Chapter Text
“Woozi?”
Minghao mengernyitkan dahi seraya memperhatikan beberapa detail di lembar kertas dalam genggamannya sebelum menatap pria yang duduk di seberang meja.
“Itu … nama panggung.”
Minghao menelengkan kepala sedikit, yang langsung mendapatkan respons berupa dengusan pelan.
“Kenapa?” tanyanya agak ketus. Entah kenapa, ada rasa tak senang ketika mendengar dengusan itu.
“Ah, nggak. Kamu sampai begini,” Jihoon menirukan gerak Minghao yang menelengkan kepala, “pasti nggak percaya sama apa yang kubilang.”
Oh, batin Minghao. Masih ingat rupanya.
Sebuah pemikiran yang bisa dibilang lucu karena ia sendiri tidak berbeda. Setiap detail yang berhubungan dengan Lee Jihoon masih terpatri rapi dalam ingatannya.
“Kenapa ‘Woozi’?”
“Nama panggungku?” tanya Jihoon, yang langsung direspon Minghao dengan gumaman mengiyakan dan anggukan kepala. “Usulan dari anak-anak. Katanya, nama Jihoon terlalu cupu buat nama panggung pianis.”
Sekali lagi Minghao bergumam pelan. Ia bisa langsung membayangkan wajah Soonyoung, Seungcheol, dan Seokmin ketika Jihoon menyebutkan anak-anak. Dulu, ketika mereka masih dekat, Minghao pernah dikenalkan pada mereka. Tak jarang mereka nongkrong bersama juga.
“Kamu masih akrab sama mereka?” Yang ia maksud tentu saja bukan hanya tiga sahabat yang namanya ia sebutkan tadi, tetapi juga para pacar ketiga teman Jihoon itu. Setiap kali keempat sahabat itu berkumpul dulu, setidaknya ada salah satu pacar mereka yang terlihat.
Soohyuk sering terlihat ketika mengantar atau menjemput Soonyoung. Tak jarang, pria tertua dalam perkumpulan itu akan ditumbalkan sebagai sopir, meminjamkan mobilnya saat mereka bepergian bersama.
Seokmin, satu-satunya yang masih jomblo selama Minghao berkencan dengan Jihoon, tidak pernah terlihat membawa gandengan ketika mereka berkumpul. Terkadang ada beberapa nama yang disebutkan karena ketertarikan Seokmin yang berlebih, tapi tak pernah ada yang benar-benar dikencani.
Satu-satunya orang yang cukup sering Hao temui ketika kumpul bersama adalah Jeonghan, pacar Seungcheol. Dibandingkan Soohyuk, Jeonghan lebih sering mengikuti Seungcheol kemana-mana. Setiap kali Hao datang bersama Jihoon, pria berambut gondrong sebahu itu akan langsung mendekatinya. Mereka berdua cukup dekat hingga tak jarang janjian makan siang berdua.
Sayangnya, setelah hubungannya dengan Jihoon berakhir, pertemanannya dengan Jeonghan pun ikutkandas. Mereka tak lagi bertemu atau bahkan sekadar berkirim pesan. Ia terlalu takut untuk mengirim pesan lebih dulu, sementara Jeonghan memang dikenal tidak pernah menjadi orang pertama yang mengirim pesan kepada siapa pun.
Ketika akhirnya Minghao direpotkan dengan pembangunan dan pembukaan kafe, tak ada pesan atau undangan soft opening yang ia kirimkan kepada Jeonghan. Padahal, pacar Seungcheol itu lah yang pertama kali memberikan ide agar Minghao membuka kafe teh, minuman kesukaannya.
Belum pernah ada kafe yang khusus hanya menjual teh, kata Jeonghan saat itu. Pasti akan laku keras .
“Pastilah. Mereka udah seperti support system,” jawab Jihoon.
