Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-26
Words:
835
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
23
Bookmarks:
1
Hits:
261

"Kamu Gapapa?"

Summary:

Ketika Yeonjun berpikir dunianya akan berakhir karena sebuah bola yang terlempar ke arahnya.

Untung saja ada Soobin yang menyelamatkannya.

Notes:

Hii this is my first time nulis ginian, jadi maklum kalo agak kurang hehe.

Work Text:

Hari ini cuacanya cerah, matahari bersinar terang, langit berwarna biru jernih tanpa terlihat satu awan pun. Suhunya pun nyaman, tidak terlalu panas yang dapat membuat orang merasa gerah dan juga tidak mendung yang membuat cahaya terasa gelap. Cuaca yang sempurna untuk melaksanakan masa jeda untuk anak-anak sekolah.

“Woyyy!! Beomgyu bisa tuu!!” sorakan Yeonjun menambah kehebohan teriakan dari anak-anak kelas lain yang sedang ikut meng-support perwakilan kelasnya yang sedang mengikuti lomba futsal. Salah satu pemainnya adalah teman dekat Yeonjun, Beomgyu, yang terlihat sedang bermain dengan senang di sana. Beomgyu dengan rambutnya yang terikat kebelakang oleh sebuah headband terlihat semakin keren dan sangar berlarian di lapangan mengoperkan bolanya menuju pemain lainnya.

Yeonjun tidak paham banyak mengenai perbolaan, dia hanya paham apabila sebuah bola masuk ke gawang artinya tim tersebut mendapat poin. Sehingga saat Beomgyu terlihat menendang bolanya pas masuk ke gawang, Yeonjun bersama teman sekelasnya langsung berteriak heboh “WOYYY BEOMGYU KEREN BANGETT!!” Yeonjun berteriak kencang melebihi teman sekelasnya dan mendapatkan jawaban jempol dari Beomgyu.

Yeonjun bersama kelasnya lanjut menonton dan bersorak terus menerus, sudah lewat beberapa menit dan sepertinya kelas mereka unggul. Yeonjun dengan gesit menonton pertandingannya dan berteriak kencang, tak paham apa yang terjadi tiba tiba dia melihat sebuah bola tertendang pas ke arahnya. “WOY TU BOLA KEMANA ANJENG,” terdengar jeritan dari salah satu pemainnya.

Yeonjun tak paham lagi apa yang terjadi, dia melihat bola putih dengan corak merah itu menuju semakin dekat ke mukanya. “LU NENDANG KEMANA?”, “HEH TU BOLANYA KENAPA KELUAR LAPANGAN??”, “WOY TU MAU KENA ORANG, WASITNYA MANA BANTU KEK,” hanya terdengar samar-samar suara teriakan dari lapangan.

Bolanya semakin dekat, semakin besar di mata Yeonjun. Dunia terasa berjalan pada slowmo, tapi Yeonjun tidak dapat melakukan apa-apa. Hanya terdiam melihat ke arah bola, sudah menerima takdirnya. Ia menutup matanya, siap-siap untuk terkena bola. Hal terburuk yang akan terjadi hanyalah pingsan kan? Atau mungkin kepalanya akan terbentur sedikit.. kepala Yeonjun sudah tidak bisa memikirkan solusinya lagi, dan dia hanya bisa menerimanya.

Ia memejamkan mata sudah siap menerima nasib, tetapi setelah beberapa detik dia masih saja tidak merasakan apa-apa. Dia memberanikan diri untuk membuka mata pelan-pelan, mungkin bolanya meleset atau kulit kepala Yeonjun sudah tumbuh tebal hingga ia menjadi kebal terhadap bola. Yang membuatnya terkejut adalah saat dia membuka matanya, dia tidak melihat bola melainkan sebuah punggung milik seorang lelaki. Lebih terkejut lagi saat dia memerhatikan punggungnya, besar sangat besar sekali. Mungkin jika Yeonjun berdiri di belakangnya tubuhnya akan tertutup sepenuhnya.

