Actions

Work Header

Cindy Lou Who

Summary:

Mungkin hubungan mereka telah berakhir, namun perasaan yang Wooyoung tanamkan pada Mingi masih bertengger dalam hatinya, apalagi rasa sakit ia makin rasakan saat mengetahui mantannya itu telah memiliki seseorang yang lain.
Pada malam menuju natal itu, mereka dipertemukan lagi, berbincang bersama. Apakah dengan perbincangan ini dapat mengubah semua jalan yang sudah mereka buat? Atau hanya menjadi pelengkap cerita saja?

Notes:

Hai ini karya ke-2 aku, maaf banget misal masih berantakan, tapi hope you will enjoy this!

Work Text:

 

Pada malam itu, Wooyoung menatap keluar jendela kafe tempat dia bekerja. Ia memperhatikan keramaian jalan di penghujung tahun dan banyaknya pasangan yang mulai menikmati liburan mereka. Wooyoung hanya duduk di sudut kafe tersebut, dan tiba-tiba matanya berkedip saat ia mulai melihat salju pertama turun, menghiasi malam dan jalanan kota yang sangat sibuk tersebut.

“Ah…salju sudah turun.” katanya lirih pelan sambil masih menatap ke arah luar jendela.

Wooyoung beranjak dari kursi dan membuka pintu kafe yang telah bertuliskan tutup. Berdiri dan memejamkan matanya di depan kafe, merasakan tubuhnya dihantam salju satu persatu yang turun, dimana semakin lama butirannya semakin banyak dan juga besar.

Lebih dari 5 menit, ia kemudian membuka matanya kembali dan terfokus dengan semburat pasangan di sebrang sana. Dilihatnya mereka tengah tertawa, mungkin karena percakapan mereka yang lucu atau…rasa dimabuk asmara bersama mereka.

“Huft, apa serunya hanya menangkap salju dan tertawa lepas seperti itu.” Gerutunya sambil berbalik, menuju kafenya lagi.


Pintu kafe terbuka, menunjukan temannya, Yeosang yang sudah selesai bekerja namun masih menunggu dijemput sang kekasih dan duduk di sofa furnitur dari kafe.

“Wooyoung! Udah selesai nontonin saljunya?” Tanyanya seraya menyambut sang pemilik nama.

“Ya bisa dilihat lah. Kamu masi nungguin Yunho kah?” Tanya Wooyoung selagi mendekat ke arah Yeosang dan duduk di sebelahnya.

“Iya. Yunho katanya agak telat soalnya tau lah ya macetnya gimana jalan di sini kalau natal.” Ia menjawab sambil menggulir sosial media yang tengah ia buka di ponsel berwarna putih miliknya itu.

Melihat temannya asik sendiri, ia pun kemudian mengeluarkan ponsel miliknya juga. Melihat banyak notifikasi yang muncul namun belum sempat ia sentuh sama sekali. Ia kemudian berminat untuk membalas semua pesan itu selagi menunggu Yeosang pulang dan ia menutup kafe.

“I saw you laughing in one of his picture”

“Wooyoung. Kamu udah liat ini belum?” Tiba-tiba pria di sebelahnya itu menepuk bahunya dan menunjukan sebuah foto dari story sosial media seseorang yang merupakan mutual di sosial media milik Yeosang itu.

Jelas Wooyoung awalnya tidak peduli, namun ia penasaran saat mengetahui pria di sebelah temannya Yeosang itu sedang tersenyum sangat indah, senyuman ciri khasnya yang tak dapat sekalipun ia lupakan dan sesosok yang sangat familiar…ah tidak, maksudnya sangat ia kenal, Song Mingi.

Itu siapa, Sang?” Tanya Wooyoung yang masih fokus dengan foto.

“San. Temenku yang aku bilang punya toko bunga itu. Inget gak?” Ia menjawab dan mulai membaca mimik wajah orang disebelahnya, “mungkin mereka cuma temenan kali, Woo.” Ia kemudian berusaha menghibur temannya.

“Ya….terserah sih Sang. Aku gak peduli lagi. Aku kan udah putus sama Mingi, mau dia dapet yang baru atau gimana bukan urusan aku lagi.” Wooyoung masih memegang ponsel Yeosang dan tanpa sengaja melihat postingan story berikutnya.

