Actions

Work Header

dua arah mata angin.

Summary:

Sejauh yang ia ingat, Jihoon selalu enggan ketika disuruh untuk memilih di antara dua hal yang berarti baginya. Ia enggan memilih di antara Mami atau Papi ketika mereka memutuskan berpisah saat Jihoon masih kecil. Ia juga enggan harus memilih siapa di antara dua kucingnya---Thomson dan Thompson---yang paling ia sayangi.

Jihoon enggan memilih di antara dua ruang ketika ia bisa berdiri sendiri. Tidak pernah ada barat atau timur sebelumnya. Tidak pernah ada yang mengusik pijakan kakinya.

Namun itu dulu, sebelum langit memutuskan untuk mengetes sekokoh apa pijakan yang Jihoon ambil.

[update: discontinued]

Notes:

wow, udah lama banget ga nyentuh ao3...

hi, hope yall still here. aku bawa fic seokhoonsol lanjutan seri 0 km. dan karena ini lanjutan, tentunya ada beberapa hal yg nyambung sama cerita kakak-booboo. ga banyak kok, tp jelas nyambung. so... yg belum baca, aku rekomendasiin untuk baca seri mereka dulu sebelum baca ini yaa, hehehe.
(link dr seri ada di atas, atau bisa cek profileku ya~)

happy reading <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Jihoon sudah kaya. Uangnya lebih dari cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan orangtuanya, pengetahuannya lebih dari cukup untuk mempertahankan posisinya di perusahaan, karirnya cukup untuk menjadi kebanggaan. Jihoon sudah kaya, akan dirinya sendiri dan segala sesuatu yang memenuhinya.

Tapi sekaya apapun Jihoon tidak akan pernah cukup untuk mengisi satu kekurangan yang masih hinggap di pundaknya, khususnya di mata Mami. Ibu satu anak yang menjadi sosok pertama yang mengajarkan Jihoon soal apa itu kasih sayang, dan juga soal tanggung jawab, dan juga soal kejamnya waktu yang kerap mengejar manusia. Seharusnya Jihoon sudah tidak kaget lagi ketika Mami bertanya pertanyaan sakral di usia Jihoon yang sudah menginjak kepala tiga.

“Kamu ga bosen gini-gini aja?”

Jihoon mengenal Mami lebih dari siapapun di rumah ini. Well, selain karena fakta bahwa hanya ada mereka berdua di bawah atap itu, Jihoon sangat tahu kalau bukan pertanyaan barusan yang sebenarnya ingin Mami lontarkan. Anggaplah bahwa itu hanya pertanyaan yang sudah melewati proses copy edit berkali-kali. Ada banyak maksud terselubung dari runtutan lima kata itu.

Kamu ga mau menikah?

Umur kamu udah masuk kepala tiga, loh.

Ga mau punya anak?

Ga ada yang cocok atau kamu banyak pilih?

Mami udah tua loh, Hoon.

Dan lain sebagainya. Tapi ia juga tahu, Mami terlalu baik untuk bisa mengutarakan yang sebenarnya. Meskipun gaya acuh tak acuh yang selalu ia pakai selama puluhan tahun mendidik Jihoon kerap kali membuat anaknya harus penuh sabar menghadapinya, Mami mana tega menyakiti hati anak semata wayangnya lagi. Khususnya di perkara yang satu ini. Topik paling sensitif di dalam keluarga mereka, lebih sensitif dari apa yang keluarga lain bisa bayangkan.

“Gimana, Mi?”

“Hoon ga ada niat punya hubungan serius?”

Ah, sial. Sereal cokelatnya terasa lebih pahit dari biasanya. Lebih lembek dari biasanya. Lebih kecil dari biasanya. Ia mengaduk kumpulan sereal basah itu seakan sedang mencari sesuatu di dasar mangkuk. Tidak Jihoon, tidak ada pelarian di dasar mangkuk sereal lembek.

“Calonnya aja ga ada, Mi.”

“Ga ada? Lah Hansol itu apa?”

Ada suara aneh yang keluar dari mulut Jihoon akibat terlalu cepat menyeruput susu di atas sendok. 

