Work Text:
Curi-curi pandang ke ujung gerbong kereta. Lelaki dengan lesung pipi buat Jeonghan jatuh hati. Koran pagi digenggam olehnya. Kepala tertunduk; netra legam menyelusup. Dia tertawa geli.
Oh, Jeonghan betul jatuh hati.
Lelaki itu berdiri dari kursi ketika kondektur menghampiri. Jeonghan curi pandang lagi. Koran di tangannya hanya sebuah atraksi. Berharap yang duduk di ujung sana tidak menyadari bila dia sedang diam-diam mengagumi.
"Semoga perjalanan Anda menyenangkan, Tuan... Choi Seungcheol." Kondektur itu pun kemudian pergi sehabis diberi satu buah senyuman penggugah hati.
Choi Seungcheol.
Jeonghan coba untuk menahan diri. Tubuhnya terasa sudah ingin melayang dari kursi. Dia akhirnya tahu nama lelaki berlesung pipi itu. Haruskah sekarang gilirannya untuk maju? Memperkenalkan diri ataupun merayu.
Jeonghan sungguh tidak tahu.
Kini tiba saatnya kondektur itu menghampiri dirinya. Koran pagi sudah dilipat rapi. Tidak ada lagi atraksi sebagai distraksi. Namun, sepasang bola mata masih terus curi-curi pandang ke ujung gerbong kereta. Jeonghan dengan jalan pikirannya sendiri yang masih berpikir bagaimana cara mendekati si lelaki.
Tiket Jeonghan diminta yang langsung dia beri. Mencuri pandang lagi. Dilihat lelaki berlesung pipi yang sedang menyeruput gelas kertas yang sepertinya berisi kopi.
"Semoga perjalanan Anda penuh suka cita," Kondektur berucap buat Jeonghan tergagap. Lamunan indah tentang meminum kopi bersama buyar seketika.
"Terima kasih," Jeonghan menjawab. Bibir merah muda coba ciptakan senyum yang tidak terkesan dibuat-buat. Kondektur pun akhirnya melangkah lagi.
Mungkin, ini saat yang tepat untuk memperkenalkan diri.
Curi-curi pandang supaya mendapat ancang-ancang. Jeonghan terkejut kala kursi di ujung gerbong kereta tidak lagi berpenghuni. Entah ke mana lelaki berlesung pipi itu pergi. Usai sudah usahanya untuk memiliki pujaan hati.
Kenapa rasanya seperti sedang dilanda desperasi tingkat tinggi?
Jeonghan gelengkan kepala cepat. Hormon macam apa yang berani memporak-poranda untaian benang pikiran miliknya. Jatuh cinta buat dirinya menggila. Curi-curi pandang memang menjadi kesalahan utama.
Terlalu banyak kisah romansa fiksi yang dikonsumsi buat Jeonghan terus berasumsi. Tidak semua orang asing mau ditemani, sebab kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk dibiarkan sendiri. Besar kemungkinan lelaki berlesung pipi itu sudah menyadari dirinya sedang diamati.
Fiksi. Imajinasi. Semuanya meracuni.
Otak Jeonghan seakan-akan terkontaminasi. Lelaki berlesung pipi memang buat dirinya terpincut, bahkan hingga jatuh hati. Menawan dan perkasa. Berwibawa juga berkelas. Lelaki itu seakan memiliki segalanya. Akan tetapi, dia terlihat sangat sederhana. Jatuh cinta yang tidak masuk akal. Memang.
Jeonghan sekarang pilih pejamkan mata. Tidak ada lagi curi-curi pandang ke ujung gerbong kereta. Semuanya tidak berguna. Lebih baik istirahatkan tubuhnya sebelum kereta mulai berkelana.
Bermimpi mungkin hari ini bertemu pangeran gagah penunggang kuda.
Pandangan mulai menghitam. Jeonghan perlahan memasuki alam mimpi. Segalanya sesuai imajinasi di dalam isi kepala. Indah. Penuh bahagia. Andai dirinya bisa bermukim di sini selamanya.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Sampai... sampai tiba-tiba...
Sepatu kulit hitam menyentuh sepatu tali merah miliknya. Jeonghan tersentak. Mimpi indahnya tidak lagi ada. Rasa kantuknya juga langsung kabur begitu saja. Bila dibolehkan mengutuk, Jeonghan ingin sekali berteriak pada siapa pun yang tega menganggu waktu istirahatnya.