Jawaban itu jelas langsung membuat Minghao tersenyum tipis. Selama dua tahun berkencan dengan Jihoon dan diperkenalkan dengan teman-teman dekatnya, Minghao bisa melihat betapa solid pertemanan mereka. Jeonghan bahkan pernah bercerita bahwa sebelum berkencan dengan Minghao, Jihoon hanya pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Meskipun begitu, tak pernah ada masalah atau judgement di antara mereka.
Sepanjang pengetahuan Minghao, kedekatannya dengan Jihoon hingga mereka akhirnya berpacaran pun tidak ada hubungannya dengan jalinan asmara Jeonghan-Seungcheol ataupun Soonyoung-Soohyuk yang sudah ada lebih dulu. Mereka bahkan tidak mempermasalahkan Soohyuk yang jauh lebih tua daripada Soonyoung.
“Baguslah kalau begitu.” Kini Minghao bertanya-tanya, apakah support system itu juga memberikan dukungan terbaiknya ketika hubungannya dengan Jihoon berakhir?
“Omong-omong, soal jadi pianisnya gimana? Aku masih perlu ketemu sama manajer kafenya?”
Minghao mendengus seraya menggelengkan kepala pelan. “Di kafe ini nggak ada manajernya,” ujarnya seraya menutup kertas berisi data-data yang seharusnya sudah ia hafal di luar kepala.
“Oh? Trus gimana dong? Aku harus ketemu ownernya?”
Minghao menganggukkan kepalanya. “Sekarang juga kamu udah ketemu owner kafenya.”
Dan entah kenapa, melihat perubahan ekspresi cool Jihoon yang berubah terkejut terasa cukup menyenangkan.
==***==
“Aku kemarin ketemu Jihoon.”
Gerak sumpit Joshua yang baru saja hendak mengambil dumpling langsung terhenti. Minghao bahkan tak bisa menahan tawa ketika dumpling itu terjatuh dari sumpit dan jatuh ke dalam mangkuk jjampong-nya, membuat kuah terciprat.
“Di mana?” tanya Joshua tanpa menurunkan sumpitnya.
“Di kafe,” jawabnya seraya mengambil tisu dari kotak di atas meja, lalu menyerahkannya ke Joshua di seberang meja, “Itu, baju Hyung kena kuah.”
Joshua menerima tisu yang diberikan Minghao setelah meletakkan sumpit, lalu menggunakannya untuk menyeka noda merah di bagian depan kemejanya. “Kafe? Kafemu? Kafe The8?”
“Iya, kafeku.” Minghao dengan santai melanjutkan makannya.
“Kok dia bisa ke sana? Kalian kontak-kontakan lagi?”
“Hah? Nggak…” Minghao menghentikan makannya dan meletakkan sumpit di atas mangkuk. “Hyung ingat nggak soal usulan cari pianis buat di kafe?”
Pertanyaan itu langsung dijawab Joshua dengan anggukan kepala. “Kamu udah dapat pianisnya?”
Minghao juga mengangguk. “Ya itu, Jihoon yang daftar jadi pianisnya.”
Sekali lagi, Joshua menjatuhkan danmuji yang belum sempat menyentuh bibirnya ke dalam mangkuk.
“Aish, Hyung.”
“Dia jadi pianis sekarang?” tanya Joshua sambil menolak uluran tisu baru dari Minghao dan memilih menggunakan tisu yang sudah dipakai sebelumnya untuk menyeka noda lain di kemejanya.
Yang ditanya hanya menjawab dengan gumaman. “Katanya jadi pianis lebih mudah daripada jadi penyanyi di kafe karena nggak perlu banyak interaksi sama pengunjung. Dan dia bisa lebih bebas mainin lagu-lagu yang dia buat.”
“Dia udah nggak aktif sebagai produser lagi?”
“Masih. Tapi katanya dia butuh suasana lain supaya ada ide-ide baru.”
Ucapan itu diikuti oleh helaan napas dari kedua orang yang duduk berhadapan itu.
“Berat, ya?” tanya Joshua sambil meletakkan sumpit di atas mangkuk yang masih berisi setengah porsi. “Bagaimanapun juga, kamu masih sayang dia, kan?”