“Bukan calon pacar.”

Dahi Mami mengerut. “Jadi selama ini dia ke rumah tuh bukan karena kalian pacaran?”

“Ga gitu—”

“Jangan mainin perasaan orang gitu ah, Hoon. Mami ga pernah ngajarin kamu begitu. Iya, iya, engga, engga. Jangan kasih harapan kalo kamu ga yakin.”

Itu masalahnya. Apakah selama ini Jihoon memberikan harapan tertentu kepada Hansol? Apakah Hansol memberikan harapan tertentu kepada Jihoon?

Tidak.

Dan tidak.

Setidaknya itu yang ia rasakan selama mengenal Hansol. Mereka selalu berada di dalam hubungan yang baik tanpa ada tuntutan satu sama lain. Memberi rekomendasi tempat makan jika mereka menemukan spot baru, bertukar cerita, bertukar keluhan, hangout. Simpel dan wajar.

Tapi kenapa rasanya seperti ada yang mengganjal di dada dan kerongkongannya setelah Mami meninggalkan pertanyaan itu untuk mengelilingi Jihoon? Seperti ada yang luput dari pengamatan tajamnya.

Jadi selama ini dia ke rumah tuh bukan karena kalian pacaran?

Apa Jihoon pernah salah bicara? Apa ada yang salah dari cara ia mengenalkan Hansol ke Mami waktu pertama kali?

Kalau diingat-ingat kembali, semua terasa biasa saja. Waktu itu weekend di musim hujan. Ia dan Hansol ada janji untuk mengisi waktu kosong di akhir minggu dengan menyambangi beberapa pameran seni di Jakarta Pusat. Hansol sudah menceritakan pameran-pameran itu selama beberapa hari belakangan, dan rasa antusiasme dari pria itu tidak pernah menurun pada setiap ceritanya, jadi Jihoon setuju untuk ikut serta.

Waktu di dashboard mobil menunjukkan pukul 18.00 ketika mereka selesai menghadiri pameran seni yang kedua. Masih ada dua lagi dari rencana semula, tapi karena sore itu air sudah menetes dari langit kelabu Jakarta, mereka memutuskan untuk menyudahi kunjungan.

Jihoon sedang mendengarkan interpretasi Hansol soal karya-karya seni yang mereka lihat di dua pameran dengan dua konsep yang berbeda ketika Mami mengirim pesan agar Jihoon mampir ke rumahnya sebentar sekaligus membelikan Mami buah untuk sarapan esok hari. Untungnya, Hansol tidak keberatan soal itu. Jadi mereka mampir ke pasar swalayan terlebih dahulu untuk melakukan apa yang Mami pinta dan langsung bergegas ke rumah Mami setelahnya.

Benar-benar biasa saja. Hansol memberi salam kepada Mami yang tersenyum sumringah. Mami sudah tau soal eksistensi Hansol di hidup Jihoon. Ia juga kerap kali menceritakan soal Mami kepada Hansol, soal orang tuanya yang berpisah ketika Jihoon masih kecil, atau sekadar kisah-kisah yang menurutnya unik selama hidup berdua saja dengan Mami, tapi mereka—Hansol dan Mami sama sekali belum pernah bertatap muka sebelumnya.

Seingat Jihoon tidak ada yang aneh dari pertemuan itu. Mami menjamu Hansol layaknya beliau menjamu teman-teman Jihoon yang pernah Mami kenal. Bercengkrama, membicarakan banyak hal—mulai dari yang paling basa-basi sampai yang sedikit lebih serius seperti soal pekerjaan. Semua lancar, bahkan sampai ketika Hansol berpamitan untuk pulang ke rumahnya setelah makan malam.

Lalu apa? Apa yang membuat Jihoon begitu gelisah?

“Maaf telat. Udah jalan tapi putar balik lagi karena iPad ketinggalan.”

Jihoon tersadar dari lamunan akibat suara seseorang hadir pada sofa di hadapannya. Seorang pria jangkung duduk di sana. Rambutnya sedikit berantakan dan kacamatanya sedikit turun dari tulang hidung. Setelah menyadari siapa sosok itu, Jihoon mengangguk.

