Work Text:
“Akane udah ga ada, Ko,”
Sebenarnya bukan itu yang ingin dikatakan Seishu, tapi melihat ekspresi nelangsa lelaki di hadapannya sungguh meremat dada Seishu. Kenyataan bahwa Akane sudah tiada memang sulit diterima. Bagi Seishu, Akane adalah kakak tersayangnya. Namun entah bagaimana sosok Akane bagi lelaki ini, Seishu tidak bisa menggambarkannya. Tidak sanggup. Melihat Akane yang begitu diistimewakan, Akane yang selalu didahulukan, hanya Akane. Bahkan Seishu tidak yakin jika dia mati, lekaki ini akan memasang ekspresi yang sama seperti saat Akane tiada.
Seishu bahkan tidak yakin jika kabar kematiannya akan sampai di telinga Kokonoi Hajime.
Jalan cerita penuh nelangsa ini tidak seharusnya berlanjut. Kisah klasik, begitu biasa Seishu menyebut nasibnya. Cintanya pada Koko nyata, senyata Koko mencintai Akane.
Hampir seumur hidup Seishu diisi oleh Koko. Mengikuti kemana pun Koko melangkah. Menuruti semua nasihat Koko. Mendengar semua umpatan, keluhan, dan semua cerita penuh angan Koko terhadap Akane. Seishu lakukan semuanya semata agar dia bisa terus berada di samping Koko. Ironi sekali memang hidup Seishu.
Menahan jeritan penuh lara sudah biasa dilakukan oleh Seishu, bahkan sudah seperti kegiatan harian untuknya. Menekan perasaannya sedalam mungkin, sejauh yang dia bisa, agar tidak ada siapa pun yang menyadari akan perasaannya itu.
“Harusnya gue bisa selamatin Akane,”
Ah, iya, kenyataan ini lah yang harus Seishu hadapi.
Kokonoi Hajime berada di belahan dunia lain saat insiden tragis menimpa Akane. Seishu sudah berusaha melakukan semua hal untuk bisa menjangkau Koko. Tapi nihil. Kabar duka lah yang sampai pertama kali di telinga Koko saat Seishu berhasil menghubunginya.
Akane mengalami kecelakaan tunggal saat dia akan melakukan fitting baju pengantin. Di saat yang bersamaan Kokonoi Hajime sedang mengurus cutinya. Kurang dari dua bulan lagi seharusnya Seishu bisa melihat Akane secantik dewi di altar. Dan juga Koko.
Namun entah bagaimana sebenarnya skenario Tuhan.
Meski berat melihat Koko dan Akane menikah, tapi bukan ini takdir yang dia inginkan. Bukan dengan kematian Akane, apalagi dengan kekosongan Koko.
“Dokter udah berusaha, Ko. Maaf, gue…,” ini bukan air mata pertamanya. Seishu bahkan hampir tidak bisa lagi membuka kedua matanya dengan sempurna. Melihat Koko seperti ini, siapa yang tahan untuk tidak menangis?
Tidak ada jejak Kokonoi Hajime si manusia sempurna yang terlihat saat ini. Hanya tatapan kosong serta wajah kuyu yang seolah mencoba berteriak bahwa lelaki itu sangat kelelahan. Hilang sudah jejak Kokonoi Hajime yang jahil dengan senyum usilnya.
“Gue berusaha kejar semuanya Pi, gue ga mau sedikit pun kerjaan sialan ini ganggu gue sama Akane. Gue mau Akane—gue mau Akane bahagia,”
Habis sudah tenaga Seishu. Mendengar Koko seperti itu, meratapi takdirnya, tidak tertinggal satu pun tenaga untuk bisa Seishu menahan tubuhnya. Tidak juga dengan hatinya. Kepingan yang selama ini berusaha dia kumpulkan, satu persatu, hilang sudah. Seishu ambruk bersama dengan tangisnya. Bersama dengan perasaannya.