“but you’ll be the one with his ring on your finger”

Disana terlihat setumpuk bunga dengan cincin dan juga kartu bertuliskan ‘to mr. Choi, from his lover, mr. Song’ dan juga sebotol wine yang jika di ingat kembali, sering Mingi belikan untuknya. Melihat foto itu, dengan wajah yang menahan 1001 ekspresi itu ia kembalikan dan berdiri, berjalan ke luar kafe, duduk di bangku outdoor kafe. Namun, saat berjalan Yeosang dapat mendengar temannya itu mengumpat.

“there’s red and greed everywhere, but i’m so blue”

Wooyoung seperti kehilangan kesadaran meninggalkan temannya sendiri di sofa, ia berjalan menuju ke luar kafe. Malam yang penuh dengan hiasan natal yang indah berwarna warni tidak berlaku untuk Wooyoung. Ia hanya ingin menghirup udara segar, sehabis melihat sesuatu yang harusnya dari awal tak ia lihat sama sekali. Dengan hati gundah, Wooyoung mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Mengisap dengan sekuat tenaga, dan menghembuskan asapnya seperti berusaha sedang menghangatkan dirinya.


Beberapa menit ia di luar, sekarang batang rokok miliknya sudah sangat kecil. Tak ada lagi tembakau yang bisa ia hirup untuk menenangkan dan juga menghangatkan dirinya yang kedinginan. Dari belakangnya ia dapat mendengar pintu kafenya di buka, lalu ia menoleh melihat Yeosang keluar dari kafe.

“Aku duluan ya, Woo. Udah gak usah kamu pikirin lagi. Mungkin ini saatnya kamu nyari yang baru.” Kata sang teman sambil menepuk beberapa kali bahu Wooyoung dan melambaikan tangan dengan lelaki jakung di seberang, ya itu Yunho.

Ya, aku baik-baik aja. Gak usah mikirin aku, sana kamu pulang, abisin akhir tahunmu sama Yunho. Langgeng ya kalian berdua.” Wooyoung menatap dua sejoli yang berpelukan dan juga lambat laun punggung mereka tak dapat ia lihat lagi.

Dengan langkah yang berat dan juga suasana hati yang sudah terkadung tidak berbentuk, ia berencana untuk segera mengunci kafenya dan bergegas pulang. Namun apalah arti rencana jika badan miliknya sangat malas untuk bergerak dan berbalik, melakukan segala yang telah ia rencanakan.

“Ckk…sialan.” Umpatnya lagi, kali ini ia mengacak-acak rambutnya dan dengan emosi yang semakin memuncak, ia membenamkan wajahnya dalam tangkupan tangan kecil miliknya.

Hatinya benar-benar gusar, apalah arti ia dalam kehidupan sang mantan untuk sekarang ini, namun tetap saja ia sangat benci dan perasaan kecewa ini menjalari sekitar tubuhnya. Jalanan yang ramai hanyalah menjadi hiasan semata. Kemudian, Ia terisak, mulai menangis, seakan kembali ke masa patah hati terberatnya itu.


“cindy lou who.”

Dari keramaian yang diciptakan jalanan akhir tahun, ada sosok jakung yang berhenti dan menatap kafe Wooyoung. Kafe yang ia datangi sudah dengan jelas memasang papan bertuliskan ‘tutup’ namun sang sosok jakung ini malah berdiri di depan kafe. Anehnya, ia tidak mendekati pintu kafe, namun melepaskan jaket yang ia kenakan, dan memberikannya kepada Wooyoung, yang tengah terisak berulang kali, menangis seakan ia adalah sosok di bumi yang sedang sangat patah hati.

Merasakan ada sesuatu yang bertengger, menutupi tubuhnya yang kecil, ia menengadah kepalanya, melihat sosok pria jakung yang memberikannya jaket mantel khas musim dingin itu.

“Sialan. Apa aku mabuk dengan perasaan ini sampai orang itu berada di depanku?” Umpatan kembali keluar dari bibir indah milik Wooyoung saat melihat pemilik jaket mantel itu.

“Iya, kamu mabuk banget. Sampai nangis di luar gini. Jelas-jelas dingin.” Pria jakung itu membalas ucapannya dan membenarkan posisi jaket mantel yang ia berikan.

Satu tangan sang pria jakung memegang bangku yang tengah di duduki Wooyoung, kemdian ia duduk di sebelah Wooyoung sambil meletakkan beberapa kaleng bir yang ia bawa.