Wonwoo sudah izin untuk sembari mengerjakan pekerjaan kantor sesampainya ia di kafe. Bukan pekerjaan berat katanya, hanya mengecek QC terakhir buku-buku yang akan rilis bulan depan. Temannya memang begitu. Bahkan dulu ketika mereka masih satu cabang, Wonwoo dikenal dengan memiliki cara kerja yang anti mepet deadline. Pria itu sebisa mungkin memberikan notice beberapa hari lebih dulu dari editor biasanya kepada para penulis atau pihak lain yang bekerja dengannya.

“Lagi sibuk apa lo?” tanya Wonwoo sembari mempersiapkan perangkat kerjanya.

“Ada proyek Japanese literature kan tahun ini.”

“Ah, iya. Beberapa rilisan lokal jadi dialihin ke cabang gue.” Wonwoo meringis. “Pening banget, ya?”

Jihoon ikut tertawa meringis. “Iya pening. Udah ada satu penulis yang tiga bukunya lagi proses cetak. Tapi masih berkutat sama legal matters karena Ibu request untuk diadain versi digitalnya sedangkan… well, lu tau persoalan copyright di sana gimana kan? Jadi gue masih harus banyak belajar lagi. Gue ga mau ada yang terlewat karena harus ngajarin ke tim gue nantinya. Belum lagi kerjaan lain yang ditanggung tim juga tetep jalan, so….”

“Bukannya ada yang udah biasa akuisisi buku Jepang di tim lo?”

“Udah resign tahun lalu, tim gue sisa dua orang sekarang.”

Wonwoo meringis lagi. “Semangat deh.”

Alih-alih antusias, pria itu justru berkata dengan nada prihatin. Seakan malah bersyukur kalau ia tidak ada di posisi Jihoon. Tapi memang hanya itu yang bisa dilakukan Wonwoo. Pekerjaan Jihoon sebagai ketua tim adalah tanggung jawab Jihoon. Seberapa dekat ia dengan Wonwoo di dalam dan di luar kantor tidak akan mengubah apa-apa. Jadi Jihoon hanya balas tertawa kecil sembari bercanda, “iya, iya, makasih.”

“Kalau butuh orang dari cabang gue bilang aja, ya. Nanti gue omongin.”

“Cih, mentang-mentang udah punya kuasa.”

Cibiran Jihoon yang satu itu hanya dibalas tawa tipis oleh Wonwoo. Detik berikutnya, nama Jihoon dipanggil oleh barista karena pesanan kopi mereka sudah siap diambil. Jihoon melangkahkan kakinya ke meja order, mengambil dua kopi pesanannya, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Sekembalinya ia ke meja, Wonwoo sudah berkutat dengan pekerjaannya dengan mata terfokus ke iPad.

Jihoon menggunakan momen itu untuk mengecek ponselnya. Ada banyak notifikasi pada bar di atas. Kebanyakan berasal dari e-commerce yang terpasang di ponselnya, beberapa notifikasi e-mail, satu notifikasi dari bawahannya soal deal copyright salah satu buku terjemahan, dan satu notifikasi pesan lain yang seketika menyita fokusnya.

Hansol: lagi kosong ga?

Nah, itu dia. Topik utama weekend ini. Yang menjadi penyebab cepatnya Jihoon berinisiatif untuk membuat janji temu dengan Wonwoo di kafe tepat ketika temannya mengabari kepulangannya ke Jakarta kemarin sore.

Seketika dada Jihoon berdebar lebih cepat daripada biasanya. Entah karena kafein yang ia sesap atau karena rasa gusar yang terlalu gamblang menguasai dirinya.

“Won.”

“Hm.”

“Menurut lo gue perlu punya pacar, ga?”

Wonwoo mendongak. “Gimana?”

Jihoon menaruh gelas kopinya di atas meja. Wonwoo tidak tahu, tapi kaki kanan Jihoon yang ada di bawah meja tidak bisa berhenti bergerak sejak tadi. Kebiasaannya sejak kecil kalau ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

“Ya… gue udah umur segini?”

