Work Text:
"Kau tidak bisa begini terus,"
Gadis itu mengambil bungkus teh kemasan yang dibelinya kemarin, setelah menyadari persediaan teh mereka habis di hari yang sama.
"dia sudah tidak ada kabar hampir, oh Tuhan,"
Tangannya membuka plastik yang melapisi kotak kecil berwarna dasar hijau, ditempeli beberapa label khusus, penunjuk harga dan kandungan gizi. Dibukanya kotak itu untuk mengambil dua kantong teh kecil dari sana untuk diletakkan di dua cangkir teh kaca yang berwarna susu.
"ini sudah lima tahun! Lima tahun!"
Menuangkan air panas dari teko di dapur, sembari meletakkan cangkir di atas nampan. Dia berjalan menuju sofa di ruang tengah, tempat yang sedari tadi seorang wanita berbicara padanya tanpa satupun ditanggapinya. Dia duduk, menyajikan teh, menyeruput miliknya perlahan, dan tetap dalam kondisi diam.
Wanita di depannya hanya diam. Ini bukan pertama kalinya topik ini diangkat pada hari-hari selama lima tahun itu. Perkataan hanya sedikit bervariasi, dari perkataan yang membujuk hingga pernyataan tidak percaya mengenai kekonyolan 'kesetiaan'. Mulai dari perkataan 'tidak bisa dikontak delapan bulan' sampai 'sudah lima tahun tidak ada kabar'.
"Shinichi bukan satu-satunya, Ran."
'Prak!'
Sonoko terkejut. Tentu, hampir saja gadis dihadapannya itu memecahkan cangkir. Ekspresinya belum berubah banyak.
Tatapannya tetap seperti sebelumnya.
"Aku tahu."
Hanya itu yang sanggup dijawabnya.
Sonoko menatapnya nanar. Dia bahkan tidak tahu harus mulai darimana lagi. Sudah semua dikatakannya. Malah dia sudah merekomendasikan banyak bangsawan yang menurutnya baik kepada Ran. Tapi tidak ada yang berhasil. Mouri Ran lebih tangguh dari dugaannya.
"Ran," Sonoko berdiri, berjalan menuju sisi Ran yang kosong. Memegang pundaknya, mencoba merasakan bahunya yang bergetar seperti dulu saat mereka masih di sekolah menengah atas. Namun, tidak ada getaran di sana. Bahunya tetap tegas. Apa yang terjadi selama ini? Pikirnya. Apa lima tahun ini penderitaan baginya?
"Sonoko," Ran menatapnya, tersenyum tipis hampir menyayat hati. "terima kasih."
Bahkan Sonoko tidak bisa membalas senyuman Ran.
"Semua akan baik-baik saja." Ran berbalik menatap tangannya di atas pangkuannya.
Sonoko terdiam, kemudian mengambil tas dan meminum tehnya dengan cepat. Berjalan menuju pintu keluar apartemen keluarga Mouri. Memegang pegangan pintu, "Terima kasih tehnya, selamat malam." Dan menutup pintunya.
.
Lost
Detective Conan © Aoyama Gosho
Story by AmethystWriterx
.
"Jadi besok kau ada waktu?"
"Maaf, besok ada pekerjaan, kupikir aku tidak bisa."
"Oh, oke kalau begitu. Ku harap kau punya waktu minggu depan."
"Akan ku pikirkan, selamat malam."
Ran menutup sambungan. Meletakkan smartphonenya di meja kecil samping kasurnya, kemudian merebahkan punggungnya yang sakit. Berbagai dokumen perusahaan tampak menumpuk di atas meja kerjanya. Jas kantornya masih tergeletak di atas sofa, sedangkan dia sendiri sudah berbaring di atas ranjang queen sizenya. Tangannya kembali mengambil smartphone, membiarkan jemarinya bermain di sana, membuka berbagai aplikasi. Mulai dari media sosial hingga pesan elektronik. Dari obrolan rekan kerja dan alumni sekolahan sampai pesan resmi perusahaan. Hingga satu pesan terlihat olehnya, dikirim hari itu pada jam makan siang yang lalu. Sama sekali terlewat olehnya. Yang membuatnya bangkit dari posisi duduk adalah nama pengirim yang tertera di sana.
Kudo Yukiko.
Ran langsung membuka pesan tersebut. Beberapa menit sampai dia mengetik beberapa kata sebagai balasannya.
Terima kasih atas suratnya. Baiklah, besok pukul sembilan pagi di Hotel Le Grande.
.
.
Sebenarnya, Ran adalah seorang perempuan sukses di usianya yang baru menginjak 23 tahun. Dia masih muda dan dia memiliki pekerjaan yang bagus, salah satu perusahaan teknologi terkemuka di Jepang. Bahkan di bulan keempatnya bekerja di sana, dia sudah mendapatkan promosi jabatan menjadi pegawai tetap dan manajer profesional.