Minghao hanya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan itu. Mendadak, rasanya ada angin jahat yang berusaha merenggut oksigen di sekitarnya, membuatnya tercekat, menahan jalur udara di tenggorokannya, hingga paru-parunya terasa menyempit, dan pandangannya mulai kabur.
Jika pertanyaan itu dilontarkan padanya satu minggu yang lalu, Minghao masih bisa menjawab dengan penuh percaya diri, mengikuti egonya; bahwa ia sudah move on dan tak pernah lagi memikirkan pria yang sudah putus darinya tujuh bulan lalu.
Tapi setelah pertemuan mereka kemarin, semuanya berubah.
“Kayaknya dia kurusan deh, Hyung.”
==***==
Xu Minghao mungkin sudah gila.
Tak peduli berapa kali Joshua menanyakan kepastiannya menerima Lee Jihoon sebagai pianis di kafenya, keputusan Minghao sudah bulat. Bahkan, ia sama sekali tidak peduli ketika Joshua bertanya bagaimana jika nanti ada yang datang ke kafenya secara khusus demi menemani Jihoon.
Bukankah itu justru adalah hal bagus? Karena setidaknya, salah satu dari mereka sudah berhasil move on.
“Myungho-ya, tasku ini bisa dititipkan di mana?”
Tidak seperti Minghao, yang jantungnya terasa seolah melompat hanya karena nama Koreanya—nama yang dahulu sering digunakan Jihoon untuk memanggilnya—disebutkan begitu saja.
“Oh iya, aku lupa kasih tahu. Di sini ada loker karyawan.” Minghao berjalan ke arah sebuah pintu di bagian belakang kafe, membukanya, dan menunjukkan tangga menuju lantai dua.
“Di atas?” tanya Jihoon, yang masih berdiri di bagian paling bawah tangga.
Minghao, yang sudah mulai naik hingga ke pertengahan tangga, menghentikan langkahnya dan memutar badan. “Iya, pintu pertama di sebelah kanan.” Kakinya kembali melangkah naik setelah memastikan Jihoon mengikutinya. “Sebenarnya itu gudang keperluan kafe, sih. Tapi ada lokernya. Yang ini punya Jun, dan yang ini—”
Ucapannya terhenti ketika melihat pandangan Jihoon justru terfokus ke arah pintu lain yang setengah terbuka. Setengah terburu-buru, Minghao langsung menghampiri dan menutup pintu yang mengarah ke tempat tinggalnya itu.
“Sorry, aku lupa—”
“Kamu tinggal di sini?” tanya Jihoon setelah menatap ke arahnya. Minghao hanya bergumam mengiyakan dan menganggukkan kepala. “Sendiri? Atau sama—”
Minghao berdeham dan tersenyum tipis. “Sepertinya itu bukan pertanyaan yang perlu kujawab. Lokernya...” Sebelah tangannya terangkat menunjuk ke arah loker penyimpanan barang tanpa beranjak dari depan pintu yang baru saja ditutup.
Untungnya, Jihoon tidak cukup menyebalkan dan langsung berjalan menuju loker paling ujung, dengan sebuah kunci yang masih menggantung di pintu, tanpa bertanya lebih lanjut. Minghao sendiri memilih untuk bergeming, tak beranjak sama sekali dari depan pintu menuju kediamannya. Padahal, tak ada yang perlu disembunyikan dari apartemen mungilnya. Lagipula, ia percaya Jihoon bukan tipe orang yang akan mendesaknya lebih jauh ketika Minghao mulai merasa tidak nyaman.
“Omong-omong, aku betulan boleh memainkan lagu apa pun?” tanya Jihoon setelah menutup pintu lokernya dan kembali berjalan mendekati Minghao.
“Iya, boleh. Paling lihat momen aja, sih. Kalau sudah mulai gelap, mungkin lebih enak kalau main lagu yang beat -nya lebih pelan.”