“Lo ngerasa butuh buat punya pacar, ga?”

Jihoon menimang-nimang sebentar sebelum menjawab, “perlu ga perlu sih.”

Ada hening di antara mereka berdua untuk beberapa saat. “Ada apa deh?” tanya Wonwoo pelan, “Mami, ya? Udah tanya macem-macem?”

Jihoon menghela napas dalam sebelum kemudian mengangguk. “Tanya soal Hansol.”

“Puft.”

“Anjing lu, ya.”

“Engga, engga.” Wonwoo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. Perangkat kerjanya ia singkirkan ke sisi sebelah kanan. Kedua tangannya terlipat di atas meja layaknya orang yang ingin berkata serius. Tapi Wonwoo tidak sedang serius, sudut bibirnya tidak bisa menahan cengiran jelek sejak Jihoon menyebutkan nama Hansol. “Lo ingat ga beberapa tahun yang lalu kita ada di kondisi ini juga? Di pantry kantor? Bedanya gue yang lagi ada di posisi lo itu.”

Iya, iya. Jelas Jihoon ingat. Itu pertama kalinya Wonwoo membuka diri ke orang lain soal kehidupan pernikahannya yang aneh. Jihoon tidak sengaja tahu akibat kebodohan Wonwoo sendiri. Dan dengan secepat kilat ia tidak mau kehilangan momen untuk langsung menginterogasi temannya itu. Mengorek segala yang bisa ia dapatkan sampai ke akar yang paling dalam. Untungnya Wonwoo tidak keberatan, dan karena momen itu pula hubungan Wonwoo dengan suaminya semakin membaik. Bisa dibilang itu adalah awalnya. Jihoon dengan bangga mengambil kredit atas itu.

Siapa sangka mereka berdua akan berada pada situasi yang sama dengan posisi yang berbeda. Kali ini dunia terbalik. Posisi rantai makanan sudah berganti. Wonwoo predatornya dan Jihoon mangsanya.

Jihoon menyeruput kopi miliknya. Pahit, asam, manis, creamy, dan dingin. Jantungnya berdegup semakin kencang pada tiap teguk kopi yang ia telan.

“Lo ngerasainnya gimana?” tanya Wonwoo tiba-tiba.

“Rasa apa?”

“Ke Hansol? Bareng Hansol? Berduaan sama Hansol?”

Nice. Hansol anak baik, lucu, ga banyak tingkah.

“Oke aja sih.”

Satu alis Wonwoo terangkat heran. “Oke… terus?”

“Yaudah.”

“Yaudah?”

“Iya, yaudah.”

“Yaudah emang lo ga kepikiran mau punya hubungan sama dia, ya?”

Jihoon menggerung. “Emang salah kalau begitu? Emang salah kalau gue belum mau punya hubungan romantis?”

“Ya ga salah.” Jari-jari Wonwoo mengambil cangkir di depannya kemudian menyesap isinya dengan perlahan. Semua gerakan Wonwoo bergerak dengan sangat perlahan seakan hanya ia yang tenang di sini dan Jihoon kelabakan sendiri. “Tapi udah tanya belum ke Hansol soal dia maunya gimana?”

Ralat. Itu baru masalahnya. Masalah yang mengganjal kinerja akal sehatnya.

Jihoon dan Hansol tidak pernah membicarakan apapun soal ini. Soal hubungan mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mencoba membuka pembicaraan.

Tapi, jika dipikirkan lagi, disitulah letak sulitnya. Hubungan mereka terlampau… natural. Mereka saling kenal karena masing-masing teman baik mereka terikat pernikahan dengan satu sama lain. Perkenalan mereka juga tanpa ada kesan khusus. Di kantin kantor! Karena dua orang bodoh—Wonwoo dan Seungkwan—lebih memilih makan siang dengan rekan kerja masing-masing—Jihoon dan Hansol—ketimbang makan siang berdua layaknya sepasang suami yang bekerja pada satu grup perusahaan yang sama. 