Kalau dengan keberadaan Akane saja, eksistensinya di hidup Koko tidak terlalu berarti, bagaimana sekarang? Akane membawa semua hal tentang Koko ke dalam peti matinya. Tidak bersisa.
Sungguh picik akal sehat Seishu. Seharusnya bukan ini yang dia pikirkan sekarang. Kematian Akane jauh lebih penting dari segala hal buruk yang menimpa Seishu.
“Inupi, gue—”
“Koko sori, gue mau bantu Ibu di dalam.”
Hanya melarikan diri yang bisa Seishu pikirkan. Biar saja Koko dan dukanya.
Memangnya hanya Koko yang menderita di sini?
*
Suara gemuruh yang saling bersahut sahutan, deru angin berlari tidak tentu arah, tidak cukup nyaring untuk bisa menutupi intonasi penuh kesengsaraan dari lawan bicaranya. Grafik yang menunjukkan keberhasilan atas usahanya selama ini, terasa tidak menyenangkan lagi untuk Kokonoi Hajime pandangi. Tidak sebelum beberapa menit lalu.
Manjiro hampir terdengar seperti menjerit di telinganya. Tarikan udara yang tidak sempurna di dadanya, membuat Koko bisa mendengar jelas kalau temannya itu berusaha keras untuk bisa bicara dengannya.
“Koko lo dimana!? Koko gue mohon lo ke sini sekarang! Ko, Inupi! Inupi—Inupi sekarat!”
*
Koko tidak pernah menyangka jika telfon dari Manjiro beberapa waktu lalu bisa membawanya melesat sejauh ini. Perjalanan udara ratusan kilometer dia lalui secepat kilat. Persetan operasional keselamatan. Koko hanya ingin raganya cepat sampai di destinasi yang dia inginkan.
Suara notifikasi di ponselnya tidak berhenti sedetik pun, mengabarinya selalu. Mendoakan keselamatan perjalanannya, juga mendoakan sosok yang memang harus mereka doakan.
Koko tidak ingat kapan terakhir kali dia memohon kepada entitas yang lebih agung daripada dirinya. Tapi kali ini Koko yakin, siapapun sosok itu, jika dia diminta untuk bersimpuh, akan dia lakukan. Apapun.
Demi Inupi.
Apa jadinya seorang Kokonoi Hajime tanpa Seishu? Tanpa Inupinya?
Satu windu Koko melewati duka bersama Inupi. Bersama melalui berbagai emosi. Ketidakpastian nasibnya, kesengsaraannya, rasa letihnya, hanya Inupi yang berada di sana. Koko bersumpah jika tiba saatnya dia untuk bahagia, Inupi adalah yang pertama. Inupi harus di sana bersamanya.
Bukan seperti ini.
Jangan lagi.
Lelaki yang selalu membersamai Koko selama ini adalah kehidupannya. Penentu arah hidupnya. Inupinya.
Kematian Akane memang mengerikan, tapi Koko tidak sanggup membayangkan dunianya tanpa Inupi. Lelaki yang penuh perhitungan, perhatian kecil yang hangat sekaligus nyaman, selalu mengedepankan akal sehatnya, bahkan rela jika harus mengorbankan dirinya sendiri. Seperti itulah Inui Seishu.
Koko mencintai Akane. Tapi hanya Inupi yang sanggup membuat Koko menggadaikan kehidupannya, segalanya, hanya untuk melihat Inupi bahagia.
Jangan seperti ini.
“Koko,” suara Mitsuya, bergetar.
Langkahnya seperti melayang, membawanya ke tempat di mana Inupi berada. Sorotnya terlihat nanar, bukan hanya kesedihan, Koko menderita. Siapa pun tolong lelaki ini untuk berdiri, kakinya tidak kuat.
