Actions

Work Header

Meeting

Summary:

"Direktur Hu, tolong sedikit lebih lembut..."

"Diam, kamu saja yang lemah, jangan bergerak dan biarkan aku melakukannya."

"Direktur Hu, sepertinya Dokter Baizhu benar, ada baiknya kita melakukannya dengan sedikit lebih perlahan."

"Gui, dalam hitungan tiga, dobrak pintunya,"
"Satu, tiga!!"

"Eh, duanya mana?!"

Notes:

Warnings : possible OOC, possible typos, no beta, crackfic, gak jelas, garing, saya capek cons Baizhu gak pulang-pulang

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Meeting

 

Perasaan Changsheng sedang tidak bagus.

 

Waktu itu dia pernah bertanya pada Baizhu, apa ya bahasa populernya...

 

...bete?

 

 

Ya begitulah kira-kira.

 

 

Changsheng sedari bangun tidur, entah kenapa merasa kesal.

 

Tidak yakin pasti pada apa, tapi sepertinya karena hari ini, akan ada 'tamu' yang akan datang ke Bubu Pharmacy.

 

Tidak, bukan tamu seperti seorang pasien, atau pelanggan yang akan membeli obat, bukan seperti itu.

 

 

Tapi 'tamu' lain.

 

 

Changsheng setengah mendengus, ia mendelik tidak senang.

 

Sudah dari minggu lalu ia tau bahwa hari ini 'tamu' tersebut akan datang.

 

Ya, tentu saja karena Baizhu sendiri yang membuat janji temu.

 

 

Dan saat hari H tiba seperti sekarang, Changsheng mendadak tidak senang.

 

Pertemuannya juga saat masih pagi di mana apotek belum akan dibuka.

 

 

Bikin tambah kesal saja.

 

 

"Qiqi sayang," Changsheng memanggil gadis kecil itu dari atas meja, tidak memperdulikan Baizhu yang sedari tadi sibuk mempersiapkan segala hal untuk menyambut sang 'tamu' tercinta.

 

 

Makanan ringan, teh, taplak meja baru yang entah kapan dan dari mana pemuda itu beli, kesibukannya hampir menyaingi sang Yuheng sendiri.

 

 

Qiqi menghampiri Changsheng saat mendengar namanya dipanggil.

Mata gadis kecil itu berkilat sejenak walau bertolak belakang dengan wajahnya yang datar.

 

 

"Qiqi sayang, ayo kita senam pagi di belakang. Sebentar lagi akan ada tamu, dan lebih baik kalau kita tidak di sini," kata Changsheng pada Qiqi.

 

 

Baizhu berhenti mengelap gelas dan menatap Changsheng dengan bingung.

 

 

"Tidak ikut pertemuan kali ini?" tanya sang dokter sembari meletakkan gelas yang sudah mengkilap kembali ke atas meja.

 

 

"Tidak, aku sudah bosan. Yang dibahas pasti hal itu lagi, lebih baik aku melihat awan dan burung kecil di belakang," jawab Changsheng, memberi sinyal pada Qiqi agar bisa naik ke pundak gadis kecil itu.

 

 

Baizhu tersenyum paham, "baiklah, kalau begitu selamat bersenang-senang."

 

 

 

***

 

 

 

Biasanya kalau pertemuan seperti ini, akan memakan waktu setidaknya dua jam.

 

 

Changsheng kembali memperhatikan ke arah dekat pintu depan apotek, tak ada tanda-tanda 'tamu' yang bersangkutan akan segera pergi.

 

 

Mereka sudah dua jam lebih di dalam sana, apa yang mereka bicarakan?

 

 

Ingin menggulingkan Jade Chamber dan memutarnya seperti gasing?

 

 

Pppffftttt.

 

 

Changsheng tertawa sedikit, tapi kemudian ia berdehem dan kembali fokus pada Qiqi yang sangat serius menggerakkan badan.

 

 

 

"Satu, dua, tiga, empat, tujuh...tujuh..." Qiqi menghitung sambil sesekali merenggangkan tubuh mungilnya.

 

"Qiqi, setelah empat itu lima," Changsheng berusaha mengoreksi yang sepertinya tidak didengarkan oleh gadis itu.

 

 

 

"Lho, kalian sedang apa di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?"

 

 

 

Sebuah suara menghentikan aktivitas Changsheng dan Qiqi, keduanya menoleh untuk mendapati Gui yang baru saja datang.

 

 

 

Changsheng menatap Gui dengan serius.

 

 

 

 

"Gui," panggilnya.

 

 

 

 

"I-iya?" sang herbalist tampak gugup.

 

 

 

 

"Jam berapa sekarang?" tanya Changsheng pelan.

 

"Jam...sembilan...?" jawab Gui tak kalah perlahan.

 

 

 

 

Kemudian Gui kaget setengah hidup saat Changsheng entah dengan kekuatan apa, terbang ke arahnya.