Saat pemilik punggung itu memutarkan badannya, mata Yeonjun terbelalak. Lelaki itu terlihat membawa di tangannya bola yang tadi hampir saja mengakhiri hidup Yeonjun. Namun, bukan bola itu yang mengejutkan Yeonjun melainkan wajah lelaki tersebut. Mungkin jika harus dideskripsikan Yeonjun, lelaki itu memiliki wajah terindah yang pernah dia lihat, tepat tipe Yeonjun.

Yeonjun hanya bisa menatap wajah lelaki tersebut tanpa berkedip, mengagumi seluruh bagian wajahnya. Dari matanya yang manis, terlihat khawatir menuju Yeonjun, hidung mancungnya yang mengingatkan Yeonjun akan hidung kelinci, bibir kecilnya yang merengut khawatir terlihat sangar gemas rasanya ingin Yeonjun dekati dan cipok sekarang juga, dan rambutnya yang berterbangan karena angin terlihat sangat lembut.

“Kamu gapapa?” saat lelaki itu mulai berbicara dan muncul lesung di pipinya, Yeonjun rasanya akan meledak di tempat.

Yeonjun baru menyadari ternyata sekelilingnya sudah menjadi hening, temannya yang tadinya bersorak sudah berhenti semua melihat ke arah Yeonjun. Bahkan pertandingan futsal yang tadi lagi heboh-hebohnya terhenti dan semua pemainnya berkumpul di satu sisi lapangan untuk menonton Yeonjun.

Menyadari semua ini, Yeonjun merasa malu dan menundukan kepalanya kebawah. Pipinya terasa panas dan berubah warna menjadi merah, apalagi lelaki di depannya yang masih menatapnya membuatnya semakin meleleh. Yeonjun terdiam tidak tau harus ngapain.

“Kamu… gapapa..?” terulang lagi pertanyaan lelaki tersebut, yang mengejutkan Yeonjun dan membuat matanya langsung menatap menujunya. Tanpa diketahuinya itu salah satu kesalahan terbesarnya, karena lelaki itu melihat Yeonjun dengan tatapan puppy eyes terlucu yang pernah Yeonjun lihat. Yeonjun sekali lagi gagal membalas pertanyaannya dan hanya menatap balik dalam diam.

“Mau.. ku bawa ke UKS..?” lelaki itu menanyakan lagi, selagi melempar bola yang ditangkapnya tadi menuju lapangan. Yeonjun akhirnya memberanikan diri, tidak mau menggantung lelaki di depannya “e..em… eh—” perkataannya tersangkut di tenggorokannya dan dia hanya dapat mengeluarkan gumaman kecil.

“Gapapa kan..? Apa kamu sampe gabisa ngomong? Waduh gimana nih, perlu ke rumah sakit..?” lelaki di depannya terlihat panik, mengarahkan matanya kemana-mana seakan mencari sesuatu.

“G… g–g—gak kok….” akhirnya Yeonjun dapat mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, merasa malu akan kegagapannya. “Bener?” lelaki itu memastikan, tidak percaya akan jawaban Yeonjun.

“B-bener kok.. gapapa, ga kena bola juga..” mata Yeonjun naik menatap sang lelaki berharap dapat memastikannya. Untungnya lelaki itu memercayainya, terlihat dari wajahnya yang menjadi lega dan tersenyum kecil. Yeonjun benar-benar gak kuat, senyuman sang lelaki rasanya sangat terang, bahkan mengalahkan sinar matahari yang terik. Yeonjun hanya bisa membalas senyumannya dengan senyum canggung dan sedikit anggukan.

“Kalo kamu kenapa-napa aku disitu yaa, jangan segan-segan!” kata lelaki itu selagi menunjuk ke arah tempat duduk para pengurus OSIS. Oh ternyata dia salah satu anggota OSIS. Yeonjun hanya membalasnya dengan mengangguk-angguk kepadanya dengan wajahnya yang masih merah.

Gawat, sepertinya Yeonjun jatuh cinta.