“Keinget aku, ya?” Celoteh pria jakung itu sembarang.

Wooyoung menghapus semua air matanya, dan melepaskan jaket mantel milik sang jakung. Ia memasang wajah datarnya dan melihat ke lain arah agar dapat menjawab pertanyaan yang di lontarkan ke dirinya.

“Pede amat. Ngapain inget kamu?” Jawabnya ketus, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

Serius?” Jawab sang jakung lagi, menatap Wooyoung dengan tatapan mencari tahu 1001 arti pikirannya sekarang.

“Song Mingi pede banget. Gak ada yang peduli kamu mau ngapain.” Jawab Wooyoung lagi, sangat ini ingin sekali Wooyoung memukul wajah tampan lawan bicaranya.

“Emang pede dan narsis. Kalau gitu ngapain nangis?” Pertanyaan ia lontarkan kembali, bak penyidik mewawancarai salah satu tersangkanya.

“Bukan urusanmu. Kita udah bukan apa-apa lagi.” Jawab Wooyoung yang memberikan keheningan sejenak.

Tangan panjang dan berurat milik Mingi mengambil sekaleng bir miliknya, dan membukanya. Ia tawarkan Wooyoung yang dari tadi hanya melihatnya, seperti menganalisis apa yang akan dilakukannya setelah ini.

Mingi meneguk birnya, menatap Wooyoung yang tengah duduk di sebelahnya, “kalau gitu, aku yang kangen,” katanya sambil terkekeh dan melanjutkan tegukan ke-2.

Panas. Sekeliling Wooyoung tiba-tiba terasa panas. Ia sama sekali tidak ada meneguk sedikitpun bir. Gerakan tak terarahnya menuntunnya untuk mengambil kaleng bir milik Mingi. Membukanya dan ikut meneguk bir penuh keliaran.

Gak usah begitu. Kasian pacarmu, eh pacarmu atau tunanganmu? Terserah lah, tapi sadar diri, brengsek.” Wooyoung yang berusaha merasakan rasa bir dan juga menghilangkan sensasi panas dari tubuhnya menjawab.

“Tau San, ya?” Mingi bertanya kepadanya seolah sedetik yang lalu ia tak ada mengatakan rasa rindunya untuk Wooyoung.

“Maybe he met you somewhere in the desert

While he was soul searching, he found someone better.”

bodoh, Song Mingi bodoh.” Hanya kata itu saja yang dapat keluar dari bibir manis milik Wooyoung itu.

Mingi tak menjawab sepatah katapun, hanya diam dan meneguk birnya hingga tetesan terakhir. Wooyoung benci dengan keheningan. Presetan dengan semuanya, karena keheningan yang Mingi berikan, ia dengan membabi buta meneguk semua bir hingga tak terisisa sedikitpun. Matanya mulai kabur, pikirannya mulai tidak pada tempatnya. Dengan tindakan cerobohnya itu, ia bak memecah bongkahan es yang dibuat Mingi, mengeluarkan suaranya.

“Guess you make him happy like I couldn't do.”

“He was better than me right?” kalimat yang dilontarkan begitu saja kepada Mingi.

Mingi hanya menatap orang yang menanyainya dengan tatapan sendu, jarang sekali Wooyoung melihat tatapan ini, mungkin tidak pernah.

Are you happy with him?” Wooyoung kembali menanyakan pertanyaan bodohnya itu.

Memegang kedua tangan Mingi, menatap tangan mereka yang saling berpegangan di atas paha Mingi. Tersenyum masam, dan menahan isakan kesedihannya. Kemudian, ia tatap pria jakung di depannya, dengan mata bergelimang air mata itu. Berusaha mengucapkan kata yang sudah ia rangkai di benaknya.

“Cindy lou who.”

Dia ya? Si San yang menangin hati kamu?” Wooyoung dengan keteguhan hatinya melanjutkan kalimat miliknya, “kalau memang dia yang sekarang bisa bikin bahagia, aku harusnya juga bahagia ya kan? I mean, I like to see you with that smile. Bukan kayak sama aku, yang kerjaanya cuma bikin kamu merasa kecil terhadap dirimu sendiri. Tapi Mingi, i don’t know why but it was too hard for me. Maafin aku, i can’t. I can’t look you’re happy without me. Maaf. Maaf aku egois…hiccup…aku…juga benci diriku yang egois. Harusnya….hiccup..hiks…dari awal kamu gak usah ketemu aku. Aku…aku yang….” Kalimat Wooyoung yang semakin lama semakin terbata-bata itu terhenti saat lawan bicaranya memeluknya.