Inupi mengendarai mobilnya dalam keadan mabuk. Lelaki itu kehilangan kendali, memilih menghajar pembatas jalan dengan mobilnya. Harusnya bukan masalah besar karena Inupi sama sekali tidak mengebut, tetapi truk dengan muatan ratusan kilogram memiliki skenarionya sendiri. Mobil Inupi terjepit di antara pembatas jalan dan truk. Hancur.
“Bangsat! Gak bisa ya gue titip Inupi sebentar aja ke lo semua!? Ini yang lo semua bilang lo sanggup!?” amarah menguasai Koko. “Ya Tuhan…, Inupi, gue—”
“Sei mabuk gara-gara lo,” Matsuno Chifuyu dan ketidakwarasannya dalam pemilihan waktu. “Berita lo sama cewek jalang yang lo sponsorin itu penyebab Sei kecelakaan. Ko, sebenarnya di mana, sih, nurani lo?”
“Maksud lo apa, bangsat!?”
Habis sudah kesabaran Chifuyu, tidak satu pun di antara mereka yang bisa menahannya. Chifuyu menarik kerah kemeja Koko, yang sudah lusuh, kini semakin tidak beraturan lagi bentuknya. Kepalan tajam Chifuyu menghunus sudut wajah Koko, menghempaskan tubuhnya ke lantai, juga meninggalkan jejak lebam seketika. Menyisakan tatapan ngeri dari siapa pun yang berada di sana.
“Gak cukup lo bikin Sei menderita selama ini!?” satu kepalan Chifuyu kini mendarat di hidung Koko. Darah segar mengalir dari sana. “Sei selalu ada buat lo, anjing! Gak sadar juga ya lo!?”
Memang tidak besar suara yang Chifuyu keluarkan, tapi terasa seperti gaungan di pendengarannya. Siapa yang tidak sadar? Soal apa?
Mitsuya mengulurkan tangannya untuk membantu Koko bangun. Jika menopang tubuhnya memang sesulit itu, namun setidaknya Koko tidak bersimpuh di lantai. Sementara Chifuyu ditenangkan oleh yang lain. Tidak ada satupun yang mau melihat aksi baku hantam di tempat seperti ini. Amarah siapapun harus diredakan.
Belum sempat Koko menggunakan pita suaranya untuk menyuarakan isi kepalanya, Mitsuya memberikan Koko sapu tangan. Untuk hidungnya.
“Akhir-akhir ini Sei banyak pikiran, Ko. Lo ga tau, kan?” Mitsuya memulai. “Ada problem yang lumayan bikin kita kelimpungan. Sei bahkan sempat kepikiran buat resign, ditambah gosip yang beredar soal lo,” tawa getir menutup prolog Mitsuya.
“Kenapa? Inupi gak pernah cerita—”
“Iya, ya, Seishu selalu gitu, kan?” tidak kuat menahan bobot kepalanya sendiri, Mitsuya menatap ujung sepatunya. Dadanya terasa ngilu. Sahabatnya terbaring lemah, entah apa yang kini Seishu pikirkan di alam bawah sadarnya Mitsuya tidak tau. “Tiap gue mau ngehubungin lo, Sei selalu larang gue, Ko. Sei selalu bilang lo sibuk, kerjaan lo segunung,”
Inupinya memang seperti itu, ya?
“Seishu sayang sama lo, Koko.”
*
Sayangku Koko,
Koko lo pasti ketawa and probably think “anjir surat apaan ini?!” iya, kan? Hahaha. Tapi sebenarnya ini opsi terakhir Ko, salahin Mitsuya. Ini saran sepenuhnya dari dia (Chifuyu juga ada, sih, Sebagian).
Gue berusaha maksimal banget Ko, surat ini gue jamin gue tulis pakai semua harapan terakhir yang gue punya. I am enveloped by the weight of a truth I can no longer bear to conceal. For years, I have carried within the depths of my soul a love so profound, so consuming, that it has become the very essence of my being. And yet, with each passing moment, it has remained unrequited—a silent ache that gnaws at the very fabric of my existence.
