Work Text:
"Chae Bonggu, kau sudah gila ya?"
Bonggu tersentak, jemari lentik yang sedari tadi sibuk sendiri dengan kuali besar di hadapannya terhenti seketika.
Do Eunho; sang musuh bebuyutan, tengah berdiri di pintu masuk kelas ramuan -yang tentu saja membuat atensi seluruh murid kelas teralih padanya.
"Apa?" tanya Bonggu dingin, kembali mengaduk cairan di hadapannya sampai berbuih. Tak berniat sama sekali beradu pandang dengan beater andalan Gryffindor itu.
"Masih bertanya?" tanya Eunho sinis, dengan cepat mendekati Bonggu di pojok ruangan. "Menyebar aroma tubuhmu ke seluruh kelas, apa maksudmu? Mencari perhatian?"
Bukan teriakan kesal atau intonasi menyebalkan yang Eunho dapat seperti biasanya jika menganggu Bonggu, ia malah mendapat tatapan aneh -terkejut- dari si pemuda cantik.
Uh-oh, tidak hanya Bonggu yang menatapnya seperti itu. Seluruh kelas kini juga menatapnya dengan padangan yang sama sekali Eunho tidak mengerti.
"Apa? Kenapa kalian menatapku-"
"-Eunho"
Yejun -sesama anggota Quidditch Gryffindor- membuka suara. Memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik di kelas itu.
"Kau tau cairan di berbuih yang ada di hadapanmu sekarang?"
Pertanyaan Yejun membuat Eunho semakin kebingungan. Menatap lekat cairan di dalam kuali milik Bonggu yang kini berubah warna menjadi biru pekat.
"Entah?" Eunho menaikkan satu alisnya. "Felix felicis? Veritaserum? atau-"
"-Amortentia"
Suara bariton milik Bonggu membuat ocehan Eunho terhenti, balas menatap Bonggu di hadapannya.
"Amortentia , Do Eunho" lanjut Bonggu. "Cairan di kualiku ini, bernama Amortentia, kelasmu sudah mempelajarinya minggu lalu, kan?"
Eunho hampir mengeluarkan argumen nya -lagi, hingga sekelebat ingatan tentang ramuan ganas yang ia pelajari minggu lalu itu muncul di dalam kepalanya saat itu juga.
"Amortentia, ramuan cinta terkuat yang pernah ada di dunia sihir. Memiliki aroma yang berbeda untuk setiap orang, mengingatkan dengan apa yang mereka temukan menarik perhatiannya-"
Oh shit.
Demi merlin, Eunho berharap bisa ber-disapparate saat itu juga.
