Work Text:
Menurutmu, apa bagian paling menyakitkan dari kematian orang yang kita kenal? Kalau menurutku, itu adalah saat waktu bukan hanya perlahan menyembuhkan luka di hati, tetapi sekaligus menghapus ingatan tentang orang itu. Perlahan, kita akan dibuat lupa bagaimana suaranya, aroma tubuhnya, maupun wajahnya. Momen-momen indah yang kita bagi bersamanya pun akan semakin kabur. Kita tidak akan bisa lagi mengingat detail percakapan soal bunga di pinggir jalan pada hari itu. Sekeras apapun kita berteriak pada dunia kita mencintai orang itu, otak manusia tidak akan bisa menang melawan kekuatan mutlak sang waktu. Pada akhirnya, kita bahkan akan dibuat lupa siapa nama orang yang pernah kita cintai itu.
Menurutku, itulah saat paling menyakitkan dari ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh orang terkasih.
Ini terjadi kepada siapapun tanpa pandang bulu. Kepadaku ketika kakekku pergi, kepada anak pelayan rendahan ketika ibunya meninggal terjangkit penyakit, bahkan kepada seorang ratu yang memimpin suatu negeri. Tidak ada yang bisa melawan kemutlakkan ini.
***
Di ruangan luas yang mendapat pencahayaan alami dari mentari senja, aku duduk di tengahnya sambil menulis catatan pribadi. Mencurahkan rangkaian kalimat yang secara otomatis saling sambung-menyambung di kepalaku. Namun, sebuah suara tiba-tiba menginterupsi konsentrasiku.
“Haruka, aku mulai lupa bagaimana wajahnya.”
Sang ratu yang duduk di teras pinggir taman tiba-tiba berbicara, dengan volume suara kelewat pelan dan seolah akan hilang dibawa angin. Aku yang sedang menggoreskan kuas di atas kertas, lantas langsung berhenti untuk menanggapinya. “Apa Ratu ingin saya carikan orang yang bisa melukis berdasarkan deskripsi? Agar Anda senantiasa dapat selalu mengingat wajahnya?”
Ia terkekeh. “Tidak perlu. Apa kata orang-orang kalau ratu mereka kedapatan menyimpan lukisan pria asing?”
Di saat lidahnya mengucapkan kata “pria asing”, aku dapat menangkap dengan jelas kegetiran di dalam nadanya. Bagi sang ratu yang memutuskan untuk tidak menikah, “pria asing” itulah satu-satunya yang ingin ia nikahi.
Aku tidak lagi menanggapi ucapannya yang terakhir. Kuletakkan kuasku di wadahnya. Sambil bertopang dagu, aku memutuskan ikut memandangi langit jingga di depan seperti yang sang ratu lakukan.
Dahulu, tapi tidak dahulu sekali, aku pernah dengan gegabahnya mencoba menggapai orang yang kucintai. Aku mengorbankan nyawaku untuk mengabulkan keinginannya yang paling dalam. Kupertaruhkan segalanya agar ia bisa merasakan yang namanya kebebasan. Namun, bayaran dari itu semua adalah aku justru melihatnya jatuh cinta dengan orang lain. Bertahun-tahun kemudian, aku berubah melihatnya tenggelam dalam duka kematian orang yang dicintainya.
Benar-benar konyol, bukan?
Orang yang kucintai, tidak pernah sekali pun melirik ke arahku. Tangan yang aku ulurkan kepadanya, dibiarkan menggantung di udara. Semua waktu dan perhatian yang kuberikan, tampaknya hanya dianggapnya kasih sayang antar teman. Atau bahkan lebih buruk lagi, hanya angin lalu. Sisi lain diriku yang lebih egois terkadang muncul dan melontarkan pertanyaan padanya, “Apa kamu pikir ada seorang teman yang rela mempertaruhkan kepalanya untukmu?”
Sebenarnya, aku selalu bertanya-tanya. Di hari festival dulu, andai aku bisa membuang keraguan di hati dan berani berjalan di sampingnya, atau andai kakiku bisa lebih cepat mengejarnya dan berhasil menarik tangannya sebelum jatuh, kira-kira apa ia akan melihat ke arahku sekarang?
Di dunia seandainya itu, aku akan berhasil menggapai tangannya, lalu dengan terlalu kuat menariknya ke arahku. Aku akan ikut hilang keseimbangan dan jatuh dengan dirinya menimpaku. Kita akan sama-sama terjerembab di keramaian festival, persis seperti dua orang bodoh yang mempermalukan diri sendiri. Meski begitu, kita akan bangkit kembali dan bersama-sama menertawakan kecerobohan sendiri. Lalu, kita akan menikmati sisa festival hari itu hanya berdua. Tidak akan ada pertemuan dengan pria asing. Di hari lainnya pun, aku akan dengan senang hati sendirian memandunya berkeliling kota.
Kalau kejadiannya seperti itu, akankah kamu suatu hari nanti menyadari perasaanku? tanyaku berkali-kali di dalam kepala.