“Menurut lo….” Suara Jihoon teredam oleh alunan lagu pop yang mengisi langit-langit kafe sore itu. Tapi ia tidak bisa lebih keras daripada ini. Jihoon terlalu sibuk tenggelam di dalam perasaannya sendiri untuk bisa peduli akan hal-hal lain. “Menurut lo Hansol gimana?”

“Baik sih—”

“Bukan. Maksud gue—” salah satu jari Jihoon menggaruk permukaan meja dengan gerakan-gerakan kecil. Kakinya bergoyang tak henti di bawah meja. “Lo ngeliatnya dia gimana ke gue?”

Wonwoo tertawa lagi.

“Gantian ya, Ji?”

“Hah?”

“Gue izin bales atas apa yang lo lakuin ke gue tiga tahun yang lalu.” Cengiran Wonwoo semakin lebar sampai garis matanya nyaris menghilang. “Lo cari tau aja sendiri. Cari clue-nya di antara aktivitas kalian berdua . Kayaknya lo bakal lebih jago dari gue soal itu.”

Memang benar-benar percuma ia mengajak Wonwoo membicarakan masalah ini. Seharusnya ia sudah tahu kalau respons Wonwoo akan seperti itu.

Meskipun begitu, mungkin… temannya itu ada benarnya. Mungkin memang harus Jihoon sendiri yang mencari tahu. Sama seperti apa yang ia lakukan terhadap Wonwoo tiga tahun lalu. Jihoon hanya membuka peluang—dan juga pikiran—Wonwoo agar pria itu punya opsi kedua untuk berpikir atas langkah apa yang sebaiknya ia ambil. Keputusan Wonwoo-lah yang menentukan nasibnya.

Jadi ia mencoba untuk membungkus apa yang tersisa di hari itu. Mungkin memang seperti inilah kesimpulan yang ia dapatkan hari ini. Perasaan mengganjal tadi harus ia bungkus bersamaan dengan pembicaraan Jihoon dengan teman lama yang, sialnya, harus ia akui sekarang berada satu langkah di depannya dalam masalah percintaan. Tidak Jihoon sangka menjalani pernikahan jarak jauh membuat Wonwoo kembali dengan sisi yang lebih dewasa.

Wonwoo kembali membawa cangkir kopinya untuk ia sisip. Dalam sekejap, matanya sudah kembali fokus ke arah iPad yang sekarang sudah kembali di hadapannya. Jihoon juga mencoba untuk kembali menyibukan diri untuk membalas pesan-pesan yang ada di ponsel.

Namun sebelum ia bisa melakukan itu, tiba-tiba Wonwoo berkata, “tapi kayaknya untuk kasus lo bakal lebih rumit sih.”

 


 

Sejak kecil dahulu, Jihoon suka sekali dengan buku cerita bergenre misteri. Semua bentuk media yang bertopik misteri pasti akan habis dibabatnya. Film, kartun, novel, komik, semuanya. Rasanya tidak ada yang tidak Jihoon konsumsi. Mulai dari penulis lokal atau penulis internasional yang kemasyhuran dalam menulis kisah misteri sudah sangat tersohor seperti, Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, atau Enid Blyton.

Kecintaannya pada genre itu benar-benar serius sampai segala sesuatu yang berada di sekelilingnya ia beri nama berdasarkan karakter yang ada pada cerita-cerita misteri yang ia telan—anjing berwarna cokelat jenis Retriever yang dulu dimiliki keluarganya bernama Scooby yang diambil dari tokoh serial animasi Scooby-Doo, dua kucing Ragdoll kakak beradik di apartemennya ia beri nama Thomson dan Thompson yang berasal dari dua tokoh detektif konyol di serial komik Petualangan Tintin.

Genre misteri jugalah yang membawanya terjun ke dalam industri ini. Sejak ia mengetahui arti kata “editor”, Jihoon tanpa berpikir dua kali langsung mengklaim bahwa profesi itulah yang akan menjadi profesi impiannya. Alasannya sederhana, karena ia mau membaca buku misteri dengan puas sembari bekerja. Dan jika Jihoon hanya menginginkan satu hal, apapun caranya ia akan mendapatkan itu.

