Work Text:
Furina menghela napasnya tepat ketika ia memasuki ruang kerja mantan bawahannya, “Kamu bersedih lagi?”
“Ada apa, Iudex terkasihku?” Tanyanya sembari berjalan mendekati Neuvillette yang masih duduk di balik mejanya, seakan tidak peduli dengan keberadaan Furina di dalam kantornya. “Bukannya kamu harusnya senang ya bisa melihatku secara langsung lagi?” Tambahnya.
“Udah berapa lama ya? 20 tahun? Bukan, bukan. 30? Yaampun! Ternyata udah setengah dari lama hidupku,” pekiknya seakan-akan angka tersebut bukanlah hal yang penting untuknya.
Banyak hal yang sudah terjadi semenjak keduanya berpisah, perubahan penampilannya merupakan satu aspek yang dapat dengan mudah terlihat, tapi sifat periangnya masih sama seperti dulu. Tentu dia memiliki banyak kekurangan semenjak ia ‘mengundurkan diri’ dari tugasnya menjadi Archon, baik itu dalam bentuk kesedihan, rasa lelah, serta kesepian. Memainkan sebuah ‘peran’ selama 500 tahun bukanlah hal yang mudah, ia kerap kali menentang dirinya sendiri selama 500 tahun yang sama itu.
Namun, tekad Furina lebih kuat daripada tekad tak tergoyahkan lainnya. Kalau ia boleh pamer, ia yakin tekadnya dapat menyaingi tekad para Archon lain. Kalimat itu sendiri seharusnya sudah bisa menggambarkan seberapa kuat tekad Furina, ‘kan?
“Koreksi aku kalau salah, tapi, Neuvillette, kamu ‘kan yang manggil aku kesini? Terus sekarang kenapa aku didiemin ya?” Tanya wanita tersebut, tangannya ia silangkan di depan dadanya seraya menambahkan. “Ada apa? Kenapa kamu butuh bantuanku? Kasusnya susah banget ya sampai butuh bimbinganku? Atau kamu buntu, terus butuh kekuatan tahu-segalanya milikku?” Walaupun hakim agung Fontaine tidak menjawab apapun, Furina tahu kalau ia mendengarkan.
Furina kembali menghela napasnya, menyayangkan keadaan Neuvillettenya. “Wahai Monsieur Neuvillette, apa jadinya kamu saat aku udah gak lagi di sini?”
“Nona Furina,” hakim dari Court of Fontaine akhirnya membuka suara setelah ia membiarkan keheningan hadir diantara keduanya.
“Iya, Iudexku?” Jawab Furina, suaranya selembut sisi ketuhanannya yang telah tiada.
“Kumohon, jangan bercanda mengenai usiamu lagi, dan jangan menganggapnya hal yang sepele di saat kamu tahu perasaanku terhadapmu,” ucap Neuvillette mengangkat kepalanya untuk melihat Furina yang sedang berdiri di tengah kantornya.
Ia terlihat berbeda namun sama di saat yang bersamaan. Dia semakin dewasa, hal itu sudah pasti, pilihan pakaiannya juga sudah berbeda, menjadi lebih dewasa dan sederhana disbanding sebelumnya, dia terlihat lebih suka memakai rok dibanding celana. Sedangkan untuk warna pakaiannya masih mirip, hanya saja warna dominan gaunnya adalah putih dengan sedikit ungu muda dan sisanya warna biru dan hitam. Rambut yang sempat pendek, sekarang sepinggangnya, mirip dengan rambut Focalors.
Furina tertawa mendengar ucapan Neuvillette, terhibur akan fakta bahwa Iudexnya sudah banyak berubah dalam jangka waktu yang pendek. “Neuvilletteku, kamu sudah berubah,” ujarnya, matanya menetap pada Neuvillette yang berdiri dari duduknya.
Senyuman kecil masih menghiasi wajahnya, penasaran dengan apa yang akan terjadi. “Aku sudah berada di sisimu selama 500 tahun, tapi kamu itu seperti air yang tenang dengan arus yang tak pernah berubah, dan tanpa riak. Seperti tak ada satupun hal yang bisa mengganggumu,” tambah Furina.
Saat Neuvillette berdiri di hadapannya, ia berujar, “Tapi sepertinya aku, ya, yang membuat air yang sebelumnya dikatakan tenang ini berubah arus?”
Sang hakim tetap terdiam, ia memilih untuk meresapi kecantikan Furina di hadapannya. “Nona Furina,” panggilnya sembari mengangkat tangannya untuk mengusap pipi mulus Furina.
Furina bergumam seraya menikmati sentuhan Neuvillette, ia lalu menambahkan, “Tolong, tidak usah terlalu formal begitu. Tapi ada apa, Monsieur Neuvillette?”
“Tidak bisakah kamu tetap di sini?” Pertanyaan yang simpel, namun mengandung banyak sekali perasaan di dalamnya. Perasaan-perasaan yang sudah ia pelajari, yang ia dapatkan selama hidup di tengah manusia biasa.
Furina mempertemukan pandangannya dengan Neuvillette, ada sedikit kesedihan di matanya. Selama ia bekerja dengan Neuvillette, Furina tidak pernah sekalipun melihatnya seemosional ini. Mengetahui ialah penyebab air tenang yang ia kenal menjadi seperti ini membuat Furina merasa terlampau bangga terhadap dirinya.
Sebuah kekehan lepas dari bibir Furina, “Aku sudah ada di sisimu selama 500 tahun, tapi kamu baru menanyakan hal ini sekarang?” Tanyanya tak percaya dengan sikap terus terang yang ada pada diri Neuvillette yang sekarang. Terpisah selama 30 tahun lamanya dan tidak pernah berbicara dengan hakim agung Court of Fontaine benar-benar membuat Furina kelewatan banyak sekali perubahan kecil pada Neuvillette.
Furina menggenggam tangan yang sedaritadi ada pada pipinya, mencoba mengirim sebuah pesan tersirat bahwa ia pun merasakan hal yang sama, namun, “Maaf, sayangku, tapi sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Detik di jamku terus bergulir, pasir pada jam pasirku pun terus terjatuh.”
Ada kesedihan pada keheningan yang sekali lagi hadir di antara keduanya. Sebuah kesedihan yang Furina tak bisa tahan lebih lama lagi untuk ada di antara dirinya dan Neuvillette.
“Berbahagialah, Neuvillette,” tambahnya, senyumnya tak pernah pudar dari paras cantiknya tak peduli seberapa menyakitkannya fakta kalau perasaan mereka sama tapi tak akan pernah bisa sepenuhnya mekar, mungkin tidak di lini waktu ini. “Bagaimana kalau kita minum, dan mengosongkan cangkir kesedihan kita sekali lagi sebagaimana dulu?” Tanyanya mengajak Neuvillette untuk membuka lembar baru ketika matahari mulai terbenam.
Iudex dari Court of Fontaine mengalihkan pandangannya untuk sepersekian detik sebelum mengembalikannya. Lalu, ia tersenyum kepada Furina untuk pertama kalinya yang sukses membuat mata gadis tersebut membesar, terkejut kala lagi-lagi diperlihatkan kemampuan Neuvillettenya dalam merasakan sebuah perasaan yang ia tak tahu ia bisa rasakan.
“Tentu.”
