Work Text:
"Adek kenapa, Mi?"
Soobin segera turun dari sepedanya, berjalan menghampiri seseorang yang sedang menggendong Yeonjun di depan rumah.
"Adek demam, Soobin."
Wajah Soobin tiba-tiba sedih, dia menatap plester pereda panas yang menempel di kening Yeonjun. Batita itu mungkin benar-benar merasakan sakit, dia tidak tidur, matanya hanya setengah terpejam, tapi bibir mungil yang biasanya mengoceh nggak jelas itu sekarang cuma diam sambil menatap Soobin lemah. Pipi bulat Yeonjun yang selalu dia pencet-pencet itu bahkan sekarang warnanya merah. Soobin makin sedih.
"Boleh Soobin pegang tangan Adek?"
"Boleh," jawab Mama Yeonjun sambil tersenyum.
"Adek panas banget, Mi."
"Iya, Soobin. Tadi Mimi udah bawa Adek ke puskesmas, mau inap tapi Adek nggak mau, dia rewel terus, minta pulang."
"Enggak istirahat aja, Mi, di dalam?"
Mama Yeonjun menggeleng, "Adek nangis kejer kalau di dalam. Maunya digendong kayak gini, sambil lihat luar," jawab Mama Yeonjun sedih.
"Adek..."
Soobin berusaha menarik atensi Yeonjun, batita berusia dua setengah tahun itu cuma mengerjap lemah sambil sesekali menggerakkan jemarinya yang ada di genggaman Soobin.
"Adek cepet sembuh, ya? Bubin sedih lihat Adek sakit," ucapan Soobin benar-benar tulus dan dari hati, bahkan mata Soobin sekarang sudah berkaca-kaca.
"Bin...," oceh Yeonjun tiba-tiba. Suaranya kecil sekali, tapi masih bisa didengar Mama Yeonjun dan Soobin. Bocah berusia tujuh tahun itu mengusap matanya yang hampir saja nangis.
"Iya, Adek? Kenapa?"
"Bin ... nas, Dek anas, kit ... Bin," lirih Yeonjun lemah sekali, Soobin diam beberapa detik, lalu tiba-tiba saja Soobin melepas genggaman tangannya pada Yeonjun dan berlari pulang ke rumah. Mama Yeonjun bingung, bahkan sepeda Soobin masih tergeletak di depan pagar rumahnya.
...
Mama Soobin yang sedang membersihkan ruang tamu terkejut saat Soobin tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sudah basah airmata.
"Loh, Soobin kenapa? Kok nangis? Habis jatoh dari sepeda? Ada yang sakit?"
Soobin menggeleng ribut, dia buru-buru memeluk Mamanya yang masih memegang sapu.
"Adek ... hnngg ... Adek huks ...."
"Soobin, Mama bingung nih, Adek kenapa?"
"Sakit ... huks ... Adek sakit hnnggggg...."
"Adek Yeonjun? Adek Yeonjun sakit?"
Soobin nggak menjawab, dia cuma mengangguk dalam pelukan mamanya sambil sesenggukan. Mama Soobin menjatuhkan sapunya dan mengusap-usap punggung Soobin. Dia tau kalau Soobin sangat sayang pada batita tetangga mereka yang bernama Yeonjun itu, tapi juga nggak menyangka kalau Soobin bakalan nangis sampai sesenggukan seperti itu saat melihat Yeonjun sakit.
"Adek sakit banget ya, sampai Soobin nggak tega lihatnya?"
Soobin mengangguk lagi, "Adek panas, pipi adek merah, hnnnggg kasian Adek sakit." Suara tangis Soobin teredam dalam pelukan mamanya. Hati Soobin terasa sakit saat melihat wajah merah Yeonjun dan mendengar rintihan lemah batita itu, makanya dia buru-buru lari dan pulang ke rumah, Soobin nggak mau semakin sakit hati melihat Yeonjun yang sakit.
...
"Nggak apa-apa, Soobin. Adek pasti seneng dan bisa cepet sembuh kalau lihat Soobin." Soobin menggelayut di lengan mamanya, sore tadi sebelum gelap Mama Soobin mengajak Soobin ke minimarket membelikan beberapa makanan dan buah-buahan untuk menjenguk Yeonjun. Tentunya beliau sudah bertanya kepada Mama Yeonjun terlebih dulu melalui telepon sebelum datang, memastikan kalau keadaan si batita sudah memungkinkan untuk dijenguk.
Kedatangan mereka disambut Papa Yeonjun yang sedang ngobrol dengan saudaranya.
"Silakan masuk Mama Soobin, Yeonjun dan mamanya ada di dalam, ada Taehyun juga."
Mama Soobin buru-buru masuk, menuju kamar Yeonjun yang sudah terlampau dia hapal di mana letaknya. Soobin masih menggelayut dan menyembunyikan wajahnya di lengan sang mama. Sampai dia dengar suara celoteh Yeonjun, yang walaupun tidak seriang biasanya, tapi terdengar jauh lebih baik daripada siang tadi.
"Yeonjun." Mama Soobin menyapa batita yang masih asik mengoceh di atas kasur itu. Ada Taehyun, bocah berusia empat tahun yang sedang mengajaknya bermain.
"Ma?" Yeonjun memiringkan kepalanya, menelisik kedangan Mama Soobin dan seseorang yang mengintip malu-malu dari balik lengannya.
"Bin? Bubin?"
"Adek."
"Bubin!"
Yeonjun tertawa senang, walaupun plester penurun panas masih menempel di keningnya. Mama Soobin kini sudah asik berbincang dengan Mama Yeonjun setelah mengecup pipi bulat Yeonjun. Pipi bulat itu masih sedikit merah, suhu badan batita itu juga masih cukup hangat. Pantas saja Soobin sampai nangis sesenggukan seperti tadi.
"Adek udah nggak sakit?"
Soobin duduk di atas kasur Yeonjun, memegangi tubuh gembul Yeonjun yang merangkak berusaha meraih Soobin.
"Kit?" Yeonjun meneleng lagi, memandangi wajah Soobin yang sedikit sembab, batita itu nggak tahu kalau Soobin menangisinya hampir berjam-jam. Yeonjun nggak menjawab, malah mengusap wajah Soobin dengan tangan mungilnya, duduk di pangkuan Soobin dan menarik beanie coklat yang menghangatkan kepalanya, berusaha memakaikan pada Soobin yang jelas saja nggak bakalan muat.
"Mimi, Adek udah sembuh?" tanya Soobin untuk memastikan, Mama Yeonjun mengangguk sambil tersenyum, "Adek udah nggak sakit, cuma badannya masih anget. Soobin nggak perlu khawatir lagi, ya?"
"Ung..." Soobin mengangguk, menempelkan pipinya pada pipi bulat Yeonjun, dia gemas, dia mau pencet-pencet pipi Yeonjun lagi, mau cubit-cubit pipi Yeonjun lagi, tapi Yeonjun masih belum benar-benar sembuh.
"Adek, pakai lagi topinya."
Suara kecil Taehyun menyadarkan Soobin, dia hampir lupa kalau ada balita lain di kamar ini.
"Taehyun sama siapa kesini?"
"Dianter mamah, kata Mamah Adek sakit, Taeyun mau jenguk Adek."
Soobin mengangguk, mengusap kepala Taehyun yang sekarang sibuk memakaikan kembali beanie milik Yeonjun.
TBC.