Lucunya, ketika Mami bahkan meragukan pilihan anaknya, Jihoon malah semakin mantap dengan pilihan studi yang akan menjadi bidang karirnya kelak. Entah sudah berapa orang yang menyarankannya untuk menjauhi jurusan sastra ketika ia hendak mendaftar kuliah, tapi Jihoon tidak pernah lebih puas atas keputusannya saat itu. Lega rasanya ia tidak mendengarkan apa kata orang lain, karena setelah merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi editor, Jihoon seperti berada di dalam kisah misteri terbesar dan paling mengasyikkan dalam hidupnya.

Sudah menjadi tugasnya untuk bisa menyempurnakan sebuah naskah cerita. Lewat pekerjaannya, Jihoon bisa menyaksikan bagaimana seorang penulis mencoba membuat labirin di dalam rentetan kata. Bahkan terkadang ia ikut andil sebagai mastermind yang membentuk labirin itu. Setiap proses langkahnya untuk menangkap detail-detail dalam cerita begitu menakjubkan. Persis seperti ketika ia mengikuti alur cerita misteri.

Tapi, mungkin, membuat labirin tidak cukup membuktikan betapa mahirnya Jihoon memecahkan teka-teki yang sesungguhnya. Mungkin sesekali ia harus ikut masuk ke dalam labirin yang ia buat sendiri.

Cari clue-nya di antara aktivitas kalian berdua.

Kenapa giliran begini Wonwoo jadi sok misterius? Tidak bisakah temannya itu langsung mengatakan intinya dan Jihoon yang memutuskan action apa yang sebaiknya ia ambil? Karena terus terang saja, mencuri pandang ke arah Hansol di kala pria itu sedang tidak memperhatikan terasa begitu konyol untuk dilakukan pria seumurannya. Jihoon bukan bocah kasmaran. Lagipula clue apa yang Wonwoo maksud? Clue apa yang bisa diambil dari hubungan yang jelas-jelas platonik!

“Eh, pertigaannya kelewatan.”

Jihoon tersadar dari lamunan dan buru-buru menginjak rem. “Hah, iya, kah?” Kepalanya menoleh ke belakang dan dari apa yang ia lihat di kaca mobil belakang, pertigaan ke arah rumah Hansol yang biasa mereka lewati terlewat beberapa meter. “Wah, iya kelewatan. Duh, sorry, Sol.”

“Ga apa-apa. Di depan ada pertigaan lagi yang nyambung ke jalanan depan rumah kok.”

Jihoon mengangguk dan langsung menjalankan mobil ke arah sesuai instruksi Hansol barusan. Fokus Jihoon. Malam Senin ini tidak akan berjalan lebih panjang dari ini. Antar Hansol ke rumahnya, dan ia bisa pulang ke apartemen.

Untungnya rumah Hansol tidak jauh dari tempat mereka tadi. Jihoon memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Hansol. Sudah sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain lampu-lampu depan yang menyala.

“Makasih, ya. Kayaknya lusa motor udah bisa diambil dari bengkel,” ucap Hansol kepadanya lewat kaca pintu penumpang setelah turun dari mobil. Jihoon membalas dengan senyuman, tapi sebelum ia bisa berkata apa-apa lagi, Jihoon menyadari berubahnya arah pandang Hansol ke arah dalam rumah. Ia menoleh ke arah yang sama dan menemukan Papa Hansol sudah berada di parkiran. Cepat-cepat Jihoon melepas sabuk pengaman untuk menghampiri pria paruh baya itu.

“Apa kabar, Om?”

“Ya gini-gini aja.” Tipikal jawaban orang tua. Jihoon tahu kondisi Papa dari cerita-cerita Hansol selama ini. Rasanya sudah harus maklum dengan segala penyakit yang datang dan pergi di usia senja. Karena Mami juga mengalami hal yang sama. “Udah makan malam belum, Jihoon?”

“Kebetulan belum. Tapi ga apa-apa, kok, Saya makan di rumah aja.”

“Ga mampir?”

“Engga, Om. Ga enak bertamu malam-malam.”