Karena ia tidak bertemu dengan pria asing, di dunia seandainya itu, aku bisa memastikan ia tidak perlu tenggelam dalam duka yang panjang. Ia juga tidak perlu merasakan bagian paling menyakitkan dari kepergian orang terkasih. Matanya yang cantik itu, tidak usahlah disambangi air mata. Karena sejatinya, hanya melihat sorot matanya mulai diisi kesedihan saja, hatiku ikut merasa sakit. Aku ingin menghiburnya, memeluknya, dan mengatakan hal-hal yang bisa membuatnya bersemangat. Sayangnya, kesedihan yang dibawa oleh pria asing adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa kusentuh. Aku berani berkata aku mengenalnya dengan kelewat baik, tetapi untuk satu bagian itu, itu adalah bagian yang hanya dirinya sendiri yang bisa memeluknya. Perasaan yang sepenuhnya miliknya. Sama seperti perasaanku padanya yang sepenuhnya milikku sendiri dan tidak bisa diganggu gugat orang lain.
Menyadari warna jingga mulai hilang ditelan gelap malam, mataku beralih memandang punggung sang ratu. Ia tetap diam bergeming di tempatnya. Rambutnya yang kian panjang hingga menyentuh lantai kayu sesekali berayun ditiup angin sepoi-sepoi. Sang ratu sudah banyak berubah. Aku lantas tersenyum sendiri mengingat sosoknya yang lebih kecil dulu selalu memakai pita besar sebagai hiasan rambut. Kini, ia lebih sering membiarkan rambutnya terurai begitu saja atau menyanggulnya jika ada acara resmi yang harus dihadiri.
Menyadari perubahan yang drastis itu, aku dibuat ingat ternyata aku sudah begitu lama berada di sisinya. Namun, tetap saja ia tak pernah melihatku. Dan aku pun masih sama bodohnya tetap menaruh hati padanya.
“Sebenarnya berapa lama saya harus ada di samping Anda sampai Anda sadar?” gumamku tanpa berpikir.
Sedetik kemudian, kesadaran langsung menghampiri dan aku pun refleks menegakkan punggung. Ratu yang duduk di depanku pun ikut menoleh ke belakang. Tampaknya ia mendengar gumamanku barusan. Aku langsung was-was. Dapat kurasakan detak jantungku meningkat. Jujur, aku merasa takut ia mendengar jelas apa yang meluncur dari bibirku. Bagaimana pun, kondisi sekarang tidak lagi memungkinkanku mengejarnya seperti ketika usiaku masih belasan.
“Kamu bilang sesuatu?” tanyanya.
Aku lantas tersenyum lega. Detak jantungku yang sempat naik, kembali ke ritme normalnya. Aku menggeleng pelan. “Saya hanya sedang membaca tulisan saya sendiri,” kataku berbohong.
“Begitu,” balasnya. Ia kemudian kembali menghadap ke langit senja yang kian gelap.
Aku kembali menopang kepala dengan telapak tangan. Seraya tersenyum kecil ke arahnya, kemungkinan lain terbersit di otakku. Di hari segala tindakan nekatku ketahuan, andai kepalaku benar-benar terpisah dari tubuhku, apakah dia akan menangisi kepergianku sehebat ia menangisi pria yang katanya “orang asing” itu?
Aku menutup mata dan mendengus pelan. Pertanyaan-pertanyaan di kepalaku tentang segala kemungkinan tindakannya tidak akan mungkin terjawab. Aku bahkan merasa terlalu takut kalau sampai tahu apa jawaban yang akan ia berikan.
Aku takut jawabannya akan berbeda jauh dengan yang selama ini aku imajinasikan.
Kelopak mataku kembali terbuka. Kini, ruangan yang semula terang benderang bermandikan cahaya sore, sudah berubah remang-remang. Tak lama lagi, pasti seorang pelayan akan datang untuk menyalakan pelita. Sejak pertama menginjakkan kaki di istana, malam hari di tempat ini selalu meriah dengan cahaya.
Sebelum ada pelayan yang datang, pandanganku lagi-lagi tertuju kepada siluet sang ratu. Suatu hari nanti, aku sudah bertekad akan sekali lagi pergi dari istana ini. Aku akan berhenti memandangi punggungnya, dan otomatis akan berhenti mengharapkannya menggenggam tanganku yang terulur. Aku bahkan sudah membulatkan hati untuk membunuhnya di dalam kepalaku. Lalu, di suatu hari nanti itu, karena ia sudah mati, hukum mutlak sang waktu akan mulai bekerja. Aku akan dibuat lupa bagaimana suaranya, aroma tubuhnya, maupun wajahnya. Percakapan singkat yang baru saja terjadi tadi, akan aku lupakan. Aku mungkin bahkan akan melupakan betapa cantiknya senja hari ini. Nantinya yang akan tersisa di kepalaku hanyalah ingatan samar yang tak jelas urutannya. Semoga, dengan begitu, perasaan yang bercokol di hatiku pun nantinya bisa sirna sepenuhnya.