Jihoon menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Tapi lagu apa pun nggak masalah, kan?”
“Aku percaya kamu kok,” Minghao menelan ludah dan menghela napas sebentar, “Hyung.”
Mendadak, lidahnya terasa agak kelu. Sudah terlalu lama ia tidak mengucap panggilan itu. Sejak pertemuan pertama mereka di kafe kemarin, lidahnya sebenarnya sudah cukup gatal untuk mengucapkannya.
Sebuah panggilan sederhana, tapi rupanya cukup membuat lawan bicaranya terkejut hingga menghentikan langkah dan berputar untuk menatap Minghao. Lalu tersenyum sebelum lanjut berjalan menuruni tangga.
Sial.
==***==
“Kok lu nggak bilang-bilang sih?”
Minghao yang sedang menuangkan teh ke cangkir pria di hadapannya menghentikan gerak tangannya sejenak. “Soal apa?”
“Pianis, lah. Apa lagi?”
Minghao mendengus pelan sambil meletakkan teko teh kembali ke atas meja. “Udah diceritain Shua-hyung, ya?”
“Ya iyalah. Lagian, sebelum gue jadian sama Shua, kan lu sahabat gue duluan. Ngapain lu malah cerita ke Shua dulu, sih!”
“Minum dulu coba, Gyu, biar sabar.”
Meskipun mendengus, Mingyu cukup penurut dan langsung meminum teh dari cangkirnya.
“Terus gimana? Beneran Jihoon-hyung?” tanya Mingyu tanpa menunggu lama setelah meletakkan cangkirnya.
Minghao menganggukkan kepala dan sedikit menghela napas. “Kebetulan yang nyebelin banget nggak, sih? Pas gue udah move on ...”
“Halah move on apaan. Lu mana ada move on-move on -nya,” sahut Mingyu sewot, yang hanya dibalas Minghao dengan tawa pelan. “Masih juga lu terima pula. Ada gila-gilanya dikit gue rasa.”
Minghao kembali tertawa, dan ketika tawa itu berhenti, keduanya terdiam, saling menatap. Bagaimanapun juga, ada sedikit peran Mingyu dalam berakhirnya hubungan Minghao dengan Jihoon dulu. Membicarakan tentang Jihoon di kafenya bersama Mingyu, dua jam sebelum pianis itu datang, terasa sangat aneh.
“Trus sejauh ini udah ngapain aja?”
Minghao mendengus. “Apanya yang ngapain aja? Kan gue ngurus kafe, dia main piano. Ya udah gitu doang.”
“Belum tahu kapan bakal balikan, gitu?”
“Goblok Kim Mingyu!” Minghao melemparkan gulungan tisu yang tadi ia gunakan untuk membersihkan air teh yang tumpah. Mingyu hanya tertawa dan mengambil gulungan tisu yang jatuh ke lantai.
“Lagian kalian dulu putus kenapa, sih?” tanya Mingyu sambil mengelap meja dengan tisu yang baru ia ambil.
“Lu tuh ya, sama aja pertanyaannya sama Shua-hyung.” Minghao yang baru saja menyandarkan punggung mendengus dan menggelengkan kepala.
“Soalnya kalian aneh. Dulu tiap gue ajakin double date sama Shua, kalian selalu nggak bisa. Trus tau-tau udah putus aja.”
“Ya kan dulu Jihoon-hyung lagi sibuk jadi produser. Gue juga masih banyak tugas kuliah.”
“Halah. Tapi lu masih sempet-sempet aja buat main sama geng mereka.”
Minghao hanya diam mendengar ucapan Mingyu. Dulu, ia memang sibuk mengerjakan tugas di tahun terakhir kuliah. Namun, setiap kali Jihoon mengajaknya jalan dan bertemu dengan teman-temannya, kebetulan Minghao sedang punya waktu. Sementara ketika Mingyu dan Shua mengajaknya, Minghao kebetulan sedang banyak tugas, atau Jihoon sedang ada deadline pekerjaan, sehingga hanya Minghao yang pergi sendirian dengan kedua sahabatnya.