“Lah, kalau buat calon mantu, mah, ga masalah.”

Deg.

Dunia berhenti berputar saat itu juga. Tidak, lebih tepatnya, Jihoon-lah yang tiba-tiba berhenti mengikuti perputaran bumi.

Mendengar Mami berceloteh tentang Hansol yang merupakan mantu idaman itu satu hal, tapi mendengar salah satu orang tua Hansol juga memberikannya titel tersebut kepada dirinya itu hal yang lain lagi. Tiba-tiba perutnya bergumul tak karuan. Kerongkongannya yang lima menit yang lalu terasa baik-baik saja tiba-tiba kering kerontang. Dalam sekejap telinganya bisa menangkap suara klakson mobil di jalanan luas sana.

Tapi sebelum roda-roda katrol tubuhnya semakin tidak berfungsi, Jihoon kembali ke dalam kesadarannya. Ia tersenyum kikuk dan mencoba untuk menolak sekali lagi tawaran Papa dengan sopan. Untungnya, Papa tidak memaksa setelah itu, jadi Jihoon memberikan satu senyum tipis terakhir kepada Hansol dan kemudian pamit pulang.

Isi mobil terasa begitu kalut daripada ketika Hansol duduk di kursi penumpang di sebelahnya tadi. Menyamai isi kepala Jihoon yang tidak kalah kalutnya. Telinganya berdengung, tapi anehnya ia bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri. Oh, malam Senin ini akan lebih panjang daripada yang ia rencanakan.

 


 

“Baik, Mas. Akan segera saya beritahu ke atasan saya. Kalau sudah oke dari beliau, akan saya kabari Mas secepatnya.”

Bunyi sambungan telepon yang disudahi terdengar setelah Hansol memberi ucapan penutup terakhir. Ruangan kantor sudah sangat sepi. Jarum jam sudah menunjuk ke angka lima sejak dua puluh menit yang lalu. Banyak kubikel yang sudah kosong, beberapa masih terisi oleh pemiliknya termasuk milik Hansol. Hal itu tidak akan lama lagi, Hansol sudah berniat pulang sejak tadi sebenarnya, tapi berhubung ada klien yang menelepon ia jadi mengurungkan niatnya tersebut.

“Masih vendor yang kemarin, Sol?” suara Seungkwan tiba-tiba datang bersamaan tubuh pemiliknya yang baru saja datang dari arah pintu ruangan. Satu tangannya terlihat sedang memegang cup kopi berukuran large yang Hansol tebak Seungkwan beli dari toko kopi langganan pria itu di seberang gedung kantor.

“Bukan, orang iklan buat bulan depan. Dia tertarik mau ambil partnership di next event komunitas. Kemungkinan orang komunitas setuju, tapi gue tanyain dulu ke Bapak kira-kira cocok ga sama produknya. Soalnya, baru pertama kali jenis produk ini nge-endorse.”

“Produk apaan deh? Obat kuat?”

Hansol menoleh dengan cepat. “Suami lo baru balik bulan depan. Gue saranin kurang-kurangin ngomong jorok sih.”

Temannya membalas dengan mendengus sembari mengambil posisi duduk di atas kursi kerja. Respons Seungkwan tiap digoda soal pernikahan jarak jauhnya memang paling yang terbaik.

Hansol melirik jam dinding sekali lagi, 17.15. Ia tidak tahu kenapa Seungkwan belum juga bersiap untuk pulang. Mungkin lembur, bukan hal aneh di masa pre-event begini.

“Gue duluan, ya. Lo hati-hati di jalan. Bye.”

Ada beberapa karyawan yang sedang menunggu lift ketika Hansol sampai di ujung lorong gedung. Memang sudah biasa area lift menjadi ramai di jam ini. Untungnya tak butuh waktu lama mengantri Hansol sudah bisa memasuki lift yang tidak terlalu penuh.

Entah karena heningnya suasana di dalam lift, atau karena memang pikiran Hansol yang terlalu ramai saja. Mungkin yang kedua, tapi mengingat betapa padat jadwalnya hari ini, kemungkinan besar pikiran-pikiran itu ia singkirkan ke pojok otaknya secara tidak sengaja.

