menjadi partner Anies. Ia hanya akan menyeretnya turun bersamanya.
.
.
.
.
.
.
"Memangnya siapa kau?," Kakak kelas bedebah itu menatapnya penuh kebencian.
Ganjar tak gentar sama sekali dan tetap berdiri di tempatnya, " Tidak boleh merokok di area sekolah, apalagi seorang pengurus OSIS"
Itu bukan kali pertama ia bertengkar dengan kakak kelas kurang ajar itu. Seorang pengurus OSIS yang kelakuannya lebih mirip preman. Selama ini, pertengkaran mereka selalu terjadi di depan banyak mata orang lain. Namun, kali ini, mereka sendirian di area belakang sekolah.
Mungkin itulah kenapa si kurang ajar itu terlihat lebih berani dari biasanya.
Ganjar tak bisa melupakan momen saat pipinya dipukul dengan sangat keras.
.
.
.
.
.
.
Ganjar melawan balik. Ia berhasil melayangkan beberapa pukulan balasan ke wajah sialan itu. Tapi hal tersebut justru menjadi sesuatu yang menjerumuskannya ke nasib buruk.
"Kenapa harus memulai perkelahian, Ganjar?" Guru BK yang tadi memarahi mereka berdua menatapnya tajam. Ia langsung percaya apa yang dikatakan bedebah sialan kurang ajar itu tanpa bertanya sisi ceritanya dulu. Ia bisa melihat sudut mulut si bajingan sedikit bergerak ke atas.
"Bu, saya bukan-"
"Sudah, tak usah cari alasan," potong si guru. "30 poin untukmu, Ganjar, dan saya akan membuatkan surat untuk dikirim ke orang tuamu"
Ganjar hanya bisa diam dan mengepalkan tangannya erat-erat saat si guru memberikan 15 poin ke anak itu padahal di buku pelanggaran tertulis semua yang berkelahi mendapat 30 poin.
.
.
.
.
.
.
.
Ternyata, ia memang meremehkan apa yang bisa dilakukan anak itu. Bukan hanya memiliki kuasa atas beberapa guru. Ia juga berhasil membuat anak-anak lain menjauhinya, bahkan, mengeluarkannya dari OSIS. Uang adalah senjata yang mengerikan.
Malam itu, ia menatap langit-langit kamar kosnya. Rasa kantuk tak kunjung datang ke dirinya. Ia justru berdebat dengan diri sendiri. Apakah ia perlu memberitahu Anies tentang ini?
Menatap pesan Anies yang sangat pengertian terhadap dirinya. Ia memutuskan bahwa tidak.
Tidak perlu.
Ia tak akan melibatkan Anies ke semua ini. Ia akan melindungi Anies. Mencegahnya terseret ke masalahnya.
.
.
.
.
.
.
Ganjar berjalan menyusuri koridor, tas di satu bahu. Sekolah sudah sepi. Tanpa disengaja ia ketiduran selama kurang lebih setengah jam setelah shalat ashar di masjid.
Ia melirik ke mading yang bertengger di dinding. Sebuah artikel besar bertuliskan 'Anies Baswedan, Seorang Anak Kelas 10 yang brilian, Resmi Jadi Ketua OSIS!' menatap balik dirinya.
Tak lama, telinganya seperti mendengar sesuatu. Ia mengangkat alisnya, melihat sekitar. Suasana yang sepi membuat telinganya menjadi lebih mudah untuk menangkap setiap suara.
Ia kembali berjalan, kini lebih hati-hati, menuju tempat yang ia kira menjadi sumber suara itu berasal.
Di koridor gelap yang dekat dengan tangga menuju lantai dua, seorang anak—sepertinya kelas 10, sedang dipukuli oleh beberapa anak.
"Cepat minta maaf"
Ganjar terkesiap karna ia mengenali suara itu. Benar saja, ia mengintip dari balik tembok dan mendapati si kakak kelas bedebah menjadi pihak yang memukuli. Anak yang dipukuli memberontak tapi tak bisa melepaskan tangannya yang dipegang oleh dua anak lainnya. Ganjar kembali menarik kepalanya, takut ia akan ketahuan.
"Ngga mau"
Suara pukulan lagi.
Rasa kebencian yang sudah lama ia kubur mulai muncul kembali. Suara-suara itu membuatnya mengingat momen itu lagi. Anak itu mengingatkannya pada dirinya.