 

Tidak terbang secara harfiah, tapi tetap saja hitungannya 'terbang', karena ular putih itu berpindah dengan cepat dari pundak Qiqi ke leher Gui.

 

 

 

 

"Gui, Qiqi, ayo cepat kita masuk ke dalam!!"

 

 

 

 

***

 

 

 

Pertemuan ini bukan di kamar belakang, bukan juga di ruang depan tempat biasa mereka menerima pasien dan pelanggan.

 

Tapi di dalam, di ruangan yang biasa Baizhu gunakan untuk 'belajar'.

 

 

Ruang kerjalah bahasa indahnya.

 

 

 

Sudah sedari jam setengah 7, sekarang jam 9.
2 jam lewat.

 

 

Apa yang sedang orang-orang itu lakukan?
Pertemuan macam apa sampai lama begini?

 

 

 

Changsheng sebenarnya sangat malas bertemu para 'tamu' terhormat ini, tapi karena ia mengkhawatirkan Baizhu, tentu saja ia menggeser egonya untuk segera mengecek keadaan.

 

 

 

Sayup, ia mendengar suara tipis dari dalam ruangan.

 

 

 

 

"Ah..."

 

 

 

 

Eh sebentar.

 

Sepertinya ia tak salah dengar, karena Gui sampai berhenti berjalan dan matanya terbelalak, jadi Changsheng yakin mereka mendengar hal yang sama.

 

 

 

Itu suara Baizhu, tapi apa itu tadi???

 

 

 

"Tolong pelan-pelan sedikit kalau bisa, Tuan Zhongli," ujar Baizhu dari dalam ruangan, nada suaranya terdengar seperti sedang terengah.

"Mohon tahan sedikit, aku sedang berusaha, tolong jangan bergerak," kali ini terdengar suara Zhongli yang seperti sedang melakukan sesuatu.

"Ngh..."

 

 

 

"Gui, tutup telinga Qiqi!!" Changsheng mendesis tajam, dan Gui dengan cepat mendaratkan kedua telapak tangannya ke telinga gadis kecil itu.

 

 

Qiqi hanya bengong, dan bingung, tapi tak mengatakan apapun.

 

 

"A-apa yang..." Gui mengigit bibirnya sendiri, terlalu takut membayangkan hal yang entah kenapa muncul sendiri di benaknya walaupun ia tidak mau.
Wajahnya memerah karena malu.

 

 

 

"Ih, lama sekali. Sini, biar aku saja!"
Kali ini terdengar suara seorang gadis, suara Hutao.

 

Terdengar kembali suara seperti sesuatu tergesek, dan entahlah, Changsheng tidak yakin itu suara apa, tapi masih sama, diiiringi desahan dari Baizhu.

 

 

 

"Beraninya mereka!!" Changsheng mendesis marah.

 

 

 

"Gui, buka pintu!" nada suara Changsheng meninggi


"Tapi-, Qiqi...?" Gui semakin panik dengan tangan yang masih menempel erat, menutup telinga Qiqi.

 

 

"Qiqi, kamu pergi main keluar sebentar ya sayang," Changsheng berubah seketika dari ibu tiri menjadi ibu peri, melembutkan suaranya yang kemudian direspon dengan anggukan kecil Qiqi.

 

Gadis zombie mungil itu melangkah pergi dengan patuh membuat Gui dan Changsheng menghela napas lega.

 

 

 

 

"Direktur Hu, tolong sedikit lebih lembut..."


"Diam, kamu saja yang lemah, jangan bergerak dan biarkan aku melakukannya."


"Direktur Hu, sepertinya Dokter Baizhu benar, ada baiknya kita melakukannya dengan sedikit lebih perlahan."


"Sudahlah, ayo cepat, biar cepat selesai, tahan sedikit dong, kamu kan lelaki."


"Tapi Direktur Hu--, ah--..."


"Hei, itu bukan aku!"


"Maaf, itu aku yang melakukannya."


"Ti-tidak apa-apa Tuan Zhongli, tapi...ngh..."


"Ih, diam sedikit dong."


"Direktur Hu, kamu terlalu kasar."


"Ah--..."

 

 

 

 

Changsheng tidak tahan lagi mendengarnya.
Demi kaki Morax, ia sudah muak!

 

 

 

"Gui, dalam hitungan tiga, dobrak pintunya," tutur Changsheng tidak senang.

"Ba-baik!!" Gui memegang gagang pintu dengan wajah makin memerah setelah mendengar suara tidak senonoh dari dalam sana.

 

 

 

"Satu, tiga!!"

"Eh, duanya mana?"

"Sudah, cepat dobrak pintunya, Gui!"

"Baik!"

 

 

 

BRAKK

 

 

 

Pintu dibuka paksa.

