Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-06-15
Completed:
2024-06-15
Words:
2,352
Chapters:
2/2
Kudos:
10
Hits:
103

Putus

Summary:

Bagaimana jika hubungan yang mereka jalani kini harus berakhir karena Kid telah menemukan sosok lain yang membuatnya jatuh cinta.

Notes:

Hello, i'm comeback with kidlaw angst. Di rekomendasikan sebelum membaca ini, untuk membaca onetweet mereka disini.

Chapter 1: Coming (not) Home.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

 

"Maaf."

 

Hanya kata tersebut yang bisa Eustass ucapkan sejak dia berterus terang pada Law. Dia tak pernah ingin menyakiti Law, tapi dia juga tidak bisa untuk terus berada dalam hubungan ini saat hatinya sendiri telah memilih orang lain untuk berlabuh. 

 

Eustass tahu, Law akan selamanya ada di hatinya. Tapi dia juga tahu, Law tidak akan pernah menjadi tempat dimana hatinya berlabuh. Seperti apa yang Law katakan, hubungan mereka bukan lah hubungan yang didasari oleh cinta. 

 

Mereka bersama karena mereka berdua sama-sama kesepian. Bermula dari lelucon Eustass yang mengatakan lebih baik mereka bersama dari pada kesepian, berakhir dengan berjalannya hubungan mereka selama setahun ini.

 

Dan sekarang, disinilah Eustass. Dengan rasa bersalah yang menyerangnya. Terlebih saat menyadari Law belum juga sampai apartemen yang mereka tempati bersama. Walaupun Law mengatakan jika dia tidak menganggap serius hubungan mereka. Dia tahu benar jika itu adalah kebohongan semata.

 

Eustass bisa melihat bagaimana Law bersikap padanya beberapa bulan ini. Dan dia tahu sikap tersebut adalah pertanda jika Law mulai menaruh hati padanya. Eustass akan berbohong jika dia mengatakan dia tak keberatan. Nyatanya setiap kali mereka bersama, ada rasa tak nyaman yang selalu menguasainya. 

 

Bukan, bukan karena dia membenci sikap Law, justru yang ada dia malah merasakan rasa bersalah karena dia tahu benar jika dia tak akan pernah bisa membalas perasaan Law dengan sama. Dan semakin hari, rasa bersalah itu semakin menumpuk. Terlebih saat dia mulai menyadari jika dia menyukai orang lain.

 

Eustass begitu tenggelam dalam pemikirannya hingga dia tak menyadari jika pin apartemennya berbunyi. Dia baru tersadar saat pintu tersebut terbuka, dan memperlihatkan sosok Law yang terlihat kelelahan walaupun sebagian wajahnya tertutupi oleh masker.

 

Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Law lalu menoleh ke arah Eustass yang sedang duduk di salah satu sofa mereka. Begitu sepatunya terlepas, dia pun segera menghampirinya sambil melepas masker dan menaruh tasnya di meja kopi.

 

"Capek?" Eustass bertanya setelah Law duduk bersandar pada sofa disebelahnya. Tangannya bergerak untuk memindahkan helaian poni yang menutupi mata emas Law—sebuah kebiasaan yang telah terbentuk setelah mereka berhubungan. 

 

Law dengan lesu mengangguk, mata terpejam pertanda dia benar-benar kelelahan. Mereka terdiam selama beberapa saat, dengan Eustass yang masih bergerak untuk menyisir rambut law dengan jarinya.

 

"Bisa gak kita ciuman besok aja? Hari ini gue cuman pengen pelukan sama lo. at least for the last time, sebelum lo jadi punya orang." Law berbicara dengan mata masih terpejam.

 

Dan oh, siapa Eustass sehingga bisa berani menolak permintaan Law? Terlebih selama ini, Law tidak pernah menjadi kekasih yang meminta banyak darinya. Maka dengan itu, tanpa pikir panjang Eustass pun mengangguk.

 

"Sure. But first, gue rasa lo butuh mandi dulu Law."

 

Law mengerang mendengar perkataan Eustass. Matanya yang sedari tadi terpejam akhirnya terbuka, menampilkan mata emasnya yang selalu Eustass pikir sangat cantik. 

