Actions

Work Header

Woy, Maling!

Summary:

dua orang bego yang seumur-umur belum pernah punya pacar. tapi keliatannya sih saling suka.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"gini aja, kamu anterin roll film kita, kamu pastiin jangan sampe filmnya putus tengah-tengah, setelah itu aku kasih tau nama aku".

Kalimat itu adalah motivasi Joni untuk berlarian di tengah terik kota Jakarta, demi balikin roll film tepat waktu ke bioskop. Setelah serangkaian kejadian yang dia alami-- dari yang biasa aja sampai luar biasa--terus saja ulur-ulur waktu Joni menjemput jodoh, gebetan, cinta, yah... sama sajalah. Joni mengecek jam tangannya, 11.10, dua puluh menit lagi

Selain karena janjinya ke cewe cantik tadi, Joni juga sebenarnya gak mau membiarkan rekor satu tahun penuh tanpa terlambatnya hangus gitu aja. This is his legacy!

Joni menyebrangi perempatan lampu merah, 13 menit lagi

Joni menyusuri lorong lorong bekas pasar pagi, 5 menit lagi

Saat melewati jajaran pedagang asongan familiar di sebelah bioskop tempatnya bekerja, Joni yakin ia sudah gagal.

"Iya mas, filmnya putus tengah jalan, roll filmnya udah abis jadi pada pulang semua, masih sisa dikit si tu didalem", kata penonton yang baru keluar bioskop.

Hembus nafasnya kasar, pengantar roll film itu duduk di tangga lobby bioskop. Joni mengusak surainya sendiri yang dia rasa udah bau apek terkena sinar matahari. Cewe cantik tanpa nama itu udah pergi. Namanya akan jadi misteri selamanya bagi Joni.

"Ampun deh, Jon. Jadi alesan lu telat itu gara-gara motor lu dicuri, terus nemenin istri supir taksi ngelahirin, pas berhasil kabur disuruh jadi cameo film drama, dicopet, jadi drummer dadakan band indie, akhirnya dikibulin sama seniman palsu? Sekalinya telat lu langsung jadi ga waras gini, Jon."

Joni sih cuman bisa nyengir aja. Ya mau gimana lagi ya kan.

Joni memutuskan pulang sambil lesu, tapi pulangnya lewat pintu belakang. Soalnya pintu masuk depan lagi rame penonton malem-malem gini. Lagian namanya juga pintu masuk dan bukan pintu keluar.

Begitu dia keluar, Joni melihat Voni, cewe maling tapi baik yang lagi sembunyi, mengintip pintu masuk, kaya lagi mencari sesuatu, atau seseorang? gatau deh.

"Dorr!"

"AJWTDJZLS TOLO--Eh, Jo-joni?? lu lagi ngapain disini?"

"Lah, ini kan kantor gue? Lu ngapain?"

"Oh gue... gue mau... emm, gue mau bilang terima kasih sama lo, berkat lo band kita bisa lolos audisi, gue juga lolos dari kejaran warga meski lu jadi ikut keseret dikira maling, dan lu mau temenan sama adek gue. Padahal kita cuma strangers buat lo".

"Oh santai aja Von, gua seneng kok bisa bantu lo".

"Haha iya.."

"..."

"..."

"..."

"Kalo gitu gua duluan ye, tiati, lo sebaiknya jangan sering keluyuran malem malem gini, bahaya"

"Jon,"

"Ya?"

"G-gue sebenernya... bukan mau bilang terima kasih kesini".

"Terus mau apa?"

"Gue kagum sama lo, gue tau kita baru kenal bahkan belum sehari, tapi dalam waktu sesingkat itu aja, gue ngerasa... seneng dan aman. Kalau boleh, gue pengen jadi temen lo Jon..."

Liat Voni yang wajahnya kesorot lampu jalan dan pipinya ada semburat merah gitu, bikin Joni mikir, mungkin tuhan punya rencana beda buat dia.

Mungkin, ada baiknya Joni telat mengantarkan roll film hari ini. Ada baiknya Joni ikut temenin ibu-ibu muda yang ngelahirin di halte, sukarela jadi cameo dadakan buat bantu artis naik daun, dicopet roll filmnya sama Voni, jadi drummer buat band jalanan Voni yang mau audisi meski cuma demi dapetin roll filmnya balik.

Karena di momen Joni bersembunyi dalam tong penyimpanan sayur yang gelap sama Voni, diterangi korek api Joni yang tinggal sedikit lagi sumbunya. Tukang roll film itu ingat dia melihat semburat merah yang sama di pipi Voni, dan Joni juga ingat cuma detak jantungnya sendirilah yang bisa dia dengar saat itu.

"Hari minggu nanti gue boleh temenin band lu tampil depan sponsor?"

Voni mengangguk antusias. Betul-betul bahagia bukan kepalang.

Notes:

thx sm for reading, ive been spending the last 30 min tryna upload the scene images but nvm i gave up