Pelukan yang sangat erat, seperti tak akan melepaskan satu sama lain. Entah apa yang merasuki dua manusia itu. Berpelukan di akhir malam yang panjang ini.

Lonceng jam kota berbunyi, menandakan sudah berganti hari. Wooyoung masih sedikit terisak di pelukan pria besar dihadapannya. Menutupi semua wajahnya dengan dada bidang Mingi. Masih berusaha menenangkan dirinya.

“Maaf, Woo. Harusnya aku yang minta maaf. Dari awal harusnya aku yang bilang dan ngomong duluan. Kita juga udah sepakat dari awal untuk terus terang, but, only me who always make this worse.” Mingi mulai membuka suaranya sambil menepuk pria kecil yang masih menenangkan diri dalam dekapannya.

Wooyoung hanya diam, berusaha mendengarkan kalimat Mingi yang seperti sebuah cerita tak usai. Keheningan ia buat agar Mingi jujur kepadanya.

“scrolling five years back, I'm obsessed

Breaking my heart, 'tis the season, I guess.”

Mengerti keheningan itu sengaja dibuat Wooyung, Mingi kemudian kembali membuka mulutnya yang selalu dibilang seperti bebek oleh Wooyoung.

Lima tahun yang lalu, susah perjuangan aku dapetin kamu. Kamu tau betapa sukanya aku sama kamu. Semua temenmu aja sampai sadar kalau aku se suka itu sama kamu. Kalau dibilang dapet pengganti baru, aku gak bisa iyain. He can’t be better than you. You’re always being my first love. Tapi kemudian tahun kemarin, aku tau kalau aku yang selama ini suka mendam semua sendiri jadi tantangan tersendiri buat kamu. Aku sadar aku gak bisa membahagiakan kamu,” Mingi lalu memegang dan mendorong pelan bahu Wooyoung, membuatnya menatap mata Wooyoung yang indah, selalu indah menurutnya itu*, “then i know, i’m just breaking your heart until this season.”* Akhir kalimat Mingi membuat Wooyoung kembali menangis, entah menyesal atau kaget mendengar cerita panjang Mingi.

Wooyoung mulai mengingat, sejak kapan cerita yang ia rangkai bersama Mingi salah. Sejak kapan ia membuat keretakan itu, dan membuat mereka mengakhiri hubungan yang telah lama mereka bangun. Sejak kapan Mingi membuat batasan, dan sejak kapan ia selalu merasa kecewa terhadap Mingi.

Mingi brengsek…aku…hicup…aku makin merasa bersalah…hicup…harusnya aku yang nanyain kamu, bukan malah ninggalin kamu dan berfikir kalau kamu udah bosan sama aku. Kenapa….kenapa aku bodoh…hiccup..banget…” Menyesal, sungguh rasa sesalnya memenuhi hati. Hanya dapat menangis. Menangis dengan sangat jelek di hadapan Mingi.

Tak peduli dengan orang yang akan memperhatikan mereka, atau malah semakin ramai jalanan karena hari libur dimulai. Tak adapun hal yang dapat Mingi lakukan, ia hanya memeluk kembali Wooyoung, berusaha membuat semua tangisannya terhenti. Dinginnya malam bersalju itu tidak terasa sama sekali.

Karena masih mabuk atau apalah, tak terasa mata Wooyoung yang terlalu banyak menangis menjadi bengkak dan juga ia merasa lama kelamaan berada dalam pelukan Mingi, seperti sekarang ini membuatnya mengantuk. Dengan pelan, mata milik Wooyoung menutup, dan ia tertidur dalam dekapan Mingi. Mingi yang menyadari Wooyoung tertidur dalam dekapannya, dengan pelan kembali menutupi badan mungil yang hanya tertutup kaos dan syal itu dengan jaket mantel miliknya. Ia masih memeluk pria kecil dihadapannya yang tertidur, melihat ke seberang, dimana pelancong dan keramaian berkumpul di kota itu. Tak tau apa yang tengah ia pikirkan, ia menatap jalanan itu hanya dengan mata sipitnya yang kosong. Banyak sekali kata-kata ataupun pikirannya yang memenuhi kepala.