Mouri Ran benar-benar beruntung. Banyak yang mengaguminya, banyak yang mengajaknya untuk berkencan sekadar untuk saling mengenal pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru.
Klise.
Setidaknya hanya beberapa dari mereka yang berhasil untuk menjadi hanya teman dekat seperti Kyogoku Sonoko. Sahabatnya, juga Hattori Heiji dan istrinya, Kazuha.
Semua sudah terlalu lama, seperti album kenangan yang disimpannya di bagian bawah lemari bobrok di gudang. Berdebu hingga di bersihkannya sedikit untuk sekadar bernostalgia masa remaja dulu.
Foto kelulusan, foto wisuda, bersama kedua orang tua dan sahabatnya. Dia berdiri di tengah dan didampingi kedua orang tuanya. Di foto selanjutnya tampak Sonoko, Heiji, Kazuha, dan beberapa temannya berdiri di sisinya, dan juga beberapa lembar faksmile lama yang dikirim beberapa kerabat yang jauh. Memakai cara lama agar lebih mudah dikenang, terbukti ampuh pikir Ran. Salah satunya ada kerabat keluarganya, keluarga Kudo. Yang mengirimkan faksmile dan bingkisan serta buket bunga di hari wisudanya.
Ran membalikkan setiap halaman album. Terkadang jemarinya mengusap pelan wajah-wajah yang tertangkap lensa kamera itu. Berharap di dalam hati dan bertanya kepada langit.
Di mana kau sekarang?
Air mata telah lama kering. Tahun-tahun terakhir dilewati tanpa tangisan pilu pukul 2 malam. Tanpa sembab di balik riasan wajah. Tiada serak terselip saat berbincang dengan rekan kerja.
Mouri Ran terasa hidup, jika saja bukan karena ekspresi wajahnya yang sudah lama mati.
Mati bersama Kudo Shinichi.
.
.
Ran berjalan masuk, setelah pintu hotel terbuka. Hawa dingin pendingin ruangan menyentuh lembut kulit kaki jenjangnya, seraya melewati keramik granit berwarna senja.
Wanita di sana tersenyum, menyapanya ramah. Beberapa dialog singkat, akhirnya Ran berjalan ke lift menuju lantai tertinggi hotal bintang empat tersebut. Ran langsung berjalan menghampiri ketika matanya menangkap sosok bergaun merah hati di sisi jendela.
Dia duduk sembari meletakkan tas tangannya di atas meja.
"Senang sekali kau bisa memenuhi undanganku, Ran."
Yukiko beralih, meninggalkan pemandangan di balik jendela untuk menyapa wajah Ran yang ditutupi riasan sederhana. Warna bibirnya cukup cerah, namun mempertahankan rautnya yang tanpa emosi.
Ran menarik kursi dan duduk. “Apa kabar Anda?”
“Baik, terima kasih.”
Wanita itu hanya tersenyum, tanpa memperlihatkan celahnya yang semakin lemah dan ingin runtuh.
Ran hanya menunggu, hingga kabarnya ditanyakan, dan dia hanya perlu tersenyum seperti biasa, memberikan pernyataan bahwa dia dalam keadaan baik.
Memberikan kebohongan yang ia jual selama hampir lima tahun.
“Kau tidak baik-baik saja, Sayang.”
Yukiko tetap tersenyum. Sedang Ran di hadapannya tetap mempertahankan pertahanannya.
“Kau terluka, kau ketakutan, dan kau dikhianati.” Yukiko melipat tangannya. Menutup matanya sesaat dan memberikan tatapan yang tidak ingin ditolak Ran.
Satu demi satu pertahanan Ran retak.
“Kau kehilangan sesuatu, sayangku.” Senyum lainnya yang bahkan tidak bisa didustai oleh Ran.
Dinding itu bergetar, kehilangan pelindung setianya.
“Dan kita berdua tahu, kau kehilangannya.” Senyuman itu menyakiti, tidak jatuh sekalipun.
Dinding itu hancur, meninggalkan seorang gadis yang rapuh itu sendirian. Menangis, memeluk lututnya yang pucat kebiruan.
“Kita berdua kehilangannya, Ran.”
Air mata Ran jatuh. Dia tidak ingin mengelak bahkan memberi alasan terbaik yang pernah dibuatnya.
Dia melihat dirinya, ketika Yukiko tersenyum dengan air mata menggenang, kemudian jatuh menyusuri raut wajahnya yang lembut dan rapuh,
kehilangan sesuatu berharga yang pernah Tuhan berikan kepada seorang ibu.
Ran kehilangan sebagian dirinya, sedang Yukiko kehilangan dunianya.