Namun, Ganjar tak tahu apakah ia harus menolong anak itu atau tidak. Menolongnya hanya akan membuatnya kembali menjadi target. Dan sesungguhnya, Ganjar sudah lelah. Beberapa bulan ini, ia berhasil menghindari masalah. Hanya beberapa bulan lagi sampai ia lulus dan Ganjar akan bebas. Ia bisa kembali ke Anies. Lalu, menjelaskan segalanya. Meminta maaf.
Mereka bisa kembali jadi teman.
"Kakak akan saya laporkan ke Anies"
Mendengar nama yang sejak tadi ia sebut di pikirannya disebut oleh anak itu, mata Ganjar langsung membesar.
"Siapa?" Suaranya terdengar seperti ia memang bingung dan tak mengenali nama itu," Oh! Ketua OSIS yang baru itu?"
"Anies bakal ngeluarin kakak dari sekolah," ujar si anak kelas 10 dengan sangat yakin.
Perkataan itu dibalas dengan tawa keras,"Ngeluarin? Ketua OSIS kelas 10 itu???"
Tangan Ganjar mengepal.
"Dia mah cuma omdo. Aku yakin segala hal yang ia katakan di orasinya itu karangan belaka. Dia lebih cocok jadi penulis fiksi, ya? Anak kelas 10 seperti dia tapi sok-sokan mengatakan hal-hal besar. Aku yakin dia langsung kicep kalau bertemu denganku. Ke depannya, mungkin bisa kukasih pelajaran. Oh ya, siapa namanya tadi? Peni-"
Ganjar tak pernah melayangkan pukulan ke seseorang secepat dan sekeras momen itu selama 16 tahun ia hidup di dunia.
.
.
.
.
.
.
Anies sedang di tengah-tengah rapat ketika salah satu anggotanya mengatakan bahwa ada yang berkelahi. Ia berjalan ke tempat kejadian, tak menyangka akan menemukan seseorang yang ia kenal.
Ia langsung mempercepat langkahnya—hampir berlari—saat melihat Ganjar. Ekspresinya khawatir, meski mereka sudah sangat lama tak mengobrol, "Kak Ganjar? Ada apa sebenarnya?"
Anies melihat ke tiga orang yang lebam di wajah seperti Ganjar dan sedang ditopang anggotanya, "Hey ketos," ujar salah satunya,"Dia yang tiba-tiba mukul kita"
"Bawa mereka ke UKS," perintah Anies ke anggotanya. Mereka mengangguk.
Anies menatap Ganjar, pertanyaan bisu di matanya. Yang ditatap malah mengalihkan pandangannya, memilih bahwa lantai lebih enak untuk ditatap.
"Anies! Ga gitu!" Kata anak lainnya yang bersama merak, sepertinya seorang kelas 10 juga. "Kak Ganjar cuma nolongin aku"
"Oh?"
"Kakak yang pingsan itu suka gangguin aku sama temen-temennya, Kak Ganjar kebetulan lewat terus nolongin aku," Jelasnya.
Anies memproses apa yang dikatakan anak itu. Ia lalu mengangguk dan mengangkat tangan Ganjar ke bahunya. "Aku tolong Kak Ganjar ke UKS, kau bisa jalan sendiri?"
Ganjar diam, tak punya tenaga mengangkat tangannya dari Anies.
Anak kelas 10 itu menggelengkan kepalanya, "Aku pulang saja, Nies, kuobati di rumah"
"Kamu bisa? Diobati dulu sa-"
"Bisa, Nies, aku cuma minta tolong kamu biar hukum kakak kelas itu"
Anies menatapnya dengan yakin, "Serahkan saja padaku"
.
.
.
.
.
.
.
Anies menopangnya menuju UKS perempuan, agar menghindari satu ruangan dengan kakak-kakak kelas yang berkelahi dengan Ganjar. Jika situasi normal memang tidak seharusnya seperti itu, tapi toh, ini sudah hampir setengah 4 dan sepertinya tak banyak siswa yang tersisa di sekolah.
Anies mendudukkan Ganjar di sebuah kursi lalu bergegas mengambil kotak pertolomgan pertama, "Itu anak yang bermasalah denganmu?"
