Work Text:
"oh, my god. you really so pretty as butterfly, binar." sebuah kalimat yang keluar malam-malam dari seseorang di hadapan binar detik ini juga. memang seperti ini ya rasanya ada kupu-kupu dalam perutnya? tapi yang binar soal ares, pasti memang cowok itu pengen muji saja. atau entahlah, mungkin malam ini keberuntungannya.
should i say thank you, or get down on my knees then take his cock and say thank you? hanya dalam isi kepala kotor dan sebagian lainnya bahwa binar ingin saja. tapi belum apa-apa binar sudah seberisik ini isi kepalanya, bagaimana nanti?
"sorry, gue gak bisa nahan bilang lo cantik."
"thanks?" binar malu, serius, ia tidak tahu harus menghadapi keadaan canggung seperti apa. "serius, makasih."
"okay, sini kunci mobilnya."
"kak. gue gak pernah panggil lo kak ares ya, dari awal."
"no need, sesuka lo aja."
suka.oh, jelas sudah, bukannya terlihat dengan jelas kalau binar memang suka ares. darimana binar bisa biasa kalau jadi seperti ini, kenapa malam ini hangat dan pipinya kepanasan, seakan pendinginnya di bekerja sama sekali. "panas."
"mau gue turunin? nanti lo kedinginan, udah malem soalnya."
"turunin aja."
"okay..." tapi yang ada di antara mereka hanya hembusan nafas, suasana masih teramat canggung, bahkan tidak biasanya seperti ini, apa karena baru pertama kali dalam situasi berdua saja. entahlah. "sorry, buat lo balik ke kampus lagi, malem-malem."
"gapapa, ares."
"you know it sounds cheesy, awalnya gue mau ketemuan sama lo kalau gak ada rapat ini, or anterin lo pulang gitu, gak tau apa yang ada di pikiran gue. tapi, i like you, binar. too fast?"
kadang-kadang binar mencerna semuanya perlahan, sungguh tidak perlu terlalu cepat seperti ini. baru juga memikirkan memang binar suka sedikit dengan ares, tapi bukan seperti ini jawaban yang ia mau.
"erm, gak kok, gak kecepetan. lagian emang kita nge-date?"
"if you say so..."
"kak, pelan-pelan." belum sanggup menerima informasi secepat ini. mungkin, binar tidak tahu, apalagi ares sekarang yang fokus dengan menatap jalan, memang ares itu tampan, pasti banyak yang suka. termasuk juga binar.
"mobilnya apa gue?"
"lo."
"oh."
"wanna listen to some song? or something? podcast maybe?"
terputar radio yang secara acak bersiaran, jadi teman di antara mereka, jujur, dari awal binar juga inginnya bertemu ares saja, meski apapun yang terjadi di antara mereka. mau canggung seperti ini, lagi pulang mereka baru bertemu, beda dengan di kampus, mungkin saling sapa.
"what do you like?" tanya ares memutus lamunan dalam mobil.
"hm?"
"apa yang lo suka?"
"banyak, soal apa dulu?"
"something you like to do. maybe..."
"masak, gue baru coba baking tapi masih belum bisa, you know baking looks like chemistry, right. dan kadang kalau sepi gue main gitar."
"i can teach you that, maybe we can bake brownies together, nabi. fudgy or cakey?" nabi, kupu-kupu, masih jadi pembahasan ares, dengan cara cowok itu memanggil nama binar.
"supposed to be fudgy, right?"
"sure. i can do that."
"sounds cocky."
"ouch."
"bercanda, kak." perlahan situasi canggung di antara mereka lenyap, masih dalam perjalanan, sebenarnya tidak jauh juga, tapi binar suka, dan ia harap ares juga suka menghabiskan malam bersamanya juga. "lo sukanya apa? suka makan apa? suka dengerin musik apa? terus apa yang lo suka dalam jalani hidup? because sometimes i don't feel like it, jadi tau sisi lain dari orang itu cukup buat gue."
"panjang amat."
"kalo ga mau jawab, ga usah dijawab, res, serius."
"outside, i like to go outside, nyari nafas kali ya, makan... semua makanan dimakan, kecuali durian dan sekawanannya." binar lihat ares mengernyitkan wajah begitu kata durian keluar dari mulutnya. "kalau musik, lagu sedih kali ya, semua lagu sedih gue dengerin, kayak sulung dari kunto. something i like in this life, maybe nge-date dalam mobil sambil jawab apa yang lo suka. simpel, gak buang duit dan tenang."
"stop... being like that. if you don't mean it."
"enak aja, i mean it." sebentar ares melirik wajah binar, barusan ia juga mengatakan binar cantik, lantas mengapa kupu-kupu ini tidak percaya, toh benar, binar secantik sayap kupu-kupu. "terus lo kenapa gak ngerasa gitu?"
mengedikan bahunya. dijawab pun, saat ini binar tidak punya jawaban di antara keduanya. suka atau tidak dengan hidupnya, apapun itu harus ia jalani juga.
