Work Text:
Kita cukup jauh.
Hingga pada setiap saat waktu istirahat dimulai, menjadi suatu pengecualian.
Ia mengerti kadang kala akan keinginan ku untuk tidak membuka masker. Meski dirinya cukup penasaran dengan wajahku.
Diam-diam memperhatikan, bilang saja ingin lihat.
Namun sepertinya ujian akhir membuat kami semakin lebih dekat dari biasanya.
Urutan absen membuat kami berdua duduk bersampingan.
Hal itu juga dapat membantu kami melakukan kegiatan menukar informasi (nyontek).
Ujian akhir.
Belajar atau tidak, aku akan tetap masuk.
Hanya untuk melihatnya..
Satu dua hari, kegiatan ujian berlangsung sangat biasa. Pelajaran-pelajaran yang berlalu, kukatakan sangat susah..yang mudah hanyalah bagian membaca soal dan jawabannya dengan bahasa Indonesia.
Ku isi identitasku, namun cara mengisinya mengacak setiap pelajaran. Karena diriku gampang bosan.
'Tanggal lahir..nomer peserta...terus..mata pelajaran.'
Satu persatu ku isi bulatan-bulatan kecil tersebut dengan abu pensil yang ku pinjam dari murid sekelas, dengan sabar.
Dan yang terakhir..
'I'
'K, A, D, E, K, C..'
Sret..Sret..
Handika menandatangani tanda tangannya di atas kertas yang berisi kolom-kolom berbagai jenis itu.
'betul juga, blum tanda tangan.'
Soal pertama,
...
Adalah soal cerita.
Setelah kejadian itu aku mulai bosan sebosan bosannya.
Hingga pada akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengerjakan nya. Hanya dengan nalar dan logika, semoga apa yang ku isi betul-betul benar.
Mungkin..
Handika menoleh, menyadari tatapan sekilas ku.
Tersenyum hangat..dibawah maskernya.
Meski khawatir akan keberadaan dua pengawas ujian, ia pelan-pelan mengisyaratkan.. pertanyaan nomer berapa yang ku butuhkan?
(Semuanya! Satu Minggu kegiatan ini juga boleh
灬º‿º灬)
Aku perlahan mengangkat tanganku, memutar-mutar jari.
Alunan mata Handika menjemput ku kembali dengan ikatan ikatan jari nya yang membentuk sebuah rumah.
'A.. oh iya, baru kepikiran,'
'hadiah apa buatnya nanti atas dasar terima kasih ku padanya?'
Setelah melewati berbagai ujian yang intens (karena tempat dudukku jadi area transit kertas jawaban), justru di hari-hari yang biasa kujalani, diriku terus-terusan berpikiran akan hadiah itu.
'Apa yang ia suka? Top up game? Atau pulpen Joyko sepuluh pak?'
Pada akhirnya aku memberanikan diri.
Sebelum kertas ujian diambil, aku kembali menatapnya. Setiap jam istirahat, sudah menjadi tradisi bila kita satu geng berkomunikasi mengenai.....apa saja.
Namun, aku hanya ingin berdua, berbicara empat mata dengannya.
Handika mengangguk, menjawab ku dengan matanya yang sayu itu.
"Kenapa kita harus ngomong berdua ya, dek?" Tanya Handika, kakinya membuat lantunan suara pada lantai keramik dibawahnya.
Aku menjawab,
"Hal sepele. Emang ga boleh?"
"Bukan.." Ia melanjutkan, "kaget aja.."
Aku mengawas sekali lagi kondisi dan situasi ruangan ujian dengan was-was. Nyatanya, ada saatnya tempat ini hampa dan hanya menyisakan kami.
Deg.
"Sebutin permintaan lo, ini buat tanda terima kasih ke gue untuk lo dik. Karena...
Karena udah mau bareng sama gue di tiap ujian."
Apa saja boleh. Ingin 271T? Ingin ini itu? Atau ingin lihat wajahku?
Apa saja. Asalkan engkau menerima permintaanku.
Setelah penantian panjang, Handika tak tahan menahan gurauannya.
Kemudian duduk mendekati ku.
"Ngga usah sok deep gitu deh, yang lain juga nyontek kok. Lagian gue juga dapet dari sebelah. Haha.."
"Haha.."
Tapi, aku merasa...
Untuk terakhir kalinya, terimalah permintaan ku seperti dirimu yang selalu rela setiap mendapatkan batagor bekas dariku.
Jangan mempermainkan perasaan ku, dasar jahil.
"Gak apa-apa. Tolong sebutin apa aja, lo temen yang baik buat gue."
Mendengar ini, wajah Handika yang kian menghibur, lama kelamaan menjadi serius.
Benar-benar ruangan yang hampa tanpa-nya.
Namun itu terbantahkan ketika tanganku diraih oleh dia.
"Dek.."
Deg.
Apa-apaan ini??
Kenapa aku merasa rela untuknya? Sesuatu, aneh, demikian, menggelitiki daging jantungku.
Bila ia meminta untuk melepas masker suci ku ini, sebuah warna tomat cerah akan terpantul di pigmen penglihatan nya. Tapi kenapa aku merasa rela? Kenapa? Seorang I Kadek?
"Gue ga perlu apapun dari elo.. cukup lo bahagia, senyum terus. Ga menyendiri.
Dan juga gue mau lo nyontek ke gue aja."
Ia melanjutkan sekali lagi, "Maaf. Egois ya?"
Pingin pingsan di tempat.
Ac nya kenapa ga dingin ya?