 

"Gue capek, Eustass." keluhnya sambil menatap Eustass dengan cemberut. Tapi Eustass tak akan goyah hanya dengan itu.

 

"Tapi lo bau, Trafalgar."

 

Law berdecak sebal. "Kalo gitu mandiin gue, abis itu kita cuddling. Baru besok gue kasih apa yang lo minta itu."

 

Eustass menaikan alisnya, tapi dia tak mengeluarkan protes apapun. Menghela nafas, dia pun akhirnya menarik Law untuk ia gendong secara bridal style menuju kamar mandi mereka. Law yang terkejut dengan perlakuan Eustass tanpa pikir panjang segera mengalungkan tangannya ke leher Eustass.

 

"Jangan tiba-tiba gitu dong, anjing."

 

"Gak usah protes, lo yang minta."

 

 

Law menatap Kid yang kini tengah memakai pakaian di hadapannya. Setelah Kid membawanya ke kamar mandi, mereka akhirnya memutuskan untuk mandi bersama. Law sendiri telah mengenakan salah satu kaos Kid yang terlihat sangat besar di tubuhnya yang ramping, dan kini ia memilih untuk duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengamati Kid.

 

Begitu Kid selesai memakai salah satu sweat pantsnya, ia pun berbalik dan menghampiri Law. Sepenuhnya abai jika dia kini bertelanjang dada. Lagi pula dia sudah terbiasa tertidur tanpa mengenakan atasan. Dan Law tak pernah mengajukan protes apapun dengan gaya berpakaiannya.

 

Sesampainya ia di ranjang, Kid segera membaringkan dirinya lalu menarik Law untuk ia peluk. Law tak mengeluh, justru dia ikut melingkarkan tangannya di sepanjang tubuh Kid dan membenamkan wajahnya di bahu Kid.

 

"Lain kali kalo lo kecapean, bilang. Biar nanti gue jemput." 

 

Law menggeleng menanggapi perkataan Kid. "Gue kan tadi pengen sendiri dulu."

 

Kid berdecak tidak suka, "Tapi kalo lo kenapa-napa gimana, Law?"

 

"Engga bakal." Perkataan Law sedikit teredam karena ia semakin membenamkan wajahnya di bahu Kid, berusaha menghirup aroma yang mungkin mulai besok tak akan bisa ia cium lagi.

 

Kid lalu terdiam. Tangannya bergerak untuk memberi usapan pada punggung sempit Law. Sementara tangan lainnya bermain dengan helai rambut Law. Pikirannya melayang kembali ke percakapannya dengan Law sebelumnya.

 

"Law." 

 

"Heum?" 

 

"Kenapa lo gak marah waktu gue minta putus?"

 

Hening. Law tak segera menjawab pertanyaan Kid. Law takut jika dia segera menjawab, Kid akan menyadari jika Law berbohong dengannya. Karena jauh di lubuk hatinya, Law ingin. Tapi Law tahu, jika pun dirinya marah itu akan sangat sia-sia. Karena Kid tidak akan membalas perasaannya sama sekali.

 

Law sedikit menjauhkan wajahnya dari bahu Kid, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Berusaha agar dia tidak terlihat gemetar sebelum dia menjawab pertanyaan Kid. 

 

"Udah gue bilang kan? Buat apa. Gue udah tau endingnya bakal gini." Law lalu mendongak untuk menatap mata merah Kid. "Gue juga gak mau buang-buang tenaga. Udah cukup gue capek sama kegiatan koas."

 

"Maaf." 

 

Lagi. Hanya itu yang bisa Kid ucapkan padanya. Law mendengus, lalu kembali membenamkan wajahnya di bahu kid.

 

"Gue gak mau ngomongin ini lagi, Eustass."

 

Kid mengangguk, walau dia tahu Law tak melihatnya. Mereka kemudian saling diam. Membiarkan keheningan menemani mereka menghabiskan waktu berdua untuk terakhir kalinya. Karena mulai esok, mereka berdua tahu mereka tidak akan bisa mengulang kegiatan ini kembali. Bahkan jika mereka mau.

Notes:

i hope you guys enjoy it. the last chapter will contain angst (a little bit 🤏)