"gue rasa, manusia kejebak dalam conscious-nya, and need to be waking up."
"you know being here is not that bad, alive. i fully understand what you mean, even if you don't feel like it, don't ever feel like you are stuck with it, maybe let the flow with it, berenang-berenang terus berenang seperti dory. keep swimming until you find the shore and rest."
"childish."
"i guess we are childish. human are childish." dari sekian malam, kali ini ares ada di saat yang tepat, mungkin kali ini juga malam tidak soal untuk istirahat dan tidur seperti manusia lainnya, bicara, sampai akhirnya mereka baru makan malam. “so if you want to do something you feel like doing, just do it, get through it. let me accompany you, we can have fun together, nabi.”
bagai malam lainnya, mungkin malam ini berbeda karena binar tidak sendirian di rumah, ada ares bersamanya. ada yang datang jadi teman bicara, meski hanya semalam, ada teman untuk binar membicarakan persiapan masakannya. ada ares yang kini mau bertanya soal apa yang ia suka. soal bagaimana cowok itu mau menemaninya sekarang.
malam ini buat binar merasa lebih baik dari sebelumnya.
"gue mau siapin bahan-bahannya, sebentar ya, res."
"okay." ares masih ada di dekat binar, biar cowok itu yang langsung mengeksekusi makan malam hari ini, potongan bawang yang disisihkan, lalu telur, tidak lupa juga dengan daun bawang. "lo sering masak?"
"sering. kalau rumah sepi, jadi gue masak makanan buat sendiri."
"oh, gitu."
"hm... iya, udah biasa juga. makanya kadang ditemenin kak cinta. yang tadi gue ceritain."
"oh kalian deket?"
"deket bangettt... udah jadi kakak sendiri, tapi sekarang dia udah punya pacar, jadi gue kadang ngikut bareng pacarnya juga, jadi plus one-nya kak cinta. tapi emang begitu sih, dari dulu." kak cinta, yang sejak dulu jadi teman binar, jadi kakak binar, bisa juga jari orang tua binar, karena semuanya kak cinta ada dalam kehidupan binar. pokoknya sebelum ada cinta yang orang-orang rasakan, kalau binar udah merasakan cinta dari kak cinta lebih dulu. disayang, dipeluk kalau binar takut dengan petir, ditenangkan kalau binar mimpi buruk. dari situ binar kenal soal cinta.
"bertiga?"
"iyalah. masa sendirian, res."
"maksudnya—"
"jadi nyamuknya mereka. emang lo mikir apa?" dengus binar sebel kalau diingat-ingat.
"kagak..."
"well, si milk itu udah otomatis jadi kakak juga."
"lucu banget kalian."
"gak,"
"kok gitu?"
"lagi ngambek."
"kenapa?"
"ga mau ah, males. masa gue cerita..."
"dari tadi yang kita lakuin apaan, kalau bukan ngobrol?"
"iya sih." binar pasrah dengan situasinya, karena dari awal kalau bukan karena ia akan habiskan waktu bersama ares, mungkin kak cinta tidak akan menyuruhnya untuk pulang lebih dulu. "ngambek sama mereka, karena awalnya gue juga hangout sama kak cinta, lo tau 'kan, pas tau lo ngajak gue makan, mereka nyuruh gue jalan bareng sama lo, tapi kita end up di rumah gue, bukan jalan-jalan."
"ohhh..., 'kan sama aja, jadinya berduaan juga."
"cuma mereka nih pinter dikit kek, ngusir adeknya gitu aja. kalau gue diculik gimana?"
"culik sama gue gitu?"
"huum." harusnya binar tutup mulut saja, karena lebih baik diam, daripada dilihat ares seperti ini. sampai cowok itu tidak berhenti menatapnya. "res?" tawa renyah terdengar dalam seisi ruangan.
"lucu? memang lucu. nyebelin banget sih."
"gue mau deh culik lo kalau semanis ini."
"ya, hadapi duo repot dulu. mau gak?" binar menantang ares, melirik tajam cowok yang duduk manis di hadapannya, menghela nafas panjang tapi sekarang fokus untuk beri ares makanan paling sering ia masak, dan berharap cowok itu suka dengan masakannya. "gak berani 'kan?"
"lebih ke gak mau ambil resiko."
"pinter." gumam binar, sambil menata nasi goreng yang biasa ia masak untuk dirinya, kadang juga kak cinta dan kak milk makan malam bersamanya. "ini untuk ares, pake telor setengah mateng 'kan. no salmonella detected because gue pilih telur omega tiga udah dipasteurisasi."
"thank you, madam."
"ga boleh bohong ya."
"iyalah."
"laper banget apa kak?" serius, binar tidak bisa membedakan apa yang ares rasakan, bahkan nasi gorengnya tinggal setengah sebelum tadi mereka tenggelam dalam sunyi lagi, makan, dan memutar star wars : a new hope.