"Maafkan saya. Saya sungguh tidak bermaksud mengganggu waktu tidur Anda." Nada bicaranya penuh penyesalan dan terucap terbata-bata. Jeonghan kedipkan kedua kelopak matanya berkali-kali berharap rasa kantuk yang tersisa bisa segera pergi.
"Tidak apa-apa," balas Jeonghan. Berbanding terbalik dari suara batinnya yang beberapa detik lalu ingin mengamuk.
"Saya sebenarnya ingin berikan ini." Selembar kertas disimpan di atas pangkuan Jeonghan. "Ingin secara diam-diam, tetapi saya malah tidak sengaja buat Anda terbangun. Maaf untuk sekali lagi." Jeonghan raih selembar kertas yang tergeletak menelungkup di pangkuannya.
Kedua tangannya belum juga membalik kertas tersebut. Apa pun yang tertulis, Jeonghan tidak tahu-menahu. "Ini apa?"
"Bukan apa-apa. Tapi, silakan dilihat saja sendiri." Oh, suaranya manis. Jeonghan sedikit tersipu. Sepasang bola mata masih terfokus pada selembar kertas yang ciptakan banyak tanda tanya.
Seolah waktu terhenti. Semua tiba-tiba berjalan melambat. Jeonghan pandangi dengan seksama yang tertampil pada selembar kertas putih. Seketika dirinya merasa hangat. Wajahnya mungkin sudah merah padam. Ribuan kupu-kupu yang telah begitu lama terlelap ikut berterbangan di dalam perutnya.
Selembar kertas putih di tangannya tampilkan sketsa sederhana dari Jeonghan yang tengah tertidur pulas di kursi kereta.
Dalam sketsa, kedua kaki jenjang menyilang; satu tangan memeluk erat perut rata, dan tangan yang lain dilekukkan dengan siku yang berada di atas lutut; kepala menunduk dengan dagu yang ditopang oleh kepalan tangan; rambut hitam sebahu yang terurai menutup sebagian wajah.
Jeonghan sepertinya kehabisan kata-kata. Pensil kayu berhasil mengukir indah detail wajahnya meski tertutup oleh rambut panjang tidak terikat. Semuanya tergambar sempurna, bahkan hingga tanda lahir yang dimilikinya. Di dalam sketsa itu juga dapat terlihat bibir Jeonghan yang nampak mengerucut. Dia jujur tidak sadar telah melakukan itu ketika tadi tertidur lelap.
Masih ditatap sketsa dirinya itu dalam-dalam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ketika netranya capai pada pojok bawah lembar kertas, Jeonghan tersentak.
Choi Seungcheol – 19/5/24
"Malaikat yang Terlelap"
Lelaki tampan berlesung pipi yang duduk di kursi ujung gerbong kereta telah menggambar dirinya. Choi Seungcheol. Jeonghan kikuk. Masih curi-curi pandang selagi bisa, karena dia memang malu untuk menatap figur tinggi yang berdiri tepat di samping kursinya.
Keheningan mulai terasa menganggu. Namun, lelaki berlesung pipi itu lebih dulu berbicara sebelum Jeonghan mengeluarkan sepatah kata. "Sketsanya boleh disimpan. Maaf jika lancang menggambar tanpa izin. Saya pikir Anda terlalu menarik untuk tidak diabadikan. Salam kenal..."
"Jeonghan. Yoon Jeonghan."
Akhirnya, memperkenalkan diri juga.
"Salam kenal, Jeonghan."
Sebuah tangan diulurkan. Jeonghan raih tangan itu untuk digenggam. Berjabat tangan untuk saling berkenalan. Sudah berani tatap langsung meski bersama pipi yang semakin merah merona. "Iya. Salam kenal, Seungcheol," balasnya. Tangan-tangan yang saling berjabat terlepas tidak lama setelahnya.
Seungcheol kembali ke tempat duduknya di ujung gerbong kereta. Jeonghan kembali memandangi sketsa dirinya yang digambar khusus oleh lelaki berlesung pipi yang buat dia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Oh, memang sepertinya permainan curi pandang sudah ketahuan sejak awal.
Jeonghan terkekeh.
Sekali lagi, dia curi pandang ke lelaki berlesung pipi di ujung gerbong kereta.
Satu senyum manis ditampilkan sebelum Seungcheol lagi-lagi menggambar sesuatu di buku sketsanya.
Oh, Jeonghan makin jatuh cinta.