Pikiran-pikiran. Lucu bagaimana ia menggunakan kata jamak untuk menggambarkan satu hal yang mengganggu kepalanya. Benar, yang sesungguhnya hanya satu. Jihoon. Lebih tepatnya percakapan terakhir yang mereka tukar di aplikasi pesan.

Hansol: sorry

Hansol mengirimkan pesan itu tepat saat ia sedang mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur setelah bersih-bersih dua malam yang lalu. Jihoon mungkin masih bergelut dengan lalu lintas ibukota pada saat yang sama. Jadi Hansol menunggu.

Rumah Hansol dan apartemen Jihoon sebenarnya masih di satu daerah yang sama di Jakarta Selatan. Oleh karena itu juga, mereka bisa pulang dari kantor bersama sesekalu. Namun mengingat betapa macetnya lalu lintas pada saat jam pulang kantor di daerah mereka membuat Hansol tetap tidak enak hati jika harus diantar oleh Jihoon selama beberapa hari berturut-turut. Ia berjanji, jika motornya sudah pulang dari bengkel, ia akan mengajak Jihoon ke tempat makan favorit mereka sebagai balas budi.

Memang begitulah mereka berdua. Semuanya dilakukan dengan… apa…? Hansol tidak tahu apa namanya ini. Ia tidak tahu apa yang mengisi di antara dirinya dengan Jihoon. Tidak ada yang asing dan tidak ada yang aneh. Semua berjalan lancar seperti hubungan pertemanan pada umumnya.

Ia mengenal Jihoon. Bukan, tapi mencoba untuk mengenal seseorang yang baru saja masuk ke dalam hidupnya tiga tahun yang lalu. Kenyataannya Jihoon bukanlah pribadi yang sulit untuk dikenal. Simpel, straightforward, you see what you get. Jadi ketika notifikasi ponselnya tiba-tiba berbunyi dan menampilkan balasan dari Jihoon, Hansol sudah tidak kaget lagi atas rentetan kata yang tertera di sana.

Jihoon: wkwkwk gapapa santai aja

Mungkin “santai” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan mereka. Dua insan yang tengah asyik menikmati valuenya masing-masing. Akibatnya? Tidak ada tuntutan kepada satu sama lain. Tidak ada waktu ataupun emosi yang terbuang.

Ting.

Pintu lift yang berbunyi dan terbuja membantu menyadarkan Hansol. Ia tidak terburu-buru melangkahkan kaki keluar ruangan sempit itu. Dirinya belum bisa pulang ke rumah setelah ini, masih ada motor bebek yang harus ia jemput di bengkel. Tapi tepat ketika ia sampai di lobi, Hansol melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk di salah satu sofa tunggu.

“Ji?”

Si pemilik nama menengok ke arah suara Hansol. Pria itu bangun dari posisi duduknya dan mengambil beberapa langkah mendekat.

“Hai.”

“Kok di sini? Ga pulang?”

Jihoon tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ada senyuman yang terukir di wajah pria itu. Tapi bukan senyuman yang biasa. Bukan senyuman yang biasa mengisi ruang di antara keduanya.

“Uh….” Suara Jihoon sedikit kalah oleh suara pembicaraan sekelompok karyawan yang baru saja turun lift dan melewati mereka. Jadi Hansol maju satu langkah agar bisa mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Jihoon. Ini mungkin jarak terdekat mereka minggu ini.

“Sibuk, ga? Boleh ngobrol?”

Anehnya Hansol tidak kaget mendengar pertanyaan itu. Tidak ia pikirkan sebelumnya, tapi sudah ia duga cepat atau lambat Jihoon pasti akan bergerak melakukan sesuatu. Karena seperti itulah Jihoon. Itulah Jihoon yang ia coba untuk kenal selama tiga tahun belakangan ini.

“Yuk, ngobrol. Kalau sambil makan malam gimana?”

 

Notes:

hansolnya aku buat sedikit serius xixixi. semoga ga aneh... 😣

Series this work belongs to: