Actions

Work Header

love, maybe

Summary:

Cerita tentang Jeonghan yang baru saja patah hati karena putus dengan pacarnya. Berkat ide saudara gilanya, Joshua, Jeonghan pun terbang ke Semarang dengan harapan kota tersebut dapat membuatnya lupa dengan mantan tiga tahunnya. Berkat ide gilanya Joshua, lagi, Jeonghan harus menghabiskan waktunya di Semarang bersama Seungcheol.

Notes:

hi! it's me and my first fan fiction hehe! I intend to make it a romcom, but hopefully, it will be romantic and comedy...ya :] There's nothing much to say karena aku bingung mau ngomong apa...aku sangat berterima kasih kalau ada yang kasih aku kritik dan saran <3

selamat jalan-jalan bersama jeonghan dan seungcheol di semarang :)

Chapter 1: safely landed

Chapter Text

Pagi ini Jeonghan duduk di kursi pesawat dekat jendela. Sembari menunggu pesawat untuk lepas landas, ia membuka pamflet yang disediakan mengenai tata cara apabila ada emergency, walaupun sebenarnya Jeonghan sudah berkali-kali lihat pamflet itu dari berbagai macam maskapai. Tapi biarlah, soalnya ia juga tidak punya kerjaan. Sehabis ia memberi pesan kepada saudaranya, Joshua, yang tinggal di Semarang bahwa sebentar lagi pesawatnya akan take off, Jeonghan mematikan handphonenya dan memasukannya ke dalam tas selempang kecil yang kini berada di pangkuannya, sehingga tidak ada hal menarik yang dapat ia lakukan selain membaca pamflet.

 

Alasan Jeonghan pergi ke Semarang bukan untuk business trip. Bukan juga untuk mengunjungi keluarga—kecuali Joshua, tapi sebenarnya saudaranya itu hanya ia butuhkan agar tempat tinggalnya bisa Jeonghan tumpangi. Alasan benarnya adalah karena Jeonghan baru saja patah hati. Tiga tahun hubungannya harus kandas dengan karena mantannya sudah bosan dengan Jeonghan. Saat itu, Jeonghan sudah berusaha untuk mempertahankan hubungannya, mungkin saja apabila mereka berdua mengganti rutinitas pacarannya maka akan muncul kupu-kupu lagi di perutnya, atau mungkin saja, apabila Jeonghan merubah gaya rambutnya maka pasangannya akan jatuh cinta lagi dengan pesona Jeonghan yang baru. Tapi semua itu gagal, rambut pendek Jeonghan tidak bisa menyelamatkan hubungan mereka.

 

Jeonghan pun pasrah dengan putusnya hubungannya. Barulah setelah itu ia bercerita ke Joshua melalui video call. “Mending lu cuti deh, terus ke Semarang. Temenin gua, sekalian libur, cari suasana baru, cari cowok baru,” begitulah kata Joshua saat itu. Akibat dominasi emosi sedih dan kegalauan yang rasanya tidak ada akhirnya, dengan impulsif Jeonghan mengajukan cuti dan membeli tiket pesawat ke Semarang. Begitulah cerita singkat mengapa Jeonghan ada di kursi pesawat sekarang.

 

Pesawat sudah mulai take off beberapa menit setelah pramugari memperagakan tata cara apa saja yang harus dilakukan ketika ada kejadian emergency. Jeonghan mulai mengeluarkan permen mint kesukaannya kemudian larut dalam pikiran meninggalkan Jakarta.


“Josh, gua udah nyampe nih, lo udah otw belum?” Jeonghan berjalan sambil celingak-celinguk mencari tanda exit, karena ini baru pertama kalinya ia pergi ke Semarang dengan moda transportasi pesawat.

 

“Han, maaf banget, jangan marah. Gua kayaknya gak bisa jemput lo karena masih ada urusan di rumah sakit…tapi gua udah suruh temen gua untuk jemput lu kok! Nanti dia nunggu di lobi bandara. Gua udah suruh dia bawa kertas tulisannya ‘welcome to Semarang, Jeonghan <3’. Jadi nanti kalo lo ketemu orang yang kayak gitu, samperin aja!”

 

“Josh…yang bener ajalah. Emang gak bisa lo kasih tau ciri-cirinya aja gitu.”

 

”Pokoknya rambutnya item dan alisnya tebel. Kalo bajunya gua gak tau ya gimana karena dia gak bilang tadi. Namanya se—EH HAN UDAH DULU YA GUA ADA PASIEN BENTAR. DADAH.” dan kemudian panggilan telponnya terputus. Jeonghan hanya bisa menghela napas panjang karena sekarang ia perlu menyiapkan dirinya untuk tidak malu apabila melihat orang dengan kertas penyambutan yang tertera namanya.

 

Langkah kakinya tiba di lobi bandara, tapi pandangan matanya tidak menemukan orang yang dimaksud oleh Joshua. Lagian siapa juga yang mau megang begituan buat orang gak dikenal . Jeonghan berpikir bagaimana kalau orang tersebut benar-benar tidak mau mengikuti apa kata Joshua, sedangkan ciri-ciri yang Jeonghan tau hanya rambut hitam dan alis tebal. Jeonghan pun mengidentifikasi satu per satu orang yang cocok dengan kriteria Joshua, dan ditemukannya bapak-bapak dengan perut buncit berkaos polo. Gak mungkin kan temen Joshua itu bapak-bapak perut buncit dan kumisan?

 

Lima belas menit Jeonghan menunggu dan tiba-tiba saja dari arah parkiran seorang lelaki dengan kaos hitam dan celana jeans panjang berlari membawa kertas gambar A3 sambil menyisir rambut hitam legam dengan jari-jari tangannya. Shit. please bilang kalau ini orang yang dimaksud Joshua, please. Lelaki tersebut berhenti tepat di depan lobi kemudian menampilkan kertas gambar A3 dengan tulisan ‘Welcome to Semarang, Jeonghan <3’. God, mau ditaruh mana muka gua.

 

Jeonghan mendekati lelaki tersebut, menutupi bagian mukanya sedikit karena malu. “Halo?” setelah jarak antara keduanya hanya berbeda selangkah saja, Jeonghan melambaikan tangan kepada lelaki tersebut.

 

“Haloo, Jeonghan ya? Gua Seungcheol, orang suruhan Joshua. Sorry banget ya gua telat,” ucap lelaki itu dengan ekspresi memohon maaf dan merasa bersalah. Alis tebalnya bertaut, bibirnya…ah sudahlah.

 

“Eh iya gapapa, santai aja Seungcheol, gua baru nunggu beberapa menit juga kok.”

 

“Maaf banget ya, Jeonghan. Kalau gitu lo tunggu sini aja ya biar gua ke parkiran dulu ambil kendaraan.”

 

”Ehh gak usah, Seungcheol. Bareng aja ke sananya biar lo gak bolak-balik terus langsung keluar aja kita.”

 

”Seriusan gapapa?”

 

”Iya gapapaaa.” Jeonghan memberikan satu jempol kepada Seungcheol. “Yaudah yuk ke parkiran.”

 

Untungnya, parkirannya tidak jauh dan letak motor Seungcheol tidak berada di pojok sehingga mudah untuk mencarinya dan mengeluarkannya. Ketika mereka berdua sedang memakai helm, Jeonghan berniat untuk memecah keheningan agar tidak canggung. “Semarang panas banget ya, Cheol.” ingin rasanya Jeonghan untuk menepuk mulutnya sendiri. Jelek banget basa-basi lu, Han . Jeonghan takut Seungcheol berpikir macam-macam, Jeonghan takut kalau Seungcheol berpikir Jeonghan tidak mau naik motor karena kepanasan.

 

“Iya, Han, tapi kalau akhir-akhir ini ,siang panas terus, malemnya suka hujan.” Jeonghan tidak menimpali lagi jawaban Seungcheol, ia takut dirinya malah memberikan komentar-komentar yang akan memperburuk suasana.

 

“Ini mau langsung ke tempatnya Joshua atau mampir kemana dulu, Han?”

 

“Iya, langsung ke tempatnya Josh aja.”

 

“Okay, deh.”


“Seungcheol, maaf banget tapi boleh mampir ke minimarket dulu gak soalnya lupa bawa sikat gigi. Sama ke warteg, Josh nitip lauk katanya buat makan malem.” tinggal beberapa menit lagi sebelum Jeonghan dan Seungcheol tiba di kosan Joshua, tapi pesan dari Joshua membuat mereka rupanya harus lebih lama untuk menghabiskan waktu berdua di awal pertemuan. “Okay, Jeonghan. Kita ke minimarket depan gang kosannya Shua aja ya. Sebelahnya ada warteg enak soalnya.”



“Boleh, Seungcheol.”

 

Sesampainya mereka di minimarket, Jeonghan langsung mencari sikat gigi dan beberapa keperluan serta snack lain untuk asupannya. Tidak lupa juga Jeonghan memberikan Seungcheol minuman dingin sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah mau repot-repot menjemputnya di bandara. “Seungcheol, kita makan dulu aja kali ya di warteg. Mau gak? Lo udah makan siang belum? Tenang aja, it’s on me!

 

“Seriusan, Han?”

 

“Iyaaa! Yuk makan, ucapan terima kasih gua karena udah mau repot-repot jemput.” Seungcheol terkekeh. Aduh, jangan ketawa kayak gitu Seungcheol, nanti gua naksir .

 

Mereka memasuki warteg dan memesan makanan masing-masing. Jeonghan memutar otaknya untuk mencari topik basi-basi yang tidak menyinggung Seungcheol sama sekali tapi otaknya entah kenapa buntu dan seakan-akan semua topik adalah hal sensitif untuk diobroli. Is this what break up did to you, Han?

 

“Han, mau tau gak. Sebenernya tadi gua telat karena nyari-nyari kertas gambar A3 sama spidol dulu tau hahaha.”

 

“Seungcheol, sumpah…. Padahal gak usah ngeiyain suruhan gilanya si Josh.”

 

“Hahaha gapapa sih, Jeonghan, gua mikir lucu juga kalau pake gituan dan lo bisa cepet ngenalin guanya. Sorry ya kalau gara-gara itu gua jadi telat.”

 

“SUMPAH SEUNGCHEOL GAPAPA. Emang gila aja si Joshua Hong itu.”

 

“Hahahah okay okay, kita udahin sesi maaf-maafannya. Emang gila sih saudara lo itu, semoga lo gak segila dia juga ya.”

 

Jeonghan tertawa mendengar validasi dari orang lain bahwa saudaranya itu gila. Memang benar bahwa Joshua itu gila, lihat saja buktinya sekarang, Jeonghan mengajukan cuti dan duduk di warteg bersama Seungcheol, semuanya bermula dari ide gila Joshua Hong. Tapi bukan berarti Jeonghan tidak sama gilanya dengan Joshua. J eonghan probably looks calm and innocent at your first glance, but wait until you taste his trick . “Semoga lo gak ngerasain kegilaan gua sih, Seungcheol.”



“Oh berarti lo sebelas dua belas ya sama Shua?”

 

“Tergantung.”



“Tergantung gimana?”



“Tergantung lo seru gak kalau dijailin hehehe.”



“Haduh, Han…ampun deh.” Jeonghan mengacungkan kedua tangannya sambil membentuk peace

 

"Emang lo ke Semarang mau ngapain, Han?" 


Jeonghan terdiam. "Eh eh maaf kalau itu menyangkut privasi lo. Gak usah dijawab deh, Han."

 

"Enggak kok santai ajaa. Klise sih sebenernya, gua putus terus gua sedih. Yaudah deh ambil cuti. Kalau kata anak zaman sekarang apa tuh namanya? Healing ya? Iya, sebut aja ini gua lagi healing hehehe."


"Ohh ala-ala eat, pray, love gitu ya?" Jeonghan tertawa mendengar hal tersebut. Bisa-bisanya Seungcheol menyamakan hubungan tiga tahun Jeonghan dengan hubungan yang ada di film tersebut, bisa-bisanya juga ia menyamakan liburan ke Semarang dengan mencari jati diri di Bali. "Yaaa bisa dibilang gitu, tapi bedanya ini ke Semarang, bukan ke Bali."


"Kenapa gak ke Bali aja, Han? Kayaknya lebih banyak spot wisatanya deh dibanding Semarang yang...ya kayak gini-gini aja."


Kalau bukan ke-impulsifannya mungkin Jeonghan sudah memesan tiket liburan ke Bali, atau ke Phuket, tapi berkat omongan Joshua yang tidak ia pikir dua kali, acara healing ke Semarang pun kini terjadi. "Karena di sini ada Josh, jadi kalau gua kenapa-napa setidaknya ada yang tau lah." Seungcheol mengangguk-angguk, entah artinya apa, entah ia setuju dengan jawaban Jeonghan atau hanya sekedar respon jawaban saja.

 

Makanan mereka berdua akhirnya datang dan mereka berdua pun menghentikan obrolan, sibuk dengan makanan masing-masing. Setelah itu, Seungcheol mengantar Jeonghan ke kosan Joshua. Tak lupa Jeonghan mengucapkan terima kasih kepada Seungcheol yang hanya dibalas dengan tepukan lembut di pundak Jeonghan. Kemudian Seungcheol mengendarai motornya untuk pulang, dan Jeonghan menyaksikan punggung Seungcheol menjauh sampai akhirnya tak terlihat baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam kosan Joshua.


“Seungcheol tuh temen apa lo deh?” tanya Jeonghan ketika Joshua sudah berada di kosan. Kini mereka berdua sedang memasang masker kecantikan sambil menonton anime kesukaan Joshua.

 

“Mantan gua.”

 

“HAH?” teriak Jeonghan kaget. Ia menghentikan kegiatan nonton animenya dengan mem-pause netflixnya. “Apa sih, Han? Kenapa distop sih?”

 

“Joshua Hong yang bener aja…masa lo nyuruh mantan lo buat jemput gua?”

 

“Ya emang kenapa sih, Han? Lagian udah putus juga and we’re on good terms.” Gak, Jeonghan tidak bisa mencerna hal tersebut karena baginya apabila sudah putus ya…yasudah, lepas juga urusan mereka berdua. Sehingga, apa yang dilakukan Joshua kepada Seungcheol tidak masuk di akal Jeonghan. Katakan Jeonghan seperti anak abg baru menjalani hubungan, tapi berdasarkan pengalaman Jeonghan selama ini, ketika ia putus maka putus juga pertemanannya. Prinsipnya, kalau sudah jadi mantan maka tidak bisa berteman.

 

“Ya tapi tetep aja, Josh, mana orangnya lo suruh bawa-bawa tulisan ala-ala gitu.”



“Kalau itu emang gua ngisengin dia sih hahahaha. Gua bercanda doang itu sebenernya. Eh diseriusin beneran sama dia.”

 

“Parah banget lo…asli.”

 

“Ya sorry, tapi udah lo traktir kan anaknya?”

 

“Udah tadi. Sekalian beli lauk. Eh Josh…boleh nanya gak. Lo sama Seungcheol kenapa putus?”



Okay, kalau yang ini memang Jeonghan kepo karena siapa yang tidak kepo kalau laki-laki sebaik, senurut, seganteng, dan se-hot Seungcheol bisa putus dengan laki-laki sebaik, secakep, se-friendly, dan sesabar Joshua? Walaupun Joshua memang minus jahil saja…tapi tetap saja Jeonghan kepo, apa permasalahan yang dilalui keduanya hingga harus mengakhiri hubungan mereka. “Hmmm sebenernya gak ada masalah serius gitu sih antara gua sama dia. Kita berdua juga punya salah masing-masing. Gua kan sibuk banget ya, Han, jadi gua gak ada waktu untuk maintenance hubungannya, sedangkan dia punya commitment issue. Ya gitu deh, Han. Terus karena kita juga awalnya temenan so we decided to be friend again sih. Tadinya tuh gua mau jodohin lo sama dia, tapi kayaknya dia lagi gak into relationship. Jadi kalo lo naksir dia, siap-siap sakit hati aja ya, my cousin.” terdengar nada mengejek dari perkataan Josua yang terakhir.

 

“Apa sih….siapa yang naksir.”



“Ya kan gua bilang ‘kalau’. Oh ya, selama lo di Semarang nanti jalan-jalannya sama dia ya. Gua gak bisa nemenin lo karena koas, bos. Nih, gua kirimin kontaknya dia ke lo aja ya. Nanti lo chat deh tuh dia.”

 

Joshua mengirimkan kontak Seunghceol ke Jeonghan malam itu. Agenda menonton anime kesukaan Joshua dan maskeran sudah selesai, Joshua juga sudah terlelap karena besok pagi sekali ia harus berada di rumah sakit. Sedangkan Jeonghan masih terjaga sambil memikirkan apakah ia harus mengirimkan pesan kepada Seungcheol atau tidak, walaupun Joshua sudah menyuruhnya sedari tadi. Tapi tetap saja, ada keragu-raguan dan perasaan yang sulit dideskripsikan. Kenapa lo jadi kayak anak remaja gini sih, Jeonghan? 

 

Yoon Jeonghan: hi, seungcheol. it’s jeonghan, remember? Hehe :) josh told me you will accompany me while im here?

 

And he finally sends his first message.

 

Choi Seungcheol: hai hai, inget dong jeonghan. iya, nanti lo kalau mau kemana-mana kabarin gua aja

 

Yoon Jeonghan: thank you! gua ngikut jadwal lo aja, seungcheol

 

Choi Seungcheol: gua free kapan aja kok, gua wfh soalnya. Tapi paling nanti kalau kita jalan terus gua melipir ke cafe bentar sorry ya…kemungkinan ada kerjaan

 

Yoon Jeonghan: ah i see, okay deh, seungcheol, no problem!



Choi Seungcheol: jadi jeonghan besok mau dijemput jam berapa?

 

Yoon Jeonghan: hmmm jam 9 aja kali ya? sekalian lo sarapan aja di sini

 

Choi Seungcheol: hahah okay, noted jam 9 jemput jeonghan

 

Yoon Jeonghan: thank you once again, seungcheol^^

 

Choi Seungcheol: sama-samaa, jeonghan. tidur gih, biar besok ada tenaganya

 

Yoon Jeonghan: iya ini mau tidur abis chat lo. hehe. good night. see u tomorrow?



Choi Seungcheol: good night. see you tomorrow :)


Jeonghan mematikan handphonenya dan pergi ke alam mimpi membawa perasaan tak sabar akan berjalan-jalan di kota Semarang, bersama Seungcheol.