Ganjar terkekeh, padahal tak ada yang lucu. "Ternyata kau sudah tau"
"Kenapa tak bilang padaku?" Tanya Anies, ia lalu menggumamkan sesuatu yang masih terdengar oleh Ganjar,"Malah menghindar..."
Ganjar memerhatikan Anies yang membuka kotak pertolongan pertama. Ia diam, membiarkan Anies merawat luka-lukanya.
"Aku tak ingin melibatkanmu"
Pengakuan Ganjar malah sedikit melukai perasaan Anies."Bukankah kita teman? Partner? Kayak Soekarno-Hatta? Tapi kau tak memercayaiku untuk memberitahu semua ini?" Ia secara tidak sengaja menempelkan kapas terlalu keras dan membuat Ganjar mendesis.
"Aku tak ingin menyeretmu ke masalahku.."
Anies menatap tajam Ganjar, dan untuk pertama kalinya, Ganjar merasa takut akan tatapan Anies.
Setelah semua luka Ganjar diobati, Anies bangun dengan tatapan penuh tekad yang membuat Ganjar langsung sadar apa yang akan dilakukannya.
"Jangan, Nies"
Tapi tentu saja, Anies—yang melaporkan seorang kakak kelas saat mereka pertama kali bertemu, tak peduli akan koneksi—tak akan berhenti hanya karna ia diminta.
Tangan memegang gagang pintu, Anies melempar senyum halus ke Ganjar. Ia membuka mulutnya dan mengatakan,"Tenang saja, Mas" lalu menghilang di balik pintu.
~~~
@menfess.smaxx
[BREAKING NEWS] xxxx akhirnya dikeluarkan dari sekolah, guys!
WAR IS OVER!!!
gila, akhirnya
Katanya Ketua OSIS yang baru yang ngurus?
WKWK BENTAR LAGI LULUS MALAH DIKELUARIN, MAMPOS
Baru dilantik udah bisa ngluarin anak problematik, mantap betul
Bjir ni anak kelas 10 tapi ga ada takut-takutnya
Anies emang luar biasa, ga sia-sia aku nyoblos dia
.
.
.
.
.
.
.
.
Ganjar menatap handphonenya dengan tidak percaya. Lirikan matanya memindai kata per kata dengan berulang-ulang.
"Bagaimana bisa?" Tanyanya, kepada Anies. Karna memang, bagaimana bisa?
Anies tersenyum, seolah itu bukan hal yang aneh, bukan sesuatu yang harus ia tanyakan."Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti , Mas Ganjar," ujar Anies, "Segala angkara murka, akan kalah oleh kebaikan"
Ganjar diam, memproses. Ia akhirnyasadar bahwa segalanya telah berakhir, lalu tertawa.
Tawa bebas yang lama tak ia keluarkan, tangannya tanpa disadari bergerak untuk mengacak-acak surai ikal Anies—ah! Sudah lama juga ia tak melakukan itu. "Kau kadang terlalu puitis, Nies, heroik juga"
Anies berusaha merapikan rambutnya. Ekspresinya sangat bahagia karna melihat Ganjar kembali seperti dulu. Seperti Ganjar yang ia kenal. Tak bisa dipungkiri, ia juga sedikit merasa jumawa, "Seandainya Mas Ganjar minta tolong ke aku, bakal selesai sejak dulu"
Ganjar menyentil ringan dahi Anies, "Sok banget kamu, Nies"
"Ya karna Mas Ganjar kita jadi gagal jadi partner lagi, padahal mas yang ngotot banget, " ujar Anies sambil mengusap dahinya.
Kini Ganjar menghela napas, mungkin ia memang harus berhenti menghadapi segala masalah sendirian, "Iya-iya deh salahku.."
"Tak apa, Mas," Anies menepuk bahunya. "Masih banyak kesempatan lain buat kita jadi partner"
"Partner apa? Calon Presiden-Wakil Presiden?" Canda Ganjar.
Keduanya melirik satu sama lain lalu tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
Dahi Anies merengut. Tangannya meraba-raba seluruh sisi kotak yang dibalut kertas kado dengan rapi—tidak terlalu sih, kelihatannya seperti dibungkus dengan buru-buru—itu. Ia menatap Ganjar yang berdiri di depannya dan memiliki senyum sangat lebar di wajahnya.
"Apa ini?"
Cengiran Ganjar tambah lebar, ia kira itu mustahil, "Hadiahmu, selamat ulang tahun"
Perkataan Ganjar hanya membuat Anies tambah bingung, "Ulang tahunku sudah lewat lama..?"
"Justru itu!" Ekspresi Ganjar berubah jadi lebih serius, "Aku gagal kasih kado di ultahmu, padahal sudah janji"
Mendengar itu, Anies akhirnya mengingat percakapan teks mereka. Ia tertawa, "Ah, yang waktu kamu ngancem aku"
Ganjar menjentikkan jarinya, "Nah! Iya yang itu!"
Anies menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mas Ganjar, Mas Ganjar"
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu berlalu, mereka masuk ke universitas yang sama. Lewat perjalanan yang sangat berbeda, mereka sama-sama berakhir di politik—dan kini, berada di posisi yang sama.
Calon Presiden.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin Ganjar bisa membaca masa depan secara tidak sengaja, pikir Anies sembari mengingat percakapan mereka di SMA.
Ia sendiri tak mengerti bagaimana mereka berdua secara bersamaan menjadi Calon Presiden. Yah, meski tak sepenuhnya seperti candaan Ganjar, soalnya mereka bukan partner.
Para reporter bergerak bersamaan untuk mengerubunginya sesaat setelah ia turun dari mobil. Anies melempar senyum ke puluhan kamera dengan cahayanya yang serasa membuat buta. Di sisinya, Muhaimin melambai menyapa mereka.
Seusai menjawab beberapa pertanyaan, Anies reflek tersenyum saat melihat sekelebat surai putih dari kejauhan.
Beberapa tahun sudah berlalu, tapi senyuman Ganjar tak pernah berubah.
Sejak pertemuan mereka di perpustakaan itu. Saat ia pertama kali menawarkan buku yang sedang dibacanya untuk Anies yang bukunya direbut. Senyum lebar yang membuat matanya sedikit menyipit itu—yang sempat berhenti ia berikan kepada Anies selama periode waktu itu di SMA— sampai sekarang tak berubah.
Meski beberapa minggu lalu mereka berdiri sebagai lawan. Meski mereka sudah lama tak berkomunikasi karena kepentingan kampanye masing-masing.
Ganjar tetap memberikan senyuman yang khas itu padanya. Senyum yang menular, karena dirinya selalu tanpa sadar ikut tersenyum. Jikalau segalanya yang menular disebabkan oleh virus, maka ia tak keberatan terkena virus yang ini.
Mereka berjabat tangan. Sedikit lebih lama dari jabat tangan biasa.
"Gimana, Mas Ganjar?" Anies menatap kawan lamanya. "Deg-degan mau masuk bangunan MK?"
"Mas Anies, Mas Anies," Ganjar menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kenapa deg-degan? Bukannya 'segala angkara murka, akan kalah oleh kebaikan?'"
Ganjar lalu memberinya senyum halus, dan berkata dengan lebih serius; "Lagipula, kali ini kita akhirnya kembali jadi partner"
Mata Anies membesar bersama ia memproses kata-kata Ganjar. Benar juga, kali ini mereka berdua kembali berada di sisi yang sama.
"Benar juga," Ulangnya, kali ini ke Ganjar.
Kata itu—partner—selalu membuat sebuah memori lama akan mereka yang duduk berdua di depan televisi muncul sekilas di kepalanya.
Mungkin karna situasinya sesuai, Anies meringis, lalu menambahkan, "'Aku dan kamu melawan dunia?' "
Ganjar menyipitkan matanya, untuk sesaat, berusaha memahami perkataan Anies. Begitu paham, ia tertawa. "Di saat seperti ini kau mengutip kartun?"
Anies ikut terkekeh, "Lho kenapa? Kan katanya kita partner? Menurutmu norak?"
Tawa Ganjar perlahan mulai berhenti. "Ngga, menurutku keren"
Menutup pembicaraan mereka, kedua Calon Presiden itu melangkah berdampingan memasuki gedung Mahkamah Konstitusi. Kali ini—kurang lebih–sebagai partner.
Partner yang berdiri bersama satu sama lain meski dunia tak berpihak kepada mereka.
(Dan mungkin, di universe ini, mereka menang dan putusan MK mengabulkan gugatan mereka)