 

 

 

Semua orang terdiam.
Hutao, Baizhu dan Zhongli di dalam ruangan menghentikan apa yang sedari tadi mereka lakukan.

 

 

"Apa yang kalian lakukan??!!" sergap Changsheng, matanya menelusuri adegan di hadapannya.

 

"Changsheng? Gui? Kalian sedang apa?" tanya Baizhu sambil sesekali meringis.

 

"Aku yang harusnya bertanya begitu, kalian sedang apa??" Changsheng melotot hingga ia menemukan kebenaran.

 

 

 

"Maafkan kami, tapi rambut Dokter Baizhu tersangkut di kancing bajuku," Zhongli menjelaskan dengan tenang.

 

 

 

Jadi, posisinya adalah...kepala Baizhu ditarik oleh Hutao, rambutnya tersangkut di kancing besi baju Zhongli, dan tangan Zhongli sedang menarik helaian yang kusut itu.

 

 

 

 

"Sudah kubilang, potong saja, ribet sekali, nanti juga tumbuh lagi," kata Hutao, mengacuhkan Changsheng dengan kembali menarik kepangan rambut Baizhu.

 

"Tidak bisa seperti itu, Direktur Hu, yang tersangkut cukup banyak," cegah Zhongli yang dengan sabar menarik satu demi satu surai hijau itu.

 

"Nggghhh...tolong jangan lakukan itu terlalu kasar," Baizhu kembali meringis karena kulit kepalanya ikut tertarik.

 

 

 

Jika Changsheng bisa tersenyum, ia akan tersenyum lebar, sangat lebar hingga ujung mulutnya menyentuh mata.

 

 

 

 

"Potong! Potong saja!!" teriaknya kemudian.

 

 

 

"Changsheng, jangan..."

 

 

"Tuh kan, ularmu saja setuju, potong!"

 

 

"Direktur Hu, tolong jangan bertindak impulsif."

 

 

Suasana ricuh.

 

 

Gui hanya terdiam, wajahnya masih merah menahan malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak.

 

 

 

 

Omake

 

 

 

 

"Jadi, kenapa rambutmu bisa tersangkut?" tanya Changsheng.

 

 

 

Setelah tiga jam dan dengan bantuan semua orang, terutama Gui dan Zhongli yang dengan sabarnya membuka jalinan kusut itu satu persatu, rambut Baizhu berhasil terlepas dari kancing baju Zhongli.

 

 

Saat ini mereka sedang berada di kamar belakang, baru saja selesai melayani pasien terakhir.

 

 

 

 

"Oh itu, setelah menyajikan teh, saat berjalan melewati Tuan Zhongli, tiba-tiba saja rambutku tersangkut, entah kenapa," jawab Baizhu dengan senyum tipis.

 

 

"Jadi kalian sama sekali tidak membahas apapun hari ini?" tanya Changsheng lagi.

 

Baizhu menggeleng.

 

 

Ular putih itu menghela napas panjang, "kamu tidak seperti biasanya, kenapa bisa ceroboh begitu?"

 

 

Baizhu lagi-lagi tidak membuka suara, ia hanya tersenyum getir.

 

 


 

 

"Haaaaah, padahal sudah datang pagi, akhirnya tidak ada titik temu," protes Hutao, jarinya mengetuk pelan meja di hadapannya.

 

 

"Direktur Hu, itu semua terjadi juga karena anda menjegal kaki Dokter Baizhu saat berjalan tadi, kan?" kata Zhongli dengan senyum penuh keraguan.

 

 

"Hei, aku tidak melakukan itu! Kakiku kebetulan ada di situ, dia saja yang tersandung sendiri dan terpeleset kemudian menabrakmu sampai rambutnya tersangkut begitu," Hutao meluruskan perkataan Zhong barusan.

 

 

"Ya, sama saja, tetap saja kita punya andil, jadi sebaiknya tidak usah terlalu dibawa ke hati, masih ada lain waktu untuk pertemuan berikutnya," ujar Zhongli dengan tenang.

 

 

Gadis manis itu menopang dagunya dengan tidak puas.

 

 

"Ya, ya, baiklah, tapi yang jadi masalahnya, kenapa ular itu berteriak kesal saat ia mendobrak masuk tadi?" Hutao bergumam bingung.

 

 

Mendengar itu, Zhongli kembali tersenyum, "hal itu, sebaiknya tunggu anda lebih dewasa dulu, Direktur Hu."

 

 

"Hei, apa itu maksudnya?! Aku kan sudah dewasa!"


"Iya, aku tau."


"Kalau begitu kenapa tersenyum aneh seperti itu? Heeeii!!"

 

 

 

 

 

- TAMAT BENERAN -

 

 

 

Notes:

gak tau, otak saya lagi gak berfungsi, maapkan :"((

P.S : Baizhu plis pulang abis ini yah ;;__;;

makasih banyak bagi yang udah sudi baca, semoga tidak muak :"((