“Ya udahlah, gue balik dulu, ya. Salam buat–”
Ucapan Mingyu terhenti ketika suara bel pintu kafe berdenting kencang, tanda seseorang masuk. Tatapan singkat ke arah pintu membuat Mingyu tersenyum lebar, sementara Minghao hanya bisa menendang kaki pria yang lebih tinggi darinya itu.
“Nggak usah aneh-aneh!” Minghao berbisik tanpa banyak menggerakkan bibirnya. Ia tahu betul bahwa Jihoon, pria yang baru saja masuk ke dalam kafe, sempat berdiri sejenak di dekat pintu, menatap ke arah mereka.
Jika saja Minghao mengenali pria yang lebih tua itu dengan baik, tentu ia bisa menebak apa yang tengah terlintas di pikiran Jihoon.
“Ahhh, Jihoon-hyung. Baru datang?”
Sayangnya, Minghao tak bisa menebak isi pikiran temannya sendiri, yang kini sudah berjalan ke arah pintu kafe dengan tas di genggaman.
“Mhm, kamu udah dari tadi, Mingyu?” tanya Jihoon dengan senyum tipis.
“Iya, sayang banget. Kalau Hyung datang lebih awal, kita bisa ngobrol banyak.”
“Nggak perlu,” potong Minghao, menyodorkan jaket Mingyu yang tertinggal. “Udah sana, nanti lu telat lagi.”
Setelah Mingyu pergi dengan tawa khasnya, Minghao masih berdiri canggung di samping Jihoon, yang juga tak banyak bicara. Ketika Jihoon berjalan menuju pintu belakang, barulah Minghao mengikuti.
“Masih akrab sama dia?” tanya Jihoon sambil menaiki tangga.
Minghao bergumam mengiyakan. “Kan dia teman pertamaku di Korea.”
“Dia masih pacaran sama–”
“Joshua-hyung? Masih. Kemarinan juga aku habis makan bareng dia,” jawabnya, menghentikan langkahnya di tengah tangga, karena Jihoon juga berhenti di depannya.
“Oh. Baguslah.”
Minghao tersenyum tipis. “Kukira Hyung udah nggak ingat mereka.”
“Ingat, lah.” Jihoon terdengar agak sewot sambil melanjutkan langkahnya hingga sampai ke gudang.
Minghao menyusul sambil tersenyum. “Kok tumben datang lebih awal, Hyung?”
Selama bekerja sebagai pianis di kafenya, Jihoon sebenarnya tidak pernah terlambat sama sekali. Namun, biasanya pria yang lebih tua dari Minghao itu datang tepat waktu atau lebih awal sepuluh hingga lima belas menit. Tidak pernah sampai satu jam lebih awal.
“Hmm, mau tuning piano dulu…”
Gerak tangan Minghao yang sedang membuka pintu menuju ke kediamannya terhenti.
Minghao tahu betul bahwa menurut laporan Chan kemarin, Jihoon sempat terlihat melakukan tuning pada piano di tengah penampilannya. Tentu saja Minghao percaya, karena Chan, pegawai kafenya, adalah mahasiswa seni musik. Oleh karena itu, jika sekarang Jihoon berkata datang lebih awal untuk tuning piano, ada dua kemungkinan: entah kemarin Jihoon belum selesai tuning, atau sekarang ia sedang berbohong.
Minghao memilih untuk merespons dengan, “Oh..”
Sebelum masuk ke rumahnya, ia sempat bertanya, “Mau makan siang dulu sekalian?”
Tahan dulu, jangan berpikir terlalu jauh. Alasan Minghao menawarkan makan siang adalah karena ia memang menyediakan fasilitas makan siang dan makan malam gratis untuk semua pekerjanya. Biasanya, ia akan menggantikan posisi pegawai kafenya sebentar agar mereka bisa menikmati masakannya. Jika terlalu ramai dan mereka tak sempat makan, Minghao akan memaksa mereka membungkus makanan.