“The snow's gonna fall and the tree's gonna glisten

And I'm gonna puke at the thought of you kissin'. ”

Mingi yang masih memeluk Wooyoung tertidur itu menengadahkan kepalanya, menatap langit malam hari yang dihiasi dengan butiran salju sedang turun. Ia kemudian menatap beberapa pohon yang daunnya sudah dipenuhi dengan salju. ‘Sangat indah’ batin hati Mingi*.* Mingi melihat pohon itu seperti sedang bersinar, memenuhi matanya. Ia sangat bahagia bisa melihat itu semua dan merapatkan dekapannya dengan Wooyoung.

Mingi menunduk, menatap ke bawah, melihat tubuh pria mungil yang tengah tertidur itu. Terkekeh sebentar, dan entah hal ini ia sadari atau tidak, ia menyeka sedikit poni yang menutupi kening Wooyung, kemudian mengecup pelan kening milik pria yang pernah singgah di hatinya itu. Setelahnya, ia sadar dan hanya tersenyum asam, lebih asam daripada permen yang katanya terasam sedunia yang Jongho belikan untuknya.

Last….i wish you will be happy after this, Wuyo.” Kata terakhir yang diucapkan Mingi, kemudian ia menggendong Wooyoung memasuki kafenya, meletakkan tubuh pria mungil itu di sofa yang nyaman, tempat dahulu Mingi duduk saat mampir ke kafe milik mantan kekasihnya.

 


Pagi yang cerah menyambut Wooyoung namun jujur kepalanya masih sangat berat dan matanya berkedut. Ia terpaksa terbangun karena jendela kafenya memiliki tirai yang berlubang, pagi itu sangat terasa menyilaukan. Ia merasa seperti tengah terbangun dari mimpi indah karena merasa seperti banyak hal besar terjadi tadi malam. Wooyoung Duduk di sofa, menyadar hal-hal yang sudah terjadi, dan juga beberapa misscall dari Yeosang.

Karena kesadarannya telah terkumpul seribu persen, Wooyoung menghubungi temannya, Yeosang.

“Halo, Yeosang. Kenap…” belum selesai dengan kalimatnya, Yeosang langsung menyambar kalimatnya.

“WUYO! Kemarin kamu abis sama Mingi? Mingi ke kafe kamu? Kamu mabuk? Kamu ngapain sama Mingi? Kamu gak apa-apa?” Banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan sang teman terbaiknya itu.

Walaupun terkesan cerewet, tapi Wooyoung menyukai perhatian yang diberikan kepadanya.

Pelan-pelan….iya kemarin aku sama Mingi….kamu tau dari mana?” Tak menjawab pertanyaan Yeosang, Wooyoung hanya menjawab singkat dan memberikan pertanyaan kepada orang di seberang sana yang telah berkomunikasi dengan ponsel bersamanya.

Mingi cerita sendiri ke Yunho… aku tadi pagi kaget pas Yunho bilang semalem Mingi ketemu kamu dan ninggalin kamu di kafe. Aku pikir kamu diapa-apain sama dia…” jawab Yeosang dengan khawatir.

Gak mungkin Mingi apa-apain aku. Kamu penasaran ya pasti? Nanti aku cerita. Aku mau mampir ke apartemet mu ya?” Wooyoung menjawab Yeosang dan mengajaknya bertemu.

Setelah percakapan itu selesai, Wooyoung agak tidak menyesali percakapan yang ia lakukan bersama Mingi. Ia agak merasa sedikit lega, namun juga masih kecewa atas keputusannya yang menurutnya terlalu semena-mena. Namun apalah, sekarang nasi telah menjadi bubur. Tak ada lagi yang harus ia sesali. Ia hanya harus melanjutkan hidupnya seperti biasanya. Ada tak ada Song Mingi hidupnya harus berjalan dengan baik, sebaik mungkin dan sebahagia mungkin. Wooyoung juga berharap, dengan pilihan Mingi sekarang, ia dapat lebih bahagia dalam surga tak abadi bersama sang kekasih baru. Walau mungkin Wooyoung bisa saja muntah saat memikirkan jika sang mantan dan kekasih barunya berciuman layaknya mereka dulu, namun doa baik selalu ia panjatkan untuk Mingi.

“The boy who I love who's now in love with you

Told all my friends, they said it can't be true

Cindy Lou Who.”