"laper." senyum ares merekah, sambil melihat binar lekat-lekat, "rasanya persis rumah, sehangat itu, enak, gue jadi pengen nambah lagi." mungkin karena simpel, apalagi mereka hanya berduaan di dalam rumah, tanpa hiruk pikuk jalanan yang penuh polusi, saling bertukar kesukaan barusan di mobil, sekarang hanya berdua saja, menunggu makan malam bersama. hidup harusnya semanis ini.
sekali lagi ares mengejutkannya.
"masih ada di dapur..."
"makasih, binar." langkah cepat dari ares, yang kembali balik dengan senyum lebar lalu duduk di sebelahnya.
"serius enak? atau lo gini ga mau nyakitin gue? makanya dihabisin semua biar gue gak makan?"
"seriusan, binar. ini enak, mirip masakan rumah. lo trust issue banget..."
"sebelumnya gak ada yang gue masakin, lo doang. soalnya, makanya gue takut gak enak, buat gue enak belum tentu lidah lo sama 'kan,"
"oh." belum sempat menjawab kalimat binar karena mulut ares penuh dengan nasi goreng buatan binar. "you know, the way to a man's heart is through his stomach."
"haha." apapun yang bisa rasakan, dari saat menelan nasi gorengnya, sekarang melirik ares yang serius dengan makanannya, cowok itu tidak pernah buat binar untuk mengalihkan perhatian. jujur, dari awal memang perhatiannya sudah jatuh pada ares, atau mungkin binar duluan yang jatuh hati. lalu sekarang. mereka berdua, duduk di sofa empuk. "thank you."
"sound flirty, ya?"
binar mengangguk.
"nonton dan makan, jangan lihatin gue, kupu-kupu."
binar yang fokus dengan tontonannya, bersama juga ares yang duduk di sampingnya, perlahan menarik piring kosongnya yang sekarang cowok itu taruh di depan meja. entah apa yang binar rasakan, tapi kepalanya perlahan mendekat ke arah pundak ares dan istirahat di sana.
"thank you, udah habisin makanan yang gue kasih."
"i would love to eat every dish that you make for me."
"okay."
"okay."
malam masih panjang, tapi entah di antara mereka berdua kembali diam dalam kesunyian masing-masing, televisi yang masih memutarkan film jadi teman mereka, nafas binar yang kembali tenang, bahkan sedikit lagi bisa saja tertidur di atas pundak ares.
isi pikiran binar yang berlalu lalang, ares juga masih fokus menonton. "kak."
"hm..."
"ngantuk." membuat binar semakin tenang dan ingin dekat dengan ares di malam ini, mungkin hanya malam ini saja. "kak, what if i am not as pretty as butterfly that you thought about, what if i am the moth. and you got the wrong one."
"you are and always will be beautiful for me, then. i like you the way you are, binar. even a moth or butterfly."
"lo selalu gini ya?"
"apa?" binar cantik, mengapa harus ares sembunyi-sembunyi sebut binar cantik. “lo cantik, cantik banget… i find you attractive at first, i won’t waste my time to make a move, unless you don’t like me.”
“gue suka.”
“so we’re both attracted to each other.”
“hm.” sebelum akhirnya binar sadar, memang sikap ares terlalu manis. "dan lo, manis banget sikapnya, gentle, gue tebak, pasti penyayang juga, gak berani bunuh nyamuk, padahal udah digigit sampe bentol-bentol."
"not with my bare hands... pake raket listrik lah."
"nyebelin."
"bener tapi gak juga, kata orang, gue cuek. bener. bener. salah." menjawab semua tebakan yang binar ucapkan barusan, baru sebagian hal yang binar tahu soal ares, sebelum akhirnya mereka berada di ruangan yang sama, pulang bersama, baru kali ini.
"salah satu?"
"hm." jawab ares malas.
"bagus deh." makin lama binar bisa tertidur bersama ares, "gapapa salah satu, 'kan bukan ujian jadi pacar ares."
"emang lo mau ujiannya gimana?" tanya jenaka yang barusan dibuat dalam pikiran ares. memang benar harus ada cobaan apalagi yang binar lalui nanti.
"emang beneran ada ujian jadi pacar kak ares."
"ada, buat nabi. ujiannya sebutkan jenis kupu-kupu dan apa perbedaannya."
"yah... gak tau."
"kan, temen kamu semua, binar, harusnya tahu." ucap ares.
"pengen taunya, ares mau jadi pacarku atau gak."
"mau." singkat, jelas, tapi binar belum siap, sama sekali, bahkan hatinya masih terlalu kecil untuk memikul perasaan yang sebesar ini dengan tiba-tiba. lagi pula baru juga bertemu, udah bahas pacaran. tiada hari esok saja.
"KAK, PELAN-PELAN. jangan langsung begini. gak romantis banget lagi ngantuk."
"oh, okay, besok kita cari romantisnya." cari romantisnya, baru ares nanti pacaran dengan romantis.
"mau tidur..."
"selamat tidur, nabi."