Namun, sejak Jihoon bekerja di sini, tak pernah sekali pun pria itu mengambil jatah makannya. Selalu saja ia beralasan sudah ada janji makan malam dengan orang lain. Tapi sekarang, Jihoon tak punya alasan untuk menolak makan siang, kan?
Apalagi, selama sepersekian detik Jihoon sempat melirik pintu kediamannya yang sedikit terbuka. Minghao bertanya-tanya apa yang melintas di pikiran Jihoon. Apakah ia mempertimbangkan tawaran itu agar bisa melihat dengan siapa Minghao tinggal sekarang? Atau ia tak mau bersinggungan lagi dengan kehidupan pribadi Minghao?
“Nggak perlu, tadi aku sudah makan siang, kok.”
Oh, rupanya alasan yang terakhir.
“Okelah.” Minghao tersenyum tipis dan melebarkan pintunya. Namun, sebelum ia melangkah, terdengar suara memanggil namanya.
“Myungho-ya. Terima kasih tawarannya.”
“Sama-sama, Hyung.”
==***==
Sore harinya, ketika matahari mulai terbenam, Minghao mendengar suara riuh dari arah kafe. Di jam-jam seperti ini, biasanya ia memilih untuk tidak turun ke kafe sama sekali. Tak banyak pengunjung yang datang dan pergi. Kafenya memang ramai, namun lebih didominasi oleh orang-orang yang ingin bercengkerama lebih lama dengan pasangan atau teman sambil menikmati alunan piano.
Bagaimanapun juga, bukankah ia mempekerjakan Jihoon untuk tujuan itu?
Ketika suara riuh itu terdengar lagi, rasa penasaran mulai menggelitik Minghao. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan laporan keuangan yang harus ia kirimkan kepada ayahnya, dan berjalan turun menuju kafe. Sesampainya di tangga paling bawah, tepat sebelum membuka pintu menuju kafe, langkahnya terhenti.
Dengan jelas, ia bisa mendengar suara tawa Jihoon. Meskipun ada beberapa tawa lain terdengar bersamaan, ia mengenali suara tawa itu dengan baik. Tawa kecil disertai dengusan, kebiasaan Jihoon ketika sesuatu terasa menggelikan tetapi masih membuatnya sedikit malu.
Minghao baru saja membuka pintu menuju kafe ketika ia mendengar suara lain menyebut nama Jihoon. Tubuhnya mendadak membeku, terlalu takut untuk keluar dari persembunyiannya.
Suara seorang perempuan. Oppa. Pastilah seseorang yang cukup dekat dengan Jihoon. Minghao tidak mengenal banyak perempuan di sekitar mantan kekasihnya itu, kecuali satu orang.
Karena pintu sudah terlanjur terbuka, Minghao memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Semakin jelas terdengar tawa dan sapaan akrab dari perempuan yang sejak tadi sudah ia curigai.
Park Jihyo.
Perempuan yang dulu pernah menjadi alasan Jihoon begitu sibuk selama beberapa waktu hingga tak sempat menemuinya, meski saat itu Minghao sangat membutuhkan sosok pacarnya.
Pandangan Minghao yang tadinya tertuju pada keramaian, langsung beralih ketika tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Jihoon. Apalagi, pria yang lebih tua darinya itu sampai berhenti tertawa sejenak saat melihat ke arahnya.
Tak mau menjadi perusak suasana, Minghao hanya berjalan sebentar ke arah kasir, mengambil sebuah buku secara acak dari laci, lalu kembali naik ke kediamannya.
==***==
“Tadi gue sempet diceritain Chan.”
Ucapan Jun dalam bahasa ibu mereka itu langsung membuat gerakan tangan Minghao yang sedang mencatat pembukuan terhenti. Kedua matanya menatap curiga pria Cina yang sedang mengeringkan beberapa gelas dengan lap. Biasanya, ketika Jun mulai berbicara dalam bahasa mandarin seperti ini, artinya hanya satu: ia ingin menggosipkan salah satu pelanggan yang masih ada di kafe.