From the moment our paths first crossed, I knew that you were destined to hold a special place in my heart. Every smile, every fleeting glance, sent ripples of longing coursing through my veins, binding me to you in a bond that defied all reason.
And yet, as the years slipped by like grains of sand through an hourglass, I watched from the sidelines as you forged connections with others—each one a dagger to the heart, a reminder of the chasm that lay between us. I longed to reach out, to bare my soul to you in all its raw vulnerability, but fear held me back—a prisoner of my own insecurities, trapped in a web of doubt and uncertainty.
Kokonoi Hajime dan Akane, dua manusia yang paling gue sayang. Menurut lo gue bisa, ya, Ko? Lo yang selalu percaya kalau gue pasti bisa ngelewatin semuanya. Gue coba, Ko. And so, I watched in silence as you danced through life, oblivious to the love that burned like a wildfire within my chest. Each passing day brought with it a new wave of longing, a desperate yearning to hold you close and whisper the words I could never bring myself to say.
But now, as I stand on the precipice of a lifetime spent pining for a love that was never meant to be, I realize that the time for silence has come to an end. Gue ga bisa, Koko. Gue menderita. For even if my love for you remains unrequited, it is a love worth fighting for.
Koko, sayangku, know that you will always hold a special place in my heart—a love that burns brighter than the stars themselves, illuminating the darkest corners of my soul. Though our paths may never intertwine in the way I had hoped, know that I will always cherish the moments we shared, however fleeting they may have been.
With all the love that beats within my chest,
Inupi.
*
Seishu menolak untuk Kembali. Berkali-kali Koko berusaha, di saat yang bersamaan juga Seishu enggan. Kecelakaan yang dialami Seishu menyebabkannya tidak bisa menggunakan hampir seluruh tubuhnya. Jadi untuk apa lagi dia bertahan?
Meskipun Koko bersumpah akan selalu bersamanya, terdengar menyenangkan. Tapi tidak, sejak awal pun Koko bukan miliknya. Tidak pernah menjadi apa pun yang terdengar berharga di telinganya. Koko dan Sei kebetulan hanya lah teman. Hubungan mereka terperangkap sampai selama itu karena kematian Akane.
“Inupi pasti selalu mikir yang jelek-jelek soal gue, ya?”
Mitsuya tertawa pelan, “Justru kebalikannya. He adores you, Koko.”
“Inupi gak pernah ngomong soal perasaannya ke gue, Mitsuya,”
“Lo gak pernah kasih Sei kesempatan Ko. Sei berusaha untuk ngomong soal perasaannya ke lo, penyesalannya, tapi Kokonoi Hajime, nih, kayaknya sibuuuk banget,”
Entah bagaimana Koko membalasnya ucapan Mitsuya. Tidak ada pembelaan dari dirinya. Koko mengakui waktunya bersama Inupi terasa sangat sempit. Bukan karena keadaan, tapi Koko yang membuatnya seperti itu. Dukanya karena Akane sedikit banyak memengaruhi langkahnya setiap mengambil keputusan. Kakak beradik Inui itu terlalu mirip, Koko tidak mau membuat Inupi nelangsa karena kebodohannya.
Namun, justru keputusannya ini yang membuat Inupi menyerah.
“Lo sayang Sei?”
Pertanyaan Mitsuya membuat Koko berpikir, sebenarnya perasaan yang bersemayam di dadanya ini apa. Bertahun-tahun Koko biarkan tanpa berusaha mencari jawabannya. Membiarkannya tertanam di sana, bertunas, dan sekarang terasa rimbun. Penuh sesak.
“Kalau lihat lo begini, somehow bikin gue mikir kalau perasaan Sei gak bertepuk sebelah tangan.”
Koko tersenyum pahit.
“Asumsi lo ga salah, Mitsuya.”
