Work Text:
Saya tidak bisa memulai sebuah surat dengan benar, karena sesungguhnya saya ini hanya manusia yang penuh cacat, Yeonjun. Semua kenangan saya sudah kabur dibawa desiran angin yang sepintas lewat pada senjakala kilas biru mulai menorehkan wujudnya pada angkasa. Saya tak mampu lagi mengulas diksi-diksi yang pernah saya tulis ataupun yang pernah saya baca setidaknya satu kali. Saya ini manusia yang telah renta dan hina, dan semua orang pun telah melenyapkan harapan untuk saya. Saya ini bukan bintang yang seperti kamu ucapkan dahulu.
Meskipun sajak yang saya tulis selalu mereka baca kala bersua dengan keluarga mereka. Betapa lucu sekali, mungkin saya hanya akan dikenang sebagai sebatas puisi nantinya. Dan disatu titik nanti, saya hanya akan berada dalam koran diatas tempat sampah, Yeonjun.
Saya akan mundur, mungkin sekitar 15 tahun lalu, saat saya masih muda dan penuh rasa; tidak mampu tergores sembilu, dan daksanya sukar untuk dibuat tumbang. Kala karya saya masih ramai dijumpai disudut kota dan potret saya masih berada dalam genggaman usaha penerbit besar. Ketika saya masih sibuk dengan hingar-bingar penduduk yang memutar kesana-kemari mencari nafkah untuk keluarganya hanya untuk mendatangi toko buku saya.
Semua orang bertanya, “Ada di mana buku-buku tentang Tuan Yeonjun dan lukisannya?” tanpa mengetahui bahwa kamulah yang menjadi titik balik cerita itu.
Dalam potretmu, ada sebuah senyuman yang tanpa sadar saya tengok setiap saat saya pulang kembali ke rumah. Kamu yang seolah menyambut saya dengan guratan manis nan sempurna kala swastamita menyentuh akaramu yang seolah hidup kembali ke permukaan itu membuat nyawa saya seolah terangkat satu demi satu. Kamu sempurna, Yeonjun. Bahkan, lebih dari itu.
Kenanganmu yang tertoreh pada kuas dan palet serta easel yang bagian kakinya telah patah menjadi suatu titik dimana raga saya terasa birat diserap akasa. Satu-satunya barang yang tersisa darimu rusak, padahal hanya satu kilasan lagi dan semuanya akan selesai.
Saya ini seorang penulis, Yeonjun.
Saya tidak bisa melukis.
Sudah terlalu banyak puisi dan buku yang saya tulis berdasarkan rupa dan nyawamu yang tersisa dalam benak saya. Namun kini, saya sudah tidak bisa lagi. Tidak.
Tanpa kamu, saya buta aksara.
Saban hari saya habiskan waktu didepan kanvas itu dan bersembunyi dari kumpulan manusia diluar sana. Selama 15 tahun, nama saya tiada lagi terdengar, tiada kabar, tiada desir, tiada artikel yang menuliskan bahwa saya ini seolah buronan. Saya tidak dicari siapa-siapa, Yeonjun.
Saya tidak punya siapapun, saya ini tidak berharga.
Namun kamu tidak pernah berkata demikian.
15 tahun. Waktu yang tidak sedikit. Waktu yang saya habiskan dari hidup saya hanya untuk menyelesaikan ribuan potretmu yang sempurna. Bukan didasarkan pada dedikasi ataupun apresiasi mortal bumi. Saya tidak bisa jika harus terus hidup dibawah bayang-bayang pujian palsu.
Yeonjun, saya hanya ingin wujudmu ada.
Saya hanya ingin kamu menemani saya hingga detik terakhir kehidupan saya hingga akhirnya saya ditemukan membusuk didepan kanvasmu.
Saya tidak masalah dengan kata orang-orang. Saya hanya ingin kamu, yang sudah tiada mendahului saya, untuk menyaksikan saya hingga tetes darah yang terakhir.
Semua puisimu sudah saya abadikan (meskipun kamu sangat menginginkannya, saya tidak akan pernah bisa begitu saja membacanya ulang. Semua puisi itu tentang saya, dan saya hanya ingin kamu, bukan puisi-puisimu saja), begitu pula dengan semua buku tentangmu yang ada dalam benak saya beberapa tahun terakhir.
Saya ini lemah dan tidak memiliki harga. Renta dan penuh kecacatan. Saya bukan apa-apa dibandingkan kamu yang selalu tersenyum kala swastamita menyentuh gurat pipimu yang halus seperti permata yang baru saja dipoles. Kamu sempurna, Yeonjun. Bahkan, lebih dari itu.
Dan dari atas sana, saya tahu kamu memandangi saya. Di ruangan dengan aroma kayu kesukaanmu ini, hanya saya dan kamu yang tersisa.
Deru nafas saya beradu dengan udara, menandakan sesuatu yang khas untuk setiap jiwa.
Yeonjun, ini merupakan saksi terakhir perjumpaan kita, dimana saya pergi untuk selamanya, dan jiwamu yang entah bagaimana seolah hidup tanpa raga.
Saya titip potretmu baik-baik.