Namun, karena sekarang kafe sudah hampir tutup, kemungkinannya hanya satu: Jun berniat membicarakan satu-satunya orang selain mereka berdua yang masih tersisa di kafe, Lee Jihoon.
“Nggak usah aneh-aneh,” jawabnya setelah melirik sekilas ke arah sang pianis.
“Aku bahkan belum ngomong apa-apa, lho.” Tawa lepas Jun membuat Jihoon, yang sedang membersihkan piano, menatap ke arah meja kasir. Dengan segera, Minghao menundukkan kepala dan kembali fokus pada buku yang tadi sore ia bawa ke kamar.
“Kalau kamu sampai ngomong pakai bahasa Mandarin begini, berarti kamu mau ngomongin si pianis, kan?” tanyanya dengan suara pelan, nyaris berbisik. Meskipun sebenarnya tidak perlu, mengingat Jihoon tidak bisa bahasa Mandarin. Setidaknya, itu yang Minghao tahu.
Junhui mengangguk sambil tertawa kecil sebelum bertanya, “Jadi kenapa Chan kecil sampai menduga kalau kamu dan si pianis punya hubungan spesial?”
“Dia bilang apa?”
Belum sempat Jun menjawab, Jihoon sudah berdiri di seberang meja kasir. Meskipun Minghao sedikit terkejut dengan kehadiran pria bermarga Lee itu di hadapannya, ia berusaha terlihat biasa aja.
“Mau pulang sekarang?” tanyanya basa-basi. Biasanya, Jihoon akan langsung pulang tanpa menemuinya seperti sekarang ini. Kebingungan Minghao semakin bertambah ketika lawan bicaranya hanya bergumam dan melirik sekilas ke arah Jun.
“Nggak mau bungkus makan malam dulu, Woozi-ssi?” tanya Jun sambil meletakkan gelas terakhir yang sudah ia bersihkan ke rak.
“Bisa dibungkus?” tJihoon bertanya, membuat Minghao mengernyitkan dahi.
Minghao pernah menawari pria yang berzodiak sama dengannya itu untuk membungkus makan malam yang sudah ia sediakan, tapi tawaran itu ditolak. Sekarang, dengan wajah tanpa ekspresi, Jihoon justru menanyakan hal itu?
“Bisa, lah. Hari ini juga aku mau bungkus makan malam, kok. Hao masak kare, katanya,” lanjut Jun menjelaskan.
Minghao baru saja akan mengatakan bahwa Jihoon boleh saja menolak tawaran itu, mengingat dulu sang pianis pernah bilang bahwa ia tidak terlalu suka kare. Namun, Jihoon justru menjawab terlebih dahulu. “Oh, boleh kalau begitu. Kebetulan aku suka kare.”
Minghao menahan diri untuk tidak menyela, sejak kapan? Ia seolah tak lagi mengenali pria bermarga Lee itu, meskipun hubungan mereka baru berakhir sekitar tujuh bulan yang lalu.
“Aku siapkan dulu makan malamnya kalau begitu.” Minghao segera menutup buku dan menyimpannya di laci.
“Aku boleh ikut ke atas?” tanya Jihoon, sekali lagi membuat Minghao agak bingung.
“Tentu saja boleh.” Bagaimanapun juga, gudang sekaligus tempat loker karyawan berada di lantai atas. Namun, jika maksud Jihoon bukan hanya itu...
“Maksudku bukan…”
Sebelum Jihoon sempat berkata lebih jauh, Minghao langsung memotong ucapannya, “Iya, boleh.”
Ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Junhui untuk berspekulasi atau membuat teori lebih jauh. Lagipula, biasanya ia memang memberikan izin kepada karyawannya untuk masuk ke kediamannya. Tidak ada bedanya dengan Jihoon.
